"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , » Hubungan Ospek (orientasi pengenalan kampus) dan pendidikan teologi Kristen

Hubungan Ospek (orientasi pengenalan kampus) dan pendidikan teologi Kristen

Written By Ray Maleke on Jumat, 09 Agustus 2013 | 10:51

Waktu Ospek dulu para mahasiswa senior bilang pa torang, sekarang ngoni pe hak torang cabut.1

Ada dua peraturan selama Ospek: Pertama, mentor (atau senior) nyanda pernah salah. Kedua, kalu mentor salah, tinjau peraturan pertama.2

Untunglah Ospek saat ini sudah meninggalkan model memperdaya dan telah lebih diarahkan pada memberdayakan mahasiswa baru.

Perkembangan ini dibutuhkan juga dalam dunia teologi dan filsafat Kristen, pasalnya bidang ini masih terus di-Ospek oleh teologi dan filsafat sekuler.

Misalnya, bicara tentang sejarah dorang3 bilang ada dua peraturan. Pertama, hal yang supernatural tidak ada. Kedua, kalau ada, tinjau peraturan pertama.

Pendekatan ini tidak pernah memberdayakan para teolog Kristen, yang pada waktunya akan melanjutkan kepemimpinan dalam gereja, organisasi Kristen lainnya, atau terjun dibidang teknik (engineering), ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social science), dsb.

Telah lama pendekatan ini memperdayakan para pemikir Kristen, dan tak dapat dipungkiri masih banyak di antaranya yang mencoba meneliti sejarah iman Kristen dengan pendekatan teologi sekuler (dengan secular philosophy/ideology/worldview).

Itu sebabnya, setiap kali mereka sampai pada satu kesimpulan yang menunjuk pada pekerjaan Allah dalam sejarah dan Kristus Yesus, jawaban yang mereka dengar kebanyakan adalah “Tinjau peraturan pertama.”

Bagi yang mendambakan penerimaan di sebuah komunitas “ahli” (experts), “sarjana” (scholars), menjadi lebih mudah untuk menerima peraturan pertama dan kedua. Dan setelah diperdaya, mereka pun terus diperdaya, dan memperdaya angkatan berikutnya.

Untuk mengubah lingkaran setan ini (vicious cycle), dibutuhkan sebuah angkatan yang berani, yang tidak melihat perlakuan yang mereka terima memberi mereka ‘hak’ untuk memperlakukan orang lain demikian.

Di samping itu, intervensi pihak ‘rektorat’ juga perlu. Dalam analogi ini pihak ‘rektorat’ adalah para pemimpin universitas Kristen, pemimpin gereja-gereja dan organisasi-organisasi Kristen. Bersama mereka perlu dilibatkan jemaat-jemaat yang akan menjadi evaluator hasil sebuah pendidikan teologi. Tak terkecuali kekritisan para ”mahasiswa baru,” yaitu mereka yang terpanggil dan terpilih untuk dibekali lewat sebuah pendidikan teologi.

Semua pihak perlu merumuskan kebijakan supaya kalau pun Ospek itu dipandang perlu, baiklah itu diarahkan untuk memberdayakan para pemikir dan calon pemimpin Kristen, bukan sebaliknya. (+)

Ospek UGM (foto: swaragama).

1 Melayu Manado, “mengatakan pada kami, sekarang hak kalian kami cabut.”
2 Melayu Manado, “Pertama, mentor (atau senior) tidak pernah salah. Kedua, kalau mentor salah tinjau peraturan pertama.”
3 Melayu Manado, “mereka.”
http://bit.ly/13VD3gW
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger