"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , » Guinea: Identitas etnik dan agama, berkat atau kutuk?

Guinea: Identitas etnik dan agama, berkat atau kutuk?

Written By Menara Penjaga on Jumat, 19 Juli 2013 | 03:18

Pemerintah menerapkan jam malam di kota terbesar kedua di Nigeria (foto AP).
GUINEA, N'Zerekore (MP) – Sekurangnya 54 orang tewas di Guinea, sebuah negara Afrika, akibat konflik yang terjadi antara etnik Guerze dan Konianke. Para korban dilaporkan tewas akibat dibakar hidup-hidup atau diparang, demikian dilaporkan oleh Aljazeera.

Konflik kekerasan berawal hari Senin di Koule ketika seorang penjaga pompa bensin berlatarbelakang etnik Guerze memukuli sampai mati seorang remaja berlatar belakang etnik Konianke yang dituduh mencuri.

Tindakan kriminal ini menyulut perkelahian di sebuah ibukota provinsi dekat wilayah kejadian, N'Zerekore yang berpenduduk sekitar 300.000 orang. Dilaporkan bahwa 80 orang terluka dan sejumlah rumah dihancurkan.

Sejumlah saksi mengatakan kepada AFP bahwa kedua pihak saling menyerang dengan menggunakan parang, kapak, tongkat, batu, senjata api, dan membakar rumah dan kendaraan.

Konflik komunal sudah sering terjadi di wilayah itu, dipicu oleh masalah agama atau ketidak senangan lainnya.

Etnik Guerze kebanyakan adalah penganut agama Kristen sedangkan Konianke, yang dilihat sebagai pendatang baru, adalah Muslim dan dianggap dekat dengan etnik Mandingo di Liberia yang berbatasan dengan Guinea. Yang terakhir juga mempunyai sejarah berseberangan dengan Etnik Guerze dalam perang saudara yang terjadi di Liberia.


Faktor-faktor yang menyebabkan konflik etnik dan agama

Komunitas etnik dan agama yang mempunyai sejarah permusuhan cenderung mengabadikan retorika kebencian antara kedua kelompok, sehingga sewaktu-waktu konflik dapat muncul dengan konsekuensi yang mengerikan.

Hilangnya fungsi adat dan kurangnya peran tokoh agama dalam memfasilitasi [penyelesaian] konflik-konflik antara-suku dan agama juga berperan dalam mudah tersulutnya konflik komunal yang menelan korban jiwa dan harta.

Agama dan etnik adalah dua hal yang masih mendominasi terjadinya tragedi kemanusiaan, dan kelihatannya menjadi titik lemah sebuah pertahanan negara. Hal ini memunculkan pertanyaan apakah lebih baik orang tak beragama dan tak beretnik?

Orang bisa mengatakan tak beragama atau tak beretnik, namun dengan demikian pun ia masih mengkategorikan dirinya pada suatu kelompok, dan kelompok yang satu tetap berpotensi untuk terlibat konflik dengan kelompok yang lain.

Kebanggaan dan solidaritas etnik dapat menjadi berkat jika kesadaran etnis secara sengaja dibawa ke positive ethnicity (etnisitas positif), menjauh dari sikap etnosentrism (etnisitas negatif) yang membawa kutuk terhadap masyarakat etnik dan agama. (+)



Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger