"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Senegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Senegal. Tampilkan semua postingan

Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika

Written By Menara Penjaga on Senin, 15 Juli 2013 | 12:04

Jumpa pers presiden Senegal dan Amerika Serikat (foto: BCNN5).
AFRIKA (MP)  –  Dalam kunjungannya ke Benua Afrika, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyinggung isu homoseksualitas di tengah sebuah jumpa pers dengan Presiden Senegal Macky Sall, 27 Juni lalu.

"Kami tidak siap dengan dekriminalisasi homoseksualitas," terang Mr. Sall dan menunjukkan bahwa ia dan masyarakat Senegal memiliki sudut pandang yang berbeda. Pernyataannya mendapat dukungan besar dari masyarakat dan media-media massa utama di negara itu.

Bahkan, banyak warga Senegal yang beranggapan bahwa presiden mereka seharusnya lebih tegas. "[Presiden] seharusnya mengatakan, 'Itu tidak pernah bisa eksis di Senegal, itu tidak bisa terjadi di sini'," ujar Tidiane Gueye, warga ibukota Senegal, Dakar, kepada New York Times.

"Senegal adalah 95 persen Muslim," tambah Gueye. "Sebagai negara muslim, kami tidak akan mengizinkan hukum yang memungkinkan pelaku hubungan sejenis untuk menikah."

Seorang pensiunan perwira militer Bouramon Ndour memuji pendirian Mr. Sall dalam menyikapi Mr. Obama. Berbicara tentang homoseksualitas, warga Senegal ini mengatakan bahwa "tidak orang di sini yang dapat menerima hal itu...kami menentangnya dengan keras. Lihat, ini adalah negara Muslim. Langkahi mayat kami dulu!"

Tanggapan yang sama datang dari para pemimpin Kenya. Wakil Presiden William Ruto berbicara di sebuah gereja Katolik pada Minggu 30 Juni, mengatakan bahwa bagi mereka yang menerima homoseksualitas, seperti Mr. Obama, itu adalah "urusan mereka. Kami percaya pada Tuhan." Ia menambahkan bahwa "bangsa Kenya adalah bangsa yang takut akan Allah."

“Lupakan, lupakan, lupakan,” ucap Uskup Agung Nairobi, Kardinal John Njue, kepada Mr. Obama menyangkut legalisasi praktek hubungan sejenis di Afrika.

"Saya pikir kita perlu bertindak sesuai dengan tradisi sendiri dan iman kita," katanya. Berbicara tentang Amerika, Kardinal Njue mengatakan bahwa "orang-orang tersebut yang telah merusak masyarakat mereka ... janganlah mereka menjadi guru kami untuk memberitahu kami ke mana harus pergi."

Sheikh Saliou Mbacke, seorang pemimpin Muslim di Senegal, mengatakan bahwa pemimpin agama di seluruh Afrika memiliki kewajiban untuk berbicara menentang praktek hubungan sejenis, terutama jika ada tekanan untuk membuat rakyat Afrika mengubah pandangan mereka.

"Masalah praktek hubungan sejenis tidak boleh digunakan sebagai alat untuk memeras dan memaksa masyarakat untuk menentang perintah Allah, yang lebih penting daripada kekuatan dunia," katanya. "Kami akan menentang cara paksaan apapun yang mengancam kami untuk menerimanya dalam masyarakat kami."

Di Tanzania, Uskup Anglikan Michael Hafidh mengatakan bahwa sebagian besar para pemimpin Afrika lebih suka Mr. Obama menyimpan pendapatnya tentang praktek hubungan sejenis untuk dirinya sendiri dan fokus pada isu-isu ekonomi yang dihadapi benua Afrika.

Masalah hubungan sejenis "bukan merupakan masalah penting bagi kami sekarang," katanya. "Kami tidak mengakui atau bahkan memikirkan hal itu, apalagi melegalisasinya. Saya pikir karena kita memiliki banyak sumber daya, diskusi kami dengan segenap bangsa lain harus lebih menyangkut investasi dan perdagangan."


Sebanyak 38 negara di seluruh Afrika, di mana agama-agama mayoritas adalah Islam dan Kristen, memiliki hukum yang melarang perilaku homoseksual. (BCNN5)


Terkait: 




Memahami agenda Mr. Obama dan kepincangan sekularisme

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 06 Juli 2013 | 01:07




KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.

Bagi yang kurang teliti, ia bisa nampak sebagai seorang yang hendak membela martabat kaum yang lemah, yang perlu perlindungan, dan yang terpinggirkan. Dan memang demikian ia ingin dilihat.

Namun, jika dipikirkan dengan kritis, ia sebenarnya sedang memaksakan sebuah ideologi yang bertentangan dengan akar budaya dan agama Afrika, yaitu sekularisme (hurufiahnya “paham penduniawian”).

Dengan memaksakan sudut pandang yang dianutnya (dan sebagian masyarakat AS) kepada warga masyarakat di negara-negara yang menyambutnya sebagai seorang tamu kehormatan, ia telah melakukan pelecehan secara terang-terangan.

Mr. Obama dengan wibawanya hendak menunjukkan kepada negara-negara yang menerimanya sebagai tamu (dan tentu saja dunia) bahwa ia seorang yang peduli dengan para pelaku dan praktek hubungan sejenis dan bahwa sikap negara-negara Afrika terhadap pelaku dan praktek hubungan sejenis adalah salah.

Walaupun orang sering dibingungkan antara kedua hal ini: praktek hubungan sejenis dan orang yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, namun keduanya berlainan dan harus dibedakan.

Orang yang tidak bisa membedakan kedua hal ini akan dengan mudah menerima doktrin agama Presiden AS. (Disebut “agama” karena ideologi sekularisme bertujuan menjadi dasar pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dari sebuah masyarakat.)

Baik masyarakat Senegal yang mayoritas Muslim maupun Kenya yang mayoritas Kristen, praktek hubungan sejenis adalah ilegal. (Mr. Obama tidak mengunjungi Kenya, tetapi tanggapan mengenai aktivitasnya di Senegal, Afrika Selatan, dan Tanzania turut datang dari negara kelahiran ayahnya ini.)

Apa artinya bahwa praktek hubungan sejenis di negara-negara ini (kecuali Afrika Selatan) adalah ilegal?

Itu berarti bahwa hukum di kedua negara Afrika ini mengambil posisi sesuai sudut pandang norma masyarakat yang melekat dalam tradisi kebudayaan, agama, dan kompleksitas ilmu pengetahuannya, dan menolak praktek ini sebagai hal yang tidak sah, yang tidak normal atau moral, dan tidak bisa dipromosikan sebagai sesuatu hal yang baik bagi masyarakat.

Dengan demikian negara sebagai wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk mengatur dan memerintah mengambil sikap yang sama dan menjalankan peraturan yang tidak hanya menjamin hak dan kewajiban semua anggota masyarakat, tanpa membeda-bedakan kemanusiaannya, tapi juga menjaga kelanggengan aspirasi budaya dan agama yang berkeadilan dan etis.

Ketika Presiden AS mengatakan bahwa ia menghormati sudut pandang pribadi (ciri-ciri gerakan sekularisme adalah menciptakan dikotomi antara individu dan masyarakat), dan iman pribadi masing-masing (menciptakan dikotomi antara agama dan non-agama/sekuler), ia sedang menggoda masyarakat untuk berpikir bahwa sudut pandang agama dan pribadi masyarakat Afrika tersebut tidak pantas diterapkan dalam kebijakan sebuah negara.

Baginya yang tepat adalah pandangan pribadinya dan sebagian masyarakat AS bahwa praktek ini harus mendapat keluasan dalam masyarakat sehingga dapat dilakukan oleh mereka yang mau melakukannya sebebas-bebasnya, bahkan mendapat tunjangan dari pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah dan dipromosikan lewat kegiatan-kegiatan seperti pawai homoseks di New York atau San Francisco.

Gagal mengikuti resepnya ini, mengikuti logika kata-katanya, berarti sebuah pemerintahan melakukan diskriminasi.

Kata “diskriminasi” telah menjadi senjata ampuh terhadap mereka yang gagal memahami kompleksitas masalah ini, dan juga tampak menjadikan Mr. Obama sebagai seorang pembela hak asasi manusia (HAM).

Namun jika dilihat keadaan di negerinya sendiri, mereka yang menolak mengafirmasi gaya hidup homoseksual harus mengalami diskriminasi oleh karena peraturan yang dibuat dari sudut pandang yang tidak mengakomodasi HAM untuk kebebasan beragama.

Inilah kebohongan dalam agenda presiden Obama, bahwa dalam berbicara tentang melawan diskriminasi, sekularisme yang hendak dipaksakannya jelas-jelas melakukan diskriminasi. Mereka yang tidak mau menerima praktek yang ditolak agama dan budaya dunia pada umumnya ini akan mengalami diskriminasi.
Jadi nampaklah di depan mata kita dua sistem yang berbeda: Yang satu berdasarkan pemahaman manusia akan kodrat dan agama, yang lain menolak dan menempatkan kebebasan manusia di atas segala-galanya.
Yang pertama akan mengiring pada keteraturan dan kebebasan yang sebenarnya, sedang yang lain akan menuntun pada kekacauan (chaos) dan perhambaan.

Mr. Obama harus lebih berani mengakui agenda sekularismenya. Paling tidak jujurlah bahwa pencitraannya sebagai pembela HAM hanyalah topeng belaka.

Kalau tidak ia hanya menambah bukti bahwa sekularisme adalah agenda yang tidak jujur. Melihat contoh di AS, pelajaran agama tidak diperkenankan diajarkan di sekolah negara. Itu karena dikatakan sekolah negara adalah tempat non-agama/sekuler; harus bebas dari pelajaran agama. Berdoa pun dilarang.

Namun di sekolah-sekolah ini para pelajar dicecok dengan materialis Darwinisme yang berpangkal pada ajaran anti-theis (anti-agama) bahkan dalam perkembangannya sekarang praktek hubungan sejenis diajarkan sedini TK (taman kanak-kanak).

Jadi jelaslah, agenda Mr. Obama bukan untuk membela kaum yang lemah, bukan pula sekedar untuk membantu masyarakat Afrika yang terus menderita akibat efek jangka panjang kolonialisme. Ia menawarkan sekularisme, dan para pemimpin Afrika yang pintar telah dengan terang-terangan mengungkapkannya: Kami menghargai bantuan Anda, tapi [kami] takut akan Allah.

1373045939186927054

Keprihatinan dan kegilaan yang sedang terjadi di dunia: Dari Mesir, Suriah sampai Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 05 Juli 2013 | 14:37

MP -- Masyarakat internasional sedang merasa prihatin. Berikut sorotan MP seputar situasi di Suriah, Mesir, Sub-Sahara Afrika, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Indonesia.

Suriah
Krisis berkepanjangan di Suriah telah memakan korban lebih dari 100.000 orang (6000 adalah anak-anak), dan masih tak nampak ujung penyelesaiannya.

Dimulai dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan, aspirasi rakyat untuk hidup yang lebih baik berubah menjadi kematian dan tragedi yang menelan korban jiwa, materi, dan masa depan Suriah.


Sementara Rusia menyalurkan senjata atas klaim “perjanjian legal dengan pemerintah yang legal,” beberapa negara Barat dengan terang-terangan mendukung pemberontak, atau yang disebut “oposisi.”

Kardinal John O. Onaiyekan dari Nigeria dengan prihatin berkata, “Ini dunia gila.”

Suriah dijadikan lapangan sepak bola politik global. Di kota dan di desa, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, komunitas Muslim dan (terutama) komunitas Kristen, menjadi rumput-rumput malang yang terinjak-injak; yang hancur dan mati.

Tapi memang, sekalipun banyak pemain asing yang datang, para pemain utamanya adalah warga Suriah sendiri. Mereka yang berkomitmen untuk menjaga tanah airnya dalam wadah militer dan mereka yang ingin membangun Suriah (namun tidak setuju dengan kepemimpinan presiden Bashar al-Assad). Itu sebabnya konflik ini dinamakan “perang sipil” (perang antara mereka sendiri).

Mesir
Kegilaan juga telah muncul di Mesir.

Setelah demonstrasi yang mengiring mundurnya Hosni Mubarak, rakyat Mesir seperti melihat fajar baru di alam demokrasi. Terpilih secara konstitusional Muhammad Mursi sebagai presiden.

Presiden terpilih Mesir, Muhammad Morsi.
Dikudeta.
Namun didukung oleh Muslim Brotherhood membuatnya kurang populer (di dunia Barat), dan nampaknya juga melakukan langkah-langkah yang kurang populer. Ia dianggap sebagai seorang “Islamis,” dan itu sepertinya dianggap tidak baik.

Sebelum militer Mesir melakukan coup d'etat (kudeta) terhadap pemimpinnya (apakah ini tidak gila?), berbagai media, terutama yang berkiblat ke Barat, telah memperguncingkan Mesir di antaranya dari 'sudut' masyarakat Kristen Koptik, seakan-akan Muslim dan Kristen sama sekali tidak bisa akur di awal sebuah "revolusi." 

Yang paling menyedihkan di sini adalah kegagalan militer untuk menjaga konstitusi dan keamanan masyarakat Mesir, sekalipun dalam pidatonya Jendral Sisi mengatakan bahwa apa yang dilakukan militer adalah membawa aspirasi rakyat.

Apakah Jendral Sisi bingung membedakan aspirasi dan fungsi? Hal ini mengundang resiko kritik pelajar kritis ketika sejarah diajarkan di sekolah-sekolah nanti, sekalipun pemuka al-Azar dan Gereja Kristen Koptik berdiri mendukung. 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon adalah orang yang kritis, karena itu ia prihatin.

“Rakyat Mesir telah menyuarakan rasa frustrasi yang dalam serta keprihatinan yang sah lewat aksi protes mereka. Namun pada saat yang sama, intervensi militer dalam urusan kenegaraan adalah sebuah keprihatinan,” ungkap Eduardo del Buey, juru bicara PBB.

Sejauh ini yang perlu ditangisi adalah sekitar 91 perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual sampai pemerkosaan (mengingatkan Tragedi Mei 1998) di Tahrir Square. Belum dihitung jumlah korban tewas yang akan menambah jumlah 846 yang meninggal pada "revolusi" yang pertama.

"Revolusi" yang berikut-berikutnya mungkin masih akan datang jika kebijakan Mesir (dan Suriah, Libia, dst.) masih belum sepenuhnya memperhitungkan (atau mengakomodasi) kepentingan luar.

Tapi bagaimana pun, berbicara tentang Mesir, ini adalah kisah rakyat Mesir, dan biar mereka yang menilai kisah mereka sendiri. Termasuk tentang bagaimana militernya menahan para jurnalis dan menutup kantor berita seperti Al Jazeerah di tengah-tengah sebuah pergolakan. 

Sub-Sahara
Skip Libia, kita ke Afrika. Presiden Amerika Serikat membuat kejutan di tengah-tengah kunjungannya di benua yang mempunyai ikatan emosional dengan seorang Barack Obama. Ayah kandungnya berkewarga-negaraan Kenya.

Seperti biasa AS menunjukkan niatnya untuk membantu negara-negara Afrika yang masih berkembang setelah sejarah kolonialisme. Namun, kali ini sang presiden membawa juga agenda yang sementara menjadi polemik dan perpecahan di negaranya.

Di Senegal yang mayoritas memeluk agama Islam Mr. Obama menyudutkan Presiden Senegal, Macky Sall, dengan mengemukakan agenda homoseksualnya di depan sebuah konferensi pers. Presiden Sall menjawab bahwa masyarakatnya “toleran,” dan meminjam istilah non-akademik di Barat, “tidak homofobik.” “Kami memiliki tradisi yang berbeda,” ungkapnya.

Tanggapan datang dari Kenya, yang sekalipun punya sejarah dekat dengan sang presiden, lagi tak masuk dalam daftar kunjungannya. Menanggapi agenda Mr. Obama, Wakil Presiden Kenya, William Ruto, di sebuah ibadah Minggu di antaranya menyebut “Kenya adalah negara merdeka dan takut akan Tuhan.”(Lihat video di sini.)

Uni Eropa
Sementara itu, hubungan AS dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini agak merenggang. Ini juga merupakan bagian dari kegilaan yang sedang terjadi, bahwa pemerintah AS (dicurigai) memata-matai negara-negara Eropa (entah negara-negara lain juga), termasuk warganya. Kasus ini telah membuat Prof. Mark LeVine menilai bahwa demokrasi di AS telah dikhianati dan bertanya jika demokrasi ini akan bisa bertahan. 

Banyak orang yang telah mendengar nama Edward Snowden. Ia dapat dikatakan adalah salah satu orang yang paling berani di dunia, jika ia betul-betul sadar dengan apa yang dilakukannya.

Snowden adalah seorang kontraktor IT yang sempat bekerja untuk badan keamanan dan intelejen AS. Prihatin dengan tingkat 'pengawasan' pemerintah terhadap rakyatnya dan negara-negara lain ia memutuskan untuk membuka rahasia pengawasan itu.

Untuk keberanian itu, ia sekarang menjadi buruan negara “super-power.” Negara yang akan menerimanya sebagai seorang pelarian harus dinobatkan sebagai negara yang menghargai hak asasi manusia. (Mungkin Ekuador.)

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia...?
Maksudnya, menyangkut perkembangan terbaru menjelang Pemilu 2014, serta keamanan dan ketentraman hidup di negara ini.

Isu-isu sensitif terus didengung-dengungkan saat ini. Orang tak perlu bertanya, karena sudah biasa mendengar. Masalah agama, suku, BBM, dsb. Kita perlu menyikapi secara kritis isu-isu seperti ini, jangan sampai masyarakat ditunggangi untuk diadu domba satu dengan yang lain. Korban yang paling menderita selalu adalah anak-anak.

Adalah lumrah jika sama seperti Kardinal Onaiyekan kita semua berharap supaya apa yang terjadi di Suriah (dan negara-negara lainnya), terhindar dari tanah air Indonesia. Ini bukan supaya kita menghindar dari bersikap kritis, namun justru dengan bersikap kritis, membela kepentingan rakyat, menjaga keamanan dan memajukan kehidupan bermasyarakat.


Dan marilah jangan pernah kita lupa bahwa meski pun beda agama maupun suku, di Negara Kepulauan ini kita semua bersaudara.***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger