"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Afrika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Afrika. Tampilkan semua postingan

Belajar dari kelebihan dan kekurangan Nelson Mandela

Written By Menara Penjaga on Senin, 16 Desember 2013 | 03:35

Nelson Mandela ketika muda (foto: Wikipedia).
Mantan presiden Afrika Selatan, Nelson Rolihlahla Mandela, berpulang pada Kamis 5 Desember 2013, dalam usia 95 tahun. Kelebihan hidupnya mewarnai berbagai media, sebagian turut memuat apa yang dinilai sebagai kekurangannya.
Banyak hal yang telah dilakukan Tata Madiba, demikian panggilan akrabnya (tata berarti Bapak dan Madiba adalah nama klan suku Xhosa), dan banyak orang yang ingin menghitungnya sebagai pahlawan di pihaknya.
Ia adalah seorang figur besar yang memberi inspirasi.Seperti kata pepatah: Tak ada gading yang tak retak. Namun, Mandela tetaplah seorang guru besar. Ia akan diingat sebagai figur yang mengakhiri sistem yang menodai kesakralan etnisitas (apartheid) dan martabat manusia secara keseluruhan.
Tak terhitung ungkapan penghargaan yang diutarakan untuk mengenang pemimpin besar Afrika ini; di antaranya datang dari seorang pemimpin gereja dari Afrika Selatan (Afsel), Pastor PJ Smyth. Dalam tulisannya, yang dimuat oleh Christianity Today, ia memberi enam alasan mengapa ia menjunjung tinggi mendiang Nelson Mandela:
Yang pertama adalah “kerendahan hati dan belas kasih seperti Yesus” yang dimiliki Tata Madiba. Menurut Ps Smyth, Tata memperlakukan anak jalanan dan presiden dengan penghargaan yang sama.
Kedua adalah pemikirannya yang melampaui generasinya.
Ketiga adalah komitmennya untuk memperjuangkan keadilan sosial dan keharmonisan etnik/ras di Afsel.
Keempat rasa humornya di tengah tanggung jawab yang berat.
Kelima teladannya dalam menyikapi penderitaan.
Dan “lebih dari semua itu” tulis Ps Smyth, “kami menghormati Mandela untuk menunjukkan teladan pengampunan dengan cara yang sama seperti Kristus.”
Jalan kehidupan
Nelson Mandela dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena menentang sistem yang meminggirkan masyarakat Afrika di tanahnya sendiri.
Setelah 27 tahun menjalani masa hukuman yang dijatuhkan padanya, ia dibebaskan, dan lewat pemilihan umum ia menjadi presiden orang Afrika pertama di Afrika Selatan.
Ia pun merangkul lawan-lawan politiknya (yang didominasi oleh settlers) untuk membangun Afsel bersama.
“Nelson Mandela memiliki semua alasan untuk membenci. Tapi sebaliknya, ia mengajarkan dunia bagaimana mengampuni,” demikian kata-kata di sampul belakang sebuah DVD dari Discovery Channel yang dikutip oleh Ps Smyth.
Nelson Mandela (Foto: REUTERS/Mike Hutchings).
Namun Mandela kemudian tidak hanya dikenal sebagai seorang yang “mengampuni,” ia juga berupaya untuk membela hak-hak orang miskin, yang mengambil bagian dalam perang terhadap HIV/AIDS, termasuk advokasinya untuk hal-hal yang menjadi kritik baginya.
Misalnya dalam isu pembunuhan bayi tak bersalah (aborsi).
Uskup Rhode Islands Thomas Tobin berucap, “Kami mendoakan istirahat yang damai bagi jiwa abadi Presiden Mandela dan pengampunan dosa-dosanya, kami hanya menyayangkan pekerjaan mulia yang ia lakukan dalam membela martabat manusia tidak menyertakan anggota termuda dari keluarga manusia kita, yaitu anak-anak yang belum lahir,” demikian dikutip LSN.com.
Tahun 1996 ketika menjabat sebagai Presiden Afsel, Mandela mengusulkan dan menandatangani UU yang mengijinkan praktek aborsi yang menurut laporan resmi, sejak disahkan, telah menelan korban hampir setengah juta bayi dalam kandungan.
Ia juga dikritik (namun dipuji oleh aktivis homoseksualisme) untuk dukungannya terhadap legalisasi pasangan sejenis di Afsel pada tahun 2006. Enam tahun setelah Belanda, yang adalah negara pertama yang mengambil langkah ini (Afrika Selatan mempunyai hubungan khusus dengan Belanda di antaranya karena hubungan kolonialisme di masa lalu).
Sikapnya sebagai seorang pemimpin politik serupa dengan mantan Uskup Agung Desmond Tutu sebagai seorang pemimpin agama dalam isu ini.
Yang juga dianggap sebagai kekurangannya adalah Mandela dituduh sebagai seorang komunis/marxis. Hal ini karena idealisme ekonominya serta afiliasinya di masa lalu. Namun sepertinya Mandela bukan seorang anti-agama, melainkan ia ingin meningkatkan taraf hidup banyak orang miskin, terutama rakyat asli Afrika sendiri.
Ia sempat ingin menasionalisasi ekonomi Afsel, namun tidak dilaksanakan karena alasan "investor.”
Sampai sekarang kebanyakan masyarakat asli Afrika masih terus bergumul dengan kemiskinan.
Di dalam diri setiap manusia ada pijar kebaikan yang menunjukkan siapa pemilik hidup kita, dan dosa akan terus berupaya untuk mengaburkannya.
Sama seperti Tata Madiba kita semua akan berpulang. Karena itu, kita perlu belajar meneladani apa yang baik dan menghindari apa yang tidak baik di mata Sang Pemilik Kehidupan. (+)


--------
PJ Smyth, “A South African Pastor Shares Why South Africans Honour Nelson Mandela,” Christianity Today.com, December 5, 2013. (Subscription)Andrew Ross Sorkin, “How Mandela Shifted Views on Freedom of Markets,” The New York Times, December 9, 2013 http://finance.yahoo.com/news/mandela-shifted-views-freedom-markets-015848071.html
John Henry Westen, “U.S. Catholic bishop calls Mandela’s support of abortion ‘shameful’, black leaders concur,” Lifesitenews.com,December 9, 2013,http://www.lifesitenews.com/news/u.s.-catholic-bishop-calls-mandelas-support-of-abortion-shameful-black-lead


Surat Nabi Muhammad untuk biara Kristen di kaki gunung Sinai

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 Agustus 2013 | 10:36

Biara St. Katarina di bawah kaki gunung Sinai, Mesir (foto: orthodoxwiki).

Di kaki Gunung Sinai, di lokasi yang merupakan tempat suci agama Yahudi, Kristen dan Islam, berdiri salah satu biara tertua yang masih berfungsi saat ini, yaitu Biara Santa Katarina.

Pendirian biara ini dimulai pada tahun 337 Masehi, ketika Ratu Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus, memprakarsai pembangunan sebuah gereja di lokasi yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa melihat api dari semak duri yang tak terbakar. 

Pengembangannya dilakukan oleh Kaisar Justinus antara tahun 527-565 Masehi dengan membangun Basilika Transfigurasi, sehingga namanya menjadi Biara Transfigurasi. Namun, sejak abad ke-9 Masehi menjadi terkenal sebagai Biara St. Katarina dari Alexandria oleh sebab kehadiran relik sang martir di situs itu. 

Biara ini tidak hanya menyimpan ribuan manuskrip abad silam dan karya seni Kristen yang mengagumkan, tetapi juga sebuah surat dari nabi junjungan dan pemimpin umat Islam. 

Surat yang ditulis tahun 623* Masehi ini berisi tentang perintah Nabi Muhammad untuk menghormati dan melindungi hak asasi dan kebebasan beragama umat Kristen.

Kutipan Bahasa Inggris dan terjemahan dari surat itu:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai sebuah perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, baik yang dekat maupun yang jauh, kami bersama dengan mereka.

Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
Bahwasanya aku, para pelayan, penolong, dan pengikutku membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah rakyatku; dan demi Allah! Aku menentang apapun yang tidak menyenangkan mereka.

No compulsion is to be on them.
Tidak boleh ada pemaksaan terhadap mereka.

Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
Para hakim mereka tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan mereka, dan para biarawan tidak boleh dikeluarkan dari biara mereka.

No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan tempat ibadah mereka, atau merusaknya, atau memindahkan apapun dari situ ke rumah kaum Muslim.

Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet.
Jika ada yang melakukan hal-hal ini, ia melanggar perjanjian Allah dan tidak mematuhi Rasul-Nya.

Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
Bahwasanya, mereka adalah sekutuku dan dengan mereka aku menetapkan perjanjian yang kuat melawan semua yang mereka benci.

No one is to force them to travel or to oblige them to fight.


Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka untuk berperang.

The Muslims are to fight for them.
Muslimlah yang akan berperang bagi mereka.

If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Jika seorang perempuan Kristen dinikahkan kepada seorang Muslim, hal itu tidak boleh terjadi tanpa persetujuannya. Ia tidak boleh dilarang pergi ke gerejanya untuk berdoa.

Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dicegah dari memperbaiki gereja-gereja itu, ataupun dari kesucian perjanjian-perjanjian mereka.

No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).”
Tidak boleh ada umat Muslim yang tidak mematuhi perjanjian ini sampai Hari Terakhir (kiamat).”



Menurut tradisi, sebuah delegasi dari Sinai memohon perlindungan dari Nabi Muhammad. Hal ini dikabulkan dan sebuah surat ditulis serta disahkan dengan menaruh tangannya di atas dokumen itu. 

Pada tahun 1517, Sultan Selim I, dengan mengakui isi dokumen itu, membawanya untuk disimpan dalam perbendaharaan istana di Konstantinopel. Ia pun memberikan salinan untuk disimpan di biara St. Katarina, yang turut disertai gambaran telapak tangan sebagai lambang bahwa dokumen itu disahkan oleh Nabi Muhammad. 

Dokumen ini sekarang disimpan di Museum Topkapi di Istambul, Turki. 

Biara St. Katarina, yang merupakan salah satu dari situs warisan dunia, merupakan rumah dari manuskrip Alkitab, Kodeks Sinaitikus (ditulis 330-350 Masehi), yang saat ini disimpan di British Library. 

Di dalam St. Katarina juga terdapat Mesjid Fatima yang baru-baru ini direnovasi. Bangunan ini merupakan sebuah kapel yang berubah fungsi menjadi mesjid pada tahun 1106 dan tepat berdiri di samping gereja Ortodoks, sehingga minaretnya berdekatan dengan menara lonceng gereja.

Mesjid ini menjadi lambang perlindungan dari para kalifa Mesir, termasuk toleransi dari para biarawan terhadap Islam. Penduduk lokal Beduin, Jabaliya, secara turun-temurun memegang kunci mesjid ini. 


Sumber: st-katherine.net | ijtihad.org | yusril.com

*John Grainger dan Francis Gilbert, "Around the sacred mountain: The St Katherine Protectorate in South Sinai, Egypt" in Protected Landscapes and Cultural Amb [I.E. and] Spiritual Values, ed. Josep Maria Mallarach (Heidelberg: Kasparek, 2008), 24; beberapa tulisan di Internet mengatakan tahun 626 atau 628 Masehi. 
Sejarah toleransi beragama dapat ditelusuri jauh dalam sejarah, termasuk pelanggaran-pelanggaran dari semua pihak.  

Melawan “penghijauan” dan “kristenisasi,” termasuk pembantaian dan perusakan seperti di Mesir

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 02:38

Seorang pria bersedih saat ia melihat salah satu dari banyak jenazah korban penyerbuan kamp pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi di Alun-alun Rabaa al-Adawiya, oleh pasukan keamanan Mesir, di Kairo, 14 Agustus 2013 (AFP PHOTO / MOSAAB EL-SHAMY via Kompas.com)
MP – Di sejumlah group facebook berplatform Kristen tampak sejumlah "posting-keprihatinan," bahkan kecaman, mengenai upaya “penghijauan” – istilah yang menunjuk pada 'peng-Islaman' daerah tertentu.

Sementara di group yang berplatform Islam, kita dapat menemui ungkapan yang sama tentang “kristenisasi” atau upaya 'peng-Kristenan' umat Islam (non-Islam).

Kedua istilah ini: “penghijauan” dan “kristenisasi,” serta ide yang terkandung di dalamnya, bukan hal yang baru. Keduanya lahir dan merupakan kelanjutan dari sejarah panjang tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan agama. Di balik itu adalah kepentingan politik, ekonomi, yang mencakup keserakahan, rasa superioritas, dan ketidak-sanggupan untuk mengendalikan diri.

Entah apa yang terus memberi kelanjutan terhadap istilah-istilah seperti ini di tengah komunitas beragama saat ini.

Padahal, penggunaan kedua istilah ini menyinggung perasaan umat beragama secara umum, terlebih khusus bagi kedua belah pihak, ketika muncul tudingan bahwa pihak yang satu sedang MEMAKSAKAN agamanya kepada pihak yang lain.

Dapat dimengerti bahwa kedua istilah itu menyinggung perasaan, karena pengikut agama yang tulus tidak akan memaksa (mengancam) orang lain untuk percaya apa yang ia percaya. Idenya juga bertentangan dengan akal sehat: seseorang tidak bisa dipaksa untuk mempercayai sesuatu yang tidak ia percaya.

Di samping itu, kedua istilah ini menyarankan bahwa para pemeluk agama tidak memiliki otonomi untuk menentukan apa yang mereka percaya/imani.


Kekritisan, kehati-hatian (kepekaan), dan rasa kemanusiaan

Karena itu, munculnya istilah-istilah di atas harus disikapi dengan kekritisan dan kehati-hatian (kepekaan). Ada orang yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena memang prihatin, namun TIDAK disertai dengan kekritisan dan kehati-hatian.

Namun, ada pula yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena suatu niat yang tak tulus, tak jujur; dengan maksud untuk menciptakan antipati (permusuhan) antara para pemeluk agama, supaya ketika ketegangan telah meningkat, jika sewaktu-waktu diperlukan, telah siap sebuah “bom kemanusiaan” yang dapat dipicu dengan sebuah tindakan pemerkosaan atau pembakaran/pemboman sebuah rumah ibadah.

“Senjata” seperti sudah sering dipakai oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, yang menghalalkan segala cara untuk mengamankan posisinya, memaksakan pengaruhnya, dan terutama mengamankan akses ke berbagai sumber daya untuk bisa hidup di atas penderitaan orang lain.

Jikalau yang disebut agama paling tidak membukakan mata manusia, maka masyarakat beragama perlu mengembangkan rasa percaya antara satu dengan yang lain, bukan karena agama, melainkan karena kemanusiaan yang kita semua miliki.

Kemanusiaan manusia tidak bisa diukur dari agama, etnik, pilihan politik, atau cara tertawa seseorang.

Manusia itu menjadi manusia karena HATINYA diisi dengan rasa kemanusiaan.


Pelajaran dari Mesir dan Indonesia

Sekarang ini sulit membayangkan bahwa pemerintah Mesir yang dibentuk setelah kudeta militer beberapa waktu yang lalu memiliki hati yang diisi dengan rasa kemanusiaan.

Associated Press (AP) yang dikutip Kompas.com menyebutkan 638 korban tewas dan sekitar 4000 lainnya luka-luka pada Rabu Berdarah (14 Agustus) ketika “pemerintah” tersebut membubarkan para demonstran. Dari pihak lain, Ikhwanul Muslimin [Muslim Brotherhood] mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang dan korban luka mencapai 10.000-an orang.

Mereka ini dibahasakan oleh sejumlah media sebagai pro-Mursi, pro-Muslim Brotherhood, atau pro-Islamis. Hanya saja seorang demonstran yang diwawancarai BBC menolak bahwa aksi mereka adalah demi Presiden Mursi, atau apapun, melainkan demi demokrasi dan martabat negeri mereka, Mesir.

Mereka dan rakyat Mesir secara keseluruhan adalah korban dari sebuah upaya manuver politik, yang bukan rahasia memuat begitu banyak kepentingan luar.

Kepentingan itu, apakah baik atau tidak bagi rakyat Mesir, adalah masalah tersendiri. Akan tetapi, suatu tindakan keamanan (baca: militer), mengatas namakan suara rakyat sekalipun, yang membunuhi rakyat, baik perempuan maupun laki-laki, jelas melanggar kesakralan sebuah demokrasi dan nilai kemanusiaan.

Hati siapa yang takkan tergerak melihat foto para korban. Mereka adalah ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka adalah rakyat yang menuntut sebuah konsistensi demokrasi, bagaimanapun itu.

Kita tidak mau dituduh mempunyai standar ganda dalam berdemokrasi, bukan?

Retorika penyelamatan Mesir dari "Islam radikal" tak lagi menjual. Mengapa di Suriah kebijakan yang muncul justru mempersenjatai gerakan yang tampak jelas memang radikal? 

Siapa yang lebih radikal dalam situasi ini telah nampak jelas. Ini adalah radikalisme yang mengkudeta demokrasi dan membantai rakyat dengan menggunakan alat keamanan negara.

Mungkin nanti ada narasi pembenaran terhadap penolakan terhadap Muslim Brotherhood, sama seperti kita di Indonesia punya narasi yang melegitimasi pembubaran PKI. Sayang kita sering dibuat lupa bahwa penolakan ideologi tak sama dengan pembantaian rakyat. Ada yang menyebut jumlah 300.000 sampai satu juta orang yang dibunuh secara keji pada tahun 65, dan kenyataannya kita masih hidup dalam kemiskinan hampir setengah abad kemudian.

Sendi-sendi perekonomian masih dikuasai oleh pihak asing, dan kroni-kroni koruptornya. 

Kita juga dibiarkan tak mengerti tentang semua kepentingan politik dan ekonomi di balik pergolakan politik semacam ini, dan untuk kasus Mesir, jika rakyat dan pemerintah gagal memperoleh solusi, mungkin tak hanya setengah abad kemudian rakyatnya masih akan tetap miskin, tapi juga Mesir akan porak-poranda dalam sebuah perang saudara.

Sampai sekarang agama masih dieksploitasi untuk kepentingan politik busuk. Tak dapat disangkal politisasi agama pun telah dimasukan ke dalam sejarah revolusi dan restorasi Mesir.

Mungkin Paus Tawardos II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik, berniat baik dengan hadir pada pengumuman Jenderal Sisi bahwa Presiden Mursi telah diturunkan, tapi tindakan itu nampak kurang bijak.

Sekarang kita bertanya, berapa banyak di antara “pendukung demokrasi” yang menyadari bahwa politisasi kelompok etnis Koptik dan Gereja Ortodoks Koptik tidak ada hubungannya dengan jemaat-jemaat Kristen Mesir yang ingin memiliki kebebasan beribadah, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka.

Siapa yang tahu? Yang kita tahu adalah mereka yang membakar gereja atau membunuhi orang Kristen itu melakukannya bukan karena agamanya, melainkan karena terang hatinya telah tertutup kabut amarah atau yang hatinya belum diisi dengan nilai kemanusiaan.

Perdana Menteri Turki Tayyib Erdogan punya poin yang penting, “Mereka yang tinggal diam menghadapi pembantaian ini sama bersalahnya dengan mereka yang melakukan (pembantaian) ini.” (Kompas.com)

Kalau ingin melakukan sesuatu, kita bisa mengikuti Paus Fransiskus. “Saya ingin memastikan doa saya untuk semua korban dan keluarga mereka, yang terluka dan semua orang yang menderita. Mari kita berdoa bersama untuk perdamaian, dialog dan rekonsiliasi di tengah bangsa ini dan seluruh dunia,” demikian sebagian isi doanya mengikuti tragedi pembantaian di Mesir. (News.va)

Dalam doa dan tindakan kita bisa melawan kata-kata yang mengundang permusuhan antar agama, kebencian antar sesama manusia, termasuk pembantaian rakyat dan penghancuran rumah ibadah seperti yang terjadi di Mesir. (+)

Siapa yang keliru, Paus Fransiskus atau mantan Uskup Agung Desmond Tutu?

Written By Menara Penjaga on Senin, 12 Agustus 2013 | 13:26

MP – Sejumlah media Kristen mengkritik pemberitaan luas tentang pernyataan Paus Fransiskus mengenai homoseksualitas yang menempatkan seolah-olah ia mengambil posisi yang lebih lunak dibanding pendahulunya Paus Emiritus Benediktus XVI.

“Siapa saya untuk menghakimi mereka?” ungkap Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan wartawan di pesawat (29 Juli 2013), setelah iven World Youth Day (festival pemuda sedunia Gereja Katolik) di Copacabana, Rio de Janeiro, Brazil.

Ungkapan kerendahan hati ini pun dikutip di berbagai media massa, mengarahkan bahwa posisi pemimpin dari 1, 2 miliar anggota Gereja Roma Katolik ini “sangat berbeda dengan sikap yang dilontarkan pendahulunya terkait isu yang sama” (BBC, huruf tebal redaksi).

Pengiringan opini itu dianggap keliru oleh sejumlah media massa berplatform Kristen.


Ekspresi kasih yang benar

Paus Fransiskus (foto: Filippo Monteforte/AFP)
LifeSitesNews.com (LSN), media berita nirlaba Gereja Katolik, menilai berbagai pemberitaan media mengenai pernyataan Paus adalah misleading “menyesatkan.” ChristianPost.com menyebutnya sebagai misrepresentation (penggambaran yang keliru). 

LSN menyediakan konteks pernyataan Paus Fransiskus tersebut, termasuk ajaran (katekisasi) Gereja Katolik menyangkut praktek hubungan sejenis yang dinilai sebagai “acts of grave depravity” (tindak kebejatan yang berat).

Kecenderungan pada ketertarikan sesama jenis juga dikategorikan sebagai “disorder“ (kelainan) dan “trial” (godaan) bagi mereka yang mengalaminya.

Pernyataan dan sikap Paus Fransiskus yang menunjukkan kasih kepada mereka yang mengalami ketertarikan sesama jenis ditempatkan dalam ajaran katekisasi bahwa mereka “harus diterima dengan rasa hormat, belas kasih, dan kepekaan. Setiap pertanda diskriminasi yang tak adil terhadap mereka harus dihindari.”

Ekspresi kasih tersebut tidak dimaksudkan bahwa Gereja Katolik “okay” dengan imam yang mempraktekan homoseksualitas, hal pertama karena imam dalam Gereja Katolik mengambil sumpah selibat. Tidak pula dengan hasrat dan praktek hubungan sejenis secara keseluruhan. 

Gereja Katolik berusaha menanggapi kenyataan hidup akibat dosa ini dengan pendekatan yang injili. 

Dalam wawancara di pesawat tersebut Paus Fransiskus membedakan antara seorang yang mempunyai ketertarikan sesama jenis dengan yang berusaha mempengaruhi kebijakan untuk meluaskan praktek hubungan sejenis (yang disebut "lobi gay").

“Jika mereka (orang yang mempunyai ketertarikan sesama jenis) menerima Tuhan dan memiliki itikad baik, siapa saya untuk menghakimi mereka? Mereka tidak boleh dipinggirkan. Masalahnya bukan pada kecenderungan ke arah ketertarikan pada sesama jenis...mereka adalah saudara-saudara kita,” ungkap Paus.

Yang menjadi masalah menurut pemimpin umat Katolik ini adalah berbagai upaya menyangkut “lobi gay.”

“Yang merupakan masalah adalah upaya lobi dari orientasi ini, atau lobi dari orang-orang yang serakah, lobi politik, lobi Masonik, dan banyak lagi lobi lainnya. Ini yang merupakan masalah yang parah,” tuturnya. 


Allah adalah kasih

Mantan Uskup Agung Gereja Anglikan
Cape Town, Afrika Selatan (foto: CP).

Menyangkut isu yang sama. Mantan uskup agung Gereja Anglikan dari Afrika Selatan, Desmond Tutu, membuat sebuah pernyataan kontroversial.

“Saya tidak mau menyembah Allah yang homofobik,” ungkap pemenang Nobel perdamaian ini berbicara di sebuah acara peluncuran kampanye global PBB bidang hak asasi manusia di Cape Town, Afrika Selatan  (26 Juli 2013). Kegiatan ini untuk mempromosikan persamaan hak dan toleransi terhadap mereka yang mempunyai ketertarikan terhadap sesama jenis, bi-seksual, termasuk transgender.

Istilah “homofobik” yang digunakan pemenang Nobel perdamaian ini cukup bermasalah.

Associated Press telah melarang wartawannya menggunakan istilah ini dalam konteks sosial dan politik.

“-fobia” didefinisikan sebagai “rasa takut yang irasional, tak terkendalikan, seringkali dalam bentuk penyakit mental,” demikian ditulis dalam Style Book AP. 

Istilah “homofobia” sudah melenceng, karena mengandung maksud bahwa seseorang itu “menyandang cacat mental, dan menyarankan suatu pengetahuan yang kita tak punya,” demikian penjelasan Dave Minthorn, wakil editor standard AP, kepada Politico setahun yang lalu.

Dari definisi itu, logika tentang “Allah yang homofobik” menjadi sulit dibayangkan.

Allah tidak memiliki kelainan mental. Allah adalah kasih, dan di dalam kasih tidak ada ketakutan. 

Kekeliruan pernyataan penerima Nobel Tutu itu mendapat kecaman dari komunitasnya. 

Uskup Agung Dr. Daniel Yinkah Sarfo dari Gereja Anglikan Ghana, di antaranya menyebut bahwa para uskup Anglikan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengutuk pernyataan itu. (ChristianNewsWire.com)

"Deklarasi Tutu menuntut supaya Allah bekerja menurut kemauannya," ungkap Uskup Agung Sarfo. 

Uskup Agung Gereja Anglikan Ghana
Dr. Daniel Yinka Sarfo (foto: idio.net).


Kita jangan keliru

Jadi siapa yang keliru, Paus Fransiskus atau mantan uskup agung Tutu?

Penting untuk membedakan yang tampak benar namun keliru dan yang diberitakan secara keliru, namun memiliki kebenaran.

Memahami Allah lewat pemahaman yang setia mengenai Alkitab akan menghindarkan umat Kristen dari kekeliruan yang berbahaya. Dalam kasih tidak ada ketakutan.(+)

Pdt. Faye Pama Musa: Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku

Written By Menara Penjaga on Kamis, 01 Agustus 2013 | 21:16

NIGERIA, Borno (MP) – Laporan Open Doors, organisasi advokasi Kristen teraniaya, membuka kembali lembaran pahit keluarga mendiang Pdt. Faye Pama Musa yang ditembak mati oleh tiga orang bersenjata di kediamannya di Maiduguri, negara bagian Borno, Nigeria, 14 Mei 2013 lalu.

Sebulan setelah kejadian yang memiriskan hati ini, pengurus Open Doors disambut oleh ibu Mercy, janda dengan empat orang anak. “Yang kulihat hari ini adalah persahabatan sejati,” ungkapnya. 

“Bagaimana kau bisa datang ke Maiduguri pada saat berbahaya ini ketika orang-orang sedang meninggalkan kota? Kau disambut di sini dalam nama Yesus. Saya senang bertemu denganmu lagi.”

~+~


Pada peristiwa malam 14 Mei itu, Pdt. Musa, ibu Mercy dan sebagian dari anak-anak mereka sedang berada di rumah. Sementara ibu Mercy sedang mempersiapkan makan malam, Zion (17), remaja putri yang duduk di luar, melihat tiga orang bersenjata melompat pagar. Dia berlari masuk ke ruang tamu untuk mengingatkan ayahnya.

Pdt. Musa melirik melalui jendela dan melihat para pelaku sudah berada di pintu depan. Mereka menerobos masuk dan berteriak, "Semua orang di lantai!"

Pdt. Musa langsung menyadari mengapa orang-orang itu datang, dan mencoba meloloskan diri melalui pintu belakang dan melompati pagar. Tapi mereka berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke teras rumah. "Hari ini kau adalah orang mati. Panggil Yesusmu untuk membantumu, Mr CAN!"* teriak salah satu penyerang.

Pdt. Musa tidak menyerah tanpa perlawanan. Sementara bergulat dengan tiga orang itu, ia terus-menerus memanggil nama Yesus.

Saat itu Zion tidak bisa menanggung mendengar ayahnya. Dia bangun dari lantai dan lari ke teras. Dia memohon para penyerang untuk tidak membunuh ayahnya. Mereka melepaskan tembakan ke arahnya tapi luput. Namun, syok membuatnya pingsan.

Pergumulan terus berlanjut. Ibu Mercy mendengar suaminya berkata, "Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku." Saat ia merangkak ke pintu, ia melihat penyerang menembak suaminya tiga kali di bagian kepala. Pdt. Musa meninggal di tempat, dan para penyerang kabur dengan sebuah mobil.

Pdt. Musa tidak hanya memiliki teman di kalangan orang Kristen. Banyak saudara-saudara Muslim menyatakan syok dengan kematiannya. Seorang pejabat keamanan Muslim terkemuka mengutuk keras pembunuhan itu. Ia mengatakan, "Pdt. Faye Pama Musa adalah seorang duta perdamaian. Aku akan merindukan pria Kristen ini yang adalah berkat dan aset besar bagi masyarakat ini."

Pdt. Musa meninggalkan seorang istri, ibu Mercy, dan empat orang anak: Winner (19), seorang mahasiswa di Universitas Ghana, Zion (17), seorang siswa sekolah menengah, Praise (11), dan Miracle (6), kedua masih murid pendidikan dasar. Saat ini Open Doors menopang dengan bantuan moneter untuk kebutuhan mendesak seperti sewa dan biaya sekolah.

"Terima kasih untuk tetap menaruh kami dekat dengan hati kalian," ungkap ibu Mercy. "Terima kasih untuk pemberian ini. Tetapi di atas semuanya, terima kasih untuk cinta kalian untuk keluarga saya. Semoga Tuhan yang baik semakin mempersatukan kita."


* Alm. Pdt. Musa, selain sebagai Pengawas Umum Rhema Assembly International Church, beliau adalah juga Sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN).
Doakan masyarakat Nigeria, terutama orang Kristen, yang masih terus menghadapi kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh para teroris. Darah para martir adalah pupuk bagi gereja.

Guinea: Identitas etnik dan agama, berkat atau kutuk?

Written By Menara Penjaga on Jumat, 19 Juli 2013 | 03:18

Pemerintah menerapkan jam malam di kota terbesar kedua di Nigeria (foto AP).
GUINEA, N'Zerekore (MP) – Sekurangnya 54 orang tewas di Guinea, sebuah negara Afrika, akibat konflik yang terjadi antara etnik Guerze dan Konianke. Para korban dilaporkan tewas akibat dibakar hidup-hidup atau diparang, demikian dilaporkan oleh Aljazeera.

Konflik kekerasan berawal hari Senin di Koule ketika seorang penjaga pompa bensin berlatarbelakang etnik Guerze memukuli sampai mati seorang remaja berlatar belakang etnik Konianke yang dituduh mencuri.

Tindakan kriminal ini menyulut perkelahian di sebuah ibukota provinsi dekat wilayah kejadian, N'Zerekore yang berpenduduk sekitar 300.000 orang. Dilaporkan bahwa 80 orang terluka dan sejumlah rumah dihancurkan.

Sejumlah saksi mengatakan kepada AFP bahwa kedua pihak saling menyerang dengan menggunakan parang, kapak, tongkat, batu, senjata api, dan membakar rumah dan kendaraan.

Konflik komunal sudah sering terjadi di wilayah itu, dipicu oleh masalah agama atau ketidak senangan lainnya.

Etnik Guerze kebanyakan adalah penganut agama Kristen sedangkan Konianke, yang dilihat sebagai pendatang baru, adalah Muslim dan dianggap dekat dengan etnik Mandingo di Liberia yang berbatasan dengan Guinea. Yang terakhir juga mempunyai sejarah berseberangan dengan Etnik Guerze dalam perang saudara yang terjadi di Liberia.


Faktor-faktor yang menyebabkan konflik etnik dan agama

Komunitas etnik dan agama yang mempunyai sejarah permusuhan cenderung mengabadikan retorika kebencian antara kedua kelompok, sehingga sewaktu-waktu konflik dapat muncul dengan konsekuensi yang mengerikan.

Hilangnya fungsi adat dan kurangnya peran tokoh agama dalam memfasilitasi [penyelesaian] konflik-konflik antara-suku dan agama juga berperan dalam mudah tersulutnya konflik komunal yang menelan korban jiwa dan harta.

Agama dan etnik adalah dua hal yang masih mendominasi terjadinya tragedi kemanusiaan, dan kelihatannya menjadi titik lemah sebuah pertahanan negara. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah lebih baik orang tak beragama dan tak beretnik?

Orang bisa mengatakan tak beragama atau tak beretnik, namun dengan demikian pun ia masih mengkategorikan dirinya pada suatu kelompok, dan kelompok yang satu tetap berpotensi untuk terlibat konflik dengan kelompok yang lain.

Kebanggaan dan solidaritas etnik dapat menjadi berkat jika kesadaran etnis secara sengaja dibawa ke positive ethnicity (etnisitas positif), menjauh dari sikap etnosentrism (etnisitas negatif) yang membawa kutuk terhadap masyarakat etnik dan agama. (+)



Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika

Written By Menara Penjaga on Senin, 15 Juli 2013 | 12:04

Jumpa pers presiden Senegal dan Amerika Serikat (foto: BCNN5).
AFRIKA (MP)  –  Dalam kunjungannya ke Benua Afrika, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyinggung isu homoseksualitas di tengah sebuah jumpa pers dengan Presiden Senegal Macky Sall, 27 Juni lalu.

"Kami tidak siap dengan dekriminalisasi homoseksualitas," terang Mr. Sall dan menunjukkan bahwa ia dan masyarakat Senegal memiliki sudut pandang yang berbeda. Pernyataannya mendapat dukungan besar dari masyarakat dan media-media massa utama di negara itu.

Bahkan, banyak warga Senegal yang beranggapan bahwa presiden mereka seharusnya lebih tegas. "[Presiden] seharusnya mengatakan, 'Itu tidak pernah bisa eksis di Senegal, itu tidak bisa terjadi di sini'," ujar Tidiane Gueye, warga ibukota Senegal, Dakar, kepada New York Times.

"Senegal adalah 95 persen Muslim," tambah Gueye. "Sebagai negara muslim, kami tidak akan mengizinkan hukum yang memungkinkan pelaku hubungan sejenis untuk menikah."

Seorang pensiunan perwira militer Bouramon Ndour memuji pendirian Mr. Sall dalam menyikapi Mr. Obama. Berbicara tentang homoseksualitas, warga Senegal ini mengatakan bahwa "tidak orang di sini yang dapat menerima hal itu...kami menentangnya dengan keras. Lihat, ini adalah negara Muslim. Langkahi mayat kami dulu!"

Tanggapan yang sama datang dari para pemimpin Kenya. Wakil Presiden William Ruto berbicara di sebuah gereja Katolik pada Minggu 30 Juni, mengatakan bahwa bagi mereka yang menerima homoseksualitas, seperti Mr. Obama, itu adalah "urusan mereka. Kami percaya pada Tuhan." Ia menambahkan bahwa "bangsa Kenya adalah bangsa yang takut akan Allah."

“Lupakan, lupakan, lupakan,” ucap Uskup Agung Nairobi, Kardinal John Njue, kepada Mr. Obama menyangkut legalisasi praktek hubungan sejenis di Afrika.

"Saya pikir kita perlu bertindak sesuai dengan tradisi sendiri dan iman kita," katanya. Berbicara tentang Amerika, Kardinal Njue mengatakan bahwa "orang-orang tersebut yang telah merusak masyarakat mereka ... janganlah mereka menjadi guru kami untuk memberitahu kami ke mana harus pergi."

Sheikh Saliou Mbacke, seorang pemimpin Muslim di Senegal, mengatakan bahwa pemimpin agama di seluruh Afrika memiliki kewajiban untuk berbicara menentang praktek hubungan sejenis, terutama jika ada tekanan untuk membuat rakyat Afrika mengubah pandangan mereka.

"Masalah praktek hubungan sejenis tidak boleh digunakan sebagai alat untuk memeras dan memaksa masyarakat untuk menentang perintah Allah, yang lebih penting daripada kekuatan dunia," katanya. "Kami akan menentang cara paksaan apapun yang mengancam kami untuk menerimanya dalam masyarakat kami."

Di Tanzania, Uskup Anglikan Michael Hafidh mengatakan bahwa sebagian besar para pemimpin Afrika lebih suka Mr. Obama menyimpan pendapatnya tentang praktek hubungan sejenis untuk dirinya sendiri dan fokus pada isu-isu ekonomi yang dihadapi benua Afrika.

Masalah hubungan sejenis "bukan merupakan masalah penting bagi kami sekarang," katanya. "Kami tidak mengakui atau bahkan memikirkan hal itu, apalagi melegalisasinya. Saya pikir karena kita memiliki banyak sumber daya, diskusi kami dengan segenap bangsa lain harus lebih menyangkut investasi dan perdagangan."


Sebanyak 38 negara di seluruh Afrika, di mana agama-agama mayoritas adalah Islam dan Kristen, memiliki hukum yang melarang perilaku homoseksual. (BCNN5)


Terkait: 




Pemimpin Gereja Katolik ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam

Written By Menara Penjaga on Kamis, 11 Juli 2013 | 11:15

Paus Fransiskus ketika membawakan pesan dalam kunjungannya di
Pulau Lampedusa (Youtube).

ITALIA, Roma (MP) – Dalam kunjungannya ke Pulau Lampedusa, Italia, Paus Fransiskus mengucapkan selamat memulai ibadah puasa bagi umat Islam.

Membangkitkan hati nurani

Dalam misa yang dihadiri oleh sekitar 15.000 umat Katolik setempat, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Lampedusa adalah untuk “membangkitkan hati nurani.”

Pulau Lampedusa merupakan gerbang masuk para imigran dari Afrika Utara yang ingin mencari hidup di Eropa. Ribuan orang tiba di pulau ini setiap tahunnya.

Tak sedikit yang meninggal karena tenggelam atau mengalami dehidrasi ketika berjubelan menyeberang dengan perahu.


Tanggung jawab persaudaraan

“Ketika saya mendengar beberapa minggu yang lalu bahwa kembali sejumlah imigran tenggelam, berita itu seperti duri yang menusuk hati saya,” ungkapnya dalam kesempatan itu.

Pemimpin Gereja Katolik ini sedang berbicara tentang peristiwa tenggelamnya paling kurang 10 imigran di dekat Malta, sedang sebuah kapal nelayan Tunisia dituduh menolak untuk menyelamatkan mereka.

“Kita telah kehilangan tanggung jawab persaudaraan kita," ungkap pemimpin Gereja Katolik ini.

“Budaya berkelebihan telah membuat kita tidak peka terhadap kebutuhan orang lain. Kita hidup dalam sebuah balon dari busa sabun, suatu situasi yang membuat kita bersikap tak peduli terhadap orang lain, dan memang hal ini membawa kita pada suatu globalisasi ketidak-pedulian.” 

Paus Fransiskus bertemu muka dengan sekitar 50 imigran di pulau itu. Ia kemudian naik sebuah perahu untuk menaruh karangan bunga sebagai peringatan atas para imigran yang meninggal.

"Saya menyampaikan salam tulus bagi para imigran Muslim yang terkasih, yang malam ini (Senin), akan memulai puasa Ramadhan, dan berharap mereka mendapat berkat rohani yang berlimpah," ungkap kata Paus Fransiskus dalam pesannya.

"Gereja [Katolik] berada dekat dengan Anda dalam upaya pencarian Anda untuk kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga Anda."

Ia mengakhiri pesannya dengan mengatakan o'scia!, yang dalam bahasa setempat berarti “nafasku.” Ungkapan ini diucapkan oleh masyarakat lokal sebagai sebuah ucapan salam yang bersahabat.

Dokumen Konsili Vatikan II tentang Islam

Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah berupaya membangun hubungan baik dengan pemeluk agama Islam.

Dalam salah satu dokumen yang dirumuskan tahun 1964 itu dikatakan:

Kepada umat Islam juga Gereja melihat dengan penghargaan. Mereka menyembah satu Allah yang hidup, kekal, penuh kasih dan kuasa, pencipta langit dan bumi dan yang berbicara pada manusia. Mereka berupaya untuk tunduk dengan segenap hati terhadap aturan-aturan-Nya yang sulit dipahami, sama seperti Abraham, seorang yang dalam iman Islam dengan senang hati dihubungkan dengan mereka.

Sekalipun mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, mereka menghormati-Nya sebagai seorang nabi. Mereka juga menghormati Maria, ibu-Nya perawan suci; ada kalanya mereka berseru kepadanya juga dengan pengabdian yang sungguh.

Di samping itu, mereka menantikan hari penghakiman di mana Allah akan memberikan kepada setiap manusia pahalanya setelah membangkitkannya. Itu sebabnya, mereka menjunjung hidup moral dan menyembah Allah, terutama melalui doa, sedekah, dan puasa.

Sekalipun dalam beberapa abad terjadi perselisihan dan ketegangan antara umat Kristen dan umat Islam, Konsili ini mendorong semua untuk melupakan masa lalu dan dengan tulus berusaha keras untuk menemukan saling pengertian antara keduanya.

Atas nama umat manusia, biarlah keduanya bersama-sama mengupayakan untuk menjaga dan membina keadilan sosial, nilai-nilai moral, kedamaian, dan kemerdekaan.
(Walter M. Abbot, The Comments of Vatican II [New York: Herder and Herder, 1966], 663; terjemahan MP). (+)
(ummid/RomeReports/Youtube/MP)


Bagaimana menjatuhkan pemerintah: Belajar dari kasus “Boko Haram”

Written By Ray Maleke on Minggu, 07 Juli 2013 | 03:07

Sebuah pembunuhan keji kembali terjadi di Nigeria, negara bagian Yobe. 42 pelajar dan seorang guru dilaporkan tewas dalam serangan itu [laporan lainnya mengatakan sekurangnya 30], dan seperti biasa, yang disebut “Boko Haram” diduga sebagai pelakunya. 

Mengapa para pelajar yang tak bersalah ini dinilai pantas diperlakukan demikian hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti orangtua, sahabat dan teman para korban harus hidup dengan luka yang dalam karena perbuatan keji ini.

“Boko Haram” (anti pendidikan Barat) sebenarnya bukan julukan yang menguntungkan untuk Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad (disingkat JAS), karena pada kenyataannya tidak semua hal yang menyangkut pendidikan Barat negatif semata-mata. Ada yang negatif, tapi masih banyak juga hal yang positif.

Itu sebabnya, dengan pengindentifikasian seperti itu, JAS tidak akan mendapatkan simpati dari masyarakat yang mengaku anti kekerasan dan pro-pendidikan. Sekalipun di sisi lain mereka (JAS) mendapat keberpihakan organisasi-organisasi teroris.

Dari namanya saja JAS telah menunjukkan bahwa mereka mempunyai keterkaitan dengan agama Islam. Sekalipun agama Islam tentu tidak berkaitan dengan aksi pemboman dan pembunuhan keji yang terus melanda masyarakat Nigeria.

Hanya mereka yang telah termakan propaganda negatif Islam yang akan percaya hal itu. Sebagian di antara mereka telah mengambil inisiatif untuk memberitakan Injil perdamaian karena menganggap Islam adalah agama kekerasan. Semoga ketika mereka belajar sejarah Perang Salib dan Inkuisisi, mereka dapat melakukan pekerjaan pemberita Injil dengan motivasi yang benar.

Sebenarnya bagian awal judul di atas lebih tepatnya adalah “Upaya menjatuhkan pemerintah.” [Atau "Bagaimana merebut sumberdaya alam"] Ini lebih terang menunjukkan bahwa artikel ini bukan sebuah seruan untuk menjatuhkan pemerintah manapun, terutama yang sah.

Kalau benar pemberitaan media bahwa JAS ada di belakang berbagai aksi kekerasan dan pembunuhan ribuan orang Kristen di Nigeria, tak terkecuali Muslim, maka organisasi ini memang sedang bertujuan menciptakan instabilitas (kekacauan) untuk menjatuhkan pemerintah Nigeria.

Media menyebut bahwa mereka ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, tapi perlu diingat bahwa JAS berkaitan dengan Islam, namun bukan Islam.

Ini karena Islam sekarang ini nampak efektif digunakan untuk menjatuhkan pemerintah. Maksudnya adalah ciptakan sebuah kelompok seperti JAS yang kemudian membunuhi penganut Kristen. Sebagai reaksi adalah munculnya orang-orang Kristen yang akan membunuhi penganut Islam. Hasilnya adalah kekacauan yang siap diamankan oleh negara-negara asing yang membutuhkan sumber daya alam lebih banyak lagi untuk menopang gaya hidup borjuis mereka.

Jadi jelaslah bahwa kasus “Boko Haram” memang dapat menjatuhkan sebuah pemerintah dan menjadikan sebuah negara menjadi ladang penjagalan.

Sangat tragis kalau tulisan ini berakhir di sini.

Karena itu, pertanyaannya adalah apakah ada pelajaran yang bisa diambil dari tindakan haram membunuhi sesama manusia yang tak bersalah?

Setiap masalah pada hakikatnya adalah situasional, dan karena itu jalan keluarnya adalah situasional pula. Yang dimaksud dengan “situasional” adalah tergantung situasi dan kondisi setempat.

Jikalau demikian, maka untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu diskusi, dialog, kerja sama dan rembuk pikir antara semua elemen yang ada dalam situasi dan kondisi setempat. Mereka ini yang tahu bagaimana menyikapi masalah dan mencari jalan keluarnya.

Berbicara dalam kasus seperti di Nigeria, itu berarti pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat dan masyarakat, tokoh-tokoh pemuda dan perempuan, semua yang berkepentingan, perlu menyatukan persepsi untuk bisa merumuskan respon bersama, misalnya dimulai dari peningkatan keamanan lingkungan bersama, intelijen masyarakat, penyediaan lapangan pekerjaan, intensifitas ekonomi masyarakat, dsb.

Jikalau ini tak terjadi, maka jarak antara komunitas-komunitas yang mungkin sedang diadu domba ini akan semakin jauh; membawa mereka semakin dekat pada saling membinasakan.

Itu sebabnya, sekalipun setiap masalah dan jalan keluarnya bersifat situasional, pembelajaran dari kasus “Boko Haram” ini bersifat internasional. Semoga bisa membantu. (+)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger