"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Kolom Perempuan Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Perempuan Kristen. Tampilkan semua postingan

INDIA: Pelaku kekejian terhadap perempuan dijatuhi hukuman mati

Written By Menara Penjaga on Senin, 16 September 2013 | 07:00

Empat pelaku kekejian terhadap seorang mahasiswi di India diganjar dengan hukuman mati (foto: Hindustantimes). 
INDIA, New Delhi (TEMPO.CO) — Pengadilan khusus Saket di New Delhi, Jumat, 13 September 2013, menjatuhkan hukuman mati terhadap empat pelaku pemerkosaan brutal dan pembunuhan seorang mahasiswi di atas bus, setelah insiden itu terjadi sembilan bulan lalu.
Saat membacakan putusan di ruang sidang yang penuh pengunjung, hakim Yogesh Khanna menegaskan hukuman mati dengan digantung ini diberikan sebagai pesan bahwa kejahatan terhadap perempuan tidak akan ditoleransi. “Perlakuan brutal para pelaku yang memperkosa, menganiaya dengan keji, dan membunuh korban masuk kasus kategori terlangka dari yang paling langka,” kata Khanna.
Mendengar hukuman itu, salah seorang terpidana, yakni pelatih kebugaran Vinay Sharma, harus diseret dari ruang pengadilan karena menangis kencang. Hakim menolak pertimbangan pengacara para terpidana yang menyebutkan kasus ini telah dipolitisasi. “Hakim memutuskan kasus ini di bawah tekanan politik dan kemarahan masyarakat,” ujar A.P. Singh, pengacara dua dari empat terpidana.
Sebaliknya, kebahagiaan dirasakan oleh keluarga korban. Ayah korban mengungkapkan rasa terima kasih kepada kepolisian Delhi dan media yang membuat kasus ini menjadi perhatian seluruh dunia. “Keadilan telah ditegakkan bagi anak saya,” ujarnya terharu.
Hakim yang sama memutuskan Mukesh Singh, 26 tahun, Vinay Sharma (20), Pawan Gupta (19), dan Akshay Thakur (28) bersalah pada Kamis lalu atas pemerkosaan beramai-ramai, pembunuhan, percobaan pembunuhan, penganiayaan, penculikan, penghilangan bukti, serta perampokan.
Terpidana remaja—yang disebut paling brutal—telah dihukum tiga tahun penjara di pengadilan anak pada 31 Agustus lalu. Terdakwa utama dalam kasus ini, Ram Singh, ditemukan tewas tergantung di dalam ruang sel penjara Tihar pada 11 Maret lalu.
Kasus pemerkosaan brutal yang terjadi pada 16 Desember tahun lalu ini menimbulkan kemarahan publik India. Ribuan warga turun ke jalan memprotes kegagalan pemerintah melindungi keamanan perempuan. Insiden ini juga memicu amandemen undang-undang tentang kejahatan terhadap perempuan.

Selengkapnya di TEMPO.CO
Judul asli: Vonis Mati untuk Pemerkosa Mahasiswi India

Melindungi anak Indonesia: Pengebirian atau rajam untuk pelaku pelecehan seksual terhadap anak?

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 03:05


MP – Menanggapi rasa ketidak-puasan di kalangan masyarakat dengan hukuman yang diberikan dalam kasus pelecehan seksual terhadap anak, sebuah komisi telah dibentuk di Australiaa dan sedang mempertimbangkan diterapkannya pengebirian secara kimia terhadap para pelaku kebejatan ini. Demikian dilaporkan ABC Australia seperti dilansir oleh Kompas.com, 12 Agustus 2013.

Pertimbangan hukuman kasus pelecehan seksual turut dipicu oleh tindakan seorang ayah yang memperkosa anak perempuannya. Ia dihukum tiga tahun masa percobaan.

Komisi tersebut dibentuk oleh Ketua Menteri NSW Barry O'Farrell untuk menyelidiki apakah hukuman yang sekarang ini cukup efektif, dan untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap sistem hukum.


Upaya perlindungan anak Indonesia

Keprihatinan yang sama sebelumnya telah diekspresikan di Provinsi Aceh, Indonesia.

Menyusul kasus pelecehan seksual terhadap sejumlah anak, para aktivis pembela hak anak yang tergabung dalam Aktivis Forum Peduli Anak Aceh (FPAA) melakukan aksi protes di depan Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, 16 April 2013 lalu.

Mereka menuntut supaya para pelaku pelecehan seksual terhadap anak-anak dihukum seberat-beratnya, dan jika perlu dirajam.

“Perlindungan terhadap anak-anak di Aceh sangat rendah, kita harap pelaku pemerkosaan terhadap anak di hukum seberat-beratnya, bila perlu dirajam saja, karena mereka sangat kebal dengan hukum yang ada sekarang,” tutur Nurjanah, koordinator aksi, seperti dilaporkan oleh Portalkbr.com.

Hukuman penjara menurut Nurjanah tidak membuat pelaku jera, dan akan berbuat hal yang sama setelah lepas dari penjara. Terbukti pada kasus yang menimpa seorang anak di Kota Banda Aceh.

Kasus serupa juga baru-baru ini terjadi di Jakarta Timur. Detiknews.com melaporkan seorang anak kembali menjadi korban pria residivis yang telah sebelumnya dihukum 4 tahun penjara kasus sodomi anak dengan tiga orang korban. Pelaku tindak cabul yang merusak itu pun dipukuli massa sebelum digelandang ke Mapolres Jakarta Timur (Sabtu, 10/8/2013).


Indonesia masih rawan pelecehan anak

Di Manado, Sulawesi Utara, kasus pelecehan seksual terhadap anak menunjukkan peningkatan. Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Manado, Marmiasih, mengungkapkan bahwa dari 2011 ke 2012, kejahatan seksual melibatkan tersangka atau korban di bawah umur meningkat hampir seratus persen, yaitu 92 kasus menjadi 176 kasus.

Menurutnya pemicu tindak pelecehan seksual adalah film porno (material cabul) dan kurangnya pengawasan orangtua. (Portalkbr.com)

Mengikuti laporan yang masuk di tahun 2013, Komisi Nasional Perlindungan Anak menyatakan bahwa tahun 2013 adalah tahun darurat kejahatan seksual terhadap anak. Awal Maret 2013 Komnas PA telah mencatat 83 kejahatan seksual dan 37 kekerasan fisik. Itu hanya dari wilayah Jabotabek, bukan dari seluruh daerah di Indonesia (Portalkbr.com).

Situasi kritis ini berpotensi merusak masa depan Indonesia ke depan. Itu sebabnya, pertimbangan mengenai peningkatan beban hukuman terhadap pelaku pelecehan seksual terhadap anak perlu segera ditindaki, dengan mempertimbangkan opsi hukuman dan penyediaan terapi/rehabilitasi yang dapat benar-benar melindungi anak-anak dari tindakan yang merusak masa depan mereka.

Masa depan anak-anak adalah masa depan kita semua. (+)


Revisi judul 21/8/13.

Lima perempuan diserang ketika membagikan kabar baik: Kami bersukacita dalam Tuhan

Written By Menara Penjaga on Selasa, 30 Juli 2013 | 08:59

Lima penginjil perempuan yang memiliki semangat
para rasul Kristus (foto: GFA). 
INDIA, Andhra Pradesh (MP) – Lima orang perempuan yang tergabung dalam organisasi Gospel for Asia (Injil untuk Asia) diserang ketika membagikan kabar baik Kristus di negara bagian Andhra Pradesh, India, Rabu, 25 Juli 2013, demikian dilansir situs organisasi GFA.

Bansari, Jaladhi, Kuyil, Sunita dan Viveka pada pagi menjelang siang mengunjungi pasar yang terletak sekitar empat mil (kl. 6,4 km) dari kantor administrasi GFA di mana mereka melayani.

Mereka telah secara rutin berupaya menjangkau masyarakatnya dengan berbagai cara, termasuk mendoakan orang sakit, pengorganisasian program pemuda dan memimpin kelompok persekutuan wanita, yang menyediakan kelas belajar membaca dan pelatihan keterampilan lainnya.

Sementara mereka menawarkan literatur kepada pemilik toko dan orang-orang di pasar itu, seorang pemuda bertanya kepada Jaladhi tentang kegiatan apa yang mereka sedang lakukan. Ketika Jaladhi mengatakan bahwa mereka berbagi kabar tentang Yesus, pemuda tersebut menampar wajahnya.

Sewaktu Sunita, Viveka dan Bansari bergegas menuju ke Jaladhi, pria itu juga menyerang mereka dengan memukul berulang kali. Sementara itu, Kuyil, yang ada di sisi lain di pasar itu dapat melalui lima orang laki-laki yang telah mengitarinya.

Para pengunjung pasar melihat situasi itu tapi tidak melakukan apa pun untuk menghentikan serangan.

Para pekabar Injil perempuan ini merasakan sakit dan mengalami bengkak pada gendang telinga dan leher mereka, tetapi tidak ada luka serius. Mereka segera melaporkan kejadian tersebut kepada pemimpin mereka setelah kembali ke kantor GFA.

Mereka mengatakan mereka sangat senang bahwa nama Allah akan dimuliakan melalui penderitaan mereka.

"Kami bersukacita dalam Tuhan, meskipun dipukuli," kata Bansari. "Semoga Tuhan mengubah hati mereka."(+)

Patriarkh Gereja Ortodoks memberikan tanda penghargaan langka kepada wanita-kosmonot dunia pertama, Valentina Tereshkova

Written By Menara Penjaga on Senin, 17 Juni 2013 | 02:11

Valentina Tereshkova, perempuan pertama yang
diluncurkan ke luar angkasa
RUSIA, Moskow (MP) -- Hari Minggu kemarin (16 Juni 2013) menandai 50 tahun penerbangan angkasa luar wanita pertama yang dilakukan oleh kosmonot Valentina Tereshkova.

Tahun 1963, dengan pesawat ruang angkasa Vostok VI, Valentina yang berusia 26 tahun mengorbit bumi selama hampir tiga hari.

Sekalipun melalui kendala yang bisa berakibat fatal, Valentina berhasil melakukan misinya, sekaligus menunjukkan bahwa perempuan punya kemampuan yang sama dengan pria di luar angkasa.

Masa kecil yang keras
Kisah hidup Valentina mempersiapkannya untuk tantangan besar ini.

Pada usia dua tahun ia kehilangan ayahnya, Vladimir Tereshkov, dalam Perang Dunia II. Ibunya, Elena Fyodorovna, harus membanting tulang di sebuah pabrik kapas untuk membesarkannya bersama dua orang saudaranya.

Valentina sendiri membantu ibunya di rumah, dan nanti masuk sekolah pada usia 10 tahun. Ketika ia tinggal bersama neneknya, ia pun mengambil kerja magang di sebuah pabrik ban. Setahun kemudian (1955) ia ikut berkerja bersama ibu dan salah satu saudaranya mengoperasikan alat tenun.

Keadaan tidak membuatnya masa bodoh. Pada saat bersamaan ia mengambil kursus yang diberikan lewat surat-menyurat. Ia pun lulus dari Sekolah Teknik Industri Ringan.

Menjadi seorang kosmonot
Jalan menuju seorang kosmonot dimulai ketika ia bergabung dengan Club Olahraga Udara Yaroslavl pada tahun 1959. Ia pun menjadi seorang yang mahir terjun payung.

Terinspirasi oleh Yuri Gagarin, kosmonot Rusia yang menjadi manusia pertama di luar angkasa, Valentina menjadi sukarelawan untuk program angkasa luar Soviet.

Dengan ketrampilan yang dimilikinya, ia pun diangkat menjadi kosmonot pada tahun 1961, dan mengikuti latihan yang sulit untuk menjadi pilot utama Vostok VI.

Pada 16 Juni 1963 pukul 12.30 siang, Letnan Junior Valentina Tereshkova menjadi wanita pertama yang diluncurkan ke luar angkasa. “Aku melihat cakrawala. Warna biru muda, sebuah pita yang indah. Ini adalah Bumi. Betapa indahnya! Semua berjalan dengan baik,” ungkapnya lewat radio dengan kode Chaika (burung camar).

Dua tahun kemudian, p[P]ada tanggal 3 November 1963, Valentina Tereshkova menikah dengan kosmonot Soviet Kolonel Andrian Nikolayev, yang telah mengorbit bumi enam puluh empat kali pada tahun 1962 dengan Vostok III. Putri mereka, Yelena Adrianovna Nikolayeva, lahir pada tanggal 8 Juni 1964.

Tanda penghargaan langka
Valentina Vladimirovna "Valya" Tereshkova lahir di desa Sungai Volga di Maslennikovo tahun 1937. 6 Maret lalu ia merayakan ulang tahunnya yang ke 75.

Hari berbahagia itu dilengkapi dengan keputusan pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriarkh Kirill, untuk memberikan tanda penghargaan kepada kosmonot wanita pertama yang juga merupakan anggota dewan dari negara bagian Duma ini dengan tanda penghargaan Glory and Honor (tingkat 1).

Hal itu berdasarkan penilaian terhadap apa yang telah disumbangkan Valentina Tereshkova bagi "Tanah Air dan Gereja Ortodoks Rusia," seperti diungkapkan Patriarkh Kirill dalam pesannya memperingati 50 tahun momentum sejarah itu, demikian pernyataan Patriarkhat Moskow pada situsnya.

"Hidup Anda terkait dengan sejarah Kosmonautik. Dari melakukan penerbangan solo di ruang angkasa pada tahun 1963 ketika eksplorasi luar angkasa baru dimulai, Anda masih merupakan simbol spiritual yang tinggi sebagai seorang wanita Rusia yang siap untuk kepahlawanan tanpa pamrih, tidak hanya di Rusia tapi di seluruh dunia," demikian ditulis dalam pernyataan itu.

Tanda penghargaan Glory and Honor diberikan kepada pemimpin negara, organisasi internasional dan tokoh agama yang memberi kontribusi besar dalam hubungan antar-gereja, kerjasama antar-agama, memperkuat perdamaian dan persahabatan antar bangsa.

Penghargaan yang diinagurasi pada tahun 2004 lalu ini merupakan penghargaan penting kedua dalam Gereja Rusia dan lebih jarang diberikan dibanding penghargaan lainnya dalam Gereja Rusia.

Seorang feminis ulung
Valentina Tereshkova tak hanya diingat untuk penerbangan luar angkasanya, penghargaan yang diterimanya atau sederet jabatan kepemimpinan yang masih atau pernah dipegangnya.

Ia juga diingat untuk perannya dalam mendorong peran serta perempuan dalam berbagai bidang kehidupan.

Pandangan Valentina Tereshkova mengenai perempuan dan ilmu pengetahuan diringkasnya dalam sebuah artikel berjudul "Women in Space," (Perempuan di Luar Angkasa) yang ia tulis pada tahun 1970 untuk jurnal Impact of Science on Society (dampak ilmu pengetahuan terhadap masyarakat) di Amerika Serikat.

Dalam artikel itu ia mengungkapkan, "Saya percaya seorang wanita harus selalu tetap menjadi seorang wanita dan tidak ada hal feminin yang harus terasa asing bagi dirinya. ...saya sangat yakin bahwa tidak ada kerja yang dilakukan oleh seorang wanita di bidang ilmu pengetahuan atau budaya atau apa pun, bagaimana keras atau menuntutnya hal itu, akan berbenturan dengan misi indahnya sejak dulu kala – untuk mencintai dan dicintai – serta dambaannya untuk kebahagiaan sebagai seorang ibu. Sebaliknya, kedua aspek hidupnya ini dapat saling melengkapi dengan sempurna." (Valentina Tereshkova Biography; Interfax)

Perayaan tahun baru batal, para demonstran menuntut hukuman mati bagi para pemerkosa

Written By Menara Penjaga on Rabu, 02 Januari 2013 | 03:55

(foto: Alzajeera)
INDIA, New Delhi (MP, 1 Januari 2012).

Menyusul meninggalnya korban pemerkosaan oleh sekelompok pria di sebuah bis di Delhi, India, berbagai pihak akhirnya menetapkan untuk membatalkan perayaan tahun baru.

Kalangan militer termasuk masyarakat umum membatalkan pesta tahun baru sebagai wujud penghormatan terhadap korban yang menghembuskan nafas terakhir hari Sabtu lalu, demikian dilaporkan Aljazeera.

Korban yang adalah seorang mahasiswa kedokteran meninggal di rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura di mana ia diterbangkan setelah selama hampir dua minggu bertahan di Rumah Sakit New Delhi Safdarjung.

Menurut laporan BBC Indonesia:
Korban dan temannya [seorang pria] naik bis di daerah Munirka setelah menonton film, mereka berencana menuju Dwarka di Delhi.

Polisi mengatakan mahasiswa itu diperkosa hampir selama satu jam dan keduanya dipukul dengan besi dan dilempar ke jalanan Delhi dari bis yang masih berjalan.

Sejak peristiwa di Delhi, memperlihatkan bahwa polisi gagal untuk merespon sejumlah kasus permerkosaan.


Epidemmi kekerasan terhadap perempuan  

Pemerkosaan 16 Desember lalu itu mengangkat ke permukaan epidemi kekerasan terhadap perempuan di India, di mana satu pemerkosaan yang dilaporkan rata-rata setiap 20 menit.

"Kami sangat prihatin tentang jumlah kasus pemerkosaan di seluruh India dan meluasnya kekerasan terhadap perempuan," kata Lise Grande, pekerja PBB di India, seperti dilansir Aljazeera

Berbagai protes di seluruh India menyusul tindakan keji ini telah memaksa pihak berwenang untuk mengevaluasi hukum yang berlaku, keamanan transportasi umum, perlindungan perempuan, dan hukuman berat bagi para pelaku kejahatan terhadap perempuan. 


Hukuman mati bagi pemerkosa 

Enam orang tersangka pelaku pemerkosaan telah ditahan, satu di antaranya masih remaja. 

Pemrotes mengatakan janji pemerintah untuk menghukum penjara seumur hidup terhadap para pelaku pemerkosaan tidak cukup, dan mereka menuntut hukuman mati bagi kelima pelaku dewasa. 


Menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan

Menurut laporan Aljazeera, pemerintah India telah membentuk dua panel yang dipimpin oleh hakim pensiunan untuk merekomendasikan langkah-langkah yang dapat diambil untuk memastikan keamanan perempuan.

"Di Tahun Baru, harus ada revisi terhadap semua hukum yang berkaitan dengan kejahatan terhadap perempuan," kata Sushma Swaraj, seorang pemimpin senior dari partai oposisi Bharatiya Janata (BJP).

"Kami telah meminta pemerintah untuk mengadakan sidang khusus parlemen di mana kita bisa mendiskusikan masalah ini," tambahnya.

Data nasional India menunjukkan bahwa dari 256.329 kejahatan kekerasan yang dicatat tahun lalu 228.650 adalah dilakukan terhadap perempuan, dengan jumlah pemerkosaan di ibukota naik 17 persen menjadi 661 tahun ini.

Di Australia, tren peningkatan kekerasan terhadap perempuan mengemuka ketika Jill Meagher, wartawan ABC diperkosa dan dibunuh September lalu. (MP)

Kasus itu telah membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap perlunya upaya perlindungan dan pencegahan terhadap berbagai kekerasan yang sedang meningkat.

Kita harus melakukan sesuatu tentang budaya kekerasan terhadap perempuan yang telah melingkupi masyarakat kita. Untuk melakukan sesuatu tentang kekerasan seksual kita harus melakukan sesuatu tentang pornografi,” ucap Warwick Marsh menanggapi pemerkosaan dan pembunuhan Jill Meagher yang menggemparkan di Melbourne.

PM Singh, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan di Delhi, mengatakan: "Akan menjadi sebuah penghormatan bagi dia [korban pemerkosaan, red], jika kita dapat menyalurkan emosi dan energi kedalam aksi yang konstruktif” (BBC Indonesia).***


------
Keprihatinan dan duka yang mendalam kami sampaikan untuk para perempuan korban kekerasan dan pemerkosaan di India, Australia, dan di manapun di seluruh dunia. Dunia yang tak aman bagi perempuan dan anak adalah dunia yang tak aman bagi semua.


Pertahankan budaya dan martabat, negara-negara Afrika menolak intimidasi Barat

Written By Menara Penjaga on Selasa, 18 Desember 2012 | 04:19

Rep Nkeiruka Onyejeocha (foto: nairaland).
NIGERIA, Abuja (MP) -- Dewan Perwakilan Nigeria baru-baru ini dengan suara bulat menerima RUU melarang hubungan sesama jenis, meskipun administrasi pemerintahan Presiden Obama (AS) dan Perdana Menteri David Cameron (Inggris) telah mengancam akan mempertimbangkan penahanan bantuan kepada negara-negara yang gagal mengikuti tren di Barat menyangkut hubungan sejenis.

"'Pernikahan' sejenis adalah asing bagi masyarakat dan budaya kami dan itu tidak boleh samasekali diimpor," kata pemimpin mayoritas di Dewan Mulikat Adeola-Akande, seperti dilansir LSN (10/12).1 "Praktek ini tidak memiliki tempat dalam agama dan budaya kami, di Nigeria atau di mana saja di Afrika. Ini adalah imoralitas dan penghinaan terhadap budaya kami; kami mengutuknya secara total."

Rep Nkeiruka Onyejeocha, seorang pemimpin perempuan yang lolos dari upaya pembunuhan tahun 2011 lalu,2 mengatakan ia berharap suara ini akan mengirim sinyal kuat kepada negara-negara Barat bahwa moral dan nilai-nilai etika Nigeria tidak untuk dijual.


Apa isi RUU ini?

RUU tersebut akan mengatur hukuman penjara 14 tahun lamanya bagi pada siapa saja yang melakukan "pernikahan sesama jenis atau pernikahan sipil" atau membantu dan bersekongkol untuk tindakan itu. Bagi pelaku hubungan sejenis yang mempertunjukkan kemesraan di depan umum dapat dihukum penjara selama sepuluh tahun. RUU ini juga melarang klub dan organisasi pelaku hubungan sejenis.

Ketika RUU ini sedang diperdebatkan di Senat Nigeria tahun lalu, PM Inggris Mr. Cameron mengatakan bahwa menurutnya harus ada "pamrih" dalam pemberian bantuan luar negeri, dan bahwa ia akan mempertimbangkan memotong bantuan bagi negara-negara yang menolak menerima praktek hubungan sejenis. Menyusul kemudian pemerintahan Mr. Obama yang memerintahkan pimpinan organisasi bantuan asing untuk menggunakan sumber daya mereka untuk mempromosikan penerimaan praktek itu di luar negeri.


Perlu pengesahan Presiden

Setelah disahkan DPR, klausul demi klausul dari RUU itu akan dibahas dalam sidang paripurna sebelum pemungutan suara akhir yang akan mengirimkannya kepada Presiden Goodluck Jonathan untuk persetujuan.

Menurut laporan LSN, para aktivis homoseksualisme di AS telah meluncurkan petisi online yang mendesak Presiden Jonathan untuk memveto undang-undang tersebut.

Uganda, Ghana, dan negara-negara Afrika lainnya terus menyuarakan penolakan terhadap intimidasi para homoseksualis dan administrasi pemerintah negara-negara Barat yang membeking mereka untuk memaksakan nilai-nilai yang dianutnya, tidak hanya kepada masyarakat mereka sendiri, tetapi juga kepada negara-negara merdeka.


Masalah hak anak dan perkembangan di Eropa dan Amerika

Di Eropa Barat dan Amerika Utara terlihat peningkatan sikap permisif terhadap berbagai tindakan yang tabu, seperti seks bebas termasuk hubungan sejenis. Hal ini telah mendapat kritik dan protes dari berbagai elemen masyarakatnya yang menentang homoseksualisme, terutama dari kalangan religius dan akademisi.

Prof. Rivers, pengajar Jurisprudens di Fakultas Hukum Universitas Bristol, Inggris, mengatakan: "Pernikahan menegaskan nilai kesetaraan antara pria dan wanita, dan mendorong terciptanya kesejahteraan anak-anak.”(MP)

Sudah merupakan retorika para homoseksualis bahwa hak menikah juga harus diberikan kepada pasangan sejenis, dan bahwa mereka dapat juga membesarkan anak-anak. Akan tetapi, upaya yang tampaknya "didasarkan pada alasan kesetaraan, stabilitas dan kemudahan" ini tidak memperhitungkan anak-anak, dan mereka banyak kali memang tak bisa menyuarakan suara mereka sendiri.


Membela hak anak bukan membela posisi tertentu

Penerimaan praktek yang ditentang oleh Alkitab ini mempunyai implikasi luas terhadap pendidikan anak-anak termasuk hak adopsi anak. Dengan dilegalisasinya 'pernikahan' sesama jenis, maka anak-anak di sekolah-sekolah diajarkan tentang 'normal'-nya praktek ini, dan pasangan sejenis pun dapat mengadopsi anak-anak.

Mgr. Andrรฉ Armand Kardinal Vingt-Trois, Uskup Agung Paris, menyatakan penolakan Gereja Katolik atas rencana pemerintah Perancis, dan menyerukan kepada para peziarah di Kota Lourdes bahwa anak-anak membutuhkan ayah dan ibu untuk membangun identitas mereka.

"Saat kita membela hak anak-anak untuk membangun identitas mereka, itu mengacu pada laki-laki dan perempuan yang melahirkan dan membesarkan mereka," kata Kardinal Vingt-Trois.(MP)

Ungkapan Kardinal Vinght-Trois menunjukkan bahwa debat legalisasi pernikahan sesama jenis tidak mati di argumen kesetaraan, hak asasi perorangan, bahkan pembentukan ide kemasyarakatan secara menyeluruh, namun bahwa ada kepentingan lain yang perlu diperhatikan, dan yang sangat rentan diabaikan dan dikorbankan, yaitu anak-anak.

Anak-anak berhak untuk dibesarkan oleh orangtua biologis mereka, yaitu seorang ayah dan seorang ibu. Dan gereja dan negara wajib menyediakan lingkungan yang aman dan menunjang bagi perkembangan fisik dan mental anak-anak.

"
Ketika kita membela hak anak-anak untuk membangun kepribadian mereka dengan mengacu pada pria dan wanita yang memberi mereka kehidupan, kita tidak membela posisi tertentu," kata Uskup Agung Paris tersebut, "Kita memahami apa yang terlihat lewat praktek dan kebijaksanaan semua orang sejak awal mula dan yang dikonfirmasi oleh para spesialis modern saat ini." []



-------

1 Nigeria to Western nations: We’d sooner refuse aid than legalize same-sex “marriage,” LifeSiteNews (link).

2 Abia State National Assembly member escapes assassination, Nigeria Daily News (link).

Beberapa sudut pandang Kristen tentang The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2

Written By Ray Maleke on Jumat, 07 Desember 2012 | 23:47

Beberapa waktu lalu saya menulis tentang pengalaman saya bersama isteri dan ipar saya, menonton salah satu dari The Twilight series.1 Dari pengalaman itu saya telah mencoba memperingatkan para pencari hiburan supaya berhati-hati dan bersikap kritis jika memilih untuk menonton serial terbaru The Twilight, atau film apa saja.

Ada hal yang menarik pada waktu itu. Baru saja saya mempost tulisan bernada “peringatan” itu di blog Menara Penjaga dan berniat membagikannya buat teman-teman di Facebook, di feeds reader Fb saya muncul status salah seorang teman di kampung halaman, “Twilight, beking tagantong eh” (Melayu Manado, aduh Twilight membuat tergantung). Saya garuk-garuk kepala sambil senyum sendiri. Agak terlambat? Tanya saya dalam hati.

Kalau Anda sudah membaca tulisan saya itu, maka saya perlu menginformasikan kepada Anda bahwa ipar saya tidak datang, karena itu saya tidak menonton seri 2. Tapi dari membaca berbagai komentar kalangan Kristen mengenai film yang mempesona para remaja perempuan dan ibu-ibu ini (kalau beritanya betul), saya merasa cukup yakin bahwa keputusan saya benar (yaitu tidak menggunakan uang saya untuk mendukung produsernya). Nah buat mereka yang telah menontonnya, tolong diperbaiki kalau saya keliru menilai film ini dari mengikuti berita media informasi.


Tanggapan Vatikan

Vatikan adalah pusat gereja terbesar di dunia, yaitu Gereja Roma Katolik. Dari kota-negara ini (Vatikan adalah sebuah negara), gereja yang beranggotakan lebih dari satu milyar anggota di seluruh dunia ini memberikan masukan-masukan dan penilaian terhadap hal-hal yang dibuat manusia, termasuk film yang bersentuhan langsung dengan budaya.

Penilaian Vatikan terhadap film ini tidak akan menyenangkan hati para penggemar The Twilight (untunglah kebanyakan fansnya lebih tertarik pada cerita cintanya, yang memang mengundang emosi dan bisa menutup intelek).

Menurut komentar dari Dewan Kebudayaan Kepausan “[f]ilm ini tidak lebih dari sebuah kekosongan moral dengan pesan yang menyimpang dan dengan demikian harus menjadi keprihatinan."2

Pernyataan lainnya dari Vatikan adalah bahwa film ini diarahkan pada “orang muda” (hal yang sejalan dengan penilaian saya waktu lalu), namun siapa juga yang tak tahu itu. Tapi Msgr Franco Perazzolo yang menjadi jurubicaranya juga menyebutkan bahwa tema vampir dalam film ini menggabungkan berbagai campuran dari hal-hal yang kelewatan dan mengandung elemen kebatinan yang kuat. Silahkan menafsirkannya sendiri. 


Tanggapan seorang pemimpin megachurch di Amerika Serikat

Nilai kurang yang diberikan Vatikan di atas mengandung tingkat moderasi yang tinggi dibanding dengan komentar Pdt Mark Driscoll yang dikenal sebagai seorang pemimpin megachurch di AS. Ia menulis di blognya bahwa serial The Twilight “bagi remaja perempuan sama seperti pornografi bagi remaja laki-laki: sakit, menyimpang, jahat, berbahaya, menyesatkan, dan populer.” Judul blog postnya adalah “A Father's Fright of Twilight” [ketakutan seorang ayah mengenai Twilight].3 (Pdt Mark mempunyai seorang anak remaja perempuan berusia 13 tahun).

Pernyataannya itu terang mengundang kontroversi, dan Pdt Mark Driscoll memang seorang yang kontroversial. Ia sendiri adalah seorang yang telah menunjukkan diri sebagai seorang pemimpin gereja yang sering bersikap kritis terhadap budaya, dan sebelumnya ia juga sudah memperingatkan tentang the Twilight dalam sebuah khotbahnya yang dimuat di You Tube.4 Di situ ia mendesak supaya hadirin berhati-hati dengan budaya yang dimanipulasi oleh Setan untuk tujuannya. Menurutnya “sebuah film adalah khotbah bergambar.” Saya setuju itu, tapi ada juga yang dikatakan Pdt Mark (dalam konteks lain) yang saya tidak setuju.


Tanggapan seorang profesor dan penulis buku terhadap Pdt Mark

Beth Felker Jones adalah seorang profesor teologi di Wheaton College, Illinois, AS. Ia juga adalah pengarang buku Touched by Vampire (disentuh oleh vampir) yang menurutnya ditulis dengan harapan “gereja dapat berpikir secara alkitabiah dan dengan iman mengenai tema-tema dalam cerita ini.”5 Saya berpikir, kalau sampai ada buku yang ditulis mengenai hal ini tentunya ada sesuatu yang penting mengenai buku dan film Twilight ini.

Prof Beth dalam sebuah artikel yang dimuat di Her.meneutics berpendapat bahwa isu gender (jenis kelamin) yang nampak dari kritik Pdt Mark adalah bagian dari masalah yang menciptakan fenomena Twilight ini. Hal ini karena Twilight diarahkan kepada para gadis dan perempuan, sehingga muncul anggapan bahwa masalah di sini adalah masalah gender.

Tidak demikian menurut Prof Beth. Baginya masalah di sini adalah menjadikan seseorang sebagai segala-galanya, sehingga hidup seseorang, apakah perempuan atau laki-laki, menjadi sekedar satelit yang berorbit pada yang diidolakannya. Sama seperti Bella yang rela mengorbankan apa saja – “keluarga, teman, pendidikan, kemungkinan untuk menjadi seorang ibu, kemanusiaannya, bahkan jiwanya” – untuk bisa bersama-sama dengan Edward.

Dan hal yang paling menakutkan dalam film ini menurutnya bukanlah hal yang menyangkut spiritualnya, melainkan hal-hal yang hakikatnya ada pada kejatuhan, kisah yang menunjukkan bahwa perempuan dibuat untuk pria, dan bukan untuk Tuhan.

Menyangkut perbandingan Twilight dengan pornografi, Prof Beth menulis:

Saya kuatir bahwa menyamakan Twilight dengan pornografi menyembunyikan beberapa masalah yang sebenarnya. Saya tidak meragukan bahwa fan mania film Twilight mempunyai beberapa kemiripan dengan kecanduan pornografi. Sama seperti pornografi, Twilight menawarkan versi palsu dari cinta, seks, dan asmara yang dapat menjauhkan kita dari rancangan baik Allah bagi kita dalam berbagai bidang kehidupan. Tapi untuk menyebut Twilight sebagai pornografi bagi remaja putri adalah hal yang memalukan dan menyelubungi masalah pornografi yang sebenarnya. Twilight bukan pornografi. Pornografi adalah pornografi.”

Ia menambahkan bagaimana pornografi menghalangi orang untuk melihat bahwa seksualitas adalah pemberian yang suci dari Tuhan.

Jika ada masalah dengan Twilight, maka itu lebih menyangkut penyembahan berhala daripada pornografi,” lanjut Prof Beth. “[Twilight] melahirkan fantasi yang besar, yang ternoda, bahwa seorang gadis dapat menemukan penyelamat dalam diri seorang laki-laki - kalau dia rela menyerahkan segala-galanya.”

Prof Beth mendorong supaya impian yang positif seseorang tidak ditaruh dalam pencarian akan 'si dia', melainkan tentang melayani Kristus sebagai Tuhan dan menggunakan semua bakat yang Tuhan beri untuk membagikan kasih dan menjadi saksi bagi Kerajaan Surga.

Bagian itu mengingatkan saya akan sebuah ayat Alkitab yang mengatakan "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33).

Prof Beth terkesan ingin memberikan dorongan bagi remaja puteri untuk menemukan kepenuhan dalam Juruselamat mereka. Namun, tentu saja hal ini tidak hanya untuk remaja puteri, tapi juga remaja putra yang akan dipertemukan Tuhan pada waktunya, supaya keduanya menjadi teman sejiwa dan sepenanggungan, untuk saling menghargai dan saling melindungi, di sepanjang hidup.*** 




 
1 Hati-hati menonton The Twilight Saga: Breaking Dawn Part 2, Menara Penjaga (link). 

2 Vatican official slams "Twilight" series, Catholic Media Review (link); Twilight is a 'deviant moral vacuum': Vatican slams blockbuster New Moon film, Mail Online (link).

3 A father’s fright of Twilight, Resurgence (link).

4 You Should Be Discerning about Twilight, You Tube (link). 

5 Why Mark Driscoll Is Wrong about Twilight, Her.meneutic (link); Kutipan dan referensi seterusnya berasal dari artikel ini.

Gugurnya pahlawan perempuan abad ke-21: DR. Maria Santos Gorrostieta Salazar

Written By Menara Penjaga on Rabu, 28 November 2012 | 06:52

Dr. Maria Santos Gorrostieta Salazar (foto: FoxNews)
MEKSIKO, Michoacan (26 November 2012).

Dr. Maria Santos Gorrostieta Salazar (36), seorang penganut Katolik yang taat dan merupakan mantan walikota perempuan di kota Tiquicheo, Meksiko, ditemukan tewas. Pihak berwenang mengindikasikan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh kejahatan terorganisir.1

Ibu Maria sebelumnya telah mengalami dua kali percobaan pembunuhan. Pada percobaan pertama di tahun 2009 ia berhasil lolos, namun suaminya, Jose Sanchez, yang juga merupakan seorang mantan walikota, terbunuh. Tiga bulan kemudian, mobil yang ditumpanginya diberondong dengan senjata, yang mengakibatkan luka parah ditubuhnya.


Luka-luka akibat percobaan pembunuhan

Menurut laporan BBC, Ibu Maria menunjukkan luka-luka yang dialaminya lewat sebuah koran lokal. Dalam kesempatan itu ia menetapkan tekadnya untuk “terus berjuang, tetap setia kepada cita-cita dan keyakinan saya, dan yakin bahwa kebenaran akan membebaskan kita."2

Saya ingin menunjukkan kepada mereka [para penyerangnya] tubuh saya yang terluka, dimutilasi, dan dipermalukan, karena saya tidak malu dengan tubuh saya, karena itu adalah produk dari kemalangan besar yang telah menimpa hidup saya, anak-anak dan keluarga saya,” ungkapnya dalam sebuah wawancara dengan El Universal setelah percobaan pembunuhan kedua.3

"Saya harus menanggung kerugian yang saya tidak inginkan terjadi pada siapa pun, dan saya harus menerima semua itu dengan pengunduran diri dan dengan kesadaran bahwa itu adalah kehendak Tuhan, dan terus maju, sekalipun dengan jiwa yang terluka," turut dikutip The Christian Post.4

"Meskipun demikian, lepas dari keselamatan saya sendiri dan keluarga saya, apa yang menjadi pikiran saya adalah tanggung jawab saya terhadap masyarakat saya: anak-anak, perempuan, orang tua dan laki-laki yang membanting tulang setiap hari tanpa istirahat untuk mendapatkan sepotong roti untuk anak-anak mereka, "lanjutnya.

"Saya akan tetap berdiri selama Tuhan mengijinkan saya, untuk terus mencari, menggali, menegosiasikan rencana, proyek dan tindakan untuk kepentingan semua masyarakat, tetapi khususnya, bagi mereka yang rentan. Inilah diri saya."


Diculik di depan puterinya

Ibu Maria yang mengakhir masa jabatannya tahun lalu diculik pada tanggal 12 November. Menurut kutipan laporan El Universal oleh Huffington Post, mobilnya disergap ketika mengantarkan puterinya ke sekolah di kota Morelia, yang terletak di bagian utara-tengah negara bagian Michoacan.5

Menurut laporan itu ia ditarik dari kendaraannya di depan para saksi mata yang ketakutan. Dikatakan ia “memohon supaya anaknya jangan diganggu” dan kemudian menuruti para penculiknya naik ke mobil mereka.

Tubuh pahlawan perempuan6 abad 21 ini ditemukan di wilayah tenggara Michoacan. Kantor berita Spanyol EFE melaporkan bahwa lututnya terdapat luka-luka dan tampak dua pukulan fatal di belakang lehernya. Tanda-tanda menunjukkan bahwa tangannya juga diikat.

Wilayah hutan dan pegunungan Michoacan digunakan oleh para pedagang obat bius untuk menanam mariyuana. Para pejabat pemerintah telah menjadi target pedagang obat terlarang setelah presiden Meksiko mengumumkan perang terhadap obat terlarang tahun 2006 lalu. 


Telah memilih yang terbaik 

Ibu Maria meninggalkan suami keduanya Nereo Delgado Patinoran, seorang anak perempuan dan dua orang anak laki-laki.

“...tubuh saya yang termutilasi berbicara dengan sendirinya, [itu] bukti betapa rentannya kita, akan hidup kita yang rapuh, dan akan kehendak Allah, yang selalu ada di tengah kenestapaan kita sehari-hari,” ungkap Ibu Maria menghadapi tantangan hidupnya. Ia telah memilih yang terbaik.

Kiranya kekuatan dan penghiburan Allah akan menyertai keluarga yang ditinggalkan, dan tekad serta pemberian hidup Ibu Maria akan menginspirasi masyarakat Meksiko untuk tidak menyerah menghadapi kejahatan yang memperdaya dan memperhamba. (MP) 







1 Mexican former mayor found dead, Fox News Latino (link).

2 Mexico ex-mayor killed after surviving two attacks, BBC (link). 

3 Maria Santos Gorrostieta Salazar; her statement, Borderland Beat (link), memuat pernyataan Ibu Maria setelah lolos dari upaya pembunuhan kedua kali. 

4 Maria Santos Gorrostieta, Former Mexican Mayor, Found Dead by Roadside, The Christian Post (link); Maria Santos Gorrostieta Salazar; her statement, Borderland Beat (link).

5 Maria Santos Gorrostieta Dead: Former Mexico Mayor Found Tortured, Murdered In Michoacan, Huffington Post (link). 

6 A True Heroine of Mexico: Maria Santos Gorrostieta Salazar, One Old Vet (link); 'Please spare my little girl': How Mexico's fearless female mayor sacrificed herself to save her daughter's life as she was abducted by drug gang, tortured and executed, SOTT (link).

Konferensi global antikekerasan terhadap perempuan akan dilaksanakan di Australia

Written By Menara Penjaga on Selasa, 27 November 2012 | 10:54

AUSTRALIA, Canberra (26 November 2012). 

Australia akan menjadi tuan rumah konferensi global Pita Putih (White Ribbon), gerakan yang dilakukan oleh kelompok pria guna menghentikan tindak kekerasan terhadap wanita, demikian kutipan laporan dari Kompas.com. 

Dalam sebuah forum di Gedung Parlemen di Canberra, hari Senin (26/11/2012), Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengatakan pemerintah akan mendukung konferensi yang berlangsung bulan Mei 2013 di Sydney dimana para akademisi, pejabat pemerintah dan lembaga lain akan berkumpul.

Gerakan Pita Putih ini dimulai di Toronto, Kanada, 20 tahun lalu, ketika terjadi pembunuhan terhadap 14 mahasiswi.

Di Australia, gerakan ini dimulai di tahun 2003, dan sekarang ini lebih dari 58 ribu pria Australia sudah menyampaikan tekad untuk tidak pernah menggunakan kekerasan dalam kehidupan mereka, dan akan berbicara terbuka bila mereka melihat tindak kekerasan terhadap wanita di tempat lain.

Dalam laporan ini disebutkan tentang pembunuhan wartawan ABC Jill Meagher yang mendorong reaksi warga Australia, namun tidak disebutkan bahwa sebagian masyarakat Australia melihat pembunuhan ini merupakan akibat dari pornofikasi masyarakat. (MP)

Gerakan Pita Putih di Amerika Serikat sangat kuat dikaitan dengan perang melawan pornografi. Susan Roach, dalam artikelnya berjudul “Pornography is center of White Ribbon campaign” [pornografi sebagai fokus kampanye Pita Putih], menulis: “Penelitian secara definitif menunjukkan bahwa pornografi mengaitkan seks dengan kekerasan dan eksploitasi.”

Ia menyoroti dampak pornografi terhadap diri pribadi, keluarga, dan masyarakat, dan merupakan industri yang meraup untung lebih besar dibanding gabungan dari Microsoft, Google, eBay, Amazon dan Netflix. (EMC) 

Konferensi mengenai kekerasan terhadap wanita ini akan diselenggarakan di Universitas Wollongong, 13-15 Mei 2013. Pemerintah Federal memberikan dana 200 juta rupiah guna mendukung acara ini. Pemimpin partai oposisi Tony Abbot mengatakan dia mendukung kampanye Pita Putih tersebut.

"Sebagai saudara dari tiga kakak perempuan, dan ayah dari tiga anak perempuan saya memiliki tugas untuk membangun dunia yang aman bagi orang-orang yang saya cintai." kata pemimpin Partai Liberal tersebut.

"Sangat memprihatinkan bahwa satu dari tiga wanita dewasa Australia menghadapi tindak kekerasan dan pelecehan seksual dalam hidup mereka. Kita tidak boleh berhenti sampai kita bisa menghentikan tindak kekerasan terhadap wanita." tambah Abbot.

Toni Abbot adalah seorang politikus yang mendapat perhatian media karena mendukung penolakan terhadap 'pernikahan' sejenis di Australia, ketika saudara perempuannya Christine Foster telah memilih untuk berhubungan dengan seorang perempuan setelah perceraiannya. Karena posisi Abbot tersebut ia menjadi bulan-bulanan dari para homoseksualis dan media sekularis, sementara Christine sendiri berharap sekiranya ia bisa menjelaskan pada mereka tentang rasa empati yang ditunjukkan saudaranya itu kepadanya. (The Australian)

(RUU tentang 'pernikahan' sejenis ditolak dengan perolehan suara 98:42 pada 19 September lalu. Partai Liberal dengan tegas menolak pengesahannya. Senator Dean Smith, seorang yang terang-terangan menyukai sesama jenis mengatakan "Kesetaraan untuk pernikahan telah menjadi slogan." Ia berpendapat bahwa penolakan kelompok Liberal terhadap pernikahan sejenis adalah hal yang "mulia dan patut dipuji," dan ia sendiri setuju dengan posisi ini. [Herald Sun])

Kembali ke Pita Putih.

Pemimpin Partai Hijau Australia Christine Milne mengharapkan di gedung parlemen dijadikan "tempat kerja Pita Putih" dimana para anggota parlemen dan Senator berperilaku etis terhadap para wanita., "Penggunaan bahasa bisa mempengaruhi perilaku. Itulah sebabnya saya kira kita harus menggunakan kata-kata yang merefleksikan tempat kerja kita, dan sangatlah bijak bila parlemen bisa juga menjadi tempat kerja Pita Putih," kata Milne. [*]

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger