"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Barack Obama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Barack Obama. Tampilkan semua postingan

Surat terbuka Presiden Rusia kepada masyarakat dan pemimpin politik di Amerika Serikat: Kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sama derajatnya

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 14 September 2013 | 10:13

[Surat ini dimuat sebagai tulisan opini di New York Times dan diterjemahkan oleh MP]

Peristiwa-peristiwa baru seputar Suriah telah mendorong saya untuk berbicara langsung kepada rakyat Amerika dan para pemimpin politiknya. Hal ini penting dilakukan di tengah kurangnya komunikasi antara masyarakat kita.

Hubungan di antara kita [Rusia dan Amerika Serikat (AS)] telah melewati berbagai tahap. Kita bermusuhan selama perang dingin. Tapi kita juga pernah menjadi sekutu sekali, dan mengalahkan Nazi bersama-sama. Organisasi universal internasional – PBB – kemudian dibentuk untuk mencegah kehancuran demikian untuk terulang kembali.

Para pendiri PBB mengerti bahwa keputusan yang mempengaruhi perang dan perdamaian harus terjadi hanya dengan persetujuan bersama, dan dengan persetujuan Amerika [hak] veto oleh anggota tetap Dewan Keamanan dicantumkan dalam Piagam PBB. Kearifan ini telah mendukung stabilitas hubungan internasional selama beberapa dekade .

Tidak ada yang menginginkan PBB menderita nasib yang sama dengan Liga Bangsa-Bangsa, yang runtuh karena tidak memiliki pengaruh yang sebenarnya. Hal ini akan menjadi mungkin bila negara-negara berpengaruh mengabaikan PBB dan mengambil tindakan militer tanpa otorisasi Dewan Keamanan .

Potensi penyerangan oleh Amerika Serikat terhadap Suriah, kendati ditentang kuat oleh berbagai negara dan pemimpin politik dan agama terkemuka, termasuk Paus, akan menimbulkan lebih banyak korban tidak bersalah dan eskalasi, berpotensi menyebarkan konflik jauh melampaui perbatasan negara Suriah. Penyerangan akan meningkatkan kekerasan dan melepaskan gelombang baru terorisme. Itu bisa merusak upaya multilateral untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran dan konflik Israel-Palestina, dan selanjutnya mengguncang Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini bisa mengacaukan seluruh sistem hukum dan ketertiban internasional.

Suriah tidak sedang menghadapi pertempuran untuk demokrasi, tetapi konflik bersenjata antara pemerintah dan oposisi di sebuah negara multiagama. Ada beberapa pembela demokrasi di Suriah. Tapi ada lebih dari cukup para pejuang Qaeda dan ekstremis dari berbagai kelompok yang memerangi pemerintah. Departemen Luar Negeri AS telah menetapkan kelompok Front Al Nusra dan kelompok Negara Islam Irak dan Levant, yang berperang bersama pihak oposisi, sebagai organisasi teroris. Konflik internal ini, diperparah oleh senjata asing yang dipasok ke pihak oposisi, adalah salah satu dari yang paling berdarah di dunia.

Tentara bayaran dari negara-negara Arab berperang di sana, dan ratusan militan dari negara-negara Barat dan bahkan Rusia, merupakan isu keprihatinan yang mendalam. Mungkin mereka tidak datang ke negara kita dengan pengalaman yang diperoleh di Suriah? Bagaimanapun, setelah pertempuran di Libya, para ekstremis pindah ke Mali. Ini mengancam kita semua.

Dari awal, Rusia telah menganjurkan dialog damai yang memungkinkan Suriah untuk mengembangkan rencana kompromis bagi masa depan mereka sendiri. Kami tidak melindungi pemerintah Suriah, tetapi hukum internasional. Kita perlu menggunakan Dewan Keamanan PBB dan percaya bahwa menjaga hukum dan ketertiban di dunia yang kompleks dan bergejolak saat ini adalah salah satu dari beberapa cara untuk menjaga hubungan internasional dari tergelincir ke dalam kekacauan. Hukum masih tetap hukum, dan kita harus mengikutinya apakah kita suka atau tidak. Menurut hukum internasional saat ini, kekuatan [militer] hanya diperbolehkan untuk membela diri atau dengan keputusan Dewan Keamanan. Yang lainnya tidak dapat diterima berdasarkan Piagam PBB dan akan merupakan tindakan agresi.

Tidak ada yang meragukan bahwa gas beracun telah digunakan di Suriah. Tapi ada berbagai alasan untuk percaya bahwa itu tidak digunakan oleh Angkatan Darat Suriah, tetapi pasukan oposisi, untuk memprovokasi intervensi dari penyokong asing mereka yang kuat, yang akan berpihak dengan kaum fundamentalis. Laporan-laporan bahwa militan sedang mempersiapkan serangan lain - kali ini terhadap Israel - tidak dapat diabaikan.

Adalah hal yang mengkhawatirkan bahwa intervensi militer dalam konflik internal negara-negara lain telah menjadi hal yang biasa bagi Amerika Serikat. Apakah ini dalam kepentingan jangka panjang Amerika? Saya meragukannya. Jutaan orang di seluruh dunia semakin melihat Amerika bukan sebagai model demokrasi tapi yang hanya mengandalkan kekerasan, dengan menarik koalisi bersama di bawah slogan “Kalau tidak bersama kami, kau melawan kami."

Tapi gaya ini telah terbukti tidak efektif dan sia-sia. Afghanistan guncang, dan tidak ada yang dapat mengatakan apa yang akan terjadi setelah pasukan internasional ditarik. Libya terbagi menjadi suku-suku dan klan-klan. Di Irak perang sipil terus berlanjut, dengan puluhan tewas setiap hari. Di Amerika Serikat, banyak yang menarik analogi antara Irak dan Suriah, dan bertanya mengapa pemerintah mereka ingin mengulangi kesalahan yang baru-baru terjadi.

Tidak peduli bagaiman ditargetkan suatu serangan atau seberapa canggih senjata [yang dipakai], korban sipil adalah tak terelakan, termasuk orang tua dan anak-anak, mereka yang hendak dilindungi oleh serangan ini.

Dunia bereaksi dengan bertanya: jika Anda tidak dapat mengandalkan hukum internasional, maka Anda harus mencari cara lain untuk memastikan keamanan Anda. Jadi semakin banyak negara berusaha untuk memperoleh senjata pemusnah massal. Ini adalah logis: jika Anda memiliki bom, tidak ada yang akan menyentuh Anda. Kita tinggal dengan pembicaraan mengenai perlunya untuk memperkuat nonproliferasi, padahal dalam kenyataan hal itu sedang terkikis.

Kita harus berhenti menggunakan bahasa kekuatan dan kembali ke jalur penyelesaian diplomatik dan politik beradab.

Sebuah kesempatan baru untuk menghindari aksi militer telah muncul dalam beberapa hari terakhir. Amerika Serikat, Rusia dan semua anggota masyarakat internasional harus mengambil keuntungan dari kesediaan pemerintah Suriah untuk menempatkan senjata kimia itu di bawah kontrol internasional untuk kemudian dihancurkan. Melihat dari pernyataan Presiden Obama, Amerika Serikat melihat ini sebagai sebuah alternatif dari aksi militer .

Saya menyambut minat presiden dalam melanjutkan dialog dengan Rusia menyangkut Suriah. Kita harus bekerja sama untuk menjaga harapan ini tetap hidup, seperti yang kami sepakati di pertemuan Kelompok 8 di Lough Erne, Irlandia Utara, pada bulan Juni, dan mengarahkan diskusi kembali ke perundingan.

Jika kita dapat menghindari kekuatan [militer] terhadap Suriah, hal ini akan meningkatkan atmosfer dalam urusan internasional dan memperkuat rasa saling percaya. Ini akan menjadi keberhasilan kita bersama dan membuka pintu untuk kerja sama dalam isu penting lainnya.

Hubungan kerja dan pribadi saya dengan Presiden Obama ditandai dengan meningkatnya kepercayaan [antara satu dengan yang lain]. Saya menghargai ini. Saya dengan seksama telah mempelajari pidatonya kepada bangsa [AS] pada hari Selasa. Dan saya lebih memilih tidak setuju dengan argumennya tentang exceptionalism Amerika, dengan mengatakan bahwa kebijakan Amerika Serikat adalah "apa yang membuat Amerika berbeda. Itu yang membuat kita luar biasa." Adalah sangat berbahaya mendorong orang untuk melihat diri mereka sebagai luar biasa, apa pun motivasinya. Ada negara-negara besar dan negara-negara kecil, kaya dan miskin, mereka yang memiliki tradisi demokrasi yang panjang dan mereka yang masih berupaya menemukan jalan ke demokrasi. Kebijakan mereka berbeda juga. Kita semua berbeda, tapi ketika kita meminta berkat-berkat Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sama derajatnya.

Vladimir V. Putin, Presiden Rusia.

11/09/2013

Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika

Written By Menara Penjaga on Senin, 15 Juli 2013 | 12:04

Jumpa pers presiden Senegal dan Amerika Serikat (foto: BCNN5).
AFRIKA (MP)  –  Dalam kunjungannya ke Benua Afrika, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyinggung isu homoseksualitas di tengah sebuah jumpa pers dengan Presiden Senegal Macky Sall, 27 Juni lalu.

"Kami tidak siap dengan dekriminalisasi homoseksualitas," terang Mr. Sall dan menunjukkan bahwa ia dan masyarakat Senegal memiliki sudut pandang yang berbeda. Pernyataannya mendapat dukungan besar dari masyarakat dan media-media massa utama di negara itu.

Bahkan, banyak warga Senegal yang beranggapan bahwa presiden mereka seharusnya lebih tegas. "[Presiden] seharusnya mengatakan, 'Itu tidak pernah bisa eksis di Senegal, itu tidak bisa terjadi di sini'," ujar Tidiane Gueye, warga ibukota Senegal, Dakar, kepada New York Times.

"Senegal adalah 95 persen Muslim," tambah Gueye. "Sebagai negara muslim, kami tidak akan mengizinkan hukum yang memungkinkan pelaku hubungan sejenis untuk menikah."

Seorang pensiunan perwira militer Bouramon Ndour memuji pendirian Mr. Sall dalam menyikapi Mr. Obama. Berbicara tentang homoseksualitas, warga Senegal ini mengatakan bahwa "tidak orang di sini yang dapat menerima hal itu...kami menentangnya dengan keras. Lihat, ini adalah negara Muslim. Langkahi mayat kami dulu!"

Tanggapan yang sama datang dari para pemimpin Kenya. Wakil Presiden William Ruto berbicara di sebuah gereja Katolik pada Minggu 30 Juni, mengatakan bahwa bagi mereka yang menerima homoseksualitas, seperti Mr. Obama, itu adalah "urusan mereka. Kami percaya pada Tuhan." Ia menambahkan bahwa "bangsa Kenya adalah bangsa yang takut akan Allah."

“Lupakan, lupakan, lupakan,” ucap Uskup Agung Nairobi, Kardinal John Njue, kepada Mr. Obama menyangkut legalisasi praktek hubungan sejenis di Afrika.

"Saya pikir kita perlu bertindak sesuai dengan tradisi sendiri dan iman kita," katanya. Berbicara tentang Amerika, Kardinal Njue mengatakan bahwa "orang-orang tersebut yang telah merusak masyarakat mereka ... janganlah mereka menjadi guru kami untuk memberitahu kami ke mana harus pergi."

Sheikh Saliou Mbacke, seorang pemimpin Muslim di Senegal, mengatakan bahwa pemimpin agama di seluruh Afrika memiliki kewajiban untuk berbicara menentang praktek hubungan sejenis, terutama jika ada tekanan untuk membuat rakyat Afrika mengubah pandangan mereka.

"Masalah praktek hubungan sejenis tidak boleh digunakan sebagai alat untuk memeras dan memaksa masyarakat untuk menentang perintah Allah, yang lebih penting daripada kekuatan dunia," katanya. "Kami akan menentang cara paksaan apapun yang mengancam kami untuk menerimanya dalam masyarakat kami."

Di Tanzania, Uskup Anglikan Michael Hafidh mengatakan bahwa sebagian besar para pemimpin Afrika lebih suka Mr. Obama menyimpan pendapatnya tentang praktek hubungan sejenis untuk dirinya sendiri dan fokus pada isu-isu ekonomi yang dihadapi benua Afrika.

Masalah hubungan sejenis "bukan merupakan masalah penting bagi kami sekarang," katanya. "Kami tidak mengakui atau bahkan memikirkan hal itu, apalagi melegalisasinya. Saya pikir karena kita memiliki banyak sumber daya, diskusi kami dengan segenap bangsa lain harus lebih menyangkut investasi dan perdagangan."


Sebanyak 38 negara di seluruh Afrika, di mana agama-agama mayoritas adalah Islam dan Kristen, memiliki hukum yang melarang perilaku homoseksual. (BCNN5)


Terkait: 




Memahami agenda Mr. Obama dan kepincangan sekularisme

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 06 Juli 2013 | 01:07




KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.

Bagi yang kurang teliti, ia bisa nampak sebagai seorang yang hendak membela martabat kaum yang lemah, yang perlu perlindungan, dan yang terpinggirkan. Dan memang demikian ia ingin dilihat.

Namun, jika dipikirkan dengan kritis, ia sebenarnya sedang memaksakan sebuah ideologi yang bertentangan dengan akar budaya dan agama Afrika, yaitu sekularisme (hurufiahnya “paham penduniawian”).

Dengan memaksakan sudut pandang yang dianutnya (dan sebagian masyarakat AS) kepada warga masyarakat di negara-negara yang menyambutnya sebagai seorang tamu kehormatan, ia telah melakukan pelecehan secara terang-terangan.

Mr. Obama dengan wibawanya hendak menunjukkan kepada negara-negara yang menerimanya sebagai tamu (dan tentu saja dunia) bahwa ia seorang yang peduli dengan para pelaku dan praktek hubungan sejenis dan bahwa sikap negara-negara Afrika terhadap pelaku dan praktek hubungan sejenis adalah salah.

Walaupun orang sering dibingungkan antara kedua hal ini: praktek hubungan sejenis dan orang yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, namun keduanya berlainan dan harus dibedakan.

Orang yang tidak bisa membedakan kedua hal ini akan dengan mudah menerima doktrin agama Presiden AS. (Disebut “agama” karena ideologi sekularisme bertujuan menjadi dasar pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dari sebuah masyarakat.)

Baik masyarakat Senegal yang mayoritas Muslim maupun Kenya yang mayoritas Kristen, praktek hubungan sejenis adalah ilegal. (Mr. Obama tidak mengunjungi Kenya, tetapi tanggapan mengenai aktivitasnya di Senegal, Afrika Selatan, dan Tanzania turut datang dari negara kelahiran ayahnya ini.)

Apa artinya bahwa praktek hubungan sejenis di negara-negara ini (kecuali Afrika Selatan) adalah ilegal?

Itu berarti bahwa hukum di kedua negara Afrika ini mengambil posisi sesuai sudut pandang norma masyarakat yang melekat dalam tradisi kebudayaan, agama, dan kompleksitas ilmu pengetahuannya, dan menolak praktek ini sebagai hal yang tidak sah, yang tidak normal atau moral, dan tidak bisa dipromosikan sebagai sesuatu hal yang baik bagi masyarakat.

Dengan demikian negara sebagai wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk mengatur dan memerintah mengambil sikap yang sama dan menjalankan peraturan yang tidak hanya menjamin hak dan kewajiban semua anggota masyarakat, tanpa membeda-bedakan kemanusiaannya, tapi juga menjaga kelanggengan aspirasi budaya dan agama yang berkeadilan dan etis.

Ketika Presiden AS mengatakan bahwa ia menghormati sudut pandang pribadi (ciri-ciri gerakan sekularisme adalah menciptakan dikotomi antara individu dan masyarakat), dan iman pribadi masing-masing (menciptakan dikotomi antara agama dan non-agama/sekuler), ia sedang menggoda masyarakat untuk berpikir bahwa sudut pandang agama dan pribadi masyarakat Afrika tersebut tidak pantas diterapkan dalam kebijakan sebuah negara.

Baginya yang tepat adalah pandangan pribadinya dan sebagian masyarakat AS bahwa praktek ini harus mendapat keluasan dalam masyarakat sehingga dapat dilakukan oleh mereka yang mau melakukannya sebebas-bebasnya, bahkan mendapat tunjangan dari pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah dan dipromosikan lewat kegiatan-kegiatan seperti pawai homoseks di New York atau San Francisco.

Gagal mengikuti resepnya ini, mengikuti logika kata-katanya, berarti sebuah pemerintahan melakukan diskriminasi.

Kata “diskriminasi” telah menjadi senjata ampuh terhadap mereka yang gagal memahami kompleksitas masalah ini, dan juga tampak menjadikan Mr. Obama sebagai seorang pembela hak asasi manusia (HAM).

Namun jika dilihat keadaan di negerinya sendiri, mereka yang menolak mengafirmasi gaya hidup homoseksual harus mengalami diskriminasi oleh karena peraturan yang dibuat dari sudut pandang yang tidak mengakomodasi HAM untuk kebebasan beragama.

Inilah kebohongan dalam agenda presiden Obama, bahwa dalam berbicara tentang melawan diskriminasi, sekularisme yang hendak dipaksakannya jelas-jelas melakukan diskriminasi. Mereka yang tidak mau menerima praktek yang ditolak agama dan budaya dunia pada umumnya ini akan mengalami diskriminasi.
Jadi nampaklah di depan mata kita dua sistem yang berbeda: Yang satu berdasarkan pemahaman manusia akan kodrat dan agama, yang lain menolak dan menempatkan kebebasan manusia di atas segala-galanya.
Yang pertama akan mengiring pada keteraturan dan kebebasan yang sebenarnya, sedang yang lain akan menuntun pada kekacauan (chaos) dan perhambaan.

Mr. Obama harus lebih berani mengakui agenda sekularismenya. Paling tidak jujurlah bahwa pencitraannya sebagai pembela HAM hanyalah topeng belaka.

Kalau tidak ia hanya menambah bukti bahwa sekularisme adalah agenda yang tidak jujur. Melihat contoh di AS, pelajaran agama tidak diperkenankan diajarkan di sekolah negara. Itu karena dikatakan sekolah negara adalah tempat non-agama/sekuler; harus bebas dari pelajaran agama. Berdoa pun dilarang.

Namun di sekolah-sekolah ini para pelajar dicecok dengan materialis Darwinisme yang berpangkal pada ajaran anti-theis (anti-agama) bahkan dalam perkembangannya sekarang praktek hubungan sejenis diajarkan sedini TK (taman kanak-kanak).

Jadi jelaslah, agenda Mr. Obama bukan untuk membela kaum yang lemah, bukan pula sekedar untuk membantu masyarakat Afrika yang terus menderita akibat efek jangka panjang kolonialisme. Ia menawarkan sekularisme, dan para pemimpin Afrika yang pintar telah dengan terang-terangan mengungkapkannya: Kami menghargai bantuan Anda, tapi [kami] takut akan Allah.

1373045939186927054

Keprihatinan dan kegilaan yang sedang terjadi di dunia: Dari Mesir, Suriah sampai Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 05 Juli 2013 | 14:37

MP -- Masyarakat internasional sedang merasa prihatin. Berikut sorotan MP seputar situasi di Suriah, Mesir, Sub-Sahara Afrika, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Indonesia.

Suriah
Krisis berkepanjangan di Suriah telah memakan korban lebih dari 100.000 orang (6000 adalah anak-anak), dan masih tak nampak ujung penyelesaiannya.

Dimulai dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan, aspirasi rakyat untuk hidup yang lebih baik berubah menjadi kematian dan tragedi yang menelan korban jiwa, materi, dan masa depan Suriah.


Sementara Rusia menyalurkan senjata atas klaim “perjanjian legal dengan pemerintah yang legal,” beberapa negara Barat dengan terang-terangan mendukung pemberontak, atau yang disebut “oposisi.”

Kardinal John O. Onaiyekan dari Nigeria dengan prihatin berkata, “Ini dunia gila.”

Suriah dijadikan lapangan sepak bola politik global. Di kota dan di desa, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, komunitas Muslim dan (terutama) komunitas Kristen, menjadi rumput-rumput malang yang terinjak-injak; yang hancur dan mati.

Tapi memang, sekalipun banyak pemain asing yang datang, para pemain utamanya adalah warga Suriah sendiri. Mereka yang berkomitmen untuk menjaga tanah airnya dalam wadah militer dan mereka yang ingin membangun Suriah (namun tidak setuju dengan kepemimpinan presiden Bashar al-Assad). Itu sebabnya konflik ini dinamakan “perang sipil” (perang antara mereka sendiri).

Mesir
Kegilaan juga telah muncul di Mesir.

Setelah demonstrasi yang mengiring mundurnya Hosni Mubarak, rakyat Mesir seperti melihat fajar baru di alam demokrasi. Terpilih secara konstitusional Muhammad Mursi sebagai presiden.

Presiden terpilih Mesir, Muhammad Morsi.
Dikudeta.
Namun didukung oleh Muslim Brotherhood membuatnya kurang populer (di dunia Barat), dan nampaknya juga melakukan langkah-langkah yang kurang populer. Ia dianggap sebagai seorang “Islamis,” dan itu sepertinya dianggap tidak baik.

Sebelum militer Mesir melakukan coup d'etat (kudeta) terhadap pemimpinnya (apakah ini tidak gila?), berbagai media, terutama yang berkiblat ke Barat, telah memperguncingkan Mesir di antaranya dari 'sudut' masyarakat Kristen Koptik, seakan-akan Muslim dan Kristen sama sekali tidak bisa akur di awal sebuah "revolusi." 

Yang paling menyedihkan di sini adalah kegagalan militer untuk menjaga konstitusi dan keamanan masyarakat Mesir, sekalipun dalam pidatonya Jendral Sisi mengatakan bahwa apa yang dilakukan militer adalah membawa aspirasi rakyat.

Apakah Jendral Sisi bingung membedakan aspirasi dan fungsi? Hal ini mengundang resiko kritik pelajar kritis ketika sejarah diajarkan di sekolah-sekolah nanti, sekalipun pemuka al-Azar dan Gereja Kristen Koptik berdiri mendukung. 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon adalah orang yang kritis, karena itu ia prihatin.

“Rakyat Mesir telah menyuarakan rasa frustrasi yang dalam serta keprihatinan yang sah lewat aksi protes mereka. Namun pada saat yang sama, intervensi militer dalam urusan kenegaraan adalah sebuah keprihatinan,” ungkap Eduardo del Buey, juru bicara PBB.

Sejauh ini yang perlu ditangisi adalah sekitar 91 perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual sampai pemerkosaan (mengingatkan Tragedi Mei 1998) di Tahrir Square. Belum dihitung jumlah korban tewas yang akan menambah jumlah 846 yang meninggal pada "revolusi" yang pertama.

"Revolusi" yang berikut-berikutnya mungkin masih akan datang jika kebijakan Mesir (dan Suriah, Libia, dst.) masih belum sepenuhnya memperhitungkan (atau mengakomodasi) kepentingan luar.

Tapi bagaimana pun, berbicara tentang Mesir, ini adalah kisah rakyat Mesir, dan biar mereka yang menilai kisah mereka sendiri. Termasuk tentang bagaimana militernya menahan para jurnalis dan menutup kantor berita seperti Al Jazeerah di tengah-tengah sebuah pergolakan. 

Sub-Sahara
Skip Libia, kita ke Afrika. Presiden Amerika Serikat membuat kejutan di tengah-tengah kunjungannya di benua yang mempunyai ikatan emosional dengan seorang Barack Obama. Ayah kandungnya berkewarga-negaraan Kenya.

Seperti biasa AS menunjukkan niatnya untuk membantu negara-negara Afrika yang masih berkembang setelah sejarah kolonialisme. Namun, kali ini sang presiden membawa juga agenda yang sementara menjadi polemik dan perpecahan di negaranya.

Di Senegal yang mayoritas memeluk agama Islam Mr. Obama menyudutkan Presiden Senegal, Macky Sall, dengan mengemukakan agenda homoseksualnya di depan sebuah konferensi pers. Presiden Sall menjawab bahwa masyarakatnya “toleran,” dan meminjam istilah non-akademik di Barat, “tidak homofobik.” “Kami memiliki tradisi yang berbeda,” ungkapnya.

Tanggapan datang dari Kenya, yang sekalipun punya sejarah dekat dengan sang presiden, lagi tak masuk dalam daftar kunjungannya. Menanggapi agenda Mr. Obama, Wakil Presiden Kenya, William Ruto, di sebuah ibadah Minggu di antaranya menyebut “Kenya adalah negara merdeka dan takut akan Tuhan.”(Lihat video di sini.)

Uni Eropa
Sementara itu, hubungan AS dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini agak merenggang. Ini juga merupakan bagian dari kegilaan yang sedang terjadi, bahwa pemerintah AS (dicurigai) memata-matai negara-negara Eropa (entah negara-negara lain juga), termasuk warganya. Kasus ini telah membuat Prof. Mark LeVine menilai bahwa demokrasi di AS telah dikhianati dan bertanya jika demokrasi ini akan bisa bertahan. 

Banyak orang yang telah mendengar nama Edward Snowden. Ia dapat dikatakan adalah salah satu orang yang paling berani di dunia, jika ia betul-betul sadar dengan apa yang dilakukannya.

Snowden adalah seorang kontraktor IT yang sempat bekerja untuk badan keamanan dan intelejen AS. Prihatin dengan tingkat 'pengawasan' pemerintah terhadap rakyatnya dan negara-negara lain ia memutuskan untuk membuka rahasia pengawasan itu.

Untuk keberanian itu, ia sekarang menjadi buruan negara “super-power.” Negara yang akan menerimanya sebagai seorang pelarian harus dinobatkan sebagai negara yang menghargai hak asasi manusia. (Mungkin Ekuador.)

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia...?
Maksudnya, menyangkut perkembangan terbaru menjelang Pemilu 2014, serta keamanan dan ketentraman hidup di negara ini.

Isu-isu sensitif terus didengung-dengungkan saat ini. Orang tak perlu bertanya, karena sudah biasa mendengar. Masalah agama, suku, BBM, dsb. Kita perlu menyikapi secara kritis isu-isu seperti ini, jangan sampai masyarakat ditunggangi untuk diadu domba satu dengan yang lain. Korban yang paling menderita selalu adalah anak-anak.

Adalah lumrah jika sama seperti Kardinal Onaiyekan kita semua berharap supaya apa yang terjadi di Suriah (dan negara-negara lainnya), terhindar dari tanah air Indonesia. Ini bukan supaya kita menghindar dari bersikap kritis, namun justru dengan bersikap kritis, membela kepentingan rakyat, menjaga keamanan dan memajukan kehidupan bermasyarakat.


Dan marilah jangan pernah kita lupa bahwa meski pun beda agama maupun suku, di Negara Kepulauan ini kita semua bersaudara.***

Apa yang memperparah situasi di Nigeria dan Suriah? Kardinal Onaiyekan bicara

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Juni 2013 | 20:51

Uskup Agung Abuja, Nigeria, Kardinal John O. Onaiyekan
(foto: CNA/Lauren Cater)
ITALIA, Milan (MP) -- Menurut Kardinal John O. Onaiyekan konflik yang terjadi di Nigeria dan Suriah saat ini telah diperparah oleh pengaruh-pengaruh luar. Demikian diungkapkannya dalam pertemuan ke-10 Oasis International Foundation yang diadakan di Universitas Milan, 17-18 Juni 2013.

Pertemuan tersebut membahas bagaimana meningkatkan hubungan Kristen Katolik dan Muslim serta masalah pertumbuhan sekularisme global dan ekstremisme. Para pembicara berasal dari berbagai negara, termasuk Irak, Iran, Yordania, Maroko, Lebanon, Suriah, Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Indonesia, Pakistan, Amerika Serikat, Prancis dan Italia. (CNA)

Situasi Nigeria
Human Rights Watch melaporkan bahwa sejak 2009 sebanyak 2.800 nyawa telah menjadi korban tindakan terorisme di Nigeria.

Kebanyakan di antara mereka merupakan masyarakat berlatar belakang agama Kristen.

“Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad” atau yang sering disebut “Boko Haram” dianggap bertanggung jawab atas berbagai tindakan tidak berprikemanusiaan yang telah menciptakan kekacauan di beberapa negara bagian di Nigeria.

Menurut Kardinal Onaiyekan, Jama'atul Alhul Sunnah (JAS) awalnya bukan merupakan sebuah kelompok teroris. Awalnya kelompok ini menolak untuk bekerja dengan non-Muslim, tetapi tidak pernah melakukan kekerasan.

"Masalahnya adalah masukan apa yang mereka dapatkan dari link luar mereka,” ungkap Kardinal Onaiyekan menunjuk bahwa masalah yang terjadi di Nigeria adalah akibat pengaruh dari kelompok-kelompok dari luar. Ia juga menyentil tentang pasokan dana dari luar.

"Tidak bahkan lima persen dari Muslim di Nigeria setuju dengan Boko Haram, dan mereka [umat Muslim] khawatir karena mereka [JAS] membunuh Muslim juga, dan memberikan Islam nama yang buruk," katanya.


Di Nigeria umat Kristen dan Muslim secara umum telah hidup berdampingan secara damai. Namun sampai beberapa tahun yang lalu, berbagai tindak kekerasan dan pemboman dilakukan oleh sekelompok orang yang digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras yang ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, dan telah menargetkan gedung-gedung pemerintah, pasar, gereja dan masjid dalam serangan-serangannya.



Situasi Suriah
Kardinal Onaiyekan juga turut menyoroti perang sipil di Suriah dan berharap supaya kekerasan di sana tidak menyebar ke tanah airnya.

Perang di Suriah telah berlangsung selama 27 bulan, dan merenggut nyawa sedikitnya 93.000 orang, dan setidaknya 1,5 juta orang menjadi pengungsi di negara-negara terdekat.

Berawal dari aksi demonstrasi melawan pemerintah yang kemudian diikuti oleh tindakan represif dari pemerintah, perang ini dimulai pada April 2011.

Rusia dan Iran telah mendukung pemerintah resmi Suriah, sementara negara-negara Barat (a.l., Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris) lebih menyukai kelompok pemberontak yang terdiri dari sejumlah kelompok berbeda, termasuk nasionalis dan Islamis.

Pada tanggal 14 Juni, Presiden AS, Barrack Obama, mengatakan siap untuk memberikan bantuan militer langsung ke oposisi, setelah menetapkan bahwa rezim menggunakan senjata kimia pada rakyatnya sendiri. Tuduhan itu ditolak oleh pemerintah Suriah.

Berita terbaru menyebutkan bahwa kelompok pemberontak mengaku sekarang memiliki senjata yang akan mengubah jalannya pertempuran.

"Siapa yang mendukung apa yang disebut oposisi di Suriah," kata Kardinal Onaiyekan. "Bukankah Barat?"

Menurutnya oposisi Suriah didukung oleh "beberapa orang yang tidak mengerti apa yang terjadi."

"Amerika mengatakan kepada kita bahwa mereka akan mengirim lebih banyak senjata untuk sekelompok orang yang menentang pemerintah mereka," ungkap kardinal.

"Ini adalah dunia gila, mereka mungkin memiliki alasan untuk itu," kata Kardinal Onaiyekan. "Mereka tahu apa yang mereka inginkan, tapi pasti bukan yang baik bagi rakyat Suriah."


The Golden Rule
Meskipun ada ketegangan sektarian di Suriah antara kelompok-kelompok Muslim yang berbeda dan diarahkan terhadap umat Kristen, kardinal mengatakan bahwa "kebanyakan konflik yang digambarkan sebagai konflik agama pada sebenarnya tidak begitu."

Kardinal Onaiyekan mengatakan bahwa ia ingin melihat dunia "menikmati buah positif dari berbagai agama, mengakui bahwa Allah lebih besar daripada kita, dan supaya orang Kristen untuk bebas mempraktekkan iman mereka."

"Muslim juga harus bebas untuk mempraktekkan iman mereka, mengingat untuk tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan orang-orang Kristen lakukan kepada mereka."

"Kita harus mengubah cara orang melihat agama mereka," katanya. "Kita harus membuka diri terhadap orang lain, mengakui bahwa ada orang lain [yang berbeda]. Tidak hanya bersikap toleran terhadap mereka, tetapi juga menghormati mereka, karena saya tidak ingin orang (hanya) mentolerir saya." [+] (lih. CNA)


Ledakan Bom di Boston Maraton: Tragedi Kemanusiaan

Written By Ray Maleke on Selasa, 16 April 2013 | 10:28

(NYTimes)
AMERIKA SERIKAT, Boston (MP) – Dua buah bom meledak di Boston dekat garis finish yang sedang didekati oleh ribuan pelari maraton pada Senin sore waktu setempat. Pihak berwenang melaporkan bahwa korban meninggal dunia telah meningkat menjadi tiga orang dan lebih dari seratus orang mengalami luka-luka.

Sebuah bom lainnya yang tidak meledak ditemukan di dekat garis finish.

Kegiatan lari maraton ini merupakan iven tahunan dalam rangka memperingati Patriots Day dan telah dimulai sejak tahun 1897. Ribuan orang datang untuk menyaksikannya.

Informasi dari pihak penyelenggara mengungkapkan hampir 27.000 orang berpartisipasi tahun ini, mewakili 96 negara. Pertandingan dimulai jam 10 pagi dan dalam waktu dua jam Lelisa Desisa (Ethiopia) telah memenangkan pertandingan. Jam tiga sore ketika masih banyak orang berlari untuk mencapai garis finish tragedi kemanusiaan ini terjadi.

Pihak berwenang menyebut bahwa di antara korban meninggal saat ini adalah seorang anak berumur delapan tahun. Masih ada dua anak lagi yang dilaporkan menjadi korban bom yang belum diketahui siapa penanggung jawabnya.

Penyelidikan atas kasus ini berada di bawah badan intelejen AS, FBI, melalui Joint Terrorism Task Force.

“Kita belum tahu siapa yang melakukan hal ini dan mengapa,” ungkap Presiden AS, Mr. Obama, sambil memperingatkan masyarakat untuk tidak langsung “mengambil suatu kesimpulan.” Ia mengungkapkan bahwa masyarakat AS sedang mendoakan Boston. Dan ini adalah doa kita juga, terutama bagi mereka yang menjadi korban kekerasan berdarah dingin ini. (NBCNews/ChristianPost)







Apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama?

Written By Ray Maleke on Sabtu, 10 November 2012 | 01:04

Presiden AS Barack Obama (foto: csmonitor)
AMERIKA SERIKAT, West Virginia (10 November 2012).

Setelah penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) dari Kerajaan Inggris (4 Juli 1776) oleh para pendatang di Dunia Baru di tiga belas koloni Amerika, Samuel Adams menyatakan: "Hari ini, saya percaya, pemerintahan politik Protestan akan dimulai."1 Hampir semua dari 56 penanda-tangan Deklarasi itu berafiliasi dengan gerakan Protestan.

Dalam artikelnya “The Middle Colonies as the Birthplace of American Religious Pluralism” (Wilayah Koloni Tengah sebagai Tempat Lahir Pluralitas Agama Amerika), Patricia Bonomi, profesor emeritus di New York University menulis: "Koloni [Amerika] terdiri sekitar 98 persen Protestan."2

Menyikapi kesan di atmosfir negara berpenduduk ketiga terbesar di dunia ini yang semakin menjauh dari etika moral kekristenan, [dengan tidak mengenyampingkan pertanyaan keadilan bagi para penduduk asli Amerika Utara], Julio Severo menulis “Pemerintahan politik Protestan di Amerika mulai menurun ketika liberalisme menyerang gereja-gereja...dan ketika pendidikan yang berpusat pada negara menggantikan pendidikan yang berpusat pada keluarga.” Menurutnya dalam kedua hal ini gereja dan keluarga melakukan penolakan, namun “kecil.”3

“Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, AS tidak memiliki mayoritas Protestan, seperti laporan AP baru-baru ini. Sementara liberalisme meningkat di gereja-gereja Protestan, AS melihat penurunan jumlah anggota [gereja-gereja Protestan], dan banyak dari pemimpin mereka tidak lagi sejalan dengan Injil itu sendiri,” lanjutnya. 
Severo menilai bahwa gerakan Protestan di AS telah menjauh dari para penggagasnya yang menentang “kejahatan demi Injil itu sendiri.” 

Gerakan Protestan dihubungkan dengan Martin Luther ketika ia menempelkan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg, Jerman, pada tanggal 31 Oktober 1517.

Sekitar 500 tahun yang lalu Luther juga menulis: "Saya sangat takut kalau sekolah-sekolah akan terbukti menjadi gerbang besar menuju neraka, kecuali sekolah-sekolah itu [para pekerjanya] rajin bekerja dalam menjelaskan Kitab Suci, dan mengukirkannya dalam hati kaum muda."4


Sekolah tanpa agama

Di puncak gerakan Aufklarung (Pencerahan) yang mengadvokasi pemisahan negara dan agama, namun pada tataran ideologinya adalah sekularisasi masyarakat, sekolah-sekolah hendak dibersihkan dari pengaruh agama (sic. kekristenan).

Para penganut gerakan ini menggunakan berbagai posisinya untuk maksud ini, baik di Eropa maupun di berbagai koloninya. Ambil contoh di Minahasa. Pada tahun 1845, Residen A. J. Van Olphen menginstruksikan bahwa Agama Kristen sudah tidak bisa diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah dan sekolah misi. Atas perjuangan Nederlandsch Zendeling-gnootschap (Badan Misi Belanda) peraturan ini tidak diberlakukan di sekolah misi.5 Agenda Aufklarung di Indonesia tercegal dengan lahirnya Pancasila, yang sekarang menjadi sebuah target ideology.

Di AS, dengan preteks pemisahan antara negara dan agama, maka sekolah-sekolah negara atau yang ditunjang oleh negara tidak boleh mengajarkan agama pada murid-muridnya.6 Kelompok-kelompok ateis sangat militan dalam menjaga kebijakan ini. Menyanyikan sebuah lagu yang menyebut “Allah” atau “Tuhan” saja tidak luput dari gugatan hukum mereka.7 Hal ini praktis merupakan supresi agama di dalam pikiran anak-anak dan masyarakat.

Tidak banyak yang menyadari apa yang ditunjukkan oleh Francis Fukuyama bahwa gerakan Protestan telah ditunggangi oleh gerakan Aufklarung sebagai agen sekularisasi,8 atau lebih tepat sekularisasi kebablasan. Karena jika awalnya adalah untuk tujuan demokratisasi dan toleransi beragama, pada akhirnya secara ekstrim telah meminggirkan agama-agama dari realitas publik masyarakat Eropa dan Amerika Utara, dan pada saat yang sama, mendorong Darwinisme/Naturalisme sebagai spritualitas yang 'valid'.


Pendidikan Katolik

Pada tahun 1840, di New York, ketika identitas Protestan masih sangat kuat di antara para settlers, dengan ekses yang menyebabkan diskriminasi terhadap murid-murid berlatar-belakang Katolik, Bishop John Hughes melayangkan protes.

“Kami menolak membayar pajak yang [maksud penggunaannya] adalah menghancurkan agama kami dalam pikiran anak-anak kami.” Ia menuntut supaya New York Public School Society juga menopang sekolah-sekolah Katolik.9

Ketika pada tahun 1850 ia terpilih sebagai Uskup Agung New York, ia menggunakan wewenangnya untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan Katolik swasta. Sekarang ini, ketika pendidikan Katolik masih merupakan pendidikan alternatif di AS, pendidikan Protestan telah hampir menyeluruh menghilang, dan yang masih berfungsi, sedikit yang dapat dikatakan beroperasi di luar ideologi sekuler.

Keberatan yang disampaikan oleh Severo adalah bahwa sekolah modern saat ini tidak berusaha untuk menjelaskan atau “mengukirkan” Alkitab di hati para generasi muda. “Sebaliknya, sekolah mengukirkan homoseksualitas dan penyimpangan lainnya” dalam hati mereka. Karena itu baginya, mengutip Luther, “Sekolah secara efektif telah menjadi gerbang besar neraka.”


Home Schooling

Situasi ini membuat banyak orangtua mulai memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di rumah. Ini pun bukan tanpa problema. Di AS sekarang ini home schooling masih merupakan alternatif pendidikan anak-anak, tapi pertanyaannya adalah sampai berapa lama kebijakan ini akan bertahan?

Di Kanada, homoseksualisme telah mulai diajarkan pada anak-anak di tingkat taman kanak-kanak.10 Di Provinsi Alberta, bahkan para orang tua yang memilih home schooling sebelumnya telah menerima tekanan untuk melakukan hal yang sama di sekolah rumah mereka, sekalipun Pemerintah kemudian mundur dengan mengalirnya komplain dari orang tua.11 Dalam situasi ini semuanya berargumen dengan mengutip “hak asasi manusia.”

Menyeberang ke Eropa, yang dilaporkan sangat senang dengan terpilih kembalinya Mr. Obama, Norbert Blum, seorang figur dalam Persatuan Kristen Partai Demokrat, mengatakan, “Saat ini saya mengamati perampasan total anak-anak oleh negara.” Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi dan pulang sore.

"Saya menentang monopoli pendidikan negara dan melihat home schooling oleh orang tua yang bertanggung jawab sebagai tanggapan yang sehat terhadap sistem sekolah yang bersifat mutlak," demikian dikutip Home School Legal Defence Association.12

Pada zaman Nazi, home school dinyatakan ilegal di Jerman. Baru-baru ini pihak berwenang di Jerman telah menindak sebuah keluarga yang menerapkan home school, memberi sangsi denda yang mencekik leher, merampas anak-anak dari rumah mereka, dan memenjarakan orang tua yang terus mengajar anak-anak mereka di rumah.

Awal bulan ini, sebuah pengadilan distrik di Darmstadt memisahkan sebuah keluarga, dan menyerahkan anak-anak mereka ke lembaga anak, karena orang tua mereka menyekolahkan mereka di rumah.13

Kita kadang berpikir bahwa negara-negara yang mengagung-agungkan demokrasi ini adalah kebalikan dari retorik “fundamentalisme” yang sering diarahkan pada negara-negara Islam. Tapi kalau kita melihat lebih dekat lagi, apakah kita masih dapat berpikir demikian?

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama? Saya berharap tulisan ini dapat menjadi pengantar dalam sebuah diskusi yang membukakan pikiran in our connected world today.***



-------
1  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
2  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
3  Julio Severo, A New Reformation to Counter-Attack the Great Gates of Hell?: Martin Luther warns modern-day parents, Last Day Watchman (link); Tulisan ini dielaborasi dari artikel Severo. 
4  S. Michael Craven, Christian and Public Education, Christianity.com (link); The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
5  F. S. Watuseke, Sejarah Minahasa (Manado: Pertjetakan Negara, 1968), 41.
6  Lihat tulisan S. Michael Craven, Christian and Public Education (link), yang memberi sinopsis tentang problematika sekolah negara di AS.
7  Atheistic FFRF Pledges Legal Battle as NY Public School Refuses to Remove ‘God’ & ‘Lord’ Songs, The Blaze (link).
8  Lih. Adian Husaini, Wajah peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal (Jakarta: Gema Insani, 2005), 82.
9  http://www.pbs.org/kcet/publicschool/photo_gallery/photo2.html
10  Toronto school board: Parents can’t opt kids out of pro-homosexual curriculum, LifeSiteNews (link).
11  Alberta backtracks: Parents can teach beliefs on homosexuality, but homeschoolers still concerned, LifeSiteNews (link).
12  German politician blasts 'state education monopoly,' speaks out for homeschooling, LifeSiteNews.com (link).
13  German parents lose custody of their children for homeschooling, LifeSiteNews (link).

Reaksi umat Kristen di Amerika Serikat setelah kemenangan Presiden Obama (2)

Written By Menara Penjaga on Jumat, 09 November 2012 | 08:17

Pdt Samuel Rodriguez (foto: urbanchristiannews.com)
AMERIKA SERIKAT, Washington, DC (9 November 2012).

Kemenangan Presiden Barack Obama pada pemilihan umum hari Selasa lalu salah satunya disebabkan oleh dukungan masyarakat berlatar belakang Hispanik/Latino di Amerika Serikat. Berikut ini pengamatan dari Pdt Samuel Rodriguez ketua Konferensi Kepemimpinan Kristen Nasional Hispanik dan penasihat senior untuk editorial The Christian Post, seperti dilaporkan Napp Nazworth, wartawan The Christian Post.
-------
Pemilu hari Selasa lalu harus menjadi "wake-up call" bagi Partai Republik untuk berbuat lebih banyak demi menjangkau pemilih non-Kaukasian, ungkap Pdt Samuel Rodriguez.

Menurutnya, menyikapi masyarakat Latino (Hispanik) dalam pemilihan umum, Partai Republik punya dua pilihan: tetap dengan strategi “Southern yang eksklusif” dan “yang tidak lagi berlaku dalam realitas abad ke-21,” atau mengalami 'saat datang kepada Yesus'... di mana mereka menyadari bahwa Amerika telah berubah," ungkapnya.

Presiden Barack Obama berhasil mempertahankan kursi kepresidenan dengan kekuatan pemilih non-Kaukasian yang menyalurkan suara mereka untuk Partai Demokrat dalam jumlah besar. Mr. Obama kehilangan 20 poin persentase dengan pemilih Kaukasian. Dalam setiap pemilu sebelum 2012, hal ini berarti kemenangan telak bagi Partai Republik.

Banyak di kalangan Partai Republik yang menyadari bahwa pergeseran demografis yang terjadi di AS tidak menguntungkan mereka, namun bagi mereka pergeseran itu adalah hal yang akan mereka hadapi di masa depan, dan bukan pada hari Selasa lalu.

"Partai Republik perlu mengakui fakta bahwa mereka menderita miopi budaya, dan gagasan untuk menghiasi 75 persen suara dari partisipasi warga kulit putih dan memenangkan pemilu berlandaskan pemilih kulit putih yang solid telah berakhir," jelas Pdt Rodriguez. 

Sebagai seorang pendeta, Rodriguez tidak mendukung atau menyokong salah satu dari mereka, dan telah memberikan saran kepada para politisi dari kedua belah pihak.

Strategi yang harus dikejar oleh Partai Republik, saran Pdt Rodriguez, adalah "mengubah citra dirinya menjadi partai Abraham Lincoln dan Ronald Reagan - sebagai [lambang] keadilan, optimisme, dan partai [yang mendukung] kebebasan."

Bagian dari perubahan itu berarti menambahkan pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan reformasi imigrasi ke platform Partai Republik. Pdt Rodriguez percaya bahwa Partai Republik bisa melakukan ini tanpa mengorbankan prinsip-prinsip inti. Dan jika mereka melakukannya, "mereka akan membuat terobosan signifikan ke dalam komunitas Hispanik dan dalam komunitas Afrika-Amerika."

Tapi "tanpa suara masyarakat Hispanik dan Afrika-Amerika, itu namanya game over. Partai Republik akan terpinggirkan ... pada generasi mendatang."

Pdt Rodriguez meyakini bahwa dua faktor yang menciptakan sebuah "badai yang sempurna" dan yang menyakiti peluang Mr. Romney bersama para pemilih Latino dalam ini pemilu ini adalah: retorika imigrasi Mr. Romney ketika pemilihan awal Partai Republik dan sebuah program yang dikeluarkan Mr. Obama yang disebut "Dream Decision." 

Sebagian besar retorika selama pemilihan awal Partai Republik mengasingkan pemilih Latino, jelasnya, seperti ketika Mr. Romney menggunakan ungkapan "self-deportation" (mendeportasi diri sendiri) dalam menggambarkan kebijakan imigrasinya.

Sebelum musim panas lalu Mr. Obama mengalami kesulitan dengan para pemilih Latino. Mereka marah karena ia telah meningkatkan pendeportasian secara dramatis dan tidak menepati janjinya untuk melakukan reformasi keimigrasian di masa jabatannya yang pertama.

Namun demikian, Juni lalu, Mr. Obama mengumumkan bahwa Departemen Kehakiman tidak lagi mendeportasi imigran tidak sah yang dibawa ke AS sebagai anak-anak, yang sudah lulus dari sekolah tinggi, yang bertugas di militer atau memperoleh GED (semacam ujian persamaan sekolah menengah), dan yang tidak memiliki catatan kriminal. Keputusan ini mirip dengan RUU “the DREAM Act,” yang tidak disahkan oleh Kongres. Program “Dream Decision” yang diluncurkan Mr. Obama memberi energi bagi para pemilih Latino untuk kembali mendukungnya.

Pdt Rodriguez percaya bahwa meskipun Mr. Obama membuat "Dream Decision," Partai Republik bisa memenangkan pemilih Latino jika saja mereka memilih kandidat yang berbicara mengenai reformasi imigrasi dengan nada yang lebih moderat, seperti Mike Huckabee, Marco Rubio atau Newt Gingrich.

Jika saja Partai Republik memilih kandidat yang "lebih ramah" mengenai isu reformasi imigrasi, ungkap Pdt Rodriguez, maka para Latino akan melihat "Dream Decision" Mr. Obama sebagai "alat politik," untuk memperoleh suara mereka, "setelah ia medeportasi 500.000 orang, [karena] tidak meluluskan reformasi imigrasi."

Pdt Rodriguez sempat berbicara dengan Mr. Romney selama Konvensi Nasional Partai Republik, di mana ia diminta menjadi salah satu dari yang membawakan doa-doa berkat. Tim kampanye Mr. Romney memahami bahwa mereka telah "kelewatan" dalam retorika mereka mengenai imigrasi selama masa pemilihan awal, sehingga Mr. Romney sepertinya menyetujui saran Rodriguez dan karenanya mengubah bagaimana ia berbicara tentang imigrasi setelah itu. Tapi itu agak sedikit terlambat.

"Pada akhirnya, kerusakan telah terjadi - retorika “deportasi diri sendiri,” laga awal para kandidat Partai Republik, bahkan retorika Partai Republik tentang reformasi imigrasi membuat pemilih Latino terasing," jelas Pdt Rodriguez. (The Christian Post)

-------
Perenungan bagi orang Kristen adalah apakah yang akan terjadi jika mereka menunaikan kewajiban politik mereka lewat sebuah entitas politik yang dinafasi dengan Kabar Baik bagi orang miskin, orang asing, keberpihakan kepada yang tertindas dan terpinggirkan, dan yang mencari perdamaian dan damai sejahtera bagi dunia.  

Reaksi umat Kristen di Amerika Serikat setelah kemenangan Presiden Obama

Written By Ray Maleke on Kamis, 08 November 2012 | 00:33

AMERIKA SERIKAT, Washington, DC (7 November 2012).

Kemenangan Presiden Barack Obama untuk menduduki kursi kepresidenan Amerika Serikat yang kedua kali meninggalkan kesan monumental dan pengaruh yang luas. Kemenangannya sangat dirayakan terutama oleh para pendukung gerakan revolusi seksual, aborsi, dan apa saja yang diusung oleh platform Partai Demokrat, di dalamnya termasuk hal yang patut dipuji seperti pendekatannya terhadap para imigran tak berdokumen.

Di pihak lain, awan kelabu menggantung di hati para pemilih yang didorong oleh iman dan hati nurani Kristen. Steve Strang, pendiri dan penerbit Charisma News, dengan kecewa bertanya, “...Apakah ini merupakan suatu bentuk penghakiman Allah atas Amerika [Serikat]?"1

Sementara calon presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, mengakui kekalahannya dengan kata-kata, “Saya doakan supaya presiden akan sukses memimpin bangsa kita.”2

Sebelumnya, kelompok-kelompok Kristen telah mengorganisir berbagai kegiatan untuk mendorong AS lebih ke arah warisan kekristenannya. Doa dan harapan mereka adalah supaya AS dianugerahi pemimpin “yang menghormati Allah dan kebebasan beragama, termasuk hak asasi manusia dan keadilan,”3 dan bagi banyak di antara mereka, kualitas tersebut ada dalam diri calon Partai Republik, Mr. Romney, sekalipun latar-belakangnya sebagai penganut Later Day Saints diperdebatkan publik Kristen.

Namun, lebih banyak rakyat AS memilih memberikan kesempatan pada Mr. Obama untuk empat tahun lagi menghuni Gedung Putih dengan memberikan paling kurang 303 electoral vote (dibutuhkan 270 untuk menang). Menurut The New York Times, para pemilih Hispanic (penduduk berlatar belakang Amerika-Latin) turut menentukan kemenangan Mr. Obama.

Kampanye kebijakan Mr. Romney untuk memperketat keimigrasian melawan para imigran tak berdokumen adalah hal tak menguntungkan,4 dan kelihatannya Partai Republik tak cukup meyakinkan kelompok akar rumput bahwa mereka mengerti keadaan masyarakat kecil, dan lebih terkesan ingin menjaga kepentingan orang kaya.

Para pemimpin Kristen merasakan kekecewaan yang mendalam. Beberapa hari yang lalu penginjil terkenal Billy Graham menghimbau penduduk Minnesota untuk memberikan suara mereka mendukung pernikahan sesuai tradisi Kristen.5

“Saya berdoa supaya masyarakat yang baik di Minnesota akan menunjukkan dukungan mereka terhadap definisi pernikahan dari Allah, yaitu antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.”
Meskipun demikian, jumlah suara hanya mencapai 48 persen, kurang dua persen dari yang dibutuhkan.6

Sementara itu, di Maine, Maryland, dan kemungkinan besar Washington DC, pernikahan sesama jenis dilegalkan. Di dua negara bagian itu, perolehan suara masing-masing berkisar pada 52-48 dan 51-49.7

Ini merupakan pukulan bagi Bishop Harry Jackson, Jr. yang tak lelah mengupayakan supaya aktivis gerakan sesama jenis tidak akan berhasil menerapkan agendanya di Maryland.8

Kembali ke Steve Strang, dalam kekecewaannya ia merasa bahwa publik Kristen di Amerika masih kurang memberikan dukungan terhadap wakil politik yang mewakili suara mereka. “Saya melihat sendiri bagaimana sungkannya orang Kristen yang sungguh-sungguh untuk mendukung seorang yang adalah salah satu dari mereka,” keluhnya menunjuk Scott Plakon yang gagal di laga perwakilan negara bagian Florida.

“Sebagai orang Kristen pekerjaan ini yang diberikan untuk kita. Demografi sedang berubah. Mereka yang berpegang pada prinsip-prinsip Alkitab semakin menjadi minoritas. Kita berada dalam demokrasi di mana yang mayoritas mengatur. Mereka yang mendukung perjudian, aborsi, praktek seksual apapun, [dan] berbagai jenis kebejatan, [dan] sebenarnya melihat kita sebagai ekstremis yang harus ditakuti, semakin meningkat setiap hari.

“Sementara itu, masih ada sisa orang di Amerika yang mencintai Yesus. Tapi mereka tampaknya lebih tertarik melompat dan berteriak dan 'bergereja' daripada menjadi garam dan terang [dunia].”9

Russell D. Moore, dekan sekolah teologi dari Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, menulis:

“Banyak di antara kita yang memiliki perbedaan pendapat dengan Presiden. Sebagai seorang Kristen konservatif, saya percaya anak-anak yang belum lahir memiliki hak tertentu, termasuk hak untuk hidup, dan saya berharap Presiden Obama akan bekerja untuk melindungi mereka. Saya percaya kebebasan hati nurani adalah hak utama dalam masyarakat madani, dan serangan Administrasi [Pemerintah] terhadap kebebasan beragama adalah hal yang meresahkan. Saya tidak berpikir untuk mundur sedikit pun mengenai hal-hal ini, bahkan seperti para pendahulu kita, Isaac Backus dan John Leland yang tak henti menyatakan sikap demi membangun generasi pemimpin demi kebebasan beragama dan demi martabat manusia.

“Kita tidak akan sependapat dengan Presiden menyangkut beberapa hal (penting); [tapi] akan ada bagian lain di mana kita bisa bekerja sama dengan Presiden. Namun, apakah setuju atau tidak setuju dengannya, kita bisa menghormati. Menghormati bukan berarti memberikan persetujuan.”10 

 
Kesedihan paling mendalam datang dari pihak gerakan pembela kehidupan.

“Pekerjaan kita untuk membela kehidupan dari mereka yang paling lemah dan menjaga martabat manusia tidak bergantung pada pemilihan umum,” ungkap pemimpin Live Action, Lila Rose. “Ini adalah perjuangan bagi setiap orang, satu orang setiap saat. Kami hanya akan bekerja lebih keras, lebih berharap dan lebih percaya, dan memohon Allah untuk membuat hidup kami cerminan atas kasih-Nya yang tidak pernah mengecewakan.”11

“Saya tahu banyak orang akan pergi istirahat malam ini dengan kekecewaan yang sangat atas hasil pemilihan umum,” ungkap Patrick Mahoney dari Christian Defense Coalition. “Saya tahu perasaan kalian! Butuh beberapa minggu untuk menganalisa data dan mendapat pemahaman tentang apa yang telah terjadi. Akan tetapi, ketika saya menaruh kepala di atas bantal, ini yang membuat saya bersukacita:

“Keluaran 15:2: 'TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia'. Kristus adalah Raja. Blessings!”12

Dari hasil pemilihan umum di AS ini, berbagai reaksi umat Kristen, kenyataan hidup sehari-hari sebelum pemilu dan sesudahnya, dan bagaimana politik seharusnya menjadi alat yang melayani kepentingan umat manusia dan bukan sebaliknya, dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Tidak ada salahnya mengundang umat Kristen di Indonesia, baik yang bersimpati pada Presiden AS atau yang kurang bersimpati terhadap berbagai kebijakannya, untuk turut memanjatkan doa supaya Presiden Barack Obama dan para pemimpin dunia lainnya dapat memberi telinga pada tuntunan suara Tuhan yang berbicara di dalam hati nurani mereka, untuk membawa kehidupan masyarakat yang dipimpin mereka pada kedamaian yang berkeadilan, martabat manusia, dan penghargaan akan hidup yang dianugerahkan Allah.***



-------
1 After Election, the Church Has Work To Do, Charisma News (link)

2 Mitt Romney concedes White House race to Barack Obama, says he will ‘pray that the president will be successful in guiding our nation’, Boston.com (link).

3 Christians pray as US heads to the polls, Christian Today (link)

4 Divided U.S. Gives Obama More Time, New York Times (link).

5 Billy Graham Speaks Out on Gay Marriage in Minnesota, Charisma News (link). 

6 Minnesota voters reject marriage amendment, Duluth News Tribune (link).

7 Gay Marriage Passing in Three, Possibly Four States, The Christian Post (link).

8 Gay Marriage Passing in Three, Possibly Four States, The Christian Post (link).

9 After Election, the Church Has Work To Do, Charisma News (link).

10 How Should Christians Respond to Obama's Re-Election?, The Christian Post (link).

11 ‘Surrender is not an option’: pro-life leaders react to Obama re-election, LifeSiteNews (link).

12 ‘Surrender is not an option’: pro-life leaders react to Obama re-election, LifeSiteNews (link).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger