"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Memberi dengan ucapan syukur

Written By Ray Maleke on Minggu, 09 September 2012 | 11:38

Persembahan janda miskin
(Gambar: biblekids.eu)
Renungan

Bacaan Alkitab: 2 Korintus 9:6-15

Baru-baru ini ketika menghadiri sebuah ibadah Minggu pagi di Waverly-Bethel Presbyterian Church, West Virginia (USA), hatiku merasa kikuk karena tidak ada persembahan di saku. Ketika nampan persembahan berlalu di depanku rasa itu masih ada bersama diriku, mengingatkan saat-saat di kampung halaman di Tondano ketika hati ingin ke gereja, tapi ada keengganan karena tidak ada uang untuk persembahan. Tapi pengalaman itulah yang justru telah membuat aku mengerti. Belajar dari kisah janda miskin (Lukas 21:1-4), aku memahami bahwa ada waktunya aku harus ikhlas memberi seratus uang logam, atau hanya membawa diriku, pujian dan doaku ke gereja/persekutuan ibadah. Dan itu tidak apa-apa.
 
Bacaan Alkitab di atas berbicara juga tentang persembahan. Kali ini rasul Paulus menulis untuk mengingatkan jemaat di Korintus tentang pentingnya memberi persembahan untuk menopang jemaat di Yerusalem.
 
Jika kita membaca 1 Korintus 11, kita dapat memahami bahwa di antara jemaat Korintus terdapat perbedaan tingkat ekonomi; dari yang punya sampai pada yang tak ada apa-apa. Namun seperti umumnya jemaat-jemaat Kristen mula-mula, kebanyakan anggota jemaat dapat dikategorikan pada ekonomi lemah.
 
Rasul Paulus memahami benar keadaan ini, namun ia mengingatkan mereka tentang prinsip menabur. “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.” Penting untuk digarisbawahi adalah motivasi memberi persembahan bukanlah ketamakan atau ketakutan, melainkan rasa syukur. Hanya dengan demikian kita bisa memahami ungkapan rasul Paulus: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”
 
“Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.
 
“Seperti ada tertulis: 'Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.'
 
“Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.
 
“Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah.”
 
Dari ungkapan surat ini kita dapat belajar bahwa orang Kristen mempunyai tanggung jawab untuk menopang pelayanan. Hal ini tidak hanya dipahami dari segi materi, melainkan juga tenaga, waktu, dan pikiran kreatif anggota jemaat.
 
Namun pada saat yang sama pelayanan adalah untuk membangun dan menopang jemaat sendiri, baik secara internal maupun eksternal. Sebagai salah satu contoh, jemaat-jemaat di lingkungan Gereja Masehi Injili di Minahasa mempunyai program diakonia karitatif, di mana keluarga yang sakit atau berduka mendapat bantuan dana dari gereja. Dalam konteks yang lebih luas, persembahan uang adalah juga untuk menopang pendidikan Kristen, sekolah teologi, penyiaran gereja, dan kehidupan para pelayan (pendeta) dan keluarganya, termasuk program-program pemberdayaan masyarakat.
 
Namun sempitlah pemahaman gereja jika semata-mata tertumpu pada uang yang hanyalah alat pelayanan. Yesus Kristuslah inti pelayanan, persembahan dan pemberitaan jemaat. Karena itu, jadilah keluarga Kristen yang bersyukur, bukan bersungut-sungut; sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.***
Share this article :

0 komentar :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger