"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Renung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renung. Tampilkan semua postingan

Hari Natal bukan hari ulang tahun

Written By Menara Penjaga on Kamis, 19 Desember 2013 | 03:39

Tak jarang perayaan hari ulang tahun (ultah) tak lagi menjadi sebuah ekspresi syukur dan sukacita melainkan pesta-pora yang berbuah negatif.
Kita dapat belajar dari perayaan hari ultah Herodes Antipas yang berakhir dengan pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis (lih. Matius 14:1-12 dan paralelnya). Hati Herodias memang jahat, tapi tak kalah jahat adalah konsumerisme.
Sangat penting memahami arti Natal.Hari Natal tak jarang menjadi seperti perayaan ultah dengan pesta konsumerisme. Padahal, Natal adalah perayaan akan kelahiran Kristus (bukan hari kelahiran-Nya) yang kita tahu sangat sederhana.
Perayaan Natal tidak terfokus pada perayaan hari ulang tahun, melainkan pada kedatangan Kristus ke dalam dunia; untuk kehidupan-Nya yang memberi teladan; untuk kematian-Nya demi penebusan dosa; dan kebangkitan-Nya yang memberi kemenangan. 
Perayaan Natal, yaitu perayaan akan kelahiran Kristus, di awali dengan masa-masa Adven (penantian), karena Natal mempersiapkan umat Kristen untuk menyambut kedatangan Kristus yang kedua kali.
Masa Natal adalah saat-saat penantian yang penuh syukur dan sukacita; saat yang tepat untuk memupuk kebaikan bagi sesama, menjangkau mereka yang terhilang, berbagi dengan mereka yang berkekurangan, hadir untuk mereka yang sedang dalam pergumulan, dsb.
Semua itu adalah bagian dari proklamasi Kerajaan Surga yang akan disempurnakan oleh Sang Matahari Kebenaran. Ia yang pada waktu yang telah ditetapkan Allah akan datang kembali untuk memberi upah bagi mereka yang menanti dengan setia.
Di tengah masa-masa penantian dan perayaan ini, ingatlah bahwa kita bukan merayakan hari ulang tahun, melainkan kelahiran Sang Imanuel -- Allah beserta kita. [+]
Yang Gratis: Hidup yang kekal

5 hal penting untuk menjadi garam dan terang dunia

Written By Menara Penjaga on Senin, 21 Oktober 2013 | 07:04

Ungkapan Kristus bahwa orang percaya adalah “garam dan terang dunia” (Matius 5:13, 14) berarti kita diutus untuk mengawetkan hal-hal yang baik dan menerangi kegelapan yang ada di sekitar kita.

Dalam perenungan ini ada lima bekal rohani untuk melakukan panggilan orang percaya ini: (1) mengenal Firman Allah; (2) mengenal diri sendiri; (3) mengenal orang lain; (4) berjiwa pemimpin; (5) pimpinan Roh Kudus.


Mengenal Firman Allah
Dengan memahami maksud dan pekerjaan Allah lewat berita firman-Nya, kita dapat memiliki pengertian yang benar mengenai hal-hal yang perlu diawetkan dan hal-hal yang perlu diterangi di lingkungan pergaulan dan keseharian kita.

Untuk dapat mengenal firman Allah dengan lebih baik, kita dapat:
  • merenungkan Alkitab secara pribadi (lewat renungan harian, pembacaan Alkitab secara teratur)
  • mengikuti perenungan kelompok/persekutuan ibadah
  • mendengarkan khotbah
  • membaca buku yang membangun iman
  • berdiskusi atau bertanya pada orang lain
  • dan memohon kekuatan Roh Kudus untuk menerapkannya dalam hidup sehari-hari.

Mengenal diri sendiri
Mengenal diri sendiri berarti mengenali potensi dan talenta yang Tuhan telah anugerahkan kepada kita. Ada orang yang berpikir bahwa mereka tidak punya talenta apa-apa, tetapi setiap manusia memiliki talenta itu, sekalipun bagi sebagian orang perlu waktu untuk menyadarinya.

Kita perlu mengenali potensi dan talenta yang Tuhan anugerahkan kepada kita, namun yang lebih utama lagi adalah memahami siapa kita di hadapan Allah. Ia mengenal kita secara pribadi, mengasihi dan mengampuni kita. Dengan menyadari hal ini, kita dapat memiliki rasa percaya diri dalam Allah yang adalah Bapa kita dalam surga di saat kita menjawab panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia.


Mengenal orang lain
Dengan mengenali diri kita sendiri, kita akan mempunyai kemudahan dalam mengenal orang lain; memahami cara berpikir mereka, hal-hal yang mempengaruhi tindakan mereka, dan apa yang menjadi kerinduan mereka yang terdalam.

Banyak remaja yang hidup dalam amarah, kekecewaan, akar pahit, keputusasaan. Tindakan-tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain sering dilakukan diluar kehendak sendiri, atau dalam kesadaran memberontak terhadap Allah.

Mengenali sisi ini dapat menolong kita menjadi garam dan terang yang efektif bagi teman-teman kita, tanpa kehilangan keasinan atau terang yang kita miliki. Untuk itu, kita perlu meminta hati yang sungguh-sungguh mempedulikan orang lain.


Kepemimpinan
Seorang yang rindu menjadi garam dan terang dunia dengan sendirinya adalah seorang yang berjiwa pemimpin, karena kerinduannya adalah untuk menjadi teladan bagi yang lain.

Jiwa kepemimpinan tidak semerta-merta berarti kita harus menempati posisi/jabatan sebagai pemimpin. 

Kepemimpinan dapat diterapkan dalam berbagai cara termasuk dalam memberi diri dipimpin orang lain. Sepanjang seorang Kristen memahami panggilannya sebagai garam dan terang dunia, ia adalah seorang pemimpin di tempat dan waktu di mana Tuhan menaruhnya, apakah sebagai seorang pemimpin atau yang dipimpin.

Kuasa Roh Kudus
Semua bekal rohani ini akan sia-sia tanpa kehadiran Roh Kudus yang adalah kuasa dalam kehidupan manusia, dan terutama dalam menjawab panggilan Kristus untuk menjadi garam dan terang dunia. 

Roh Kudus adalah penuntun bagi kita dalam memahami maksud firman Allah; Ia yang mengenal rahasia Allah dan diri kita manusia. Itu sebabnya, kita perlu diisi dengan kuasa dan kehadiran Roh Kudus dengan memohonkannya lewat doa (Lukas 11:13) atau penumpangan tangan (Kisah 8:17;  19:6).

"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)

Kisah seorang ibu yang berkorban nyawa demi anaknya, dan apa yang menjadi harapan sang ayah

Written By Menara Penjaga on Kamis, 10 Oktober 2013 | 03:10

Ratusan orang berkumpul di Gereja St. Francisca Romana di Roma, Italia, untuk menghadiri Misa pemakaman Chiara Corbella, seorang ibu muda yang meninggal dunia akibat kanker. Hari itu tanggal 16 Juni 2012.

Pada usia 28 tahun Chiara bahagia menikah dengan Enrico Petrillo.

Kebahagiaan itu bukannya tanpa luka, karena dua anak pertama mereka meninggal karena cacat lahir.

Sekalipun luka itu tak membuat mereka menyerah atau marah.

Keduanya justru bersyukur untuk waktu beberapa menit yang mereka lewatkan bersama anak-anak mereka, David dan Maria, sebelum keduanya meninggal.

Chiara dan Enrico pun menjadi pengingat bagi para orangtua betapa mereka harus bersyukur ketika menggendong bayi mereka dan melihat anak-anak itu tumbuh dewasa.

Pada tahun 2010, Chiara hamil untuk ketiga kalinya. Kali ini menurut dokter anak dalam kandungannya berkembang normal.

Namun Chiara didiagnosis membawa kanker agresif. Ia disarankan untuk mulai menerima pengobatan yang berisiko bagi kehamilannya.

Situasi yang dihadapinya tak memberi banyak pilihan.

Chiara memutuskan untuk melindungi bayi mereka dan menunda pengobatan sampai setelah ia melahirkan.

Tanggal 30 Mei 2011 seorang anak laki-laki lahir di dunia. Ia diberi nama Francisco.

Namun, kanker telah dengan cepat berkembang dan ibu yang berbahagia ini harus kehilangan penglihatan di salah satu matanya.

Setelah setahun berjuang melawan kanker Chiara menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 13 Juni. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang dikasihinya, dan berpulang dengan keyakinan bahwa ia akan bertemu dengan kedua anaknya di surga.

"Saya akan ke surga untuk mengurus Maria dan David, kau tinggal di sini dengan ayah. Aku akan berdoa untukmu," tulis Chiara dalam sebuah surat untuk Francisco seminggu sebelum kepergiannya.

Pengorbanan dan cinta seorang ibu yang dimiliki Chiara membuatnya disebut sebagai "Gianna Beretta kedua," orang suci umat Katolik abad ke-20 yang mengorbankan hidupnya dalam kondisi yang sama untuk menyelamatkan bayi yang belum lahir.

Pastor Vito, pembimbing rohani Chiara menyebut kisah pengorbanan sang ibu sebagai, "sebuah kesaksian yang bisa menyelamatkan begitu banyak orang."

Enrico, sang suami tercinta, mengatakan ia mengalami "kisah cinta di kayu salib."

Berbicara kepada Radio Vatikan, ia mengatakan bahwa mereka belajar dari tiga anak mereka bahwa tidak ada perbedaan dalam kehidupan yang berlangsung 30 menit atau 100 tahun.

"Adalah hal yang indah untuk mendapati cinta ini terus tumbuh di tengah begitu banyak masalah," katanya.

"Kami bertumbuh dalam kasih untuk satu dengan yang lain dan Yesus. Kami tidak pernah kecewa dengan cinta ini, dan untuk alasan ini, kami tidak pernah kehilangan waktu, meskipun orang-orang di sekitar kami berkata, 'Tunggu, jangan terburu-buru untuk memiliki anak lagi'," kata Enrico.

Dunia saat ini mendorong orang untuk membuat pilihan yang salah tentang bayi dalam kandungan, orang sakit dan orang tua, "tetapi Tuhan menjawab dengan cerita seperti kami ini."

"Kita adalah orang-orang yang suka berfilsafat tentang kehidupan, tentang siapa yang menciptakannya, dan itu sebabnya, pada akhirnya, kita membuat bingung diri kita sendiri dengan ingin menjadi pemilik kehidupan dan lari dari salib yang Tuhan beri kepada kita," lanjutnya.

"Yang benar adalah bahwa salib ini - jika Anda menerimanya bersama Kristus – tidak seburuk yang kelihatan. Jika Anda percaya kepada-Nya, Anda akan menemukan bahwa api ini, salib ini, tidak membakar, dan kedamaian dapat ditemukan dalam penderitaan, dan sukacita didapati dalam kematian," jelas Enrico.

"Aku menghabiskan banyak waktu tahun ini merenungkan kalimat dari Injil yang mengatakan Tuhan memberi kuk yang manis dan beban yang ringan. Ketika aku melihat Chiara ketika ia mendekati kematian, saya jelas menjadi sangat marah. Tapi aku mengerahkan semua keberanian dan beberapa jam sebelumnya - itu sekitar pukul delapan pagi, Chiara meninggal pada siang hari – aku bertanya.

"Tapi Chiara, cintaku, apakah benar salib ini benar-benar manis, seperti firman Tuhan? Dia menatapku dan dia tersenyum, dan dengan suara lembut ia berkata, 'Ya, Enrico, [salib] ini sangat manis'. Dalam hal ini, keluarga tidak melihat Chiara meninggal dengan tenang, tapi bahagia, yang merupakan hal yang benar-benar berbeda," kata Ernico.

Enrico menambahkan bahwa ketika Francisco tumbuh, dia akan memberitahu anaknya itu "betapa indah membiarkan diri dicintai oleh Allah, karena jika kau merasa dicintai kau dapat melakukan apapun," dan ini adalah "hal yang paling penting dalam hidup: untuk membiarkan dirimu dicintai supaya mencintai dan mati berbahagia."

"Saya akan mengatakan kepadanya bahwa ini adalah apa yang ibunya, Chiara, lakukan. Dia membiarkan dirinya dicintai, dan dalam arti tertentu, saya pikir dia mencintai semua orang dengan cara ini. Aku merasa dia lebih hidup dari sebelumnya. Untuk dapat melihatnya mati berbahagia menurut saya adalah sebuah tantangan terhadap kematian." (CNA/MP)

Hubungan Ospek (orientasi pengenalan kampus) dan pendidikan teologi Kristen

Written By Ray Maleke on Jumat, 09 Agustus 2013 | 10:51

Waktu Ospek dulu para mahasiswa senior bilang pa torang, sekarang ngoni pe hak torang cabut.1

Ada dua peraturan selama Ospek: Pertama, mentor (atau senior) nyanda pernah salah. Kedua, kalu mentor salah, tinjau peraturan pertama.2

Untunglah Ospek saat ini sudah meninggalkan model memperdaya dan telah lebih diarahkan pada memberdayakan mahasiswa baru.

Perkembangan ini dibutuhkan juga dalam dunia teologi dan filsafat Kristen, pasalnya bidang ini masih terus di-Ospek oleh teologi dan filsafat sekuler.

Misalnya, bicara tentang sejarah dorang3 bilang ada dua peraturan. Pertama, hal yang supernatural tidak ada. Kedua, kalau ada, tinjau peraturan pertama.

Pendekatan ini tidak pernah memberdayakan para teolog Kristen, yang pada waktunya akan melanjutkan kepemimpinan dalam gereja, organisasi Kristen lainnya, atau terjun dibidang teknik (engineering), ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social science), dsb.

Telah lama pendekatan ini memperdayakan para pemikir Kristen, dan tak dapat dipungkiri masih banyak di antaranya yang mencoba meneliti sejarah iman Kristen dengan pendekatan teologi sekuler (dengan secular philosophy/ideology/worldview).

Itu sebabnya, setiap kali mereka sampai pada satu kesimpulan yang menunjuk pada pekerjaan Allah dalam sejarah dan Kristus Yesus, jawaban yang mereka dengar kebanyakan adalah “Tinjau peraturan pertama.”

Bagi yang mendambakan penerimaan di sebuah komunitas “ahli” (experts), “sarjana” (scholars), menjadi lebih mudah untuk menerima peraturan pertama dan kedua. Dan setelah diperdaya, mereka pun terus diperdaya, dan memperdaya angkatan berikutnya.

Untuk mengubah lingkaran setan ini (vicious cycle), dibutuhkan sebuah angkatan yang berani, yang tidak melihat perlakuan yang mereka terima memberi mereka ‘hak’ untuk memperlakukan orang lain demikian.

Di samping itu, intervensi pihak ‘rektorat’ juga perlu. Dalam analogi ini pihak ‘rektorat’ adalah para pemimpin universitas Kristen, pemimpin gereja-gereja dan organisasi-organisasi Kristen. Bersama mereka perlu dilibatkan jemaat-jemaat yang akan menjadi evaluator hasil sebuah pendidikan teologi. Tak terkecuali kekritisan para ”mahasiswa baru,” yaitu mereka yang terpanggil dan terpilih untuk dibekali lewat sebuah pendidikan teologi.

Semua pihak perlu merumuskan kebijakan supaya kalau pun Ospek itu dipandang perlu, baiklah itu diarahkan untuk memberdayakan para pemikir dan calon pemimpin Kristen, bukan sebaliknya. (+)

Ospek UGM (foto: swaragama).

1 Melayu Manado, “mengatakan pada kami, sekarang hak kalian kami cabut.”
2 Melayu Manado, “Pertama, mentor (atau senior) tidak pernah salah. Kedua, kalau mentor salah tinjau peraturan pertama.”
3 Melayu Manado, “mereka.”
http://bit.ly/13VD3gW

Buah apel dari Taman Eden

Written By Ray Maleke on Kamis, 25 Juli 2013 | 21:32

Menurut kisah kejatuhan manusia yang direkam Kejadian 3, setelah manusia mengulurkan tangan dan memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, mereka mendapati diri mereka telanjang.

Dengan kata lain dosa telah masuk dan salah satu konsekuensinya adalah Adam dan Hawa kehilangan jubah kekudusan mereka.

Dalam kisah itu kita baca bahwa Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan menempatkan malaikat-malaikat yang menjaga pohon kehidupan.

Manusia yang berdosa tak bisa makan dari pohon kehidupan, karena harus manusia yang tak berdosa yang membawa mereka kembali kepada kehidupan.

Ada yang mengatakan bahwa Taman Eden secara geografis terletak di wilayah negara Irak sekarang ini, sementara para seniman telah dengan mengagumkan menggambarkan kisah kejatuhan manusia itu. Lukisan dari Titian (c. 1550) menunjukkan Adam yang gugup dan Hawa yang mengambil buah dari tangan sosok yang berwujud setengah manusia setengah ular yang melingkar di pohon buah.

Buah yang sering digambarkan sebagai buah apel ini adalah perlambangan keangkuhan, sebuah ide pemberontakan yang lahir dari kesombongan. Memang iblis pintar menaruh kesombongan dan keangkuhan dalam hati laki-laki dan perempuan tanpa kita semua menyadarinya.

Bukan cara Iblis jika tak licin dan licik. Ia menawarkan 80% kebenaran dengan campuran 20% dusta yang mematikan. Meminum campuran ini efeknya bukan kantuk atau kadang mual, melainkan keangkuhan atau kesombongan yang memimpin pada kematian.

“Tuhan Allah mengatakan demikian, bukan? Oh, bukan ya? Ah, kamu tidak akan mati. Tuhan hanya tidak mau kalian jadi sama seperti Dia tahu yang baik dan yang jahat.”

Kisah Adam dan Hawa menunjukkan manusia tidak punya cara lain untuk membuktikan perkataan Iblis, dan keinginan untuk setara dengan yang bukan setaranya itu menyebabkan mereka makan buah terlarang. 

Mereka mengambil resiko karena ingin up-grade “menjadi seperti Allah.” Tidak mau kalah, istilahnya.

Mereka memilih untuk mencari kebenaran dari perkataan Iblis, dan bukan dari perkataan Allah. Dan selagi keduanya merupakan pencarian akan kebenaran, yang satu selalu akan berakhir dengan kekecewaan.

Kisah Taman Eden memberi referensi tentang awal dari segala duka dan airmata kepedihan di dunia.

Sampai sekarang pun keangkuhan dan kesombongan adalah penyebab berbagai kejahatan yang tak hanya memakan korban banyak orang lain, tetapi juga diri sendiri.

Tak heran dari ketujuh dosa mematikan, mata yang sombong adalah yang pertama (disusul kemudian lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara [Amsal 6:16-19])

Iman adalah menaruh kepercayaan pada perkataan Allah.

Kepercayaan demikian itu (iman) bukan berarti tanpa pemikiran dan refleksi, tanpa pertanyaan dan tanpa upaya mencari jawaban.

Para pemikir Kristen sejak awal mula gereja berpikir dan berefleksi, bertanya dan menemukan jawaban. Dalam perenungan selanjutnya ziarah iman itu disebut “faith seeking understanding” atau iman yang mencari pengertian.

Karena itu, ada yang membedakan antara mencari kebenaran iman dan mengidam buah terlarang: kerendahan hati. (+)

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger