"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Budaya Homoseks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Homoseks. Tampilkan semua postingan

Perayaan pembaptisan Rusia ke-1025: Kompas moral

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 03 Agustus 2013 | 22:17

Sebuah lukisan dinding menggambarkan pembaptisan rakyat Rusia di Sungai
Dneipr, Kiev oleh St. Vladimir.
RUSIA, Moskow (MP) – Gereja Kristen Ortodoks Rusia memperingati ulang tahun ke-1025 “Pembaptisan Rusia” – yaitu diterimanya kekristenan di Rusia sekaligus pendirian Gereja Kristen Ortodoks oleh Pangeran Vladimir tahun 988 Masehi di Kiev.

Peringatan pada hari Kamis (1 Agustus) lalu ini diselenggarakan di Moskow, ibukota Rusia, dan dihadiri oleh 15 gereja dari kalangan Kristen Ortodoks.

Dalam sambutannya, pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill, mengungkapkan bahwa upaya untuk mengusir orang Kristen dari Suriah akan berdampak pada “bencana peradaban.”

Para pemimpin gereja-gereja Ortodoks terus mengkritik kurangnya perhatian pemimpin AS dan negara-negara Barat lainnya terhadap situasi di Timur Tengah.

Mereka juga mengecam semakin meningkatnya penekanan dari pihak sekularis terhadap kemerdekaan Kristen di negara-negara seperti di Inggris, di mana 'pernikahan' sejenis baru diadakan. (LSN)


Presiden Rusia, Vladimir Putin. 

Mencegah konflik antar budaya dan agama

Perayaan itu dihadiri oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang dalam sambutannya mengekspresikan kekuatiran melihat “di banyak kawasan di dunia, terutama di Timur Tengah dan di Afrika Utara, ketegangan antar agama sedang meningkat, dan hak-hak pemeluk agama minoritas dilanggar,” tak terkecuali penganut Kristen Ortodoks.

Ia memuji kerjasama antara Gereja Ortodoks dan negara Rusia dengan mengatakan bahwa keduanya merupakan rekan dan kolega dalam mencari jalan keluar berbagai masalah domestik dan internasional.

"Hal yang sangat penting saat ini adalah berupaya untuk mencegah konflik antar budaya dan antar agama, yang sarat dengan gejolak yang paling serius," ungkapnya.

Presiden Putin menambahkan bahwa Gereja Ortodoks memberi masyarakat Rusia kompas moral ketika ada begitu banyak orang mencari pertolongan. "Saat ini ketika masyarakat sekali lagi mencari dukungan moral, jutaan rekan-rekan sebangsa kita mendapatinya dalam agama," katanya.  "Mereka percaya kata-kata pastoral yang bijaksana dari Gereja Ortodoks Rusia."

Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill.

Warisan budaya dan agama

Masih dalam suasana perayaan itu, mengikuti sebuah resepsi di Kiev, Presiden Rusia, Patriark Moskow, bersama Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, mengambil bagian dalam sebuah pelayanan doa bersama.

Dalam kesempatan itu Patriark Kirill menekankan warisan budaya dan agama di antara bangsa-bangsa Slavia.

"Nenek moyang kita mengadopsi iman Kristen dan, bersama dengan itu, sistem nilai dan moral... yang tidak bisa dihancurkan oleh pergolakan sejarah," katanya. Ungkapan ini menunjuk pada masa pemerintahan komunis Rusia.

Patriark Kirill juga mengingatkan tentang trend 'pernikahan' sesama jenis yang sedang menyapu dunia Barat. "Ini adalah gejala apokaliptik yang sangat berbahaya, dan kita harus melakukan apa yang bisa sehingga dosa tidak dibenarkan oleh hukum negara di Tanah Suci Rus, karena ini berarti bahwa orang mulai menempuh jalan penghancuran diri sendiri."

Negara Federasi Rusia, dengan didukung penuh oleh Gereja Ortodoks, baru-baru ini menetapkan UU yang melarang promosi praktek hubungan sejenis terhadap anak-anak. Sebuah langkah yang sangat dikecam oleh sejumlah negara Barat karena dicap “kebencian.” (+)




Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika

Written By Menara Penjaga on Senin, 15 Juli 2013 | 12:04

Jumpa pers presiden Senegal dan Amerika Serikat (foto: BCNN5).
AFRIKA (MP)  –  Dalam kunjungannya ke Benua Afrika, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyinggung isu homoseksualitas di tengah sebuah jumpa pers dengan Presiden Senegal Macky Sall, 27 Juni lalu.

"Kami tidak siap dengan dekriminalisasi homoseksualitas," terang Mr. Sall dan menunjukkan bahwa ia dan masyarakat Senegal memiliki sudut pandang yang berbeda. Pernyataannya mendapat dukungan besar dari masyarakat dan media-media massa utama di negara itu.

Bahkan, banyak warga Senegal yang beranggapan bahwa presiden mereka seharusnya lebih tegas. "[Presiden] seharusnya mengatakan, 'Itu tidak pernah bisa eksis di Senegal, itu tidak bisa terjadi di sini'," ujar Tidiane Gueye, warga ibukota Senegal, Dakar, kepada New York Times.

"Senegal adalah 95 persen Muslim," tambah Gueye. "Sebagai negara muslim, kami tidak akan mengizinkan hukum yang memungkinkan pelaku hubungan sejenis untuk menikah."

Seorang pensiunan perwira militer Bouramon Ndour memuji pendirian Mr. Sall dalam menyikapi Mr. Obama. Berbicara tentang homoseksualitas, warga Senegal ini mengatakan bahwa "tidak orang di sini yang dapat menerima hal itu...kami menentangnya dengan keras. Lihat, ini adalah negara Muslim. Langkahi mayat kami dulu!"

Tanggapan yang sama datang dari para pemimpin Kenya. Wakil Presiden William Ruto berbicara di sebuah gereja Katolik pada Minggu 30 Juni, mengatakan bahwa bagi mereka yang menerima homoseksualitas, seperti Mr. Obama, itu adalah "urusan mereka. Kami percaya pada Tuhan." Ia menambahkan bahwa "bangsa Kenya adalah bangsa yang takut akan Allah."

“Lupakan, lupakan, lupakan,” ucap Uskup Agung Nairobi, Kardinal John Njue, kepada Mr. Obama menyangkut legalisasi praktek hubungan sejenis di Afrika.

"Saya pikir kita perlu bertindak sesuai dengan tradisi sendiri dan iman kita," katanya. Berbicara tentang Amerika, Kardinal Njue mengatakan bahwa "orang-orang tersebut yang telah merusak masyarakat mereka ... janganlah mereka menjadi guru kami untuk memberitahu kami ke mana harus pergi."

Sheikh Saliou Mbacke, seorang pemimpin Muslim di Senegal, mengatakan bahwa pemimpin agama di seluruh Afrika memiliki kewajiban untuk berbicara menentang praktek hubungan sejenis, terutama jika ada tekanan untuk membuat rakyat Afrika mengubah pandangan mereka.

"Masalah praktek hubungan sejenis tidak boleh digunakan sebagai alat untuk memeras dan memaksa masyarakat untuk menentang perintah Allah, yang lebih penting daripada kekuatan dunia," katanya. "Kami akan menentang cara paksaan apapun yang mengancam kami untuk menerimanya dalam masyarakat kami."

Di Tanzania, Uskup Anglikan Michael Hafidh mengatakan bahwa sebagian besar para pemimpin Afrika lebih suka Mr. Obama menyimpan pendapatnya tentang praktek hubungan sejenis untuk dirinya sendiri dan fokus pada isu-isu ekonomi yang dihadapi benua Afrika.

Masalah hubungan sejenis "bukan merupakan masalah penting bagi kami sekarang," katanya. "Kami tidak mengakui atau bahkan memikirkan hal itu, apalagi melegalisasinya. Saya pikir karena kita memiliki banyak sumber daya, diskusi kami dengan segenap bangsa lain harus lebih menyangkut investasi dan perdagangan."


Sebanyak 38 negara di seluruh Afrika, di mana agama-agama mayoritas adalah Islam dan Kristen, memiliki hukum yang melarang perilaku homoseksual. (BCNN5)


Terkait: 




DOMA dan keputusan MA: Ratapan dan kegembiraan di Amerika Serikat

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 29 Juni 2013 | 10:38

Para pendukung dan penentang keputusan Mahkamah
Agung AS (foto: blog.zap2it.com).
AMERIKA SERIKAT, Washington, D. C. (MP) -- Dalam tulisan sebelumnya (lihat di sini) MP telah menyoroti perkembangan sekitar isu gerakan revolusi seksual di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat (AS). Berikut liputan khusus menyangkut dua kasus besar terkait masalah 'pernikahan' sejenis yang dibawa ke Mahkamah Agung (MA) di negara Paman Sam.

Dua kasus penting
Kasus yang pertama adalah mengenai DOMA (defense of marriage act) yaitu peraturan federal di Amerika Serikat (AS) yang mendefinisikan pernikahan adalah antara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Peraturan ini ditetapkan oleh kongres AS pada masa kepresidenan Bill Clinton.

Yang kedua adalah Proposition 8, yaitu voting (referendum) yang dimenangkan masyarakat California untuk menetapkan bahwa pernikahan di negara bagian itu adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemenangan itu kemudian digugat dan dianulir pengadilan.


Pdt. William Owens (foto CNA).
Perlu bangkit
Keputusan MA hari Rabu kemarin yang menyatakan bahwa DOMA “tidak konstitusional” membawa ratapan di banyak kalangan.

Pdt. William Owens, presiden Coalition of African-American pastors (kualisi para pendeta berlatarbelakang Afrika-Amerika), mengungkapkan “MA...mengabaikan anak-anak kita yang sangat berharga yang membutuhkan seorang ibu dan seorang ayah yang dipersatukan dalam pernikahan untuk perkembangan mereka yang sehat.”

Menurut Pdt. Owens komunitas Afrika-Amerika telah dibanjiri masalah dengan banyaknya anak-anak yang tumbuh dengan hanya satu orangtua (single-parent). “Keputusan ini hanya akan mempercepat kerusakan lebih jauh dalam komunitas dan masyarakat kami,” ujarnya mengingatkan bahwa sudah saatnya “komunitas Afrika-Amerika dan orang Kristen untuk bangkit dan membarui upaya mereka untuk melindungi [institusi] pernikahan dan memperkuat keluarga di dalam komunitas mereka.” (CNA)

Senada dengan itu, Robert Tyler, penasihat umum organisasi Advocates for Faith and Freedom (Advokat untuk Iman dan Kebebasan) menanggapi:

“Pernikahan telah lama dan selalu dipahami lebih dari sekedar 'hubungan sipil'. Pernikahan itu adalah sebuah lembaga yang dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan optimal untuk membesarkan anak-anak – yaitu di mana ada seorang ibu dan seorang ayah. Meskipun tidak semua pernikahan antara pria dan wanita adalah sempurna, dan beberapa mungkin berakhir dengan perceraian, kebijakan publik selalu mengakui perlunya mendorong pernikahan sebagai pembentuk suatu masyarakat," demikian dikutip di Christian News Wire.

Sebagai pendukung Proposition 8, Mr. Tyler sangat menyesali keputusan MA yang memutuskan untuk menolak mengambil keputusan mengenai masalah itu, yang berarti keputusan pengadilan lebih rendah yang menyatakan bahwa referendum tersebut “tidak konstitusional” akan tetap berlaku.

Anak-anak siapa?
Sementara ada ratapan di hati orang-orang seperti Pdt. Owens dan Mr. Tyler, tentunya ada kegembiraan bagi mereka yang mendukung keputusan MA yang menyatakan bahwa pemerintah federal harus menerima 'pernikahan' partner sesama jenis di negara-negara bagian di AS yang telah menerima hubungan demikian. 

Dengan keputusan MA mengenai Proposition 8, 'pernikahan' sejenis diterima di 13 dari 52 negara bagiannya).

Menurut hakim Anthony Kennedy yang menulis hasil keputusan mayoritas (5-4) bahwa keputusan MA ini sesuai dengan Amandemen ke-5 yang menjamin persamaan perlindungan di bawah hukum federal.

Ini berarti tunjangan tertentu atau perlakuan khusus perpajakan yang diatur hukum federal AS untuk mendorong pernikahan (antara seorang laki-laki dan seorang perempuan) sebagai dasar suatu masyarakat dan sarana untuk menumbuh-kembangkan anak-anak turut juga diberikan bagi parner sejenis yang 'menikah' di 13 negara bagian tadi.

Dan terlihat bahwa partner sejenis memang bisa 'punya' anak. NY Times menyebut “puluhan ribu anak yang sekarang ini dibesarkan oleh pasangan sejenis.”

Ada kebenaran di balik pernyataan Robert O. Lopez waktu lalu: “Panti asuhan di Asia atau di sebuah kota di Amerika [Serikat] dipercayakan dengan kewenangan adopsi untuk membuat keputusan yang terbaik bagi kehidupan anak, bukan untuk memenuhi permintaan pasar bagi pasangan sesama jenis yang menginginkan anak-anak.”

Bukannya menyudutkan partner sejenis yang mungkin bermaksud baik mengadopsi, tapi tampaknya kita semua perlu berusaha lebih keras supaya yang terbaik untuk anak itu yang diperolehnya, dan itu bukan sekedar materi.


Peringatan keras
NY Times bukan satu-satunya media cetak yang memberi liputan positif terhadap keputusan MA ini. Bahkan penelitian Pew's Project menunjukkan bahwa setiap liputan berita TV di AS menunjukkan dukungan terhadap keputusan itu, lebih jauh melebihi yang tidak mendukung. Media memang berpengaruh.


Tak dapat disalahkan jika situasi ini telah membuat pengamat dan aktivis pembela keluarga seperti Dr. Scott Lively muncul dengan peringatan keras.

Dr. Lively adalah presiden organisasi Defend the Family International (membela keluarga internasional) yang saat ini harus menghadapi dakwaan atas tuduhan “Kejahatan Melawan Kemanusiaan” karena berkhotbah di Uganda, Afrika, menentang praktek yang seperti diungkapkan oleh Lopez sebelumnya dikategorikan “kelainan mental.”

Dalam tulisannya berjudul A Warning to the Church in America (peringatan untuk gereja di Amerika) Dr. Lively memperingatkan Gereja di Amerika tentang “perang rohani dan budaya” yang belum pernah ada sebelumnya. Di dalamnya gereja-gereja, jemaat, bahkan keluarga Kristen akan terpecah. Bahkan ia memprediksikan bahwa para penentang praktek hubungan sejenis akan mengalami aniaya.

“Yang pasti, pandangan seseorang terhadap [praktek] hubungan sejenis tak harus menjadi sebuah masalah menyangkut keselamatan [seseorang], tetapi kesanggupan seseorang untuk bersandar pada Yesus melalui penganiayaan bisa menentukan,” tulisnya.


Sudut pandang positif
Konferensi Keuskupan Katolik AS (United States Bishops conference) mengeluarkan pernyataan yang diawali dengan ungkapan "Hari ini adalah hari yang tragis bagi pernikahan dan bagi bangsa kita." (LSN)

Namun demikian, masih ada yang melihat perkembangan ini dari segi positif. Tony Perkins, presiden organisasi Family Research Council (dewan penelitian keluarga), mengungkapkan bahwa ia merasa “lega” karena MA tidak memutuskan semua negara bagian di AS untuk merubah arti pernikahan kodrati “seperti yang diupayakan.” (CNA)

Hormati moralitas Moskow menolak mematuhi keputusan Pengadilan HAM Eropa

Written By Menara Penjaga on Jumat, 17 Mei 2013 | 10:35

Rusia secara konsisten menolak intimidasi pemerintah dan
aktivis dari beberapa negara Barat untuk melegalkan praktek
hubungan sejenis. Tampak masyarakat Moskow yang
menolak pawai serupa sebelumnya. (Foto: Youtube)
RUSIA, Moskow (LSN)-- Pemerintah kota Moskow kembali menolak permohonan izin pawai homoseksual, dengan mengutip perlunya "menghormati moralitas" dan patriotisme, demikian diungkapkan sumber-sumber media Rusia.  

"Menurut hukum Rusia, kita harus berupaya dengan jelas dan konsisten dalam menjaga moralitas, diarahkan untuk mengajarkan patriotisme kepada generasi yang sedang tumbuh, dan bukan terhadap aspirasi yang tidak jelas, belum lagi menggunakan lapangan kota dan jalan-jalan untuk ini," kata Aleksei Mayorov, Kepala Keamanan Regional untuk kota Moskow, seperti dilaporkan Interfax. 

Jika para aktivis homoseksual menentang hukum dan berusaha untuk melaksanakan pawai itu seperti yang telah mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya, Mayorov memperingatkan, "reaksi tertentu akan terjadi dan tindakan itu akan digagalkan," demikian dilansir RIA Novosti. "Menurut pendapat kami tidak ada keinginan untuk acara seperti di kota [Moskow]."

Pernyataan Mayorov mencerminkan sentimen publik di Rusia, yang menurut sebuah jajak pendapat yang baru-baru ini dilakukan oleh Pusat Opini Publik Levada, bahwa 87 persen mengatakan mereka menentang kegiatan seperti pawai homoseksual. Jajak pendapat itu juga menemukan bahwa 85 persen menentang pembuatan "pernikahan" homoseksual.

Moskow terus menolak tuntutan gerakan homoseksual internasional dengan tidak mematuhi keputusan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa, yang telah memerintahkan kota itu untuk mengijinkan pelaksanaan kegiatan tersebut, dalam hal ini juga tak menggubris ketua Dewan Eropa yang telah mengecam larangan Moskow terhadap pawai homoseksual itu.

Tahun ini genap delapan kali berturut-turut kegiatan pawai homoseksual dilarang di Moskow.
 
Upaya para aktivis homoseksual untuk mengadakan demonstrasi di Moskow dan kota-kota lain telah memicu kemarahan para pemimpin agama dan warga masyarakat Rusia, yang kemudian memaksa mereka untuk membubarkan aksinya. Polisi juga telah menahan para aktivis homoseksual yang melanggar larangan pelaksanaan kegiatan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah kota di Rusia telah menetapkan bahwa propaganda homoseksual yang ditujukan kepada anak-anak sebagai ilegal. Aturan ini sedang dipertimbangkan pula oleh Parlemen Rusia.

Di negara tetangganya Georgia, masyarakat, di dalamnya para imam dan umat Gereja Ortodoks, membubarkan pawai homoseksual minggu ini. 


Kedua hal ini menjadi sorotan tajam media-media yang mendukung aktivitas ini.#   

Apa betul ada pesan tersembunyi di balik gambar kemasan Indomilk?

Written By Menara Penjaga on Rabu, 01 Mei 2013 | 21:47


INDONESIA, Jakarta (Kompasiana, 1 Mei 2013).

Hubungannya dengan “subliminal”
Bagi yang belum terbiasa dengan istilah “subliminal,” perbincangan tentang Indomilk bisa membantu.
Hal ini karena istilah “subliminal” sangat dekat dengan periklanan.

Arti istilah ini, seperti dijelaskan di situs Subliminal Definition, adalah “mengirim pesan atau informasi melalui gelombang suara (pendengaran) atau gambar (penglihatan) di bawah tingkatan yang bisa terdeteksi manusia, dan langsung masuk ke pikiran bawah sadar.”

Di situ dijelaskan bahwa “pesan yang dikirim dengan metode subliminal tidak akan dipahami oleh pikiran sadar kita, dan apapun bentuk yang diterima pikiran bawah sadar kita, akan diterima sebagai kenyataan. 

“Pikiran bawah sadar kemudian akan membuat alasan untuk pikiran sadar kita, dan membuat pikiran logis untuk mengikutinya. 

“Penelitian menunjukkan bahwa ketika suatu muatan menerapkan gambar subliminal, otak akan merekam gambar itu di luar kesadaran. 

“Dengan menerima pesan subliminal yang sama secara konsisten ke alam bawah sadar, maka sebuah kebiasaan baru dapat terciptakan.” 

Dikatakan juga bahwa teknik subliminal sebelumnya telah diterapkan di Amerika Serikat (AS).

Insiden yang paling terkenal adalah iklan Coca-cola yang ditampilkan 1/2000 detik ketika orang menonton film. Hal ini meningkatkan pembelian minuman ini dan pop-corn secara luar biasa. 

Karena beberapa insiden yang terjadi maka di AS metode ini dilarang dalam periklanan, dengan alasan  kemampuan yang dimilikinya untuk mempengaruhi pikiran manusia.

Indonesia dan Indomilk
Saat ini masyarakat Indonesia kembali diramaikan dengan pemberitaan tentang kemasan Indomilk yang dianggap membawa pesan tersembunyi. Kemasan tentu mempunyai daya iklan juga. 

Laporan situs Liputan 6 (30/4/13) menyinggung gambar kemasan Indomilk yang menampilkan dua pria dewasa yang mengapit seorang anak laki-laki sehingga dianggap mengirim pesan tentang pasangan sesama jenis. 

Apakah berbagai reaksi terhadap kemasan ini adalah sudah berlebihan? 

Di tengah upaya terang-terangan negara-negara seperti AS dan Inggris untuk menyebar-luaskan praktek hubungan sejenis (lepas dari penolakan dari masyarakatnya sendiri) membuat penilaian itu menjadi wajar-wajar saja. Kewaspadaan membutuhkan kekritisan.

Lagi pula upaya ‘pencitraan’ lewat gambar oleh Indomilk ini tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah “ketidak-pekaan budaya” dari pihak pemasaran Indomilk, seperti yang diusulkan oleh ahli Silih Agung Wasesa. 

Karena kalau demikian adanya, tahun 2011 yang lalu, yaitu ketika muncul komplain terhadap gambar di kemasan susu ini, pihak Indomilk telah mengganti penggambaran yang mempunyai dampak psikologi itu, terutama tentu saja terhadap anak-anak. 

“Kejahatan Korporasi”
Farid Muadz, aktivis pembela perempuan dan anak korban kekerasan, terang-terangan menyebut bahwa korbannya bukan hanya anak-anak, tetapi juga orangtua, karena “informasi berupa gambar itu berisi pesan berbahaya bagi masa depan anak-anaknya,” demikian tulisnya di Kompasiana. 

Bagi Muadz, tindakan Indomilk ini merupakan “kejahatan korporasi” karena “mengelabui konsumennya agar mengkonsumsi barang yang diproduksinya dengan menyelipkan informasi dan promosi yang menyesatkan dan menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat pada umumnya.” 

Atau juga dapat dikategorikan sebagai “social crime” (kejahatan sosial), jika saja dapat dibuktikan unsur kesengajaannya. 

Jika ada unsur pre-meditasi (perencanaan) maka Indomilk, dan secara umum PT. INDOLAKTO telah menetapkan tonggak dimulainya peran korporasi dalam mendistorsi masyarakat Indonesia. 

Konsumen yang terkelabui akan membeli produk yang dengan sendirinya menunjang proyek ‘kepedulian’ sosial yang ditopang oleh perusahaan. 

Ibaratnya seperti Coca-cola yang merupakan salah satu sponsor New York City Pride Parade (pawai pelaku dan pendukung hubungan sesama jenis), bersama Kraft yang bahkan membuat jenis Oreo berwarna-warni. 

Mengalirnya dukungan keuangan dari perusahaan-perusahaan besar seperti ini memungkinkan berbagai kampanye, baik terselubung maupun terang-terangan, di seluruh belahan dunia, atas nama membela “hak-hak pelaku hubungan sesama jenis” 

– dan itu termasuk mencitrakan para penentangnya sebagai orang-orang yang ‘homofobik’ atau tidak punya belas kasih. Tapi belas kasih memang perlu disertai kekritisan. 

Di beberapa negara sekarang ini “hak-hak pelaku hubungan sesama jenis” itu telah diletakkan di atas hak-hak anak untuk memiliki kasih sayang seorang ayah dan seorang ibu, hak untuk mengekspresikan pendapat berdasarkan keyakinan agama yang dianut, dan hak untuk melestarikan nilai-nilai sosial-budaya sebuah masyarakat. 

Keluhan Farid Muadz
Masyarakat sekuler Barat saat ini cenderung telah meninggalkan norma-norma kemasyarakatan tradisional yang tercermin lewat pemujaan sikap individualistik, perilaku seks lebas (lepas bebas), pembunuhan bayi, serta sistem kapitalismenya, menganggap bahwa sistem masyarakat lainnya adalah ‘primitif’, perlu ‘pencerahan’. 

Dan karena itu lewat kekuatan ekonomi, diplomasi, termasuk intimidasi, maka seluruh dunia dapat menerima apa saja yang mereka inginkan, lepas dari berbagai konsekuensinya terhadap masyarakat itu sendiri. 

Itulah sebabnya pertanyaan “Apa betul ada pesan tersembunyi di balik gambar kemasan Indomilk?” perlu disikapi bersama sebagai satu kesatuan masyarakat yang berpikir kritis. 

Karena, kalau tingkahlaku Indomilk tak bisa diganggu-gugat, bisa jadi ini tinggal merupakan indikasi bahwa Indonesia telah terjual (entah kepada siapa). 

Masih di 2011 yang lalu Muadz mengeluh, “Sampai saat ini Indomilk belum bergeming, disamping komponen masyarakat yang lain yang seakan tak peduli dengan informasi produk susu yang menyesatkan ini.” 

Ini memang sudah tahun 2013.

Kasus Mrs. Young: Ketika keyakinan iman menuntut harga

Written By Menara Penjaga on Rabu, 17 April 2013 | 14:06

(Ilustrasi: politico.com)
Sementara banyak orang Kristen menderita karena gagalnya penegakan hukum, ada juga yang harus membayar harga atas nama penegakan hukum.

Seorang hakim di Hawaii, AS, memutuskan bahwa Phyllis Young melanggar hukum karena menolak menyewakan kamar di rumahnya yang ia usahakan sebagai tempat penginapan kepada dua orang wanita yang mengaku sebagai pasangan sejenis (LSN, 4/16/13).

Mrs. Young, pemilik Aloha Bed and Breakfast, diajukan ke pengadilan karena menolak menyewakan kamar kepada Ms. Cervelli dan Ms. Bufford pada tahun 2007 lalu, yang setelah ditanyakan oleh Mrs. Young, menerangkan bahwa mereka merupakan pasangan sejenis.

Dari keyakinan imannya yang menolak hubungan sejenis, Mrs. Young merasa tidak nyaman menyewakan kamar kepada pasangan ini.

Ia pun diputus hakim melanggar hukum akomodasi publik Hawaii, yang mengatakan bahwa usaha yang menyediakan penginapan untuk publik tidak boleh melakukan diskriminasi atas dasar ras, jenis kelamin, agama, preferensi seksual, atau identitas gender.

Nampak bahwa iman Mrs. Young 'tidak populer', karena iman itu ternyata di depan hukum (sekarang) 'mendiskriminasi'.

Tapi Mrs. Young tidak sendiri.


“Keyakinan iman kami masih sama, tapi kami memiliki hidup yang harus dijalani, keluarga untuk dikasihi, bisnis yang perlu ditumbuhkan, dan komunitas untuk dilayani,” keluh O'Reilly, “Bisnis kecil seperti kami tidak bisa menyaingi sumberdaya tak terbatas yang dimiliki oleh pemerintah dan ACLU”


Dua orang perangkai bunga, Barronelle Stutzman dan Kimberly Evans, termasuk seorang pengusaha roti, Victoria Childress, juga sedang menghadapi kasus yang sama. Mereka ini perlu berbesar hati karena dapat disejajarkan dengan 25.000 notaris di negara bagian Maine, AS, yang akan menghadapi tuntutan yang sama atas dasar “pelanggaran hak asasi manusia” jika menolak untuk tunduk.

Namun pertanyaan bagi kita adalah apakah ini adalah masalah “diskriminasi” atau “legitimasi.” Dan kalau kita memahami maknanya, maka iman bukan mendiskriminasi, tetapi menolak melegitimasi apa yang bertentangan dengan iman.

Penegak dan produk hukum ternyata tidak lepas dari masalah iman. Kalau begitu, apakah kita siap membayar harga? [MP]

Kritik Gereja Ortodoks Rusia terhadap Perancis dan Inggris: Menuju likuidasi diri dari seluruh bangsa

Written By Menara Penjaga on Selasa, 12 Maret 2013 | 05:55

Konsili para uskup Gereja
Ortodoks Rusia di Ketedral
Kristus Juruselamat, Moskow,
2-5 Februari 2013
(foto: mospat.ru).

RUSIA, Moskow, 11 Maret 2013 (MP) - Gereja Ortodoks Rusia, melalui Departemen Hubungan Eksternal Gereja, telah mengeluarkan pernyataan yang mengungkapkan bahwa legislasi “pernikahan” sejenis di Perancis dan Inggris adalah sebuah revolusi "pemahaman masyarakat Eropa akan pernikahan” yang pada akhirnya akan menyebabkan runtuhnya masyarakat itu.

Dokumen ini mencatat bahwa "Gereja Ortodoks Rusia mempertahankan dan membela pemahaman utama Kristen akan pernikahan dan keluarga, menguduskan hubungan pernikahan dalam Sakramen gereja dan menegaskan pentingnya pernikahan untuk kesejahteraan dan pembangunan masyarakat secara keseluruhan."

Disebutkan juga bahwa di negara-negara yang telah masuk dalam upaya merevisi secara radikal etika keluarga tradisional, telah terjadi krisis demografi yang tumbuh dari tahun ke tahun.

"Revisi norma-norma dasar dari hukum keluarga di mana komunitas manusia telah dibangun selama berabad-abad dan yang telah dijaga seperti sebelumnya dalam kode moral agama-agama besar dunia adalah jalan menuju likuidasi diri dari seluruh bangsa," ungkap Gereja Ortodoks Rusia.

Mengkritisi “pernikahan sipil” pasangan sejenis, dokumen ini mengungkapkan bahwa langkah ke arah itu merupakan langkah menuju upaya untuk merubah arti pernikahan dan keluarga secara keseluruhan, yang secara langsung bertentangan dengan pemahaman Kristen.

Menurut pernyataan Gereja yang bangkit kembali setelah penekanan zaman komunis Rusia ini, penyebab perubahan ini bukanlah perbaikan masyarakat, melainkan didasarkan pada “individualisme dan hedonisme berskala masyarakat dan negara, dan pada akhirnya pada skala yang mencakup seluruh manusia.”

Gereja Ortodoks Rusia terutama prihatin dengan pengadopsian anak oleh pasangan sejenis, dan menyebut undang-undang yang membolehkan praktek ini sebagai hal yang "berbahaya."

"Anak-anak ini akan mengembangkan pandangan tentang orangtua, keluarga dan nilai-nilai moral dan sosial yang sama sekali berbeda dari pemahaman tradisional," ungkap dokumen tersebut.

"Semua ini akan berkontribusi terhadap penghapusan yang lebih jauh mengenai perbedaan antara jenis kelamin, dan selanjutnya mengeluarkan dari kesadaran publik citra perempuan sebagai ibu, istri dan wali rumah tangga.”

Dikatakan juga bahwa penolakan terhadap gagasan bahwa pria dan wanita memiliki panggilan khusus dan saling melengkapi dalam kehidupan keluarga membawa konsekuensi destruktif bagi individu dan masyarakat.

Gereja Ortodoks Rusia, yang memiliki sekitar 150 juta pengikut di seluruh dunia, mendeklarasikan solidaritasnya dengan penganut agama-agama lain termasuk mereka yang datang dari sudut pandang non-agama yang telah menjaga pemahaman tradisional pernikahan sebagai persatuan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan dan yang berdiri menentang "upaya reformasi hukum radikal untuk memaksakan pada seluruh masyarakat pemahaman yang berbeda tentang pernikahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia."

Teks lengkap dari "Pernyataan Layanan Komunikasi Departemen Patriarkat Moskow untuk Hubungan Eksternal Gereja tentang perubahan terbaru dalam hukum keluarga di Perancis dan di Inggris Raya" dapat dilihat di sini.
(LSN)

Para notaris publik Kristen di AS terancam kriminalisasi dengan alasan 'HAM'

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 15 Desember 2012 | 03:59

Negara bagian Maine, AS (gambar: Wikipedia).
AMERIKA SERIKAT, Maine (LSN, 14 Desember 2012).

Di negara bagian Maine, AS, setiap notaris yang melakukan legalisasi pernikahan tidak boleh menolak untuk melakukan 'perkawinan' sesama jenis untuk alasan apapun, karena kalau demikian dianggap melakukan pelanggaran 'hak asasi manusia', demikian menurut sekretaris negara bagian itu.

Setelah melegalkan 'pernikahan' sesama jenis pada bulan November lalu, para notaris publik di Maine yang mempunyai kewenangan untuk menikahkan pasangan suami-isteri harus juga menyediakan layanan yang sama bagi pasangan sejenis pada mulai tanggal 29 Desember. Hal itu diungkapkan Sekretaris negara bagian, Charles Summers Jr menanggapi permintaan keterangan melalui e-mail.

Mereka dapat saja memilih untuk tidak melegaliasi sebuah pernikahan, namun mereka tidak boleh hanya menikahkan perempuan dan laki-laki saja, terlepas dari keberatan agama mereka. Di bawah peraturan HAM Maine, penolakan ini dianggap sebagai pelanggaran hak asasi manusia.

Beberapa pendeta vokal sedang mempertimbangkan untuk menyatakan diri mereka sebagai notaris yang tidak akan melakukan pernikahan sesama jenis. Mereka pasti akan mendapat serangan, tetapi mereka tidak akan berkompromi keyakinan mereka.

Aliansce Defending Freedom (aliansi pembela kebebasan) telah menyatakan diri siap untuk membantu para notaries yang membutuhkan bantuan mereka. Caroll Conley dari Maine Christian Civic League mengungkapkan, "kami sangat bersyukur untuk organisasi seperti ADF, karena pihak lain bekerja melalui intimidasi." [*]


-------
Hak asasi manusia yang dirumuskan menjauh dari firman Tuhan akan menghancurkan manusia itu sendiri. 



Pdt Rick Warren: Toleransi bukan berarti menyetujui hubungan sejenis

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 November 2012 | 10:17

Pdt Rick Warren (foto: foxnewsinsider)
AMERIKA SERIKAT, California (29 November 2012).

Pendeta Rick Warren, pemimpin gereja Saddleback Church di California, AS, mengatakan bahwa bersikap toleran terhadap mereka yang menyukai sesama jenis tidak berarti menyetujui pilihan mereka. Hal ini diungkapkannya dalam acara “CBS This Morning” hari Selasa lalu dalam rangka peluncuran kembali bukunya The Purpose Driven Life yang diterbitkan 10 tahun lalu.1

Buku ini telah terjual lebih dari 60 juta kopi di seluruh dunia, sebuah rekor untuk sebuah buku renungan non-fiksi.

Tahun 2005 lalu Kristiani Pos menulis: “Rick Warren telah mendirikan tiga yayasan untuk mendistribusikan 90 persen dari hasil keuntungan [penjualan buku itu] ke [pelayanan] global, termasuk menolong individu-individu di negara-negara berkembang yang terkena dan terpengaruh oleh AIDS.”2


Toleransi bukan berarti menyetujui

Pembawa acara Charlie Rose dan Norah O'Donnell menanyakan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan moralitas, politik, termasuk 'pernikahan' sejenis. Pdt Rick mengatakan bahwa menurut Alkitab, orang harus bersikap toleran terhadap berbagai pandangan, sama seperti Yesus - tapi itu tidak berarti menyetujui semua pilihan.

Menanggapi permintaan Rose untuk lebih menjelaskan bagaimana seseorang bisa toleran namun menentang 'pernikahan' sesama jenis, Pdt Rick menjelaskan:

"Masalahnya adalah bahwa toleran telah berubah [diubah?] maknanya. [Kata] ini sebelumnya digunakan dalam arti 'Saya mungkin tidak setuju dengan Anda sepenuhnya, tapi saya akan memperlakukan Anda dengan hormat'. Hari ini, toleran diartikan 'Anda harus menyetujui semua yang saya lakukan'. Ada perbedaan antara toleransi dan persetujuan.
Yesus menerima semua orang tidak peduli siapa mereka. Ia tidak setuju dengan semua yang saya lakukan, atau Anda lakukan, atau yang orang lain lakukan. Anda bisa menerima tanpa menyetujui."3


Tidak semua perasaan alami adalah baik

Dalam sebuah wawancara di sebuah acara televisi lainnya, "Morgan Piers Tonight" di CNN yang ditayangkan pada hari yang sama, Pdt Rick juga disuguhi pertanyaan dengan topik yang sama.4

"Apakah Anda secara pribadi percaya bahwa orang yang menyukai sesama jenis dilahirkan demikian? Atau, apakah mereka nanti kemudian menyukai sesama jenis? Apakah mereka diciptakan sebagai penyuka sesama jenis?" Morgan, sang pembawa acara, meminta penjelasan Pdt Rick.

“Anda tahu – keputusan juri belum ada untuk itu. Kalau nanti ditemukan adanya gen yang menyebabkan ketertarikan sesama jenis, hal itu tidak menggangu saya,” ungkapnya sambil menambahkan bahwa ia terbuka dengan diskusi semacam ini karena menurutnya setiap orang berhak diperlakukan secara terhormat dan dengan kasih.

"Ini yang kita tahu tentang kehidupan: Saya memiliki semua jenis perasaan alami dalam hidup saya dan itu tidak berarti bahwa saya harus melakukan semuanya. Kadang-kadang saya marah dan saya merasa seperti ingin menonjok seorang pria di hidung. It tidak berarti saya menindakinya. Kadang-kadang saya merasa tertarik pada wanita yang bukan istri saya, tapi saya tidak menindakinya," lanjutnya pemimpin dari sekitar 20.000 jemaat ini.

“Hanya karena saya merasakan sesuatu, itu tidak membenarkannya. Tidak semua yang alami adalah baik bagi saya.” Ia menyimpulkan pendapatnya dengan mengatakan bahwa ia telah memilih Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam hidupnya, dan bahwa “Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa saya mempunyai kendali atas tindakan-tindakan saya.”

Di dunia Barat, mitos bahwa ketertarikan sesama jenis merupakan akibat gen sering dipakai sebagai legitimasi, karena dianggap dengan demikian Allah merancangkannya. Hal ini menjadi pertentangan teologi, karena pada kenyataannya ada juga hal-hal menyangkut genetika yang sulit dikatakan sebagai rancangan Allah, misalnya warisan gen BRCA1 dan BRCA2 yang tak normal akan menyebabkan kanker payudara.5 Dalam teologi Kristen hal ini dilihat sebagai akibat masuknya dosa dalam kehidupan manusia. 

Sementara itu, sampai sekarang ini para ilmuwan masih berdebat apakah ada yang disebut dengan "gay gene" itu. Sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Richard L. Deem yang menganalisa penelitian yang melibatkan saudara kembar, studi DNA, pengaruh hormonal, Xq28, dll, menyimpulkan bahwa penelitian sejauh ini belum pernah mengidentifikasi gen atau produk gen yang menyebabkan ketertarikan seksual terhadap sesama jenis.6


Tanggapan para homoseksualis terhadap Pdt Rick

Pernyataan-pernyataan Pdt Rick mendapat tanggapan keras dari para pendukung revolusi seksual yang pada prakteknya memarginalisasi hak-hak anak. Thinkprogress menggaris bawahi pernyataan Pdt Rick bahwa “menyukai sesama jenis adalah seperti 'menonjok seseorang di hidung'.”7

Thinkprogress juga menilai Pdt Rick sebagai seorang yang mempunyai sejarah panjang “menentang persamaan hak pernikahan.”

Sebuah video You Tube menuduh Pdt Rick melakukan “imperial evangelism” di Afrika.8 Namun, dipihak lain para pemimpin Afrika menuduh para pemimpin negara-negara Barat saat ini sedang melakukan bisnis neo-kolonialisme/imperialisme dengan mengimpose nilai-nilai mereka yang “un-Africa” (tidak Afrika) kepada masyarakat Afrika.9 

Ungkapan Pdt Rick bahwa “toleransi bukan berarti menyetujui” perlu senantiasa diingat dengan kasih dan dalam doa. (MP)





1 Rick Warren on Gay Marriage: 'Tolerance Does Not Mean Approval', The Christian Post (link). 
 
2 Rick Warren Umumkan Global Peace Plan untuk Berperang Melawan Raksasa Dunia, Kristiani Pos (link).

3 Rick Warren on Gay Marriage: 'Tolerance Does Not Mean Approval', The Christian Post (link). 
 
4 Rick Warren on Homosexuality: 'Not Everything Natural Is Good for Me', The Christian Post (link).

5 Genetics, BreastCancer.org (link). 

6 Genetics and Homosexuality: Are People Born Gay? The Biological Basis for Sexual Orientation, God and Science (link).

7 Rick Warren: Being Gay Is Like ‘Punching A Guy In The Nose’ Or Consuming Arsenic, ThinkProgress (link).

8 Imperial Evangelism: Reverend Rick Warren in Africa, You Tube (link). 

9 Presiden Gambia: Kami tidak akan pernah menerima “pernikahan gay yang tidak patut”, Menara Penjaga (link); Kristen dan Muslim bergabung menentang agenda homoseksualisme di Liberia, Menara Penjaga (link).

Konferensi global antikekerasan terhadap perempuan akan dilaksanakan di Australia

Written By Menara Penjaga on Selasa, 27 November 2012 | 10:54

AUSTRALIA, Canberra (26 November 2012). 

Australia akan menjadi tuan rumah konferensi global Pita Putih (White Ribbon), gerakan yang dilakukan oleh kelompok pria guna menghentikan tindak kekerasan terhadap wanita, demikian kutipan laporan dari Kompas.com. 

Dalam sebuah forum di Gedung Parlemen di Canberra, hari Senin (26/11/2012), Perdana Menteri Australia Julia Gillard mengatakan pemerintah akan mendukung konferensi yang berlangsung bulan Mei 2013 di Sydney dimana para akademisi, pejabat pemerintah dan lembaga lain akan berkumpul.

Gerakan Pita Putih ini dimulai di Toronto, Kanada, 20 tahun lalu, ketika terjadi pembunuhan terhadap 14 mahasiswi.

Di Australia, gerakan ini dimulai di tahun 2003, dan sekarang ini lebih dari 58 ribu pria Australia sudah menyampaikan tekad untuk tidak pernah menggunakan kekerasan dalam kehidupan mereka, dan akan berbicara terbuka bila mereka melihat tindak kekerasan terhadap wanita di tempat lain.

Dalam laporan ini disebutkan tentang pembunuhan wartawan ABC Jill Meagher yang mendorong reaksi warga Australia, namun tidak disebutkan bahwa sebagian masyarakat Australia melihat pembunuhan ini merupakan akibat dari pornofikasi masyarakat. (MP)

Gerakan Pita Putih di Amerika Serikat sangat kuat dikaitan dengan perang melawan pornografi. Susan Roach, dalam artikelnya berjudul “Pornography is center of White Ribbon campaign” [pornografi sebagai fokus kampanye Pita Putih], menulis: “Penelitian secara definitif menunjukkan bahwa pornografi mengaitkan seks dengan kekerasan dan eksploitasi.”

Ia menyoroti dampak pornografi terhadap diri pribadi, keluarga, dan masyarakat, dan merupakan industri yang meraup untung lebih besar dibanding gabungan dari Microsoft, Google, eBay, Amazon dan Netflix. (EMC) 

Konferensi mengenai kekerasan terhadap wanita ini akan diselenggarakan di Universitas Wollongong, 13-15 Mei 2013. Pemerintah Federal memberikan dana 200 juta rupiah guna mendukung acara ini. Pemimpin partai oposisi Tony Abbot mengatakan dia mendukung kampanye Pita Putih tersebut.

"Sebagai saudara dari tiga kakak perempuan, dan ayah dari tiga anak perempuan saya memiliki tugas untuk membangun dunia yang aman bagi orang-orang yang saya cintai." kata pemimpin Partai Liberal tersebut.

"Sangat memprihatinkan bahwa satu dari tiga wanita dewasa Australia menghadapi tindak kekerasan dan pelecehan seksual dalam hidup mereka. Kita tidak boleh berhenti sampai kita bisa menghentikan tindak kekerasan terhadap wanita." tambah Abbot.

Toni Abbot adalah seorang politikus yang mendapat perhatian media karena mendukung penolakan terhadap 'pernikahan' sejenis di Australia, ketika saudara perempuannya Christine Foster telah memilih untuk berhubungan dengan seorang perempuan setelah perceraiannya. Karena posisi Abbot tersebut ia menjadi bulan-bulanan dari para homoseksualis dan media sekularis, sementara Christine sendiri berharap sekiranya ia bisa menjelaskan pada mereka tentang rasa empati yang ditunjukkan saudaranya itu kepadanya. (The Australian)

(RUU tentang 'pernikahan' sejenis ditolak dengan perolehan suara 98:42 pada 19 September lalu. Partai Liberal dengan tegas menolak pengesahannya. Senator Dean Smith, seorang yang terang-terangan menyukai sesama jenis mengatakan "Kesetaraan untuk pernikahan telah menjadi slogan." Ia berpendapat bahwa penolakan kelompok Liberal terhadap pernikahan sejenis adalah hal yang "mulia dan patut dipuji," dan ia sendiri setuju dengan posisi ini. [Herald Sun])

Kembali ke Pita Putih.

Pemimpin Partai Hijau Australia Christine Milne mengharapkan di gedung parlemen dijadikan "tempat kerja Pita Putih" dimana para anggota parlemen dan Senator berperilaku etis terhadap para wanita., "Penggunaan bahasa bisa mempengaruhi perilaku. Itulah sebabnya saya kira kita harus menggunakan kata-kata yang merefleksikan tempat kerja kita, dan sangatlah bijak bila parlemen bisa juga menjadi tempat kerja Pita Putih," kata Milne. [*]

Ratusan ribu umat Katolik, Protestan, Muslim, dan Yahudi turun ke jalan menolak 'pernikahan' sejenis di Perancis

Written By Menara Penjaga on Rabu, 21 November 2012 | 09:55


Masyarakat Perancis memperjuangkan fondasi
masyarakat dan hak-hak anak (foto: NOM).  
PERANCIS, Paris (20 November 2012).

Jalanan di Paris dipadati oleh sekitar 200.000 orang yang berdemonstrasi menentang perubahan peraturan tentang pernikahan. Unjuk rasa pada hari Sabtu (17/11) ini terjadi juga di berbagai tempat lainnya di Perancis.

Menurut laporan
Reuters, di kota Lyon hampir 30.000 pendukung pernikahan menurut tradisi melakukan protes. Di pihak lain, kepolisian setempat melaporkan bahwa ada 40 kontra-demonstran yang ditangkap karena berusaha untuk mengganggu unjuk rasa itu.

Polisi di Toulouse melaporkan bahwa gas air mata digunakan untuk memecah sekelompok homoseksualis yang mencoba untuk mengganggu pertemuan dari sekitar lima ribu pendukung pernikahan sebagai antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. 

Le Parisien melaporkan bahwa antara 6.000 dan 8.000 orang berdemonstrasi di Marseille, yang juga disambut oleh para homoseksualis yang membentangkan spanduk yang bertuliskan "Model masyarakat kamu sudah mati, selamat datang di Sodom dan Gomora" dan menghina pada demonstran. 

Demonstrasi pada hari Sabtu itu didukung oleh para pemimpin dari masyarakat Katolik, Muslim, Protestan dan Yahudi. Mereka menuntut administrasi pemerintahan Presiden Franรงois Hollande untuk mempertimbangkan dampak dari merubah "fondasi sebuah masyarakat."

 
Demonstrasi kedua

Sebuah demonstrasi kedua dilakukan oleh organisasi Katolik Civitas di Paris pada hari Minggu (18/11).

Gloria TV melaporkan bahwa sekitar 9.000 pendukung pernikahan menurut tradisi, termasuk banyak pendeta, berbaris dengan spanduk bertuliskan "Perancis membutuhkan anak-anak, bukan homoseksual," dan "Pernikahan = satu orang + satu perempuan."

Salah satu pemimpin Civitas,
Alain Escada, mengatakan "Tujuan kami adalah mengobarkan perlawanan yang sungguh-sungguh untuk melindungi keluarga dan anak," kata Escada, yang kelompoknya mengklaim 1.200 anggota dan jaringan sekitar 100.000 pendukung.

Menurut laporan AFP demonstrasi damai hari Minggu itu dinodai oleh kedatangan anggota kelompok feminis radikal, Femen, dari Ukraina, yang mengenakan kerudung biarawati sambil bernyanyi lagu olokan. Mereka kemudian (maaf) bertelanjang dada, dan kemudian dibawa oleh polisi
.


Janji kampanye Presiden Hollande

'Pernikahan' sesama jenis adalah salah satu janji kampanye Presiden Hollande. Ia mengatakan administrasi pemerintahannya berencana untuk melegalkannya pada pertengahan 2013. Dia juga berjanji akan memberikan hak adopsi untuk pasangan sejenis laki-laki, dan bahwa pasangan sejenis perempuan akan diberi akses untuk inseminasi buatan dan fertilisasi in vitro.

Para Uskup Katolik Perancis menjadi memimpin perlawanan terhadap RUU yang akan mengubah definisi pernikahan menurut tradisi yang mendunia. Baru-baru ini Uskup Agung Paris mengatakan bahwa 'pernikahan' sesama jenis akan membahayakan keseimbangan masyarakat Perancis dan anak-anak. "Itu tidak akan menjadi 'pernikahan untuk semua'," ungkap Kardinal Andre Vingt-Trois, mengutip slogan pemerintah, melainkan pernikahan untuk beberapa orang yang memberi dampak pada semua.

Lindungi anak-anak dan keluarga

"Ketika kita membela hak anak-anak untuk membangun kepribadian mereka dengan mengacu pada pria dan wanita yang memberi mereka kehidupan, kita tidak membela posisi tertentu," kata Uskup Agung Paris, "Kita memahami apa yang terlihat lewat praktek dan kebijaksanaan semua orang sejak awal mula dan yang dikonfirmasi oleh para spesialis modern saat ini."

Paus Benediktus XVI sebelumnya telah meminta uskup Perancis pada kunjungannya di Vatikan untuk menentang undang-undang yang diusulkan itu, dengan mengatakan, "Suara Gereja harus diperdengarkan, tanpa henti dan dengan tekad." (LSN)

Guru yang tidak mengajarkan 'pernikahan' sejenis terancam kehilangan pekerjaannya

Written By Menara Penjaga on Selasa, 20 November 2012 | 12:24

David Burrowes dan keluarga
(foto: davidburrowes.com)

INGGRIS, London (19 November 2012).

Administrasi pemerintahan Inggris saat ini telah menolak memberikan jaminan bahwa guru tidak akan dikenai disiplin jika mereka tidak mendukung pernikahan sesama jenis di kelas.

Menteri Pendidikan Inggris
Truss Liz tidak menawarkan jaminan ketika menanggapi pertanyaan David Burrowes MP yang jelas dan langsung mengenai isu tersebut.

Mrs. Liz mengatakan hal itu tidak mungkin diketahui karena undang-undang tersebut belum secara secara spesifik diumumkan.

Tapi Mr Burrowes mengatakan bahwa hal itu bukan alasan, karena setelah berbulan-bulan Pemerintah seharusnya sudah memikirkan dampak dari pelegalan pernikahan sejenis.

Awalnya ia menyuarakan keprihatinannya kepada menteri Perempuan dan Persamaan,
Maria Miller, tentang dampak dari rencana kelompok Koalisi untuk mengubah undang-undang pernikahan, yang kemudian diikuti sebuah publikasi pendapat hukum dari Aidan O'Neill, QC, seorang ahli hak asasi manusia. Mr. O'Neill diminta untuk memberi nasihat tentang dampak dari mendefinisikan ulang arti perkawinan untuk pasangan sesama jenis terhadap sekolah, gereja, rumah sakit, orangtua angkat dan fasilitas umum.


Dampak legalisasi pernikahan sejenis

Di antara kesimpulannya, Mr O'Neill menyebut bahwa sekolah mempunyai kekuatan hukum untuk memberhentikan staf yang dengan sengaja tidak menggunakan cerita atau buku pelajaran yang mempromosikan pernikahan sesama jenis.

Orangtua yang keberatan dengan pernikahan sesama jenis diajarkan kepada anak-anak mereka tidak akan bisa menarik anak mereka dari pelajaran tersebut, ungkapnya menambahkan bahwa sekolah berbasis agama pun tidak akan membuat perbedaan.

Salah satu skenario yang ia angkat adalah ketika sebuah Sekolah Dasar meminta seorang guru Kristen menggunakan buku berjudul
King & King, sebuah kisah tentang seorang pangeran yang menikahi seorang pria, dan membuat sebuah drama berdasarkan cerita itu.

"Jika guru menolak untuk mematuhi instruksi yang adalah sah dari pihak sekolah maka itu dapat menjadi alasan pemecatan dari pekerjaannya," simpul Mr O'Neill.


Tak dapat lagi bersandar pada Pengadilan HAM

Mr O'Neill mengatakan bahwa guru tidak dapat menggunakan hukum hak asasi manusia untuk menantang keputusan tersebut karena Pengadilan HAM Eropa di Strasbourg sebelumnya telah "kelihatan tidak mau" membuka peluang bagi [para pekerja] meminta perubahan kondisi kerja mereka untuk alasan agama.

Mr Burrows mengungkapkan bahwa tanggapan Pemerintah di atas menunjukkan bahwa pernikahan sejenis akan diajarkan di sekolah-sekolah dan tidak ada jaminan bagi para guru yang menolaknya atas dasar hati nurani bahwa mereka akan tetap dipekerjakan.

"Ada sebuah pertanyaan besar dan serius apakah pernikahan sesama jenis akan merusak kebebasan hati nurani, itulah pertanyaan besar yang akan masih menggantung dari legislasi ini," ungkap Mr Burrowes.

Pekan lalu,
Sir Gerald Howarth, mantan menteri pertahanan, memperingatkan bahwa pendeta militer yang tidak mendukung perkawinan sesama jenis bisa diberhentikan sebagai konsekuensi program Pemerintah Inggris untuk mengubah definisi pernikahan yakni antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. (Telegraph/TCI/MP)


Kristen dan Muslim bergabung menentang agenda homoseksualisme di Liberia

Written By Ray Maleke on Kamis, 15 November 2012 | 06:19

(foto: newspaperafrica.com)
LIBERIA, Monrovia (12 November 2012)


Sebuah “kerumunan besar” (mammoth crowd) mewakili pemeluk agama Kristen dan Islam, serta organisasi kemasyarakatan lainnya pada hari Sabtu (10/11) menandai sebuah upaya inter-faith dalam rangka menentang agenda homoseksualisasi di Liberia, Afrika Barat.1

Perdebatan mengenai praktek hubungan sejenis atau advokasi untuk melegalkan pernikahan sesama jenis dalam dua tahun terakhir telah meningkat di Liberia, melibatkan warga biasa, para pemimpin dari komunitas Kristen dan Muslim, termasuk para pejabat eksekutif dan legislatif.

Presiden Liberia, Ellen Johnson Sirleaf, secara tegas mengatakan dalam sebuah wawancara dengan The Guardian di awal tahun ini bahwa Liberia menolak legalisasi hubungan sesama jenis. “Kami menyukai diri kami apa adanya,” ungkapnya waktu itu. “Kami memiliki nilai-nilai tertentu sesuai dengan tradisi kami yang ingin kami lestarikan.”2

Menyusul tekanan Amerika Serikat dan Inggris terhadap negara-negara Afrika untuk menerima 'hak-hak' pelaku hubungan sejenis, suara vokal pemenang Nobel perdamaian atas perannya membela hak-hak perempuan ini dianggap melemah. Sekalipun, kebijakannya adalah bahwa ia takkan merubah hukum yang ada saat ini yang melarang praktek homoseks tapi juga tidak akan menerima RUU yang akan memperketatnya.3

Republik Liberia adalah negara yang dibentuk pada tahun 1847 oleh orang Afrika yang diperbudak di Amerika yang kemudian membentuk koloni di pantai barat Afrika.


Aktivis homoseksualisme

Aktivis homoseksualisme Liberia, Archie Ponpon, mengungkapkan Sabtu lalu bahwa masyarakat Liberia harus dibiarkan untuk melakukan apa yang mereka mau. “Adalah hak mereka melakukan apa yang sedang mereka lakukan,” ungkapnya pada AP merujuk pada gabungan masyarakat Islam dan Kristen itu. Namun menurutnya mereka salah “melakukan serangan verbal terhadap saya dan mencoba mematikan upaya advokasi saya.”

Dalam pembicaraan lewat telpon Archie mengatakan bahwa ia ingin “meliberalisasi pemikiran masyarakat [Liberia] tentang hak orang lain untuk melakukan apa yang ingin mereka lakukan.”4

Reaksi konfrontal terhadap upaya legalisasi praktek yang tabu dan oleh masyarakat Afrika di sebut "un-Africa" (bukan Afrika) ini telah membuat rumah Archie (yang adalah milik ibunya) menjadi sasaran pembakaran dan penghancuran sekelompok orang setelah ia mengumumkan pembentukan kelompok advokasi hubungan sesama jenis.


Prospek kampanye inter-faith

Pdt Rudolph Marsh, mewakili Dewan Gereja-Gereja Liberia (Liberia Council of Churches), mengecam para pendukung hubungan sesama jenis atas anggapan dipengaruhi oleh kekuatan asing.

"Ada hal-hal yang baik di Amerika yang dapat kita tiru," katanya. “Kita tidak harus meniru yang buruk; mari kita tinggalkan yang buruk itu dengan orang Amerika."

Pendeta Marsh mendesak pemeluk Kristen dan Muslim Liberia untuk tetap bersatu "dan berdiri bersama-sama dan mengatakan kepada dunia bahwa Liberia adalah tempat orang-orang beradab dan tidak akan mengizinkan pernikahan sejenis."

Seorang juru bicara dari umat Islam,
Sheikh Omaru Kamara, memuji para pemeluk Kristen dan Islam untuk "kesatuan tujuan dalam kampanye melawan homoseksualitas."

Pemimpin dari
Citizens' Movement Campaign (gerakan kampanye warga negara), Jim Tornonlah, mengatakan kepada wartawan pada Sabtu lalu bahwa mereka telah mengumpulkan lebih dari 25.000 tanda tangan. 

Tujuannya adalah mencapati satu juta tanda tangan, supaya dapat diajukan kepada pemerintah, dan mereka dapat memfokuskan diri pada masalah “mentega dan roti” (makanan).

Resolusi satu juta tanda tangan sedang dipersiapkan di Liberia saat Gereja Anglikan Nigeria telah siap untuk melepaskan diri dari Komuni Anglikan jika Uskup Agung Canterbury yang baru mendukung pernikahan sesama jenis di gereja.

Namun prospek negara-negara Afrika tidak begitu bagus secara ekonomi. (Bagaimana dengan Asia?) 

Nigeria yang kaya dengan 'black gold' (minyak) sedang berurusan dengan IMF, dan dengan dimasukkannya Boko Haram sebagai organisasi teroris oleh AS, sekalipun tidak pernah ada klaim atas serangan-serangan terhadap umat Kristen (dan Islam) di Nigeria, maka kemungkinan intervensi atau 'kerja sama' dapat menjadi faktor perubahan kebijakan.


Malawi adalah salah satu negara Afrika yang dengan tegas menentang pernikahan sejenis. Dengan batasan yang diterapkan oleh 'rekan pembangunan' dari Eropa dan Amerika, terkesan Presiden Joyce Banda lebih memilih menelan batu daripada melihat rakyat sengsara.  

Aljazeera melaporkan Presiden Malawi mengatakan bahwa hukum yang melarang praktek homoseks dapat dibatalkan sebagai upaya untuk menyenangkan hati donor Barat.5

Entah bagaimana nasib Liberia nanti...***




1  Liberia: Same Sex Marriage Debate - Can't Liberia Be Definitive?, New Democrat (link); Christian and Muslim Liberians Launch Campaign Against Homosexual Marriage, Associated Press (link). AP menggunakan istilah deskriptif “several hundreds” (beberapa ratus) masyarakat Liberia yang tampil dalam aksi tersebut.
2  Nobel peace prize winner defends law criminalising homosexuality in Liberia, The Guardian (link).
3  Nobel peace prize winner defends law criminalising homosexuality in Liberia, The Guardian (link).
4  Christian and Muslim Liberians Launch Campaign Against Homosexual Marriage, Associated Press (link).
5  Tertekan, Presiden Malawi bermaksud mencabut undang-undang yang melarang praktek homoseks, Aljazeera & MP (link).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger