"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gereja Pentakosta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Pentakosta. Tampilkan semua postingan

Pdt. Faye Pama Musa: Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku

Written By Menara Penjaga on Kamis, 01 Agustus 2013 | 21:16

NIGERIA, Borno (MP) – Laporan Open Doors, organisasi advokasi Kristen teraniaya, membuka kembali lembaran pahit keluarga mendiang Pdt. Faye Pama Musa yang ditembak mati oleh tiga orang bersenjata di kediamannya di Maiduguri, negara bagian Borno, Nigeria, 14 Mei 2013 lalu.

Sebulan setelah kejadian yang memiriskan hati ini, pengurus Open Doors disambut oleh ibu Mercy, janda dengan empat orang anak. “Yang kulihat hari ini adalah persahabatan sejati,” ungkapnya. 

“Bagaimana kau bisa datang ke Maiduguri pada saat berbahaya ini ketika orang-orang sedang meninggalkan kota? Kau disambut di sini dalam nama Yesus. Saya senang bertemu denganmu lagi.”

~+~


Pada peristiwa malam 14 Mei itu, Pdt. Musa, ibu Mercy dan sebagian dari anak-anak mereka sedang berada di rumah. Sementara ibu Mercy sedang mempersiapkan makan malam, Zion (17), remaja putri yang duduk di luar, melihat tiga orang bersenjata melompat pagar. Dia berlari masuk ke ruang tamu untuk mengingatkan ayahnya.

Pdt. Musa melirik melalui jendela dan melihat para pelaku sudah berada di pintu depan. Mereka menerobos masuk dan berteriak, "Semua orang di lantai!"

Pdt. Musa langsung menyadari mengapa orang-orang itu datang, dan mencoba meloloskan diri melalui pintu belakang dan melompati pagar. Tapi mereka berhasil menangkapnya dan menyeretnya ke teras rumah. "Hari ini kau adalah orang mati. Panggil Yesusmu untuk membantumu, Mr CAN!"* teriak salah satu penyerang.

Pdt. Musa tidak menyerah tanpa perlawanan. Sementara bergulat dengan tiga orang itu, ia terus-menerus memanggil nama Yesus.

Saat itu Zion tidak bisa menanggung mendengar ayahnya. Dia bangun dari lantai dan lari ke teras. Dia memohon para penyerang untuk tidak membunuh ayahnya. Mereka melepaskan tembakan ke arahnya tapi luput. Namun, syok membuatnya pingsan.

Pergumulan terus berlanjut. Ibu Mercy mendengar suaminya berkata, "Aku tidak akan pernah menyangkal Juruselamatku." Saat ia merangkak ke pintu, ia melihat penyerang menembak suaminya tiga kali di bagian kepala. Pdt. Musa meninggal di tempat, dan para penyerang kabur dengan sebuah mobil.

Pdt. Musa tidak hanya memiliki teman di kalangan orang Kristen. Banyak saudara-saudara Muslim menyatakan syok dengan kematiannya. Seorang pejabat keamanan Muslim terkemuka mengutuk keras pembunuhan itu. Ia mengatakan, "Pdt. Faye Pama Musa adalah seorang duta perdamaian. Aku akan merindukan pria Kristen ini yang adalah berkat dan aset besar bagi masyarakat ini."

Pdt. Musa meninggalkan seorang istri, ibu Mercy, dan empat orang anak: Winner (19), seorang mahasiswa di Universitas Ghana, Zion (17), seorang siswa sekolah menengah, Praise (11), dan Miracle (6), kedua masih murid pendidikan dasar. Saat ini Open Doors menopang dengan bantuan moneter untuk kebutuhan mendesak seperti sewa dan biaya sekolah.

"Terima kasih untuk tetap menaruh kami dekat dengan hati kalian," ungkap ibu Mercy. "Terima kasih untuk pemberian ini. Tetapi di atas semuanya, terima kasih untuk cinta kalian untuk keluarga saya. Semoga Tuhan yang baik semakin mempersatukan kita."


* Alm. Pdt. Musa, selain sebagai Pengawas Umum Rhema Assembly International Church, beliau adalah juga Sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN).
Doakan masyarakat Nigeria, terutama orang Kristen, yang masih terus menghadapi kekerasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh para teroris. Darah para martir adalah pupuk bagi gereja.

Pimpinan Persekutuan Pentakosta dibunuh, Nigeria masih belum kondusif

Written By Menara Penjaga on Kamis, 23 Mei 2013 | 10:30

Pdt. Faye Pama Musa (foto:
Christiantoday). Berharga
di mata Tuhan kematian orang-
orang yang dikasihi-Nya. 
NIGERIA, Borno (MP) -- Sejumlah pria bersenjata menewaskan Pdt. Faye Pama Musa, seorang pendeta senior dari Gereja Pentakosta, Jemaat Rhema, negara bagian Borno. Almarhum juga adalah sekretaris Christian Association of Nigeria (CAN), atau Asosiasi Kristen Nigeria, cabang Borno.

Para pelaku kejahatan dilaporkan mengikuti pemimpin Kristen ini dari gedung gereja di mana ia memimpin sebuah penelaahan Alkitab malam sampai ke rumahnya di Kawasan Reservasi Pemerintah di Maiduguri, dan menembaknya mati di sana, demikian diinformasikan Pdt. Titus Dama Pona, ketua CAN cabang Borno, Nigeria, seperti dilansir Christiantoday.com (16/5/13).

Alm. Pdt. Faye Pama Musa berusia 47 tahun dan meninggalkan tiga orang anak. Salah satu dari mereka sempat memohon supaya ayahnya jangan dibunuh ketika diseret keluar rumah. Almarhum telah terlibat dalam pelayanan selama lebih dari 26 tahun.

Seperti dilaporkan Christiandtoday.com, dalam sebuah wawancara di tahun 2007, Pdt. Musa mengatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan Borno terlepas dari bahaya yang mengancam keberadaan hidupnya. 

"Saya seorang asli negara bagian Borno, dan Tuhan telah memanggil saya untuk bekerja di antara kawanua saya," katanya. "Saya percaya bahwa yang terbaik untuk menjangkau orang-orang ini adalah mereka yang memahami budaya orang-orang ini."

Serangan-serangan terhadap orang Kristen di Nigeria selalu dihubungkan dengan sebuah kelompok anarkis yang telah populer dengan nama Boko Haram. Kelompok ini dilaporkan telah menewaskan lebih dari 4.000 orang sejak tahun 2009. Kontak senjata antara militer Nigeria dan kelompok ini di Baga, negara bagian Borno bulan lalu, dilaporkan memakan korban lebih dari 100 warga sipil.

Menurut Christiantoday.com, penembakan terhadap Pdt. Musa terjadi tak lama setelah Presiden Goodluck Jonathan mengumumkan keadaan darurat di negara bagian Borno, Yobe dan Adamawa. 

Karakterisasi Boko Haram yang selalu dihubung-hubungkan dengan Islam telah memicu deklarasi sebuah kelompok lain yang mengatas-namakan kelompok Kristen untuk melakukan serangan terhadap mesjid dan penganut Islam. Namun demikian, para pemimpin Kristen telah melayangkan surat permohonan kepada MEND (Movement for the Emancipation of the Delta Niger) untuk tidak melakukan serangan demikian. Hal ini mendapat reaksi positif dari MEND

Nigeria adalah negara dengan penduduk terbesar di Afrika. Sekalipun dengan sumber daya minyak (black gold) yang besar, Nigeria tetap menjadi salah satu negara termiskin di dunia, dan saat ini berada di bawah kontrol IMF. 

Dengan konflik berkepanjangan serta membesarnya kecurigaan antara warga negara Nigeria yang memeluk agama berbeda, maka kemungkinan untuk mengatasi pencurian crude oil (minyak mentah), memberantas korupsi, dan membangun masyarakatnya seakan menjauh.***  


-------
Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 10:39)

Suara gereja-gereja di Chili: Menjunjung nilai-nilai kehidupan dan keluarga

Written By Menara Penjaga on Kamis, 20 Oktober 2011 | 12:10

CHILI, Santiago (MP) --- Gereja-gereja di seluruh dunia saat ini digelisahkan dengan meluasnya gerakan multi-level yang hendak mengubah secara radikal pemahaman universal tentang hak hidup dan nilai-nilai keluarga. 
Gereja-gereja di Republik Chili, sebuah negara di Amerika Selatan, menyatakan sikapnya dengan mengirimkan “Surat mengenai Nilai Kehidupan, Pernikahan, dan Keluarga” kepada Presiden Sebastian Piñera, dengan menekankan bahwa nilai-nilai tersebut merupakan “fondasi kehidupan bermasyarakat” dan merupakan “kewajiban bagi pemerintah untuk mendorongnya, serta menghindarkannya dari apa yang bisa mencegah perkembangan [nilai-nilai tersebut].”
Dokumen tersebut, yang ditanda-tangani oleh perwakilan dari Gereja Roma Katolik, Gereja Ortodoks, Mejabundar Injili, Gereja Metodis-Pentekosta, Gereja Pentekosta Apostolik, dan Gereja Anglikan, adalah aksi terbaru dari koalisi Kristen yang tujuannya adalah menjunjung nilai-nilai kehidupan dan keluarga.

Surat tersebut menolak semua bentuk aborsi langsung sebagai ”pembunuhan terhadap yang paling tidak bersalah” dan secara terbuka menolak ’pernikahan’ homoseks, termasuk semua bentuk pernikah sipil.
Di dalamnya termasuk penolakan terhadap penggunaan istilah "orientasi seksual" dalam RUU yang mereka sebut sebagai konsep yang karena ketidak-jelasannya telah menyebabkan kemerosotan moral dan rusaknya dasar-dasar hidup berkeluarga, di samping mengancam sejumlah bentuk kebebasan (seperti kebebasan beragama). 
Bulan Juli lalu gereja-gereja juga bersatu suara di depan Senat Chili menolak legislasi yang dibungkus dengan istilah anti diskriminasi terhadap pelaku hubungan sejenis. Mereka menilai bahwa legislasi tersebut pada akhirnya akan bermuara pada diijinkannya ’pernikahan’ homoseks dan adopsi anak dan remaja oleh pasangan homoseks. []
Evangelicals join Catholics in ‘unprecedented’ alliance to affirm right to life, marriage in Chile
http://www.lifesitenews.com/news/evangelicals-join-catholics-in-unprecedented-alliance-to-affirm-right-to-li

Gambar: Wikipedia
Terakhir diperbarui 12 Nov. 13.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger