"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Malaysia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Malaysia. Tampilkan semua postingan

Anwar Ibrahim: Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen

Written By Menara Penjaga on Selasa, 05 November 2013 | 09:02

(foto: santegidiocommunity)

MP --- "Umat Muslim harus mengecam kekejaman yang dilakukan terhadap minoritas Kristen dan menentang umat Muslim yang memerangi orang Kristen," demikian diungkapkan Anwar Ibrahim, anggota Parlemen dan pemimpin Partai Oposisi Malaysia, dalam pertemuan internasional yang diselenggarakan di Roma, Italia, 29 September - 1 Oktober 2013. 

Pertemuan tahunan untuk perdamaian yang diselenggarakan oleh komunitas St. Egidio menghadirkan para pemimpin agama dan politik dunia. Tahun ini tema yang diangkat adalah "The Courage to Hope" (keteguhan hati untuk berharap). 

Kekerasan di Timur Tengah semakin meningkat dan umat Kristen banyak kali menjadi sasaran.

Uskup Agung Aljir Ghaleb Bader memperingatkan penurunan jumlah umat Kristen di Timur Tengah dan Afrika Utara setelah munculnya konflik "Arab Spring."

Ia menekankan pentingnya membedakan antara agama dan politik. Menurutnya "politik mengotori agama."

Hidup berdampingan yang telah berabad-abad terjalin mulai dipertanyakan. Budaya kekerasan menggantikan budaya hidup bersama. 

Ia menambahkan, "hubungan antar penduduk di negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengah harus didasarkan pada kewarga-negaraan bersama, dan bukan pada afiliasi agama."[+]



Christian Post
http://www.christianpost.com/news/faith-justified-violence-and-hatred-condemned-by-muslim-and-christian-leaders-at-intl-peace-meeting-105907/

MidEast Christian News
http://mcndirect.com/showsubject.aspx?id=49722

SantEgidio Community
http://www.santegidiocommunity.org/2013/10/rome-2013-in-name-of-peaceful-revolt-of.html

“Allah:” Menganalisa Malaysia dan sikap umat Kristen (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 18 September 2013 | 00:08

10 Oktober 2013 pagi waktu setempat, sebuah pengadilan banding di Malaysia memutuskan bahwa non-Muslim tidak boleh menggunakan kata "Allah." 

Keputusan ini menganulir keluasan yang diberikan pengadilan lebih rendah kepada The Malaysia Herald (MH), sebuah koran Gereja Katolik di Malaysia, pada 2009 lalu, untuk menggunakan kata serapan Arabik untuk God (bhs. Inggris) tersebut dalam terbitan mereka. 

Menurut hakim, penggunakan kata "Allah" oleh non-Muslim akan menimbulkan kebingungan di masyarakat. 

Di Malaysia sendiri isu ini baru muncul tahun 2008. Selama berabad-abad umat Kristen di Malaysia telah menggunakan kata itu tanpa masalah. 

Fr. Lawrence Andrew, SJ, pemimpin redaksi koran mingguan tersebut, menyesalkan keputusan itu, dan akan membawa kasus ini ke pengadilan federal Malaysia. 

Ia meminta umat Kristen untuk "terus berdoa untuk keadilan." 

Keputusan pengadilan itu mendapat reaksi negatif dari sejumlah masyarakat Malaysia di Borneo (Kalimantan). Kata "Allah" digunakan dalam Alkitab bahasa Malaysia dan bahasa-bahasa daerah di Sabah dan Sarawak, di mana umat Islam dan Kristen hidup berdampingan dengan harmonis.

Pejabat Kementrian Dalam Negeri Malaysia, Datuk Wan Junaidi Tuanku Jaafar, mengungkapkan bahwa pelarangan itu hanya berlaku untuk mingguan MH. 

Federasi Kristen Malaysia mengeluarkan pernyataan bahwa pelarangan penggunaan istilah itu mempunyai konsekuensi yang lebih luas, dan akan secara langsung mempengaruhi penerbitan Kristen dalam bahasa Malaysia. 


Sumber: 
The Malaysian Insider via The Malaysia Herald 
http://www.heraldmalaysia.com/news/Allah-not-exclusive-to-Muslims,-government-declares-ban-only-applies-to-Herald-17277-2-1.html

Asia News
http://www.asianews.it/news-en/Malaysia-,-Christians-banned-from-using-Allah-.-Catholics-announce-appeal-29266.html


-------

MP – Bagaimana penilaian umat Kristen terhadap umat Islam di Malaysia?

Mungkin arah pemikiran banyak orang Kristen akan merasa kesal, sekaligus prihatin, karena bagaimana bisa penggunaan bahasa itu menjadi sebuah masalah nasional.

Tapi adalah penting untuk selalu menganalisa pertanyaan.

Kategori “umat Islam” dalam masalah ini adalah sebuah generalisasi yang kurang bijaksana.

Bahwa ada sejumlah masyarakat Muslim Malaysia yang mendukung bahwa penulisan “Allah” tidak boleh digunakan oleh non-Muslim, itu tidak berarti bahwa seluruh “umat Islam” di Malaysia berpikir demikian.

Mereka yang mendukung hal itu pun tidak semata-mata karena mereka menganut Islam. Ada juga faktor-faktor lain, misalnya ekonomi, politik, budaya, latar belakang pendidikan, dsb; bisa juga karena tidak punya pilihan lain. 


Motif agama

Itulah mengapa orang Kristen perlu bijaksana dalam menyikapi masalah ini.

Itu juga berarti bahwa kemungkinan ada umat Kristen yang bereaksi dengan tidak bijaksana. Dan itu bukan semata-mata karena ia adalah seorang Kristen. Ia juga punya latar belakang, sejarah, pendidikan, kepentingan, dsb.

Semua orang, baik secara pribadi maupun kelompok, bertindak menurut dorongan kepentingan, pengabdian, dan/atau motivasi ibadah.

Yang menjadi pertanyaan adalah motif yang melatar-belakanginya: Apakah demi keadilan, kebenaran, dan belas kasih bagi sesama manusia termasuk lingkungan hidup? Bukankah itu adalah makna agama secara universal, sekalipun dasar keyakinannya berbeda-beda?


Kepentingan politik

Kepentingan politik di balik isu agama di antara umat Muslim Malaysia sudah bukan rahasia lagi. 

Dan jika apa yang diinformasikan oleh The Christian Federation of Malaysia (Federasi Kristen Malaysia [FKM]) adalah benar, bahwa politisasi penggunaan kata “Allah” di Malaysia telah disertai dengan seruan untuk mengibarkan “perjuangan suci,” yang di dalamnya termasuk meningkatkan ketegangan dan manas-manasi umat dengan potensi kekerasan, maka kepentingan politik ini adalah pembajakan sebuah agama.

Orang-orang yang akan terprovokasi tentunya adalah orang-orang dengan pemikiran sederhana yang mencintai agama dan negaranya (jika bukan mereka yang rela melakukan apa saja demi sepiring nasi bagi keluarga).

Mereka tidak melihat kenyataan bahwa kata “Allah” telah digunakan oleh umat Kristen Arab sebelum kelahiran Islam, demikian tulis Proarte dalam bahasa Inggris di Malaysiakini.com. Ia melanjutkan bahwa melarang umat Kristen menggunakan kata 'Allah' menunjukkan ketidak-pahaman umat Muslim Malaysia akan Quran.


Ayat Quran

Tanggapan Imraz Ikhbal memperkuat hal itu. Dengan mantap ia mengajak umat Muslim Malaysia untuk berefleksi dari ayat Quran yang ditulisnya dalam bahasa Inggris:

"And dispute ye not with the people of the earlier scriptures (the Jews and the Christians) except in a manner that is best, save for those who inflict harm upon you, but say to them, "We believe in the revelation which has come down to us and in that which came down to you; Our Allah and your Allah is one and it is to Him that we submit." Sura 29:46

Dan jangan kamu berdebat dengan orang-orang dari kitab suci sebelumnya [Yahudi dan Kristen] kecuali dengan cara yang terbaik, simpanlah itu untuk mereka yang menimbulkan kerugian atas kamu, tetapi katakanlah kepada mereka [Yahudi dan Kristen], “Kami percaya pada pewahyuan yang telah turun kepada kami dan pada yang telah turun kepada kamu; Allah kami dan Allahmu adalah esa dan kepada-Nya kami tunduk.”

"The word of thy Lord doth find its fulfillment in truth and in justice: None can change His words: for He is the one who heareth and knoweth all."
Sura 6:115

Firman Tuhanmu menemukan pemenuhannya dalam kebenaran dan keadilan: Tidak ada yang bisa mengubah firmanNya: karena Ia adalah Dia yang telah mendengar dan mengetahui semua.”


Perbedaan mendasar antara iman Kristen dan Islam

Dalam kenyataannya, sekalipun umat Yahudi, Kristen, dan Islam (agama-agama Abrahamik) mengimani Allah yang Esa itu, ketiganya mempunyai ajaran agama (teologi dan praktek) yang di satu sisi mengandung kesamaan, namun di sisi lain mempunyai perbedaan yang fundamental.

“Quran, yang diklaim umat Muslim sebagai firman Allah, secara eksplisit menyatakan bahwa Allah mewahyukan pesan-[N]ya kepada manusia lewat kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Alkitab,” tulis Proarte.

Namun, menurutnya ada perbedaan pendapat antara pemahaman Kristen dan apa yang ditulis dalam Quran. Contohnya, seperti yang disebutnya, adalah peristiwa kebangkitan Yesus dan konsep Tri-tunggal. (Perbedaan yang bukan tanpa dasar, melainkan memiliki sejarahnya masing-masing.) 

Sekalipun demikian, menurut Proarte, hal ini tidak mengurangi kenyataan bahwa umat Kristen mengimani Pencipta alam semesta, yang dalam bahasa Arab disebut Allah (Ibrani: Elohim; Yunani: Theos; Indonesia: Allah), sekalipun ada pemahaman yang berbeda dengan umat Muslim. 


Upaya dialog

FKM dalam pernyataannya yang dimuat 9 September lalu itu “mengundang saudara-saudari Muslim di Malaysia untuk berefleksi, memahami, dan menghargai konteks bagaimana, kapan dan mengapa umat Kristen menggunakan kata 'Allah'. Penggunaannya sudah berabad-abad dalam sejarah kita bersama tanpa masalah dan kita telah hidup relatif aman dan harmonis sepanjang isu tentang hal ini berlangsung.”

Pada tahun 2009 Pengadilan Tinggi Malaysia memutuskan bahwa kata “Allah” bisa digunakan oleh umat Katolik dalam penerbitannya, jadi tidak eksklusif untuk umat Muslim. Hal ini diikuti oleh sejumlah aksi kekerasan dan serangan terhadap gereja-gereja dan tempat ibadah lainnya. Atas tekanan dari kelompok-kelompok yang menentang keputusan itu, 10 September ini pemerintah Malaysia melakukan banding terhadap keputusan pengadilan itu.

Di tengah situasi ini, upaya untuk sebuah dialog damai pun mendapat halangan dari kelompok-kelompok yang bersikukuh. Salah satu acara dialog baru-baru ini diprakarsai oleh Dr. Mujahid Yusof Rawa. Menurutnya dialog yang tetap berlangsung sekalipun mendapat halangan itu adalah untuk memperkuat persatuan dan perdamaian antara umat beragama.

Uskup Gereja Katolik Paul Tan Chee Ing menyebut Dr. Mujahid sebagai seorang duta perdamaian: “truly, a plenipotentiary of peace,” seperti dikutip Malaysiakini.

“Mari kita semua memahami bahwa dialog yang sejati membuat kita menjadi manusia yang sejati,” tambah uskup Paul Tan.


Dalam doa dan kebijaksanaan

Menurut Asianews.com pengadilan banding akan mengeluarkan keputusan pada Oktober nanti. Mari kita nantikan dalam doa dan kebijaksanaan, dengan mengingat:

Ada orang pintar yang punya kepentingan politik tak jujur, dan ada masyarakat sederhana yang menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya.

Ada pula mereka yang mempunyai kebutuhan sehari-hari, namun hak-haknya telah dirampas oleh sistem di mana yang kaya mengeksploitasi yang miskin. Belum disebut mereka yang berkepentingan untuk mengadu domba umat beragama. [+]

Presiden SBY terima gelar H. C. Ph.D, Indonesia menjadi perhatian dunia

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Desember 2012 | 12:33

Presiden SBY terima gelar doktor honoris causa dari
Univeritas Utara Malaysia (UUM), di Istana Negara Malaysia,
Kuala Lumpur, Rabu (19/11) pagi. (foto: laily/presidensby.info)
MALAYSIA, Kuala Lumpur (MP, 22 Desember 2012). 

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan akademis Honoris Causa Doctor of Philosophy (PhD) dalam kepemimpinan perdamaian dari Universitas Utara Malaysia.

“Penghargaan tersebut diberikan dengan pertimbangan antara lain, karena Presiden SBY dinilai telah berhasil dalam memberikan kontribusi konstruktif dan positif terhadap upaya menjaga perdamaian di kawasan regional dan internasional khususnya di kawasan Asia tenggara dan Pasifik,” kata juru bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, di Kuala Lumpur, Rabu (19/12/2012), seperti dilaporkan Liputan6.com.

Presiden SBY dianggap berkontribusi bagi stabilitas kawasan Asia Tenggara dan juga internasional melalui kepemimpinan Indonesia sebagai Ketua ASEAN pada 2011.

Penghargaan itu disampaikan oleh Raja Malaysia Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong Tuanku Al Haj Abdul Halim di Dewan Seri Maharaja Istana Negara Kuala Lumpur.

Menurut Jubir Presiden, “ASEAN di bawah pimpinan Indonesia dinilai berhasil meredakan ketegangan di kawasan, sehingga tercapai kesepahaman dalam mencari solusi.”


Kemajuan dan demokrasi Indonesia

Beberapa tahun terakhir ini Indonesia berhasil membuat berbagai kemajuan, sekalipun masih harus menghadapi berbagai tantangan.

Pada pertemuan dengan Lee Myung-bak, pada waktu itu masih menjabat sebagai Presiden Korea (Selatan), di Nusa Dua Bali, terungkap bahwa Indonesia “menjadi pusat perhatian dunia.”

Dalam laporan Suara Pembaruan (8/11) ditulis: 

"Saat ini, Indonesia merupakan contoh negara berkembang yang menganut sistem demokrasi dan juga menjadi model dari demokrasi Islam," kata [Presiden] Lee, dalam pidatonya pada Bali Democracy Forum (BDF) V, di Nusa Dua, Bali, Kamis [8/11]. 

Yang disebut mantan presiden Lee dengan “demokrasi Islam” sebenarnya lebih tepat dikatakan Demokrasi Pancasila. 

[Presiden] Lee mengatakan, demokrasi Indonesia merupakan bukti nyata bahwa demokrasi lebih baik dari kediktatoran dan ekstremisme dalam menjamin kesejahteraan, keamanan, kebebasan beragama, dan hak-hak asasi perempuan.

"Saya memberikan penghargaan untuk kepemimpinan Presiden Yudhoyono yang telah menjalankan demokrasi di Indonesia dan menciptakan keharmonisan untuk masyarakat," ujar [Presiden] Lee.

Menurut [Presiden] Lee, mayoritas masyarakat Indonesia juga mendukung demokrasi menjadi sistem politik, dan sejak masa demokrasi perekonomian Indonesia juga tumbuh dengan baik.

"Karena alasan tersebut, Indonesia menjadi pusat perhatian dunia sebagai salah satu negara terkemuka yang menggerakkan ekonomi global," tambah [Presiden] Lee.
 

Seperti diketahui, Korea Selatan telah memilih Park Geun-hye (60) sebagai presiden perempuan Korea (Selatan) pertama, menggantikan Lee Myung-bak, rekan satu partainya, yang mundur sesuai yang disyaratkan undang-undang setelah menjabat selama lima tahun.

Hal ini membuat Indonesia dan Korea (Selatan) termasuk negara-negara Asia yang pernah dipimpin oleh seorang presiden perempuan.

Semoga prestasi yang dicapai Indonesia dapat menjadi pemacu dalam terus memajukan dan mensejahterakan masyarakatnya, demikian kita harapkan dengan Korea (Selatan) di bawah kepemimpinan Presiden Park.***

Perdagangan manusia dan selebaran iklan "TKI on Sale" di Malaysia

Written By Menara Penjaga on Selasa, 30 Oktober 2012 | 07:39

(Ilustrasi: bingkaimerah-indonesia.blogspot.com)
INDONESIA, Jakarta (detikNews, 29 Oktober 2012).

Kecam Iklan
Kementerian Luar Negeri Malaysia mengecam beredarnya selebaran iklan 'TKI on Sale' di Kuala Lumpur. Pembuat iklan itu dinilai melanggar aturan yang dibuat pemerintah Malaysia.

"Malaysia mengecam tindakan tidak bertanggung jawab tersebut, yang memandangkan ia seolah-olah menggambarkan pembantu rumah tangga Indonesia boleh dijual beli seperti barang dagangan," demikian tulisan siaran pers Kemlu Malaysia yang diterima detikcom, Senin (29/10/2012).

Pembuat iklan telah melanggar kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia, yang tercantum dalam protokol meminda memorandum mengenai pengambilan dan penempatan pembantu rumah Indonesia ke Malaysia 2006, yang disebut protokol 2011.

Mau perkeruh suasana
Konsul Malaysia di Pontianak, Khairul Nazran Abd Rahman, menilai selebaran 'TKI on Sale' merupakan ulah pihak-pihak tertentu yang ingin memperkeruh keadaan. Ada kepentingan yang diusung oleh penyebar selebaran tersebut.

"Ini mungkin ada pihak-pihak yang berkepentingan, ingin memperkeruh suasana saja," ujar Nazran usai menghadiri Diklat Terpadu Sekolah Staf Dinas Luar Negeri (Sesdilu), di Hotel Mercure, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (29/10/2012).

Menurut Nazran, hal ini baru pertama kali terjadi. Nazran mengatakan, selebaran itu sangat tidak pantas dikeluarkan dan merendahkan martabat manusia.

"Sebelumnya tidak ada," kata Nazran.

"Tidak wajar ini. Manusia mana boleh dijualbelikan," ujarnya.

Bukan barang dagangan
Sebelumnya dilaporkan bahwa anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanudin, menyesalkan adanya iklan tersebut karena dapat menyinggung perasaan bangsa Indonesia. Namun jika terbukti itu bukan iklan fiktif, politikus PDIP ini menyarankan agar Indonesia mengoreksi diri. Jangan sampai TKI di Malaysia dimanfaatkan oleh makelar-makelar yang mencari keuntungan sendiri.

"Kita yang harus menempatkan diri agar kita tidak dihina," pungkasnya.

-------
Malaysia dan Indonesia adalah tombol panas di Asia Tenggara yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan distabilisasi politik bahkan perang (kalau tidak diantisipasi). Tapi lepas dari dugaan provokasi tersebut, ungkapan TB Hasanudin harus diperhatikan, karena kalau ada TKI yang ke Malaysia lewat makelar, maka sedihnya mereka bisa-bisa ditaruhkan price tag, karena itu berarti sudah menjadi korban perdagangan manusia.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger