"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , , » Bagaimana menjatuhkan pemerintah: Belajar dari kasus “Boko Haram”

Bagaimana menjatuhkan pemerintah: Belajar dari kasus “Boko Haram”

Written By Ray Maleke on Minggu, 07 Juli 2013 | 03:07

Sebuah pembunuhan keji kembali terjadi di Nigeria, negara bagian Yobe. 42 pelajar dan seorang guru dilaporkan tewas dalam serangan itu [laporan lainnya mengatakan sekurangnya 30], dan seperti biasa, yang disebut “Boko Haram” diduga sebagai pelakunya. 

Mengapa para pelajar yang tak bersalah ini dinilai pantas diperlakukan demikian hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti orangtua, sahabat dan teman para korban harus hidup dengan luka yang dalam karena perbuatan keji ini.

Boko Haram” (anti pendidikan Barat) sebenarnya bukan julukan yang menguntungkan untuk Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad (disingkat JAS), karena pada kenyataannya tidak semua hal yang menyangkut pendidikan Barat negatif semata-mata. Ada yang negatif, tapi masih banyak juga hal yang positif.

Itu sebabnya, dengan pengindentifikasian seperti itu, JAS tidak akan mendapatkan simpati dari masyarakat yang mengaku anti kekerasan dan pro-pendidikan. Sekalipun di sisi lain mereka (JAS) mendapat keberpihakan organisasi-organisasi teroris.

Dari namanya saja JAS telah menunjukkan bahwa mereka mempunyai keterkaitan dengan agama Islam. Sekalipun agama Islam tentu tidak berkaitan dengan aksi pemboman dan pembunuhan keji yang terus melanda masyarakat Nigeria.

Hanya mereka yang telah termakan propaganda negatif Islam yang akan percaya hal itu. Sebagian di antara mereka telah mengambil inisiatif untuk memberitakan Injil perdamaian karena menganggap Islam adalah agama kekerasan. Semoga ketika mereka belajar sejarah Perang Salib dan Inkuisisi, mereka dapat melakukan pekerjaan pemberita Injil dengan motivasi yang benar.

Sebenarnya bagian awal judul di atas lebih tepatnya adalah “Upaya menjatuhkan pemerintah.” [Atau "Bagaimana merebut sumberdaya alam"] Ini lebih terang menunjukkan bahwa artikel ini bukan sebuah seruan untuk menjatuhkan pemerintah manapun, terutama yang sah.

Kalau benar pemberitaan media bahwa JAS ada di belakang berbagai aksi kekerasan dan pembunuhan ribuan orang Kristen di Nigeria, tak terkecuali Muslim, maka organisasi ini memang sedang bertujuan menciptakan instabilitas (kekacauan) untuk menjatuhkan pemerintah Nigeria.

Media menyebut bahwa mereka ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, tapi perlu diingat bahwa JAS berkaitan dengan Islam, namun bukan Islam.

Ini karena Islam sekarang ini nampak efektif digunakan untuk menjatuhkan pemerintah. Maksudnya adalah ciptakan sebuah kelompok seperti JAS yang kemudian membunuhi penganut Kristen. Sebagai reaksi adalah munculnya orang-orang Kristen yang akan membunuhi penganut Islam. Hasilnya adalah kekacauan yang siap diamankan oleh negara-negara asing yang membutuhkan sumber daya alam lebih banyak lagi untuk menopang gaya hidup borjuis mereka.

Jadi jelaslah bahwa kasus “Boko Haram” memang dapat menjatuhkan sebuah pemerintah dan menjadikan sebuah negara menjadi ladang penjagalan.

Sangat tragis kalau tulisan ini berakhir di sini.

Karena itu, pertanyaannya adalah apakah ada pelajaran yang bisa diambil dari tindakan haram membunuhi sesama manusia yang tak bersalah?

Setiap masalah pada hakikatnya adalah situasional, dan karena itu jalan keluarnya adalah situasional pula. Yang dimaksud dengan “situasional” adalah tergantung situasi dan kondisi setempat.

Jikalau demikian, maka untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu diskusi, dialog, kerja sama dan rembuk pikir antara semua elemen yang ada dalam situasi dan kondisi setempat. Mereka ini yang tahu bagaimana menyikapi masalah dan mencari jalan keluarnya.

Berbicara dalam kasus seperti di Nigeria, itu berarti pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat dan masyarakat, tokoh-tokoh pemuda dan perempuan, semua yang berkepentingan, perlu menyatukan persepsi untuk bisa merumuskan respon bersama, misalnya dimulai dari peningkatan keamanan lingkungan bersama, intelijen masyarakat, penyediaan lapangan pekerjaan, intensifitas ekonomi masyarakat, dsb.

Jikalau ini tak terjadi, maka jarak antara komunitas-komunitas yang mungkin sedang diadu domba ini akan semakin jauh; membawa mereka semakin dekat pada saling membinasakan.

Itu sebabnya, sekalipun setiap masalah dan jalan keluarnya bersifat situasional, pembelajaran dari kasus “Boko Haram” ini bersifat internasional. Semoga bisa membantu. (+)
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger