"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Roma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Roma. Tampilkan semua postingan

Anwar Ibrahim: Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen

Written By Menara Penjaga on Selasa, 05 November 2013 | 09:02

(foto: santegidiocommunity)

MP --- "Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen dan menentang umat Muslim yang memerangi orang Kristen," demikian diungkapkan Anwar Ibrahim, anggota Parlemen dan pemimpin Partai Oposisi Malaysia, dalam pertemuan internasional yang diselenggarakan di Roma, Italia, 29 September - 1 Oktober 2013. 

Pertemuan tahunan untuk perdamaian yang diselenggarakan oleh komunitas St. Egidio menghadirkan para pemimpin agama dan politik dunia. Tahun ini tema yang diangkat adalah "The Courage to Hope" (keteguhan hati untuk berharap). 

Kekerasan di Timur Tengah semakin meningkat dan umat Kristen banyak kali menjadi sasaran.

Uskup Agung Aljir Ghaleb Bader memperingatkan penurunan jumlah umat Kristen di Timur Tengah dan Afrika Utara setelah munculnya konflik "Arab Spring."

Ia menekankan pentingnya membedakan antara agama dan politik. Menurutnya "politik mengotori agama."

Hidup berdampingan yang telah berabad-abad terjalin mulai dipertanyakan. Budaya kekerasan menggantikan budaya hidup bersama. 

Ia menambahkan, "hubungan antar penduduk di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah harus didasarkan pada kewarga-negaraan bersama, dan bukan pada afiliasi agama."[+]



Christian Post
http://www.christianpost.com/news/faith-justified-violence-and-hatred-condemned-by-muslim-and-christian-leaders-at-intl-peace-meeting-105907/

MidEast Christian News
http://mcndirect.com/showsubject.aspx?id=49722

SantEgidio Community
http://www.santegidiocommunity.org/2013/10/rome-2013-in-name-of-peaceful-revolt-of.html

Pemimpin Gereja Katolik ucapkan selamat menjalankan ibadah puasa kepada umat Islam

Written By Menara Penjaga on Kamis, 11 Juli 2013 | 11:15

Paus Fransiskus ketika membawakan pesan dalam kunjungannya di
Pulau Lampedusa (Youtube).

ITALIA, Roma (MP) – Dalam kunjungannya ke Pulau Lampedusa, Italia, Paus Fransiskus mengucapkan selamat memulai ibadah puasa bagi umat Islam.

Membangkitkan hati nurani

Dalam misa yang dihadiri oleh sekitar 15.000 umat Katolik setempat, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa kedatangannya ke Lampedusa adalah untuk “membangkitkan hati nurani.”

Pulau Lampedusa merupakan gerbang masuk para imigran dari Afrika Utara yang ingin mencari hidup di Eropa. Ribuan orang tiba di pulau ini setiap tahunnya.

Tak sedikit yang meninggal karena tenggelam atau mengalami dehidrasi ketika berjubelan menyeberang dengan perahu.


Tanggung jawab persaudaraan

Ketika saya mendengar beberapa minggu yang lalu bahwa kembali sejumlah imigran tenggelam, berita itu seperti duri yang menusuk hati saya,” ungkapnya dalam kesempatan itu.

Pemimpin Gereja Katolik ini sedang berbicara tentang peristiwa tenggelamnya paling kurang 10 imigran di dekat Malta, sedang sebuah kapal nelayan Tunisia dituduh menolak untuk menyelamatkan mereka.

Kita telah kehilangan tanggung jawab persaudaraan kita," ungkap pemimpin Gereja Katolik ini.

Budaya berkelebihan telah membuat kita tidak peka terhadap kebutuhan orang lain. Kita hidup dalam sebuah balon dari busa sabun, suatu situasi yang membuat kita bersikap tak peduli terhadap orang lain, dan memang hal ini membawa kita pada suatu globalisasi ketidak-pedulian.” 

Paus Fransiskus bertemu muka dengan sekitar 50 imigran di pulau itu. Ia kemudian naik sebuah perahu untuk menaruh karangan bunga sebagai peringatan atas para imigran yang meninggal.

"Saya menyampaikan salam tulus bagi para imigran Muslim yang terkasih, yang malam ini (Senin), akan memulai puasa Ramadhan, dan berharap mereka mendapat berkat rohani yang berlimpah," ungkap kata Paus Fransiskus dalam pesannya.

"Gereja [Katolik] berada dekat dengan Anda dalam upaya pencarian Anda untuk kehidupan yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga Anda."

Ia mengakhiri pesannya dengan mengatakan o'scia!, yang dalam bahasa setempat berarti “nafasku.” Ungkapan ini diucapkan oleh masyarakat lokal sebagai sebuah ucapan salam yang bersahabat.

Dokumen Konsili Vatikan II tentang Islam

Sejak Konsili Vatikan II, Gereja Katolik telah berupaya membangun hubungan baik dengan pemeluk agama Islam.

Dalam salah satu dokumen yang dirumuskan tahun 1964 itu dikatakan:

Kepada umat Islam juga Gereja melihat dengan penghargaan. Mereka menyembah satu Allah yang hidup, kekal, penuh kasih dan kuasa, pencipta langit dan bumi dan yang berbicara pada manusia. Mereka berupaya untuk tunduk dengan segenap hati terhadap aturan-aturan-Nya yang sulit dipahami, sama seperti Abraham, seorang yang dalam iman Islam dengan senang hati dihubungkan dengan mereka.

Sekalipun mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, mereka menghormati-Nya sebagai seorang nabi. Mereka juga menghormati Maria, ibu-Nya perawan suci; ada kalanya mereka berseru kepadanya juga dengan pengabdian yang sungguh.

Di samping itu, mereka menantikan hari penghakiman di mana Allah akan memberikan kepada setiap manusia pahalanya setelah membangkitkannya. Itu sebabnya, mereka menjunjung hidup moral dan menyembah Allah, terutama melalui doa, sedekah, dan puasa.

Sekalipun dalam beberapa abad terjadi perselisihan dan ketegangan antara umat Kristen dan umat Islam, Konsili ini mendorong semua untuk melupakan masa lalu dan dengan tulus berusaha keras untuk menemukan saling pengertian antara keduanya.

Atas nama umat manusia, biarlah keduanya bersama-sama mengupayakan untuk menjaga dan membina keadilan sosial, nilai-nilai moral, kedamaian, dan kemerdekaan.
(Walter M. Abbot, The Comments of Vatican II [New York: Herder and Herder, 1966], 663; terjemahan MP). (+)
(ummid/RomeReports/Youtube/MP)


Teolog Harvey Cox melihat Cina sebagai populasi Kristen terbesar di dunia

Written By Menara Penjaga on Rabu, 05 Desember 2012 | 00:10

Prof Harvey Cox (foto: pbs.org)
ITALIA, Roma -- Dalam sebuah acara peluncuran buku di Roma, Itali, teolog Harvey Cox, seorang dosen pengajar di Harvard University, Massachusetts (AS), mengungkapkan bahwa Cina akan menjadi negara dengan penduduk Kristen terbesar dalam dua puluh tahun yang akan datang.

“Dialog antar-iman adalah kenyataan sehari-hari di Cina, [negara] yang akan memiliki populasi Kristen terbesar di dunia dalam 20 tahun yang akan datang,” demikian ungkap Prof Cox seperti dilansir CNA (12/1) di Gregorian University milik Serikat Yesus.

Dalam laporan ini dikatakan bahwa Prof Cox mempresentasikan sebuah buku berjudul “Catholic Engagement with World Religions: A Comprehensive Study” [Peran-serta Gereja Katolik dengan Agama-Agama Dunia: Sebuah Study Komprehensif], dalam dialog bersama dengan para editor, termasuk Kardinal Karl Joseph Becker, seorang teolog Jerman mewakili Kongregasi Doktrin Iman Vatikan.

Menurut Prof Cox, buku ini akan “memainkan peran yang sangat penting” dalam menentukan “di mana kita berada di masa lalu, di mana kita sekarang, dan ke mana kita sedang menuju.”


Identitas agama untuk masuk ke dalam dialog yang lebih mendalam

Salah satu editor, Ilaria Morali, yang duduk di Dewan Kepausan untuk Dialog Antar-agama dan mengajar teologi di Harvard bidang dialog dengan Islam, memberi catatan bahwa "titik awal dari buku ini adalah pengalaman yang kita dapati dalam konteks yang berbeda."

"Saya sudah tujuh kali ke Turki di mana saya bertemu seorang seorang profesor Muslim dan kami membahas banyak topik mengenai agama kami," kata Prof Morali.

"Saya mengungkapkan kepadanya tentang perlunya bagi para pelajar muda untuk mempunyai suatu cara yang dapat membantu mereka memahami dan memperdalam pengetahuan teologi dan sikap teologi Katolik terhadap agama non-Kristen."

Menurut Prof Moreli, adalah hal yang fundamental bahwa orang menjaga identitas mereka.

"Kita harus mengakui bahwa kita memiliki cara yang berbeda memahami Yang Ilahi dan kita tidak bisa menghindari perbedaan, tapi saya percaya identitas kita seringkali merupakan instrumen yang diperlukan untuk masuk ke dalam dialog yang lebih mendalam," katanya.

Prof Morali mengungkapkan bahwa dialog antaragama penting karena "itu adalah cara yang unik saat ini yang bisa mengatasi beberapa ketegangan yang ada dan untuk saling mengenal satu dengan yang lain."


Kembali ke teladan Kristus

Seorang partisipan asal Meksiko, Pastor Fernando Velázquez, mengatakan kepada CNA bahwa ia percaya dialog antaragama merupakan "salah satu isu paling penting" yang dihadapi Gereja [Katolik] saat ini.

"Dialog membuka masa depan yang baik dan Gereja sedang menuju ke situ dengan sangat terbuka karena [Gereja] tidak takut," katanya. "Prof Cox telah menyegarkan pikiran kita dan kita harus kembali ke pesan utama Yesus Kristus dan apa yang Dia lakukan ketika Dia akan bertemu seseorang yang berbeda."

"Yesus selalu bertemu dengan orang-orang yang berbeda dengan-Nya," ungkap Fr. Velázquez, sambil menambahkan bahwa ketakutan dan kesalahpahaman yang sering muncul dari media, "yang hanya menggambarkan sebagian kecil dari agama lain dan, disayangkan bahwa orang tidak mencari informasi bagi diri mereka secara lebih baik."

"Solusinya adalah untuk bertemu dengan orang-orang dari agama lain dan membagikan iman Anda dari pengalaman pribadi," tegasnya.

Peluncuran buku ini pada 30 November lalu adalah bagian dari pertemuan dua hari di Gregorian University dalam rangka memperingati ulang tahun ke-80 fakultas misiologi. (MP)

Apakah Kristus mempunyai seorang istri? Waspadai aliran gnostik^

Written By Ray Maleke on Kamis, 20 September 2012 | 13:11

Karen King ketika diwawancarai di
luar gedung institut Agustianium, Roma,
di mana kongres studi Koptik dilaksanakan
(foto: AP/Gregorio Borgia)
ITALIA, Roma (19/9/2012).
(up-dated)

Seorang pengajar di Universitas Harvard (AS) bernama Karen King baru saja mendapat liputan media yang luas berkaitan dengan pemaparannya tentang potongan papirus (kertas yang terbuat dari tanaman air) berbahasa Koptik (Mesir).

Potongan papirus ini diperkirakan berasal dari abad* ke-4 M (empat abad* sesudah kelahiran Kristus) – bandingkan dengan penulisan Kitab Injil yang diperkirakan ditulis pada paroh kedua abad pertama sampai abad ke-2 M (kira-kira tahun 50-175 M).

Yang menjadi topik berita adalah bahwa potongan itu memuat ungkapan Kristus yang ditafsirkan dan diterjemahkan sebagai 'istriku'.

Beberapa berita yang beredar sepertinya langsung menggiring pembaca/pendengar ke arah pemahaman bahwa Yesus pernah menikah. Bukannya ada sesuatu yang salah dengan Yesus (sebagai manusia) menikah, tapi memang tradisi Kristen (ortodoks) meyakini bahwa Kristus tidak menikah, sekalipun dalam berbagai hal menyangkut kemanusiaanNya Ia adalah sama dengan kita (hanya saja Ia tidak berdosa [bnd. Ibrani 4:15]).

Hal itu sejalan dengan ungkapan seorang pemimpin gereja pada sekitar tahun 215 M, Clement dari Alexandria (Mesir), bahwa Yesus tidak menikah.

Dalam pre-publication article mengenai potongan papirus ini, Karen King merujuk pada tulisan Clement untuk mengatakan bahwa ada aliran (ia menuliskan “orang Kristen”) yang percaya bahwa Yesus menikah. Rupanya persoalan ini, yaitu apakah Yesus menikah atau tidak, dihadapi oleh jemaat Kristen Koptik di Mesir.

Karen King membidangi sebuah penelitian yang disebut “Gnosticism,” berasal dari bahasa Yunani gnōsis (“knowledge”). Sebuah definisi tentang aliran ini adalah:
Sebutan menyeluruh untuk berbagai sekte yang berbeda-beda dan menganut paham panteistik-idealistik, yang berkembang pesat pada beberapa waktu sebelum lahirnya kekristenan sampai abad ke-5 M. Sekte-sekte ini meminjam ungkapan-ungkapan dan dasar-dasar kepercayaan yang ada pada agama-agama pada waktu itu, terlebih khusus kekristenan. (lihat selengkapnya di sini)

[Jadi aliran ini bukan Kristen, hanya memakai istilah-istilah dan ajaran Kristen tertentu untuk mengajarkan pemahamannya sendiri.] 

Dalam pre-publication article yang dirujuk di atas, King menulis: 

Published here for the first time is a fragment of a fourth-century CE codex in Coptic containing a dialogue between Jesus and his disciples in which Jesus speaks of “my wife.” This is the only extant ancient text which explicitly portrays Jesus as referring to a wife. It does not, however, provide evidence that the historical Jesus was married, given the late date of the fragment and the probable date of original composition only in the second half of the second century. (p. 1) 

Untuk pertama kalinya dipublikasikan di sini sebuah potongan kodeks [tulisan dalam bentuk buku] dari tahun ke-4 M yang memuat sebuah dialog antara Yesus dan murid-muridNya di mana Yesus mengatakan “istriku.” Ini adalah satu-satunya tulisan kuno yang masih ada yang secara eksplisit menggambarkan Yesus merujuk pada seorang istri. Namun demikian, hal ini tidak menunjukkan bukti bahwa Yesus dalam sejarahnya benar-benar menikah, karena penanggalan potongan itu yang kemudian dan kemungkinan penanggalan tulisan aslinya hanya pada paroh kedua abad ke-2 M. (h. 1) 

Dalam artikel itu King mengindikasikan bahwa keaslian potongan papirus ini pun masih perlu dipastikan, namun dari bahasanya (Koptik Sahidik) dan pelestarian keadaan bahan organiknya maka diperkirakan bahwa potongan ini berasal dari Mesir (h. 2).

"Saya katakan itu palsu. Huruf-hurufnya tidak kelihatan asli," jika dibandingkan dengan contoh lain dari papirus Koptik lainnya dari abad ke-4, ungkap Alin Suciu, ahli papirus dari Univeristas Hamburg, seperti dilansir boston.com.

Pada halaman 34 artikel ini dikatakan bahwa para sarjana umumnya, termasuk King sendiri, menolak menafsirkan hubungan Yesus dengan Maria Magdalena sebagai hubungan romantis, namun sepertinya rekan penulisnya, Luijendjik, memaksakan untuk menafsirkan kata Yunani “agapao” (kasih tanpa syarat) ke arah itu, dengan mengutip sejumlah tulisan gnostik lainnya, termasuk Gnostik Tomas dan Filipus. Para penulis gnostik doyan memakai nama rasul-rasul atau pengikut Kristus yang melayani bersamanya di Galilea dan Yerusalem untuk mendapat pengesahan.

Novel fiksi Da Vinci Code juga didasarkan pada sebuah tulisan gnostik yang sering dirujuk sebagai injil** Maria (Magdalena). Dalam kisah rekaan Dan Brown ini digambarkan bahwa Yesus memiliki keturunan hasil hubungan dengan Maria Magdalena.

Tak jarang orang merujuk pada Da Vinci Code sekalipun itu adalah novel fiksi. Karena itu jangan heran jikalau ada yang merujuk pada pemberitaan media yang menggiring pada cerita yang sama. (MP)
Update:
Berita terkait yang memuat teks potongan papirus yang lebih kecil dari kartu nama itu dapat di lihat di sini.

^ Judul tulisan ini telah disesuaikan untuk menghindari kesalah-pahaman.

* Sebelumnya ditulis "tahun." Atas kekeliruan ini kami mohon maaf. Terima kasih kepada Dr. Lawrence Yoder atas koreksinya. 

** Penamaan 'injil' pada tulisan-tulisan gnostik merupakan buah tangan sarjana-sarjana peneliti tulisan kuno dan terkesan tendesius. Contohnya saja potongan papirus ini hendak disebut sebagai "The Gospel of Jesus' Wife" ('Injil dari Istri Yesus') -- Memang para sarjana kadang kalau tidak kurang bisa terlampau jauh berimajinasi. Kata yang lebih cocok sepertinya adalah gnostik, sehingga seperti contoh di atas rujukan tulisan ini dapat disebut Gnostik Maria. Potongan papirus itu sebut saja potongan/fragmen Karen King, nanti konstruksti kodeksnya bisa saja disebut Gnostik Koptik, misalnya.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger