"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Perdamaian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perdamaian. Tampilkan semua postingan

Anwar Ibrahim: Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen

Written By Menara Penjaga on Selasa, 05 November 2013 | 09:02

(foto: santegidiocommunity)

MP --- "Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen dan menentang umat Muslim yang memerangi orang Kristen," demikian diungkapkan Anwar Ibrahim, anggota Parlemen dan pemimpin Partai Oposisi Malaysia, dalam pertemuan internasional yang diselenggarakan di Roma, Italia, 29 September - 1 Oktober 2013. 

Pertemuan tahunan untuk perdamaian yang diselenggarakan oleh komunitas St. Egidio menghadirkan para pemimpin agama dan politik dunia. Tahun ini tema yang diangkat adalah "The Courage to Hope" (keteguhan hati untuk berharap). 

Kekerasan di Timur Tengah semakin meningkat dan umat Kristen banyak kali menjadi sasaran.

Uskup Agung Aljir Ghaleb Bader memperingatkan penurunan jumlah umat Kristen di Timur Tengah dan Afrika Utara setelah munculnya konflik "Arab Spring."

Ia menekankan pentingnya membedakan antara agama dan politik. Menurutnya "politik mengotori agama."

Hidup berdampingan yang telah berabad-abad terjalin mulai dipertanyakan. Budaya kekerasan menggantikan budaya hidup bersama. 

Ia menambahkan, "hubungan antar penduduk di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah harus didasarkan pada kewarga-negaraan bersama, dan bukan pada afiliasi agama."[+]



Christian Post
http://www.christianpost.com/news/faith-justified-violence-and-hatred-condemned-by-muslim-and-christian-leaders-at-intl-peace-meeting-105907/

MidEast Christian News
http://mcndirect.com/showsubject.aspx?id=49722

SantEgidio Community
http://www.santegidiocommunity.org/2013/10/rome-2013-in-name-of-peaceful-revolt-of.html

Surat terbuka Presiden Rusia kepada masyarakat dan pemimpin politik di Amerika Serikat: Kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sama derajatnya

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 14 September 2013 | 10:13

[Surat ini dimuat sebagai tulisan opini di New York Times dan diterjemahkan oleh MP]

Peristiwa-peristiwa baru seputar Suriah telah mendorong saya untuk berbicara langsung kepada rakyat Amerika dan para pemimpin politiknya. Hal ini penting dilakukan di tengah kurangnya komunikasi antara masyarakat kita.

Hubungan di antara kita [Rusia dan Amerika Serikat (AS)] telah melewati berbagai tahap. Kita bermusuhan selama perang dingin. Tapi kita juga pernah menjadi sekutu sekali, dan mengalahkan Nazi bersama-sama. Organisasi universal internasional – PBB – kemudian dibentuk untuk mencegah kehancuran demikian untuk terulang kembali.

Para pendiri PBB mengerti bahwa keputusan yang mempengaruhi perang dan perdamaian harus terjadi hanya dengan persetujuan bersama, dan dengan persetujuan Amerika [hak] veto oleh anggota tetap Dewan Keamanan dicantumkan dalam Piagam PBB. Kearifan ini telah mendukung stabilitas hubungan internasional selama beberapa dekade .

Tidak ada yang menginginkan PBB menderita nasib yang sama dengan Liga Bangsa-Bangsa, yang runtuh karena tidak memiliki pengaruh yang sebenarnya. Hal ini akan menjadi mungkin bila negara-negara berpengaruh mengabaikan PBB dan mengambil tindakan militer tanpa otorisasi Dewan Keamanan .

Potensi penyerangan oleh Amerika Serikat terhadap Suriah, kendati ditentang kuat oleh berbagai negara dan pemimpin politik dan agama terkemuka, termasuk Paus, akan menimbulkan lebih banyak korban tidak bersalah dan eskalasi, berpotensi menyebarkan konflik jauh melampaui perbatasan negara Suriah. Penyerangan akan meningkatkan kekerasan dan melepaskan gelombang baru terorisme. Itu bisa merusak upaya multilateral untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran dan konflik Israel-Palestina, dan selanjutnya mengguncang Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini bisa mengacaukan seluruh sistem hukum dan ketertiban internasional.

Suriah tidak sedang menghadapi pertempuran untuk demokrasi, tetapi konflik bersenjata antara pemerintah dan oposisi di sebuah negara multiagama. Ada beberapa pembela demokrasi di Suriah. Tapi ada lebih dari cukup para pejuang Qaeda dan ekstremis dari berbagai kelompok yang memerangi pemerintah. Departemen Luar Negeri AS telah menetapkan kelompok Front Al Nusra dan kelompok Negara Islam Irak dan Levant, yang berperang bersama pihak oposisi, sebagai organisasi teroris. Konflik internal ini, diperparah oleh senjata asing yang dipasok ke pihak oposisi, adalah salah satu dari yang paling berdarah di dunia.

Tentara bayaran dari negara-negara Arab berperang di sana, dan ratusan militan dari negara-negara Barat dan bahkan Rusia, merupakan isu keprihatinan yang mendalam. Mungkin mereka tidak datang ke negara kita dengan pengalaman yang diperoleh di Suriah? Bagaimanapun, setelah pertempuran di Libya, para ekstremis pindah ke Mali. Ini mengancam kita semua.

Dari awal, Rusia telah menganjurkan dialog damai yang memungkinkan Suriah untuk mengembangkan rencana kompromis bagi masa depan mereka sendiri. Kami tidak melindungi pemerintah Suriah, tetapi hukum internasional. Kita perlu menggunakan Dewan Keamanan PBB dan percaya bahwa menjaga hukum dan ketertiban di dunia yang kompleks dan bergejolak saat ini adalah salah satu dari beberapa cara untuk menjaga hubungan internasional dari tergelincir ke dalam kekacauan. Hukum masih tetap hukum, dan kita harus mengikutinya apakah kita suka atau tidak. Menurut hukum internasional saat ini, kekuatan [militer] hanya diperbolehkan untuk membela diri atau dengan keputusan Dewan Keamanan. Yang lainnya tidak dapat diterima berdasarkan Piagam PBB dan akan merupakan tindakan agresi.

Tidak ada yang meragukan bahwa gas beracun telah digunakan di Suriah. Tapi ada berbagai alasan untuk percaya bahwa itu tidak digunakan oleh Angkatan Darat Suriah, tetapi pasukan oposisi, untuk memprovokasi intervensi dari penyokong asing mereka yang kuat, yang akan berpihak dengan kaum fundamentalis. Laporan-laporan bahwa militan sedang mempersiapkan serangan lain - kali ini terhadap Israel - tidak dapat diabaikan.

Adalah hal yang mengkhawatirkan bahwa intervensi militer dalam konflik internal negara-negara lain telah menjadi hal yang biasa bagi Amerika Serikat. Apakah ini dalam kepentingan jangka panjang Amerika? Saya meragukannya. Jutaan orang di seluruh dunia semakin melihat Amerika bukan sebagai model demokrasi tapi yang hanya mengandalkan kekerasan, dengan menarik koalisi bersama di bawah slogan “Kalau tidak bersama kami, kau melawan kami."

Tapi gaya ini telah terbukti tidak efektif dan sia-sia. Afghanistan guncang, dan tidak ada yang dapat mengatakan apa yang akan terjadi setelah pasukan internasional ditarik. Libya terbagi menjadi suku-suku dan klan-klan. Di Irak perang sipil terus berlanjut, dengan puluhan tewas setiap hari. Di Amerika Serikat, banyak yang menarik analogi antara Irak dan Suriah, dan bertanya mengapa pemerintah mereka ingin mengulangi kesalahan yang baru-baru terjadi.

Tidak peduli bagaiman ditargetkan suatu serangan atau seberapa canggih senjata [yang dipakai], korban sipil adalah tak terelakan, termasuk orang tua dan anak-anak, mereka yang hendak dilindungi oleh serangan ini.

Dunia bereaksi dengan bertanya: jika Anda tidak dapat mengandalkan hukum internasional, maka Anda harus mencari cara lain untuk memastikan keamanan Anda. Jadi semakin banyak negara berusaha untuk memperoleh senjata pemusnah massal. Ini adalah logis: jika Anda memiliki bom, tidak ada yang akan menyentuh Anda. Kita tinggal dengan pembicaraan mengenai perlunya untuk memperkuat nonproliferasi, padahal dalam kenyataan hal itu sedang terkikis.

Kita harus berhenti menggunakan bahasa kekuatan dan kembali ke jalur penyelesaian diplomatik dan politik beradab.

Sebuah kesempatan baru untuk menghindari aksi militer telah muncul dalam beberapa hari terakhir. Amerika Serikat, Rusia dan semua anggota masyarakat internasional harus mengambil keuntungan dari kesediaan pemerintah Suriah untuk menempatkan senjata kimia itu di bawah kontrol internasional untuk kemudian dihancurkan. Melihat dari pernyataan Presiden Obama, Amerika Serikat melihat ini sebagai sebuah alternatif dari aksi militer .

Saya menyambut minat presiden dalam melanjutkan dialog dengan Rusia menyangkut Suriah. Kita harus bekerja sama untuk menjaga harapan ini tetap hidup, seperti yang kami sepakati di pertemuan Kelompok 8 di Lough Erne, Irlandia Utara, pada bulan Juni, dan mengarahkan diskusi kembali ke perundingan.

Jika kita dapat menghindari kekuatan [militer] terhadap Suriah, hal ini akan meningkatkan atmosfer dalam urusan internasional dan memperkuat rasa saling percaya. Ini akan menjadi keberhasilan kita bersama dan membuka pintu untuk kerja sama dalam isu penting lainnya.

Hubungan kerja dan pribadi saya dengan Presiden Obama ditandai dengan meningkatnya kepercayaan [antara satu dengan yang lain]. Saya menghargai ini. Saya dengan seksama telah mempelajari pidatonya kepada bangsa [AS] pada hari Selasa. Dan saya lebih memilih tidak setuju dengan argumennya tentang exceptionalism Amerika, dengan mengatakan bahwa kebijakan Amerika Serikat adalah "apa yang membuat Amerika berbeda. Itu yang membuat kita luar biasa." Adalah sangat berbahaya mendorong orang untuk melihat diri mereka sebagai luar biasa, apa pun motivasinya. Ada negara-negara besar dan negara-negara kecil, kaya dan miskin, mereka yang memiliki tradisi demokrasi yang panjang dan mereka yang masih berupaya menemukan jalan ke demokrasi. Kebijakan mereka berbeda juga. Kita semua berbeda, tapi ketika kita meminta berkat-berkat Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sama derajatnya.

Vladimir V. Putin, Presiden Rusia.

11/09/2013

Umat Kristen di negara-negara Arab: Kami bukan minoritas

Written By Menara Penjaga on Senin, 09 September 2013 | 22:31

Tokoh-tokoh dan pemimpin agama Kristen dan Muslim pada konferensi yang membahas situasi umat Kristen di negara-negara Arab (foto: Xinhua/Mohammad Abu Ghosh)

YORDANIA, Amman (MP) – Sebuah pernyataan dari Patriakat Antiokia dan Seluruh Wilayah Timur Gereja Ortodoks Yunani mengenai situasi di Suriah dan wilayah Timur Tengah di antaranya menolak penyebutan umat Kristen sebagai “agama minoritas.”

“Kami tidak melihat diri kami sebagai agama minoritas dan tidak mau ada orang yang melihat kami demikan, melainkan dari sudut pandang tanggung jawab nasional dan kewarganegaraan penuh,” demikian diungkapkan dalam pernyataan itu.

Pernyataan bertanggal 30 Agustus 2013 itu turut menolak penyelesaian militer atas situasi di Suriah, dan menggarisbawahi bawahi solusi politik dan solusi damai lewat dialog.

Menyikapi konflik di Suriah itu, Patriakat Antiokia menyatakan bahwa “Gereja berakar di tanah ini dan kami bersikukuh dalam prinsip-prinsip tertentu mengenai keterlibatannya dalam urusan-urusan kemasyarakatan.”


"Kami mendengar masyarakat internasional ini sering berlagak menangisi orang-orang Kristen di Timur dan menunjukan rasa sedih untuk apa yang ia sebut situasi buruk mereka [orang-orang Kristen]. Akan tetapi, kami tidak membutuhkan penghiburan ini karena nasib kami di negeri-negeri kami adalah sama dengan saudara-saudara sebangsa kami, yang telah lama hidup bersama-sama dalam kasih dan harmoni."

Pernyataan lengkap Patriakat Antiokia dapat dilihat di situs spc.rs.


Tantangan umat Kristen di negara-negara Arab

Penolakan umat Kristen di negara-negara Arab terhadap perspektif “minoritas” ini turut disuarakan oleh Sekjen DGD, Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit dalam konferensi “Tantangan-Tantangan Yang Dihadapi Umat Kristen Arab.” (Oikoumene.org)

Umat Kristen di negara-negara Arab “ingin memahami diri mereka sebagai warga negara penuh negara-negara mereka, dengan semua tanggung jawab yang mengikutinya, dalam hal tugas, hak penuh dan tanggung jawab,” ungkapnya.

Konferensi yang dilaksanakan 3-4 September 2013 di Amman, Yordania, atas prakarsa Raja Abdullah II dan penasehat utama urusan agama dan budaya Yordania, Pangeran Ghazi bin Muhammad, ini menghadirkan tokoh-tokoh Kristen dan Muslim.

Dalam sambutannya, Pangeran Ghazi mengungkapkan keprihatinannya bahwa “Masyarakat Kristen Arab tidak hanya menderita karena hasutan yang buta dan tuli, [penderitaan] yang juga di alami oleh semua [warga] di negara-negara Arab tertentu sejak dimulainya apa yang secara keliru disebut Arab Spring. Tapi juga menderita semata-mata karena mereka adalah umat Kristen.”

“Kami menolak secara tegas dan menyeluruh hal demikian ini. Kami menolaknya seturut dengan hukum suci kami, sebagai Muslim di hadapan Allah. Kedua, kami menolaknya secara moral, sebagai [sesama] masyarakat Arab dan saudara sesuku. Ketiga, kami menolaknya secara emosi, sebagai tetangga sesama manusia dan teman terkasih.”

Menurut Pdt. Tveit, umat Kristen di Arab memiliki sejarah panjang hidup dalam masyarakat plural yang menghormati kemajemukan, dengan memahami bahwa semua orang diciptakan Tuhan sederajat. +

Melawan “penghijauan” dan “kristenisasi,” termasuk pembantaian dan perusakan seperti di Mesir

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 02:38

Seorang pria bersedih saat ia melihat salah satu dari banyak jenazah korban penyerbuan kamp pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi di Alun-alun Rabaa al-Adawiya, oleh pasukan keamanan Mesir, di Kairo, 14 Agustus 2013 (AFP PHOTO / MOSAAB EL-SHAMY via Kompas.com)
MP – Di sejumlah group facebook berplatform Kristen tampak sejumlah "posting-keprihatinan," bahkan kecaman, mengenai upaya “penghijauan” – istilah yang menunjuk pada 'peng-Islaman' daerah tertentu.

Sementara di group yang berplatform Islam, kita dapat menemui ungkapan yang sama tentang “kristenisasi” atau upaya 'peng-Kristenan' umat Islam (non-Islam).

Kedua istilah ini: “penghijauan” dan “kristenisasi,” serta ide yang terkandung di dalamnya, bukan hal yang baru. Keduanya lahir dan merupakan kelanjutan dari sejarah panjang tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan agama. Di balik itu adalah kepentingan politik, ekonomi, yang mencakup keserakahan, rasa superioritas, dan ketidak-sanggupan untuk mengendalikan diri.

Entah apa yang terus memberi kelanjutan terhadap istilah-istilah seperti ini di tengah komunitas beragama saat ini.

Padahal, penggunaan kedua istilah ini menyinggung perasaan umat beragama secara umum, terlebih khusus bagi kedua belah pihak, ketika muncul tudingan bahwa pihak yang satu sedang MEMAKSAKAN agamanya kepada pihak yang lain.

Dapat dimengerti bahwa kedua istilah itu menyinggung perasaan, karena pengikut agama yang tulus tidak akan memaksa (mengancam) orang lain untuk percaya apa yang ia percaya. Idenya juga bertentangan dengan akal sehat: seseorang tidak bisa dipaksa untuk mempercayai sesuatu yang tidak ia percaya.

Di samping itu, kedua istilah ini menyarankan bahwa para pemeluk agama tidak memiliki otonomi untuk menentukan apa yang mereka percaya/imani.


Kekritisan, kehati-hatian (kepekaan), dan rasa kemanusiaan

Karena itu, munculnya istilah-istilah di atas harus disikapi dengan kekritisan dan kehati-hatian (kepekaan). Ada orang yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena memang prihatin, namun TIDAK disertai dengan kekritisan dan kehati-hatian.

Namun, ada pula yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena suatu niat yang tak tulus, tak jujur; dengan maksud untuk menciptakan antipati (permusuhan) antara para pemeluk agama, supaya ketika ketegangan telah meningkat, jika sewaktu-waktu diperlukan, telah siap sebuah “bom kemanusiaan” yang dapat dipicu dengan sebuah tindakan pemerkosaan atau pembakaran/pemboman sebuah rumah ibadah.

“Senjata” seperti sudah sering dipakai oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, yang menghalalkan segala cara untuk mengamankan posisinya, memaksakan pengaruhnya, dan terutama mengamankan akses ke berbagai sumber daya untuk bisa hidup di atas penderitaan orang lain.

Jikalau yang disebut agama paling tidak membukakan mata manusia, maka masyarakat beragama perlu mengembangkan rasa percaya antara satu dengan yang lain, bukan karena agama, melainkan karena kemanusiaan yang kita semua miliki.

Kemanusiaan manusia tidak bisa diukur dari agama, etnik, pilihan politik, atau cara tertawa seseorang.

Manusia itu menjadi manusia karena HATINYA diisi dengan rasa kemanusiaan.


Pelajaran dari Mesir dan Indonesia

Sekarang ini sulit membayangkan bahwa pemerintah Mesir yang dibentuk setelah kudeta militer beberapa waktu yang lalu memiliki hati yang diisi dengan rasa kemanusiaan.

Associated Press (AP) yang dikutip Kompas.com menyebutkan 638 korban tewas dan sekitar 4000 lainnya luka-luka pada Rabu Berdarah (14 Agustus) ketika “pemerintah” tersebut membubarkan para demonstran. Dari pihak lain, Ikhwanul Muslimin [Muslim Brotherhood] mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang dan korban luka mencapai 10.000-an orang.

Mereka ini dibahasakan oleh sejumlah media sebagai pro-Mursi, pro-Muslim Brotherhood, atau pro-Islamis. Hanya saja seorang demonstran yang diwawancarai BBC menolak bahwa aksi mereka adalah demi Presiden Mursi, atau apapun, melainkan demi demokrasi dan martabat negeri mereka, Mesir.

Mereka dan rakyat Mesir secara keseluruhan adalah korban dari sebuah upaya manuver politik, yang bukan rahasia memuat begitu banyak kepentingan luar.

Kepentingan itu, apakah baik atau tidak bagi rakyat Mesir, adalah masalah tersendiri. Akan tetapi, suatu tindakan keamanan (baca: militer), mengatas namakan suara rakyat sekalipun, yang membunuhi rakyat, baik perempuan maupun laki-laki, jelas melanggar kesakralan sebuah demokrasi dan nilai kemanusiaan.

Hati siapa yang takkan tergerak melihat foto para korban. Mereka adalah ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka adalah rakyat yang menuntut sebuah konsistensi demokrasi, bagaimanapun itu.

Kita tidak mau dituduh mempunyai standar ganda dalam berdemokrasi, bukan?

Retorika penyelamatan Mesir dari "Islam radikal" tak lagi menjual. Mengapa di Suriah kebijakan yang muncul justru mempersenjatai gerakan yang tampak jelas memang radikal? 

Siapa yang lebih radikal dalam situasi ini telah nampak jelas. Ini adalah radikalisme yang mengkudeta demokrasi dan membantai rakyat dengan menggunakan alat keamanan negara.

Mungkin nanti ada narasi pembenaran terhadap penolakan terhadap Muslim Brotherhood, sama seperti kita di Indonesia punya narasi yang melegitimasi pembubaran PKI. Sayang kita sering dibuat lupa bahwa penolakan ideologi tak sama dengan pembantaian rakyat. Ada yang menyebut jumlah 300.000 sampai satu juta orang yang dibunuh secara keji pada tahun 65, dan kenyataannya kita masih hidup dalam kemiskinan hampir setengah abad kemudian.

Sendi-sendi perekonomian masih dikuasai oleh pihak asing, dan kroni-kroni koruptornya. 

Kita juga dibiarkan tak mengerti tentang semua kepentingan politik dan ekonomi di balik pergolakan politik semacam ini, dan untuk kasus Mesir, jika rakyat dan pemerintah gagal memperoleh solusi, mungkin tak hanya setengah abad kemudian rakyatnya masih akan tetap miskin, tapi juga Mesir akan porak-poranda dalam sebuah perang saudara.

Sampai sekarang agama masih dieksploitasi untuk kepentingan politik busuk. Tak dapat disangkal politisasi agama pun telah dimasukan ke dalam sejarah revolusi dan restorasi Mesir.

Mungkin Paus Tawardos II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik, berniat baik dengan hadir pada pengumuman Jenderal Sisi bahwa Presiden Mursi telah diturunkan, tapi tindakan itu nampak kurang bijak.

Sekarang kita bertanya, berapa banyak di antara “pendukung demokrasi” yang menyadari bahwa politisasi kelompok etnis Koptik dan Gereja Ortodoks Koptik tidak ada hubungannya dengan jemaat-jemaat Kristen Mesir yang ingin memiliki kebebasan beribadah, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka.

Siapa yang tahu? Yang kita tahu adalah mereka yang membakar gereja atau membunuhi orang Kristen itu melakukannya bukan karena agamanya, melainkan karena terang hatinya telah tertutup kabut amarah atau yang hatinya belum diisi dengan nilai kemanusiaan.

Perdana Menteri Turki Tayyib Erdogan punya poin yang penting, “Mereka yang tinggal diam menghadapi pembantaian ini sama bersalahnya dengan mereka yang melakukan (pembantaian) ini.” (Kompas.com)

Kalau ingin melakukan sesuatu, kita bisa mengikuti Paus Fransiskus. “Saya ingin memastikan doa saya untuk semua korban dan keluarga mereka, yang terluka dan semua orang yang menderita. Mari kita berdoa bersama untuk perdamaian, dialog dan rekonsiliasi di tengah bangsa ini dan seluruh dunia,” demikian sebagian isi doanya mengikuti tragedi pembantaian di Mesir. (News.va)

Dalam doa dan tindakan kita bisa melawan kata-kata yang mengundang permusuhan antar agama, kebencian antar sesama manusia, termasuk pembantaian rakyat dan penghancuran rumah ibadah seperti yang terjadi di Mesir. (+)

Bagaimana menjatuhkan pemerintah: Belajar dari kasus “Boko Haram”

Written By Ray Maleke on Minggu, 07 Juli 2013 | 03:07

Sebuah pembunuhan keji kembali terjadi di Nigeria, negara bagian Yobe. 42 pelajar dan seorang guru dilaporkan tewas dalam serangan itu [laporan lainnya mengatakan sekurangnya 30], dan seperti biasa, yang disebut “Boko Haram” diduga sebagai pelakunya. 

Mengapa para pelajar yang tak bersalah ini dinilai pantas diperlakukan demikian hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti orangtua, sahabat dan teman para korban harus hidup dengan luka yang dalam karena perbuatan keji ini.

“Boko Haram” (anti pendidikan Barat) sebenarnya bukan julukan yang menguntungkan untuk Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad (disingkat JAS), karena pada kenyataannya tidak semua hal yang menyangkut pendidikan Barat negatif semata-mata. Ada yang negatif, tapi masih banyak juga hal yang positif.

Itu sebabnya, dengan pengindentifikasian seperti itu, JAS tidak akan mendapatkan simpati dari masyarakat yang mengaku anti kekerasan dan pro-pendidikan. Sekalipun di sisi lain mereka (JAS) mendapat keberpihakan organisasi-organisasi teroris.

Dari namanya saja JAS telah menunjukkan bahwa mereka mempunyai keterkaitan dengan agama Islam. Sekalipun agama Islam tentu tidak berkaitan dengan aksi pemboman dan pembunuhan keji yang terus melanda masyarakat Nigeria.

Hanya mereka yang telah termakan propaganda negatif Islam yang akan percaya hal itu. Sebagian di antara mereka telah mengambil inisiatif untuk memberitakan Injil perdamaian karena menganggap Islam adalah agama kekerasan. Semoga ketika mereka belajar sejarah Perang Salib dan Inkuisisi, mereka dapat melakukan pekerjaan pemberita Injil dengan motivasi yang benar.

Sebenarnya bagian awal judul di atas lebih tepatnya adalah “Upaya menjatuhkan pemerintah.” [Atau "Bagaimana merebut sumberdaya alam"] Ini lebih terang menunjukkan bahwa artikel ini bukan sebuah seruan untuk menjatuhkan pemerintah manapun, terutama yang sah.

Kalau benar pemberitaan media bahwa JAS ada di belakang berbagai aksi kekerasan dan pembunuhan ribuan orang Kristen di Nigeria, tak terkecuali Muslim, maka organisasi ini memang sedang bertujuan menciptakan instabilitas (kekacauan) untuk menjatuhkan pemerintah Nigeria.

Media menyebut bahwa mereka ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, tapi perlu diingat bahwa JAS berkaitan dengan Islam, namun bukan Islam.

Ini karena Islam sekarang ini nampak efektif digunakan untuk menjatuhkan pemerintah. Maksudnya adalah ciptakan sebuah kelompok seperti JAS yang kemudian membunuhi penganut Kristen. Sebagai reaksi adalah munculnya orang-orang Kristen yang akan membunuhi penganut Islam. Hasilnya adalah kekacauan yang siap diamankan oleh negara-negara asing yang membutuhkan sumber daya alam lebih banyak lagi untuk menopang gaya hidup borjuis mereka.

Jadi jelaslah bahwa kasus “Boko Haram” memang dapat menjatuhkan sebuah pemerintah dan menjadikan sebuah negara menjadi ladang penjagalan.

Sangat tragis kalau tulisan ini berakhir di sini.

Karena itu, pertanyaannya adalah apakah ada pelajaran yang bisa diambil dari tindakan haram membunuhi sesama manusia yang tak bersalah?

Setiap masalah pada hakikatnya adalah situasional, dan karena itu jalan keluarnya adalah situasional pula. Yang dimaksud dengan “situasional” adalah tergantung situasi dan kondisi setempat.

Jikalau demikian, maka untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu diskusi, dialog, kerja sama dan rembuk pikir antara semua elemen yang ada dalam situasi dan kondisi setempat. Mereka ini yang tahu bagaimana menyikapi masalah dan mencari jalan keluarnya.

Berbicara dalam kasus seperti di Nigeria, itu berarti pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat dan masyarakat, tokoh-tokoh pemuda dan perempuan, semua yang berkepentingan, perlu menyatukan persepsi untuk bisa merumuskan respon bersama, misalnya dimulai dari peningkatan keamanan lingkungan bersama, intelijen masyarakat, penyediaan lapangan pekerjaan, intensifitas ekonomi masyarakat, dsb.

Jikalau ini tak terjadi, maka jarak antara komunitas-komunitas yang mungkin sedang diadu domba ini akan semakin jauh; membawa mereka semakin dekat pada saling membinasakan.

Itu sebabnya, sekalipun setiap masalah dan jalan keluarnya bersifat situasional, pembelajaran dari kasus “Boko Haram” ini bersifat internasional. Semoga bisa membantu. (+)

Patriarkh Gereja Ortodoks memberikan tanda penghargaan langka kepada wanita-kosmonot dunia pertama, Valentina Tereshkova

Written By Menara Penjaga on Senin, 17 Juni 2013 | 02:11

Valentina Tereshkova, perempuan pertama yang
diluncurkan ke luar angkasa
RUSIA, Moskow (MP) -- Hari Minggu kemarin (16 Juni 2013) menandai 50 tahun penerbangan angkasa luar wanita pertama yang dilakukan oleh kosmonot Valentina Tereshkova.

Tahun 1963, dengan pesawat ruang angkasa Vostok VI, Valentina yang berusia 26 tahun mengorbit bumi selama hampir tiga hari.

Sekalipun melalui kendala yang bisa berakibat fatal, Valentina berhasil melakukan misinya, sekaligus menunjukkan bahwa perempuan punya kemampuan yang sama dengan pria di luar angkasa.

Masa kecil yang keras
Kisah hidup Valentina mempersiapkannya untuk tantangan besar ini.

Pada usia dua tahun ia kehilangan ayahnya, Vladimir Tereshkov, dalam Perang Dunia II. Ibunya, Elena Fyodorovna, harus membanting tulang di sebuah pabrik kapas untuk membesarkannya bersama dua orang saudaranya.

Valentina sendiri membantu ibunya di rumah, dan nanti masuk sekolah pada usia 10 tahun. Ketika ia tinggal bersama neneknya, ia pun mengambil kerja magang di sebuah pabrik ban. Setahun kemudian (1955) ia ikut berkerja bersama ibu dan salah satu saudaranya mengoperasikan alat tenun.

Keadaan tidak membuatnya masa bodoh. Pada saat bersamaan ia mengambil kursus yang diberikan lewat surat-menyurat. Ia pun lulus dari Sekolah Teknik Industri Ringan.

Menjadi seorang kosmonot
Jalan menuju seorang kosmonot dimulai ketika ia bergabung dengan Club Olahraga Udara Yaroslavl pada tahun 1959. Ia pun menjadi seorang yang mahir terjun payung.

Terinspirasi oleh Yuri Gagarin, kosmonot Rusia yang menjadi manusia pertama di luar angkasa, Valentina menjadi sukarelawan untuk program angkasa luar Soviet.

Dengan ketrampilan yang dimilikinya, ia pun diangkat menjadi kosmonot pada tahun 1961, dan mengikuti latihan yang sulit untuk menjadi pilot utama Vostok VI.

Pada 16 Juni 1963 pukul 12.30 siang, Letnan Junior Valentina Tereshkova menjadi wanita pertama yang diluncurkan ke luar angkasa. “Aku melihat cakrawala. Warna biru muda, sebuah pita yang indah. Ini adalah Bumi. Betapa indahnya! Semua berjalan dengan baik,” ungkapnya lewat radio dengan kode Chaika (burung camar).

Dua tahun kemudian, p[P]ada tanggal 3 November 1963, Valentina Tereshkova menikah dengan kosmonot Soviet Kolonel Andrian Nikolayev, yang telah mengorbit bumi enam puluh empat kali pada tahun 1962 dengan Vostok III. Putri mereka, Yelena Adrianovna Nikolayeva, lahir pada tanggal 8 Juni 1964.

Tanda penghargaan langka
Valentina Vladimirovna "Valya" Tereshkova lahir di desa Sungai Volga di Maslennikovo tahun 1937. 6 Maret lalu ia merayakan ulang tahunnya yang ke 75.

Hari berbahagia itu dilengkapi dengan keputusan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriarkh Kirill, untuk memberikan tanda penghargaan kepada kosmonot wanita pertama yang juga merupakan anggota dewan dari negara bagian Duma ini dengan tanda penghargaan Glory and Honor (tingkat 1).

Hal itu berdasarkan penilaian terhadap apa yang telah disumbangkan Valentina Tereshkova bagi "Tanah Air dan Gereja Ortodoks Rusia," seperti diungkapkan Patriarkh Kirill dalam pesannya memperingati 50 tahun momentum sejarah itu, demikian pernyataan Patriarkhat Moskow pada situsnya.

"Hidup Anda terkait dengan sejarah Kosmonautik. Dari melakukan penerbangan solo di ruang angkasa pada tahun 1963 ketika eksplorasi luar angkasa baru dimulai, Anda masih merupakan simbol spiritual yang tinggi sebagai seorang wanita Rusia yang siap untuk kepahlawanan tanpa pamrih, tidak hanya di Rusia tapi di seluruh dunia," demikian ditulis dalam pernyataan itu.

Tanda penghargaan Glory and Honor diberikan kepada pemimpin negara, organisasi internasional dan tokoh agama yang memberi kontribusi besar dalam hubungan antar-gereja, kerjasama antar-agama, memperkuat perdamaian dan persahabatan antar bangsa.

Penghargaan yang diinagurasi pada tahun 2004 lalu ini merupakan penghargaan penting kedua dalam Gereja Rusia dan lebih jarang diberikan dibanding penghargaan lainnya dalam Gereja Rusia.

Seorang feminis ulung
Valentina Tereshkova tak hanya diingat untuk penerbangan luar angkasanya, penghargaan yang diterimanya atau sederet jabatan kepemimpinan yang masih atau pernah dipegangnya.

Ia juga diingat untuk perannya dalam mendorong peran serta perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Pandangan Valentina Tereshkova mengenai perempuan dan ilmu pengetahuan diringkasnya dalam sebuah artikel berjudul "Women in Space," (Perempuan di Luar Angkasa) yang ia tulis pada tahun 1970 untuk jurnal Impact of Science on Society (dampak ilmu pengetahuan terhadap masyarakat) di Amerika Serikat.

Dalam artikel itu ia mengungkapkan, "Saya percaya seorang wanita harus selalu tetap menjadi seorang wanita dan tidak ada hal feminin yang harus terasa asing bagi dirinya. ...saya sangat yakin bahwa tidak ada kerja yang dilakukan oleh seorang wanita di bidang ilmu pengetahuan atau budaya atau apa pun, bagaimana keras atau menuntutnya hal itu, akan berbenturan dengan misi indahnya sejak dulu kala – untuk mencintai dan dicintai – serta dambaannya untuk kebahagiaan sebagai seorang ibu. Sebaliknya, kedua aspek hidupnya ini dapat saling melengkapi dengan sempurna." (Valentina Tereshkova Biography; Interfax)

Para pemimpin Kristen, Muslim dan Yahudi menyerukan perdamaian dari Bosnia Herzegovina

Written By Menara Penjaga on Senin, 17 September 2012 | 03:58

BOSNIA HERZEGOVINA, Sarajevo.
Dari Bosnia Herzegovina, tempat di mana kekejaman terburuk dilakukan di Eropa sejak Perang Dunia II, para pemimpin gereja Ortodoks, Katolik Roma, Muslim, dan Yahudi dan sejumlah pejabat negara berkumpul dalam Konferensi Perdamaian Internasional (9-11 September 2012) dan menyerukan panggilan mendesak untuk terciptanya perdamaian.

Patriark Irinej dari Gereja Ortodoks Serbia mengungkapkan harapannya supaya semua yang hidup di wilayah Balkan dapat terhindar dari “pengalaman yang tragis dan menyakitkan di masa lalu.” Ia turut menekankan "komitmen masyarakat Serbia untuk memperkokoh perdamaian," demikian dilaporkan CapitalFM News. 

"Saya sungguh-sungguh berharap agar generasi baru akan tumbuh dewasa tanpa perasaan kebencian dan kiranya mereka dilindungi dari pengalaman mengerikan dari suatu konflik," kata Patriark Irinej dalam kata sambutannya dalam pertemuan tahunan di gedung pertemuan komunitas awam Katolik Sant'Egidio di Sarajevo yang dihadiri beberapa ribu orang.

Perang Bosnia1992-1995, dalam mana tiga kelompok etnik utama - Ortodoks Serbia, Katolik dan Muslim Kroasia – berperang antara satu dengan lain, menyebabkan 100.000 orang tewas. Hubungan antara ketiga kelompok etnik ini tetap masih belum pulih setelah 17 tahun berikutnya.

Sebelumnya, dalam sebuah liturgi di gereja Ortodoks Serbia di Sarajevo Patriark Irinej mengungkapkan, "Kita harus membawa dalam diri kita sendiri benih-benih perdamaian dan menyemaikannya di manapun kita berada."

Uskup Agung Sarajevo Kardinal Vinko Puljic dan beberapa pimpinan gereja Katolik Roma juga menghadiri ibadah itu.

"Di Bosnia, setiap orang berdoa menurut ketentuan-ketentuan yang dianutnya. Kota ini dan negara ini layak memperoleh hak istimewa itu," ungkap Kardinal Puljic.

Pimpinan Islam Bosnia, ulama Mustafa Ceric, menekankan bahwa di Sarajevo tidak pernah ada energi spiritual yang begitu besar seperti hari ini," sambil mengingatkan korban perang Bosnia, terutama selama pengepungan Sarajevo di mana sekitar 11.000 orang tewas.

"Para korban ini meminta komitmen kita untuk memelihara perdamaian dan menciptakan rekonsiliasi, dan mereka mengundang keterlibatan tulus kita semua di hadapan Allah dan kemanusiaan bahwa kita akan melakukan segalanya supaya tidak ada orang di dunia akan melalui tragedi demikian ini," ungkap Ceric.

Pendiri komunitas Sant'Egidio yang pada saat ini menjabat sebagai Menteri Kerjasama Internasional dan Integrasi Italia, Andrea Riccardi, mengajak masyarakat untuk memiliki rasa belas kasih bagi korban dari pihak lain.

"Kita harus berlaku adil, [karena] kenangan akan perang memang berbeda, tetapi rasa sakit dan penderitaan yang dialami semua orang adalah sama," katanya.

"Rasa sakit yang terpatri dalam hati setiap orang dan rasa sakit dari setiap ibu adalah sama, tanpa memandang etnis atau agama seseorang," kata Riccardi.

Selama pertemuan di Sarajevo, sekitar 200 pemimpin agama dan pejabat pemerintahan menghadiri sekitar 30 konferensi yang membahas terutama masalah kemiskinan, imigrasi, agama di Asia dan dunia Arab, dan dialog antara Kristen dan Muslim.

Press TV melaporkan bahwa konferensi ini menyampaikan sebuah pesan yang jelas, bahwa dialog terbuka antaragama dan antarbudaya dapat membawa masyarakat pada masa depan yang lebih baik. (MP)

Bashaer Othman: Remaja Palestina yang jadi walikota termuda di dunia

Written By Menara Penjaga on Rabu, 12 September 2012 | 23:05

Walikota termuda, Bashaer Ohthman, di ruang kerjanya
(foto: AFP)
INDONESIA, Jakarta (KOMPAS.com).
 
Di usianya yang masih 16 tahun, Bashaer Othman sudah menjadi seorang walikota di Allar, kota kecil di Tepi Barat utara, Palestina. Ia pun menjadi berita di media internasional. Remaja yang merupakan anak bungsu dari lima bersaudara itu tercatat sebagai walikota termuda di dunia.

Sejak Senin (10/9) lalu hingga Sabtu mendatang ia berada di Jakarta atas undangan World Peace Movement, sebuah yayasan yang diketuai Sofia Koswara untuk mempromosikan gerakan-gerakan perdamaian. Saat dijumpai di kantor Kedutaan Besar Palestina di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu, Bashaer yang merupakan siswa tingkat pertama sebuah sekolah menengah khusus perempuan di Allar terlihat tampil lebih matang dari usianya. Ia tampak percaya diri dan sangat nyaman ketika melakukan wawancara dengan sejumlah wartawan terkait peran dan tantangan yang dihadapinya sebagai walikota Allar yang berpenduduk 8.000 orang. Ia menjawab pertanyaan dengan lancar.

Soal bagaimana mengatasi banyak warga Allar yang mencari kerja di Israel padahal bayaran di sana rendah, Bashaer mengatakan, pihaknya tidak bisa melarang warganya cari kerja di Israel. "Yang dapat kami lakukan adalah menciptakan langan kerja karena larang orang pergi kerja ke Israel itu tidak mungkin," katanya. Soal anggota dewan kotanya yang terdiri dari para politisi Fatah dan Hamas, ia mengatakan di Allar mereka akur-akur saja. "Tak ada masalah, mereka mendukung saya," katanya.

Bashaer memang hanya menjadi walikota untuk jangka waktu dua bulan, terhitung sejak 2 Juli lalu. Ia mengambil alih jabatan itu dari walikota yang sesungguhnya, Sufiyan Shadid. Keberadannya di posisi itu merupakan bagian sebuah proyek parlemen pemuda nasional, yaitu Forum Pemuda Sharek. Proyek tersebut bertujuan untuk melibatkan anak-anak muda pada kerja sehari-hari pemerintah daerah Palestina. Bashaer terpilih melalui sebuah proses seleksi.

Proyek tersebut telah berjalan di seluruh wilayah Palestina. Namun Bashaer merupakan orang pertama yang mengambil peran berprofil tinggi semacam itu. Shadid mendukung penuh langkah tersebut dan menjadi mentor Bashaer selama menduduki jabatan itu.

Remaja itu mengatakan, dia 'buta' tentang pekerjaan walikota pada awalnya. Namun dengan bantuan dan kerjasama para anggota dewan kota yang beranggota 11 orang (enam dari partai Fatah yang berkuasa dan lima dari gerakan Islam Hamas yang menguasai Jalur Gaza) dan walikota, dia cepat belajar. Setiap pagi ia masuk kantor pukul 08.00, menghadapi banyak file, menandatangani surat-surat, dan bertemu dengan anggota dewan.

Ia menegaskan, jabatannya bukan formalitas. Ia punya kewenangan penuh sebagai walikota walau ada pembatasan teknis bank terkait pengguaan anggaran. Ia hanya diizinkan untuk menandatangani pengeluaran hingga mencapai jumlah 300 shekel (75 dollar AS). Di atas jumlah itu, berdasaran aturan bank, yang harus membubuhkan tanda tangan adalah Shadid.

Bashaer mengaku jadi jatuh cinta dengan pekerjaan itu dan dia bercita-cita bekerja di bidang politik nantinya.
 
Baca seterusnya di sini.

Hari Doa Bagi Perdamaian: 21 September 2012

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 25 Agustus 2012 | 02:48

International Day of Prayer for Peace 2012
Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (World Council of Churches [WCC]) telah menyerukan kepada gereja-gereja dan jemaat-jemaat di seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam Hari Internasional Doa bagi Perdamaian (International Day of Prayer for Peace) yang akan jatuh pada 21 September nanti.
 
Hari ini adalah bertepatan dengan Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace) yang diprakarsai oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.
 
Jemaat dan gereja-gereja diundang terutama untuk berdoa dan melakuan aksi bersama-sama bagi perdamaian yang berkeadilan dalam masyarakat, bangsa dan dunia.
 
Doa-doa dari berbagai belahan dunia akan disebarkan melalui media online, termasuk Facebook dan Twitter. Bagi mereka yang memilih untuk tidak menggunakan media sosial ini akan dijangkau melalui email. Pada gilirannya doa-doa ini juga dapat dibacakan dalam pertemuan-pertemuan jemaat atau di gereja, supaya dapat menjangkau anggota-anggota jemaat yang tidak menggunakan elektronik. 
 
Doa untuk perdamaian yang berkeadilan mengangkat segi sosial, ekonomi, lingkungan hidup termasuk dalam segi militer dan politik.
 
Tahun ini On Earth Peace (damai di bumi), sebuah organisasi berkedudukan di Amerika Serikat yang berkaitan dengan Church of the Bretheren mengangkat tema Berdoa untuk Genjatan Senjata.
 
"Bagi sebagian orang, berdoa untuk gencatan senjata berarti berdoa untuk berakhirnya konflik bersenjata. Bagi yang lain, gencatan senjata berarti mengakhiri konflik di masyarakat, tempat kerja, gereja atau keluarga," ungkap Matt Guynn dari On Earth Peace.
 
Untuk memperingati hari doa ini, On Earth Peace mengundang berbagai jemaat dan berbagai kelompok lainnya untuk merencanakan sebuah kegiatan yang di dalamnya terdapat doa, acara berbagi budaya, musik dan seni, sebagai bentuk tantangan terhadap kekerasan dalam masyarakat dan untuk mendorong berbagai tindakan untuk perdamaian.
 
Tahun lalu doa bagi perdamaian mengelilingi dunia yang dimulai dari Kuba ke Fiji, Indonesia, Rwanda, Jerman dan Kanada.
 
Sebuah jemaat di Wales, sebagai salah satu contoh, berdoa untuk rekonsiliasi dan penolakan terhadap robot militer (tanpa awak).
 
Dengan kata lain, kegiatan sesederhana apapun dapat dilaksanakan untuk mendoakan perdamaian di bumi.
 
Kegiatan doa bagi perdamaian dimulai tahun 2004 sebagai bagian dari kegiatan bersama gereja-gereja yang disebut Dekade Untuk Mengatasi Kekerasan (2001-2010) yang mengikuti sebuah perjanjian yang dilakukan antara pimpinan WCC dan PBB.
 
Masih di awal dekade kedua (2011-2020) perang dan kekerasan telah terjadi di mana-mana, menunjukkan perlunya partisipasi dan keberlangsungan kegiatan ini di seluruh dunia. Mari dukung bersama(ekklesia/MP)
 
Informasi selebihnya mengenai International Day of Prayer for Peace: www.overcomingviolence.org/IDPP

Peace prayer wall di Facebook: https://www.facebook.com/events/104942829652406/

Di Twitter, kampanye perdamaian ini menggunakan tag #peaceday

Informasi selebihnya mengenai International Ecumenical Peace Convocation: www.overcomingviolence.org
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger