"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Eropa. Tampilkan semua postingan

Anwar Ibrahim: Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen

Written By Menara Penjaga on Selasa, 05 November 2013 | 09:02

(foto: santegidiocommunity)

MP --- "Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen dan menentang umat Muslim yang memerangi orang Kristen," demikian diungkapkan Anwar Ibrahim, anggota Parlemen dan pemimpin Partai Oposisi Malaysia, dalam pertemuan internasional yang diselenggarakan di Roma, Italia, 29 September - 1 Oktober 2013. 

Pertemuan tahunan untuk perdamaian yang diselenggarakan oleh komunitas St. Egidio menghadirkan para pemimpin agama dan politik dunia. Tahun ini tema yang diangkat adalah "The Courage to Hope" (keteguhan hati untuk berharap). 

Kekerasan di Timur Tengah semakin meningkat dan umat Kristen banyak kali menjadi sasaran.

Uskup Agung Aljir Ghaleb Bader memperingatkan penurunan jumlah umat Kristen di Timur Tengah dan Afrika Utara setelah munculnya konflik "Arab Spring."

Ia menekankan pentingnya membedakan antara agama dan politik. Menurutnya "politik mengotori agama."

Hidup berdampingan yang telah berabad-abad terjalin mulai dipertanyakan. Budaya kekerasan menggantikan budaya hidup bersama. 

Ia menambahkan, "hubungan antar penduduk di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah harus didasarkan pada kewarga-negaraan bersama, dan bukan pada afiliasi agama."[+]



Christian Post
http://www.christianpost.com/news/faith-justified-violence-and-hatred-condemned-by-muslim-and-christian-leaders-at-intl-peace-meeting-105907/

MidEast Christian News
http://mcndirect.com/showsubject.aspx?id=49722

SantEgidio Community
http://www.santegidiocommunity.org/2013/10/rome-2013-in-name-of-peaceful-revolt-of.html

Refleksi kemerdekaan RI di Vatikan: Syukur dan doa untuk terwujudnya tanah air yang damai, adil dan sejahtera

Written By Menara Penjaga on Kamis, 31 Oktober 2013 | 12:15

Refleksi Kemerdekaan RI ke-68 di Vatikan: Dubes RI untuk Vatikan Budiarman Bahar dan Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran (dok KBRI Vatikan).
VATIKAN (HIDUPKATOLIK.com) - Warga negara Indonesia di Vatikan merefleksikan Kemerdekaan RI ke-68 dan 15 tahun pasca Reformasi. Sekretaris Bidang Informasi, Protokol dan Konsulat KBRI menyampaikan laporannya dari Vatikan.

Keduataaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Vatikan bekerjasama dengan Ikatan Rohaniwan-Rohaniwati Indonesia di Kota Abadi (IRRIKA), menggelar perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-68 dan peringatan 15 tahun Reformasi Indonesia. Hadir dalam perayaan itu President dan Vice President Comunità Religiosa Islam (CoReIs) Italiana, sebuah organisasi komunitas Islam di Italia, Syekh Abdulwahid dan Imam Yahya Pallavicini.

Duta Besar RI untuk Vatikan Budiarman Bahar mengungkapkan, keberhasilan mempertahankan persatuan dan kesatuan Indonesia perlu disyukuri. Sebagai putra-putri Indonesia, seluruh biarawan dan biarawati Indonesia di Italia diajak untuk mensyukuri dan mendoakan terwujudnya tanah air yang damai, adil dan sejahtera dalam negara yang plural dan demokratis. Hal ini sesuai dengan cita-cita kemerdekaan dan reformasi 1998.

Perayaan bertajuk “Merdeka, Reformatif, dan Rukun bersama Pancasila” ini, ditandai dengan Misa yang dipimpin Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Kardinal Jean-Louis Pierre Tauran di Gereja San Anselmo Roma, Rabu, 2/10. Nuansa Indonesia terasa dalam Misa itu. Lantunan lagu rohani dan lagu nasional dalam bahasa Indonesia bergema di seluruh sudut gereja. Selain itu, musik dan tarian tradisional Indonesia turut menambah semarak perayaan: tarian Jai (Flores) mengiringi perarakan pembukaan Misa dan tarian tor tor (Batak) mengiringi persembahan yang salah satunya nasi tumpeng.

Perhelatan itu bertujuan untuk memperkenalkan Indonesia dan mempromosikan peran biarawan-biarawati Indonesia dalam mengemban misi Gereja Katolik. Lebih dari 1.400 biarawan-biarawati Indonesia berada di Italia. Selain itu, perayaan juga merefleksikan keragaman Indonesia sebagai negara plural berdasarkan Pancasila dan didiami umat beragama yang berbeda-beda.

Usai Misa, dilanjutkan dengan resepsi diplomatik yang dihadiri sekitar 300 undangan dari kalangan pejabat Vatikan, para duta besar asing termasuk Duta Besar RI untuk Italia, August Parengkuan dan istri; para pimpinan kongregasi, perwakilan lembaga non-pemerintah yang berkaitan dengan Vatikan serta sejumlah relasi KBRI di Vatikan.


Penulis: Sturmius Teofanus Bate
Judul: Suara Indonesia di Vatikan
24 Oktober 2013

Makna martabat dan eksploitasi anak dan perempuan: Belajar dari pengalaman warga Asia di Inggris

Written By Ray Maleke on Senin, 28 Oktober 2013 | 11:42

INGGRIS, London (MP) --Farhah (bukan nama sebenarnya) berumur 12 tahun ketika ia diperkosa pacarnya yang lebih tua. Pacarnya itu mengambil foto dirinya dan mulai mengancamnya supaya mau melakukan hubungan badan dengan teman-temannya yang lain.

Pada usia 13 tahun, Farhah sering dicecoki alkohol dan narkoba sehingga sejumlah laki-laki dapat melecehkan tubuhnya, tak jarang untuk dibayar.

Kisah Farhah, seorang gadis berlatar-belakang Pakistan, dan sederet anak perempuan lainnya dari komunitas Asia di Inggris, mendapat perhatian luas setelah organisasi Jaringan Perempuan Muslim Inggris mempublikasikan sebuah penelitian berjudul: Unheard Voices: The Sexual Exploitation of Asian Girls and Young Women (suara yang tak terdengar: eksploitasi seksual terhadap anak perempuan dan pemudi Asia).

Laporan itu memuat berbagai tindak kejahatan para pedofil terhadap perempuan berusia 13-14 tahun.

Pada 2010-2011 sejumlah 2409 anak perempuan dan pemudi mengaku menjadi korban eksploitasi seksual dalam kelompok atau geng.

Tragisnya, para pelaku seringkali mempunyai kedekatan dengan para korban.

Laporan itu menunjukkan bahwa para pelaku biasanya berasal dari kelompok suku yang sama, dan para korban seringkali mengalami pelecehan pertama kali di rumah mereka atau oleh seorang “pacar” yang lebih tua dan kemudian oleh teman-teman “pacar” itu.

Ada juga pelaku pelecehan yang merupakan pimpinan keagamaan.



Laporan itu turut menyoroti kasus di mana anak laki-laki dibayar oleh pria yang lebih tua untuk mencari gadis-gadis yang riskan dan memperkenalkannya pada mereka.

Shaista Gohir, penulis laporan ini, mengatakan, “Seorang gadis mengungkapkan pada kami bahwa para supir taksi berkendara di luar sekolah untuk melihat gadis cantik, memperhatikan jalan pulang mereka, kemudian menelpon adik atau sepupu yang seusia untuk menemuinya di jalan, seolah-olah sebuah kebetulan, dan mengajaknya berbincang, mencari kenal, dan berusaha menjadi pacarnya...”

Alkohol dan narkoba umumnya digunakan untuk memastikan para korban tidak ingat telah dilecehkan sehingga tak melapor.

86% kasus melibatkan pria yang bergerak dalam kelompok, ada juga yang mengurusi kencan on-line.

Laporan ini menunjukkan sejumlah faktor yang melanggengkan tindak kejahatan pelecehan anak dan perempuan.

Yang pertama adalah ancaman (blackmail), yaitu para pelaku kejahatan berupaya untuk mengontrol korban dengan mengancam akan mempermalukannya di tengah masyarakat. Hal ini diperparah oleh kurangnya kesadaran masyarakat tentang adanya pelecehan anak.

Menurut Shaista, meningkatkan kesadaran masyarakat, orangtua – dan anak laki-laki – adalah kunci untuk menghadapi masalah ini.

Jelas kita tidak ingin anak laki-laki menjadi pedofil atau predator seksual,” ungkap Shaista mengingatkan bahwa mereka perlu diperingatkan mengenai hal ini.

Masyarakat perlu memahami modus operandi tindak kejahatan terorganisir yang menargetkan anak dan perempuan.

Menjaga rahasia (demi martabat) dengan tidak melaporkan tindakan pelecehan seksual akan membuat pelaku kejahatan ini bertindak lebih percaya diri.

Menurut Shaista kejahatan ini akan surut jika para pelaku dihukum dan masyarakat menyuarakan betapa jahatnya praktek ini.

Kenyataannya masih kurang dari harapan. Tapi upaya ke arah itu sudah mulai bertumbuh.

Jelas bahwa tidak boleh ada yang dipermalukan karena menjadi korban suatu tindak kejahatan.

Orang yang mempermalukan korban kejahatan adalah pengecut yang menghindar dari melakukan konfrontasi dengan para pelaku tindakan kriminal. Hal ini dilakukan dengan kembali menjadikan korban kejahatan menjadi korban stigma, marginalisasi (peminggiran), atau tindakan kekerasan.

Penting menjadi perhatian bagi para perempuan dan anak, serta masyarakat pada umumnya, supaya dapat mengambil tindakan pencegahan termasuk pembelaan terhadap mereka yang menjadi korban, supaya tidak terus diperbudak oleh para kriminal dan dikungkung dalam tindakan masyarakat yang tidak adil.

Masyarakat/komunitas hidup bersama perlu menjadi jaringan hidup yang mendampingi, melindungi, dan membantu pemulihan para korban kejahatan. [+]


Sumber
http://www.aljazeera.com/indepth/features/2013/09/report-rising-sexual-abuse-uk-minorities-2013926154815405654.html

 

Perdagangan manusia dan perbudakan modern di Inggris meningkat

Written By Menara Penjaga on Jumat, 18 Oktober 2013 | 11:37

INGGRIS, London -- Jumlah kasus perdagangan manusia yang ditemukan di Inggris meningkat sebesar 25% pada tahun lalu, menurut angka pemerintah.
Perdagangan manusia dari Albania meningkat 300%, Polandia naik 148% dan Lithuania naik 171%.
Korban sering diperdagangkan untuk dieksploitasi secara seksual, melakukan pekerjaan konstruksi atau dipaksa mengemis.
Sebuah laporan baru oleh kelompok menteri-menteri antar-departemen tentang perdagangan manusia mengungkapkan bahwa 1.186 korban dirujuk ke pihak berwenang pada 2012.
Angka ini jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan 946 korban pada tahun 2011.
Laporan tersebut mengungkapkan jumlah terbesar korban perdagangan manusia berasal dari Nigeria, Vietnam, Albania, Rumania, dan Cina.
Para korban dibawa ke Inggris untuk melakukan berbagai pekerjaan seperti menjadi budak pekerja rumah tangga dan bekerja di ladang ganja.
Sementara para perempuan dari Eropa timur kebanyakan menjadi pelacur dan para lelaki bekerja sebagai buruh kasar di bidang konstruksi.
Perbudakan masih terus terjadi di dunia modern. Laporan "Indeks Perbudakan Global" terakhir menyebutkan Klikperbudakan paling tinggi terjadi di Mauritania. 
Inggris bermaksud untuk memperberat hukuman terhadap pelaku human trafficking. (BBC)



Facebook telah menjadi salah satu media sosial yang dimanfaatkan untuk merekrut, menargetkan korban, sekaligus memasarkan "jasa" (baca: manusia). 

Jangan menemui orang yang berkenalan di Facebook, sekalipun terkesan 'baik'. Teliti sebelum menambahkan seseorang menjadi 'teman' Anda. Hindari menaruh identitas dan alamat lengkap di profile Anda, terutama jika setting privacy Anda dapat dilihat oleh umum.


Media-gate dan wawancara Paus Fransiskus: Mengapa perlu kritis ketika membaca pemberitaan media

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 21 September 2013 | 11:48


VATIKAN (MP) -- Popularitas sebuah media berita bukan jaminan bahwa sajian berita media itu selalu dapat dipercaya. Hal ini bukan hanya menyangkut politik, tapi juga masalah keagamaan.

We cannot insist only on issues related to abortion, gay marriage and the use of contraceptive methods. This is not possible. I have not spoken much about these things, and I was reprimanded for that. But when we speak about these issues, we have to talk about them in a context. The teaching of the church, for that matter, is clear and I am a son of the church, but it is not necessary to talk about these issues all the time...”
Kita tidak boleh hanya terus-menerus berbicara tentang aborsi, pernikahan sesama jenis dan penggunaan metode kontrasepsi. Hal ini tidak mungkin. Saya tidak banyak bicara tentang hal-hal ini, dan saya diomeli karenanya. Tetapi ketika kita berbicara tentang persoalan-persoalan ini, kita harus membicarakannya dalam sebuah konteks. Ajaran gereja, untuk hal ini, adalah jelas dan saya adalah seorang putera gereja, tetapi adalah hal yang tak perlu membicarakan hal ini setiap waktu..."
The church’s pastoral ministry cannot be obsessed with the transmission of a disjointed multitude of doctrines to be imposed insistently...”
Pelayanan pastoral gereja tidak bisa terobsesi dengan transmisi begitu banyak ajaran yang saling terpisah untuk dikenakan terus-menerus...
Proclamation in a missionary style focuses on the essentials, on the necessary things: this is also what fascinates and attracts more, what makes the heart burn, as it did for the disciples at Emmaus. We have to find a new balance;
Proklamasi dengan gaya [pendekatan] misionaris berpusat pada hal-hal mendasar, pada hal-hal yang diperlukan: ini juga adalah yang mempesona dan menarik lebih banyak [orang], hal yang membakar hati, seperti yang dialami para murid di Emaus. Kita harus menemukan keseimbangan baru;...
[continue]
otherwise even the moral edifice of the church is likely to fall like a house of cards, losing the freshness and fragrance of the Gospel. The proposal of the Gospel must be more simple, profound, radiant. It is from this proposition that the moral consequences then flow.
[sambungan]
jika tidak bahkan bangunan moral gereja kemungkinan akan runtuh seperti rumah kartu, kehilangan kesegaran dan keharuman Injil. Tawaran Injil harus lebih sederhana, mendalam, berseri-seri. Dari dalil inilah konsekuensi moral kemudian mengalir.

"...But the proclamation of the saving love of God comes before moral and religious imperatives..."
...Akan tetapi proklamasi kasih Allah yang menyelamatkan itu hadir mendahului keharusan moral dan agama...
"...The message of the Gospel, therefore, is not to be reduced to some aspects that, although relevant, on their own do not show the heart of the message of Jesus Christ.”
Pesan Injil, karena itu, tidaklah untuk dikurangi menjadi aspek-aspek tertentu, yang sekalipun relevan, namun dalam dirinya tidak menunjukkan inti dari pesan Yesus Kristus.

Demikian kutipan sebagian dari transkrip wawancara Paus Fransiskus dengan pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh TheNational Catholic Review America.

Namun berbeda dari apa yang diungkapkan pemimpin Gereja Katolik ini, judul berita yang muncul di New York Times (NYT) adalah “Pope Says Church Is ‘Obsessed’ With Gays, Abortion and Birth Control” (Paus mengatakan Gereja 'Terobsesi' dengan [isu] Gay, Aborsi dan [metode] Pencegah Kehamilan).

Di dalam artikel itu Paus Fransiskus digambarkan sebagai sosok yang berbeda dari dua pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI mengenai isu-isu moral tersebut.

Pemberitaan NYT mengulang kembali tindakan corrupted-jurnalism (jurnalisme korup) terhadap pernyataan Paus Fransiskus Juli lalu; yang sama dengan kasus ini, mengarahkan berita pada dukungan terhadap praktek-praktek yang ditentang Gereja Katolik tersebut.

Dan hasilnya adalah organisasi seperti NARAL Pro-Choice Amerika (pendukung tindak pembunuhan bayi dalam kandungan) yang mempos gambar ucapan terima kasih kepada Paus Fransiskus di laman Facebook dan Twitternya. 

Hal yang tentunya mereka sesali karena sehari setelah berita menyesatkan itu, Paus menyatakan pada Federasi Internasional Asosiasi Medis Katolik bahwa:

“Setiap anak yang belum dilahirkan, sekalipun secara tidak adil dihukum lewat aborsi, memiliki wajah Tuhan, yang bahkan sebelum kelahiran-Nya, dan kemudian sesudah kelahiran-Nya, mengalami penolakan dunia.” (LSN)

Praktek media sekaliber NYT adalah hal yang sangat disesali, karena tidak hanya menunjukkan kepentingan dalam pemberitaan, namun juga telah memanipulasi berita untuk mendukung agendanya.

Pernyataan Paus yang dikutip media di atas memang cukup provokatif untuk dimanipulasi menjadi sebuah berita sensasi yang mengundang keingin-tahuan pembaca.

Namun pokok-pokok penting dari wawancara dengan Paus tersebut menurut Christianity Today adalah:
Perlunya kerendahan hati (bahwa kita semua manusia berdosa dan perlu anugerah Allah);
Perlunya berada dalam komunitas orang percaya;
Kepekaan dalam mencari kehendak Tuhan;
dan pentingnya peran perempuan dalam Gereja.  [+]


Kutipan warna hijau ditambahkan (21/9/13). 

Homoseksualisme dan masalah seputar pernikahan, bisnis, dan Olimpiade 2014

Written By Menara Penjaga on Rabu, 18 September 2013 | 03:35

Logo Gereja Skotlandia.
SKOTLANDIA: Berhenti memberkati pernikahan?

Gereja Skotlandia sedang mempertimbangkan kemungkinan berhenti memberkati pernikahan untuk menghindari tuntutan hukum.

Hal ini mengemuka setelah Parlemen Skotlandia meluluskan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang turut memuat peraturan tentang legalitas 'pernikahan' sejenis.

“Bayangan tentang tahun-tahun melalui tuntutan hukum yang melelahkan, yang juga sangat mahal, adalah sungguh-sungguh memprihatinkan,” ungkap Pdt. Alan Hamilton dari komite masalah hukum Gereja Skotlandia.

Ia juga mengungkapkan bahwa RUU ini, jika disetujui, akan secara fundamental mengubah institusi tersebut dalam budaya Skots.

Ungkapan serupa datang dari Gereja Katolik Skotlandia.

“RUU ini merupakan tantangan yang paling serius terhadap kebebasan beragama di Skotlandia sepanjang yang dapat diingat.

“Gereja-gereja dan badan-badan keagamaan akan rentan terhadap tantangan dan serangan hukum. Memaksa masyarakat menerima pernikahan sesama jenis di tengah penolakan mayoritas adalah tidak perlu, tak diinginkan, dan tidak demokratis,” ungkap jurubicaranya kepada The Scotsman.

Humanist Society Scotland (Masyarakat Humanis Skotlandia) adalah salah satu pendukung RUU ini.

Organisasi ini menyatakan siap mengakomodasi sikap “diskriminatif,” demikian tanggapannya menanggapi kemungkinan adanya “pasal hati nurani” yang memungkinkan seseorang yang berkeberatan menolak memberkati 'pernikahan' sejenis. (WND)






Toko kue yang terpaksa ditutup.
AMERIKA SERIKAT: Toko kue terpaksa ditutup

Di Amerika Serikat, sebuah toko usaha kue terpaksa ditutup karena pemiliknya menolak membuat kue 'pernikahan' dua perempuan pelaku hubungan sejenis.

Aaron dan Melissa Klein dianggap tidak mematuhi peraturan “non-diskriminasi” yang ditetapkan pemerintah negara bagian Oregon, yang di antaranya mengatakan tidak boleh ada pembedaan pelayanan berdasarkan “orientasi seksual.” Kategori ini memang baru, tapi sudah menyebar luas, arti bebasnya adalah "citarasa seksual seseorang."

Menurut status Facebook pemiliknya, Sweet Cakes by Melissa terpaksa ditutup setelah beberapa bulan diteror oleh para aktivis dan simpatisan yang tidak menerima keyakinan keluarga ini bahwa mereka percaya pernikahan itu adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan karena itu menolak membantu “merayakan sebuah komitmen dosa seumur hidup.” 

Jika pelaku hubungan sejenis itu meminta dibuatkan kue ulang tahun, mereka [pemilik] tidak akan keberatan, demikian diungkapkan oleh Matt Barber dari Liberty Councel Action dalam tulisannya. Ia membandingkan kasus ini dengan meminta usaha katering Muslim untuk membuatkan babi panggang.

Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya,” demikian status di halaman facebook usaha kue itu.





Maskot Olimpiade Musim Dingin ke-22 di
Rusia.
RUSIA: Melindungi anak-anak

Sementara itu, mendekati pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2014, tuan rumah Rusia tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menyambut para tamu dan delegasi internasional, tetapi juga kemungkinan aksi melanggar ketertiban umum dari para aktivis homoseksualisme.

Rusia telah menjadi target aktivis homoseksualisme setelah menetapkan hukum yang melarang promosi homoseksualitas, dan tingkah laku seksual menyimpang lainnya, terhadap anak-anak. Menurut LSN: Reuters, AP, New York Times, BBC telah mengeluhkan bahwa peraturan ini adalah sebuah bentuk diskriminasi terhadap pelaku hubungan sejenis.

Para pelaku hubungan sejenis memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya di Rusia, karena itu LSN menilai niat pemerintah adalah benar-benar melindungi anak-anak dan bukan mengkriminalkan para pelakunya. Alasannya, tulis LSN, resiko tinggi HIV/AIDS dan kesehatan lainnya. 


Namun, sebuah berita yang tidak dicover di media-media arus utama, dua tim Olimpiade dari dua negara, bekerja sama dengan jaringan aktivis global dan internasional diplomat yang tidak disebutkan namanya berencana akan mengolok-ngolok peraturan itu di tengah pelaksanaan Olimpiade 2014.

Terkait dengan isu ini, Yelena Isinbayeva, atlet lompat galah asal Rusia pemenang medali emas Kejuaraan Dunia IAAF 2013, mengungkapkan bahwa para tamu seharusnya menghormati peraturan yang melarang propaganda praktek homoseks kepada anak-anak, demikian dilaporkan Interfax.

Menanggapi kritik media yang diarahkan kepada Isinbayeva, ketua Departemen Informasi Patriakat Moskow, Vladimir Legoyda, di antaranya mengungkapkan, “Gereja melihat homoseksualitas sebagai dosa, yang bukan berarti kebencian terhadap pelaku yang melakukan dosa ini tetapi menolak propaganda atau dukungan terhadap hubungan seksual demikian. Siapa pun, apakah seorang atlet, politikus, atau seorang ibu rumah tangga, orang percaya atau bukan, mempunyai hak untuk menerima atau menolak posisi ini.”

“Umat [Gereja] Ortodoks, anggota agama-agama tradisional di Rusia dan banyak orang non-religius menentang propaganda hubungan sejenis. Mereka didukung oleh banyak orang Kristen, Yahudi, Muslim di Barat, dan ada media dunia yang secara keras kepala mencoba untuk menciptakan gambaran yang membelokkan kenyataan ini,” lanjutnya.

Barangkali, mereka yang menentang ini yang tidak takut disebut diskriminatif untuk alasan yang tepat. [+]

Perayaan pembaptisan Rusia ke-1025: Kompas moral

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 03 Agustus 2013 | 22:17

Sebuah lukisan dinding menggambarkan pembaptisan rakyat Rusia di Sungai
Dneipr, Kiev oleh St. Vladimir.
RUSIA, Moskow (MP) – Gereja Kristen Ortodoks Rusia memperingati ulang tahun ke-1025 “Pembaptisan Rusia” – yaitu diterimanya kekristenan di Rusia sekaligus pendirian Gereja Kristen Ortodoks oleh Pangeran Vladimir tahun 988 Masehi di Kiev.

Peringatan pada hari Kamis (1 Agustus) lalu ini diselenggarakan di Moskow, ibukota Rusia, dan dihadiri oleh 15 gereja dari kalangan Kristen Ortodoks.

Dalam sambutannya, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill, mengungkapkan bahwa upaya untuk mengusir orang Kristen dari Suriah akan berdampak pada “bencana peradaban.”

Para pemimpin gereja-gereja Ortodoks terus mengkritik kurangnya perhatian pemimpin AS dan negara-negara Barat lainnya terhadap situasi di Timur Tengah.

Mereka juga mengecam semakin meningkatnya penekanan dari pihak sekularis terhadap kemerdekaan Kristen di negara-negara seperti di Inggris, di mana 'pernikahan' sejenis baru diadakan. (LSN)


Presiden Rusia, Vladimir Putin. 

Mencegah konflik antar budaya dan agama

Perayaan itu dihadiri oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang dalam sambutannya mengekspresikan kekuatiran melihat “di banyak kawasan di dunia, terutama di Timur Tengah dan di Afrika Utara, ketegangan antar agama sedang meningkat, dan hak-hak pemeluk agama minoritas dilanggar,” tak terkecuali penganut Kristen Ortodoks.

Ia memuji kerjasama antara Gereja Ortodoks dan negara Rusia dengan mengatakan bahwa keduanya merupakan rekan dan kolega dalam mencari jalan keluar berbagai masalah domestik dan internasional.

"Hal yang sangat penting saat ini adalah berupaya untuk mencegah konflik antar budaya dan antar agama, yang sarat dengan gejolak yang paling serius," ungkapnya.

Presiden Putin menambahkan bahwa Gereja Ortodoks memberi masyarakat Rusia kompas moral ketika ada begitu banyak orang mencari pertolongan. "Saat ini ketika masyarakat sekali lagi mencari dukungan moral, jutaan rekan-rekan sebangsa kita mendapatinya dalam agama," katanya.  "Mereka percaya kata-kata pastoral yang bijaksana dari Gereja Ortodoks Rusia."

Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill.

Warisan budaya dan agama

Masih dalam suasana perayaan itu, mengikuti sebuah resepsi di Kiev, Presiden Rusia, Patriark Moskow, bersama Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, mengambil bagian dalam sebuah pelayanan doa bersama.

Dalam kesempatan itu Patriark Kirill menekankan warisan budaya dan agama di antara bangsa-bangsa Slavia.

"Nenek moyang kita mengadopsi iman Kristen dan, bersama dengan itu, sistem nilai dan moral... yang tidak bisa dihancurkan oleh pergolakan sejarah," katanya. Ungkapan ini menunjuk pada masa pemerintahan komunis Rusia.

Patriark Kirill juga mengingatkan tentang trend 'pernikahan' sesama jenis yang sedang menyapu dunia Barat. "Ini adalah gejala apokaliptik yang sangat berbahaya, dan kita harus melakukan apa yang bisa sehingga dosa tidak dibenarkan oleh hukum negara di Tanah Suci Rus, karena ini berarti bahwa orang mulai menempuh jalan penghancuran diri sendiri."

Negara Federasi Rusia, dengan didukung penuh oleh Gereja Ortodoks, baru-baru ini menetapkan UU yang melarang promosi praktek hubungan sejenis terhadap anak-anak. Sebuah langkah yang sangat dikecam oleh sejumlah negara Barat karena dicap “kebencian.” (+)




Pemimpin Gereja Katolik ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam

Written By Menara Penjaga on Kamis, 11 Juli 2013 | 11:15

Paus Fransiskus ketika membawakan pesan dalam kunjungannya di
Pulau Lampedusa (Youtube).

ITALIA, Roma (MP) – Dalam kunjungannya ke Pulau Lampedusa, Italia, Paus Fransiskus mengucapkan selamat memulai ibadah puasa bagi umat Islam.

Membangkitkan hati nurani

Dalam misa yang dihadiri oleh sekitar 15.000 umat Katolik setempat, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Lampedusa adalah untuk “membangkitkan hati nurani.”

Pulau Lampedusa merupakan gerbang masuk para imigran dari Afrika Utara yang ingin mencari hidup di Eropa. Ribuan orang tiba di pulau ini setiap tahunnya.

Tak sedikit yang meninggal karena tenggelam atau mengalami dehidrasi ketika berjubelan menyeberang dengan perahu.


Tanggung jawab persaudaraan

Ketika saya mendengar beberapa minggu yang lalu bahwa kembali sejumlah imigran tenggelam, berita itu seperti duri yang menusuk hati saya,” ungkapnya dalam kesempatan itu.

Pemimpin Gereja Katolik ini sedang berbicara tentang peristiwa tenggelamnya paling kurang 10 imigran di dekat Malta, sedang sebuah kapal nelayan Tunisia dituduh menolak untuk menyelamatkan mereka.

Kita telah kehilangan tanggung jawab persaudaraan kita," ungkap pemimpin Gereja Katolik ini.

Budaya berkelebihan telah membuat kita tidak peka terhadap kebutuhan orang lain. Kita hidup dalam sebuah balon dari busa sabun, suatu situasi yang membuat kita bersikap tak peduli terhadap orang lain, dan memang hal ini membawa kita pada suatu globalisasi ketidak-pedulian.” 

Paus Fransiskus bertemu muka dengan sekitar 50 imigran di pulau itu. Ia kemudian naik sebuah perahu untuk menaruh karangan bunga sebagai peringatan atas para imigran yang meninggal.

"Saya menyampaikan salam tulus bagi para imigran Muslim yang terkasih, yang malam ini (Senin), akan memulai puasa Ramadhan, dan berharap mereka mendapat berkat rohani yang berlimpah," ungkap kata Paus Fransiskus dalam pesannya.

"Gereja [Katolik] berada dekat dengan Anda dalam upaya pencarian Anda untuk kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga Anda."

Ia mengakhiri pesannya dengan mengatakan o'scia!, yang dalam bahasa setempat berarti “nafasku.” Ungkapan ini diucapkan oleh masyarakat lokal sebagai sebuah ucapan salam yang bersahabat.

Dokumen Konsili Vatikan II tentang Islam

Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah berupaya membangun hubungan baik dengan pemeluk agama Islam.

Dalam salah satu dokumen yang dirumuskan tahun 1964 itu dikatakan:

Kepada umat Islam juga Gereja melihat dengan penghargaan. Mereka menyembah satu Allah yang hidup, kekal, penuh kasih dan kuasa, pencipta langit dan bumi dan yang berbicara pada manusia. Mereka berupaya untuk tunduk dengan segenap hati terhadap aturan-aturan-Nya yang sulit dipahami, sama seperti Abraham, seorang yang dalam iman Islam dengan senang hati dihubungkan dengan mereka.

Sekalipun mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, mereka menghormati-Nya sebagai seorang nabi. Mereka juga menghormati Maria, ibu-Nya perawan suci; ada kalanya mereka berseru kepadanya juga dengan pengabdian yang sungguh.

Di samping itu, mereka menantikan hari penghakiman di mana Allah akan memberikan kepada setiap manusia pahalanya setelah membangkitkannya. Itu sebabnya, mereka menjunjung hidup moral dan menyembah Allah, terutama melalui doa, sedekah, dan puasa.

Sekalipun dalam beberapa abad terjadi perselisihan dan ketegangan antara umat Kristen dan umat Islam, Konsili ini mendorong semua untuk melupakan masa lalu dan dengan tulus berusaha keras untuk menemukan saling pengertian antara keduanya.

Atas nama umat manusia, biarlah keduanya bersama-sama mengupayakan untuk menjaga dan membina keadilan sosial, nilai-nilai moral, kedamaian, dan kemerdekaan.
(Walter M. Abbot, The Comments of Vatican II [New York: Herder and Herder, 1966], 663; terjemahan MP). (+)
(ummid/RomeReports/Youtube/MP)


Pengakuan dosa: Gereja Inggris secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas kasus pelecehan anak

Written By Menara Penjaga on Senin, 08 Juli 2013 | 12:47

Uskup Agung Centerbury,
Justin Welby.
INGGRIS, London (MP) — Gereja Inggris secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas kasus pelecehan anak di masa lalu yang dilakukan sejumlah oknum imam Anglikan dan atas kegagalan gereja itu untuk mencegah hal tersebut.

Pengakuan dosa ini diikuti dengan komitmen untuk memperketat prosedur gereja dalam melindungi anak-anak. 

Sinode Umum Gereja Inggris sepakat untuk membuat permintaan maaf resmi pada pertemuan di kota York di Inggris utara. Pertemuan itu diisi dengan hening beberapa saat setelah sebuah pernyataan dari kelompok pendukung dan pendamping korban pelecehan dibacakan. 

"Kita gagal besar," kata Uskup Southwell dan Nottingham, Paul Butler, saat membuka pertemuan, Minggu (7 Juli). "Kita tidak bisa melakukan hal lain selain mengakui kegagalan kita. Kita salah. Kegagalan kita merupakan dosa seperti halnya para pelaku [kejahatan ini] berdosa," ungkap Uskup Butler.

Keputusan ini diambil setelah sebuah laporan final diterbitkan awal tahun ini tentang skandal pelecehan terhadap sejumlah anak di keuskupan Chichester di Inggris selatan. 

Tiga mantan imam Gereja Inggris di keuskupan itu telah didakwa dengan pelanggaran seksual terhadap anak-anak. Kekuasaan dan kewenangan keuskupan pun telah diambil alih oleh Uskup Agung Canterbury, Justin Welby, kepala Gereja Anglikan.   

Suatu hal yang ironis bahwa kasus pelecehan terhadap anak-anak merupakan sebuah isu yang telah mengguncang berbagai denominasi gereja. Di antaranya yang paling menonjol adalah di kalangan Gereja Katolik. 

Bulan April lalu Paus Fransiskus meminta supaya para pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak ditindak tegas. 


Sejumlah gereja di Amerika Serikat telah mewajibkan para guru sekolah minggu dan mereka yang bekerja di antara anak-anak untuk mengikuti pembekalan dan pelatihan dalam rangka mencegah tindakan pelecehan yang telah "menodai kesaksian Kristen di abad 21." (Kompas/FN/MP)

Ormas Yahudi Shomrim bantu jaga rumah ibadah Islam di Inggris

Written By Menara Penjaga on Rabu, 26 Juni 2013 | 23:11

Perbincangan antara pengurus masjid Stoke Newington dan Shomrim
menghasilkan kerja sama untuk saling menjaga kedua komunitas di Hackney. 
INGGRIS, London (MP) -- Sebuah komunitas Muslim di Hackney, Inggris, mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan pengamanan ekstra setelah sebuah pusat kebudayaan Somalia dibakar dan ditemukannya bahan peledak rakitan yang ditaruh di sebuah masjid.

Hal ini menurut laporan media bisa merupakan respon main hakim sendiri atas pembunuhan brutal Lee Rigby, tentara Inggris, yang dibunuh di Woolwich, London, bulan lalu.

Sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) Yahudi di London menyatakan ingin membantu komunitas tetangga Muslimnya melindungi masjid mereka.

Shomrim - yang berarti “penjaga” dalam bahasa Ibrani - terdiri dari orang-orang Yahudi Ortodoks yang dilatih kepolisian yang memakai lencana dan seragam dan melakukan patroli 24 jam sehari.

Awalnya didirikan dalam rangka memerangi serangan anti-Semit, organisasi ini telah menjawab permintaan komunitas Muslim untuk memasukkan masjid lokal dan bangunan lainnya dalam patroli mereka.

Komunitas Muslim mendekati seorang pemimpin partai lokal, Ian Sharer, menanyakan apa yang bisa mereka lakukan untuk meningkatkan pengamanan. Sharer, yang adalah seorang Yahudi Ortodoks, menghubungi Shomrim untuk menanyakan apakah mereka bisa membantu.

Tempat-tempat yang dikaitkan dengan umat Muslim sedang menjadi target akhir-akhir ini. “Ini adalah situasi yang serius, jadi saya pikir, mengapa tidak menghubungi teman-teman saya di Shomrin? Kami ingin melihat apakah kami bisa menawarkan penjagaan dan pelatihan keamanan,” ungkap Sharer kepada the Jewish Chronicle.

The Huffington Post UK menjelaskan: "Kelompok relawan ini, mirip Neighbourhood Watch (penjaga lingkungan), dilatih untuk melacak dan menahan secara aman tersangka sampai polisi tiba, dan menjalankan telpon hotline 24 jam yang menerima laporan suatu serangan."

Eusoof Ameerat juga merupakan anggota kelompok penasihat independen kepolisian Hackney mengatakan, "Ini adalah tawaran yang besar. Kami tidak hanya ingin menerima, kami ingin bekerja sama sebagai sebuah tim, bukan hanya menerima dukungan mereka, dan mencoba untuk saling mendukung satu dengan yang lain." (TheBlaze)

Penggemar Harley-Davidson ikuti misa di Vatikan

Written By Menara Penjaga on Kamis, 20 Juni 2013 | 18:53

Paus Fransiskus memberkati para pengendara motor
(foto: motorsportsnewswire.wordpress.com)
VATIKAN, (BBC) -- Ribuan pengendara sepeda motor Harley-Davidson mengikuti misa di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, pada Minggu (16/06) yang dipimpin oleh Paus Fransiskus.

Dengan mengenakan jaket kulit dan atribut Harley-Davidson, mereka mengikuti misa yang juga terbuka bagi umum itu.

Namun suasana kidmat menjelang misa berubah ketika Paus Fransiskus menyambut mereka. Deru mesin sepeda motor langsung terdengar dan menenggelamkan pembacaan doa.

"Saya menyambut berbagai peserta dalam pertemuan sepeda motor Harley-Davidson," kata Paus Fransiskus.

Dengan berdiri di atas mobil terbuka, Paus Fransiskus menuju jalan utama menuju Santo Petrus. Ia kemudian memberikan pemberkatan kepada jemaat dan melewati deretan sepeda motor Harley-Davidson.

Kehadiran pengendara dan sepeda motor Harley-Davidson di Vatikan merupakan bagian dari parade perayaan Harley Davidson yang ke-110.

Begitu misa di mulai, mereka duduk bersama puluhan ribu jemaat Katolik yang hadir di lapangan yang sama dalam rangka mengusung agenda menentang aborsi [pembunuhan bayi].


Paus Fransiskus: Tindak tegas pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak

Written By Ray Maleke on Kamis, 11 April 2013 | 18:53

Paus Fransiskus menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI (foto: Reuters).
VATIKAN, Vatican City (MP) -- Paus Fransiskus telah meminta Gereja Katolik untuk "bertindak tegas" dalam membasmi tindakan pelecehan seksual terhadap anak-anak yang dilakukan oleh imam tertentu dan memastikan pelakunya dihukum, demikian pernyataan dari Vatikan seperti diberitakan Al-jazeera (4/5).

Paus meminta Uskup Agung Gerhard Ludwig Mueller, kepala departemen Vatikan yang menangani tindakan pelecehan seksual, untuk "dengan tekad kuat melakukan tindakan" dalam kasus-kasus pelecehan terhadap anak-anak, demikian pernyataan yang dikeluarkan pada hari Jumat itu.

Paus Fransiskus, yang terpilih pada tanggal 13 Maret untuk menggantikan Paus Emeritus Benediktus XVI, meminta agar upaya untuk melindungi anak-anak ditingkatkan dan memberi bantuan kepada mereka yang telah menjadi korban. 

Dalam pertemuan dengan Uskup Mueller, Paus mengatakan bahwa memerangi pelecehan itu penting "bagi Gereja dan kredibilitas Gereja." 

Ini adalah pernyataan resmi pertama Paus mengenai masalah ini.

Kredibilitas Gereja Katolik sangat dirusak oleh imam-imam tertentu yang kemungkinan menyusup dan melecehkan anak-anak di paroki mereka. Hal ini diperparah oleh para atasan mereka yang menutupi skandal atau melindungi mereka dengan memindahkan mereka ke paroki yang lain.

Pernyataan dari kepausan ini menunjukkan kesamaan kebijakan antara Paus yang baru dengan Paus Emeritus yang adalah paus pertama yang meminta maaf kepada korban pelecehan dan menyerukan nol toleransi terhadap para imam yang melakukan tindakan pelecehan seksual.***

(edit nama Paus 6 Juni 2013). 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger