"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gereja dan Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja dan Media. Tampilkan semua postingan

Media-gate dan wawancara Paus Fransiskus: Mengapa perlu kritis ketika membaca pemberitaan media

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 21 September 2013 | 11:48


VATIKAN (MP) -- Popularitas sebuah media berita bukan jaminan bahwa sajian berita media itu selalu dapat dipercaya. Hal ini bukan hanya menyangkut politik, tapi juga masalah keagamaan.

“We cannot insist only on issues related to abortion, gay marriage and the use of contraceptive methods. This is not possible. I have not spoken much about these things, and I was reprimanded for that. But when we speak about these issues, we have to talk about them in a context. The teaching of the church, for that matter, is clear and I am a son of the church, but it is not necessary to talk about these issues all the time...”
Kita tidak boleh hanya terus-menerus berbicara tentang aborsi, pernikahan sesama jenis dan penggunaan metode kontrasepsi. Hal ini tidak mungkin. Saya tidak banyak bicara tentang hal-hal ini, dan saya diomeli karenanya. Tetapi ketika kita berbicara tentang persoalan-persoalan ini, kita harus membicarakannya dalam sebuah konteks. Ajaran gereja, untuk hal ini, adalah jelas dan saya adalah seorang putera gereja, tetapi adalah hal yang tak perlu membicarakan hal ini setiap waktu..."
“The church’s pastoral ministry cannot be obsessed with the transmission of a disjointed multitude of doctrines to be imposed insistently...”
Pelayanan pastoral gereja tidak bisa terobsesi dengan transmisi begitu banyak ajaran yang saling terpisah untuk dikenakan terus-menerus...
Proclamation in a missionary style focuses on the essentials, on the necessary things: this is also what fascinates and attracts more, what makes the heart burn, as it did for the disciples at Emmaus. We have to find a new balance;
Proklamasi dengan gaya [pendekatan] misionaris berpusat pada hal-hal mendasar, pada hal-hal yang diperlukan: ini juga adalah yang mempesona dan menarik lebih banyak [orang], hal yang membakar hati, seperti yang dialami para murid di Emaus. Kita harus menemukan keseimbangan baru;...
[continue]
otherwise even the moral edifice of the church is likely to fall like a house of cards, losing the freshness and fragrance of the Gospel. The proposal of the Gospel must be more simple, profound, radiant. It is from this proposition that the moral consequences then flow.
[sambungan]
jika tidak bahkan bangunan moral gereja kemungkinan akan runtuh seperti rumah kartu, kehilangan kesegaran dan keharuman Injil. Tawaran Injil harus lebih sederhana, mendalam, berseri-seri. Dari dalil inilah konsekuensi moral kemudian mengalir.

"...But the proclamation of the saving love of God comes before moral and religious imperatives..."
...Akan tetapi proklamasi kasih Allah yang menyelamatkan itu hadir mendahului keharusan moral dan agama...
"...The message of the Gospel, therefore, is not to be reduced to some aspects that, although relevant, on their own do not show the heart of the message of Jesus Christ.”
Pesan Injil, karena itu, tidaklah untuk dikurangi menjadi aspek-aspek tertentu, yang sekalipun relevan, namun dalam dirinya tidak menunjukkan inti dari pesan Yesus Kristus.

Demikian kutipan sebagian dari transkrip wawancara Paus Fransiskus dengan pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh TheNational Catholic Review America.

Namun berbeda dari apa yang diungkapkan pemimpin Gereja Katolik ini, judul berita yang muncul di New York Times (NYT) adalah “Pope Says Church Is ‘Obsessed’ With Gays, Abortion and Birth Control” (Paus mengatakan Gereja 'Terobsesi' dengan [isu] Gay, Aborsi dan [metode] Pencegah Kehamilan).

Di dalam artikel itu Paus Fransiskus digambarkan sebagai sosok yang berbeda dari dua pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI mengenai isu-isu moral tersebut.

Pemberitaan NYT mengulang kembali tindakan corrupted-jurnalism (jurnalisme korup) terhadap pernyataan Paus Fransiskus Juli lalu; yang sama dengan kasus ini, mengarahkan berita pada dukungan terhadap praktek-praktek yang ditentang Gereja Katolik tersebut.

Dan hasilnya adalah organisasi seperti NARAL Pro-Choice Amerika (pendukung tindak pembunuhan bayi dalam kandungan) yang mempos gambar ucapan terima kasih kepada Paus Fransiskus di laman Facebook dan Twitternya. 

Hal yang tentunya mereka sesali karena sehari setelah berita menyesatkan itu, Paus menyatakan pada Federasi Internasional Asosiasi Medis Katolik bahwa:

“Setiap anak yang belum dilahirkan, sekalipun secara tidak adil dihukum lewat aborsi, memiliki wajah Tuhan, yang bahkan sebelum kelahiran-Nya, dan kemudian sesudah kelahiran-Nya, mengalami penolakan dunia.” (LSN)

Praktek media sekaliber NYT adalah hal yang sangat disesali, karena tidak hanya menunjukkan kepentingan dalam pemberitaan, namun juga telah memanipulasi berita untuk mendukung agendanya.

Pernyataan Paus yang dikutip media di atas memang cukup provokatif untuk dimanipulasi menjadi sebuah berita sensasi yang mengundang keingin-tahuan pembaca.

Namun pokok-pokok penting dari wawancara dengan Paus tersebut menurut Christianity Today adalah:
Perlunya kerendahan hati (bahwa kita semua manusia berdosa dan perlu anugerah Allah);
Perlunya berada dalam komunitas orang percaya;
Kepekaan dalam mencari kehendak Tuhan;
dan pentingnya peran perempuan dalam Gereja.  [+]


Kutipan warna hijau ditambahkan (21/9/13). 

Film Soegija meraih penghargaan internasional

Written By Menara Penjaga on Rabu, 07 Agustus 2013 | 02:55

INDONESIA, Jakarta  -- Film Soegija produksi Pusat Kateketik (Puskat) Pictures/PT Alam Media meraih Penghargaan Film Terbaik pada Festival Film Niepokalanow 2013 yang digelar di Polandia 11April-11 Mei 2013 lalu.

Acara rutin ini menjadi ajang Festival Film dan Multimedia Katolik Internasional. Sejumlah 13 negara mengikuti perhelatan ke-28 itu, antara lain: Belarusia, Filipina, Spanyol, India, Indonesia, Israel, Latvia, Madagaskar, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Italia dan Polandia.

“Ini menjadi bentuk apresiasi Gereja [Katolik] terhadap karya film. Saya berharap Gereja Indonesia pun memberikan apresiasi dari karya film Komisi Komunikasi Sosial (Komsos). Film bisa menjadi salah satu media pewartaan pada zaman sekarang ini,” tutur Pastor F.X. Murti Hadi SJ dari Studio Audio Visual (SAV) Puskat Yogyakarta.

Sebelumnya, SAV Puskat meraih beberapa penghargaan pada ajang itu: Film Kasih Sang Ibu di Perbukitan Menoreh sutradara Isti Purwi (2005), Bethlehem van Java sutradara F.X. Murti Hadi SJ (2008), dan Film On Power to Will of CBR sutradara Haryo Sentanu Murti (2009).

Film Soegija, yang disutradarai Garin Nugroho, mengisahkan tentang seorang pahlawan nasional Indonesia, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (diperankan oleh Nirwan Dewanto) di masa pergolakan tahun 1940-1949.

Berbeda dari kebanyakan film-film bertemakan perang, Soegija dinilai membangkitkan rasa kemanusiaan di balik sebuah perang.

"Film ini menunjukkan bagaimana orang-orang yang berbeda dari Indonesia, Jepang dan Belanda, baik sipil maupun militer, menghadapi kenyataan hidup sehari-hari. Mengapa mereka membuat pilihan mereka yang mereka buat, oleh karena latar belakang mereka masing-masing." (Wikipedia)

Menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus nanti, film ini mengingatkan bahwa kemerdekaan itu mahal harganya, dan rakyat Indonesia telah berpartisipasi untuk meraihnya. (hidupkatolik.com/MP)



Kritik MUI terhadap tayangan televisi dikritik warga

Written By Menara Penjaga on Kamis, 01 Agustus 2013 | 11:39


INDONESIA, Jakarta (MP) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengkritik keras tayangan televisi yang disiarkan pada saat Ramadhan dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dikandung dalam hari raya umat Islam ini.

Menanggapi hal tersebut, komisoner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Idi Muzayyad mengomentari, "Semestinya tim kreatif stasiun TV tetap menjaga kreativitasnya dengan membuat tayangan yang menghibur juga sarat pengajaran. 

"Buktinya ada stasiun TV dan banyak tayangan sarat nilai juga menghibur yang tetap disukai pemirsa. Ini tantangan tersendiri bagi tim kreatif terutama untuk menyajikan tayangan Ramadhan yang tetap bermartabat sekaligus disukai masyarakat."

Namun tak hanya KPI yang memberi tanggapan, warga masyarakat juga.

“Saya menganjurkan pada MUI dan KPI, kalau mau menertibkan semua pihak televisi itu bukan diwaktu tayangan Ramadhan saja tapi tayangan-tayangan lainnya pun harus mencerminkan Tatakrama budaya timur sebagai cermin negeri kita,” demikian tulis warga dengan akun facebook Gundala Gumanti yang mengikuti berita di Metronews.com. Menurutnya selama ini MUI dan KPI “cuma gertak sambel doang...”

Gumanti berpendapat bahwa tayangan televisi “tidak bisa dijadikan panutan/contoh bagi masyarakat, sebaliknya malah bersifat membujuk dan mempengaruhi masyarakat, mulai dari soal bicara, berpakaian/busana, dan permainannya.”

“Kami sebagai rakyat juga menilai kinerja kalian...” ungkapnya mengomentari.


Tapi selain mengkritik MUI juga memberikan pujian bagi beberapa stasiun TV yang tayangan Ramadhannya sarat nilai dan pembelajaran agama yakni Metro TV, TV One, dan Kompas TV. (Metronews)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger