"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , , , » Kisah seorang ibu yang berkorban nyawa demi anaknya, dan apa yang menjadi harapan sang ayah

Kisah seorang ibu yang berkorban nyawa demi anaknya, dan apa yang menjadi harapan sang ayah

Written By Menara Penjaga on Kamis, 10 Oktober 2013 | 03:10

Ratusan orang berkumpul di Gereja St. Francisca Romana di Roma, Italia, untuk menghadiri Misa pemakaman Chiara Corbella, seorang ibu muda yang meninggal dunia akibat kanker. Hari itu tanggal 16 Juni 2012.

Pada usia 28 tahun Chiara bahagia menikah dengan Enrico Petrillo.

Kebahagiaan itu bukannya tanpa luka, karena dua anak pertama mereka meninggal karena cacat lahir.

Sekalipun luka itu tak membuat mereka menyerah atau marah.

Keduanya justru bersyukur untuk waktu beberapa menit yang mereka lewatkan bersama anak-anak mereka, David dan Maria, sebelum keduanya meninggal.

Chiara dan Enrico pun menjadi pengingat bagi para orangtua betapa mereka harus bersyukur ketika menggendong bayi mereka dan melihat anak-anak itu tumbuh dewasa.

Pada tahun 2010, Chiara hamil untuk ketiga kalinya. Kali ini menurut dokter anak dalam kandungannya berkembang normal.

Namun Chiara didiagnosis membawa kanker agresif. Ia disarankan untuk mulai menerima pengobatan yang berisiko bagi kehamilannya.

Situasi yang dihadapinya tak memberi banyak pilihan.

Chiara memutuskan untuk melindungi bayi mereka dan menunda pengobatan sampai setelah ia melahirkan.

Tanggal 30 Mei 2011 seorang anak laki-laki lahir di dunia. Ia diberi nama Francisco.

Namun, kanker telah dengan cepat berkembang dan ibu yang berbahagia ini harus kehilangan penglihatan di salah satu matanya.

Setelah setahun berjuang melawan kanker Chiara menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 13 Juni. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang dikasihinya, dan berpulang dengan keyakinan bahwa ia akan bertemu dengan kedua anaknya di surga.

"Saya akan ke surga untuk mengurus Maria dan David, kau tinggal di sini dengan ayah. Aku akan berdoa untukmu," tulis Chiara dalam sebuah surat untuk Francisco seminggu sebelum kepergiannya.

Pengorbanan dan cinta seorang ibu yang dimiliki Chiara membuatnya disebut sebagai "Gianna Beretta kedua," orang suci umat Katolik abad ke-20 yang mengorbankan hidupnya dalam kondisi yang sama untuk menyelamatkan bayi yang belum lahir.

Pastor Vito, pembimbing rohani Chiara menyebut kisah pengorbanan sang ibu sebagai, "sebuah kesaksian yang bisa menyelamatkan begitu banyak orang."

Enrico, sang suami tercinta, mengatakan ia mengalami "kisah cinta di kayu salib."

Berbicara kepada Radio Vatikan, ia mengatakan bahwa mereka belajar dari tiga anak mereka bahwa tidak ada perbedaan dalam kehidupan yang berlangsung 30 menit atau 100 tahun.

"Adalah hal yang indah untuk mendapati cinta ini terus tumbuh di tengah begitu banyak masalah," katanya.

"Kami bertumbuh dalam kasih untuk satu dengan yang lain dan Yesus. Kami tidak pernah kecewa dengan cinta ini, dan untuk alasan ini, kami tidak pernah kehilangan waktu, meskipun orang-orang di sekitar kami berkata, 'Tunggu, jangan terburu-buru untuk memiliki anak lagi'," kata Enrico.

Dunia saat ini mendorong orang untuk membuat pilihan yang salah tentang bayi dalam kandungan, orang sakit dan orang tua, "tetapi Tuhan menjawab dengan cerita seperti kami ini."

"Kita adalah orang-orang yang suka berfilsafat tentang kehidupan, tentang siapa yang menciptakannya, dan itu sebabnya, pada akhirnya, kita membuat bingung diri kita sendiri dengan ingin menjadi pemilik kehidupan dan lari dari salib yang Tuhan beri kepada kita," lanjutnya.

"Yang benar adalah bahwa salib ini - jika Anda menerimanya bersama Kristus – tidak seburuk yang kelihatan. Jika Anda percaya kepada-Nya, Anda akan menemukan bahwa api ini, salib ini, tidak membakar, dan kedamaian dapat ditemukan dalam penderitaan, dan sukacita didapati dalam kematian," jelas Enrico.

"Aku menghabiskan banyak waktu tahun ini merenungkan kalimat dari Injil yang mengatakan Tuhan memberi kuk yang manis dan beban yang ringan. Ketika aku melihat Chiara ketika ia mendekati kematian, saya jelas menjadi sangat marah. Tapi aku mengerahkan semua keberanian dan beberapa jam sebelumnya - itu sekitar pukul delapan pagi, Chiara meninggal pada siang hari – aku bertanya.

"Tapi Chiara, cintaku, apakah benar salib ini benar-benar manis, seperti firman Tuhan? Dia menatapku dan dia tersenyum, dan dengan suara lembut ia berkata, 'Ya, Enrico, [salib] ini sangat manis'. Dalam hal ini, keluarga tidak melihat Chiara meninggal dengan tenang, tapi bahagia, yang merupakan hal yang benar-benar berbeda," kata Ernico.

Enrico menambahkan bahwa ketika Francisco tumbuh, dia akan memberitahu anaknya itu "betapa indah membiarkan diri dicintai oleh Allah, karena jika kau merasa dicintai kau dapat melakukan apapun," dan ini adalah "hal yang paling penting dalam hidup: untuk membiarkan dirimu dicintai supaya mencintai dan mati berbahagia."

"Saya akan mengatakan kepadanya bahwa ini adalah apa yang ibunya, Chiara, lakukan. Dia membiarkan dirinya dicintai, dan dalam arti tertentu, saya pikir dia mencintai semua orang dengan cara ini. Aku merasa dia lebih hidup dari sebelumnya. Untuk dapat melihatnya mati berbahagia menurut saya adalah sebuah tantangan terhadap kematian." (CNA/MP)
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger