"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Kenya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kenya. Tampilkan semua postingan

Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika

Written By Menara Penjaga on Senin, 15 Juli 2013 | 12:04

Jumpa pers presiden Senegal dan Amerika Serikat (foto: BCNN5).
AFRIKA (MP)  –  Dalam kunjungannya ke Benua Afrika, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menyinggung isu homoseksualitas di tengah sebuah jumpa pers dengan Presiden Senegal Macky Sall, 27 Juni lalu.

"Kami tidak siap dengan dekriminalisasi homoseksualitas," terang Mr. Sall dan menunjukkan bahwa ia dan masyarakat Senegal memiliki sudut pandang yang berbeda. Pernyataannya mendapat dukungan besar dari masyarakat dan media-media massa utama di negara itu.

Bahkan, banyak warga Senegal yang beranggapan bahwa presiden mereka seharusnya lebih tegas. "[Presiden] seharusnya mengatakan, 'Itu tidak pernah bisa eksis di Senegal, itu tidak bisa terjadi di sini'," ujar Tidiane Gueye, warga ibukota Senegal, Dakar, kepada New York Times.

"Senegal adalah 95 persen Muslim," tambah Gueye. "Sebagai negara muslim, kami tidak akan mengizinkan hukum yang memungkinkan pelaku hubungan sejenis untuk menikah."

Seorang pensiunan perwira militer Bouramon Ndour memuji pendirian Mr. Sall dalam menyikapi Mr. Obama. Berbicara tentang homoseksualitas, warga Senegal ini mengatakan bahwa "tidak orang di sini yang dapat menerima hal itu...kami menentangnya dengan keras. Lihat, ini adalah negara Muslim. Langkahi mayat kami dulu!"

Tanggapan yang sama datang dari para pemimpin Kenya. Wakil Presiden William Ruto berbicara di sebuah gereja Katolik pada Minggu 30 Juni, mengatakan bahwa bagi mereka yang menerima homoseksualitas, seperti Mr. Obama, itu adalah "urusan mereka. Kami percaya pada Tuhan." Ia menambahkan bahwa "bangsa Kenya adalah bangsa yang takut akan Allah."

“Lupakan, lupakan, lupakan,” ucap Uskup Agung Nairobi, Kardinal John Njue, kepada Mr. Obama menyangkut legalisasi praktek hubungan sejenis di Afrika.

"Saya pikir kita perlu bertindak sesuai dengan tradisi sendiri dan iman kita," katanya. Berbicara tentang Amerika, Kardinal Njue mengatakan bahwa "orang-orang tersebut yang telah merusak masyarakat mereka ... janganlah mereka menjadi guru kami untuk memberitahu kami ke mana harus pergi."

Sheikh Saliou Mbacke, seorang pemimpin Muslim di Senegal, mengatakan bahwa pemimpin agama di seluruh Afrika memiliki kewajiban untuk berbicara menentang praktek hubungan sejenis, terutama jika ada tekanan untuk membuat rakyat Afrika mengubah pandangan mereka.

"Masalah praktek hubungan sejenis tidak boleh digunakan sebagai alat untuk memeras dan memaksa masyarakat untuk menentang perintah Allah, yang lebih penting daripada kekuatan dunia," katanya. "Kami akan menentang cara paksaan apapun yang mengancam kami untuk menerimanya dalam masyarakat kami."

Di Tanzania, Uskup Anglikan Michael Hafidh mengatakan bahwa sebagian besar para pemimpin Afrika lebih suka Mr. Obama menyimpan pendapatnya tentang praktek hubungan sejenis untuk dirinya sendiri dan fokus pada isu-isu ekonomi yang dihadapi benua Afrika.

Masalah hubungan sejenis "bukan merupakan masalah penting bagi kami sekarang," katanya. "Kami tidak mengakui atau bahkan memikirkan hal itu, apalagi melegalisasinya. Saya pikir karena kita memiliki banyak sumber daya, diskusi kami dengan segenap bangsa lain harus lebih menyangkut investasi dan perdagangan."


Sebanyak 38 negara di seluruh Afrika, di mana agama-agama mayoritas adalah Islam dan Kristen, memiliki hukum yang melarang perilaku homoseksual. (BCNN5)


Terkait: 




Memahami agenda Mr. Obama dan kepincangan sekularisme

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 06 Juli 2013 | 01:07




KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.

Bagi yang kurang teliti, ia bisa nampak sebagai seorang yang hendak membela martabat kaum yang lemah, yang perlu perlindungan, dan yang terpinggirkan. Dan memang demikian ia ingin dilihat.

Namun, jika dipikirkan dengan kritis, ia sebenarnya sedang memaksakan sebuah ideologi yang bertentangan dengan akar budaya dan agama Afrika, yaitu sekularisme (hurufiahnya “paham penduniawian”).

Dengan memaksakan sudut pandang yang dianutnya (dan sebagian masyarakat AS) kepada warga masyarakat di negara-negara yang menyambutnya sebagai seorang tamu kehormatan, ia telah melakukan pelecehan secara terang-terangan.

Mr. Obama dengan wibawanya hendak menunjukkan kepada negara-negara yang menerimanya sebagai tamu (dan tentu saja dunia) bahwa ia seorang yang peduli dengan para pelaku dan praktek hubungan sejenis dan bahwa sikap negara-negara Afrika terhadap pelaku dan praktek hubungan sejenis adalah salah.

Walaupun orang sering dibingungkan antara kedua hal ini: praktek hubungan sejenis dan orang yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, namun keduanya berlainan dan harus dibedakan.

Orang yang tidak bisa membedakan kedua hal ini akan dengan mudah menerima doktrin agama Presiden AS. (Disebut “agama” karena ideologi sekularisme bertujuan menjadi dasar pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dari sebuah masyarakat.)

Baik masyarakat Senegal yang mayoritas Muslim maupun Kenya yang mayoritas Kristen, praktek hubungan sejenis adalah ilegal. (Mr. Obama tidak mengunjungi Kenya, tetapi tanggapan mengenai aktivitasnya di Senegal, Afrika Selatan, dan Tanzania turut datang dari negara kelahiran ayahnya ini.)

Apa artinya bahwa praktek hubungan sejenis di negara-negara ini (kecuali Afrika Selatan) adalah ilegal?

Itu berarti bahwa hukum di kedua negara Afrika ini mengambil posisi sesuai sudut pandang norma masyarakat yang melekat dalam tradisi kebudayaan, agama, dan kompleksitas ilmu pengetahuannya, dan menolak praktek ini sebagai hal yang tidak sah, yang tidak normal atau moral, dan tidak bisa dipromosikan sebagai sesuatu hal yang baik bagi masyarakat.

Dengan demikian negara sebagai wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk mengatur dan memerintah mengambil sikap yang sama dan menjalankan peraturan yang tidak hanya menjamin hak dan kewajiban semua anggota masyarakat, tanpa membeda-bedakan kemanusiaannya, tapi juga menjaga kelanggengan aspirasi budaya dan agama yang berkeadilan dan etis.

Ketika Presiden AS mengatakan bahwa ia menghormati sudut pandang pribadi (ciri-ciri gerakan sekularisme adalah menciptakan dikotomi antara individu dan masyarakat), dan iman pribadi masing-masing (menciptakan dikotomi antara agama dan non-agama/sekuler), ia sedang menggoda masyarakat untuk berpikir bahwa sudut pandang agama dan pribadi masyarakat Afrika tersebut tidak pantas diterapkan dalam kebijakan sebuah negara.

Baginya yang tepat adalah pandangan pribadinya dan sebagian masyarakat AS bahwa praktek ini harus mendapat keluasan dalam masyarakat sehingga dapat dilakukan oleh mereka yang mau melakukannya sebebas-bebasnya, bahkan mendapat tunjangan dari pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah dan dipromosikan lewat kegiatan-kegiatan seperti pawai homoseks di New York atau San Francisco.

Gagal mengikuti resepnya ini, mengikuti logika kata-katanya, berarti sebuah pemerintahan melakukan diskriminasi.

Kata “diskriminasi” telah menjadi senjata ampuh terhadap mereka yang gagal memahami kompleksitas masalah ini, dan juga tampak menjadikan Mr. Obama sebagai seorang pembela hak asasi manusia (HAM).

Namun jika dilihat keadaan di negerinya sendiri, mereka yang menolak mengafirmasi gaya hidup homoseksual harus mengalami diskriminasi oleh karena peraturan yang dibuat dari sudut pandang yang tidak mengakomodasi HAM untuk kebebasan beragama.

Inilah kebohongan dalam agenda presiden Obama, bahwa dalam berbicara tentang melawan diskriminasi, sekularisme yang hendak dipaksakannya jelas-jelas melakukan diskriminasi. Mereka yang tidak mau menerima praktek yang ditolak agama dan budaya dunia pada umumnya ini akan mengalami diskriminasi.
Jadi nampaklah di depan mata kita dua sistem yang berbeda: Yang satu berdasarkan pemahaman manusia akan kodrat dan agama, yang lain menolak dan menempatkan kebebasan manusia di atas segala-galanya.
Yang pertama akan mengiring pada keteraturan dan kebebasan yang sebenarnya, sedang yang lain akan menuntun pada kekacauan (chaos) dan perhambaan.

Mr. Obama harus lebih berani mengakui agenda sekularismenya. Paling tidak jujurlah bahwa pencitraannya sebagai pembela HAM hanyalah topeng belaka.

Kalau tidak ia hanya menambah bukti bahwa sekularisme adalah agenda yang tidak jujur. Melihat contoh di AS, pelajaran agama tidak diperkenankan diajarkan di sekolah negara. Itu karena dikatakan sekolah negara adalah tempat non-agama/sekuler; harus bebas dari pelajaran agama. Berdoa pun dilarang.

Namun di sekolah-sekolah ini para pelajar dicecok dengan materialis Darwinisme yang berpangkal pada ajaran anti-theis (anti-agama) bahkan dalam perkembangannya sekarang praktek hubungan sejenis diajarkan sedini TK (taman kanak-kanak).

Jadi jelaslah, agenda Mr. Obama bukan untuk membela kaum yang lemah, bukan pula sekedar untuk membantu masyarakat Afrika yang terus menderita akibat efek jangka panjang kolonialisme. Ia menawarkan sekularisme, dan para pemimpin Afrika yang pintar telah dengan terang-terangan mengungkapkannya: Kami menghargai bantuan Anda, tapi [kami] takut akan Allah.

1373045939186927054

Keprihatinan dan kegilaan yang sedang terjadi di dunia: Dari Mesir, Suriah sampai Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 05 Juli 2013 | 14:37

MP -- Masyarakat internasional sedang merasa prihatin. Berikut sorotan MP seputar situasi di Suriah, Mesir, Sub-Sahara Afrika, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Indonesia.

Suriah
Krisis berkepanjangan di Suriah telah memakan korban lebih dari 100.000 orang (6000 adalah anak-anak), dan masih tak nampak ujung penyelesaiannya.

Dimulai dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan, aspirasi rakyat untuk hidup yang lebih baik berubah menjadi kematian dan tragedi yang menelan korban jiwa, materi, dan masa depan Suriah.


Sementara Rusia menyalurkan senjata atas klaim “perjanjian legal dengan pemerintah yang legal,” beberapa negara Barat dengan terang-terangan mendukung pemberontak, atau yang disebut “oposisi.”

Kardinal John O. Onaiyekan dari Nigeria dengan prihatin berkata, “Ini dunia gila.”

Suriah dijadikan lapangan sepak bola politik global. Di kota dan di desa, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, komunitas Muslim dan (terutama) komunitas Kristen, menjadi rumput-rumput malang yang terinjak-injak; yang hancur dan mati.

Tapi memang, sekalipun banyak pemain asing yang datang, para pemain utamanya adalah warga Suriah sendiri. Mereka yang berkomitmen untuk menjaga tanah airnya dalam wadah militer dan mereka yang ingin membangun Suriah (namun tidak setuju dengan kepemimpinan presiden Bashar al-Assad). Itu sebabnya konflik ini dinamakan “perang sipil” (perang antara mereka sendiri).

Mesir
Kegilaan juga telah muncul di Mesir.

Setelah demonstrasi yang mengiring mundurnya Hosni Mubarak, rakyat Mesir seperti melihat fajar baru di alam demokrasi. Terpilih secara konstitusional Muhammad Mursi sebagai presiden.

Presiden terpilih Mesir, Muhammad Morsi.
Dikudeta.
Namun didukung oleh Muslim Brotherhood membuatnya kurang populer (di dunia Barat), dan nampaknya juga melakukan langkah-langkah yang kurang populer. Ia dianggap sebagai seorang “Islamis,” dan itu sepertinya dianggap tidak baik.

Sebelum militer Mesir melakukan coup d'etat (kudeta) terhadap pemimpinnya (apakah ini tidak gila?), berbagai media, terutama yang berkiblat ke Barat, telah memperguncingkan Mesir di antaranya dari 'sudut' masyarakat Kristen Koptik, seakan-akan Muslim dan Kristen sama sekali tidak bisa akur di awal sebuah "revolusi." 

Yang paling menyedihkan di sini adalah kegagalan militer untuk menjaga konstitusi dan keamanan masyarakat Mesir, sekalipun dalam pidatonya Jendral Sisi mengatakan bahwa apa yang dilakukan militer adalah membawa aspirasi rakyat.

Apakah Jendral Sisi bingung membedakan aspirasi dan fungsi? Hal ini mengundang resiko kritik pelajar kritis ketika sejarah diajarkan di sekolah-sekolah nanti, sekalipun pemuka al-Azar dan Gereja Kristen Koptik berdiri mendukung. 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon adalah orang yang kritis, karena itu ia prihatin.

“Rakyat Mesir telah menyuarakan rasa frustrasi yang dalam serta keprihatinan yang sah lewat aksi protes mereka. Namun pada saat yang sama, intervensi militer dalam urusan kenegaraan adalah sebuah keprihatinan,” ungkap Eduardo del Buey, juru bicara PBB.

Sejauh ini yang perlu ditangisi adalah sekitar 91 perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual sampai pemerkosaan (mengingatkan Tragedi Mei 1998) di Tahrir Square. Belum dihitung jumlah korban tewas yang akan menambah jumlah 846 yang meninggal pada "revolusi" yang pertama.

"Revolusi" yang berikut-berikutnya mungkin masih akan datang jika kebijakan Mesir (dan Suriah, Libia, dst.) masih belum sepenuhnya memperhitungkan (atau mengakomodasi) kepentingan luar.

Tapi bagaimana pun, berbicara tentang Mesir, ini adalah kisah rakyat Mesir, dan biar mereka yang menilai kisah mereka sendiri. Termasuk tentang bagaimana militernya menahan para jurnalis dan menutup kantor berita seperti Al Jazeerah di tengah-tengah sebuah pergolakan. 

Sub-Sahara
Skip Libia, kita ke Afrika. Presiden Amerika Serikat membuat kejutan di tengah-tengah kunjungannya di benua yang mempunyai ikatan emosional dengan seorang Barack Obama. Ayah kandungnya berkewarga-negaraan Kenya.

Seperti biasa AS menunjukkan niatnya untuk membantu negara-negara Afrika yang masih berkembang setelah sejarah kolonialisme. Namun, kali ini sang presiden membawa juga agenda yang sementara menjadi polemik dan perpecahan di negaranya.

Di Senegal yang mayoritas memeluk agama Islam Mr. Obama menyudutkan Presiden Senegal, Macky Sall, dengan mengemukakan agenda homoseksualnya di depan sebuah konferensi pers. Presiden Sall menjawab bahwa masyarakatnya “toleran,” dan meminjam istilah non-akademik di Barat, “tidak homofobik.” “Kami memiliki tradisi yang berbeda,” ungkapnya.

Tanggapan datang dari Kenya, yang sekalipun punya sejarah dekat dengan sang presiden, lagi tak masuk dalam daftar kunjungannya. Menanggapi agenda Mr. Obama, Wakil Presiden Kenya, William Ruto, di sebuah ibadah Minggu di antaranya menyebut “Kenya adalah negara merdeka dan takut akan Tuhan.”(Lihat video di sini.)

Uni Eropa
Sementara itu, hubungan AS dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini agak merenggang. Ini juga merupakan bagian dari kegilaan yang sedang terjadi, bahwa pemerintah AS (dicurigai) memata-matai negara-negara Eropa (entah negara-negara lain juga), termasuk warganya. Kasus ini telah membuat Prof. Mark LeVine menilai bahwa demokrasi di AS telah dikhianati dan bertanya jika demokrasi ini akan bisa bertahan. 

Banyak orang yang telah mendengar nama Edward Snowden. Ia dapat dikatakan adalah salah satu orang yang paling berani di dunia, jika ia betul-betul sadar dengan apa yang dilakukannya.

Snowden adalah seorang kontraktor IT yang sempat bekerja untuk badan keamanan dan intelejen AS. Prihatin dengan tingkat 'pengawasan' pemerintah terhadap rakyatnya dan negara-negara lain ia memutuskan untuk membuka rahasia pengawasan itu.

Untuk keberanian itu, ia sekarang menjadi buruan negara “super-power.” Negara yang akan menerimanya sebagai seorang pelarian harus dinobatkan sebagai negara yang menghargai hak asasi manusia. (Mungkin Ekuador.)

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia...?
Maksudnya, menyangkut perkembangan terbaru menjelang Pemilu 2014, serta keamanan dan ketentraman hidup di negara ini.

Isu-isu sensitif terus didengung-dengungkan saat ini. Orang tak perlu bertanya, karena sudah biasa mendengar. Masalah agama, suku, BBM, dsb. Kita perlu menyikapi secara kritis isu-isu seperti ini, jangan sampai masyarakat ditunggangi untuk diadu domba satu dengan yang lain. Korban yang paling menderita selalu adalah anak-anak.

Adalah lumrah jika sama seperti Kardinal Onaiyekan kita semua berharap supaya apa yang terjadi di Suriah (dan negara-negara lainnya), terhindar dari tanah air Indonesia. Ini bukan supaya kita menghindar dari bersikap kritis, namun justru dengan bersikap kritis, membela kepentingan rakyat, menjaga keamanan dan memajukan kehidupan bermasyarakat.


Dan marilah jangan pernah kita lupa bahwa meski pun beda agama maupun suku, di Negara Kepulauan ini kita semua bersaudara.***

Skisma besar membayangi Gereja Anglikan

Written By Ray Maleke on Selasa, 13 November 2012 | 05:01

Para uskup Gereja Anglikan mengunjungi Yerusalem dalam
rangka Global Anglican Future Conference (Gafcon) tahun
2008 (foto: Reuters/Ammar Awad).
KENYA, Nairobi (12 November 2012).

Para pemimpin Gereja Anglikan di Afrika menyambut penunjukan Justin Welby menjadi Uskup Agung Canterbury 9 November lalu dengan optimisme dan kehati-hatian. Mereka berharap pemimpin Gereja Anglikan ini dapat mencegah perpecahan yang sedang membayangi Gereja Inggris tersebut.

Profesor Jesse Mugambi, seorang Anglikan yang mengajar Agama dan Filsafat di Universitas Nairobi, mengatakan ia tidak melihat adanya sudut pandang yang berdasar pada doktrin, kitab suci, atau teologi dalam penunjukan itu.

"Gereja Inggris merupakan agama negara dari sebuah negara yang terang-terangan sekuler. Jadi saya tidak mengharapkan kriteria spiritual menentukan kandidat yang paling cocok untuk sebuah penunjukkan spiritual," ungkapnya seperti dilaporkan
The CS Monitor.1

Di Nairobi, pejabat Gereja Anglikan tetap menunjukkan sikap hati-hati. "Kami belum mau memberi komentar," kata
Canon Rosemary Mbogo, sekretaris provinsi Gereja Anglikan Kenya, ketika ditanya mengenai penunjukan itu.

Konferensi Lambeth

Gereja Anglikan sedang dilanda badai yang dapat memecahkan badan kapalnya menjadi dua bagian. Itu sebabnya, Uskup Agung Welby, pengganti Uskup Agung Rowan Williams yang akan pensiun akhir tahun ini, memiliki tugas yang sangat berat.

Pada Juli 2008, pertemuan Gereja Anglikan di London yang diselenggarakan per sepuluh tahun sekali, diboikot oleh para pejabat gereja dari Afrika sebagai protes atas pengangkatan uskup yang secara terbuka mengadopsi gaya hidup homoseks.2

Pengamat dari Gereja Ortodoks Rusia yang hadir pada waktu itu, Uskup Hilarion mengungkapkan,
"Komunitas Anglikan di ambang perpecahan.” Sejumlah 230 perwakilan dari Afrika memutuskan untuk memboikot Konferensi Lambeth sebagai ungkapan ketidaksetujuan terhadap kecenderungan liberal dalam Gereja Anglikan.3

"Skisma [di Gereja] Anglikan mencerminkan situasi di seluruh dunia Kristen. Polarisasi antara versi tradisional dan liberal Kristen menjadi lebih kentara dan saat ini Gereja Anglikan akan memutuskan antara dua pilihan," kata Uskup Hilarion.

Dua istilah yang kabur ini, tradisional dan liberal, telah menjadi konstruksi pemecah belah kekristenan hari ini.

Jika dilihat lebih seksama, seperti tercermin dari ungkapan Patriark Alexy II dari Gereja Rusia dalam forum itu bahwa para peserta "memikul tanggung jawab sejarah yang besar," karena mereka harus "memutuskan antara interpretasi moral Kristen yang sesuai dengan Alkitab dan tradisinya dan kecenderungan untuk menunjukkan kasih dan toleransi dengan cara menerima dosa dan sikap yang permisif."


Strategi pecah belah

Uskup Agung Welby, seorang mantan eksekutif perusahaan perminyakan, sebelumnya menjabat sebagai Uskup Durham, dan sekarang merupakan pemimpin sekitar 77-80 juta anggota di seluruh Anglikan Komuni. Setelah penunjukannya ia menjelaskan bahwa ia mendukung pernyataan gereja yang mengkritik rencana Pemerintah Inggris untuk melegalkan pernikahan sesama jenis.4

Pada saat yang sama, ia juga mengungkapkan perlunya mendengar dengan penuh perhatian terhadap para pelaku hubungan sejenis, yang memeliki ketertarikan seksual terhadap laki-laki dan perempuan, termasuk mereka yang mengganti jenis kelamin.

Menurut pemberitaan The New York Times, ia juga mengatakan dalam sebuah konferensi pers, "Kita tidak boleh memiliki muatan homofobia dalam bagian apapun dari gereja."5 “Homofobia” adalah terminus non-intellectus yang sering digunakan oleh aktivis homoseksualisme terhadap mereka yang tidak menyetujui agenda revolusi seksual masyarakat.

Selain isu pernikahan sejenis, Gereja Anglikan juga dilanda perpecahan atas isu pengangkatan uskup perempuan. Uskup Agung Welby yang baru-baru ini kehilangan seorang anak perempuannya, menyatakan akan mendukung ordinasi perempuan di Gereja Anglikan.

Isu apapun dalam gereja yang membawa perpecahan dan kepahitan harus diwaspadai, supaya dalam rangka pertumbuhan yang mensyaratkan perbedaan pendapat, jangan si Jahat mengambil kesempatan untuk menghancurkan gereja.

Sambutan dari Uganda

Dari Uganda, Pdt Canon George Bagamuhunda, sekretaris provinsi untuk Gereja Anglikan Uganda mengatakan bahwa mereka senang mendengar Welby adalah seorang yang "injili."

"Kami berjanji untuk memberikan doa dan bekerjasama dengannya sebagai pemimpin," kata Canon Bagamuhunda. Uganda merupakan provinsi terbesar kedua setelah Nigeria dalam hal jumlah keanggotaan dalam Gereja Anglikan.

Dalam pengamatan Canon Bagamuhunda saat sekarang ini adalah waktu yang menantang, tidak hanya dalam Gereja Inggris, tetapi juga di Komuni Anglikan dunia yang tetap terpecah karena interpretasi Kitab Suci. Dia menambahkan bahwa provinsinya akan mendoakan agar Welby "menetapkan supaya Firman Allah ditulis sebagai yang memiliki otoritas atas iman dan moralitas kita bersama."6***





1 Africa warms to new Archbishop of Canterbury Justin Welby, The CS Monitor (link). 
2 African bishops boycott world Anglican Church conference, APA-London (link).
3 Anglican Bishops world conference in UK is likely to result in the church schism, Inter-Fax (link).
4 Anglican Church’s New Leader Vows to Seek Reconciliation, The New York Times (link).
5 Anglican Church’s New Leader Vows to Seek Reconciliation, The New York Times (link); New archbishop of Canterbury shaped by Catholics, favors women bishops, Catholic News Service (link).
6 Africa warms to new Archbishop of Canterbury Justin Welby, The CS Monitor (link).

Penemuan fosil baru mengguncang dunia ilmu pengetahuan: Apakah evolusi betul?

Written By Menara Penjaga on Selasa, 14 Agustus 2012 | 01:36

Apakah perubahan spesies linear atau perbedaan spesies?
(Ilustrasi: theage)
Dr. Meave Leakey, seorang paentolog terkenal, bersama rekan-rekannya, mempublikasikan dalam sebuah artikel sains di majalah Nature (8/8) penemuan tiga fosil dalam taksonomi Homo (klasifikasi genus yang di dalamnya termasuk manusia) yang dapat merupakan sebuah perkembangan penting dalam memahami teori evolusi.

Penelitian ini menambah bukti-bukti yang menantang pandangan evolusi populer yang menganggap adanya evolusi linear dari primata awal sampai pada manusia modern, demikian dilaporkan BBC.

Penelitian yang dilakukan di Kenya antara 2007-2009 ini telah berhasil menemukan tiga fosil yang berusia antara “178 sampai 195 juta tahun.”

Penemuan ini, menurut laporan tersebut, mengkonfirmasi posisi KNM-ER 1470 (Homo rudolfensis) yang ditemukan tahun 1972, yang karena ketidak-utuhannya telah dipertentangkan oleh para ilmuwan apakah itu hanya merupakan salah satu abonormalitas dari spesies Homo yang telah ada atau merupakan spesies berbeda karena ukuran tengkorak dan adaptasi graham atau wajah.

“Dengan ini kami melaporkan penemuan terbaru dari fosil-fosil yang berusia antara 178 dan 195 juta tahun, yang menjelaskan status anatomi dan taksonomi dari KNM-ER 1470,” demikian ungkap tim peneliti dalam laporan itu. Penemuan fosil-fosil ini “menetapkan keberadaan dua spesies Homo awal dalam waktu bersamaan, di samping Homo erectus, pada masa Pleistosen di Afrika Timur.”

Teori evolusi telah menjadi salah satu sumber 'konflik' antara sains dan agama, sekalipun itu tidak berarti keduanya bertentangan. Para ilmuwan sendiri tidak pernah mempunyai satu kata mengenai evolusi yang seringkali dianggap sama dengan Darwinisme, yaitu pandangan bahwa ada transmutasi spesies (mis. dari kodok menjadi kucing, atau yang lebih terkenal, kera menjadi manusia). Darwinisme telah menjadi simbol dari gerakan agama non-theis (atheis/tanpa Tuhan), sehingga dikatakan sebagai doktrinal (naturalisme).

Mei lalu, Dr. Ben Carson, seorang ahli pediatric neuroesurgery (bedah saraf anak) di Johns Hopkins Hospital yang kisahnya difilmkan dalam Gifted Hands (2009), diundang untuk membawakan pidato pembukaan perkuliahan di Emory University, Atlanta, USA, di mana ia menyentil ketidak-setujuannya dengan teori Darwin. Menanggapinya, 500 dosen dan mahasiswa menanda-tangani sebuah surat protes. (Tanggapan Dr. Carson lihat di sini)

Berseberangan dengan itu, bulan Juni lalu, sebuah laporan dari Korea (Selatan) menyatakan sebuah rencana untuk mengeluarkan beberapa referensi mengenai evolusi dalam buku pegangan siswa. Hal itu bukan untuk mengeliminasi evolusi, melainkan “mengeluarkan kesalahan yang ada” mengenai teori evolusi, termasuk evolusi manusia, demikian diungkapkan Kelompok Revisi Buku Pegangan yang memotorinya. (lihat di sini)

Dalam sebuah poll 2012 di Amerika dikatakan bahwa hampir setengah dari masyarakatnya (46%) berpendapat bahwa manusia diciptakan Allah dalam keadaan seperti sekarang ini, 32% berpendapat bahwa manusia berevolusi dengan campur-tangan Allah, dan 15% berpendapat bahwa manusia berevolusi tanpa campur-tangan Allah. (lihat di sini)

Ilmuwan terkenal Richard Leakey May lalu berjanji bahwa tak akan lama bagi semua orang – termasuk mereka yang berpendapat bahwa penciptaan menjelaskan perkembangan manusia – akan menerima evolusi (Darwinisme). Entah apa tanggapannya mengenai penemuan fosil-fosil ini. (MP)

Pemuda Muslim Kenya siap mengawal gereja-gereja pada Hari Minggu

Written By Ray Maleke on Selasa, 10 Juli 2012 | 03:23

(gambar: BBC)
Para pemimpin Muslim di Kenya setuju untuk membentuk kelompok perlindungan untuk melindungi gereja-gereja menyusul serangan mematikan pada Minggu, demikian di laporkan BBC News.

15 Orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap dua gereja di Garissa, sebuah kota yang terletak dekat perbatasan dengan Somalia.

Para pimpinan agama Islam di Garissa mengutuk serangan itu dan menyerukan supaya hubungan antara Islam dan Kristen diperkuat.

Wilayah perbatasan Kenya menghadapi ketegangan sejak pemerintah mengirimkan pasukan untuk mengejar kelompok militan as-Shabab ke Somalia.

“Ada orang-orang di luar sana yang ingin menjadikan Kenya seperti Nigeria,” ungkap Wachu Adan, ketua dari Dewan Tertinggi Umat Muslim Kenya, “Tidak boleh dibiarkan perpecahan sektarian terjadi di negeri ini – siapa yang ingin melakukannya pasti akan gagal.”

Adan Wachu mengatakan bahwa dalam pertemuan Dewan Antar-Umat Beragama diputuskan secara bulat bahwa serangan terhadap gereja adalah tindakan “teroris dan terorisme.”

“Karena itu kami semua sepakat untuk bersama-sama bersatu,” ungkapnya.

“Kami memutuskan sebagai rasa kesetia-kawanan pemuda Muslim akan melakukan penjagaan terhadap gereja-gereja tidak hanya di Garissa tetapi juga di tempat-tempat lain di mana dipandang baik oleh umat Kristen.”

“Umat Muslim merasa karena umat Kristen adalah minoritas di wilayah ini maka mereka harus dilindungi dengan segala cara.”

Kebanyakan masyarakat yang tinggal di seputar Garissa adalah berkebangsaan Somalia dan memeluk agama Islam.

“Pemimpin umat Muslim di negeri ini, terlebih khusus di timur-laut Kenya, mengatakan bahwa mereka menawarkan umat Muslim untuk menjaga gereja-gereja, terlebih khusus pada hari-hari Minggu, saat umat Kristen pergi ke gereja dan berdoa,” ungkap Mustafa Ali, yang juga bagian dari Dewan Antar Umat Beragama, Kenya. “Kami tidak boleh sampai di mana umat Kristen menjadikan umat Islam sebagai target dan sebaliknya.”

“Kami mendukung langkah yang diambil oleh pemimin Muslim di Kenya...Apa yang diinginkan al-Shabab adalah menciptakan sikap bermusuhan antara umat Muslim dan Kristen,” ungkap Ali.

Oktober lalu, pasukan dari Kenya masuk ke Somalia untuk mengejar militan al-Shabab yang dituduh sebagai pelaku berbagai penculikan di Kenya dan mengacaukan situasi di wilayah perbatasan. Sejak saat itu, al-Shabab yang telah bergabung dengan al-Qaeda, dianggap sebagai pelaku serangkaian serangan dengan granat dan bom di Kenya. Belum ada tanggapan dari al-Shabab apakah mereka bertanggung jawab atas serangan mematikan Minggu itu. (BBC/themuslimintimes/MP)

15 Tewas 40 Luka-luka: Darah martir mengalir di Kenya

Written By Ray Maleke on Selasa, 03 Juli 2012 | 22:09

Salah seorang korban yang dibawah ke rumah sakit
(foto: WND)
KENYA, 2 Juli 2012.
Dua serangan dilakukan terhadap African Inland Church di Garissa, sebuah kota yang terletak 195 kilomoter sebelah barat perbatasan Somali. Komandan polisi Philip Ndolo mengatakan 15 orang terbunuh dan sedikitnya 40 orang luka-luka. Sebuah granat yang dilemparkan ke sebuah gereja lainnya mengakibatkan tiga orang luka-luka, demikian dilaporkan AP.

Dua orang bersenjata memasuki sebuah gereja berbahan kayu di kota Garissa pada hari Minggu pukul 10.15 pagi, sementara dua orang lainnya menunggu di luar. Mereka memberondong peluru ke anggota jemaat yang sementara beribadah, setelah sebelumnya menembak dua polisi yang sedang berjaga-jaga.

“Kami sedang berdoa khusuk dan dalam persiapan untuk memberi persembahan,” ungkap David Mwange, salah seorang anggota jemaat menuturkan kronologi peristiwa yang menyayat hati itu.

Walikota Garissa Ismail Garat menyebut serangan itu “jahat.”

“Kami tidak biasa menyaksikan tindakan demikian di negara kami, di mana orang-orang ditembaki di siang bolong. Kami sungguh-sungguh ingin tahu siapa orang-orang tak berhatinurani yang melakukan ini,” ungkapnya.

Ndolo menyatakan pada wartawan bahwa ia ingin menuduh siapa-siapa sebelum penyelidikan dilaksanakan. Masyarakat menyalahkan al-Shabab, kelompok militan dari Somalia, yang dianggap bertanggung jawab atas serangan itu.

Sumber dari pihak berwenang mengatakan bahwa gereja-gereja dekat perbatasan dengan Somalia sedang dijadikan target oleh militan Islam Somalia. Pernyataan seperti ini dapat mengirimkan pesan keliru bahwa agama dan para pemeluk agama adalah substansi masalah, sehingga mengaburkan kejahatan para pelaku yang telah lepas dari ajaran ke-Tuhan-an agamanya dan menimbulkan korban-korban tak bersalah.

Juru bicara Vatikan mengutuk serangan itu sebagai tindakan “keji” dan “memalukan” dan menekankan supaya orang Kristen diberikan haknya untuk merayakan imannya dan supaya tindakan yang hendak mengobarkan kebencian antara pemeluk agama dilawan.

Merebaknya tindakan kekerasan tak berperikemanusiaan yang diarahkan pada pemeluk agama menantang para pemimpin agama serta masyarakat pada umumnya untuk terus berkomunikasi dan berkonsolidasi untuk menjaga ketertiban hidup bersama, dan menjauhkan tindakan-tindakan yang mencoreng keberagamaan yang hakikatnya adalah menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. (Associated Press/bcnn5/MP)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger