"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mesir. Tampilkan semua postingan

Surat Nabi Muhammad untuk biara Kristen di kaki gunung Sinai

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 Agustus 2013 | 10:36

Biara St. Katarina di bawah kaki gunung Sinai, Mesir (foto: orthodoxwiki).

Di kaki Gunung Sinai, di lokasi yang merupakan tempat suci agama Yahudi, Kristen dan Islam, berdiri salah satu biara tertua yang masih berfungsi saat ini, yaitu Biara Santa Katarina.

Pendirian biara ini dimulai pada tahun 337 Masehi, ketika Ratu Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus, memprakarsai pembangunan sebuah gereja di lokasi yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa melihat api dari semak duri yang tak terbakar. 

Pengembangannya dilakukan oleh Kaisar Justinus antara tahun 527-565 Masehi dengan membangun Basilika Transfigurasi, sehingga namanya menjadi Biara Transfigurasi. Namun, sejak abad ke-9 Masehi menjadi terkenal sebagai Biara St. Katarina dari Alexandria oleh sebab kehadiran relik sang martir di situs itu. 

Biara ini tidak hanya menyimpan ribuan manuskrip abad silam dan karya seni Kristen yang mengagumkan, tetapi juga sebuah surat dari nabi junjungan dan pemimpin umat Islam. 

Surat yang ditulis tahun 623* Masehi ini berisi tentang perintah Nabi Muhammad untuk menghormati dan melindungi hak asasi dan kebebasan beragama umat Kristen.

Kutipan Bahasa Inggris dan terjemahan dari surat itu:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai sebuah perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, baik yang dekat maupun yang jauh, kami bersama dengan mereka.

Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
Bahwasanya aku, para pelayan, penolong, dan pengikutku membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah rakyatku; dan demi Allah! Aku menentang apapun yang tidak menyenangkan mereka.

No compulsion is to be on them.
Tidak boleh ada pemaksaan terhadap mereka.

Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
Para hakim mereka tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan mereka, dan para biarawan tidak boleh dikeluarkan dari biara mereka.

No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan tempat ibadah mereka, atau merusaknya, atau memindahkan apapun dari situ ke rumah kaum Muslim.

Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet.
Jika ada yang melakukan hal-hal ini, ia melanggar perjanjian Allah dan tidak mematuhi Rasul-Nya.

Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
Bahwasanya, mereka adalah sekutuku dan dengan mereka aku menetapkan perjanjian yang kuat melawan semua yang mereka benci.

No one is to force them to travel or to oblige them to fight.


Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka untuk berperang.

The Muslims are to fight for them.
Muslimlah yang akan berperang bagi mereka.

If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Jika seorang perempuan Kristen dinikahkan kepada seorang Muslim, hal itu tidak boleh terjadi tanpa persetujuannya. Ia tidak boleh dilarang pergi ke gerejanya untuk berdoa.

Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dicegah dari memperbaiki gereja-gereja itu, ataupun dari kesucian perjanjian-perjanjian mereka.

No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).”
Tidak boleh ada umat Muslim yang tidak mematuhi perjanjian ini sampai Hari Terakhir (kiamat).”



Menurut tradisi, sebuah delegasi dari Sinai memohon perlindungan dari Nabi Muhammad. Hal ini dikabulkan dan sebuah surat ditulis serta disahkan dengan menaruh tangannya di atas dokumen itu. 

Pada tahun 1517, Sultan Selim I, dengan mengakui isi dokumen itu, membawanya untuk disimpan dalam perbendaharaan istana di Konstantinopel. Ia pun memberikan salinan untuk disimpan di biara St. Katarina, yang turut disertai gambaran telapak tangan sebagai lambang bahwa dokumen itu disahkan oleh Nabi Muhammad. 

Dokumen ini sekarang disimpan di Museum Topkapi di Istambul, Turki. 

Biara St. Katarina, yang merupakan salah satu dari situs warisan dunia, merupakan rumah dari manuskrip Alkitab, Kodeks Sinaitikus (ditulis 330-350 Masehi), yang saat ini disimpan di British Library. 

Di dalam St. Katarina juga terdapat Mesjid Fatima yang baru-baru ini direnovasi. Bangunan ini merupakan sebuah kapel yang berubah fungsi menjadi mesjid pada tahun 1106 dan tepat berdiri di samping gereja Ortodoks, sehingga minaretnya berdekatan dengan menara lonceng gereja.

Mesjid ini menjadi lambang perlindungan dari para kalifa Mesir, termasuk toleransi dari para biarawan terhadap Islam. Penduduk lokal Beduin, Jabaliya, secara turun-temurun memegang kunci mesjid ini. 


Sumber: st-katherine.net | ijtihad.org | yusril.com

*John Grainger dan Francis Gilbert, "Around the sacred mountain: The St Katherine Protectorate in South Sinai, Egypt" in Protected Landscapes and Cultural Amb [I.E. and] Spiritual Values, ed. Josep Maria Mallarach (Heidelberg: Kasparek, 2008), 24; beberapa tulisan di Internet mengatakan tahun 626 atau 628 Masehi. 
Sejarah toleransi beragama dapat ditelusuri jauh dalam sejarah, termasuk pelanggaran-pelanggaran dari semua pihak.  

Melawan “penghijauan” dan “kristenisasi,” termasuk pembantaian dan perusakan seperti di Mesir

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 02:38

Seorang pria bersedih saat ia melihat salah satu dari banyak jenazah korban penyerbuan kamp pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi di Alun-alun Rabaa al-Adawiya, oleh pasukan keamanan Mesir, di Kairo, 14 Agustus 2013 (AFP PHOTO / MOSAAB EL-SHAMY via Kompas.com)
MP – Di sejumlah group facebook berplatform Kristen tampak sejumlah "posting-keprihatinan," bahkan kecaman, mengenai upaya “penghijauan” – istilah yang menunjuk pada 'peng-Islaman' daerah tertentu.

Sementara di group yang berplatform Islam, kita dapat menemui ungkapan yang sama tentang “kristenisasi” atau upaya 'peng-Kristenan' umat Islam (non-Islam).

Kedua istilah ini: “penghijauan” dan “kristenisasi,” serta ide yang terkandung di dalamnya, bukan hal yang baru. Keduanya lahir dan merupakan kelanjutan dari sejarah panjang tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan agama. Di balik itu adalah kepentingan politik, ekonomi, yang mencakup keserakahan, rasa superioritas, dan ketidak-sanggupan untuk mengendalikan diri.

Entah apa yang terus memberi kelanjutan terhadap istilah-istilah seperti ini di tengah komunitas beragama saat ini.

Padahal, penggunaan kedua istilah ini menyinggung perasaan umat beragama secara umum, terlebih khusus bagi kedua belah pihak, ketika muncul tudingan bahwa pihak yang satu sedang MEMAKSAKAN agamanya kepada pihak yang lain.

Dapat dimengerti bahwa kedua istilah itu menyinggung perasaan, karena pengikut agama yang tulus tidak akan memaksa (mengancam) orang lain untuk percaya apa yang ia percaya. Idenya juga bertentangan dengan akal sehat: seseorang tidak bisa dipaksa untuk mempercayai sesuatu yang tidak ia percaya.

Di samping itu, kedua istilah ini menyarankan bahwa para pemeluk agama tidak memiliki otonomi untuk menentukan apa yang mereka percaya/imani.


Kekritisan, kehati-hatian (kepekaan), dan rasa kemanusiaan

Karena itu, munculnya istilah-istilah di atas harus disikapi dengan kekritisan dan kehati-hatian (kepekaan). Ada orang yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena memang prihatin, namun TIDAK disertai dengan kekritisan dan kehati-hatian.

Namun, ada pula yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena suatu niat yang tak tulus, tak jujur; dengan maksud untuk menciptakan antipati (permusuhan) antara para pemeluk agama, supaya ketika ketegangan telah meningkat, jika sewaktu-waktu diperlukan, telah siap sebuah “bom kemanusiaan” yang dapat dipicu dengan sebuah tindakan pemerkosaan atau pembakaran/pemboman sebuah rumah ibadah.

“Senjata” seperti sudah sering dipakai oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, yang menghalalkan segala cara untuk mengamankan posisinya, memaksakan pengaruhnya, dan terutama mengamankan akses ke berbagai sumber daya untuk bisa hidup di atas penderitaan orang lain.

Jikalau yang disebut agama paling tidak membukakan mata manusia, maka masyarakat beragama perlu mengembangkan rasa percaya antara satu dengan yang lain, bukan karena agama, melainkan karena kemanusiaan yang kita semua miliki.

Kemanusiaan manusia tidak bisa diukur dari agama, etnik, pilihan politik, atau cara tertawa seseorang.

Manusia itu menjadi manusia karena HATINYA diisi dengan rasa kemanusiaan.


Pelajaran dari Mesir dan Indonesia

Sekarang ini sulit membayangkan bahwa pemerintah Mesir yang dibentuk setelah kudeta militer beberapa waktu yang lalu memiliki hati yang diisi dengan rasa kemanusiaan.

Associated Press (AP) yang dikutip Kompas.com menyebutkan 638 korban tewas dan sekitar 4000 lainnya luka-luka pada Rabu Berdarah (14 Agustus) ketika “pemerintah” tersebut membubarkan para demonstran. Dari pihak lain, Ikhwanul Muslimin [Muslim Brotherhood] mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang dan korban luka mencapai 10.000-an orang.

Mereka ini dibahasakan oleh sejumlah media sebagai pro-Mursi, pro-Muslim Brotherhood, atau pro-Islamis. Hanya saja seorang demonstran yang diwawancarai BBC menolak bahwa aksi mereka adalah demi Presiden Mursi, atau apapun, melainkan demi demokrasi dan martabat negeri mereka, Mesir.

Mereka dan rakyat Mesir secara keseluruhan adalah korban dari sebuah upaya manuver politik, yang bukan rahasia memuat begitu banyak kepentingan luar.

Kepentingan itu, apakah baik atau tidak bagi rakyat Mesir, adalah masalah tersendiri. Akan tetapi, suatu tindakan keamanan (baca: militer), mengatas namakan suara rakyat sekalipun, yang membunuhi rakyat, baik perempuan maupun laki-laki, jelas melanggar kesakralan sebuah demokrasi dan nilai kemanusiaan.

Hati siapa yang takkan tergerak melihat foto para korban. Mereka adalah ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka adalah rakyat yang menuntut sebuah konsistensi demokrasi, bagaimanapun itu.

Kita tidak mau dituduh mempunyai standar ganda dalam berdemokrasi, bukan?

Retorika penyelamatan Mesir dari "Islam radikal" tak lagi menjual. Mengapa di Suriah kebijakan yang muncul justru mempersenjatai gerakan yang tampak jelas memang radikal? 

Siapa yang lebih radikal dalam situasi ini telah nampak jelas. Ini adalah radikalisme yang mengkudeta demokrasi dan membantai rakyat dengan menggunakan alat keamanan negara.

Mungkin nanti ada narasi pembenaran terhadap penolakan terhadap Muslim Brotherhood, sama seperti kita di Indonesia punya narasi yang melegitimasi pembubaran PKI. Sayang kita sering dibuat lupa bahwa penolakan ideologi tak sama dengan pembantaian rakyat. Ada yang menyebut jumlah 300.000 sampai satu juta orang yang dibunuh secara keji pada tahun 65, dan kenyataannya kita masih hidup dalam kemiskinan hampir setengah abad kemudian.

Sendi-sendi perekonomian masih dikuasai oleh pihak asing, dan kroni-kroni koruptornya. 

Kita juga dibiarkan tak mengerti tentang semua kepentingan politik dan ekonomi di balik pergolakan politik semacam ini, dan untuk kasus Mesir, jika rakyat dan pemerintah gagal memperoleh solusi, mungkin tak hanya setengah abad kemudian rakyatnya masih akan tetap miskin, tapi juga Mesir akan porak-poranda dalam sebuah perang saudara.

Sampai sekarang agama masih dieksploitasi untuk kepentingan politik busuk. Tak dapat disangkal politisasi agama pun telah dimasukan ke dalam sejarah revolusi dan restorasi Mesir.

Mungkin Paus Tawardos II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik, berniat baik dengan hadir pada pengumuman Jenderal Sisi bahwa Presiden Mursi telah diturunkan, tapi tindakan itu nampak kurang bijak.

Sekarang kita bertanya, berapa banyak di antara “pendukung demokrasi” yang menyadari bahwa politisasi kelompok etnis Koptik dan Gereja Ortodoks Koptik tidak ada hubungannya dengan jemaat-jemaat Kristen Mesir yang ingin memiliki kebebasan beribadah, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka.

Siapa yang tahu? Yang kita tahu adalah mereka yang membakar gereja atau membunuhi orang Kristen itu melakukannya bukan karena agamanya, melainkan karena terang hatinya telah tertutup kabut amarah atau yang hatinya belum diisi dengan nilai kemanusiaan.

Perdana Menteri Turki Tayyib Erdogan punya poin yang penting, “Mereka yang tinggal diam menghadapi pembantaian ini sama bersalahnya dengan mereka yang melakukan (pembantaian) ini.” (Kompas.com)

Kalau ingin melakukan sesuatu, kita bisa mengikuti Paus Fransiskus. “Saya ingin memastikan doa saya untuk semua korban dan keluarga mereka, yang terluka dan semua orang yang menderita. Mari kita berdoa bersama untuk perdamaian, dialog dan rekonsiliasi di tengah bangsa ini dan seluruh dunia,” demikian sebagian isi doanya mengikuti tragedi pembantaian di Mesir. (News.va)

Dalam doa dan tindakan kita bisa melawan kata-kata yang mengundang permusuhan antar agama, kebencian antar sesama manusia, termasuk pembantaian rakyat dan penghancuran rumah ibadah seperti yang terjadi di Mesir. (+)

Keprihatinan dan kegilaan yang sedang terjadi di dunia: Dari Mesir, Suriah sampai Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 05 Juli 2013 | 14:37

MP -- Masyarakat internasional sedang merasa prihatin. Berikut sorotan MP seputar situasi di Suriah, Mesir, Sub-Sahara Afrika, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Indonesia.

Suriah
Krisis berkepanjangan di Suriah telah memakan korban lebih dari 100.000 orang (6000 adalah anak-anak), dan masih tak nampak ujung penyelesaiannya.

Dimulai dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan, aspirasi rakyat untuk hidup yang lebih baik berubah menjadi kematian dan tragedi yang menelan korban jiwa, materi, dan masa depan Suriah.


Sementara Rusia menyalurkan senjata atas klaim “perjanjian legal dengan pemerintah yang legal,” beberapa negara Barat dengan terang-terangan mendukung pemberontak, atau yang disebut “oposisi.”

Kardinal John O. Onaiyekan dari Nigeria dengan prihatin berkata, “Ini dunia gila.”

Suriah dijadikan lapangan sepak bola politik global. Di kota dan di desa, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, komunitas Muslim dan (terutama) komunitas Kristen, menjadi rumput-rumput malang yang terinjak-injak; yang hancur dan mati.

Tapi memang, sekalipun banyak pemain asing yang datang, para pemain utamanya adalah warga Suriah sendiri. Mereka yang berkomitmen untuk menjaga tanah airnya dalam wadah militer dan mereka yang ingin membangun Suriah (namun tidak setuju dengan kepemimpinan presiden Bashar al-Assad). Itu sebabnya konflik ini dinamakan “perang sipil” (perang antara mereka sendiri).

Mesir
Kegilaan juga telah muncul di Mesir.

Setelah demonstrasi yang mengiring mundurnya Hosni Mubarak, rakyat Mesir seperti melihat fajar baru di alam demokrasi. Terpilih secara konstitusional Muhammad Mursi sebagai presiden.

Presiden terpilih Mesir, Muhammad Morsi.
Dikudeta.
Namun didukung oleh Muslim Brotherhood membuatnya kurang populer (di dunia Barat), dan nampaknya juga melakukan langkah-langkah yang kurang populer. Ia dianggap sebagai seorang “Islamis,” dan itu sepertinya dianggap tidak baik.

Sebelum militer Mesir melakukan coup d'etat (kudeta) terhadap pemimpinnya (apakah ini tidak gila?), berbagai media, terutama yang berkiblat ke Barat, telah memperguncingkan Mesir di antaranya dari 'sudut' masyarakat Kristen Koptik, seakan-akan Muslim dan Kristen sama sekali tidak bisa akur di awal sebuah "revolusi." 

Yang paling menyedihkan di sini adalah kegagalan militer untuk menjaga konstitusi dan keamanan masyarakat Mesir, sekalipun dalam pidatonya Jendral Sisi mengatakan bahwa apa yang dilakukan militer adalah membawa aspirasi rakyat.

Apakah Jendral Sisi bingung membedakan aspirasi dan fungsi? Hal ini mengundang resiko kritik pelajar kritis ketika sejarah diajarkan di sekolah-sekolah nanti, sekalipun pemuka al-Azar dan Gereja Kristen Koptik berdiri mendukung. 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon adalah orang yang kritis, karena itu ia prihatin.

“Rakyat Mesir telah menyuarakan rasa frustrasi yang dalam serta keprihatinan yang sah lewat aksi protes mereka. Namun pada saat yang sama, intervensi militer dalam urusan kenegaraan adalah sebuah keprihatinan,” ungkap Eduardo del Buey, juru bicara PBB.

Sejauh ini yang perlu ditangisi adalah sekitar 91 perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual sampai pemerkosaan (mengingatkan Tragedi Mei 1998) di Tahrir Square. Belum dihitung jumlah korban tewas yang akan menambah jumlah 846 yang meninggal pada "revolusi" yang pertama.

"Revolusi" yang berikut-berikutnya mungkin masih akan datang jika kebijakan Mesir (dan Suriah, Libia, dst.) masih belum sepenuhnya memperhitungkan (atau mengakomodasi) kepentingan luar.

Tapi bagaimana pun, berbicara tentang Mesir, ini adalah kisah rakyat Mesir, dan biar mereka yang menilai kisah mereka sendiri. Termasuk tentang bagaimana militernya menahan para jurnalis dan menutup kantor berita seperti Al Jazeerah di tengah-tengah sebuah pergolakan. 

Sub-Sahara
Skip Libia, kita ke Afrika. Presiden Amerika Serikat membuat kejutan di tengah-tengah kunjungannya di benua yang mempunyai ikatan emosional dengan seorang Barack Obama. Ayah kandungnya berkewarga-negaraan Kenya.

Seperti biasa AS menunjukkan niatnya untuk membantu negara-negara Afrika yang masih berkembang setelah sejarah kolonialisme. Namun, kali ini sang presiden membawa juga agenda yang sementara menjadi polemik dan perpecahan di negaranya.

Di Senegal yang mayoritas memeluk agama Islam Mr. Obama menyudutkan Presiden Senegal, Macky Sall, dengan mengemukakan agenda homoseksualnya di depan sebuah konferensi pers. Presiden Sall menjawab bahwa masyarakatnya “toleran,” dan meminjam istilah non-akademik di Barat, “tidak homofobik.” “Kami memiliki tradisi yang berbeda,” ungkapnya.

Tanggapan datang dari Kenya, yang sekalipun punya sejarah dekat dengan sang presiden, lagi tak masuk dalam daftar kunjungannya. Menanggapi agenda Mr. Obama, Wakil Presiden Kenya, William Ruto, di sebuah ibadah Minggu di antaranya menyebut “Kenya adalah negara merdeka dan takut akan Tuhan.”(Lihat video di sini.)

Uni Eropa
Sementara itu, hubungan AS dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini agak merenggang. Ini juga merupakan bagian dari kegilaan yang sedang terjadi, bahwa pemerintah AS (dicurigai) memata-matai negara-negara Eropa (entah negara-negara lain juga), termasuk warganya. Kasus ini telah membuat Prof. Mark LeVine menilai bahwa demokrasi di AS telah dikhianati dan bertanya jika demokrasi ini akan bisa bertahan. 

Banyak orang yang telah mendengar nama Edward Snowden. Ia dapat dikatakan adalah salah satu orang yang paling berani di dunia, jika ia betul-betul sadar dengan apa yang dilakukannya.

Snowden adalah seorang kontraktor IT yang sempat bekerja untuk badan keamanan dan intelejen AS. Prihatin dengan tingkat 'pengawasan' pemerintah terhadap rakyatnya dan negara-negara lain ia memutuskan untuk membuka rahasia pengawasan itu.

Untuk keberanian itu, ia sekarang menjadi buruan negara “super-power.” Negara yang akan menerimanya sebagai seorang pelarian harus dinobatkan sebagai negara yang menghargai hak asasi manusia. (Mungkin Ekuador.)

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia...?
Maksudnya, menyangkut perkembangan terbaru menjelang Pemilu 2014, serta keamanan dan ketentraman hidup di negara ini.

Isu-isu sensitif terus didengung-dengungkan saat ini. Orang tak perlu bertanya, karena sudah biasa mendengar. Masalah agama, suku, BBM, dsb. Kita perlu menyikapi secara kritis isu-isu seperti ini, jangan sampai masyarakat ditunggangi untuk diadu domba satu dengan yang lain. Korban yang paling menderita selalu adalah anak-anak.

Adalah lumrah jika sama seperti Kardinal Onaiyekan kita semua berharap supaya apa yang terjadi di Suriah (dan negara-negara lainnya), terhindar dari tanah air Indonesia. Ini bukan supaya kita menghindar dari bersikap kritis, namun justru dengan bersikap kritis, membela kepentingan rakyat, menjaga keamanan dan memajukan kehidupan bermasyarakat.


Dan marilah jangan pernah kita lupa bahwa meski pun beda agama maupun suku, di Negara Kepulauan ini kita semua bersaudara.***

Presiden Mursi: Mesir dapat belajar dari Indonesia

Written By Menara Penjaga on Kamis, 06 Desember 2012 | 07:58

Presiden Mesir Muhammad Mursi
(foto: Wikipedia)
MESIR, Kairo (Kompas.com, 4 Desember 2012).

Presiden Mesir Muhammad Mursi ketika menerima Ketua DPR RI Marzuki Alie hari Senin (3/12/2012) di Kairo menyatakan, pengalaman Indonesia yang telah berhasil menciptakan iklim demokrasi yang baik dalam pemilu presiden dan pemilu lainnya dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi Mesir yang sedang menjalani masa transisi.

Seperti diketahui, Mesir kini tengah mengalami krisis politik menyusul diterbitkannya dekrit presiden hari Kamis pekan lalu yang mengundang protes luas dari berbagai elemen masyarakat Mesir.

Mursi juga berkeinginan untuk mengunjungi Indonesia agar dapat mengenalnya lebih dekat.
Ketua DPR RI yang saat ini juga menjabat sebagai Presiden Parliamentary Union of Organization of Islamic Conference (OIC) Member Countries itu yakin bahwa Mesir akan berhasil melalui masa-masa sulit dalam proses demokratisasi yang saat ini sedang berlangsung.

Indonesia, lanjut Marzuki Alie, sebagai negara yang mempunyai kedekatan secara historis dengan Mesir, telah melakukan berbagai dukungan konkret untuk Mesir, di antaranya dengan telah diselenggarakannya lokakarya yang bertema "Building Electoral Democracy in Egypt: Lesson Learned from the Indonesian Experience" yang diselenggarakan di Kairo pada tanggal 25-26 Juli 2011 yang merupakan kelanjutan dari kegiatan serupa yang diadakan di Jakarta pada tanggal 25- 27 Mei 2011.

Marzuki Alie secara khusus memberikan apresiasi kepada Mesir atas langkah antisipasinya dalam menciptakan terjadinya gencatan senjata antara Israel dan Palestina. Hal itu, menurutnya, merupakan capaian penting Mesir dalam upaya mengembalikan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Marzuki Alie juga menekankan perlunya meningkatkan hubungan kerja sama ekonomi, khususnya investasi dan perdagangan yang kesempatannya masih terbuka lebar. (Seterusnya)

Uskup Tawadros terpilih menjadi Paus Gereja Koptik; 'Pendidikan Pancasila' diterapkan di Mesir

Written By Menara Penjaga on Senin, 05 November 2012 | 10:38

Uskup Tawadros, Paus Gereja Ortodoks Koptik ke-118
(foto: VOA).
MESIR, Kairo (4 November 2012).
Uskup Tawadros terpilih menjadi pemimpin baru Gereja Ortodoks Koptik Mesir yang ke-118. Dua kandidat lain dalam pemilihan akhir kali ini adalah Uskup Raphael dan Bapa Raphael Ava Mina. Ketiga kandidat ini dipilih lewat pemungutan suara oleh sebuah dewan yang terdiri dari sekitar 2.400 pemimpin gereja dan masyarakat Koptik pada bulan Oktober, demikian dilaporkan BBC News.
 
Dengan demikian Uskup Tawadros yang saat ini berusia 60 tahun menggantikan
Paus Shenouda III yang meninggal pada Maret lalu dalam usia 88 tahun.

Di tangan Tuhan

Masing-masing nama para kandidat paus ditulis pada selembar kertas yang sama ukuran dan diikat dengan cara yang sama dan dimasukkan ke dalam toples kaca yang disegel dengan lilin dan diletakkan di altar gereja Katedral St. Markus di Kairo.


Seorang anak yang ditutup matanya kemudian menarik nama Uskup Tawadros, yang sampai sekarang merupakan tenaga bantu bagi Uskup Pachomius, pejabat sementara Gereja Koptik.

Uskup Pachomius kemudian mengambil surat suara dari tangan anak itu, dan menunjukkan kepada semua orang berkumpul di katedral.

Umat Kristen Koptik mengatakan proses ini adalah untuk memastikan bahwa pemilihan pemimpin Gereja ada di tangan Tuhan.

Uskup Tawadros yang memiliki gelar sarjana ilmu farmasi ini akan ditahbiskan dalam sebuah upacara pada tanggal 18 November nanti.
Ia dikenal sebagai seorang yang berpengalaman dan memiliki ketrampilan manajerial.


Pancasila di Mesir  

BBC News turut menyoroti kekuatiran masyarakat Koptik mengenai diskriminasi, termasuk kekerasan dan pembakaran gereja seperti yang sempat terjadi pada Oktober 2011 dan memakan korban 25 orang meninggal dunia.

Namun, sebuah perkembangan yang membesarkan hati saat ini adalah tekad pemerintah untuk memajukan seluruh masyarakat Mesir, di antaranya lewat pendidikan, yang pendekatannya mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Al Arabiya News melaporkan bulan Oktober lalu, Kementerian Pendidikan Mesir mengumumkan bahwa sekolah tingkat menengah di negara itu akan mengimplementasikan pendidikan kemasyarakatan dengan menggunakan kitab suci Agama Abrahamik, yaitu Alkitab, di mana yang disebut Perjanjian Lama merupakan kitab suci agama Yahudi (Tanakh), dan Al-Qur'an.

Dalam kurikulum baru ini siswa kelas dua sekolah menengah akan belajar tentang prinsip-prinsip hak asasi manusia menurut pemahaman Kristen, demikian dituliskan oleh media Mesir al-Shorfa.

Ayat Alkitab seperti, “Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang yang berkesusahan di pintu gerbang [yaitu, di pengadilan]” (Amsal 22:22), akan dikutip dan diajarkan dalam kelas. Selain itu, adalah hal kebebasan berkehendak dan menentukan nasib sendiri.

Pada tahun ketiga, kurikulum ini akan fokus pada ajaran-ajaran Islam tentang hak-hak non-Muslim, termasuk perlindungan kehormatan, dan kebebasan seseorang untuk memilih agama di antara ajaran Islam lainnya.

Dr. Kamal Mogheeth dari Pusat Nasional untuk Penelitian Pendidikan Mesir mengatakan kepada Al-sayid website bahwa ia percaya langkah untuk menggunakan teks-teks suci di sekolah menengah akan membawa hasil yang positif dalam mendorong terciptanya interaksi antara agama-agama yang berbeda.

"Ini adalah langkah untuk menghilangkan ketegangan dan intoleransi antara Muslim dan [Kristen] Koptik yang kejadiannya muncul dari waktu ke waktu di Mesir," kata Mogheeth seperti dikutip Al-sayid.

Namun, Mogheeth menambahkan bahwa ayat-ayat suci harus ditangani dengan "sangat hati-hati" sehingga tidak menimbulkan kebingungan yang dapat menyebabkan perselisihan yang kontroversial.

Dr. Ilham Abdel Hamid, seorang profesor di Universitas Kairo, mengatakan langkah itu "bisa meredakan ketegangan sektarian yang akhir-akhir ini mulai meningkat di Mesir, dan menanamkan perekat persatuan nasional ke dalam diri para siswa."

Seorang ibu yang diwawancarai oleh Al-sayid mengatakan bahwa tambahan baru pada kurikulum itu merupakan hal yang tidak perlu dan menegaskan bahwa pemerintah harus fokus dalam menambahkan undang-undang Mesir ke dalam buku teks.

Yang lain mengungkapkan bahwa adalah benar mendidik anak-anak tentang perbedaan agama sehingga mereka bisa tahu bagaimana menghormati agama lain, moral dan kebebasan. (BBC/Al-Arabiyah/MP)

12 orang Koptik Mesir divonis seumur hidup

Written By Menara Penjaga on Jumat, 25 Mei 2012 | 02:45

Umat Kristen Koptik menangisi korban meninggal
dalam peristiwa kerusuhan yang menyebabkan
12 orang (5 di antaranya Muslim) meninggal
dan dua gereja dibakar di Kairo (5/8). Foto: Reuters
Pengadilan di Mesir baru-baru ini menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada 12 orang penganut Kristen Koptik setelah dinyatakan terbukti terlibat dalam bentrokan yang menewaskan dua orang tahun lalu. Sementara, 8 orang dari kelompok lainnya yang juga diajukan di dalam pengadilan ini dalam kasus yang sama diputus bebas.

Seperti dilaporkan The Associated Press, Senin (21/5), kasus ini bermula dari perselisihan seorang supir bus dengan penjaga keamanan rumah seorang konglomerat beragama Kristen Koptik. Sang supir ini tidak terima dengan adanya pembuatan polisi tidur di depan rumah konglomerat ini.

Berdasarkan keterangan sang sopir, saat ia mengatakan keberatannya itu ia justru dipukul oleh penjaga keamanan. Tidak terima dengan perlakuan tersebut, sepulang ke desanya pria itu mengeluh ke rekan-rekan tetangga dan ke sebuah kelompok garis keras.

Menerima informasi ini, mereka mendatangi daerah Kristen di mana rumah konglomerat itu berada. Masyarakat Koptik Kristen menilai mereka akan menyerang sehingga dari atas tembok melakukan penembakan, demikian menurut Ishak Ibrahim, seorang peneliti hak-hak asasi. Dua orang dari kelompok tersebut tewas dan dua lainnya luka-luka.

Selang beberapa hari kemudian masyarakat desa yang marah membakar rumah-rumah dan toko-toko yang dimiliki umat Kristen Koptik di sana.

Pemerintah transisi kemudian memerintahkan aparat berwajib menangkap para tersangka di kedua belah pihak.

Kedua belas orang Kristen Koptik tersebut dinyatakan bersalah oleh pengadilan atas tuduhan menyebabkan kerusuhan, memiliki senjata ilegal, dan terbunuhnya dua orang dari kelompok Muslim di propinsi Minya, 220 kilometer dari Kairo.

Ibrahim menilai adanya ketidak-adilan dalam kasus yang kembali menunjukkan dampak merugikan dari tindakan kekerasan itu. 

Keputusan ini sudah tidak dapat diajukan banding, tetapi dewan militer Mesir memiliki kewenangan untuk meminta pengadilan ulang. (AP/jawaban.com)

Mesir: Remaja Kristen dijatuhi hukuman tiga tahun penjara atas tuduhan penghujatan agama

Written By Ray Maleke on Minggu, 08 April 2012 | 06:04

Kota Assiut, Mesir.

CAIRO, EGYPT Sebuah pengadilan di Mesir telah menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun terhadap Gamal Abdou Massoud (17) karena “menghina Islam” lewat gambar kartun yang dipostnya di Facebook, demikian dilansir BosNewsLife.

Gamal juga dilaporkan membagikan gambar kartun buatannya kepada teman-teman sekolahnya di sebuah desa sebelah selatan Assiut, kota kelahiran almarhum Pope Sheneuda, pemimpin gereja Koptik Ortodoks yang baru-baru ini meninggal dunia, dan merupakan tempat tinggal dari sejumlah besar pemeluk Kristen Koptik.

Gambar kartun yang dimuat Gamal bulan Desember lalu dilaporkan mengundang reaksi keras dari kelompok Muslim yang kemudian menyerang orang Kristen. Beberapa rumah milik orang Kristen dilaporkan dibakar dan beberapa orang terluka dalam aksi kekerasan tersebut.

“Pengadilan anak-anak Assiut memutuskan tiga tahun penjara bagi Gamal Abdou Massoud setelah ia menghina Islam dan mempublikasikan dan menyebarkan gambar-gambar yang menghina Islam dan Nabinya,” demikian pernyataan dari pihak pengadilan seperti dilaporkan Reuters.

Dilaporkan juga bahwa seorang pengacara HAM, Negad al-Borai mengeluhkan keputusan maksimal yang dijatuhkan tersebut. Belum ada kepastian kapan atau apakah Gamal akan melakukan banding atas keputusan tersebut. Beberapa kasus penghujatan agama di beberapa bulan terakhir ini, di antaranya Naguib Sawiris, salah satu orang terkaya di Mesir, yang dituntut karena “menghujat dan menghina Islam” dengan merepost gambar kartun Mickey Mouse berjanggut dan Minnie yang memakai kerudung termasuk tutup muka dan kasus Adel Imam yang dituduh menghina Islam dalam film dan pertunjukan, meningkatkan kekuatiran bahwa kelompok Islamists sedang menggunakan kekuasaan yang baru-baru ini diperoleh untuk menekan kebebasan berpendapat.

Kebebasan berpendapat juga disuarakan di comment section laman berita Reuters untuk kasus Gamal. Sementara untuk dua kasus lainnya, tak ketinggalan Barry Rubin, direktur Global Research in International Affairs (GLORIA) yang menulis:

"Dalam dua kasus tersebut [Sawiris dan Imam], mereka tidak melakukan apapun melawan 'Islam' melainkan hanya untuk menertawakan kelompok Islamists. Pertarungan di sini, tentu saja, dikobarkan oleh kaum Islamists yang ingin supaya penafsiran agama mereka diterima sebagai satu-satunya versi yang bisa diterima. Orang Barat tidak mengerti bahwa ketika hal ini terjadi semua yang lebih moderat atau biasanya fleksibel menjadi ilegal dan dapat dikenai sangsi hukuman. Counter-Bill of Rights milik kaum Islamists memproklamasikan bahwa penduduk negeri tidak memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat atau kebebasan beragama, tidak ada kebebasan untuk berkumpul atau kebebasan press.”

Komentar lainnya di comment section laman berita Reuters untuk kasus Gamal dengan nick MarkOsgatharp mengatakan bahwa kebebasan beragama [dan mengekspresikan pendapat] yang berarti kebebasan untuk menghina agama orang lain adalah “freedom of religion American style” (kebebasan beragama gaya Amerika).

Selanjutnya dalam laporannya BosNewsLife dikatakan bahwa orang-orang Kristen mengakui adanya peningkatan penyerangan terhadap gereja-gereja yang dimotori oleh kelompok garis keras, sekalipun pemerintah mengatakan bahwa sebab-musababnya juga bisa karena pertengkaran lokal. Penduduk Mesir berjumlah 80 juta orang, 10 persen di antaranya memeluk agama Kristen. Mesir kehilangan almarhum Pope Sheneuda yang dilaporkan merupakan seorang tokoh yang dicintai baik oleh kalangan Muslim maupun Kristen.***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger