"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan

Ledakan Bom di Boston Maraton: Tragedi Kemanusiaan

Written By Ray Maleke on Selasa, 16 April 2013 | 10:28

(NYTimes)
AMERIKA SERIKAT, Boston (MP) – Dua buah bom meledak di Boston dekat garis finish yang sedang didekati oleh ribuan pelari maraton pada Senin sore waktu setempat. Pihak berwenang melaporkan bahwa korban meninggal dunia telah meningkat menjadi tiga orang dan lebih dari seratus orang mengalami luka-luka.

Sebuah bom lainnya yang tidak meledak ditemukan di dekat garis finish.

Kegiatan lari maraton ini merupakan iven tahunan dalam rangka memperingati Patriots Day dan telah dimulai sejak tahun 1897. Ribuan orang datang untuk menyaksikannya.

Informasi dari pihak penyelenggara mengungkapkan hampir 27.000 orang berpartisipasi tahun ini, mewakili 96 negara. Pertandingan dimulai jam 10 pagi dan dalam waktu dua jam Lelisa Desisa (Ethiopia) telah memenangkan pertandingan. Jam tiga sore ketika masih banyak orang berlari untuk mencapai garis finish tragedi kemanusiaan ini terjadi.

Pihak berwenang menyebut bahwa di antara korban meninggal saat ini adalah seorang anak berumur delapan tahun. Masih ada dua anak lagi yang dilaporkan menjadi korban bom yang belum diketahui siapa penanggung jawabnya.

Penyelidikan atas kasus ini berada di bawah badan intelejen AS, FBI, melalui Joint Terrorism Task Force.

“Kita belum tahu siapa yang melakukan hal ini dan mengapa,” ungkap Presiden AS, Mr. Obama, sambil memperingatkan masyarakat untuk tidak langsung “mengambil suatu kesimpulan.” Ia mengungkapkan bahwa masyarakat AS sedang mendoakan Boston. Dan ini adalah doa kita juga, terutama bagi mereka yang menjadi korban kekerasan berdarah dingin ini. (NBCNews/ChristianPost)







Menolak Pancasila, kekritisan mahasiswa di lima universitas kenamaan di Jawa dipertanyakan

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 08 September 2012 | 23:40

(gambar: portibionline)
INDONESIA, Jakarta.
Sebuah laporan yang mengundang kontroversi diungkapkan oleh Ansyaad Mbai, mewakili Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dalam rapat Rencana Kerja Kementerian/Lembaga (Renja-KL) Tahun Anggaran 2013 bersama Komisi III DPR RI di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (6/9/2012).
 
Dalam presentasinya Mbai mengatakan 86 % mahasiswa di 5 universitas kenamaan di Pulau Jawa tidak lagi menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, demikian dilaporkan DetikNews.
 
Pada saat berita ini dipublikasikan komentar pada artikel tersebut di DetikNews telah mencapai 253. Berbagai komentar yang dituliskan diantaranya bernada kritik terhadap korupsi dan kemiskinan. Selain itu juga ada pertanyaan tentang kekritisan mahasiswa dan metode penelitian yang digunakan Mbai. J. P. Hutagalung, salah satu komentator pada artikel tersebut, menyangsikan kalau mahasiswa menolak butir-butir luhur Pancasila.
 
Perbincangan tentang Pancasila juga turut mewarnai berbagai media sosial on-line seperti group Suara Rakyat Minahasa. Facebooker Evert Maximillan Pangajouw mem-post kemarin:
 
...Anggaplah Pancasila itu seperti bunyi tulisan...BUANG AIR BESAR/AIR KECIL HARUS DISIRAM. Apakah anda...merasa nyaman kalau toilet yang anda pakai tidak disiram oleh pengguna sebelumnya? Kalau sekarang [P]ancasila tak lagi 'sexy' ..., maka yang salah adalah 'oknum' yang baru saja keluar dari toilet itu, bukan tulisan BUANG AIR BESAR/KECIL HARUS DISIRAM...
 
Logika tersebut menempatkan argumentasi korupsi dan kemiskinan melawan Pancasila pada pemikiran tidak kritis. Tapi jika laporan Mbai itu benar kemungkinan ada faktor-faktor lain di belakang sikap para mahasiswa itu dan perongrong Pancasila lainnya. Apakah termakan indoktrinasi radikalisme, atau menanti pembagian tropi ketika Indonesia dibagi-bagi.
 
Sementara itu, diberitakan bahwa BNPT sedang berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika menyangkut penutupan media-media yang pemberitaannya memicu radikalisme. Pasalnya BNPT tidak mempunyai kewenangan mengenai penutupan itu.
 
Penutupan media radikalisasi tersebut mendapat dukungan Anggota Komisi Hukum DPR Eva Kusuma Sundari. Ia kuatir banyak generasi muda terjerumus aksi terorisme akibat kemasan pemberitaan yang mendukung aksi terorisme.
 
"Iya saya baca, bahwa ada website menurunkan semua argumen menghalalkan melawan negara. Dan itu aneh kalau Kominfonya diam saja. Urusan paha ditutup untuk pornografi, tapi urusan nyawa dibiarkan saja. Jadi memang pemerintah harus memfokuskan pada penindakan di hulu," demikian ungkapnya seperti dikutip KBR68H. Ia menambahkan bahwa penutupan harus dilakukan sesuai aturan. (MP)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger