"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Kekristenan di Afrika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekristenan di Afrika. Tampilkan semua postingan

Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika

Written By Menara Penjaga on Senin, 15 Juli 2013 | 12:04

Jumpa pers presiden Senegal dan Amerika Serikat (foto: BCNN5).
AFRIKA (MP)  –  Dalam kunjungannya ke Benua Afrika, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyinggung isu homoseksualitas di tengah sebuah jumpa pers dengan Presiden Senegal Macky Sall, 27 Juni lalu.

"Kami tidak siap dengan dekriminalisasi homoseksualitas," terang Mr. Sall dan menunjukkan bahwa ia dan masyarakat Senegal memiliki sudut pandang yang berbeda. Pernyataannya mendapat dukungan besar dari masyarakat dan media-media massa utama di negara itu.

Bahkan, banyak warga Senegal yang beranggapan bahwa presiden mereka seharusnya lebih tegas. "[Presiden] seharusnya mengatakan, 'Itu tidak pernah bisa eksis di Senegal, itu tidak bisa terjadi di sini'," ujar Tidiane Gueye, warga ibukota Senegal, Dakar, kepada New York Times.

"Senegal adalah 95 persen Muslim," tambah Gueye. "Sebagai negara muslim, kami tidak akan mengizinkan hukum yang memungkinkan pelaku hubungan sejenis untuk menikah."

Seorang pensiunan perwira militer Bouramon Ndour memuji pendirian Mr. Sall dalam menyikapi Mr. Obama. Berbicara tentang homoseksualitas, warga Senegal ini mengatakan bahwa "tidak orang di sini yang dapat menerima hal itu...kami menentangnya dengan keras. Lihat, ini adalah negara Muslim. Langkahi mayat kami dulu!"

Tanggapan yang sama datang dari para pemimpin Kenya. Wakil Presiden William Ruto berbicara di sebuah gereja Katolik pada Minggu 30 Juni, mengatakan bahwa bagi mereka yang menerima homoseksualitas, seperti Mr. Obama, itu adalah "urusan mereka. Kami percaya pada Tuhan." Ia menambahkan bahwa "bangsa Kenya adalah bangsa yang takut akan Allah."

“Lupakan, lupakan, lupakan,” ucap Uskup Agung Nairobi, Kardinal John Njue, kepada Mr. Obama menyangkut legalisasi praktek hubungan sejenis di Afrika.

"Saya pikir kita perlu bertindak sesuai dengan tradisi sendiri dan iman kita," katanya. Berbicara tentang Amerika, Kardinal Njue mengatakan bahwa "orang-orang tersebut yang telah merusak masyarakat mereka ... janganlah mereka menjadi guru kami untuk memberitahu kami ke mana harus pergi."

Sheikh Saliou Mbacke, seorang pemimpin Muslim di Senegal, mengatakan bahwa pemimpin agama di seluruh Afrika memiliki kewajiban untuk berbicara menentang praktek hubungan sejenis, terutama jika ada tekanan untuk membuat rakyat Afrika mengubah pandangan mereka.

"Masalah praktek hubungan sejenis tidak boleh digunakan sebagai alat untuk memeras dan memaksa masyarakat untuk menentang perintah Allah, yang lebih penting daripada kekuatan dunia," katanya. "Kami akan menentang cara paksaan apapun yang mengancam kami untuk menerimanya dalam masyarakat kami."

Di Tanzania, Uskup Anglikan Michael Hafidh mengatakan bahwa sebagian besar para pemimpin Afrika lebih suka Mr. Obama menyimpan pendapatnya tentang praktek hubungan sejenis untuk dirinya sendiri dan fokus pada isu-isu ekonomi yang dihadapi benua Afrika.

Masalah hubungan sejenis "bukan merupakan masalah penting bagi kami sekarang," katanya. "Kami tidak mengakui atau bahkan memikirkan hal itu, apalagi melegalisasinya. Saya pikir karena kita memiliki banyak sumber daya, diskusi kami dengan segenap bangsa lain harus lebih menyangkut investasi dan perdagangan."


Sebanyak 38 negara di seluruh Afrika, di mana agama-agama mayoritas adalah Islam dan Kristen, memiliki hukum yang melarang perilaku homoseksual. (BCNN5)


Terkait: 




Merayakan kehidupan seorang Nelson Mandela: Melawan kemiskinan dan ketidak-adilan (up-dated)

Written By Menara Penjaga on Selasa, 02 Juli 2013 | 01:47

Seorang gadis kecil memegang poster Nelson Mandela di luar rumah sakit di mana tokoh dunia ini dirawat
(foto: AP Photo/Muhammed Muheisen).

AFRIKA SELATAN, Pretoria (MP) -- Jutaan orang di seluruh dunia sedang menunggu kabar mengenai Nelson Rolihlahla Mandela, tokoh dunia dari Afrika. 

Sejak mantan presiden Afrika Selatan (Afsel) ini dimasukkan ke rumah sakit tanggal 8 Juni lalu, ungkapan doa dan simpati dalam berbagai bentuk terus diekspresikan, tak terkecuali di Facebook, Youtube dan halaman depan media massa.

Di Amsterdam, Belanda, rumor tentang kematiannya mendorong sebuah dewan setempat menghening cipta untuk mengenangnya, demikian dilaporkan Heraldsun.com.

Pahlawan Afrika yang lahir 18 Juli 1918 ini diberitakan sedang dirawat sebuah rumah sakit di Pretoria, Afsel, akibat infeksi paru-paru. Tata Madiba, demikian panggilan akrabnya, terjangkit tuberculosis ketika dipenjara (Reuters). (Madiba adalah nama marga etnik Xhosa.)

Penganut Kristen Methodist ini dihukum seumur hidup karena menentang pemerintah apartheid di Afsel. Setelah 27 tahun menjalaninya ia kemudian dibebaskan.

Apartheid adalah sistem pemerintahan yang menetapkan pembedaan antara orang berkulit putih (Kaukasian) dan yang non-Kaukasian. Tragisnya, sistem yang bertentangan dengan pemberitaan Kristen ini justru didukung oleh gereja lewat ajaran dan teologinya.

Di Afsel yang mayoritas penduduknya beragama Kristen sistem gereja pun menjadi apartheid.

Setelah dibebaskan Nelson Mandela menjadi orang Afrika pertama yang menjadi presiden Afsel (1994-1999). Bukannya membalas dendam pada musuh-musuh politiknya, ia justru merangkul mereka untuk memajukan Afsel.

Salah satu kutipan Papa Madiba yang terkenal adalah “Jika kau ingin berdamai dengan musuhmu, kau harus bekerja sama dengan musuhmu. Dengan demikian ia menjadi rekanmu.” (answerafrica.com)

Ia juga berpendapat bahwa “Tidak ada seorang pun yang dilahirkan membenci orang lain karena warna kulit, latar belakang, atau agamanya. Orang pasti belajar untuk membenci, dan jika mereka bisa belajar membenci, mereka bisa diajar untuk mengasihi, karena kasih datang dari hati manusia lebih alami daripada lawannya (yaitu kebencian).” (answerafrica.com)

Menolak untuk mencalonkan diri kedua kali, pejuang pembebasan ini memfokuskan diri dalam pelayanan sosial memerangi kemiskinan dan HIV/AIDS lewat Yayasan Nelson Mandela.

Pada tahun 2005, dalam kunjungan tiga harinya di London, pemenang Nobel Prize tahun 1993 ini mengungkapkan, “Sama seperti perbudakan dan apartheid, kemiskinan bukanlah hal yang alami. [Kemiskinan] adalah akibat perbuatan manusia dan dapat diberantas lewat perbuatan manusia.” (The Telegraph)

Dalam kesempatan itu ia menyerukan perdagangan yang adil (fair trade), penghapusan utang, dan peningkatan bantuan dalam rangka memotong setengah dari kemiskinan global antara 2000 dan 2015.

Lahir dengan nama Rolihlahla, dalam bahasa Xhosa berarti “pembuat masalah,” ia telah memenuhi panggilan namanya: Membuat masalah sehingga sistem yang tidak menghargai kesakralan etnisitas manusia dihapus.

Nelson adalah nama baptis dari tokoh besar yang lahir di desa Mvezo di Umtatu, Afsel, dari orangtua yang sekalipun tak dapat membaca namun merupakan orang Kristen yang saleh (Mandela, 1994 dikutip Wikipedia). 

Ada yang mengatakan bahwa ia tidak begitu banyak membicarakan imannya. Tapi nampak ia sungguh-sungguh menghidupinya. (+)

-------
AFRIKA SELATAN MERAYAKAN ULANG TAHUN KE-95 NELSON MANDELA
AFRIKA SELATAN, Johannesburg (Sabtu, 20 Juli 2013) – Mantan presiden Afsel Nelson Mandela diberitakan tersenyum dan menganggukan kepalanya pada hari Kamis lalu (18 Juli) di mana tokoh dunia ini memperingati ulang tahunnya yang ke-95. Ia masih berada di Rumah Sakit Pretoria dan kabar baiknya ialah bahwa kesehatannya mengalami kemajuan.

Sebelumnya simbol anti-apertheid ini diberitakan berada di ambang kematian.

Hari spesial "bapak bangsa" ini diperingati dengan lagu "Happy Birthday" (selamat ulang tahun) yang dinyanyikan oleh anak-anak di sekolah-sekolah. Sebuah aksi amal untuk menghormatinya juga dilakukan selama 67 menit, melambangkan 67 tahun pelayanan masyarakat dari tokoh yang telah menginspirasi dunia ini. (CBN/MP)


Apa yang memperparah situasi di Nigeria dan Suriah? Kardinal Onaiyekan bicara

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Juni 2013 | 20:51

Uskup Agung Abuja, Nigeria, Kardinal John O. Onaiyekan
(foto: CNA/Lauren Cater)
ITALIA, Milan (MP) -- Menurut Kardinal John O. Onaiyekan konflik yang terjadi di Nigeria dan Suriah saat ini telah diperparah oleh pengaruh-pengaruh luar. Demikian diungkapkannya dalam pertemuan ke-10 Oasis International Foundation yang diadakan di Universitas Milan, 17-18 Juni 2013.

Pertemuan tersebut membahas bagaimana meningkatkan hubungan Kristen Katolik dan Muslim serta masalah pertumbuhan sekularisme global dan ekstremisme. Para pembicara berasal dari berbagai negara, termasuk Irak, Iran, Yordania, Maroko, Lebanon, Suriah, Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Indonesia, Pakistan, Amerika Serikat, Prancis dan Italia. (CNA)

Situasi Nigeria
Human Rights Watch melaporkan bahwa sejak 2009 sebanyak 2.800 nyawa telah menjadi korban tindakan terorisme di Nigeria.

Kebanyakan di antara mereka merupakan masyarakat berlatar belakang agama Kristen.

“Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad” atau yang sering disebut “Boko Haram” dianggap bertanggung jawab atas berbagai tindakan tidak berprikemanusiaan yang telah menciptakan kekacauan di beberapa negara bagian di Nigeria.

Menurut Kardinal Onaiyekan, Jama'atul Alhul Sunnah (JAS) awalnya bukan merupakan sebuah kelompok teroris. Awalnya kelompok ini menolak untuk bekerja dengan non-Muslim, tetapi tidak pernah melakukan kekerasan.

"Masalahnya adalah masukan apa yang mereka dapatkan dari link luar mereka,” ungkap Kardinal Onaiyekan menunjuk bahwa masalah yang terjadi di Nigeria adalah akibat pengaruh dari kelompok-kelompok dari luar. Ia juga menyentil tentang pasokan dana dari luar.

"Tidak bahkan lima persen dari Muslim di Nigeria setuju dengan Boko Haram, dan mereka [umat Muslim] khawatir karena mereka [JAS] membunuh Muslim juga, dan memberikan Islam nama yang buruk," katanya.


Di Nigeria umat Kristen dan Muslim secara umum telah hidup berdampingan secara damai. Namun sampai beberapa tahun yang lalu, berbagai tindak kekerasan dan pemboman dilakukan oleh sekelompok orang yang digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras yang ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, dan telah menargetkan gedung-gedung pemerintah, pasar, gereja dan masjid dalam serangan-serangannya.



Situasi Suriah
Kardinal Onaiyekan juga turut menyoroti perang sipil di Suriah dan berharap supaya kekerasan di sana tidak menyebar ke tanah airnya.

Perang di Suriah telah berlangsung selama 27 bulan, dan merenggut nyawa sedikitnya 93.000 orang, dan setidaknya 1,5 juta orang menjadi pengungsi di negara-negara terdekat.

Berawal dari aksi demonstrasi melawan pemerintah yang kemudian diikuti oleh tindakan represif dari pemerintah, perang ini dimulai pada April 2011.

Rusia dan Iran telah mendukung pemerintah resmi Suriah, sementara negara-negara Barat (a.l., Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris) lebih menyukai kelompok pemberontak yang terdiri dari sejumlah kelompok berbeda, termasuk nasionalis dan Islamis.

Pada tanggal 14 Juni, Presiden AS, Barrack Obama, mengatakan siap untuk memberikan bantuan militer langsung ke oposisi, setelah menetapkan bahwa rezim menggunakan senjata kimia pada rakyatnya sendiri. Tuduhan itu ditolak oleh pemerintah Suriah.

Berita terbaru menyebutkan bahwa kelompok pemberontak mengaku sekarang memiliki senjata yang akan mengubah jalannya pertempuran.

"Siapa yang mendukung apa yang disebut oposisi di Suriah," kata Kardinal Onaiyekan. "Bukankah Barat?"

Menurutnya oposisi Suriah didukung oleh "beberapa orang yang tidak mengerti apa yang terjadi."

"Amerika mengatakan kepada kita bahwa mereka akan mengirim lebih banyak senjata untuk sekelompok orang yang menentang pemerintah mereka," ungkap kardinal.

"Ini adalah dunia gila, mereka mungkin memiliki alasan untuk itu," kata Kardinal Onaiyekan. "Mereka tahu apa yang mereka inginkan, tapi pasti bukan yang baik bagi rakyat Suriah."


The Golden Rule
Meskipun ada ketegangan sektarian di Suriah antara kelompok-kelompok Muslim yang berbeda dan diarahkan terhadap umat Kristen, kardinal mengatakan bahwa "kebanyakan konflik yang digambarkan sebagai konflik agama pada sebenarnya tidak begitu."

Kardinal Onaiyekan mengatakan bahwa ia ingin melihat dunia "menikmati buah positif dari berbagai agama, mengakui bahwa Allah lebih besar daripada kita, dan supaya orang Kristen untuk bebas mempraktekkan iman mereka."

"Muslim juga harus bebas untuk mempraktekkan iman mereka, mengingat untuk tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan orang-orang Kristen lakukan kepada mereka."

"Kita harus mengubah cara orang melihat agama mereka," katanya. "Kita harus membuka diri terhadap orang lain, mengakui bahwa ada orang lain [yang berbeda]. Tidak hanya bersikap toleran terhadap mereka, tetapi juga menghormati mereka, karena saya tidak ingin orang (hanya) mentolerir saya." [+] (lih. CNA)


Pimpinan Persekutuan Pentakosta dibunuh, Nigeria masih belum kondusif

Written By Menara Penjaga on Kamis, 23 Mei 2013 | 10:30

Pdt. Faye Pama Musa (foto:
Christiantoday). Berharga
di mata Tuhan kematian orang-
orang yang dikasihi-Nya. 
NIGERIA, Borno (MP) -- Sejumlah pria bersenjata menewaskan Pdt. Faye Pama Musa, seorang pendeta senior dari Gereja Pentakosta, Jemaat Rhema, negara bagian Borno. Almarhum juga adalah sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN), atau Asosiasi Kristen Nigeria, cabang Borno.

Para pelaku kejahatan dilaporkan mengikuti pemimpin Kristen ini dari gedung gereja di mana ia memimpin sebuah penelaahan Alkitab malam sampai ke rumahnya di Kawasan Reservasi Pemerintah di Maiduguri, dan menembaknya mati di sana, demikian diinformasikan Pdt. Titus Dama Pona, ketua CAN cabang Borno, Nigeria, seperti dilansir Christiantoday.com (16/5/13).

Alm. Pdt. Faye Pama Musa berusia 47 tahun dan meninggalkan tiga orang anak. Salah satu dari mereka sempat memohon supaya ayahnya jangan dibunuh ketika diseret keluar rumah. Almarhum telah terlibat dalam pelayanan selama lebih dari 26 tahun.

Seperti dilaporkan Christiandtoday.com, dalam sebuah wawancara di tahun 2007, Pdt. Musa mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan Borno terlepas dari bahaya yang mengancam keberadaan hidupnya. 

"Saya seorang asli negara bagian Borno, dan Tuhan telah memanggil saya untuk bekerja di antara kawanua saya," katanya. "Saya percaya bahwa yang terbaik untuk menjangkau orang-orang ini adalah mereka yang memahami budaya orang-orang ini."

Serangan-serangan terhadap orang Kristen di Nigeria selalu dihubungkan dengan sebuah kelompok anarkis yang telah populer dengan nama Boko Haram. Kelompok ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak tahun 2009. Kontak senjata antara militer Nigeria dan kelompok ini di Baga, negara bagian Borno bulan lalu, dilaporkan memakan korban lebih dari 100 warga sipil.

Menurut Christiantoday.com, penembakan terhadap Pdt. Musa terjadi tak lama setelah Presiden Goodluck Jonathan mengumumkan keadaan darurat di negara bagian Borno, Yobe dan Adamawa. 

Karakterisasi Boko Haram yang selalu dihubung-hubungkan dengan Islam telah memicu deklarasi sebuah kelompok lain yang mengatas-namakan kelompok Kristen untuk melakukan serangan terhadap mesjid dan penganut Islam. Namun demikian, para pemimpin Kristen telah melayangkan surat permohonan kepada MEND (Movement for the Emancipation of the Delta Niger) untuk tidak melakukan serangan demikian. Hal ini mendapat reaksi positif dari MEND. 

Nigeria adalah negara dengan penduduk terbesar di Afrika. Sekalipun dengan sumber daya minyak (black gold) yang besar, Nigeria tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dan saat ini berada di bawah kontrol IMF. 

Dengan konflik berkepanjangan serta membesarnya kecurigaan antara warga negara Nigeria yang memeluk agama berbeda, maka kemungkinan untuk mengatasi pencurian crude oil (minyak mentah), memberantas korupsi, dan membangun masyarakatnya seakan menjauh.***  


-------
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10:39)

Pertahankan budaya dan martabat, negara-negara Afrika menolak intimidasi Barat

Written By Menara Penjaga on Selasa, 18 Desember 2012 | 04:19

Rep Nkeiruka Onyejeocha (foto: nairaland).
NIGERIA, Abuja (MP) -- Dewan Perwakilan Nigeria baru-baru ini dengan suara bulat menerima RUU melarang hubungan sesama jenis, meskipun administrasi pemerintahan Presiden Obama (AS) dan Perdana Menteri David Cameron (Inggris) telah mengancam akan mempertimbangkan penahanan bantuan kepada negara-negara yang gagal mengikuti tren di Barat menyangkut hubungan sejenis.

"'Pernikahan' sejenis adalah asing bagi masyarakat dan budaya kami dan itu tidak boleh samasekali diimpor," kata pemimpin mayoritas di Dewan Mulikat Adeola-Akande, seperti dilansir LSN (10/12).1 "Praktek ini tidak memiliki tempat dalam agama dan budaya kami, di Nigeria atau di mana saja di Afrika. Ini adalah imoralitas dan penghinaan terhadap budaya kami; kami mengutuknya secara total."

Rep Nkeiruka Onyejeocha, seorang pemimpin perempuan yang lolos dari upaya pembunuhan tahun 2011 lalu,2 mengatakan ia berharap suara ini akan mengirim sinyal kuat kepada negara-negara Barat bahwa moral dan nilai-nilai etika Nigeria tidak untuk dijual.


Apa isi RUU ini?

RUU tersebut akan mengatur hukuman penjara 14 tahun lamanya bagi pada siapa saja yang melakukan "pernikahan sesama jenis atau pernikahan sipil" atau membantu dan bersekongkol untuk tindakan itu. Bagi pelaku hubungan sejenis yang mempertunjukkan kemesraan di depan umum dapat dihukum penjara selama sepuluh tahun. RUU ini juga melarang klub dan organisasi pelaku hubungan sejenis.

Ketika RUU ini sedang diperdebatkan di Senat Nigeria tahun lalu, PM Inggris Mr. Cameron mengatakan bahwa menurutnya harus ada "pamrih" dalam pemberian bantuan luar negeri, dan bahwa ia akan mempertimbangkan memotong bantuan bagi negara-negara yang menolak menerima praktek hubungan sejenis. Menyusul kemudian pemerintahan Mr. Obama yang memerintahkan pimpinan organisasi bantuan asing untuk menggunakan sumber daya mereka untuk mempromosikan penerimaan praktek itu di luar negeri.


Perlu pengesahan Presiden

Setelah disahkan DPR, klausul demi klausul dari RUU itu akan dibahas dalam sidang paripurna sebelum pemungutan suara akhir yang akan mengirimkannya kepada Presiden Goodluck Jonathan untuk persetujuan.

Menurut laporan LSN, para aktivis homoseksualisme di AS telah meluncurkan petisi online yang mendesak Presiden Jonathan untuk memveto undang-undang tersebut.

Uganda, Ghana, dan negara-negara Afrika lainnya terus menyuarakan penolakan terhadap intimidasi para homoseksualis dan administrasi pemerintah negara-negara Barat yang membeking mereka untuk memaksakan nilai-nilai yang dianutnya, tidak hanya kepada masyarakat mereka sendiri, tetapi juga kepada negara-negara merdeka.


Masalah hak anak dan perkembangan di Eropa dan Amerika

Di Eropa Barat dan Amerika Utara terlihat peningkatan sikap permisif terhadap berbagai tindakan yang tabu, seperti seks bebas termasuk hubungan sejenis. Hal ini telah mendapat kritik dan protes dari berbagai elemen masyarakatnya yang menentang homoseksualisme, terutama dari kalangan religius dan akademisi.

Prof. Rivers, pengajar Jurisprudens di Fakultas Hukum Universitas Bristol, Inggris, mengatakan: "Pernikahan menegaskan nilai kesetaraan antara pria dan wanita, dan mendorong terciptanya kesejahteraan anak-anak.”(MP)

Sudah merupakan retorika para homoseksualis bahwa hak menikah juga harus diberikan kepada pasangan sejenis, dan bahwa mereka dapat juga membesarkan anak-anak. Akan tetapi, upaya yang tampaknya "didasarkan pada alasan kesetaraan, stabilitas dan kemudahan" ini tidak memperhitungkan anak-anak, dan mereka banyak kali memang tak bisa menyuarakan suara mereka sendiri.


Membela hak anak bukan membela posisi tertentu

Penerimaan praktek yang ditentang oleh Alkitab ini mempunyai implikasi luas terhadap pendidikan anak-anak termasuk hak adopsi anak. Dengan dilegalisasinya 'pernikahan' sesama jenis, maka anak-anak di sekolah-sekolah diajarkan tentang 'normal'-nya praktek ini, dan pasangan sejenis pun dapat mengadopsi anak-anak.

Mgr. Andrรฉ Armand Kardinal Vingt-Trois, Uskup Agung Paris, menyatakan penolakan Gereja Katolik atas rencana pemerintah Perancis, dan menyerukan kepada para peziarah di Kota Lourdes bahwa anak-anak membutuhkan ayah dan ibu untuk membangun identitas mereka.

"Saat kita membela hak anak-anak untuk membangun identitas mereka, itu mengacu pada laki-laki dan perempuan yang melahirkan dan membesarkan mereka," kata Kardinal Vingt-Trois.(MP)

Ungkapan Kardinal Vinght-Trois menunjukkan bahwa debat legalisasi pernikahan sesama jenis tidak mati di argumen kesetaraan, hak asasi perorangan, bahkan pembentukan ide kemasyarakatan secara menyeluruh, namun bahwa ada kepentingan lain yang perlu diperhatikan, dan yang sangat rentan diabaikan dan dikorbankan, yaitu anak-anak.

Anak-anak berhak untuk dibesarkan oleh orangtua biologis mereka, yaitu seorang ayah dan seorang ibu. Dan gereja dan negara wajib menyediakan lingkungan yang aman dan menunjang bagi perkembangan fisik dan mental anak-anak.

"
Ketika kita membela hak anak-anak untuk membangun kepribadian mereka dengan mengacu pada pria dan wanita yang memberi mereka kehidupan, kita tidak membela posisi tertentu," kata Uskup Agung Paris tersebut, "Kita memahami apa yang terlihat lewat praktek dan kebijaksanaan semua orang sejak awal mula dan yang dikonfirmasi oleh para spesialis modern saat ini." []



-------

1 Nigeria to Western nations: We’d sooner refuse aid than legalize same-sex “marriage,” LifeSiteNews (link).

2 Abia State National Assembly member escapes assassination, Nigeria Daily News (link).

Uganda: Upaya legislasi untuk melindungi anak dan keluarga dari campur tangan asing

Written By Menara Penjaga on Kamis, 13 Desember 2012 | 02:50

Umat Kristen mendedikasikan Uganda kepada Allah pada
iven Doa Tahun Yobel Nasional (foto: New Vision).
UGANDA, Kampala (MP) -- “Allah Bapa di surga, hari ini kami berdiri di sini sebagai masyarakat Uganda, terima kasih untuk Uganda. Kami berterima kasih atas semua kebaikan-Mu kepada kami. Saya berdiri di sini hari ini untuk menutup masa lalu yang jahat dan terutama menyangkut kepemimpinan nasional kami. Saya berdiri di sini atas nama saya sendiri dan atas nama para pendahulu saya untuk bertobat. Kami meminta pengampunan-Mu.”1

Ungkapan doa di atas merupakan petikan doa Presiden Uganda Yoweri Museveni pada perayaan 50 tahun kemerdekaan Uganda dari Inggris pada 9 Oktober lalu.2

Sementara dalam upaya untuk membangun Uganda yang sejahtera dan takut akan Tuhan, negara yang bermoto “untuk Tuhan dan untuk negaraku” ini sedang berada di bawah lampu sorot administrasi pemerintahan beberapa negara Barat, karena upaya hukumnya untuk meningkatkan sangsi terhadap promosi dan praktek hubungan sejenis di Uganda.


RUU untuk melindungi anak-anak Uganda

Sebuah RUU, yang telah mengalami revisi sejak dimajukan tahun 2009, melarang promosi hubungan sejenis dalam bentuk apapun, mengkriminalisasi siapapun yang "mensponsori atau memberi dukungan dana terhadap homoseksualitas" atau "bersekongkol untuk homoseksualitas."3

Di dalamnya termasuk klausul yang menyinggung sentimen para homoseksualis yaitu, bahwa “homoseksualitas yang berat” – yaitu jika dilakukan terhadap anak-anak dan menderita penyandang cacat, pelaku memiliki HIV-positif, dan “serial offender” (pelaku pelanggaran berulang) diancam dengan hukuman mati.

Tanggal 30 November baru lalu The Associated Pres, seperti dimuat ABCNews, melaporkan ungkapan anggota Parlemen David Bahati bahwa RUU yang diharapkan untuk divoting bulan depan (Desember ini, red), telah "menjauh dari hukuman mati setelah mempertimbangkan semua isu yang telah diajukan."4

"Tidak ada hukuman mati," katanya kepada
AP.

Mr Bahati mengatakan RUU itu sekarang berfokus pada melindungi anak dari promosi praktek homoseks lewat pornografi, melarang pernikahan sesama jenis, [memberikan atau melarang?] konseling pada pelaku, serta menghukum mereka yang mempromosikan budaya hubungan sejenis. Hukuman penjara akan diberikan untuk berbagai pelanggaran, katanya tidak merinci.5

Versi terbaru dari RUU tersebut belum dirilis ke publik, namun bentuk awalnya dapat di lihat di sini.


Kemungkinan bahaya yang mengancam anak-anak

Dr Scott Lively, seorang aktivis pro-keluarga dan pengacara yang berbasis di California berada di Uganda pada bulan Maret lalu sebagai konsultan dalam mempertimbangkan undang-undang ini di tingkat legislator, mengungkapkan bahwa RUU ini sendiri merupakan tanggapan terhadap tekanan para homoseksualis internasional supaya Uganda menerima praktek dan promosi hubungan sejenis di tengah masyarakat Uganda.6

Dalam sebuah wawancara dengan LifeSiteNews, Dr Lively menjelaskan bahwa yang mendorong lahirnya RUU ini adalah "banyaknya campur tangan pihak luar yakni dari aktivis sesama jenis Eropa dan Amerika yang mencoba untuk melakukan di Uganda apa yang mereka lakukan di seluruh dunia – menghomoseksualisasi masyarakat itu.” Salah satu kekhawatiran utama mereka jelasnya adalah pria pelaku hubungan sejenis, "yang datang ke negara itu dan melecehkan anak-anak yang berada di jalanan."


Dukungan masyarakat

RUU ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Uganda.  

November lalu sebuah petisi dimasukkan ke parlemen untuk mendukung RUU ini. “Ketua, kita tidak bisa hanya duduk sementara seperti sebuah fenomena yang menghancurkan sedang terjadi di negara kita," demikian petisi yang disampaikan oleh masyarakat itu kepada Ketua Parlemen Uganda Rebecca Kadaga. 

"Oleh karena itu kami, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, merasa berkewajiban untuk membawa masalah ini untuk mendapat perhatian Anda sebagai pemimpin Parlemen ... sehingga anggota parlemen dapat melakukan sesuatu secepatnya untuk mengatasi situasi yang memburuk di negara kita."7

Semoga para pemimpin dan masyarakat Uganda diberikan hikmat dan kebajikan dalam menjaga keutuhan dan kebaikan bangsa dan negaranya. (MP)


Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada. (Amsal 11:14)

-------
1 For the sins of Uganda, I repent — Museveni, New Vision (link); Doa Seorang Presiden, DCI Indonesia (link).

2 Uganda Parliament Set to Criminalize Homosexuality Month After President Leads Prayer of Repentance, Christian News (link).

3 Uganda Anti-Homosexuality Bill: MPs drop death penalty, BBC News (link).

4 Uganda's Anti-Gay Bill Won't Contain Death Penalty, ABCNews (link).

5 Uganda's Anti-Gay Bill Won't Contain Death Penalty, ABCNews (link); Jika yang dimaksud oleh laporan ini adalah Mr Bahati melarang konseling terhadap pelaku hubungan sesama jenis, maka hal itu perlu mendapat revisi, karena dalam kasus pelaku kejahatan apapun seorang tak boleh dicegah dari pelayanan konseling. 

6 Int’l Pressure on Uganda to Accept Homosexuality Caused Over-the-Top Sanctions: Christian Activist, LifeSiteNews (link).

7 Uganda Parliament Set to Criminalize Homosexuality Month After President Leads Prayer of Repentance, Christian News (link).

Patriark Gereja Ortodoks Ethiopia meninggal dunia

Written By Menara Penjaga on Senin, 20 Agustus 2012 | 23:58

Patriark Abune Paulos (kiri) meninggal dunia hari Rabu
dalam usia 76 tahun (foto: Flickr/IBT)
ETHIOPIA, Addis Ababa.
Patriark Gereja Ortodoks Ethiopia, Abune Paulos, meninggal pada hari Rabu (8/15) pada usia 76, demikian diumumkan pemerintah Ethiopia.

"Bapa Suci telah meninggal dunia," ungkap juru bicara pemerintah Shimeles Kemal kepada Agence France-Presse, namun tidak memberikan rincian tentang kematiannya.

Departemen Luar Negeri Etiopia melaporkan pada hari Kamis bahwa Patriark Abune Paulos sedang mengalami perawatan dalam beberapa pekan terakhir karena penyakit yang tidak diungkapkan.

Berdasarkan aturan dan kanon Gereja Koptik, seorang pemimpin baru akan menggantikan kedudukannya," ungkap Shimeles.

Abune Paulos menjabat sebagai patriark sejak 1992, saat ia dipilih untuk jabatan tertinggi di Gereja Ortodoks Ethiopia itu.

Ethiopia memiliki tradisi Kristen yang membentang sampai masa awal era Kekristenan, hal yang unik di wilayah sub-Sahara Afrika.

Kerajaan Aksum, yang terletak di wilayah Ethiopia dan Eritrea saat ini, adalah bangsa kedua (setelah Armenia) yang menjadikan Kekristenan sebagai agama negara pada abad keempat. Pada abad ketujuh, ketika kekuasaan Islam menaklukkan wilayah Kristen Timur Tengah, Mesir dan Afrika Utara, Kekristenan tetap merupakan kekuatan yang kokoh di Ethiopia, meskipun Gereja Ortodoks Ethiopia menjadi terisolasi dari pusat-pusat Kristen di Eropa dan Timur Dekat.

Saat ini, lebih dari setengah dari penduduk Ethiopia memeluk agama Kristen Ortodoks.

Menurut data 2007, 62.8 persen dari 84.7 juta orang Ethiopia memeluk agama Kristen, dan 43,5% darinya merupakan anggota Gereja Ortodoks Ethiopia.

Kira-kira 45 juta orang yang hidup dalam dan di luar Ethiopia telah mengikuti kepemimpinan Abune Paulos'. (IBT)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger