"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gereja Reformasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Reformasi. Tampilkan semua postingan

Biak: 30 ribuan umat rayakan HUT ke-57 Gereja Kristen Injili di Tanah Papua

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 26 Oktober 2013 | 09:40

INDONESIA, Biak (ANTARA News) - Sedikitnya 30 ribuan umat Kristiani dari 57 jemaat gereja di Klasis Biak Selatan, Kabupaten Biak, mengelar ibadah bersama memperingati Hari Ulang Tahun Gereja Kristen Injili di Tanah Papua (GKITP) ke-57, Sabtu pagi (26/10).



Dari Biak dilaporkan, hingga pukul 07.00 WIT situasi di kota Biak sekitarnya kondusif meski kota sepi karena ribuan umat GKITP sejak Jumat malam hingga Sabtu pagi sudah melakukan persiapan perayaan HUT gereja.


Berbagai kegiatan keagamaan digelar jemaat Kristiani Biak di antaranya gerak jalan bermazmur, karnaval jalan, ibadah bersama hingga prosesi pengucapan syukur dilaksanakan jemaat setempat.

Sekretaris Klasis GKITP Biak Selatan, Pendeta Brury Wufwensa, Sabtu, mengatakan, peringatan HUT 26 Oktober 2013 dirayakan penuh sukacita warga Kristiani di Klasis Biak Selatan.

"Puncak peringatan HUT GKI di Tanah Papua dilakukan ibadah oikumene antara jemaat GKI yang di kota dengan jemaat gereja di kampung/desa," ungkap Pendeta Brury.

Ia mengakui, setiap jemaat GKI di Klasis Biak Selatan diminta melakukan ibadah syukur sebagai ungkapan anugerah kasih Tuhan Kristus yang telah mewartakan Injil melalui wadah GKI Sinode di Tanah Papua.

Pendeta Brury mengatakan, peristiwa hari ulang tahun yang diperingati 26 Oktober ini diharapkan menjadi momentum sejarah religius jemaat gereja.

"Peringatan HUT GKI yang senantiasa dirayakan jemaat gereja Kristiani se Tanah Papua merupakan peristiwa keimanan yang selalu dikenang warga," ungkap Pendeta Brury.

Sementara itu, Sem Swabra, salah seorang anggota jemaat GKI Effata Wafnor, mengakui, ia bersama keluarganya akan melakukan ibadah peringatan HUT GKI 26 Oktober 2013 ke jemaat gereja Padwa Sub Distrik Yendidori.

Hingga Sabtu pagi pukul 06.30 WIT berbagai jalan protokol kota Biak terlihat sepi dibanding biasanya karena perkantoran pemerintah, swasta dan sekolah diliburkan.

Sedangkan situasi kota Biak sekitarnya tampak normal di mana berbagai kegiatan warga berjalan lancar seperti biasanya meski terlihat sepi. []


Penulis: Muhsidin
Judul: Ribuan umat Kristiani ibadah peringati HUT GKI
Sabtu, 26 Oktober 2013
Tulisan ini telah mendapat penyesuaian.

Festival Seni Pemuda Gereja GMIM 2013

Written By Menara Penjaga on Kamis, 19 September 2013 | 09:54

INDONESIA, Manado (MP) – Komisi pelayanan pemuda (Kompelka) Pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) kembali akan menggelar kegiatan Festival Seni Pemuda Gereja (FSPG) se sinode pada 27-29 September 2013 di Wilayah Langowan Dua.

Menurut hasil temu teknis yang dilaksanakan 7 September yang dimuat di situs Pemuda Sola Fide Tinoor pendaftaran untuk mengikuti kegiatan ini dibuka sampai 22 September 2013. 

Jenis kegiatan dan tempat pelaksanaan adalah sebagai berikut:


BIG CHOIR (paduan suara besar):

1. Sion Tempang (penyisihan)

2. Sion Taraitak (final)


SMALL CHOIR (paduan suara kecil)

1. Musafir Tempang (penyisihan)

2. Nafiri Tempang (final)


VOCAL GROUP

Seri A1: Sion Taraitak

Seri A: Daniel Karumenga

Seri B: Zaitun Taraitak


BINTANG VOCALIA: Imanuel Toraget 

TEATER ROHANI: Nafiri Tempang 

BAND ROHANI: Daniel Karumenga 

CCA: Zaitun Taraitak 

Menurut catatan, masing-masing jemaat/peserta disiapkan akomodasi oleh panitia. [+]

Homoseksualisme dan masalah seputar pernikahan, bisnis, dan Olimpiade 2014

Written By Menara Penjaga on Rabu, 18 September 2013 | 03:35

Logo Gereja Skotlandia.
SKOTLANDIA: Berhenti memberkati pernikahan?

Gereja Skotlandia sedang mempertimbangkan kemungkinan berhenti memberkati pernikahan untuk menghindari tuntutan hukum.

Hal ini mengemuka setelah Parlemen Skotlandia meluluskan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang turut memuat peraturan tentang legalitas 'pernikahan' sejenis.

“Bayangan tentang tahun-tahun melalui tuntutan hukum yang melelahkan, yang juga sangat mahal, adalah sungguh-sungguh memprihatinkan,” ungkap Pdt. Alan Hamilton dari komite masalah hukum Gereja Skotlandia.

Ia juga mengungkapkan bahwa RUU ini, jika disetujui, akan secara fundamental mengubah institusi tersebut dalam budaya Skots.

Ungkapan serupa datang dari Gereja Katolik Skotlandia.

“RUU ini merupakan tantangan yang paling serius terhadap kebebasan beragama di Skotlandia sepanjang yang dapat diingat.

“Gereja-gereja dan badan-badan keagamaan akan rentan terhadap tantangan dan serangan hukum. Memaksa masyarakat menerima pernikahan sesama jenis di tengah penolakan mayoritas adalah tidak perlu, tak diinginkan, dan tidak demokratis,” ungkap jurubicaranya kepada The Scotsman.

Humanist Society Scotland (Masyarakat Humanis Skotlandia) adalah salah satu pendukung RUU ini.

Organisasi ini menyatakan siap mengakomodasi sikap “diskriminatif,” demikian tanggapannya menanggapi kemungkinan adanya “pasal hati nurani” yang memungkinkan seseorang yang berkeberatan menolak memberkati 'pernikahan' sejenis. (WND)






Toko kue yang terpaksa ditutup.
AMERIKA SERIKAT: Toko kue terpaksa ditutup

Di Amerika Serikat, sebuah toko usaha kue terpaksa ditutup karena pemiliknya menolak membuat kue 'pernikahan' dua perempuan pelaku hubungan sejenis.

Aaron dan Melissa Klein dianggap tidak mematuhi peraturan “non-diskriminasi” yang ditetapkan pemerintah negara bagian Oregon, yang di antaranya mengatakan tidak boleh ada pembedaan pelayanan berdasarkan “orientasi seksual.” Kategori ini memang baru, tapi sudah menyebar luas, arti bebasnya adalah "citarasa seksual seseorang."

Menurut status Facebook pemiliknya, Sweet Cakes by Melissa terpaksa ditutup setelah beberapa bulan diteror oleh para aktivis dan simpatisan yang tidak menerima keyakinan keluarga ini bahwa mereka percaya pernikahan itu adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan karena itu menolak membantu “merayakan sebuah komitmen dosa seumur hidup.” 

Jika pelaku hubungan sejenis itu meminta dibuatkan kue ulang tahun, mereka [pemilik] tidak akan keberatan, demikian diungkapkan oleh Matt Barber dari Liberty Councel Action dalam tulisannya. Ia membandingkan kasus ini dengan meminta usaha katering Muslim untuk membuatkan babi panggang.

Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya,” demikian status di halaman facebook usaha kue itu.





Maskot Olimpiade Musim Dingin ke-22 di
Rusia.
RUSIA: Melindungi anak-anak

Sementara itu, mendekati pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2014, tuan rumah Rusia tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menyambut para tamu dan delegasi internasional, tetapi juga kemungkinan aksi melanggar ketertiban umum dari para aktivis homoseksualisme.

Rusia telah menjadi target aktivis homoseksualisme setelah menetapkan hukum yang melarang promosi homoseksualitas, dan tingkah laku seksual menyimpang lainnya, terhadap anak-anak. Menurut LSN: Reuters, AP, New York Times, BBC telah mengeluhkan bahwa peraturan ini adalah sebuah bentuk diskriminasi terhadap pelaku hubungan sejenis.

Para pelaku hubungan sejenis memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya di Rusia, karena itu LSN menilai niat pemerintah adalah benar-benar melindungi anak-anak dan bukan mengkriminalkan para pelakunya. Alasannya, tulis LSN, resiko tinggi HIV/AIDS dan kesehatan lainnya. 


Namun, sebuah berita yang tidak dicover di media-media arus utama, dua tim Olimpiade dari dua negara, bekerja sama dengan jaringan aktivis global dan internasional diplomat yang tidak disebutkan namanya berencana akan mengolok-ngolok peraturan itu di tengah pelaksanaan Olimpiade 2014.

Terkait dengan isu ini, Yelena Isinbayeva, atlet lompat galah asal Rusia pemenang medali emas Kejuaraan Dunia IAAF 2013, mengungkapkan bahwa para tamu seharusnya menghormati peraturan yang melarang propaganda praktek homoseks kepada anak-anak, demikian dilaporkan Interfax.

Menanggapi kritik media yang diarahkan kepada Isinbayeva, ketua Departemen Informasi Patriakat Moskow, Vladimir Legoyda, di antaranya mengungkapkan, “Gereja melihat homoseksualitas sebagai dosa, yang bukan berarti kebencian terhadap pelaku yang melakukan dosa ini tetapi menolak propaganda atau dukungan terhadap hubungan seksual demikian. Siapa pun, apakah seorang atlet, politikus, atau seorang ibu rumah tangga, orang percaya atau bukan, mempunyai hak untuk menerima atau menolak posisi ini.”

“Umat [Gereja] Ortodoks, anggota agama-agama tradisional di Rusia dan banyak orang non-religius menentang propaganda hubungan sejenis. Mereka didukung oleh banyak orang Kristen, Yahudi, Muslim di Barat, dan ada media dunia yang secara keras kepala mencoba untuk menciptakan gambaran yang membelokkan kenyataan ini,” lanjutnya.

Barangkali, mereka yang menentang ini yang tidak takut disebut diskriminatif untuk alasan yang tepat. [+]

Gerakan Doa Anak Sulawesi Utara: Mempersiapkan generasi yang kuat, kokoh, dan sukses

Written By Menara Penjaga on Selasa, 30 Juli 2013 | 10:27

Sebagian peserta dan pembina yang mengambil bagian dalam GDASU
2013 (foto: humasmanado.blogspot.com).
INDONESIA, Manado  Anak-anak dari berbagai latar belakang gereja berpartisipasi dalam iven Gerakan Doa Anak Sulawesi Utara (GDASU) yang dilaksanakan di Stadion Klabat, Manado, Minggu 28 Juli 2013.

Hujan gerimis yang melanda Manado tidak menghalangi mereka berdoa dan bersyafaat, banyak di antaranya menyampaikan pokok-pokok doa baik bagi keluarga, bangsa maupun negara. 

"Gerakan doa ini menjadi satu tanda bahwa tangan Tuhan tengah bekerja bersama anak-anak," ungkap Prof. Dr. Julyeta. P. A. Lumentut-Runtuwene yang merupakan Ketua Komisi Pelayanan Anak (KPA) Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). 

Enci Paula, sapaan akrab ketua KPA ini, mengungkapkan bahwa kehadiran anak-anak tersebut adalah hal yang luar biasa. Banyak di antara mereka yang mendapat jamahan Tuhan. 

"Secara khusus telah mendapat jamahan Tuhan, sehingga memasuki masa remaja dan pemuda menjadi generasi yang kuat dan kokoh, dan generasi yang sukses kedepannya. Sehingga kita boleh heran dan terkagum-kagum atas berkat Tuhan," ungkap istri tercinta dari Walikota Manado ini.
Walikota Manado Vicky Lumentut yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mengaku bangga dan bersyukur karena banyak anak yang berdoa untuk Sulut dan Manado. 
"Terima kasih, saya merasa bangga, karena banyak anak di Manado hadir di sini. Ini penting sekali untuk [mereka] menjadi bibit unggul yang baik untuk banyak dipakai Tuhan," ujar Walikota.
GDASU adalah juga merupakan persiapan untuk kegiatan yang berskala lebih besar di Manado. "Dua rencana yang sama ke depan yang akan digelar di Manado, yaitu Festival Doa Anak Nasional dan Doa Anak Internasional. Mohon itu didoakan juga," ajak Walikota. (suaramanado.com/MP)

Memberkati Sulawesi Utara Pastor Benny Hinn diundang ke Manado

Written By Menara Penjaga on Rabu, 03 Juli 2013 | 03:46


INDONESIA, Manado (MP) -- Pastor Benny Hinn, seorang tokoh Kristen terkenal dari Amerika Serikat tiba di Manado, Senin (1 Juli) sekitar pukul 15.50 waktu setempat dengan pesawat khusus. Ia di dampingi oleh tim pelayanan dari negeri asalnya.

Pacific TV, sebuah media lokal, mensponsori kedatangan pendeta yang telah menulis banyak buku ini untuk “memberkati Sulawesi Utara dan menyegarkan [i]man [r]ohani [u]mat Kristen di Sulawesi Utara,” demikian dilaporkan Manadonews.com.

Kedatangan Pastor Hinn dilihat sebagai berkat tersendiri bagi masyarakat Manado. Joel Kereh, ketua panitia persiapan kunjungan Pastor Hinn, mengungkapkan bahwa kesempatan ini adalah “suatu mujizat bagi warga Sulut (Sulawesi Utara)” (Manadonews.com)

Serangkaian kegiatan yang dijadwalkan dalam dua hari kunjungan di kota yang diusung sebagai model ekowisata ini adalah: Gala Dinner (1 Juli, jam 7 mlm), Miracle Service Event (2 Juli, jam 9 pagi) dan Kebaktikan Kebangunan Rohani (KKR) pada malam harinya.

Tribunnews.com melaporkan bahwa Gubernur Sulut, Dr. S. Sarundajang, bersama istri, dan ketua DPRD Sulut, Pdt. Meiva Salindeho-Lintang, Gubernur Papua serta rombongan, staf khusus kepresidenan, Letjen T.B. Silalahi, serta ratusan undangan lainnya turut menghadiri Gala Dinner yang diselenggarakan di sebuah hotel di Manado itu.

"Banyak yang bertanya kenapa musti di Manado, masih banyak kota negera daerah yang menanti lawatan Allah melaluinya, jawabannya mata Allah ada di Kota ini pasti pikirannya ada di Kota ini dan pasti hatinya ada di Kota ini Allah mencintai kota Manado dan Indonesia timur," tutur Jusak Kereh, pimpinan Pacific Media Group.

Dalam sambutannya, Gubernur Sarundajang menyebut bahwa “Tuhan yang mengirimkan Ps. Benny Hinn, untuk itulah Tuhan memberkati Sulut dan Manado.”

Senada dengan itu Pdt. Elisabeth Wowor, ketua jemaat GMIM Schwarz Sentrum Langowan, kepada Beritamanado.com (2 Juli) mengungkapkan bahwa Kegiatan KKR di Sulut ini harus dimaknai dengan iman.

Jika kegiatan tersebut dimaknai dengan iman, tentu saja akan membawa berkat. Dengan demikian, itu juga berarti bahwa Sulawesi Utara termasuk Kabupaten Minahasa pasti diberkati.” Hal ini diungkapkannya sehubungan dengan kunjungan Pdt. Stephen Tong dan Ps. Benny Hinn ke Manado.

Menjadi penerjemah Ps. Hinn adalah Pdt. Agus Gunawan dari Surabaya. Mengawali sambutannya ia memotivasi hadirin untuk membaca keseluruhan Alkitab berulang-ulang. “Alkitab itu berbicara tentang Yesus,” ungkap Ps. Hinn seperti dilansir Tribunnews.

Kedatangan Ps. Hinn ke Manado turut diwarnai sejumlah rumor tak sedap yang disebarkan di media sosial. Sebuah komentar menanggapi "...mari kita lakukan apa yang baik dan berguna untuk kita ambil dan kita tolak yg jelek yg dia buat sehingga akan ada kekayaan kerohanian dan pelayanan yg kita miliki."

Menurut Jusak Kereh, sejumlah 1.718 orang terlibat dalam kegiatan tersebut, dengan perincian 600 konselor, 600 usher, 300 tim doa dari 22 denominasi gereja yang ada di Sulut, serta 100 orang panitia dari Singapura, Batam, Jakarta, dan kota besar lainnya di Indonesia.

Mengantisipasi minat masyarakat Manado yang terkenal religius, telah dari awal ia menyampaikan permohonan maaf jika pada hari pelaksanaan kegiatan aktivitas warga pengguna jalan terganggu. (+)

KPI Pdt. DR. Stephen Tong siap digelar di 6 kota di Sulawesi Utara

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Juni 2013 | 11:03

Pdt. Dr. Stephen Tong (foto: KPIN).

INDONESIA, Tondano (manadotoday.com) – Kebaktian Penyegaran Iman (KPI) dengan pembicara Pdt. DR. Stephen Tong siap digelar di 6 Kota di Propinsi Sulut. Menurut Ketua Umum Panitia Drs. Jantje W Sajow, MSi. bahwa KPI yang digelar secara oikumene dengan rekomendasi dari Badan Pekerja Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa ini akan bekerja sama juga dengan gereja-gereja lain yang ada di Sulawesi Utara.

“Panitia sudah siap gelar kegiatan ini,” terang Pnt. Sajouw yang adalah juga Bupati Minahasa ini.

Ditambahkannya kegiatan ini akan dilaksanakan pada Kamis 27/6 di Lapangan Maesa Bitung, Jumat dan Sabtu 28-29/6 di Stadion Klabat Manado, Minggu 30/6 di Lapangan Scwarz Langowan, Senin 1/7 di Stadion Maesa Tondano, Selasa 2/7 di Stadion Parasamya Tomohon dan Rabu 3/7 di Lapangan Poleko Airmadidi.

Disamping KPI juga akan digelar Seminar untuk para Hamba Tuhan dan Pelayan Khusus pada Sabtu 29/6 pukul 09.00 WITA di Gereja GMIM Bethesda Manado, Seminar untuk para Aparat dan Pegawai Negeri pada Senin 1/7 jam 09.00 wita di Geddung Wale Ne Tou Tondano dan Seminar untuk Aktivis Gereja dan Mahasiswa pada Selasa 2/7 jam 09.00 wita di Aula Bukit Inspirasi Tomohon.

Sementara Ketua I Panitia Vicky Tanor, SPi., MSi. dan Sekretaris Umum Panitia Pnt. Agustivo Tumundo SE., MSi. mengungkapkan bahwa pihaknya tengah memantapkan persiapan kegiatan ini dengan terus melakukan pertemuan teknis bersama Panitia Lokal di lokasi kegiatan masing-masing. Di samping itu pihaknya terus mempublikasikan kegiatan ini ke seluruh lapisan masyarakat dan jemaat.

“Tentu topangan doa dari semua pihak yang paling kami harapkan dan menyerahkan semua proses kegiatan ini hanyalah untuk hormat dan kemuliaan Tuhan Yesus Kristus,” kata Tumundo yang juga Kabag Kesra Pemkab Minahasa ini. (Rommy Rompas/MP)

------

DARI KEGIATAN KPI NASIONAL DI MINUT – STEPHEN TONG: STOP EKSPOR PELACUR, EKSPORLAH HAMBA TUHAN

Airmadidi, KOMENTAR (5 Juli 2013) – Pdt. Dr Stephen Tong dalam salah satu pesan khotbahnya mengharapkan agar anak-anak muda di Airmadidi (atau Manado) tidak  dikirim ke daerah lain untuk menjadi pelacur, melainkan dikirim menjadi hamba Tuhan. Demikian diungkapkannya saat menjadi pembicara dalam Kebaktian Pembaharuan Iman (KPI) Nasional di Lapangan Poleko Airmadidi, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) tadi malam.
“Saya minta agar anak muda di daerah ini jangan dikirim menjadi pelacur di daerah lain, saatnya mengirim anak muda menjadi hamba Tuhan. Stop ekspor pelacur, eksporlah hamba Tuhan untuk mewartakan Injil Tuhan,” ujarnya.
Pdt. Tong mendengar informasi kalau banyak anak muda di daerah ini kerap dikirim ke luar Sulut untuk menjadi PSK. Karena itulah ia menyerukan imbauan ini dalam KPI tersebut.
Ia juga menantang anak-anak muda di Minut yang ingin menjadi hamba Tuhanfull time untuk maju ke panggung untuk didoakan dan diutusnya. Tak pelak, ratusan anak muda yang menghadiri KPI ini langsung merespons ajakannya.
“Saya dipanggil mewartakan Injil Tuhan saat saya berusia 17 tahun dan sampai saat ini di umur 73 tahun saya masih menjadi hamba Tuhan yang terus mewartakan Firman Tuhan. Saya sudah banyak berkhotbah di 600 daerah dan di hadapan jutaan manusia. Tapi saat ini masih banyak umat manusia yang belum mengenal Tuhan dan Injil. Karena itu saya mengajak kalian (anak muda, red) untuk bekerja full time mewartakan Firman Tuhan. Hindari perbuatan dosa dan rajinlah baca Injil. Jika saya tidak bisa melihat kalian menjadi hamba Tuhan saat saya hidup di dunia, saya yakin dari surga saya akan melihat kalian menjadi hamba Tuhan,” paparnya.
Dalam khotbahnya ia mengupas tuntas tentang tema dosa dan anugerah pengampunan dari Tuhan. Ia menegaskan bahwa upah dosa adalah maut, tapi Allah yang setia dan adil akan menganugerahkan pengampunan kepada umatnya yang bertobat. Karena itu, ia mengajak seluruh peserta KPI untuk kembali kepada Tuhan dan tidak lagi menghambakan diri pada perbuatan dosa.
“Jangan lagi berzinah, berjudi, mabuk-mabukan, mengonsumsi narkoba, dan kembalilah pada Yesus. Hanya di dalam Yesus Kristus anugerah pengampunan dan keselamatan kita peroleh. Karena Allah mau turun ke dunia menjadi manusia dalam diri Yesus, disalibkan dan bahkan wafat di kayu salib lalu bangkit di hari ketiga dan akan kembali untuk kedua kalinya. Inilah rangkaian keselamatan manusia yang hanya diperoleh dalam Yesus,” tegasnya.
KPI ini dihadiri sekitar 6000-an orang. Sebelum khotbah Ev Michael Liu memberikan kesaksiannya. Ia mengaku awalnya dia mengenal Tuhan tapi kemudian menjadi pemberontak Tuhan. Tapi kemudian setelah mengenal Stephen Tong lewat internet ia akhirnya bertobat, kemudian menjadi hamba Tuhan mengikuti Stephen Tong. Atas kesaksian ini Stephen Tong pun mengajak kaum muda di daerah ini untuk mengikuti jejak Michael Liu.
Sementara itu, Bupati Minut Drs Sompie Singal MBA dalam sambutannya menyambut baik KPI dan mengapresiasi kehadiran Pdt. Stephen Tong. “Saya berharap agar bukan hanya Minut diberkati melalui KPI ini, tetapi ke depan banyak anak muda yang mengikuti jejak Pdt Stephen Tong dan Evangelis Michael Liu menjadi hamba Tuhan,” ajaknya.
“Puji Tuhan, ada sukacita, berkat dan damai sejahtera yang kami rasakan. Kami berharap akan banyak kegiatan KPI bahkan KKR di Kabupaten Minut,” ujar seorang warga Minut yang mengikuti KPI Nasional ini. (imo/MP)

Prof. Weigel: "Paus Fransiskus adalah seorang Kristen radikal asli"

Written By Menara Penjaga on Kamis, 06 Juni 2013 | 20:53

Paus Fransiskus (foto: Christianity Today).
MP -- "Paus Fransiskus...adalah seorang Kristen radikal asli," kata Prof. Paul George Weigel menceritakan pengalamannya bertemu dengan pemimpin umat Katolik ini di Buenos Aires, Argentina, 2012 lalu. Radikal yang dimaksud adalah dalam pengertian bahasa Latin, yang berarti “akar,” jelasnya kepada LSN (14 Mei '13). [Lihat video.]

“Beliau adalah seorang yang menyuarakan keyakinan Kristen dan bertekad untuk menjadi dirinya sendiri. Ia adalah orang yang tidak akan membiarkan dirinya diatur oleh sistem," ungkap Prof. Weigel yang adalah seorang teolog dan penulis biografi. Yang paling dikenal adalah Witness to Hope (Saksi atas Pengharapan), biografi yang ditulisnya untuk Paus Yohanes Paulus II.

"Beliau sangat sadar akan ancaman terhadap hidup, martabat manusia, perkawinan dan keluarga di seluruh dunia Barat,” ungkap Prof. Weigel menerangkan bahwa perbincangannya dengan Paus ke-226 itu mengikuti upaya sang paus dalam menghadapi pemerintah Argentina menyangkut isu perkawinan.

Ditanya mengenai penilaiannya akan Paus Fransiskus serta arah Gereja Katolik ke depan, Prof. Weigel menjelaskan,

"Saya pikir beliau [Paus] akan mengajak umat Gereja [Katolik] untuk masuk ke dalam pemuridan radikal. Beliau akan melanjutkan tema yang diangkat Benediktus XVI dan Yohanes Paulus II bahwa persahabatan dengan Yesus Kristus adalah pusat dari kehidupan Kristen, dan jika saya dapat meminjam istilah dari buku saya, Evangelical Catholicism (Katolik Injili), ia akan mengajak semua umat Gereja untuk masuk ke dalam panggilan hidup mewartakan kabar baik, untuk melaksanakan tanggung jawab penerimaan baptisan, mendengarkan Amanat Agung, dan pergi untuk mewartakan pertobatan kepada dunia. Itulah apa yang akan ia lakukan. Ini luar biasa!"


Fransiskus kami juga

Komitmen Paus Fransiskus terhadap panggilan Kristen ini nampaknya telah melebarkan ruang rekonsiliasi dengan gereja-gereja Reformasi. Dr. Timothy George, dekan Sekolah Teologi Beeson di Universitas Samford, Alabama, Amerika Serikat, menulis sebuah artikel di majalah Christianity Today (6 April '13) dengan judul “Our Francis, too” (Fransiskus kami juga).

Dalam artikel ini Dr. George mengungkapkan bahwa salah satu tantangan besar Paus Fransiskus adalah memberi semangat bagi para pemimpin Katolik untuk Evangelisasi Baru, untuk mempelajari Alkitab, memperbaharui disiplin iman, dan berani mewartakan kasih Kristus. Sama penting dengan adanya dialog antaragama, evangelisasi membutuhkan sesuatu yang lebih lagi: kesaksian yang jelas bahwa Yesus Kristus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, satu-satunya Juruselamat.

Dalam tulisannya Dr. George menyentil tentang skandal pelecehan seksual, yang tak hanya terjadi di kalangan gereja Katolik saja, yang telah menodai kesaksian Kristen di abad 21.

“Baik di luar maupun di dalam dinding gereja, ada banyak hal yang membuat kita meringis dan berpaling. Tapi reformasi dan pembaharuan hanya bisa datang jika kita berani menghadapi kejahatan dalam diri kita dan di sekitar kita, dan mencari pertobatan yang hadir hanya sebagai pemberian,” tulis Dr. George.

Ia menutup tulisannya dengan ungkapan ini:
"Saya yakin bahwa Paus Fransiskus, seorang [dari Ordo] Yesuit, akan setuju dengan artikel pertama dari 95 Dalil Martin Luther: "Ketika Tuhan kita Yesus Kristus berkata, 'Bertobatlah', Ia menghendaki supaya seluruh kehidupan orang percaya diwarnai dengan pertobatan." (LSN/CT)


Duka di Tondano, Minahasa: Selamat jalan "sembilan anak remaja teladan"

Written By Ray Maleke on Selasa, 28 Mei 2013 | 22:08

Ibadah pelepasan delapan jenazah remaja Tondano di GMIM Sentrum Liningaan (foto: Manado Post).
INDONESIA, Tondano (MP) – Ribuan orang menghadiri acara pemakaman dan pelepasan delapan dari sembilan remaja Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), Senin (27/5) waktu setempat. 

Kedelapan remaja gereja ini mendapat penghormatan dari jemaat dengan ibadah di gereja, kebiasaan yang hanya dilakukan untuk mereka yang sementara atau pernah memikul tugas pelayanan gereja, baik sebagai penatua, syamas (diaken) atau pendeta.

Acara pemakaman delapan dari sembilan jenazah diawali dengan ibadah di rumah duka masing-masing keluarga, kemudian dilanjutkan di Gereja Sentrum Liningaan di mana delapan remaja yang menjadi korban arus pasang di pantai Kawis (Sabtu, 25/5) didoakan kemudian dihentar ke pemakaman umum Ranowangko, kurang lebih satu kilometer dari lokasi gereja.

Sesuai tradisi di Tondano para pekabung berarakan menyertai keranda jenazah sampai di tempat pemakaman, sekalipun hari itu hujan turun. 

Hari Selasa (28/5) waktu setempat korban kesembilan turut juga dimakamkan. 


Duka Minahasa

Peristiwa yang menimpa rombongan tamasya jemaat GMIM Sentrum Liningaan menjadi duka komunitas Kawanua baik di Minahasa maupun di diaspora.

Hari Minggu lalu (28/5), Yessha Pelealu, salah seorang teman dari para korban, di halaman Facebook (Fb)-nya menulis, "Selamat jalan ade2 sayanggg Tuhan kalo qw qta blh blg, qyp musti anak2 yg cinta Tuhan yg Tuhan ambe.."  (Selamat jalan adik-adik sayang | Tuhan kalau aku boleh katakan, mengapa mesti anak-anak yang cinta Tuhan yang Tuhan ambil..)

Berbagai ungkapan belasungkawa mewarnai komunitas-komunitas online orang-orang Minahasa, tak sedikit yang berupaya mencari solusi untuk mencegah peristiwa tragis yang sama terulang kembali.


Sambutan duka Bupati Minahasa

Bupati Minahasa yang juga adalah Ketua Komisi Remaja Sinode GMIM, Drs. Janjte Wowiling Sajouw, M.Si, dalam sambutannya mengungkapkan rasa duka yang dalam atas peristiwa ini.

Bupati Sajouw yang sebelumnya bersama rombongan mengunjungi ruman-rumah duka juga mengungkapkan bahwa objek wisata di Minahasa yang rawan bagi pengunjung akan ditutup, sementara yang layak dikunjungi akan dikelolah secara profesional dan dilengkapi dengan penjaga pantai, demikian laporan Manado Post (28/5).


Harta dalam bejana

Kisah tragis yang menimpa tiga belas remaja GMIM Sentrum, dan mengambil nyawa sembilan di antaranya, tak hanya akan dikenang sebagai kisah tragis semata-mata.


Novi Mentu, ayah dari salah seorang korban, Pingkan Mentu (17), memberi kesaksian pada acara pelepasan di Gereja Sentrum. Ia yang ada di lokasi saat itu berusaha menyelamatkan mereka yang terjebak arus kuat yang datang tiba-tiba, namun ia sendiri kehilangan anaknya.

Penatua Remaja jemaat Sentrum, Higia Sambul, termasuk sederet orang yang sangat terpukul dengan peristiwa yang sulit diterima dan sulit dipahami ini. Dalam isak tangisnya ia mengatakan bahwa anak-anak ini (para korban, red) adalah anak baik-baik. 

Selain Risky dan Pingkan, korban lainnya adalah Morina Rarung (13), Valdano Surentu (17), Sherina Onggeleng (14), Gabriela Surentu (16), Angie Gabriela Tengker (14), Dandy Wuisang (12) dan Geronimo Mailantang (14).

Pada hari pemakaman para korban Yessha, salah seorang teman, kembali menulis status di Fb:

Se lia biasa2 jo, senyum pa org2. biar dlm hati so ta pela2, kurang mo sontong sdki kong ancoorrrrr..
Oh Tuhan, sungguh so ancor sx ni hati mo lia pa ni 9 anak rmja teladan di sentrum terakhir kali.
Ntw apa Tuhan pe mksd dgn ini,cuma ta prcya dibalik ini smw ada rencana luar biasa indah yg Tuhan sediakan.
:')

(Tunjukkan seperti biasa saja, [berikan] senyum pada orang-orang, sekalipun hati telah retak-retak, tinggal disentuh sedikit akan hancur. Oh Tuhan, sungguh hancur hati ini melihat sembilan anak remaja teladan di Sentrum untuk yang terakhir kali. Entah apa maksud Tuhan dengan ini, namun aku percaya di balik ini semua ada rencana luar biasa indah yang Tuhan sediakan :') )

Jemaat, keluarga dan teman-teman dekat dari para korban hari-hari ini terus menjadi pokok doa pribadi maupun di berbagai ibadah gereja, di Minahasa maupun di diaspora.***

Pernyataan sikap mengenai hubungan gereja dan politik di Kupang, NTT*

Written By Menara Penjaga on Rabu, 22 Mei 2013 | 20:27





FORUM PEDULI GEREJA DAN MASYARAKAT PERNYATAAN SIKAP MENGENAI GEREJA DAN POLITIK MENJELANG PEMILUKADA GUBERNUR 2013-2018

Gereja memiliki peran dan tanggung jawab politik. Politik adalah perihal menata hidup bersama dalam hidup berbangsa dan bernegara demi keadilan, perdamaian dan kesejahteraan bagi seluruh warga bangsa. Peran dan tanggung jawab gereja di bidang politik itu lahir dari keyakinan bahwa Allah yang kita imani dalam Kristus adalah Allah yang berpolitik. Alkitab bersaksi tentang tindakan Allah menata bumi dari kekacauan menjadi teratur dan layak didiami segenap makhluk. Selanjutnya, politik Allah terutama tampak dalam keberpihakanNya kepada mereka yang miskin, tertindas dan menjadi korban ketidakadilan (Kel.5:1-24; Yehz.2-3; Amos 5, dll). Selama pelayananNya di bumi, Yesus Kristus selalu melayani mereka yang miskin dan terpinggirkan (Lukas 9:10-17; 13:31-35, dll). Karena itu, gereja tidak boleh menghindarkan diri dari aktifitas politik masyarakat. Hakikat politik gereja adalah bersama Allah memperjuangkan kesejahteraan bagi semua orang dan segenap ciptaan, terutama keadilan bagi kaum marjinal dan alam yang dieksploitasi (lihat Pokok-Pokok Eklesiologi GMIT B.9 tentang Gereja dan Politik).

Dalam waktu yang tidak lama lagi yaitu tanggal 23 Mei 2013, masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur akan melangsungkan pesta demokrasi pemilihan umum kepala dan wakil kepala daerah untuk putaran yang kedua. Berkaitan dengan peran dan tanggung jawab politik gereja, kami sebagai Forum Peduli Gereja dan Masyarakat menyatakan beberapa hal.

Pertama, gereja berpolitik dalam rangka politik Allah di dunia untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat dan segenap ciptaan bukan untuk kepentingan dan keuntungan gereja sendiri apalagi untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu di dalam atau di luar gereja. Untuk itu kami menghimbau para pimpinan dan warga gereja untuk mengutamakan perjuangan demi nilai keadilan dan kebaikan bersama dan tidak terjebak pada perjuangan demi figur atau kelompok tertentu. Gereja perlu bersikap kritis terhadap politisi dan partai politik agar tidak digunakan sebagai alat dan kendaraan politik.

Kedua, gereja perlu bertobat, menahan dan membatasi diri, dari pemanfaatan proses politik untuk kepentingan gereja. Gereja perlu bertobat dari pemanfaatan dana bantuan sosial untuk pembangunan rumah gereja atau kepentingan lainnya dalam gereja yang tidak sesuai dengan tujuan dana bantuan sosial yang sebenarnya yaitu untuk rakyat miskin. Selain itu gereja (baik pemimpin maupun anggota) tidak boleh membiarkan fasilitas gereja dipakai sebagai sarana kampanye individu politisi atau partai politik manapun. Gereja perlu berada di barisan depan sebagai teladan dalam mengkritisi dan menolak praktik money politic.

Ketiga, kami menghimbau agar anggota jemaat tidak memilih calon pemimpin sekedar karena relasi etnis dan agama melainkan pada penilaian terhadap komitmennya yang memelihara nilai-nilai keadilan dan kebaikan bersama. Pilihlah calon pemimpin yang memiliki integritas pribadi dan latar belakang yang jelas mengenai keberpihakannya pada nilai kemanusiaan dan kebaikan alam. Berhati-hatilah dengan pemimpin yang rekam jejaknya tidak menunjukkan keberpihakan pada nasib orang kecil dan perbaikan atau pengurangan kerusakan lingkungan hidup.

Keempat, kami menghimbau para politisi untuk` tidak memanfaatkan gereja bagi kepentingan pribadi dan kelompok mereka. Gereja ada untuk melayani semua manusia dari latar belakang politik apa pun. Karena itu pemakaian gereja untuk kepentingan sempit dan sektarian menciderai hakikat gereja yang sebenarnya.

Kelima, kami menghimbau pemimpin dan anggota gereja untuk melakukan pengawasan terhadap proses Pemilukada sehingga bisa berjalan jujur dan adil. Jika ditemukan kecurangan jangan takut melapor kepada lembaga-lembaga terkait.

Keenam, kami menghimbau media massa cetak dan elektronik untuk bersikap netral (tidak memihak) dan menyuarakan nilai-nilai etis (keadilan, kebenaran, perdamaian, dan kebaikan bersama) termasuk bagi alam semesta.

Ketujuh, kami menghimbau kepada pemerintah untuk menyalurkan dana-dana bantuan sosial demi kebaikan masyarakat bukan untuk menarik dukungan politik bagi pihak-pihak tertentu.

Kedelapan, kami menghimbau kepada lembaga legislatif/DPRD untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap eksekutif agar tidak terjadi penyelewengan dana-dana untuk masyarakat.

Kesembilan, meningkatnya angka golongan putih (GOLPUT) yaitu rakyat yang memilih untuk tidak memilih adalah tanda apatisme terhadap proses politik yang gagal membawa perubahan demi kebaikan. Untuk itu dalam proses politik, baik menuju momen Pemilihan Kepala Daerah/Anggota Legislatif/Presiden maupun sesudah proses-proses tersebut ketika pemimpin telah terpilih, kami menghimbau para politisi untuk menjernihkan visi dan memelihara komitmen pada nilai keadilan dan kebaikan bersama serta menjauhkan diri dari perbuatan penyalahgunaan kekuasaan.

Demikian pernyataan sikap kami. Tuhan Yesus, Sang Kepala Gereja memberkati kita.

Kupang, 18 Mei 2013

Forum Peduli Gereja dan Masyarakat:
1. Pdt. Emr. Dr. Ayub Ranoh
2. Pdt. Emr. Y. Sabuna, MSi
3. Pdt. Jack Karmani, STh
4. Pdt. Dr. J. E.E. Inabuy
5. Pdt. Emr. Dr. J. A. Telnoni
6. Pdt. Dr. Mery Kolimon
7. Pdt. S. V. Nitti, MTh
8. Pdt. Ina Bara Pa, STh
9. Pdt. Agustina Hauteas-Amtaran, STh
10. Pdt. Ari Kalemudji, MSi
11. Pdt. Wanto Menda, STh
12. Pdt. Thomas Ly, MTh
13. Dr. David Pandie
14. Pdt. B. Doeka-Souk, STh, MM
15. Paul Sinlaeloe, SH
16. Martha Bire, STh
17. Ferderika Tadu Hungu, STh, MA
18. Yuli Ndolu, SH, MHum
19. David Natun, S.Pd
20. Eyda Dju Bire, S.Sos
21. Zarniel Woleka, SH
22. Pdt. Dina Dethan-Penpada, MTh


-----
*Pernyataan sikap ini dibagikan oleh Ibu Pdt. Augustine Kaunang di group Forum Pendeta GMIM (Gereja Masehi Injili di Minahasa) dengan ijin dari Pdt. Dr.Mery Kolimon dari Gereja Masehi Injili Timor (GMIT).

Pernyataan sikap GMIT ini merupakan sebuah terobosan penting dalam memahami bagaimana gereja menyikapi realitas politik, baik di tingkat regional, nasional, maupun global. Seperti yang diungkapkan Pdt. Kaunang dalam pengantarnya pada postingan tersebut, dalam konteks GMIM, supaya "'berani' menyatakan sikap atas kenyataan bergereja dan bermasyarakat" di mana pun kita berada.

Forum Rohaniwan Jabodetabek: Lindungi kebebasan beribadah

Written By Menara Penjaga on Selasa, 09 April 2013 | 06:26

Aspirasi ratusan rohaniwan menuntut hak untuk beribadah
(foto: detikfoto/Ari Saputra).
INDONESIA, Jakarta (MP) -- Saluran berita Suara Pembaruan (8/4/13) melaporkan ratusan rohaniwan dari Forum Rohaniwan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) menyerukan kebebasan beribadah di Gedung DPR/MPR RI, Senin (8/4) pagi. Sehari sebelumnya, jemaat HKBP Setu melakukan ibadah di tenda darurat. Menurut laporan sisa-sisa puing runtuhan telah dibersihkan oleh jemaat dibantu oleh warga sekitar sehingga mereka dapat beribadah di lokasi yang diruntuhkan oleh Pemkab Bekasi beberapa waktu lalu.
Jurubicara Forum Rohaniwan Erwin Marbun mengatakan, para rohaniwan yang turut berpartispasi itu berasal dari lintas agama seperti Kristen, Islam, Buddha, dan Hindu. Demo diwakili dari masing-masing lintas agama seperti pendeta, ustad, kaum sunni, dan biksu.  

“Kami meminta DPR dan MPR RI memberi pernyataan sikap ke pemerintah untuk melindungi kebebasan beribadah. Saat ini merebak penutupan tempat ibadah yang mengundang keprihatinan masyarakat,” ujar Erwin Marbun sebelum berangkat dari Pintu 7 Senayan Jakarta, menuju gedung DPR/MPR.  

Para rohaniwan, kata Erwin, prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Indonesia yang berazaskan Pancasila seharusnya tidak dikotori dengan adanya penutupan tempat ibadah. 

 “Bukan hanya gereja yang banyak ditutup tetapi juga masjid. Kalau pemerintah membiarkan masalah ini berlangsung terus bisa-bisa sesama anak bangsa akan saling membunuh,” katanya.  

Forum rohaniwan Jabodetabek menyuarakan kondisi Indonesia secara umum. “Kita mau selamatkan Indonesia, bukan agama tertentu. Semua agama di Indonesia korban,” ucapnya.  

“Mudah-mudahan MPR RI mau menyuarakan aspirasi kami ke pemerintah. Kebebasan beribadah sudah terusik dan makin lama semakin menjadi-jadi,” katanya.  

Para rohaniwan berpakaian jubah lengkap dan berjalan kaki menuju gedung wakil rakyat yang terhormat. Mereka mulai bergerak dari Pintu 7 Senayan pada pukul 10.00 WIB.  

Di Bawah Tenda
Sementara itu, ratusan jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Setu melaksanakan ibadah Minggu (7/4) pukul 10.00 - 11.51 WIB. Mereka beribadah di antara puing-puing runtuhan bangunan berlokasi di Jalan MT Haryono, Gang Wiryo RT 05/RW 02, Desa Tamansari, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Para jemaat beribadah di dalam bangunan semipermanen dengan memasang tenda terpal di sisi belakang. Sisa-sisa puing runtuhan telah dibersihkan sehingga mereka dapat beribadah di lokasi yang diruntuhkan oleh Pemkab Bekasi beberapa waktu lalu. Sejak Rabu (3/4) pukul 10.00 WIB warga sekitar bersama dengan Jemaat HKBP Setu membersihkan sisa-sisa puing. "Tidak hanya jemaat yang bergotong-royong membersihkan puing tapi juga warga sekitar ikut membantu kami," ujar Majelis HKBP Setu, Masra Markus Simamora.

Menurut Masra, warga sekitar Gereja HKBP Setu memang tidak mempermasalahkan keberadaan gereja dan jemaat beribadat di lingkungannya. "Ini dibuktikan dengan keterlibatan mereka dalam membantu kami membersihkan puing-puing sisa runtuhan," ungkap Masra.

Laporan lainnya dari Indonesianway.com. Di antaranya menyebutkan:

Ketua Umum PGI Pendeta AA Yewangoe mengatakan, keberagaman adalah “given”, bukan untuk dipersoalkan. Kerukunan sebenarnya bagian dr bangsa ini. “Ada radikalisme yang menguat di Indonesia yang mengancam bangsa. Banyak kelompok intoleran, atas nama agama. Negara sering kali absen. Dia tidak bertindak nyata. Ini mengundang keruntuhan bangsa. Ada yg sakit di bangsa ini. Sakitnya ini harus diobati,” kata [Pdt] Yeangoe.

Karena itu dia meminta negara untuk menjaminan kebebasan beragama dan beribadah. “Jangan negara diperintah kelompok intoleran, dan jangan diserahkan pd kelompok intoleran yg melampaui konstitusi Indonesia,” imbuhnya.

Sementara wakil Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Romo Suprapto menegaskan bahwa KWI prihatin akan kondisi bangsa soal kebebasan beragama dan beribadah. “KWI mendukung penegakan hak konstitusi soal kebebasan beribadah. Kami bagian sepenuhnya dari bangsa ini, bukan anak tiri. Berhak untuk mendapat perlindungan yang sama. KWI menilai ada kelemahan pemerintah pusat untuk menjaga hak konstitusi warga, sehingga suburkan radikalisme, dan semaunya walau melanggar konstitusi. KWI meminta agar MPR bersikap tegas pada pemerintah yang lalai MPR segera lakukan konsolidasi,” tegasnya.

Penutupan rumah-rumah ibadah di negara Pancasila merupakan suatu pelanggaran konstitusional yang perlu diseriusi pemerintah. Hal ini juga perlu diimbangi oleh kesadaran masyarakat bahwa kelompok-kelompok radikal bisa ditunggangi oleh pihak-pihak anti-agama untuk saling membenturkan golongan-golongan agama di Indonesia.

Dalam laporan terkait, Indonesianway.com menyebut tanggapan Ketua MPR Taufiq Kiemas.

Ia berjanji akan menyampaikan aspirasi Forum Rohaniwan Sejabodetabek tentang kebebasan beragama, berkeyakinan dan beribadah dalam forum pertemuan MPR dan lembaga tinggi negara, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bulan April ini atau Mei mendatang.

Hal ini disampaikannya saat menerima rombongan Forum Rohaniwan Sejabodetabek di kantornya di gedung DPR/MPR/DPD Senayan Jakarta, Senin (8/4/2013), didampingi oleh para wakil ketua MPR.

Menurutnya segi pluralitas Indonesia itu perlu dijaga, dan ketegangan antar umat beragama di Indonesia disikapi dengan kepala dingin.

“Penyelesaian seperti ini yang menarik MPR sekarang. Cara penyelesaian yang tidak emosional. Dan kita bisa menyelesaikannnya dengan enak. Ada satu hal lagi yang bisa diperhatikan kalau kita melihat Garuda Pancasila kita berdiri di Bhineka Tunggal Ika dengan sangat tipis sekali. Itulah kerukunan beragama atau kerukunan atau hidup tergantung pada tipis ini. Kalau ini bergoyang maka tidak ada lagi negara Indonesia yang kita cintai ini. Jadi hidup republik Indonesia ini tergantung dari kerukunan beragama kerukunan semuan. Kita ini adalah memiliki negara karunia Tuhan. Negara sebesar ini bisa disatukan oleh Pancasila ini sangat luar biasa. Ada banyak pulau dengan begitu banyak agama banyak bahasa tetapi biarpun berbeda masih bisa tetap bersatu,” tegasnya seperti dikutip oleh Indonesianway.com.***

PGI: Kronologis kriminalisasi Pdt. Palti Panjaitan

Written By Ray Maleke on Jumat, 15 Maret 2013 | 21:50

Pdt. Palti Panjaitan (foto: PGI).
INDONESIA, Jakarta (PGI.OR.ID) - Pemberitaan simpangsiur tentang kriminalisasi Pdt. Palti Panjaitan di media-media sangat merugikan terhadap korban yang dikriminalisasi. Karena itu, melalui media ini, PGI menyampaikan pemberitaan yang benar tentang kronologis kriminalisasi terhadap Pdt. Palti Panjaitan dan kronologis Kebaktian Malam Natal (24/12/2012) HKBP Filadelfia yang dihadang massa intoleran. Dengan membaca kronologis yang benar ini, masyarakat dapat menilainya sendiri.

KRONOLOGI KEBAKTIAN MALAM NATAL JEMAATHKBP FILADELFIA, 
TANGAL 24 DESEMBER 2012


Menjelang Natal tahun lalu, Jemaat HKBP Filadelfia ingin melaksanakan Kebaktian Malam Natal (24/12/2012) pada Pukul 18.00 WIB bertempat di lahan milik Jemaat HKBP Fildelfia di RT. 01 RW. 09 Dusun III, Desa Jejalen Jaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kebaktian malam Natal ini adalah kegiatan keagamaan Umat Kristiani yang biasa dilakukan tiap tahun menjelang perayaan Natal setiap tanggal 25 Desember.

Sekitar Pukul 18.00 WIB Jemaat HKBP Filadelfia menuju ke lokasi tersebut untuk melakukan Kebaktian Malam Natal. Namun dalam perjalanan mereka ke lokasi tersebut di Desa Jejalen Jaya, sekitar 200 meter dari lokasi tersebut, Jemaat HKBP Filadelfia  dihadang oleh massa anti toleran. Dan Polisi yang berjaga di lokasi sekitar 200 orang.

Selain penghadangan, massa anti toleran juga melakukan pelemparan kepada Jemaat HKBP Filadaelfia. Mereka melemparkan telur busuk, kotoran hewan, air jengkol yang sudah direndam, batu, tanah, dan menyiramkan air comberan. Tindakan massa anti toleran tersebut dibiarkan oleh Polisi dan Polisi melihat tindakan massa anti toleran tersebut. Pada saat terjadinya tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa anti toleran terjadi pemadaman lampu di Jalan Umum.

Pada saat terjadinya berbagai tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa anti toleran, Polisi menyalahkan Jemaat HKBP Filadelfia karena mereka penyebab terjadinya kericuhan dan meminta para Jemaat HKBP Filadelfia untuk mundur.

Karena jumlah massa yang semakin banyak dan tindakan brutal dan anarkis massa yang semakin tidak terkendali dan juga tindakan Polisi yang sudah memihak kepada massa anti toleran, maka Jemaat HKBP Filadelfia mundur dan kemudian menuju Polsek Tambun untuk melakukan Kebaktian Malam Natal di halaman Polsek Tambun karena gagal  memasuki lokasi gereja di Desa Jejalenjaya.

Kemudian Jemaat HKBP Filadelfia melakukan Kebaktian tersebut dimulai Pukul 20.00 - 21.30 WIB di halaman Polsek Tambun.


KRONOLOGIS KRIMINALISASI PDT. PALTI PANJAITAN, S.Th.

Saat ini Pdt. Palti Panjaitan, Pimpinan Jemaat HKBP Filadaelfia dan Jemaatnya mengalami kriminalisasi. Hal ini sesuai dengan Laporan polisi itu bernomor: LP/1395/K/XII/2012/SPK/Restra Bekasi, pada 24 Desember 2012 atas nama pelapor Sdr. Abdul Azis, yang dilaporkan di Kepolisian Resor (Polres) Kota Bekasi. Terlapornya adalah Pdt. Palti Panjaitan, S.Th. dengan tuduhan melakukan tindak pidana penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan sebagaimana dimaksud dalam pasal 351 Jo 335 KUHP. Kejadiannya adalah pada malam Natal 24 Desember 2012 di Desa Jejalen Jaya, Tambun, Bekasi, Jawa Barat.

Kira-kira seperti ini masalahnya. Masalah ini terjadi pada malam Natal 24 Desember 2012 di Desa Jejalenjaya, Tambun- Bekasi sebagaimana diuraikan dalam kronologis di atas.  Setelah jemaat HKBP Filadelfia pergi dari penghadangan massa anti toleran di Desa Jejalen Jaya, dan bersiap-siap berangkat ke Polsek Tambun, Bekasi untuk melaksanakan Kebaktian Malam Natal, kemudian Pdt. Palti Panjaitan dan beberapa jemaat HKBP Filadlefia yang masih tinggal di lokasi tersebut hendak ke Polsek Tambun Bekasi untuk mengadakan Kebaktian Malam Natal. Waktu itu, Pdt. Palti menggunakan sepeda motor dan membonceng istrinya. Pada saat akan berangkat ke Polsek, Pdt. Palti Panjaitan dihadang massa anti toleran, dan ada yang berteriak-teriak kejar, kejar. Kemudian Pdt. Palti Panjaitan turun dari sepeda motornya. Hal itu ia lakukan demi menjaga keselamatannya dan istrinya. Kemudian Abdul Azis (yang melaporkan pdt. Palti Panjaitan melakukan pemukulan) mau menyerang Pdt. Palti. kemudian Pdt. Palti menahannya dengan menggunakan 2 (dua) tangannya terbuka. Tujuannya adalah untuk menyelamatkan diri dan istrinya, sebab kalau beliau tetap di sepeda motornya melaju meninggalkan lokasi akan berbahaya. Pdt. Palti hanya menahan, tidak ada mendorong, apalagi memukul Abdul Azis. Bagaimana mau memukul, sementara massa anti toleran yang merupakan gerombolan Abdul Azis begitu banyak?

Sebelum penghadangan terhadap Pdt. Palti untuk meninggalkan lokasi, Pdt. Palti dan jemaat HKBP Filadelfia diserang massa anti toleran termasuk Abdul Azis pelakunya (sebagaimana diuraikan dalam kronologis di atas), massa anti toleran mencaci maki jemaat HKBP, terus mengintimidasi, meneror, melempar dengan tanah, batu, air jengkol yang direbus, telur busuk, air comberan, kotoran hewan, menghadang jemaat HKBP Filadelfia memasuki lokasi peribadatannya untuk melaksanakan Kebaktian Malam Natal. Namun jemaat gagal memasuki lokasi tersebut untuk menngadakan Kebaktian Malam Natal.
Laporan Abdul Azis itu segera ditindaklanjuti pihak penyidik Kepolisian Resor Kota (Polres) Kota Bekasi, di mana Abdul Azis sebagai pelapor diperiksa (di BAP) tanggal 25 Desember 2012 di Polres kota Bekasi (ada infonya di VOA Islam, dan beberapa media online Islam).

Pada tanggal 28 Januari 2013, Pdt. Palti Panjaitan diperiksa (di BAP) sebagai saksi di Polres Kota Bekasi.
Kemudian dilanjutkan pemeriksaan jemaat HKBP Filadelfia, yaitu:
  1. Parsaoran Siahaan (diperiksa tanggal 4 Februari 2013)
  2. Susi Yanti Rajagukguk (diperiksa tanggal 4 Februari 2013)
  3. Emeliana Tambunan (diperiksa tanggal 5 Februari 2013)
  4. Hamonangan Manurung (diperiksa tanggal 5 Februari 2013)
  5. Maruhum Pasaribu (diperiksa tanggal 12 Feberuari 2013)
Dan salah seorang Pendeta HKBP, yaitu Pendeta Ivan Panjaitan juga diperiksa sebagai saksi di Polres Kota Bekasi pada tanggal 12 Februari 2013.

Pada 12 Maret 2013, Pdt Palti Panjaitan, S.Th mendapatkan surat panggilan dari Polres Kota Bekasi untuk diperiksa sebagai TERSANGKA di Polres Kota  Bekasi pada Rabu (20/03/2013).

PERTANYAAN:
Mengapa Pdt. Palti Panjaitan dilakukan proses hukum (dikriminalisasi), padahal Pdt. Palti Panjaitan dan Jemaat HKBP Filadelfia adalah korban kekerasan kelompok massa anti toleran pada ibadah malam Natal tanggal 24 Desember sebagaimana di uraikan dalam kronologis di atas? Pelakunya adalah massa anti toleran yang dipimpin Abdul  Azis, dan Abdul Azis juga sebagai pelakunya. Padahal seharusnya Pdt. Palti Panjaitan den Jemaatnya adalah seharusnya mendapatkan mekanis perlindungan sebagai  korban kekerasan atas nama agama, tapi realitanya fakta dimanipulasi, pelaku kekerasan masih bebas berkeliaran, tetapi korban yang diproses hukum sampai statusnya tersangka.

NB:
Penyidik perkara ini adalah Ajun Komisaris Polisi SURYAT, SH (NRP: 63010447), pemeriksa adalah Brigadir Polisi FABER (NRP: 85050285).

Sumber berita: Judianto Simanjuntak
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger