"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Kristen. Tampilkan semua postingan

Hubungan Ospek (orientasi pengenalan kampus) dan pendidikan teologi Kristen

Written By Ray Maleke on Jumat, 09 Agustus 2013 | 10:51

Waktu Ospek dulu para mahasiswa senior bilang pa torang, sekarang ngoni pe hak torang cabut.1

Ada dua peraturan selama Ospek: Pertama, mentor (atau senior) nyanda pernah salah. Kedua, kalu mentor salah, tinjau peraturan pertama.2

Untunglah Ospek saat ini sudah meninggalkan model memperdaya dan telah lebih diarahkan pada memberdayakan mahasiswa baru.

Perkembangan ini dibutuhkan juga dalam dunia teologi dan filsafat Kristen, pasalnya bidang ini masih terus di-Ospek oleh teologi dan filsafat sekuler.

Misalnya, bicara tentang sejarah dorang3 bilang ada dua peraturan. Pertama, hal yang supernatural tidak ada. Kedua, kalau ada, tinjau peraturan pertama.

Pendekatan ini tidak pernah memberdayakan para teolog Kristen, yang pada waktunya akan melanjutkan kepemimpinan dalam gereja, organisasi Kristen lainnya, atau terjun dibidang teknik (engineering), ilmu alam (natural science), ilmu sosial (social science), dsb.

Telah lama pendekatan ini memperdayakan para pemikir Kristen, dan tak dapat dipungkiri masih banyak di antaranya yang mencoba meneliti sejarah iman Kristen dengan pendekatan teologi sekuler (dengan secular philosophy/ideology/worldview).

Itu sebabnya, setiap kali mereka sampai pada satu kesimpulan yang menunjuk pada pekerjaan Allah dalam sejarah dan Kristus Yesus, jawaban yang mereka dengar kebanyakan adalah “Tinjau peraturan pertama.”

Bagi yang mendambakan penerimaan di sebuah komunitas “ahli” (experts), “sarjana” (scholars), menjadi lebih mudah untuk menerima peraturan pertama dan kedua. Dan setelah diperdaya, mereka pun terus diperdaya, dan memperdaya angkatan berikutnya.

Untuk mengubah lingkaran setan ini (vicious cycle), dibutuhkan sebuah angkatan yang berani, yang tidak melihat perlakuan yang mereka terima memberi mereka ‘hak’ untuk memperlakukan orang lain demikian.

Di samping itu, intervensi pihak ‘rektorat’ juga perlu. Dalam analogi ini pihak ‘rektorat’ adalah para pemimpin universitas Kristen, pemimpin gereja-gereja dan organisasi-organisasi Kristen. Bersama mereka perlu dilibatkan jemaat-jemaat yang akan menjadi evaluator hasil sebuah pendidikan teologi. Tak terkecuali kekritisan para ”mahasiswa baru,” yaitu mereka yang terpanggil dan terpilih untuk dibekali lewat sebuah pendidikan teologi.

Semua pihak perlu merumuskan kebijakan supaya kalau pun Ospek itu dipandang perlu, baiklah itu diarahkan untuk memberdayakan para pemikir dan calon pemimpin Kristen, bukan sebaliknya. (+)

Ospek UGM (foto: swaragama).

1 Melayu Manado, “mengatakan pada kami, sekarang hak kalian kami cabut.”
2 Melayu Manado, “Pertama, mentor (atau senior) tidak pernah salah. Kedua, kalau mentor salah tinjau peraturan pertama.”
3 Melayu Manado, “mereka.”
http://bit.ly/13VD3gW

Kabar baik untuk yang senang pelajaran Agama di sekolah

Written By Menara Penjaga on Rabu, 22 Mei 2013 | 02:20

Sosialisasi kurikulum 2013 (foto: Setkab RI)
INDONESIA, Yogyakarta -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, Kurikulum 2013 dikonsep untuk memperkukuh kompetensi siswa dalam tiga hal, yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dari sisi konsep, setiap mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 harus mempunyai kompetensi dari tiga hal itu.

Saat melakukan melakukan sosialisasi Kurikulum 2013 di hadapan pengurus NU, Pengurus Ma'arif, Kepala Sekolah, dan perwakilan siswa/santri NU se-Yogyakarta di Yogyakarta, Rabu (15/5), Mendikbud M. Nuh yang didampingi Menteri Agama (Menag) Surya Dharma Ali mengatakan, tantangan bangsa Indonesia ke depan semakin berat, dan kompleksitas juga bertambah.  Karena itulah, dunia pendidikan juga harus dipersiapkan dalam menghadapi tantangan ke depan.

Menurut Mendikbud, generasi bangsa harus memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi yang berdasarkan intellectual curiousity, atau rasa kepenasaranan intelektual sehingga diharapkan mampu mengatasi persoalan-persoalan yang makin kompleks. 

 “Kurikulum 2013 mengandalkan pentingnya sikap sebagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk mengembangkan kemampuan berpikir,” tegas M. Nuh dalam acara yang digelar seusai apel akbar dalam rangka memperingati hari lahir Nahdatul Ulama (NU) ke-90 itu. 

Menurut Mendikbud, konsep Kurikulum 2013 dibuat setelah melakukan evaluasi ulang ruang lingkup materi, di antaranya meniadakan materi yang tidak esensial atau tidak relevan lagi dengan siswa, serta menambahkan materi yang dianggap penting dalam perbandingan internasional. Sehingga evaluasi ulang dalam kedalaman materi disesuaikan dengan tuntutan perbandingan internasional. Salah satunya adalah dengan mengutamakan proses pembelajaran yang mendukung kreativitas.

Terkait dengan mata pelajaran Agama, Mendikbud M. Nuh menjelaskan, bahwa dalam Kurikulum 2013 Agama akan ditambah menjadi empat jam pelajaran, dari sebelumnya dua jam pelajaran. Di dalam mata pelajaran agama tersebut akan dimasukkan pula pelajaran budi pekerti.

"Pelajaran agama Islam ada budi pekerti, pelajaran agama Kristen ada budi pekerti, pelajaran agama Budha ada budi pekerti, pelajaran agama Hindu ada budi pekerti. Semuanya kita angkat dari nilai-nilai keagamaan kita," jelas Menteri Nuh.

Dalam paparannya, Menteri Nuh menjelaskan hasil penelitian yang diambil dari Dyers, I.H. Et al (2011), Innovators DNA, Harvard Business Review. Dijelaskannya, 2/3 dari kemampuan kreativitas seseorang diperoleh melalui pendidikan, sedangkan 1/3 sisanya berasal dari warisan genetik. Sementara kebalikannya berlaku untuk kemampuan intelejensia, yaitu 1/3 pendidikan, dan 2/3 sisanya dari warisan genetik. 

Atas dasar itu, lanjut M. Nuh, dalam Kurikulum 2013, siswa akan didorong untuk memiliki kemampuan kreativitas yang diperoleh melalui observing (mengamati), questioning (menanya), associating (menalar), experimenting (mencoba) dan networking (membentuk jejaring).

Judul asli: Kurikulum 2013: Pelajaran Agama Ditambah Jadi Empat Jam (Setkab RI).

Hasil poll: Kebanyakan warga Inggris mendukung pengajaran Agama Kristen di sekolah

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 November 2012 | 02:55

Merton College Chapel, Oxford
(foto: pravoslavie)
INGGRIS, London (29 November 2012).

Hampir dua-pertiga orang dewasa yang menjawab survey yang dilakukan oleh Oxford University mengatakan mereka mendukung pengajaran agama Kristen di sekolah-sekolah, dan dua-perlima mengatakan bahwa mengajarkan tentang iman perlu mendapat perhatian lebih dalam pelajaran pendidikan agama.

Oxford University menanyakan kepada 1.800 orang apakah mereka ingin agama mayoritas diajarkan di sekolah-sekolah, dan hasilnya menunjukkan bahwa 64 persen mendukung pelajaran agama Kristen kepada murid-murid untuk membantu mereka memahami sejarah Inggris.

Survei ini adalah bagian dari proyek baru departemen pendidikan Oxford yang bertujuan untuk membantu para guru dalam mengajarkan agama utama di Inggris dalam pelajaran pendidikan agama.

Sejumlah 43 persen dari responden mengatakan lebih banyak perhatian perlu diberikan untuk mengajar Agama Kristen dalam pelajaran agama, 37 persen mengatakan banyak guru pendidikan agama tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang Agama Kristen untuk dapat mengajar secara efektif.

Ditanyakan topik apa dalam Agama Kristen yang perlu diajarkan kepada anak-anak, 58 persen mengatakan sejarah Kristen, 56 persen mengatakan pengetahuan tentang hari-hari besar seperti Paskah dan Natal, dan 51 persen mengatakan cara orang Kristen membedakan yang benar dan yang salah.

38 persen di antaranya mengatakan Alkitab harus diajarkan di sekolah, dan 30 persen mengatakan siswa harus diajarkan Doa Bapa Kami.

Pendidikan agama diwajibkan di sekolah-sekolah negara bagi murid berusia lima sampai 16 tahun.

Departemen pendidikan mengungkapkan bahwa para inspektur telah menyuarakan keprihatinan tentang bagaimana pendidikan agama diajarkan di sekolah-sekolah. "Salah satu masalah yang diidentifikasi dalam literatur penelitian ini adalah bahwa guru kadang-kadang gugup menangani masalah yang berkaitan dengan Agama Kristen karena mereka khawatir bahwa hal itu bisa dianggap sebagai penginjilan."

John Keast, ketua Dewan Pendidikan Agama Inggris dan Wales, juga mengatakan laporan inspeksi menunjukkan bahwa ajaran Kristen terlalu lemah. "Penelitian dan pelatihan merupakan kunci untuk meningkatkan pengajaran semua aspek dari Pendidikan Agama (
Religious Education), tetapi dengan sangat dikuranginya kesempatan untuk guru PA mengakses pelatihan yang berkualitas baik saat ini, inisiatif ini merupakan langkah awal ke depan," demikian ungkapnya seperti dikutip The Telegraph.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa pemerintah Inggris telah menjauhkan masyarakat dari pendidikan Kristen yang mereka cari, dengan cara menjauhkan diri dari akar kekristenan negara itu dan telah terlampau hati-hati supaya tidak dinilai sebagai "imperialis budaya."

Baroness Sayeeda Warsi, perempuan Muslim pertama yang diangkat sebagai menteri di kabinet Inggris mengatakan baru-baru ini bahwa Inggris harus menjadi negara di mana orang tidak malu untuk mengatakan mereka adalah orang Kristen.

"Kita perlu menciptakan sebuah negara di mana orang bisa bangga iman mereka tanpa merasa malu – [negara] di mana mereka tidak merasa bahwa mereka harus meninggalkan agama di depan pintu," ungkap Lady Warsi, yang juga adalah salah satu ketua Partai Konservatif, dalam sebuah artikel di Daily Telegraph. "Itu berarti bangga dengan kekristenan, dan tidak merendahkannya." (The Christian Post)

Guru yang tidak mengajarkan 'pernikahan' sejenis terancam kehilangan pekerjaannya

Written By Menara Penjaga on Selasa, 20 November 2012 | 12:24

David Burrowes dan keluarga
(foto: davidburrowes.com)

INGGRIS, London (19 November 2012).

Administrasi pemerintahan Inggris saat ini telah menolak memberikan jaminan bahwa guru tidak akan dikenai disiplin jika mereka tidak mendukung pernikahan sesama jenis di kelas.

Menteri Pendidikan Inggris
Truss Liz tidak menawarkan jaminan ketika menanggapi pertanyaan David Burrowes MP yang jelas dan langsung mengenai isu tersebut.

Mrs. Liz mengatakan hal itu tidak mungkin diketahui karena undang-undang tersebut belum secara secara spesifik diumumkan.

Tapi Mr Burrowes mengatakan bahwa hal itu bukan alasan, karena setelah berbulan-bulan Pemerintah seharusnya sudah memikirkan dampak dari pelegalan pernikahan sejenis.

Awalnya ia menyuarakan keprihatinannya kepada menteri Perempuan dan Persamaan,
Maria Miller, tentang dampak dari rencana kelompok Koalisi untuk mengubah undang-undang pernikahan, yang kemudian diikuti sebuah publikasi pendapat hukum dari Aidan O'Neill, QC, seorang ahli hak asasi manusia. Mr. O'Neill diminta untuk memberi nasihat tentang dampak dari mendefinisikan ulang arti perkawinan untuk pasangan sesama jenis terhadap sekolah, gereja, rumah sakit, orangtua angkat dan fasilitas umum.


Dampak legalisasi pernikahan sejenis

Di antara kesimpulannya, Mr O'Neill menyebut bahwa sekolah mempunyai kekuatan hukum untuk memberhentikan staf yang dengan sengaja tidak menggunakan cerita atau buku pelajaran yang mempromosikan pernikahan sesama jenis.

Orangtua yang keberatan dengan pernikahan sesama jenis diajarkan kepada anak-anak mereka tidak akan bisa menarik anak mereka dari pelajaran tersebut, ungkapnya menambahkan bahwa sekolah berbasis agama pun tidak akan membuat perbedaan.

Salah satu skenario yang ia angkat adalah ketika sebuah Sekolah Dasar meminta seorang guru Kristen menggunakan buku berjudul
King & King, sebuah kisah tentang seorang pangeran yang menikahi seorang pria, dan membuat sebuah drama berdasarkan cerita itu.

"Jika guru menolak untuk mematuhi instruksi yang adalah sah dari pihak sekolah maka itu dapat menjadi alasan pemecatan dari pekerjaannya," simpul Mr O'Neill.


Tak dapat lagi bersandar pada Pengadilan HAM

Mr O'Neill mengatakan bahwa guru tidak dapat menggunakan hukum hak asasi manusia untuk menantang keputusan tersebut karena Pengadilan HAM Eropa di Strasbourg sebelumnya telah "kelihatan tidak mau" membuka peluang bagi [para pekerja] meminta perubahan kondisi kerja mereka untuk alasan agama.

Mr Burrows mengungkapkan bahwa tanggapan Pemerintah di atas menunjukkan bahwa pernikahan sejenis akan diajarkan di sekolah-sekolah dan tidak ada jaminan bagi para guru yang menolaknya atas dasar hati nurani bahwa mereka akan tetap dipekerjakan.

"Ada sebuah pertanyaan besar dan serius apakah pernikahan sesama jenis akan merusak kebebasan hati nurani, itulah pertanyaan besar yang akan masih menggantung dari legislasi ini," ungkap Mr Burrowes.

Pekan lalu,
Sir Gerald Howarth, mantan menteri pertahanan, memperingatkan bahwa pendeta militer yang tidak mendukung perkawinan sesama jenis bisa diberhentikan sebagai konsekuensi program Pemerintah Inggris untuk mengubah definisi pernikahan yakni antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. (Telegraph/TCI/MP)


Apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama?

Written By Ray Maleke on Sabtu, 10 November 2012 | 01:04

Presiden AS Barack Obama (foto: csmonitor)
AMERIKA SERIKAT, West Virginia (10 November 2012).

Setelah penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) dari Kerajaan Inggris (4 Juli 1776) oleh para pendatang di Dunia Baru di tiga belas koloni Amerika, Samuel Adams menyatakan: "Hari ini, saya percaya, pemerintahan politik Protestan akan dimulai."1 Hampir semua dari 56 penanda-tangan Deklarasi itu berafiliasi dengan gerakan Protestan.

Dalam artikelnya “The Middle Colonies as the Birthplace of American Religious Pluralism” (Wilayah Koloni Tengah sebagai Tempat Lahir Pluralitas Agama Amerika), Patricia Bonomi, profesor emeritus di New York University menulis: "Koloni [Amerika] terdiri sekitar 98 persen Protestan."2

Menyikapi kesan di atmosfir negara berpenduduk ketiga terbesar di dunia ini yang semakin menjauh dari etika moral kekristenan, [dengan tidak mengenyampingkan pertanyaan keadilan bagi para penduduk asli Amerika Utara], Julio Severo menulis “Pemerintahan politik Protestan di Amerika mulai menurun ketika liberalisme menyerang gereja-gereja...dan ketika pendidikan yang berpusat pada negara menggantikan pendidikan yang berpusat pada keluarga.” Menurutnya dalam kedua hal ini gereja dan keluarga melakukan penolakan, namun “kecil.”3

“Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, AS tidak memiliki mayoritas Protestan, seperti laporan AP baru-baru ini. Sementara liberalisme meningkat di gereja-gereja Protestan, AS melihat penurunan jumlah anggota [gereja-gereja Protestan], dan banyak dari pemimpin mereka tidak lagi sejalan dengan Injil itu sendiri,” lanjutnya. 
Severo menilai bahwa gerakan Protestan di AS telah menjauh dari para penggagasnya yang menentang “kejahatan demi Injil itu sendiri.” 

Gerakan Protestan dihubungkan dengan Martin Luther ketika ia menempelkan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg, Jerman, pada tanggal 31 Oktober 1517.

Sekitar 500 tahun yang lalu Luther juga menulis: "Saya sangat takut kalau sekolah-sekolah akan terbukti menjadi gerbang besar menuju neraka, kecuali sekolah-sekolah itu [para pekerjanya] rajin bekerja dalam menjelaskan Kitab Suci, dan mengukirkannya dalam hati kaum muda."4


Sekolah tanpa agama

Di puncak gerakan Aufklarung (Pencerahan) yang mengadvokasi pemisahan negara dan agama, namun pada tataran ideologinya adalah sekularisasi masyarakat, sekolah-sekolah hendak dibersihkan dari pengaruh agama (sic. kekristenan).

Para penganut gerakan ini menggunakan berbagai posisinya untuk maksud ini, baik di Eropa maupun di berbagai koloninya. Ambil contoh di Minahasa. Pada tahun 1845, Residen A. J. Van Olphen menginstruksikan bahwa Agama Kristen sudah tidak bisa diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah dan sekolah misi. Atas perjuangan Nederlandsch Zendeling-gnootschap (Badan Misi Belanda) peraturan ini tidak diberlakukan di sekolah misi.5 Agenda Aufklarung di Indonesia tercegal dengan lahirnya Pancasila, yang sekarang menjadi sebuah target ideology.

Di AS, dengan preteks pemisahan antara negara dan agama, maka sekolah-sekolah negara atau yang ditunjang oleh negara tidak boleh mengajarkan agama pada murid-muridnya.6 Kelompok-kelompok ateis sangat militan dalam menjaga kebijakan ini. Menyanyikan sebuah lagu yang menyebut “Allah” atau “Tuhan” saja tidak luput dari gugatan hukum mereka.7 Hal ini praktis merupakan supresi agama di dalam pikiran anak-anak dan masyarakat.

Tidak banyak yang menyadari apa yang ditunjukkan oleh Francis Fukuyama bahwa gerakan Protestan telah ditunggangi oleh gerakan Aufklarung sebagai agen sekularisasi,8 atau lebih tepat sekularisasi kebablasan. Karena jika awalnya adalah untuk tujuan demokratisasi dan toleransi beragama, pada akhirnya secara ekstrim telah meminggirkan agama-agama dari realitas publik masyarakat Eropa dan Amerika Utara, dan pada saat yang sama, mendorong Darwinisme/Naturalisme sebagai spritualitas yang 'valid'.


Pendidikan Katolik

Pada tahun 1840, di New York, ketika identitas Protestan masih sangat kuat di antara para settlers, dengan ekses yang menyebabkan diskriminasi terhadap murid-murid berlatar-belakang Katolik, Bishop John Hughes melayangkan protes.

“Kami menolak membayar pajak yang [maksud penggunaannya] adalah menghancurkan agama kami dalam pikiran anak-anak kami.” Ia menuntut supaya New York Public School Society juga menopang sekolah-sekolah Katolik.9

Ketika pada tahun 1850 ia terpilih sebagai Uskup Agung New York, ia menggunakan wewenangnya untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan Katolik swasta. Sekarang ini, ketika pendidikan Katolik masih merupakan pendidikan alternatif di AS, pendidikan Protestan telah hampir menyeluruh menghilang, dan yang masih berfungsi, sedikit yang dapat dikatakan beroperasi di luar ideologi sekuler.

Keberatan yang disampaikan oleh Severo adalah bahwa sekolah modern saat ini tidak berusaha untuk menjelaskan atau “mengukirkan” Alkitab di hati para generasi muda. “Sebaliknya, sekolah mengukirkan homoseksualitas dan penyimpangan lainnya” dalam hati mereka. Karena itu baginya, mengutip Luther, “Sekolah secara efektif telah menjadi gerbang besar neraka.”


Home Schooling

Situasi ini membuat banyak orangtua mulai memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di rumah. Ini pun bukan tanpa problema. Di AS sekarang ini home schooling masih merupakan alternatif pendidikan anak-anak, tapi pertanyaannya adalah sampai berapa lama kebijakan ini akan bertahan?

Di Kanada, homoseksualisme telah mulai diajarkan pada anak-anak di tingkat taman kanak-kanak.10 Di Provinsi Alberta, bahkan para orang tua yang memilih home schooling sebelumnya telah menerima tekanan untuk melakukan hal yang sama di sekolah rumah mereka, sekalipun Pemerintah kemudian mundur dengan mengalirnya komplain dari orang tua.11 Dalam situasi ini semuanya berargumen dengan mengutip “hak asasi manusia.”

Menyeberang ke Eropa, yang dilaporkan sangat senang dengan terpilih kembalinya Mr. Obama, Norbert Blum, seorang figur dalam Persatuan Kristen Partai Demokrat, mengatakan, “Saat ini saya mengamati perampasan total anak-anak oleh negara.” Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi dan pulang sore.

"Saya menentang monopoli pendidikan negara dan melihat home schooling oleh orang tua yang bertanggung jawab sebagai tanggapan yang sehat terhadap sistem sekolah yang bersifat mutlak," demikian dikutip Home School Legal Defence Association.12

Pada zaman Nazi, home school dinyatakan ilegal di Jerman. Baru-baru ini pihak berwenang di Jerman telah menindak sebuah keluarga yang menerapkan home school, memberi sangsi denda yang mencekik leher, merampas anak-anak dari rumah mereka, dan memenjarakan orang tua yang terus mengajar anak-anak mereka di rumah.

Awal bulan ini, sebuah pengadilan distrik di Darmstadt memisahkan sebuah keluarga, dan menyerahkan anak-anak mereka ke lembaga anak, karena orang tua mereka menyekolahkan mereka di rumah.13

Kita kadang berpikir bahwa negara-negara yang mengagung-agungkan demokrasi ini adalah kebalikan dari retorik “fundamentalisme” yang sering diarahkan pada negara-negara Islam. Tapi kalau kita melihat lebih dekat lagi, apakah kita masih dapat berpikir demikian?

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama? Saya berharap tulisan ini dapat menjadi pengantar dalam sebuah diskusi yang membukakan pikiran in our connected world today.***



-------
1  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
2  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
3  Julio Severo, A New Reformation to Counter-Attack the Great Gates of Hell?: Martin Luther warns modern-day parents, Last Day Watchman (link); Tulisan ini dielaborasi dari artikel Severo. 
4  S. Michael Craven, Christian and Public Education, Christianity.com (link); The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
5  F. S. Watuseke, Sejarah Minahasa (Manado: Pertjetakan Negara, 1968), 41.
6  Lihat tulisan S. Michael Craven, Christian and Public Education (link), yang memberi sinopsis tentang problematika sekolah negara di AS.
7  Atheistic FFRF Pledges Legal Battle as NY Public School Refuses to Remove ‘God’ & ‘Lord’ Songs, The Blaze (link).
8  Lih. Adian Husaini, Wajah peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal (Jakarta: Gema Insani, 2005), 82.
9  http://www.pbs.org/kcet/publicschool/photo_gallery/photo2.html
10  Toronto school board: Parents can’t opt kids out of pro-homosexual curriculum, LifeSiteNews (link).
11  Alberta backtracks: Parents can teach beliefs on homosexuality, but homeschoolers still concerned, LifeSiteNews (link).
12  German politician blasts 'state education monopoly,' speaks out for homeschooling, LifeSiteNews.com (link).
13  German parents lose custody of their children for homeschooling, LifeSiteNews (link).
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger