"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Nigeria. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nigeria. Tampilkan semua postingan

Pdt. Faye Pama Musa: Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku

Written By Menara Penjaga on Kamis, 01 Agustus 2013 | 21:16

NIGERIA, Borno (MP) – Laporan Open Doors, organisasi advokasi Kristen teraniaya, membuka kembali lembaran pahit keluarga mendiang Pdt. Faye Pama Musa yang ditembak mati oleh tiga orang bersenjata di kediamannya di Maiduguri, negara bagian Borno, Nigeria, 14 Mei 2013 lalu.

Sebulan setelah kejadian yang memiriskan hati ini, pengurus Open Doors disambut oleh ibu Mercy, janda dengan empat orang anak. “Yang kulihat hari ini adalah persahabatan sejati,” ungkapnya. 

“Bagaimana kau bisa datang ke Maiduguri pada saat berbahaya ini ketika orang-orang sedang meninggalkan kota? Kau disambut di sini dalam nama Yesus. Saya senang bertemu denganmu lagi.”

~+~


Pada peristiwa malam 14 Mei itu, Pdt. Musa, ibu Mercy dan sebagian dari anak-anak mereka sedang berada di rumah. Sementara ibu Mercy sedang mempersiapkan makan malam, Zion (17), remaja putri yang duduk di luar, melihat tiga orang bersenjata melompat pagar. Dia berlari masuk ke ruang tamu untuk mengingatkan ayahnya.

Pdt. Musa melirik melalui jendela dan melihat para pelaku sudah berada di pintu depan. Mereka menerobos masuk dan berteriak, "Semua orang di lantai!"

Pdt. Musa langsung menyadari mengapa orang-orang itu datang, dan mencoba meloloskan diri melalui pintu belakang dan melompati pagar. Tapi mereka berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke teras rumah. "Hari ini kau adalah orang mati. Panggil Yesusmu untuk membantumu, Mr CAN!"* teriak salah satu penyerang.

Pdt. Musa tidak menyerah tanpa perlawanan. Sementara bergulat dengan tiga orang itu, ia terus-menerus memanggil nama Yesus.

Saat itu Zion tidak bisa menanggung mendengar ayahnya. Dia bangun dari lantai dan lari ke teras. Dia memohon para penyerang untuk tidak membunuh ayahnya. Mereka melepaskan tembakan ke arahnya tapi luput. Namun, syok membuatnya pingsan.

Pergumulan terus berlanjut. Ibu Mercy mendengar suaminya berkata, "Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku." Saat ia merangkak ke pintu, ia melihat penyerang menembak suaminya tiga kali di bagian kepala. Pdt. Musa meninggal di tempat, dan para penyerang kabur dengan sebuah mobil.

Pdt. Musa tidak hanya memiliki teman di kalangan orang Kristen. Banyak saudara-saudara Muslim menyatakan syok dengan kematiannya. Seorang pejabat keamanan Muslim terkemuka mengutuk keras pembunuhan itu. Ia mengatakan, "Pdt. Faye Pama Musa adalah seorang duta perdamaian. Aku akan merindukan pria Kristen ini yang adalah berkat dan aset besar bagi masyarakat ini."

Pdt. Musa meninggalkan seorang istri, ibu Mercy, dan empat orang anak: Winner (19), seorang mahasiswa di Universitas Ghana, Zion (17), seorang siswa sekolah menengah, Praise (11), dan Miracle (6), kedua masih murid pendidikan dasar. Saat ini Open Doors menopang dengan bantuan moneter untuk kebutuhan mendesak seperti sewa dan biaya sekolah.

"Terima kasih untuk tetap menaruh kami dekat dengan hati kalian," ungkap ibu Mercy. "Terima kasih untuk pemberian ini. Tetapi di atas semuanya, terima kasih untuk cinta kalian untuk keluarga saya. Semoga Tuhan yang baik semakin mempersatukan kita."


* Alm. Pdt. Musa, selain sebagai Pengawas Umum Rhema Assembly International Church, beliau adalah juga Sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN).
Doakan masyarakat Nigeria, terutama orang Kristen, yang masih terus menghadapi kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh para teroris. Darah para martir adalah pupuk bagi gereja.

Bagaimana menjatuhkan pemerintah: Belajar dari kasus “Boko Haram”

Written By Ray Maleke on Minggu, 07 Juli 2013 | 03:07

Sebuah pembunuhan keji kembali terjadi di Nigeria, negara bagian Yobe. 42 pelajar dan seorang guru dilaporkan tewas dalam serangan itu [laporan lainnya mengatakan sekurangnya 30], dan seperti biasa, yang disebut “Boko Haram” diduga sebagai pelakunya. 

Mengapa para pelajar yang tak bersalah ini dinilai pantas diperlakukan demikian hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang pasti orangtua, sahabat dan teman para korban harus hidup dengan luka yang dalam karena perbuatan keji ini.

Boko Haram” (anti pendidikan Barat) sebenarnya bukan julukan yang menguntungkan untuk Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad (disingkat JAS), karena pada kenyataannya tidak semua hal yang menyangkut pendidikan Barat negatif semata-mata. Ada yang negatif, tapi masih banyak juga hal yang positif.

Itu sebabnya, dengan pengindentifikasian seperti itu, JAS tidak akan mendapatkan simpati dari masyarakat yang mengaku anti kekerasan dan pro-pendidikan. Sekalipun di sisi lain mereka (JAS) mendapat keberpihakan organisasi-organisasi teroris.

Dari namanya saja JAS telah menunjukkan bahwa mereka mempunyai keterkaitan dengan agama Islam. Sekalipun agama Islam tentu tidak berkaitan dengan aksi pemboman dan pembunuhan keji yang terus melanda masyarakat Nigeria.

Hanya mereka yang telah termakan propaganda negatif Islam yang akan percaya hal itu. Sebagian di antara mereka telah mengambil inisiatif untuk memberitakan Injil perdamaian karena menganggap Islam adalah agama kekerasan. Semoga ketika mereka belajar sejarah Perang Salib dan Inkuisisi, mereka dapat melakukan pekerjaan pemberita Injil dengan motivasi yang benar.

Sebenarnya bagian awal judul di atas lebih tepatnya adalah “Upaya menjatuhkan pemerintah.” [Atau "Bagaimana merebut sumberdaya alam"] Ini lebih terang menunjukkan bahwa artikel ini bukan sebuah seruan untuk menjatuhkan pemerintah manapun, terutama yang sah.

Kalau benar pemberitaan media bahwa JAS ada di belakang berbagai aksi kekerasan dan pembunuhan ribuan orang Kristen di Nigeria, tak terkecuali Muslim, maka organisasi ini memang sedang bertujuan menciptakan instabilitas (kekacauan) untuk menjatuhkan pemerintah Nigeria.

Media menyebut bahwa mereka ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, tapi perlu diingat bahwa JAS berkaitan dengan Islam, namun bukan Islam.

Ini karena Islam sekarang ini nampak efektif digunakan untuk menjatuhkan pemerintah. Maksudnya adalah ciptakan sebuah kelompok seperti JAS yang kemudian membunuhi penganut Kristen. Sebagai reaksi adalah munculnya orang-orang Kristen yang akan membunuhi penganut Islam. Hasilnya adalah kekacauan yang siap diamankan oleh negara-negara asing yang membutuhkan sumber daya alam lebih banyak lagi untuk menopang gaya hidup borjuis mereka.

Jadi jelaslah bahwa kasus “Boko Haram” memang dapat menjatuhkan sebuah pemerintah dan menjadikan sebuah negara menjadi ladang penjagalan.

Sangat tragis kalau tulisan ini berakhir di sini.

Karena itu, pertanyaannya adalah apakah ada pelajaran yang bisa diambil dari tindakan haram membunuhi sesama manusia yang tak bersalah?

Setiap masalah pada hakikatnya adalah situasional, dan karena itu jalan keluarnya adalah situasional pula. Yang dimaksud dengan “situasional” adalah tergantung situasi dan kondisi setempat.

Jikalau demikian, maka untuk mengatasi masalah ini diperlukan suatu diskusi, dialog, kerja sama dan rembuk pikir antara semua elemen yang ada dalam situasi dan kondisi setempat. Mereka ini yang tahu bagaimana menyikapi masalah dan mencari jalan keluarnya.

Berbicara dalam kasus seperti di Nigeria, itu berarti pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh adat dan masyarakat, tokoh-tokoh pemuda dan perempuan, semua yang berkepentingan, perlu menyatukan persepsi untuk bisa merumuskan respon bersama, misalnya dimulai dari peningkatan keamanan lingkungan bersama, intelijen masyarakat, penyediaan lapangan pekerjaan, intensifitas ekonomi masyarakat, dsb.

Jikalau ini tak terjadi, maka jarak antara komunitas-komunitas yang mungkin sedang diadu domba ini akan semakin jauh; membawa mereka semakin dekat pada saling membinasakan.

Itu sebabnya, sekalipun setiap masalah dan jalan keluarnya bersifat situasional, pembelajaran dari kasus “Boko Haram” ini bersifat internasional. Semoga bisa membantu. (+)

Apa yang memperparah situasi di Nigeria dan Suriah? Kardinal Onaiyekan bicara

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Juni 2013 | 20:51

Uskup Agung Abuja, Nigeria, Kardinal John O. Onaiyekan
(foto: CNA/Lauren Cater)
ITALIA, Milan (MP) -- Menurut Kardinal John O. Onaiyekan konflik yang terjadi di Nigeria dan Suriah saat ini telah diperparah oleh pengaruh-pengaruh luar. Demikian diungkapkannya dalam pertemuan ke-10 Oasis International Foundation yang diadakan di Universitas Milan, 17-18 Juni 2013.

Pertemuan tersebut membahas bagaimana meningkatkan hubungan Kristen Katolik dan Muslim serta masalah pertumbuhan sekularisme global dan ekstremisme. Para pembicara berasal dari berbagai negara, termasuk Irak, Iran, Yordania, Maroko, Lebanon, Suriah, Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Indonesia, Pakistan, Amerika Serikat, Prancis dan Italia. (CNA)

Situasi Nigeria
Human Rights Watch melaporkan bahwa sejak 2009 sebanyak 2.800 nyawa telah menjadi korban tindakan terorisme di Nigeria.

Kebanyakan di antara mereka merupakan masyarakat berlatar belakang agama Kristen.

Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad” atau yang sering disebut “Boko Haram” dianggap bertanggung jawab atas berbagai tindakan tidak berprikemanusiaan yang telah menciptakan kekacauan di beberapa negara bagian di Nigeria.

Menurut Kardinal Onaiyekan, Jama'atul Alhul Sunnah (JAS) awalnya bukan merupakan sebuah kelompok teroris. Awalnya kelompok ini menolak untuk bekerja dengan non-Muslim, tetapi tidak pernah melakukan kekerasan.

"Masalahnya adalah masukan apa yang mereka dapatkan dari link luar mereka,” ungkap Kardinal Onaiyekan menunjuk bahwa masalah yang terjadi di Nigeria adalah akibat pengaruh dari kelompok-kelompok dari luar. Ia juga menyentil tentang pasokan dana dari luar.

"Tidak bahkan lima persen dari Muslim di Nigeria setuju dengan Boko Haram, dan mereka [umat Muslim] khawatir karena mereka [JAS] membunuh Muslim juga, dan memberikan Islam nama yang buruk," katanya.


Di Nigeria umat Kristen dan Muslim secara umum telah hidup berdampingan secara damai. Namun sampai beberapa tahun yang lalu, berbagai tindak kekerasan dan pemboman dilakukan oleh sekelompok orang yang digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras yang ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, dan telah menargetkan gedung-gedung pemerintah, pasar, gereja dan masjid dalam serangan-serangannya.



Situasi Suriah
Kardinal Onaiyekan juga turut menyoroti perang sipil di Suriah dan berharap supaya kekerasan di sana tidak menyebar ke tanah airnya.

Perang di Suriah telah berlangsung selama 27 bulan, dan merenggut nyawa sedikitnya 93.000 orang, dan setidaknya 1,5 juta orang menjadi pengungsi di negara-negara terdekat.

Berawal dari aksi demonstrasi melawan pemerintah yang kemudian diikuti oleh tindakan represif dari pemerintah, perang ini dimulai pada April 2011.

Rusia dan Iran telah mendukung pemerintah resmi Suriah, sementara negara-negara Barat (a.l., Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris) lebih menyukai kelompok pemberontak yang terdiri dari sejumlah kelompok berbeda, termasuk nasionalis dan Islamis.

Pada tanggal 14 Juni, Presiden AS, Barrack Obama, mengatakan siap untuk memberikan bantuan militer langsung ke oposisi, setelah menetapkan bahwa rezim menggunakan senjata kimia pada rakyatnya sendiri. Tuduhan itu ditolak oleh pemerintah Suriah.

Berita terbaru menyebutkan bahwa kelompok pemberontak mengaku sekarang memiliki senjata yang akan mengubah jalannya pertempuran.

"Siapa yang mendukung apa yang disebut oposisi di Suriah," kata Kardinal Onaiyekan. "Bukankah Barat?"

Menurutnya oposisi Suriah didukung oleh "beberapa orang yang tidak mengerti apa yang terjadi."

"Amerika mengatakan kepada kita bahwa mereka akan mengirim lebih banyak senjata untuk sekelompok orang yang menentang pemerintah mereka," ungkap kardinal.

"Ini adalah dunia gila, mereka mungkin memiliki alasan untuk itu," kata Kardinal Onaiyekan. "Mereka tahu apa yang mereka inginkan, tapi pasti bukan yang baik bagi rakyat Suriah."


The Golden Rule
Meskipun ada ketegangan sektarian di Suriah antara kelompok-kelompok Muslim yang berbeda dan diarahkan terhadap umat Kristen, kardinal mengatakan bahwa "kebanyakan konflik yang digambarkan sebagai konflik agama pada sebenarnya tidak begitu."

Kardinal Onaiyekan mengatakan bahwa ia ingin melihat dunia "menikmati buah positif dari berbagai agama, mengakui bahwa Allah lebih besar daripada kita, dan supaya orang Kristen untuk bebas mempraktekkan iman mereka."

"Muslim juga harus bebas untuk mempraktekkan iman mereka, mengingat untuk tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan orang-orang Kristen lakukan kepada mereka."

"Kita harus mengubah cara orang melihat agama mereka," katanya. "Kita harus membuka diri terhadap orang lain, mengakui bahwa ada orang lain [yang berbeda]. Tidak hanya bersikap toleran terhadap mereka, tetapi juga menghormati mereka, karena saya tidak ingin orang (hanya) mentolerir saya." [+] (lih. CNA)


Perkembangan dunia sekitar praktek hubungan sejenis: Dari Nigeria sampai Vatikan (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Kamis, 13 Juni 2013 | 10:50

MP -- Praktek hubungan sejenis menjadi salah satu isu panas dewasa ini dan diperbincangkan dari berbagai sudut pandang. Penolakan atau penerimaan disuarakan oleh berbagai pemerintahan atau masyarakat di berbagai belahan dunia.

Berikut sorotan MP tentang perkembangan terbaru isu ini dimulai dari Nigeria sampai ke Vatikan.


Nigeria
Dewan Perwakilan Rakyat Nigeria, Afrika, telah menerima rancangan undang-undang (RUU) yang melarang praktek hubungan sejenis dan mengatur hukuman bagi para pelanggar, demikian dirangkum dari laporan Christian Today, 31 Mei 2013.

Dalam komentarnya menyangkut 'pernikahan' sejenis, Senator Domingo Obende mengungkapkan bahwa 'pernikahan' antara dua orang berjenis kelamin sama “tidak bisa diterima secara moral dan agama. Agama Islam melarangnya. Agama Kristen melarangnya, dan agama tradisional Afrika melarangnya,” demikian dikutip dalam laporan tersebut. (Laporan terkait)


Inggris dan Wales
Sementara itu, sebuah RUU yang mengatur tentang 'pernikahan' sejenis di Inggris dan Wales saat ini sedang di bahas di Parlemen. Dalam pengambilan suara awal RUU tersebut diterima dengan perbandingan 390-148 (The Christian Institute).

Mengikuti perkembangan ini, 61 tokoh agama dari kelompok Kristen, Islam, Yahudi, dan Buddha telah menyampaikan surat kepada pemerintah, memperingatkan bahwa melegalkan 'pernikahan' sesama jenis akan "berdampak serius dan berbahaya bagi kebaikan masyarakat, kehidupan keluarga, dan hak asasi manusia seperti kebebasan beragama dan berbicara," demikian dikutip Christian Today, 4 Juni 2013.


(up-dated 20 Juli)  
RUU ‘pernikahan’ sejenis yang disponsori oleh PM Inggris David Cameron akhirnya diterima di Parlemen. Hari Rabu 17 Juli 2013 Ratu Inggris Elizabeth II menandatangani peraturan tersebut menjadi UU di Inggris dan Wales.
Dave Landrum dari organisasi Aliansi Injili (Evangelical Alliance) merupakan salah satu dari pendukung pernikahan Kristen yang harus menelan kekecewaan. Namun, ia mengingatkan “sebagai orang Kristen kita harus memiliki rasa percaya diri untuk mengatakan dan mengajarkan kebenaran dalam anugerah dan kasih. Dan kita perlu saling mendukung satu dengan yang lain dalam menjaga pernikahan sebagai sebuah janji di hadapan Tuhan.”  (The Christian Institute)
Gereja Anglikan termasuk di antara institusi gereja yang menolak peraturan ini, dan telah mendapat pengecualian untuk tidak menyelenggarakan pemberkatan hubungan partner sejenis.
Di pihak lain, menteri kesetaraan Inggris, Maria Miller, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, “Saya bangga bahwa kita telah membuat ini terjadi dan menantikan pernikahan sejenis pertama musim panas tahun depan,” demikian dikutip The Blaze.


Perancis
Aksi protes di Perancis menentang legalisasi 'pernikahan' sejenis  (foto: LSN).
Di Perancis, keputusan pemerintah untuk melegalkan 'penikahan' sesama jenis disambut dengan aksi demonstrasi rakyat menentang kebijakan tersebut.

Reaksi Perancis yang terkenal dengan pemikiran liberal ini menimbulkan tanda tanya terhadap agenda homoseksual oleh sejumlah pemimpin negara-negara Barat.


Amerika Serikat
Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), oleh berbagai tekanan dari para aktivis dan lobi revolusi seksual, Mahkamah Agung sedang mempertimbangkan apakah akan menetapkan atau menggugurkan Proposition 8 (usulan nomor 8), yang berhasil ditetapkan oleh masyarakat negara bagian California menolak 'pernikahan' sesama jenis, dan DOMA atau Defense of Marriage Act (pertahanan undang-undang pernikahan) yaitu peraturan federal AS yang menyatakan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Para aktivis gerakan homoseksual berargumentasi bahwa pernikahan tidak bisa hanya untuk pasangan berlainan jenis, karena hal itu berarti diskriminasi.

Dilegalkannya 'pernikahan' sejenis memang berarti diluaskannya insentif kemasyarakatan untuk pernikahan bagi pasangan sesama jenis juga, misalnya keringanan dalam hal perpajakan. Ini termasuk diajarkannya praktek ini kepada anak-anak di sekolah, yang kesemuanya berarti mendorong gaya hidup yang ditentang oleh Alkitab ini.

Di samping itu, legalisasi turut diartikan bahwa partner sesama jenis dapat mengadopsi anak. Alasannya anak-anak yang dibesarkan pasangan sejenis dapat bertumbuh normal seperti anak-anak lainnya.

Robert Oscar Lopez, Ph.D., warga AS yang merupakan seorang penulis yang dibesarkan oleh pasangan lesbi, menanggapi asumsi ini. Secara gamblang ia menuliskan dampak psikologi seorang anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis. Menurut Lopez, “trauma apapun yang dialami oleh mereka [anak-anak] yang menyebabkan mereka menjadi yatim-piatu, seharusnyalah tidak ditambah dengan stres akibat diadopsi dalam kehidupan bersama pasangan sejenis,” demikian tulisnya seperti dimuat di LSN, 3 Juni 2013.

“...[M]emiliki seorang ayah dan seorang ibu dengan sendirinya adalah sebuah nilai berharga” dan bahwa “pasangan sejenis yang paling sukses pun tidak dapat menyediakan apa yang bisa diberikan oleh sebuah keluarga miskin kepada seorang anak, yaitu: seorang ayah dan seorang ibu,” tulisnya.

(up-dated 20 Juli)  
Dalam sebuah keputusan kontroversial Mahkamah Agung AS menggugurkan bagian penting dari peraturan DOMA dengan perbandingan suara 5:4 dan menolak mengambil keputusan dalam kasusProposition 8.
Justice Antonin Scalia yang berada dipihak tak setuju menilai keputusan MA itu “mengangakan mulut,”  dan mengecam pengalimatan dalam keputusan mayoritas yang ditulis oleh Justice Kennedy yang mengatakan bahwa mereka yang membela pernikahan tradisional adalah “musuh ras manusia.”
Liputan MP tentang perkembangan ini ada di “DOMA dan keputusan MA: Ratapan dan kegembiraan di AS.”

Ekuador
Presiden Ekuador, Rafael Correa, turut menyuarakan penentangan terhadap 'pernikahan' sejenis dan pengadopsian anak oleh partner sesama jenis. Dalam sebuah wawancara dengan saluran TV RTS ia mengungkapkan bahwa pengadopsian anak oleh pasangan sejenis bertentangan dengan kodrat dan kebaikan anak-anak, demikian dilaporkan LSN, 3 Juni 2013.


Rusia
Rusia adalah negara yang terus menegaskan penolakannya terhadap praktek sesama jenis dan propagandanya, sekalipun mendapat tekanan dari negara-negara Barat tertentu.

Washington Times (4 Juni 2013) melaporkan pernyataan presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa ia mendukung dibuatnya peraturan yang melarang partner sejenis dari luar negeri mengadopsi anak Rusia, sambil menolak bahwa hal itu dikatakan diskriminasi.

Anggota parlemen Rusia sementara merumuskan peraturan tersebut, ungkap Wakil Perdana Menteri Rusia, Olga Golodets, yang turut mengatakan bahwa 'pernikahan' sejenis tidak sesuai dengan adat kebiasaan Rusia.

Laporan terbaru menyatakan bahwa Rusia telah mensahkan peraturan yang melarang aktivis asing atau domestik untuk mempropagandakan hubungan sesama jenis.


Georgia
Negara tetangga Rusia, Georgia, sedang mempertimbangkan niatnya untuk bergabung dengan Uni-Eropa jika salah satu persyaratannya adalah menerima praktek hubungan sesama jenis di negaranya, demikian dilaporkan The Messenger Online, sebuah media Georgia berbahasa Inggris, 28 Mei 2013 lalu.

Baru-baru ini masyarakat Georgia, termasuk di dalamnya para imam dan jemaat Gereja Ortodoks, secara berbondong-bondong membubarkan pawai yang dilakukan oleh para pelaku dan pendukung hubungan sesama jenis.


Amerika Serikat dan Inggris
Kembali ke AS, LSN (6 Juni 2013), mengutip laporan Family Research Council, menunjukkan bahwa U. S. Agency for International Development (USAID), badan bantuan pemerintah AS, bekerja sama dengan Levi Strauss Foundation, dari merk jeans terkenal, dan seorang milioner Tim Gill, mengalokasikan 11 juta dollar (kurang lebih 104 miliar rupiah) untuk melatih aktivis homoseksualis di negara-negara lain.

Terungkap dalam laporan itu bahwa tahap pertama dari program ini difokuskan pada Ekuador, Honduras, Guatemala, dan negara berkembang lainnya yang menentang homoseksualisme.

Administrasi pemerintahan Inggris dan AS saat ini telah terang-terangan menggunakan pengaruhnya untuk menyebarluaskan doktrin revolusi seksual ini.

Sejumlah anggota masyarakat di Inggris dan AS, terutama dikalangan bisnis dan profesi, harus menghadapi tuntutan pengadilan dan membayar denda, termasuk kehilangan pekerjaan, karena menolak mengafirmasi gaya hidup gay dan lesbian.

Hal ini tak bisa diartikan bahwa mereka yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis atau yang menerimanya sebagai bagian dari identitas mereka berada di belakang semua ini. Di antara mereka justru mengalami penekanan karena ketidak-setujuan mereka dengan revolusi seksual yang diusung oleh para aktivis homoseksualisme.

(up-dated 20 Juli 2013)

Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, Presiden AS turut membawa agenda khusus yang mengundang reaksi penolakan dari masyarakat dan pemimpin Afrika. Lihat liputan MP di "Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika."


Vatikan
Sementara itu, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Vatikan sendiri yang masih terus berpegang kuat pada ajaran mengenai kekudusan pernikahan, kesucian hidup, dan hak anak, tidak luput dari upaya gerakan ini.

Menurut laporan CBSNews, 12 Juni 2013Paus Fransiskus menyesalkan bahwa “lobby gay” (upaya untuk mempengaruhi kebijakan) telah juga bekerja di Vatikan sebagai pusat Gereja Katolik.

Apakah dana besar, pengaruh kuat, ditambah penguasaan teknologi informasi pembentuk budaya, akan mengubah institusi pernikahan dan menaruh anak-anak pada posisi yang rentan? Biarkan hati yang bicara.***

Pimpinan Persekutuan Pentakosta dibunuh, Nigeria masih belum kondusif

Written By Menara Penjaga on Kamis, 23 Mei 2013 | 10:30

Pdt. Faye Pama Musa (foto:
Christiantoday). Berharga
di mata Tuhan kematian orang-
orang yang dikasihi-Nya. 
NIGERIA, Borno (MP) -- Sejumlah pria bersenjata menewaskan Pdt. Faye Pama Musa, seorang pendeta senior dari Gereja Pentakosta, Jemaat Rhema, negara bagian Borno. Almarhum juga adalah sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN), atau Asosiasi Kristen Nigeria, cabang Borno.

Para pelaku kejahatan dilaporkan mengikuti pemimpin Kristen ini dari gedung gereja di mana ia memimpin sebuah penelaahan Alkitab malam sampai ke rumahnya di Kawasan Reservasi Pemerintah di Maiduguri, dan menembaknya mati di sana, demikian diinformasikan Pdt. Titus Dama Pona, ketua CAN cabang Borno, Nigeria, seperti dilansir Christiantoday.com (16/5/13).

Alm. Pdt. Faye Pama Musa berusia 47 tahun dan meninggalkan tiga orang anak. Salah satu dari mereka sempat memohon supaya ayahnya jangan dibunuh ketika diseret keluar rumah. Almarhum telah terlibat dalam pelayanan selama lebih dari 26 tahun.

Seperti dilaporkan Christiandtoday.com, dalam sebuah wawancara di tahun 2007, Pdt. Musa mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan Borno terlepas dari bahaya yang mengancam keberadaan hidupnya. 

"Saya seorang asli negara bagian Borno, dan Tuhan telah memanggil saya untuk bekerja di antara kawanua saya," katanya. "Saya percaya bahwa yang terbaik untuk menjangkau orang-orang ini adalah mereka yang memahami budaya orang-orang ini."

Serangan-serangan terhadap orang Kristen di Nigeria selalu dihubungkan dengan sebuah kelompok anarkis yang telah populer dengan nama Boko Haram. Kelompok ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak tahun 2009. Kontak senjata antara militer Nigeria dan kelompok ini di Baga, negara bagian Borno bulan lalu, dilaporkan memakan korban lebih dari 100 warga sipil.

Menurut Christiantoday.com, penembakan terhadap Pdt. Musa terjadi tak lama setelah Presiden Goodluck Jonathan mengumumkan keadaan darurat di negara bagian Borno, Yobe dan Adamawa. 

Karakterisasi Boko Haram yang selalu dihubung-hubungkan dengan Islam telah memicu deklarasi sebuah kelompok lain yang mengatas-namakan kelompok Kristen untuk melakukan serangan terhadap mesjid dan penganut Islam. Namun demikian, para pemimpin Kristen telah melayangkan surat permohonan kepada MEND (Movement for the Emancipation of the Delta Niger) untuk tidak melakukan serangan demikian. Hal ini mendapat reaksi positif dari MEND

Nigeria adalah negara dengan penduduk terbesar di Afrika. Sekalipun dengan sumber daya minyak (black gold) yang besar, Nigeria tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dan saat ini berada di bawah kontrol IMF. 

Dengan konflik berkepanjangan serta membesarnya kecurigaan antara warga negara Nigeria yang memeluk agama berbeda, maka kemungkinan untuk mengatasi pencurian crude oil (minyak mentah), memberantas korupsi, dan membangun masyarakatnya seakan menjauh.***  


-------
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10:39)

Pertahankan budaya dan martabat, negara-negara Afrika menolak intimidasi Barat

Written By Menara Penjaga on Selasa, 18 Desember 2012 | 04:19

Rep Nkeiruka Onyejeocha (foto: nairaland).
NIGERIA, Abuja (MP) -- Dewan Perwakilan Nigeria baru-baru ini dengan suara bulat menerima RUU melarang hubungan sesama jenis, meskipun administrasi pemerintahan Presiden Obama (AS) dan Perdana Menteri David Cameron (Inggris) telah mengancam akan mempertimbangkan penahanan bantuan kepada negara-negara yang gagal mengikuti tren di Barat menyangkut hubungan sejenis.

"'Pernikahan' sejenis adalah asing bagi masyarakat dan budaya kami dan itu tidak boleh samasekali diimpor," kata pemimpin mayoritas di Dewan Mulikat Adeola-Akande, seperti dilansir LSN (10/12).1 "Praktek ini tidak memiliki tempat dalam agama dan budaya kami, di Nigeria atau di mana saja di Afrika. Ini adalah imoralitas dan penghinaan terhadap budaya kami; kami mengutuknya secara total."

Rep Nkeiruka Onyejeocha, seorang pemimpin perempuan yang lolos dari upaya pembunuhan tahun 2011 lalu,2 mengatakan ia berharap suara ini akan mengirim sinyal kuat kepada negara-negara Barat bahwa moral dan nilai-nilai etika Nigeria tidak untuk dijual.


Apa isi RUU ini?

RUU tersebut akan mengatur hukuman penjara 14 tahun lamanya bagi pada siapa saja yang melakukan "pernikahan sesama jenis atau pernikahan sipil" atau membantu dan bersekongkol untuk tindakan itu. Bagi pelaku hubungan sejenis yang mempertunjukkan kemesraan di depan umum dapat dihukum penjara selama sepuluh tahun. RUU ini juga melarang klub dan organisasi pelaku hubungan sejenis.

Ketika RUU ini sedang diperdebatkan di Senat Nigeria tahun lalu, PM Inggris Mr. Cameron mengatakan bahwa menurutnya harus ada "pamrih" dalam pemberian bantuan luar negeri, dan bahwa ia akan mempertimbangkan memotong bantuan bagi negara-negara yang menolak menerima praktek hubungan sejenis. Menyusul kemudian pemerintahan Mr. Obama yang memerintahkan pimpinan organisasi bantuan asing untuk menggunakan sumber daya mereka untuk mempromosikan penerimaan praktek itu di luar negeri.


Perlu pengesahan Presiden

Setelah disahkan DPR, klausul demi klausul dari RUU itu akan dibahas dalam sidang paripurna sebelum pemungutan suara akhir yang akan mengirimkannya kepada Presiden Goodluck Jonathan untuk persetujuan.

Menurut laporan LSN, para aktivis homoseksualisme di AS telah meluncurkan petisi online yang mendesak Presiden Jonathan untuk memveto undang-undang tersebut.

Uganda, Ghana, dan negara-negara Afrika lainnya terus menyuarakan penolakan terhadap intimidasi para homoseksualis dan administrasi pemerintah negara-negara Barat yang membeking mereka untuk memaksakan nilai-nilai yang dianutnya, tidak hanya kepada masyarakat mereka sendiri, tetapi juga kepada negara-negara merdeka.


Masalah hak anak dan perkembangan di Eropa dan Amerika

Di Eropa Barat dan Amerika Utara terlihat peningkatan sikap permisif terhadap berbagai tindakan yang tabu, seperti seks bebas termasuk hubungan sejenis. Hal ini telah mendapat kritik dan protes dari berbagai elemen masyarakatnya yang menentang homoseksualisme, terutama dari kalangan religius dan akademisi.

Prof. Rivers, pengajar Jurisprudens di Fakultas Hukum Universitas Bristol, Inggris, mengatakan: "Pernikahan menegaskan nilai kesetaraan antara pria dan wanita, dan mendorong terciptanya kesejahteraan anak-anak.”(MP)

Sudah merupakan retorika para homoseksualis bahwa hak menikah juga harus diberikan kepada pasangan sejenis, dan bahwa mereka dapat juga membesarkan anak-anak. Akan tetapi, upaya yang tampaknya "didasarkan pada alasan kesetaraan, stabilitas dan kemudahan" ini tidak memperhitungkan anak-anak, dan mereka banyak kali memang tak bisa menyuarakan suara mereka sendiri.


Membela hak anak bukan membela posisi tertentu

Penerimaan praktek yang ditentang oleh Alkitab ini mempunyai implikasi luas terhadap pendidikan anak-anak termasuk hak adopsi anak. Dengan dilegalisasinya 'pernikahan' sesama jenis, maka anak-anak di sekolah-sekolah diajarkan tentang 'normal'-nya praktek ini, dan pasangan sejenis pun dapat mengadopsi anak-anak.

Mgr. Andrรฉ Armand Kardinal Vingt-Trois, Uskup Agung Paris, menyatakan penolakan Gereja Katolik atas rencana pemerintah Perancis, dan menyerukan kepada para peziarah di Kota Lourdes bahwa anak-anak membutuhkan ayah dan ibu untuk membangun identitas mereka.

"Saat kita membela hak anak-anak untuk membangun identitas mereka, itu mengacu pada laki-laki dan perempuan yang melahirkan dan membesarkan mereka," kata Kardinal Vingt-Trois.(MP)

Ungkapan Kardinal Vinght-Trois menunjukkan bahwa debat legalisasi pernikahan sesama jenis tidak mati di argumen kesetaraan, hak asasi perorangan, bahkan pembentukan ide kemasyarakatan secara menyeluruh, namun bahwa ada kepentingan lain yang perlu diperhatikan, dan yang sangat rentan diabaikan dan dikorbankan, yaitu anak-anak.

Anak-anak berhak untuk dibesarkan oleh orangtua biologis mereka, yaitu seorang ayah dan seorang ibu. Dan gereja dan negara wajib menyediakan lingkungan yang aman dan menunjang bagi perkembangan fisik dan mental anak-anak.

"
Ketika kita membela hak anak-anak untuk membangun kepribadian mereka dengan mengacu pada pria dan wanita yang memberi mereka kehidupan, kita tidak membela posisi tertentu," kata Uskup Agung Paris tersebut, "Kita memahami apa yang terlihat lewat praktek dan kebijaksanaan semua orang sejak awal mula dan yang dikonfirmasi oleh para spesialis modern saat ini." []



-------

1 Nigeria to Western nations: We’d sooner refuse aid than legalize same-sex “marriage,” LifeSiteNews (link).

2 Abia State National Assembly member escapes assassination, Nigeria Daily News (link).

Apakah teroris Nigeria akan dimasukkan ke dalam Foreign Terrorist Organization?

Written By Menara Penjaga on Kamis, 06 Desember 2012 | 10:08

Dutabesar Nigeria untuk AS, Prof Adebowale Adefuye
(foto: ASL)
NIGERIA, Abuja (6 Desember 2012).

Sekelompok orang bersenjata dilaporkan menyerang desa Kupwal, di Chibok, wilayah negara bagian Borno, Nigeria. Menurut laporan Nigerian Tribune (12/3), tak kurang sepuluh orang, termasuk seorang pendeta, dibunuh pada hari Sabtu lalu. Kelompok “Boko Haram” kembali dicurigai mendalangi aksi tak berperikemanusiaan itu.1

Seorang mantan ketua dewan, Mr. Nuhu Clark, menyesalkan kejadian itu. “Menyedihkan kejadian seperti terjadi di sebuah desa yang damai,” ungkapnya kepada wartawan.

Serangan yang sama juga terjadi di desa Ngala, dilaporkan menargetkan penganut Kristen yang melakukan bisnis dan berdagang di situ. Beberapa perkantoran termasuk kantor polisi dihancurkan. Menurut seorang saksi mata, dua orang polisi meninggal dan tiga gereja dihancurkan.

Nigerian Tribun melaporkan bahwa 29 November lalu pasukan gabungan Nigeria dan otoritas keamanan lainnya berupaya menangkap salah satu pemimpin utama “teroris” Abdulkareem Ibrahim. Ia dilaporkan terbunuh bersama dua orang sub-komandan lainnya, dan sebuah senjata AK47, amunisi dan senjata lainnya disita.

Sementara itu, kelompok Kristen Nigeria yang berdomisili di AS minggu lalu bertemu dengan dutabesar Nigeria untuk AS, Adebowale Adefuye, di antaranya mendesak supaya kelompok teroris dengan nama sebenarnya “Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad” ini dimasukkan ke dalam daftar Foreign Terrorist Organization (FTO).2

Dalam wawancara dengan ASL, Mr. Adefuye melihat permintaan CANAN (Christian Association of Nigerian-Americans) itu kurang tepat, dengan alasan bahwa Nigeria telah berhasil menghadapi tantangan yang lebih besar dengan masalah Niger-Delta, dan karena itu bisa menangani Jama'atul Alhul Sunnah (JAS), yang menurutnya terdiri dari para penjahat biasa yang menembaki siapa saja di jalanan di Kano, Kaduna, Katsina, yang merupakan populasi masyarakat Muslim. “Mereka tidak mempunyai persuasi agama,” ungkapnya. Ia juga menyebutkan bahwa saat ini Nigeria sedang bekerja juga dengan intelijen AS dalam menghadapi JAS.3

Pihak berwenang AS sendiri sebelumnya mengungkapkan bahwa mereka tidak melihat JAS sebagai kelompok teroris, melainkan sekelompok orang yang ingin mendiskreditkan pemerintah Nigeria supaya terlihat tidak mampu melindungi masyarakatnya. Sekalipun ketiga pemimpin utama kelompok ini, yakni Abubakar Shekau, Abubakar Adam Kambar and Khalid al-Barnawi, telah dimasukkan sebagai teroris, karena keterlibatan mereka telah melebihi dari sekedar “mengdiskreditkan” pemerintah Nigeria. Demikian penjelasan Johnie Carson, dutabesar urusan Afrika AS di Abuja waktu lalu.4

Dalam perkembangannya, The New York Post (12/3) melaporkan bahwa Washington telah mengungkapkan informasi bahwa anggota JAS telah datang di camp pelatihan di bagian utara Mali dan kemungkinan besar telah menerima bantuan dana dan bahan peledak dari cabang kelompok [al-] Qaeda.5 Perkembangan ini kemungkinan bisa mempengaruhi keputusan AS dalam melakukan kebijakannya di Afrika, terlebih khusus Nigeria.

Hal yang menarik adalah pemerintah AS dinilai justru mendukung al-Qaeda dalam upaya menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.6

Jadi apakah JAS akan dimasukkan sebagai FTO? Kita lihat saja nanti, termasuk apa yang akan terjadi dengan Nigeria. Yang dapat kita harapkan saat ini adalah supaya pemerintah Nigeria bekerja lebih keras lagi supaya dapat menjalankan tugas dan kewajibannya melindungi seluruh masyarakatnya, baik Kristen maupun Muslim, dari ancaman anarki, pemiskinan, dan kekuatan yang memperdayakan. Pray for Nigeria. (MP)




1 Gunmen burn churches, border post, kill 10 • Murder emirate council member • Nigeria still safe – Presidency, Nigerian Tribune (link). 

2 Nigerian Christians Living In America Intensify Their Calls for Boko Haram to Be Designated a Terrorist Group, BCNN1 (link). 

3 Why America should not declare Boko Haram as a Foreign Terrorist Organization (FTO)- Ambassador Adefuye, ASL (link).

4 Nigeria: U.S. - Why Didn't Label Boko Haram Terrorist Group, AllAfrica (link). 

5 American Commander Details Al Qaeda’s Strength in Mali, The NY Times (link).

6 Al-Qaeda Infiltrating Syrian Opposition, With US Support, AntiWar (link).

Kardinal baru mengutuk serangan bom di sebuah gereja Protestan di Nigeria; Ada udang di balik batu?

Written By Menara Penjaga on Rabu, 28 November 2012 | 08:55

(foto: BBC)
NIGERIA, Kaduna (27 November 2012). 

Hari Minggu lalu Gereja Protestan St Andrews yang terletak dalam kompleks militer di Jaji, negara bagian Kaduna, menjadi target dua buah ledakan bom.

Awalnya bom meledak dalam sebuah bus, dan ketika orang-orang terkumpul untuk membantu yang terluka, sebuah Toyota Camry meledak dahsyat.1 

Kantor Berita Nigeria (NAN) melaporkan bahwa 11 orang tewas dan 30 lainnya terluka ketika bom meledak pada pelayanan gereja siang hari.2 

Empat korban lainnya yang dibawa ke rumah sakit dilaporkan tewas pada hari Senin oleh AVM Abdullahi Kure, Komandan Angkatan Bersenjata Komando dan Staf Kampus (AFCSC), Jaji. Dengan demikian korban tewas akibat ledakan itu telah meningkat menjadi 15.

Korban serangan sedang dirawat di fasilitas kesehatan yang dijaga ketat militer di Kaduna.

Salah satu korban, seorang personel senior Angkatan Udara diberitakan telah berangkatkan ke luar negeri untuk perawatan medis yang mendesak, menyusul luka bakar serius yang dideritanya dari serangan itu.

Kepala Staf Pertahanan Nigeria, Laksamana Ibrahim Ola, telah membentuk sebuah panel untuk menyelidiki serangan bom bunuh diri tersebut.


Kekecewaan Kardinal Nigeria

Kardinal Nigeria yang baru-baru ini ditunjuk oleh Paus Benediktus XVI pada 24 November lalu mengutuk serangan teroris mematikan itu, sambil meratapi kurangnya keamanan di Nigeria.

"Sekali lagi, sebuah tragedi besar telah terjadi tetapi dalam kasus ini keadaan sangat mengkhawatirkan," kata Kardinal John Onaiyekan dari Abuja Senin lalu di Roma.

"Serangan ini terjadi di salah satu lokasi militer tertinggi di Nigeria, yang pasti merupakan salah satu tempat yang paling aman yang dapat Anda pikirkan," tambahnya.

"Tampaknya serangan semacam ini bisa terjadi di mana saja."

"Pemerintah sedang berada di bawah tekanan untuk dapat menghasilkan sesuatu. Ada banyak kegiatan yang dilakukan tapi hasil tidak banyak," ungkap Kardinal Onaiyekan. "Mari kita berharap kejadian ini akan menjadi wake-up call bagi pemerintah bahwa mereka perlu melakukan lebih dari apa yang mereka lakukan saat ini."3


Kelompok misterius “Boko Haram”

BBC Indonesia melirik “Boko Haram” sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu, mengutip kecurigaan pihak militer.4 Namun, menurut laporan CNA, “Boko Haram” membantah bertanggung jawab atas serangan itu.5

F. William Engdahl menulis bahwa Nigeria merupakan negara dengan populasi dan produksi minyak terbesar di Benua Afrika. Namun sebuah ironi, karena Nigeria tetap merupakan salah satu dari negara-negara termiskin di Afrika.6

Menurut Engdahl, dilihat dari berbagai bukti Nigeria sedang “secara sistematis digiring ke dalam kekacauan dan keadaan perang saudara.”

Ia melihat peran IMF yang didominasi oleh AS sebagai bagian dari masalah yang terjadi di Nigeria, termasuk teror pembunuhan dan pemboman oleh yang disebut “Boko Haram,” kelompok misterius dan secara mencurigai mempunyai persenjataan yang hebat.

Kelompok ini digambarkan sebagai Islam garis keras yang ingin menerapkan syariah di Nigeria, dan telah menargetkan gedung-gedung pemerintah, pasar, gereja dan masjid dalam serangan-serangannya.

Menurut laporan CNA, para pemimpin umat Kristen menyesali kematian anggota-anggota jemaatnya dan mendesak orang-orang Kristen dan yang lain untuk tidak melakukan pembalasan.7 (Karena mungkin itu yang dicari-cari, perang sipil.)

Semoga keadilan akan segera dinyatakan kepada para korban kekerasan, termasuk pada para pelakunya. (MP) 



 
1 Suicide bombs kill 11 at Kaduna military church, Business Day (link).

2 CDS sets up panel to probe Jaji bomb attack, Business Day (link).

3 Nigerian cardinal condemns bombing of Protestant church, CNA (link). 

4 Serangan di gereja Nigeria, 11 tewas, BBC Indonesia (link). 

5 Nigerian cardinal condemns bombing of Protestant church, CNA (link). 

6 Nigeria: Thrown into Chaos and a State of Civil War: The Role of the IMF, SOTT (link).

7 Nigerian cardinal condemns bombing of Protestant church, CNA (link).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger