"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , , , , , » DOMA dan keputusan MA: Ratapan dan kegembiraan di Amerika Serikat

DOMA dan keputusan MA: Ratapan dan kegembiraan di Amerika Serikat

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 29 Juni 2013 | 10:38

Para pendukung dan penentang keputusan Mahkamah
Agung AS (foto: blog.zap2it.com).
AMERIKA SERIKAT, Washington, D. C. (MP) -- Dalam tulisan sebelumnya (lihat di sini) MP telah menyoroti perkembangan sekitar isu gerakan revolusi seksual di berbagai belahan dunia, termasuk di Amerika Serikat (AS). Berikut liputan khusus menyangkut dua kasus besar terkait masalah 'pernikahan' sejenis yang dibawa ke Mahkamah Agung (MA) di negara Paman Sam.

Dua kasus penting
Kasus yang pertama adalah mengenai DOMA (defense of marriage act) yaitu peraturan federal di Amerika Serikat (AS) yang mendefinisikan pernikahan adalah antara seorang perempuan dan seorang laki-laki. Peraturan ini ditetapkan oleh kongres AS pada masa kepresidenan Bill Clinton.

Yang kedua adalah Proposition 8, yaitu voting (referendum) yang dimenangkan masyarakat California untuk menetapkan bahwa pernikahan di negara bagian itu adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemenangan itu kemudian digugat dan dianulir pengadilan.


Pdt. William Owens (foto CNA).
Perlu bangkit
Keputusan MA hari Rabu kemarin yang menyatakan bahwa DOMA “tidak konstitusional” membawa ratapan di banyak kalangan.

Pdt. William Owens, presiden Coalition of African-American pastors (kualisi para pendeta berlatarbelakang Afrika-Amerika), mengungkapkan “MA...mengabaikan anak-anak kita yang sangat berharga yang membutuhkan seorang ibu dan seorang ayah yang dipersatukan dalam pernikahan untuk perkembangan mereka yang sehat.”

Menurut Pdt. Owens komunitas Afrika-Amerika telah dibanjiri masalah dengan banyaknya anak-anak yang tumbuh dengan hanya satu orangtua (single-parent). “Keputusan ini hanya akan mempercepat kerusakan lebih jauh dalam komunitas dan masyarakat kami,” ujarnya mengingatkan bahwa sudah saatnya “komunitas Afrika-Amerika dan orang Kristen untuk bangkit dan membarui upaya mereka untuk melindungi [institusi] pernikahan dan memperkuat keluarga di dalam komunitas mereka.” (CNA)

Senada dengan itu, Robert Tyler, penasihat umum organisasi Advocates for Faith and Freedom (Advokat untuk Iman dan Kebebasan) menanggapi:

“Pernikahan telah lama dan selalu dipahami lebih dari sekedar 'hubungan sipil'. Pernikahan itu adalah sebuah lembaga yang dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan optimal untuk membesarkan anak-anak – yaitu di mana ada seorang ibu dan seorang ayah. Meskipun tidak semua pernikahan antara pria dan wanita adalah sempurna, dan beberapa mungkin berakhir dengan perceraian, kebijakan publik selalu mengakui perlunya mendorong pernikahan sebagai pembentuk suatu masyarakat," demikian dikutip di Christian News Wire.

Sebagai pendukung Proposition 8, Mr. Tyler sangat menyesali keputusan MA yang memutuskan untuk menolak mengambil keputusan mengenai masalah itu, yang berarti keputusan pengadilan lebih rendah yang menyatakan bahwa referendum tersebut “tidak konstitusional” akan tetap berlaku.

Anak-anak siapa?
Sementara ada ratapan di hati orang-orang seperti Pdt. Owens dan Mr. Tyler, tentunya ada kegembiraan bagi mereka yang mendukung keputusan MA yang menyatakan bahwa pemerintah federal harus menerima 'pernikahan' partner sesama jenis di negara-negara bagian di AS yang telah menerima hubungan demikian. 

Dengan keputusan MA mengenai Proposition 8, 'pernikahan' sejenis diterima di 13 dari 52 negara bagiannya).

Menurut hakim Anthony Kennedy yang menulis hasil keputusan mayoritas (5-4) bahwa keputusan MA ini sesuai dengan Amandemen ke-5 yang menjamin persamaan perlindungan di bawah hukum federal.

Ini berarti tunjangan tertentu atau perlakuan khusus perpajakan yang diatur hukum federal AS untuk mendorong pernikahan (antara seorang laki-laki dan seorang perempuan) sebagai dasar suatu masyarakat dan sarana untuk menumbuh-kembangkan anak-anak turut juga diberikan bagi parner sejenis yang 'menikah' di 13 negara bagian tadi.

Dan terlihat bahwa partner sejenis memang bisa 'punya' anak. NY Times menyebut “puluhan ribu anak yang sekarang ini dibesarkan oleh pasangan sejenis.”

Ada kebenaran di balik pernyataan Robert O. Lopez waktu lalu: “Panti asuhan di Asia atau di sebuah kota di Amerika [Serikat] dipercayakan dengan kewenangan adopsi untuk membuat keputusan yang terbaik bagi kehidupan anak, bukan untuk memenuhi permintaan pasar bagi pasangan sesama jenis yang menginginkan anak-anak.”

Bukannya menyudutkan partner sejenis yang mungkin bermaksud baik mengadopsi, tapi tampaknya kita semua perlu berusaha lebih keras supaya yang terbaik untuk anak itu yang diperolehnya, dan itu bukan sekedar materi.


Peringatan keras
NY Times bukan satu-satunya media cetak yang memberi liputan positif terhadap keputusan MA ini. Bahkan penelitian Pew's Project menunjukkan bahwa setiap liputan berita TV di AS menunjukkan dukungan terhadap keputusan itu, lebih jauh melebihi yang tidak mendukung. Media memang berpengaruh.


Tak dapat disalahkan jika situasi ini telah membuat pengamat dan aktivis pembela keluarga seperti Dr. Scott Lively muncul dengan peringatan keras.

Dr. Lively adalah presiden organisasi Defend the Family International (membela keluarga internasional) yang saat ini harus menghadapi dakwaan atas tuduhan “Kejahatan Melawan Kemanusiaan” karena berkhotbah di Uganda, Afrika, menentang praktek yang seperti diungkapkan oleh Lopez sebelumnya dikategorikan “kelainan mental.”

Dalam tulisannya berjudul A Warning to the Church in America (peringatan untuk gereja di Amerika) Dr. Lively memperingatkan Gereja di Amerika tentang “perang rohani dan budaya” yang belum pernah ada sebelumnya. Di dalamnya gereja-gereja, jemaat, bahkan keluarga Kristen akan terpecah. Bahkan ia memprediksikan bahwa para penentang praktek hubungan sejenis akan mengalami aniaya.

“Yang pasti, pandangan seseorang terhadap [praktek] hubungan sejenis tak harus menjadi sebuah masalah menyangkut keselamatan [seseorang], tetapi kesanggupan seseorang untuk bersandar pada Yesus melalui penganiayaan bisa menentukan,” tulisnya.


Sudut pandang positif
Konferensi Keuskupan Katolik AS (United States Bishops conference) mengeluarkan pernyataan yang diawali dengan ungkapan "Hari ini adalah hari yang tragis bagi pernikahan dan bagi bangsa kita." (LSN)

Namun demikian, masih ada yang melihat perkembangan ini dari segi positif. Tony Perkins, presiden organisasi Family Research Council (dewan penelitian keluarga), mengungkapkan bahwa ia merasa “lega” karena MA tidak memutuskan semua negara bagian di AS untuk merubah arti pernikahan kodrati “seperti yang diupayakan.” (CNA)
Share this article :

2 komentar :

3Kirana3Betul3 mengatakan...

Sedih juga ya...tapi salut bagi yg terus berjuang!

7menara_penjaga7 mengatakan...

Trims Kirana utk komenx. Setuju.

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger