"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Agama dan Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Politik. Tampilkan semua postingan

“Allah:” Menganalisa Malaysia dan sikap umat Kristen (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 18 September 2013 | 00:08

10 Oktober 2013 pagi waktu setempat, sebuah pengadilan banding di Malaysia memutuskan bahwa non-Muslim tidak boleh menggunakan kata "Allah." 

Keputusan ini menganulir keluasan yang diberikan pengadilan lebih rendah kepada The Malaysia Herald (MH), sebuah koran Gereja Katolik di Malaysia, pada 2009 lalu, untuk menggunakan kata serapan Arabik untuk God (bhs. Inggris) tersebut dalam terbitan mereka. 

Menurut hakim, penggunakan kata "Allah" oleh non-Muslim akan menimbulkan kebingungan di masyarakat. 

Di Malaysia sendiri isu ini baru muncul tahun 2008. Selama berabad-abad umat Kristen di Malaysia telah menggunakan kata itu tanpa masalah. 

Fr. Lawrence Andrew, SJ, pemimpin redaksi koran mingguan tersebut, menyesalkan keputusan itu, dan akan membawa kasus ini ke pengadilan federal Malaysia. 

Ia meminta umat Kristen untuk "terus berdoa untuk keadilan." 

Keputusan pengadilan itu mendapat reaksi negatif dari sejumlah masyarakat Malaysia di Borneo (Kalimantan). Kata "Allah" digunakan dalam Alkitab bahasa Malaysia dan bahasa-bahasa daerah di Sabah dan Sarawak, di mana umat Islam dan Kristen hidup berdampingan dengan harmonis.

Pejabat Kementrian Dalam Negeri Malaysia, Datuk Wan Junaidi Tuanku Jaafar, mengungkapkan bahwa pelarangan itu hanya berlaku untuk mingguan MH. 

Federasi Kristen Malaysia mengeluarkan pernyataan bahwa pelarangan penggunaan istilah itu mempunyai konsekuensi yang lebih luas, dan akan secara langsung mempengaruhi penerbitan Kristen dalam bahasa Malaysia. 


Sumber: 
The Malaysian Insider via The Malaysia Herald 
http://www.heraldmalaysia.com/news/Allah-not-exclusive-to-Muslims,-government-declares-ban-only-applies-to-Herald-17277-2-1.html

Asia News
http://www.asianews.it/news-en/Malaysia-,-Christians-banned-from-using-Allah-.-Catholics-announce-appeal-29266.html


-------

MP – Bagaimana penilaian umat Kristen terhadap umat Islam di Malaysia?

Mungkin arah pemikiran banyak orang Kristen akan merasa kesal, sekaligus prihatin, karena bagaimana bisa penggunaan bahasa itu menjadi sebuah masalah nasional.

Tapi adalah penting untuk selalu menganalisa pertanyaan.

Kategori “umat Islam” dalam masalah ini adalah sebuah generalisasi yang kurang bijaksana.

Bahwa ada sejumlah masyarakat Muslim Malaysia yang mendukung bahwa penulisan “Allah” tidak boleh digunakan oleh non-Muslim, itu tidak berarti bahwa seluruh “umat Islam” di Malaysia berpikir demikian.

Mereka yang mendukung hal itu pun tidak semata-mata karena mereka menganut Islam. Ada juga faktor-faktor lain, misalnya ekonomi, politik, budaya, latar belakang pendidikan, dsb; bisa juga karena tidak punya pilihan lain. 


Motif agama

Itulah mengapa orang Kristen perlu bijaksana dalam menyikapi masalah ini.

Itu juga berarti bahwa kemungkinan ada umat Kristen yang bereaksi dengan tidak bijaksana. Dan itu bukan semata-mata karena ia adalah seorang Kristen. Ia juga punya latar belakang, sejarah, pendidikan, kepentingan, dsb.

Semua orang, baik secara pribadi maupun kelompok, bertindak menurut dorongan kepentingan, pengabdian, dan/atau motivasi ibadah.

Yang menjadi pertanyaan adalah motif yang melatar-belakanginya: Apakah demi keadilan, kebenaran, dan belas kasih bagi sesama manusia termasuk lingkungan hidup? Bukankah itu adalah makna agama secara universal, sekalipun dasar keyakinannya berbeda-beda?


Kepentingan politik

Kepentingan politik di balik isu agama di antara umat Muslim Malaysia sudah bukan rahasia lagi. 

Dan jika apa yang diinformasikan oleh The Christian Federation of Malaysia (Federasi Kristen Malaysia [FKM]) adalah benar, bahwa politisasi penggunaan kata “Allah” di Malaysia telah disertai dengan seruan untuk mengibarkan “perjuangan suci,” yang di dalamnya termasuk meningkatkan ketegangan dan manas-manasi umat dengan potensi kekerasan, maka kepentingan politik ini adalah pembajakan sebuah agama.

Orang-orang yang akan terprovokasi tentunya adalah orang-orang dengan pemikiran sederhana yang mencintai agama dan negaranya (jika bukan mereka yang rela melakukan apa saja demi sepiring nasi bagi keluarga).

Mereka tidak melihat kenyataan bahwa kata “Allah” telah digunakan oleh umat Kristen Arab sebelum kelahiran Islam, demikian tulis Proarte dalam bahasa Inggris di Malaysiakini.com. Ia melanjutkan bahwa melarang umat Kristen menggunakan kata 'Allah' menunjukkan ketidak-pahaman umat Muslim Malaysia akan Quran.


Ayat Quran

Tanggapan Imraz Ikhbal memperkuat hal itu. Dengan mantap ia mengajak umat Muslim Malaysia untuk berefleksi dari ayat Quran yang ditulisnya dalam bahasa Inggris:

"And dispute ye not with the people of the earlier scriptures (the Jews and the Christians) except in a manner that is best, save for those who inflict harm upon you, but say to them, "We believe in the revelation which has come down to us and in that which came down to you; Our Allah and your Allah is one and it is to Him that we submit." Sura 29:46

Dan jangan kamu berdebat dengan orang-orang dari kitab suci sebelumnya [Yahudi dan Kristen] kecuali dengan cara yang terbaik, simpanlah itu untuk mereka yang menimbulkan kerugian atas kamu, tetapi katakanlah kepada mereka [Yahudi dan Kristen], “Kami percaya pada pewahyuan yang telah turun kepada kami dan pada yang telah turun kepada kamu; Allah kami dan Allahmu adalah esa dan kepada-Nya kami tunduk.”

"The word of thy Lord doth find its fulfillment in truth and in justice: None can change His words: for He is the one who heareth and knoweth all."
Sura 6:115

Firman Tuhanmu menemukan pemenuhannya dalam kebenaran dan keadilan: Tidak ada yang bisa mengubah firmanNya: karena Ia adalah Dia yang telah mendengar dan mengetahui semua.”


Perbedaan mendasar antara iman Kristen dan Islam

Dalam kenyataannya, sekalipun umat Yahudi, Kristen, dan Islam (agama-agama Abrahamik) mengimani Allah yang Esa itu, ketiganya mempunyai ajaran agama (teologi dan praktek) yang di satu sisi mengandung kesamaan, namun di sisi lain mempunyai perbedaan yang fundamental.

“Quran, yang diklaim umat Muslim sebagai firman Allah, secara eksplisit menyatakan bahwa Allah mewahyukan pesan-[N]ya kepada manusia lewat kitab-kitab sebelumnya, yaitu Taurat dan Alkitab,” tulis Proarte.

Namun, menurutnya ada perbedaan pendapat antara pemahaman Kristen dan apa yang ditulis dalam Quran. Contohnya, seperti yang disebutnya, adalah peristiwa kebangkitan Yesus dan konsep Tri-tunggal. (Perbedaan yang bukan tanpa dasar, melainkan memiliki sejarahnya masing-masing.) 

Sekalipun demikian, menurut Proarte, hal ini tidak mengurangi kenyataan bahwa umat Kristen mengimani Pencipta alam semesta, yang dalam bahasa Arab disebut Allah (Ibrani: Elohim; Yunani: Theos; Indonesia: Allah), sekalipun ada pemahaman yang berbeda dengan umat Muslim. 


Upaya dialog

FKM dalam pernyataannya yang dimuat 9 September lalu itu “mengundang saudara-saudari Muslim di Malaysia untuk berefleksi, memahami, dan menghargai konteks bagaimana, kapan dan mengapa umat Kristen menggunakan kata 'Allah'. Penggunaannya sudah berabad-abad dalam sejarah kita bersama tanpa masalah dan kita telah hidup relatif aman dan harmonis sepanjang isu tentang hal ini berlangsung.”

Pada tahun 2009 Pengadilan Tinggi Malaysia memutuskan bahwa kata “Allah” bisa digunakan oleh umat Katolik dalam penerbitannya, jadi tidak eksklusif untuk umat Muslim. Hal ini diikuti oleh sejumlah aksi kekerasan dan serangan terhadap gereja-gereja dan tempat ibadah lainnya. Atas tekanan dari kelompok-kelompok yang menentang keputusan itu, 10 September ini pemerintah Malaysia melakukan banding terhadap keputusan pengadilan itu.

Di tengah situasi ini, upaya untuk sebuah dialog damai pun mendapat halangan dari kelompok-kelompok yang bersikukuh. Salah satu acara dialog baru-baru ini diprakarsai oleh Dr. Mujahid Yusof Rawa. Menurutnya dialog yang tetap berlangsung sekalipun mendapat halangan itu adalah untuk memperkuat persatuan dan perdamaian antara umat beragama.

Uskup Gereja Katolik Paul Tan Chee Ing menyebut Dr. Mujahid sebagai seorang duta perdamaian: “truly, a plenipotentiary of peace,” seperti dikutip Malaysiakini.

“Mari kita semua memahami bahwa dialog yang sejati membuat kita menjadi manusia yang sejati,” tambah uskup Paul Tan.


Dalam doa dan kebijaksanaan

Menurut Asianews.com pengadilan banding akan mengeluarkan keputusan pada Oktober nanti. Mari kita nantikan dalam doa dan kebijaksanaan, dengan mengingat:

Ada orang pintar yang punya kepentingan politik tak jujur, dan ada masyarakat sederhana yang menjunjung tinggi nilai-nilai agamanya.

Ada pula mereka yang mempunyai kebutuhan sehari-hari, namun hak-haknya telah dirampas oleh sistem di mana yang kaya mengeksploitasi yang miskin. Belum disebut mereka yang berkepentingan untuk mengadu domba umat beragama. [+]

Presiden RI: Tindak tegas pelanggaran terhadap kebebasan beragama

Written By Ray Maleke on Senin, 27 Mei 2013 | 08:29

Presiden RI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Ibu Negara
ketika disambut oleh Ratu Inggris tahun 2012 lalu (foto: detik.com)
INDONESIA, Jakarta (MP) -- "Negara menjamin sepenuhnya kebebasan warga negara untuk menjalankan ibadahnya sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya," demikian tegas Presiden Republik Indonesia, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, di Jakarta International Expo, Kemayoran, hari Minggu 26 Mei 2013 waktu setempat. 

Dalam kesempatan itu Presiden juga mengungkapkan bahwa pemerintah berupaya untuk memastikan dihentikannya bentuk-bentuk ancaman, intimidasi dan pengacauan berkaitan dengan kebebasan beragama. “Termasuk perusakan rumah ibadah apa pun dan penyerangan terhadap para penganut agama mana pun,” ujar Presiden.

Beliau mengatakan pihak yang mengancam hak-hak warga negara dalam menjalankan ibadahnya tidak bisa dibenarkan. "Hukum dan aturan harus ditegakkan tanpa pandang bulu," ucapnya.

Menurut Presiden, aparat penegak hukum tak perlu ragu. "Tindak tegas setiap upaya dari kelompok mana pun yang menggangu dan mengancam keselamatan setiap orang dalam menjalankan ibadah dan kepercayaannya," ujarnya.

Lebih jauh ia menegaskan, jika ada tindakan kekerasan dan melawan hukum, termasuk tindakan kekerasan atas nama agama, aparat keamanan dan penegak hukum dengan tegas mesti menindaknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. "Tidak ada toleransi bagi mereka yang melakukan tindakan itu dan kekerasan di negeri ini."

Presiden menambahkan, para penegak hukum diharapkan bisa mempedomani dan melaksanakan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2013 dalam mengatasi kekerasan dan konflik sosial di tengah masyarakat. "Segenap komponen bangsa saya harapkan juga mampu bekerja sama untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan dan tindakan main hakim sendiri," katanya. (Tempo.co)


World Statesman Award

Pernyataan Presiden RI ini hadir di tengah-tengah perdebatan di Tanah Air mengenai pemberian penghargaan World Statesman Award (penghargaan negarawan dunia) oleh sebuah organisasi yang berbasis di New York, Amerika Serikat.

Sejumlah masyarakat telah menunjukkan keberatannya kepada Appeal for Conscience Foundation (ACF) [pemberi penghargaan itu], karena menilai Presiden Yudhoyono bertanggung jawab atas sejumlah konflik sosio-religius di tengah masyarakat. Di sisi lain, laporan-laporan yang bernada menyudutkan Presiden dinilai telah mengandung muatan politik.


Bhineka Tunggal Ika

Menanggapi pemberian penghargaan itu, Presiden Yudhoyono mengungkapkan bahwa penghargaan dari bangsa lain itu harus dijadikan sebagai bagian dari keharusan Indonesia untuk melakukan perbaikan dan introspeksi diri ke depan. 

Ia menjelaskan, sebagai bangsa yang majemuk, Indonesia memiliki keragaman etnis, suku, agama, bahasa, budaya, dan identitas. "Itulah kenyataan yang harus kita terima sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa."

"Kemajemukan juga tidak boleh merenggangkan rasa kesetiakawanan dan kebersamaan," ujar Presiden, sambil menekankan bahwa "[k]ita semua setara."

Presiden RI keenam ini menegaskan, eksistensi kemajemukan yang menjadi ciri khas Indonesia harus tetap dipelihara. "Di negara kita, semua elemen bangsa diakui dan diayomi," ucapnya. "Di bawah naungan slogan Bhinneka Tunggal Ika, kita dapat menjalankan kehidupan dalam keberagaman." (Tempo.co)

Kematian 8 warga Myanmar mempermalukan Indonesia: Waspada provokasi

Written By Ray Maleke on Sabtu, 06 April 2013 | 21:28

Apakah mereka ini adalah Muslim atau pengikut Buddha?
Apakah mereka Rohingya atau Burma? Apapun mereka
mereka adalah manusia.
INDONESIA, Sumatera (MP) -- Inilah akibatnya ketika media memproyeksikan dan membakar suatu konflik sebagai konflik sektarian, terutama menyangkut suku dan agama. Entah mengapa media sekarang banyak kali terkesan kehilangan kekritisan dalam menempatkan masalah. Ataukah ada kesengajaan?

Sebuah peristiwa menyedihkan terjadi di salah satu pusat keimigrasian di Sumatera yang menyebabkan delapan orang meninggal. Mereka ini adalah nelayan Myanmar (Burma).

Menurut laporan Jakarta Globe para pelaku adalah para pengungsi Rohingya.1

Peristiwa tragis di pusat keimigrasian itu terjadi setelah para pengungsi Rohingya melihat “gambaran kekerasan yang terjadi “antara non-Rohingya Muslim dan pemeluk Agama Buddha”2 (Sebagai contoh. Coba pikir apakah penulis berita tersebut tahu bahwa semua yang terlibat adalah Muslim dan Buddha?)

Konflik di Myanmar dalam rangka reformasi politik sarat dengan berbagai kepentingan, baik domestik maupun pihak luar.

Kekerasan komunal kembali terjadi bulan lalu dan diberitakan dipicu oleh adu argumen di sebuah toko emas di kota pusat Meiktila yang kemudian berubah menjadi kerusuhan, namun saksi mata mengatakan gelombang kekerasan sejak itu tampaknya telah terorganisir dengan baik.


Mengeksploitasi konflik di Asia

Betapa mudahnya mengeksploitasi sebuah konflik, dan menempatkannya dalam kesadaran yang paling dijunjung tinggi oleh kebanyakan masyarakat Asia: agama. 

Bahwa ada mesjid dibakar, rumah penganut Islam dihancurkan, apakah itu berarti para penganut agama Dharma (Buddha), misalnya, adalah pembakar mesjid dan penghancur rumah Muslim?

Tidak ada yang bisa menjamin pemberitaan demikian, dan terkesan hanya ingin menyulut masalah supaya menjadi lebih besar lagi.

Kalau konflik ini hendak juga dibawa ke Indonesia dengan mempolitisir sentimen umat Muslim dan penganut Buddha di Indonesia, maka ini merupakan sebuah politik kotor.

Bekas luka konflik Poso dan Ambon sudah cukup untuk mengingatkan bahwa menjadikan saudara kita sendiri sebagai musuh yang harus dihancurkan dan dilenyapkan adalah berarti menghancurkan dan melenyapkan diri kita sendiri.


Perlu reformasi kinerja keimigrasian dan kepolisian

Kombes. Jenderal Nanan Soekarna, wakil kepala Polri, mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya sedang menyelidiki peristiwa ini.

"Kami sedang menyelidiki karena itu adalah tugas kami dan kami menyesalkan kejadian yang menyebabkan delapan orang meninggal," kata Nanan, seperti dilansir
Jakarta Globe.

Kejadian tragis di pusat keimigrasian Indonesia hanya mempermalukan Indonesia di mata internasional karena tidak dapat menjamin keselamatan warga asing di rumah tahanan. Kinerja polisi pun perlu dievaluasi karena nanti tiba di tempat kejadian setelah delapan orang yang mungkin memiliki anak dan isteri telah dibunuh dengan cara yang tidak manusiawi.*** 


1 Eight Myanmar Nationals Killed After Riot Breaks Out in Medan Detention Center, Jakarta Globe (link). 

2 Eight Myanmar Nationals Killed After Riot Breaks Out in Medan Detention Center, Jakarta Globe (link).

Reaksi umat Kristen di Amerika Serikat setelah kemenangan Presiden Obama (2)

Written By Menara Penjaga on Jumat, 09 November 2012 | 08:17

Pdt Samuel Rodriguez (foto: urbanchristiannews.com)
AMERIKA SERIKAT, Washington, DC (9 November 2012).

Kemenangan Presiden Barack Obama pada pemilihan umum hari Selasa lalu salah satunya disebabkan oleh dukungan masyarakat berlatar belakang Hispanik/Latino di Amerika Serikat. Berikut ini pengamatan dari Pdt Samuel Rodriguez ketua Konferensi Kepemimpinan Kristen Nasional Hispanik dan penasihat senior untuk editorial The Christian Post, seperti dilaporkan Napp Nazworth, wartawan The Christian Post.
-------
Pemilu hari Selasa lalu harus menjadi "wake-up call" bagi Partai Republik untuk berbuat lebih banyak demi menjangkau pemilih non-Kaukasian, ungkap Pdt Samuel Rodriguez.

Menurutnya, menyikapi masyarakat Latino (Hispanik) dalam pemilihan umum, Partai Republik punya dua pilihan: tetap dengan strategi “Southern yang eksklusif” dan “yang tidak lagi berlaku dalam realitas abad ke-21,” atau mengalami 'saat datang kepada Yesus'... di mana mereka menyadari bahwa Amerika telah berubah," ungkapnya.

Presiden Barack Obama berhasil mempertahankan kursi kepresidenan dengan kekuatan pemilih non-Kaukasian yang menyalurkan suara mereka untuk Partai Demokrat dalam jumlah besar. Mr. Obama kehilangan 20 poin persentase dengan pemilih Kaukasian. Dalam setiap pemilu sebelum 2012, hal ini berarti kemenangan telak bagi Partai Republik.

Banyak di kalangan Partai Republik yang menyadari bahwa pergeseran demografis yang terjadi di AS tidak menguntungkan mereka, namun bagi mereka pergeseran itu adalah hal yang akan mereka hadapi di masa depan, dan bukan pada hari Selasa lalu.

"Partai Republik perlu mengakui fakta bahwa mereka menderita miopi budaya, dan gagasan untuk menghiasi 75 persen suara dari partisipasi warga kulit putih dan memenangkan pemilu berlandaskan pemilih kulit putih yang solid telah berakhir," jelas Pdt Rodriguez. 

Sebagai seorang pendeta, Rodriguez tidak mendukung atau menyokong salah satu dari mereka, dan telah memberikan saran kepada para politisi dari kedua belah pihak.

Strategi yang harus dikejar oleh Partai Republik, saran Pdt Rodriguez, adalah "mengubah citra dirinya menjadi partai Abraham Lincoln dan Ronald Reagan - sebagai [lambang] keadilan, optimisme, dan partai [yang mendukung] kebebasan."

Bagian dari perubahan itu berarti menambahkan pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan reformasi imigrasi ke platform Partai Republik. Pdt Rodriguez percaya bahwa Partai Republik bisa melakukan ini tanpa mengorbankan prinsip-prinsip inti. Dan jika mereka melakukannya, "mereka akan membuat terobosan signifikan ke dalam komunitas Hispanik dan dalam komunitas Afrika-Amerika."

Tapi "tanpa suara masyarakat Hispanik dan Afrika-Amerika, itu namanya game over. Partai Republik akan terpinggirkan ... pada generasi mendatang."

Pdt Rodriguez meyakini bahwa dua faktor yang menciptakan sebuah "badai yang sempurna" dan yang menyakiti peluang Mr. Romney bersama para pemilih Latino dalam ini pemilu ini adalah: retorika imigrasi Mr. Romney ketika pemilihan awal Partai Republik dan sebuah program yang dikeluarkan Mr. Obama yang disebut "Dream Decision." 

Sebagian besar retorika selama pemilihan awal Partai Republik mengasingkan pemilih Latino, jelasnya, seperti ketika Mr. Romney menggunakan ungkapan "self-deportation" (mendeportasi diri sendiri) dalam menggambarkan kebijakan imigrasinya.

Sebelum musim panas lalu Mr. Obama mengalami kesulitan dengan para pemilih Latino. Mereka marah karena ia telah meningkatkan pendeportasian secara dramatis dan tidak menepati janjinya untuk melakukan reformasi keimigrasian di masa jabatannya yang pertama.

Namun demikian, Juni lalu, Mr. Obama mengumumkan bahwa Departemen Kehakiman tidak lagi mendeportasi imigran tidak sah yang dibawa ke AS sebagai anak-anak, yang sudah lulus dari sekolah tinggi, yang bertugas di militer atau memperoleh GED (semacam ujian persamaan sekolah menengah), dan yang tidak memiliki catatan kriminal. Keputusan ini mirip dengan RUU “the DREAM Act,” yang tidak disahkan oleh Kongres. Program “Dream Decision” yang diluncurkan Mr. Obama memberi energi bagi para pemilih Latino untuk kembali mendukungnya.

Pdt Rodriguez percaya bahwa meskipun Mr. Obama membuat "Dream Decision," Partai Republik bisa memenangkan pemilih Latino jika saja mereka memilih kandidat yang berbicara mengenai reformasi imigrasi dengan nada yang lebih moderat, seperti Mike Huckabee, Marco Rubio atau Newt Gingrich.

Jika saja Partai Republik memilih kandidat yang "lebih ramah" mengenai isu reformasi imigrasi, ungkap Pdt Rodriguez, maka para Latino akan melihat "Dream Decision" Mr. Obama sebagai "alat politik," untuk memperoleh suara mereka, "setelah ia medeportasi 500.000 orang, [karena] tidak meluluskan reformasi imigrasi."

Pdt Rodriguez sempat berbicara dengan Mr. Romney selama Konvensi Nasional Partai Republik, di mana ia diminta menjadi salah satu dari yang membawakan doa-doa berkat. Tim kampanye Mr. Romney memahami bahwa mereka telah "kelewatan" dalam retorika mereka mengenai imigrasi selama masa pemilihan awal, sehingga Mr. Romney sepertinya menyetujui saran Rodriguez dan karenanya mengubah bagaimana ia berbicara tentang imigrasi setelah itu. Tapi itu agak sedikit terlambat.

"Pada akhirnya, kerusakan telah terjadi - retorika “deportasi diri sendiri,” laga awal para kandidat Partai Republik, bahkan retorika Partai Republik tentang reformasi imigrasi membuat pemilih Latino terasing," jelas Pdt Rodriguez. (The Christian Post)

-------
Perenungan bagi orang Kristen adalah apakah yang akan terjadi jika mereka menunaikan kewajiban politik mereka lewat sebuah entitas politik yang dinafasi dengan Kabar Baik bagi orang miskin, orang asing, keberpihakan kepada yang tertindas dan terpinggirkan, dan yang mencari perdamaian dan damai sejahtera bagi dunia.  

Reaksi umat Kristen di Amerika Serikat setelah kemenangan Presiden Obama

Written By Ray Maleke on Kamis, 08 November 2012 | 00:33

AMERIKA SERIKAT, Washington, DC (7 November 2012).

Kemenangan Presiden Barack Obama untuk menduduki kursi kepresidenan Amerika Serikat yang kedua kali meninggalkan kesan monumental dan pengaruh yang luas. Kemenangannya sangat dirayakan terutama oleh para pendukung gerakan revolusi seksual, aborsi, dan apa saja yang diusung oleh platform Partai Demokrat, di dalamnya termasuk hal yang patut dipuji seperti pendekatannya terhadap para imigran tak berdokumen.

Di pihak lain, awan kelabu menggantung di hati para pemilih yang didorong oleh iman dan hati nurani Kristen. Steve Strang, pendiri dan penerbit Charisma News, dengan kecewa bertanya, “...Apakah ini merupakan suatu bentuk penghakiman Allah atas Amerika [Serikat]?"1

Sementara calon presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, mengakui kekalahannya dengan kata-kata, “Saya doakan supaya presiden akan sukses memimpin bangsa kita.”2

Sebelumnya, kelompok-kelompok Kristen telah mengorganisir berbagai kegiatan untuk mendorong AS lebih ke arah warisan kekristenannya. Doa dan harapan mereka adalah supaya AS dianugerahi pemimpin “yang menghormati Allah dan kebebasan beragama, termasuk hak asasi manusia dan keadilan,”3 dan bagi banyak di antara mereka, kualitas tersebut ada dalam diri calon Partai Republik, Mr. Romney, sekalipun latar-belakangnya sebagai penganut Later Day Saints diperdebatkan publik Kristen.

Namun, lebih banyak rakyat AS memilih memberikan kesempatan pada Mr. Obama untuk empat tahun lagi menghuni Gedung Putih dengan memberikan paling kurang 303 electoral vote (dibutuhkan 270 untuk menang). Menurut The New York Times, para pemilih Hispanic (penduduk berlatar belakang Amerika-Latin) turut menentukan kemenangan Mr. Obama.

Kampanye kebijakan Mr. Romney untuk memperketat keimigrasian melawan para imigran tak berdokumen adalah hal tak menguntungkan,4 dan kelihatannya Partai Republik tak cukup meyakinkan kelompok akar rumput bahwa mereka mengerti keadaan masyarakat kecil, dan lebih terkesan ingin menjaga kepentingan orang kaya.

Para pemimpin Kristen merasakan kekecewaan yang mendalam. Beberapa hari yang lalu penginjil terkenal Billy Graham menghimbau penduduk Minnesota untuk memberikan suara mereka mendukung pernikahan sesuai tradisi Kristen.5

“Saya berdoa supaya masyarakat yang baik di Minnesota akan menunjukkan dukungan mereka terhadap definisi pernikahan dari Allah, yaitu antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.”
Meskipun demikian, jumlah suara hanya mencapai 48 persen, kurang dua persen dari yang dibutuhkan.6

Sementara itu, di Maine, Maryland, dan kemungkinan besar Washington DC, pernikahan sesama jenis dilegalkan. Di dua negara bagian itu, perolehan suara masing-masing berkisar pada 52-48 dan 51-49.7

Ini merupakan pukulan bagi Bishop Harry Jackson, Jr. yang tak lelah mengupayakan supaya aktivis gerakan sesama jenis tidak akan berhasil menerapkan agendanya di Maryland.8

Kembali ke Steve Strang, dalam kekecewaannya ia merasa bahwa publik Kristen di Amerika masih kurang memberikan dukungan terhadap wakil politik yang mewakili suara mereka. “Saya melihat sendiri bagaimana sungkannya orang Kristen yang sungguh-sungguh untuk mendukung seorang yang adalah salah satu dari mereka,” keluhnya menunjuk Scott Plakon yang gagal di laga perwakilan negara bagian Florida.

“Sebagai orang Kristen pekerjaan ini yang diberikan untuk kita. Demografi sedang berubah. Mereka yang berpegang pada prinsip-prinsip Alkitab semakin menjadi minoritas. Kita berada dalam demokrasi di mana yang mayoritas mengatur. Mereka yang mendukung perjudian, aborsi, praktek seksual apapun, [dan] berbagai jenis kebejatan, [dan] sebenarnya melihat kita sebagai ekstremis yang harus ditakuti, semakin meningkat setiap hari.

“Sementara itu, masih ada sisa orang di Amerika yang mencintai Yesus. Tapi mereka tampaknya lebih tertarik melompat dan berteriak dan 'bergereja' daripada menjadi garam dan terang [dunia].”9

Russell D. Moore, dekan sekolah teologi dari Southern Baptist Theological Seminary, Louisville, Kentucky, menulis:

“Banyak di antara kita yang memiliki perbedaan pendapat dengan Presiden. Sebagai seorang Kristen konservatif, saya percaya anak-anak yang belum lahir memiliki hak tertentu, termasuk hak untuk hidup, dan saya berharap Presiden Obama akan bekerja untuk melindungi mereka. Saya percaya kebebasan hati nurani adalah hak utama dalam masyarakat madani, dan serangan Administrasi [Pemerintah] terhadap kebebasan beragama adalah hal yang meresahkan. Saya tidak berpikir untuk mundur sedikit pun mengenai hal-hal ini, bahkan seperti para pendahulu kita, Isaac Backus dan John Leland yang tak henti menyatakan sikap demi membangun generasi pemimpin demi kebebasan beragama dan demi martabat manusia.

“Kita tidak akan sependapat dengan Presiden menyangkut beberapa hal (penting); [tapi] akan ada bagian lain di mana kita bisa bekerja sama dengan Presiden. Namun, apakah setuju atau tidak setuju dengannya, kita bisa menghormati. Menghormati bukan berarti memberikan persetujuan.”10 

 
Kesedihan paling mendalam datang dari pihak gerakan pembela kehidupan.

“Pekerjaan kita untuk membela kehidupan dari mereka yang paling lemah dan menjaga martabat manusia tidak bergantung pada pemilihan umum,” ungkap pemimpin Live Action, Lila Rose. “Ini adalah perjuangan bagi setiap orang, satu orang setiap saat. Kami hanya akan bekerja lebih keras, lebih berharap dan lebih percaya, dan memohon Allah untuk membuat hidup kami cerminan atas kasih-Nya yang tidak pernah mengecewakan.”11

“Saya tahu banyak orang akan pergi istirahat malam ini dengan kekecewaan yang sangat atas hasil pemilihan umum,” ungkap Patrick Mahoney dari Christian Defense Coalition. “Saya tahu perasaan kalian! Butuh beberapa minggu untuk menganalisa data dan mendapat pemahaman tentang apa yang telah terjadi. Akan tetapi, ketika saya menaruh kepala di atas bantal, ini yang membuat saya bersukacita:

“Keluaran 15:2: 'TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia'. Kristus adalah Raja. Blessings!”12

Dari hasil pemilihan umum di AS ini, berbagai reaksi umat Kristen, kenyataan hidup sehari-hari sebelum pemilu dan sesudahnya, dan bagaimana politik seharusnya menjadi alat yang melayani kepentingan umat manusia dan bukan sebaliknya, dapat menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Tidak ada salahnya mengundang umat Kristen di Indonesia, baik yang bersimpati pada Presiden AS atau yang kurang bersimpati terhadap berbagai kebijakannya, untuk turut memanjatkan doa supaya Presiden Barack Obama dan para pemimpin dunia lainnya dapat memberi telinga pada tuntunan suara Tuhan yang berbicara di dalam hati nurani mereka, untuk membawa kehidupan masyarakat yang dipimpin mereka pada kedamaian yang berkeadilan, martabat manusia, dan penghargaan akan hidup yang dianugerahkan Allah.***



-------
1 After Election, the Church Has Work To Do, Charisma News (link)

2 Mitt Romney concedes White House race to Barack Obama, says he will ‘pray that the president will be successful in guiding our nation’, Boston.com (link).

3 Christians pray as US heads to the polls, Christian Today (link)

4 Divided U.S. Gives Obama More Time, New York Times (link).

5 Billy Graham Speaks Out on Gay Marriage in Minnesota, Charisma News (link). 

6 Minnesota voters reject marriage amendment, Duluth News Tribune (link).

7 Gay Marriage Passing in Three, Possibly Four States, The Christian Post (link).

8 Gay Marriage Passing in Three, Possibly Four States, The Christian Post (link).

9 After Election, the Church Has Work To Do, Charisma News (link).

10 How Should Christians Respond to Obama's Re-Election?, The Christian Post (link).

11 ‘Surrender is not an option’: pro-life leaders react to Obama re-election, LifeSiteNews (link).

12 ‘Surrender is not an option’: pro-life leaders react to Obama re-election, LifeSiteNews (link).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger