"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Giving: Iklan film-3-menit yang mengalahkan Hollywood

Written By Menara Penjaga on Senin, 07 Oktober 2013 | 22:07





Film ini mengisahkan seorang anak yang mencuri obat untuk ibunya yang sakit.

Pemilik warung yang menangkap basah sang anak memaksa supaya obat itu dikembalikan.

Seorang penjual makanan melihat apa yang terjadi. Ia mengerti bahwa ibu sang anak sedang sakit.

Ia pun membayar harga obat itu, dan meminta puterinya untuk memberi sang anak sekantong makanan untuk dibawa pulang.

Tiga puluh tahun kemudian, bapak penjual makanan ini masih tetap menjual makanan dan masih tetap mencoba membantu orang yang memerlukan.

Ia harus berhenti ketika ia jatuh tak sadarkan diri di warungnya.

Puterinya sangat bersedih, terutama setelah menerima tagihan rumah sakit yang sangat besar.

Terpaksa tempat usaha mereka pun hendak dijual untuk menutupi biaya.

Sampai ia menerima tagihan rumah sakit dengan jumlah biaya 0 disertai catatan: Semua sudah dibayar 30 tahun lalu dengan tiba botol obat dan sekantong makanan

Iklan yang disebut mengalahkan film Hollywood berdana jutaan dollar ini disponsori sebuah perusahaan penyedia jasa telekomunikasi di Thailand. Menurut informasi yang beredar, film tiga menit ini terinspirasi dari sebuah kisah yang beredar di Internet.





Film: Amazing Grace

Written By Menara Penjaga on Senin, 09 September 2013 | 07:00

Bagi yang belum pernah melihat film Barat dengan judul Amazing Grace, tak ada salahnya mencari waktu untuk menontonnya. Film yang dinobatkan sebagai Best Spiritual Film 2007 (Beliefnet) ini tidak akan membuang waktu Anda.

Judul film ini diambil dari lagu Kristen terkenal karya John Newton (1725-1807), seorang pelaku perdagangan manusia (perbudakan) yang kemudian bertobat dan menjadi pelayan Tuhan. Di Indonesia lagu ini diterjemahkan dengan “Ajaib Benar Anugerah.”

Amazing Grace menceritakan sebuah kisah nyata tentang perjuangan para abolitionists (aktivis penghapus perdagangan manusia), terutama William Wilberfoce (1759-1833), untuk mengakhiri praktek perbudakan di seluruh wilayah Inggris Raya.

Wilberfoce adalah seorang anggota parlemen Inggris yang menemukan Tuhan, atau “ditemukan Tuhan,” dan berencana untuk mengikuti pendidikan teologi. Ketika berkonsultasi dengan Newton ia justru ditantang untuk menjadi pelayan di tengah-tengah dunia politik.

Bergumul dengan penyakit perut yang dideritanya, termasuk trend politik yang menghalangi keyakinannya bahwa semua manusia diciptakan sederajat, Willberforce tetap konsisten memperjuangkan penghapusan praktek perdagangan manusia.

Berkat usaha Wilberforce dan kelompoknya, tahun 1807 perdagangan manusia dihapuskan di Inggris Raya.

Film Amazing Grace, yang juga memenangkan Christopher Award 2008, bukan tanpa kritik. Tapi film ini jelas menjadi inspirasi bagi orang Kristen bahwa lingkup pelayanan Injil tidak terbatas di gereja, melainkan juga di tengah-tengah dunia politik.


Pemeran
  • Ioan Gruffudd - William Wilberforce
  • Romola Garai - Barbara Spooner
  • dll. 

Trailer: Youtube







Film Soegija meraih penghargaan internasional

Written By Menara Penjaga on Rabu, 07 Agustus 2013 | 02:55

INDONESIA, Jakarta  -- Film Soegija produksi Pusat Kateketik (Puskat) Pictures/PT Alam Media meraih Penghargaan Film Terbaik pada Festival Film Niepokalanow 2013 yang digelar di Polandia 11April-11 Mei 2013 lalu.

Acara rutin ini menjadi ajang Festival Film dan Multimedia Katolik Internasional. Sejumlah 13 negara mengikuti perhelatan ke-28 itu, antara lain: Belarusia, Filipina, Spanyol, India, Indonesia, Israel, Latvia, Madagaskar, Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Italia dan Polandia.

“Ini menjadi bentuk apresiasi Gereja [Katolik] terhadap karya film. Saya berharap Gereja Indonesia pun memberikan apresiasi dari karya film Komisi Komunikasi Sosial (Komsos). Film bisa menjadi salah satu media pewartaan pada zaman sekarang ini,” tutur Pastor F.X. Murti Hadi SJ dari Studio Audio Visual (SAV) Puskat Yogyakarta.

Sebelumnya, SAV Puskat meraih beberapa penghargaan pada ajang itu: Film Kasih Sang Ibu di Perbukitan Menoreh sutradara Isti Purwi (2005), Bethlehem van Java sutradara F.X. Murti Hadi SJ (2008), dan Film On Power to Will of CBR sutradara Haryo Sentanu Murti (2009).

Film Soegijayang disutradarai Garin Nugroho, mengisahkan tentang seorang pahlawan nasional Indonesia, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ (diperankan oleh Nirwan Dewanto) di masa pergolakan tahun 1940-1949.

Berbeda dari kebanyakan film-film bertemakan perang, Soegija dinilai membangkitkan rasa kemanusiaan di balik sebuah perang.

"Film ini menunjukkan bagaimana orang-orang yang berbeda dari Indonesia, Jepang dan Belanda, baik sipil maupun militer, menghadapi kenyataan hidup sehari-hari. Mengapa mereka membuat pilihan mereka yang mereka buat, oleh karena latar belakang mereka masing-masing." (Wikipedia)

Menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus nanti, film ini mengingatkan bahwa kemerdekaan itu mahal harganya, dan rakyat Indonesia telah berpartisipasi untuk meraihnya. (hidupkatolik.com/MP)



The Inn of the Sixth Happiness

Written By Menara Penjaga on Senin, 20 Mei 2013 | 06:24

Buat para pecinta film bertema pelayanan, The Inn of the Sixth Happiness,* sebuah film yang mengisahkan Gladys Aylward (1902-1970), dapat menjadi hiburan yang membawa inspirasi.

Gladys merupakan seorang gadis kelahiran Inggris yang karena merasakan panggilan Tuhan untuk melayani di Cina, dengan tekad kuat meninggalkan London menuju ke sebuah kota bernama Yang Cheng, di mana ia kemudian tinggal di sebuah penginapan yang diusahakan oleh Jeannie Lawson, seorang pelayan Injil.

Penginapan yang ditujukan untuk membagikan kisah-kisah dalam Alkitab pada para tamu ketika menikmati makan mereka itu kemudian juga menjadi sebuah panti asuhan bagi anak-anak terlantar.

Memasuki masa perang Cina-Jepang, wilayah kota Yang Cheng menjadi medan tempur, sehingga banyak orang yang meninggal dunia. Gladys diperhadapkan dengan tugas berat yakni membawa anak-anak yang bertambah jumlahnya menjadi seratus ke sebuah tempat yang aman.

Oleh doa dan sebuah pengorbanan yang heroik anak-anak itu pun dapat diselamatkan.

Film ini memberi kesan menghargai masyarakat dan budaya Cina. Tapi di sisi lain, budaya Hollywood juga turut masuk.

Adegan ciuman yang dimasukkan ke dalam film ini dinilai oleh tokoh utama, Gladys Aylward, sebagai hal yang merusak reputasinya karena tidak pernah terjadi dalam kenyataan. Yang nyata adalah ia bekerja untuk panti asuhan sampai usia 60 tahun. (Sam Wellman, Gladys Aylward: Missionary to China [Barbour Publishing Inc., 1998], 198, 201 seperti dikutip Wikipedia)

Banyak yang dapat diperoleh dari menonton film ini, namun perlu diingat bahwa tokoh utama yang digambarkan dalam film ini ternyata memiliki keberatan-keberatan terhadap bagaimana Hollywood menampilkannya.

Director:
Mark Robson
Writers:
Isobel Lennart (screenplay), Alan Burgess (novel)
Stars:
Ingrid Bergman, Curd Jรผrgens, Robert Donat
(IMDb)

Ada di Youtube (5/20/13, klik di sini).

*penginapan Kebahagiaan Keenam


Film: A Barefoot Dream

Written By Menara Penjaga on Senin, 22 April 2013 | 08:35

(AsianWiki)
Film ini mengisahkan sebuah kejadian nyata di negara tetangga Indonesia, Timor Leste (Timor Timur).

Masih dalam konflik berkepanjangan yang terus mewarnai kehidupan masyarakat setelah referendum 1999 yang menyatakan kemerdekaan Timor Timur dari Indonesia, seorang pelatih sepak bola berkebangsaan Korea, Kim Won-Kang, mendapati dirinya berusaha menghasilkan uang dari anak-anak Timor yang sangat menggandrungi sepak bola.

Sebuah kisah inspiratif pun terbentuk yang bermuara pada anak-anak Timor memenangkan turnamen sepak bola remaja yang diselenggarakan di Hiroshima, Jepang, tahun 2004.

Film ini turut membawa pesan rekonsiliasi bagi rakyat Timor oleh karena luka sejarah masa lalu. Dapat diharapkan bahwa film yang punya daya emosi ini juga memiliki nuansa kritis terhadap Indonesia.

Sepak bola ternyata dapat menggugah pengampunan dan menghapus rasa dendam. Semoga sepak bola semakin mendunia.

Profile (AsianWiki)
  • Movie: A Barefoot Dream
  • Revised romanization: Maenbalui Kkgeum
  • Hangul: ๋งจ๋ฐœ์˜ ๊ฟˆ
  • Director: Kim Tae-Gyun
  • Writer: Kim Kwang-Hoon
  • Producer: Kim Tae-Gyun, Yoo Jung-Hoon, Kim Joon-Jong
  • Cinematographer: Jung Han-Chul
  • Release Date: June 10, 2010
  • Runtime: 121 min.
  • Genre: Drama
  • Distributor: Showbox/Mediaplex
  • Language: Korean
  • Country: South Korea


It's on Youtube (21/4/13).





Welcome to Dongmakgol

Written By Menara Penjaga on Kamis, 11 April 2013 | 19:19


Film Korea (Selatan) yang dibuat tahun 2005 ini hendak mengajak penontonnya untuk melihat tragedi perang, arti kemanusiaan, dan yang tak kalah pentingnya, harap damai di semenanjung Korea.

Film ini menceritakan tentang sebuah desa kecil bernama Dongmakgol yang tak tersentuh oleh hiruk-pikuk Perang Korea di tahun 1950. Di desa yang masyarakatnya hidup damai dan tentram ini bertemulah seorang pilot pesawat tempur Amerika Serikat, dua tentara Korea (Selatan) dan tiga tentara Korea (Utara). Lalu apa yang terjadi dengan gadis culun Yeo-il?

Film ini memenangkan beberapa awards, termasuk Best Supporting Actor dan Best Supporting Actress. (Wiki

Youtube Trailer 

Silenced (The Crucible)

Written By Menara Penjaga on Jumat, 21 Desember 2012 | 03:42


Sebuah film yang tak hanya mengundang kemarahan publik Korea ketika diluncurkan pada September 2011, namun juga mendorong lahirnya perundang-undangan baru di Korea (Selatan) dalam kaitan dengan pelecehan seksual terhadap anak-anak dan penyandang cacat. (Korea.net dikutip Wikipedia).


"Silenced" (alias "The Crucible") didasarkan pada pada novel 'Dokani' oleh Kong Ji Young yang menceritakan tentang peristiwa nyata menyangkut pelecehan seksual di sebuah sekolah untuk anak tunarungu. 

Para tersangka pelaku adalah orang-orang yang dihormati di gereja. Film ini dapat menjadi referensi penting dalam mencegah dan menyikapi para pelaku kejahatan yang memakai topeng kebaikan. 


Beberapa sudut pandang Kristen tentang The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2

Written By Ray Maleke on Jumat, 07 Desember 2012 | 23:47

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang pengalaman saya bersama isteri dan ipar saya, menonton salah satu dari The Twilight series.1 Dari pengalaman itu saya telah mencoba memperingatkan para pencari hiburan supaya berhati-hati dan bersikap kritis jika memilih untuk menonton serial terbaru The Twilight, atau film apa saja.

Ada hal yang menarik pada waktu itu. Baru saja saya mempost tulisan bernada “peringatan” itu di blog Menara Penjaga dan berniat membagikannya buat teman-teman di Facebook, di feeds reader Fb saya muncul status salah seorang teman di kampung halaman, “Twilight, beking tagantong eh” (Melayu Manado, aduh Twilight membuat tergantung). Saya garuk-garuk kepala sambil senyum sendiri. Agak terlambat? Tanya saya dalam hati.

Kalau Anda sudah membaca tulisan saya itu, maka saya perlu menginformasikan kepada Anda bahwa ipar saya tidak datang, karena itu saya tidak menonton seri 2. Tapi dari membaca berbagai komentar kalangan Kristen mengenai film yang mempesona para remaja perempuan dan ibu-ibu ini (kalau beritanya betul), saya merasa cukup yakin bahwa keputusan saya benar (yaitu tidak menggunakan uang saya untuk mendukung produsernya). Nah buat mereka yang telah menontonnya, tolong diperbaiki kalau saya keliru menilai film ini dari mengikuti berita media informasi.


Tanggapan Vatikan

Vatikan adalah pusat gereja terbesar di dunia, yaitu Gereja Roma Katolik. Dari kota-negara ini (Vatikan adalah sebuah negara), gereja yang beranggotakan lebih dari satu milyar anggota di seluruh dunia ini memberikan masukan-masukan dan penilaian terhadap hal-hal yang dibuat manusia, termasuk film yang bersentuhan langsung dengan budaya.

Penilaian Vatikan terhadap film ini tidak akan menyenangkan hati para penggemar The Twilight (untunglah kebanyakan fansnya lebih tertarik pada cerita cintanya, yang memang mengundang emosi dan bisa menutup intelek).

Menurut komentar dari Dewan Kebudayaan Kepausan “[f]ilm ini tidak lebih dari sebuah kekosongan moral dengan pesan yang menyimpang dan dengan demikian harus menjadi keprihatinan."2

Pernyataan lainnya dari Vatikan adalah bahwa film ini diarahkan pada “orang muda” (hal yang sejalan dengan penilaian saya waktu lalu), namun siapa juga yang tak tahu itu. Tapi Msgr Franco Perazzolo yang menjadi jurubicaranya juga menyebutkan bahwa tema vampir dalam film ini menggabungkan berbagai campuran dari hal-hal yang kelewatan dan mengandung elemen kebatinan yang kuat. Silahkan menafsirkannya sendiri. 


Tanggapan seorang pemimpin megachurch di Amerika Serikat

Nilai kurang yang diberikan Vatikan di atas mengandung tingkat moderasi yang tinggi dibanding dengan komentar Pdt Mark Driscoll yang dikenal sebagai seorang pemimpin megachurch di AS. Ia menulis di blognya bahwa serial The Twilight “bagi remaja perempuan sama seperti pornografi bagi remaja laki-laki: sakit, menyimpang, jahat, berbahaya, menyesatkan, dan populer.” Judul blog postnya adalah “A Father's Fright of Twilight” [ketakutan seorang ayah mengenai Twilight].3 (Pdt Mark mempunyai seorang anak remaja perempuan berusia 13 tahun).

Pernyataannya itu terang mengundang kontroversi, dan Pdt Mark Driscoll memang seorang yang kontroversial. Ia sendiri adalah seorang yang telah menunjukkan diri sebagai seorang pemimpin gereja yang sering bersikap kritis terhadap budaya, dan sebelumnya ia juga sudah memperingatkan tentang the Twilight dalam sebuah khotbahnya yang dimuat di You Tube.4 Di situ ia mendesak supaya hadirin berhati-hati dengan budaya yang dimanipulasi oleh Setan untuk tujuannya. Menurutnya “sebuah film adalah khotbah bergambar.” Saya setuju itu, tapi ada juga yang dikatakan Pdt Mark (dalam konteks lain) yang saya tidak setuju.


Tanggapan seorang profesor dan penulis buku terhadap Pdt Mark

Beth Felker Jones adalah seorang profesor teologi di Wheaton College, Illinois, AS. Ia juga adalah pengarang buku Touched by Vampire (disentuh oleh vampir) yang menurutnya ditulis dengan harapan “gereja dapat berpikir secara alkitabiah dan dengan iman mengenai tema-tema dalam cerita ini.”5 Saya berpikir, kalau sampai ada buku yang ditulis mengenai hal ini tentunya ada sesuatu yang penting mengenai buku dan film Twilight ini.

Prof Beth dalam sebuah artikel yang dimuat di Her.meneutics berpendapat bahwa isu gender (jenis kelamin) yang nampak dari kritik Pdt Mark adalah bagian dari masalah yang menciptakan fenomena Twilight ini. Hal ini karena Twilight diarahkan kepada para gadis dan perempuan, sehingga muncul anggapan bahwa masalah di sini adalah masalah gender.

Tidak demikian menurut Prof Beth. Baginya masalah di sini adalah menjadikan seseorang sebagai segala-galanya, sehingga hidup seseorang, apakah perempuan atau laki-laki, menjadi sekedar satelit yang berorbit pada yang diidolakannya. Sama seperti Bella yang rela mengorbankan apa saja – “keluarga, teman, pendidikan, kemungkinan untuk menjadi seorang ibu, kemanusiaannya, bahkan jiwanya” – untuk bisa bersama-sama dengan Edward.

Dan hal yang paling menakutkan dalam film ini menurutnya bukanlah hal yang menyangkut spiritualnya, melainkan hal-hal yang hakikatnya ada pada kejatuhan, kisah yang menunjukkan bahwa perempuan dibuat untuk pria, dan bukan untuk Tuhan.

Menyangkut perbandingan Twilight dengan pornografi, Prof Beth menulis:

Saya kuatir bahwa menyamakan Twilight dengan pornografi menyembunyikan beberapa masalah yang sebenarnya. Saya tidak meragukan bahwa fan mania film Twilight mempunyai beberapa kemiripan dengan kecanduan pornografi. Sama seperti pornografi, Twilight menawarkan versi palsu dari cinta, seks, dan asmara yang dapat menjauhkan kita dari rancangan baik Allah bagi kita dalam berbagai bidang kehidupan. Tapi untuk menyebut Twilight sebagai pornografi bagi remaja putri adalah hal yang memalukan dan menyelubungi masalah pornografi yang sebenarnya. Twilight bukan pornografi. Pornografi adalah pornografi.”

Ia menambahkan bagaimana pornografi menghalangi orang untuk melihat bahwa seksualitas adalah pemberian yang suci dari Tuhan.

Jika ada masalah dengan Twilight, maka itu lebih menyangkut penyembahan berhala daripada pornografi,” lanjut Prof Beth. “[Twilight] melahirkan fantasi yang besar, yang ternoda, bahwa seorang gadis dapat menemukan penyelamat dalam diri seorang laki-laki - kalau dia rela menyerahkan segala-galanya.”

Prof Beth mendorong supaya impian yang positif seseorang tidak ditaruh dalam pencarian akan 'si dia', melainkan tentang melayani Kristus sebagai Tuhan dan menggunakan semua bakat yang Tuhan beri untuk membagikan kasih dan menjadi saksi bagi Kerajaan Surga.

Bagian itu mengingatkan saya akan sebuah ayat Alkitab yang mengatakan "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33).

Prof Beth terkesan ingin memberikan dorongan bagi remaja puteri untuk menemukan kepenuhan dalam Juruselamat mereka. Namun, tentu saja hal ini tidak hanya untuk remaja puteri, tapi juga remaja putra yang akan dipertemukan Tuhan pada waktunya, supaya keduanya menjadi teman sejiwa dan sepenanggungan, untuk saling menghargai dan saling melindungi, di sepanjang hidup.*** 




 
1 Hati-hati menonton The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2, Menara Penjaga (link). 

2 Vatican official slams "Twilight" series, Catholic Media Review (link); Twilight is a 'deviant moral vacuum': Vatican slams blockbuster New Moon film, Mail Online (link).

3 A father’s fright of Twilight, Resurgence (link).

4 You Should Be Discerning about Twilight, You Tube (link). 

5 Why Mark Driscoll Is Wrong about Twilight, Her.meneutic (link); Kutipan dan referensi seterusnya berasal dari artikel ini.

Hati-hati menonton The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2

Written By Ray Maleke on Senin, 19 November 2012 | 09:55

Konon, ketika si ular menggoda Hawa, ia menyodorkan I-pad 5 dari Apple yang menunjukkan sebuah klip seorang perempuan yang sangat bahagia karena memiliki pengetahuan yang baik dan yang jahat, dan karena yakin bahwa apa yang ia lihat dalam klip itu adalah kenyataan, ia pun makan I-pad 5 itu (he...he...he...bercanda).

Tapi bukankah benar bahwa tawaran imaginasi kita sangat berpengaruh dalam berbagai keputusan yang kita buat, dan bahwa film mempunyai daya yang kuat dalam membentuk imaginasi dan persepsi dalam pikiran kita? Karena itu, hati-hati dengan apa yang Anda pilih untuk ditonton. Mata adalah gerbang hati.

Pengalaman saya menonton Twilight adalah ketika ipar saya datang bekunjung di tempat tinggal kami di West Virginia. Menurut pengakuannya, ia adalah salah seorang penggemar film Twilight. Kebetulan film The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 1 sedang diputar di bioskop, sehingga kami bertiga sepakat untuk pergi menonton, sekalipun saya dengan berat hati.

Saya memang bukan tipe orang yang menyukai film dengan karakter vampir, apalagi akhir-akhir ini saya merasa alergi dengan film-film Barat karena kurang nilai positifnya sementara juga yang ditonjolkan adalah keglamouran, tapi memang tak bisa dipukul rata. Ada juga film-film Barat yang memberi cerminan hidup dan pesan kebajikan yang mendalam.

Kadang saya bertanya, apakah banyaknya film yang kurang berbobot (kurang pemaknaan hidup) sekarang ini menunjukkan sikap meremehkan dari para produser film di Hollywood terhadap konsumennya atau selera konsumen yang mendorong dibuatnya lebih banyak film seperti ini? Saya belum punya jawabannya.

Demi menyenangkan istri dan menghargai ipar saya ikut menonton. Pikiran saya: sebuah buku yang makan waktu untuk dibaca, dapat dilihat dalam sebuah film dalam waktu satu jam. Inilah potensi film yang tak boleh dianggap remeh.

Jujur saja, film itu cukup membuat saya ngeri. Istri dan terutama ipar saya sepertinya menikmatinya, sekalipun akhirnya istri saya mengaku ia juga tak suka film vampir.

Saya merasa 'trauma' menonton film itu :-) Apakah itu karena perbedaan budaya atau pemikiran? Saya tidak tahu. Di Indonesia pasti ada juga orang yang biasa saja setelah menontonnya.

Memang waktu itu di Manado, Indonesia, surat kabar lokal menyoroti gerakan kultis yang dalam ritualnya memakan janin bayi hasil aborsi dan meminum darah. Mungkin karena hal itu, perut saya muak karena beberapa adegan dalam film itu.

Yang sangat memprihatinkan bagi saya adalah ketika ketika kurang lebih lima menit ditunjukkan adegan seks dari dua tokoh utama dalam film ini (mengapa adegan itu diberi durasi yang panjang?). Banyak orang menganggap itu karena budaya Barat yang demikian, dan hal ini hanya menunjukkan bagaimana film membentuk persepsi (karena sebenarnya tidak benar demikian, namun bisa jadi demikian).

Yang saya maksud bukan hanya adegan itu sendiri, tapi film yang diarahkan pada anak muda ini (apa ada yang tahu untuk tujuan apa?) diberi rating PG-13 (Parental Guidance – Bimbingan Orangtua untuk anak-anak umur 13 tahun ke bawah), maksudnya anak-anak boleh nonton tapi dengan pendampingan orang tua, supaya orang tua dapat menjelaskan pada anak-anak bahwa… (sementara bingung).

Tapi memang saya hanya sedih karena ketika film itu 'selesai' (karena masih ada sambungannya), saya juga melihat anak-anak keluar dari bioskop itu, dan tentu saja di bioskop tidak boleh ada yang bercakap-cakap. Saya hanya menarik nafas dengan harapan semoga saja orang dewasa yang mendampingi mereka akan ingat untuk mengambil waktu membicarakan beberapa adegan dalam film itu, sekaligus menuntun mereka untuk mengambil pesan yang baik dari film itu (kita dapat belajar dari contoh yang baik dan yang buruk).

Saya belum melihat seri Twilight yang baru (dan memang tidak ada niat untuk itu, kecuali ipar datang lagi), tapi tulisan ini sekedar mengingatkan saja supaya jangan sampai Anda sudah mengeluarkan uang untuk menopang industri perfilman (Amerika), Anda masih juga dirugikan jika tidak bersikap kritis.***

UNDER THE ROMAN SKY (Sotto il Cielo di Roma)

Written By Menara Penjaga on Jumat, 26 Oktober 2012 | 01:12

Film ini mengisahkan Paus Pius XII pada waktu tentara Nazi Jerman menduduki Roma, sekaligus menyoroti kebrutalan para pengikut Hitler dalam membantai etnis Yahudi. Film ini mampu menyeimbangkan tema tragedi, romanti, dan redempti; menghadirkan secercah cahaya di tengah kegelapan yang sangat kuat mencekram, namun kegelapan itu tak dapat menguasainya. Apa yang terjadi dengan Davide dan Miriam dua kekasih yang mencari cinta?

Under the Roman Sky (Bahasa Inggris) dapat dilihat juga di Netflix.

Lihat trailernya di sini.

Eric Liddell: Berlari untuk memuliakan Tuhan

Written By Menara Penjaga on Jumat, 03 Agustus 2012 | 22:44

(pic: wikipedia)
Dalam semangat Olimpik 2012 di Inggris, muncul kembali memori tentang kisah yang sarat dengan refleksi iman Kristen yang diabadikan lewat sebuah film berjudul Chariots of Fire. Film ini terutama menceritakan dua orang atlet lari yang bertanding di Olimpik 1924: Eric Liddell dan Harrold Abrahams.

Eric Liddell adalah seorang Kristen yang sunguh-sungguh dari Skotlandia. Baginya berlari berarti memberi kemuliaan bagi Allah. Eric Liddle menjadi tenaga penginjil di Cina dan meninggal di kamp penahanan tentara Jepang pada 21 Februari 1945. Pada tahun 2008 lalu, pemerintah Cina membuka sebuah informasi yang mengejutkan banyak pihak, yaitu bahwa Eric Liddell memberikan kesempatan baginya untuk meninggalkan kamp penahanan kepada seorang perempuan yang sedang mengandung. Kisah Eric Liddle telah memberi inspirasi bagi banyak orang, terutama mereka yang membidangi dunia olah raga, terlebih khusus lari lintasan.

Harold Abrahams, pelari lainnya yang menjadi fokus dalam film tersebut adalah seorang atlet berlatar belakang Yahudi-Inggris, yang ingin membuktikan diri sebagai seorang patriotik.

Lihat trailer film Chariots of Fire di sini.

Lihat Wikipedia Eric Liddel di sini (Bahasa Inggris).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger