"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Top Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Top Stories. Tampilkan semua postingan

Kontroversi Chick-fil-A: Antara iman dan ekonomi

Written By Ray Maleke on Rabu, 01 Agustus 2012 | 11:38

Di kalangan orang Kristen, pilihan ekonomi tak jarang dibuat tanpa pertimbangan keimanan. Namun dengan kontroversi Chick-fil-A, sebuah jaringan-restoran mirip KFC, banyak orang semakin sadar bahwa tindakan ekonomi dan iman adalah dua hal yang berkaitan.
USA -- Dua minggu yang lalu, pelaksana harian direktur utama Chick-fil-A, Dan Cathy, menyatakan bahwa restoran yang menyajikan burger ayam ini akan tetap menjunjung nilai-nilai kristiani termasuk pemahamannya tentang keluarga. Di Amerika Serikat, negara adidaya yang saat ini sedang berada di persimpangan jalan antara meniru Eropa Barat yang telah dikuasai oleh sekularisme atau kembali ke fondasi Kekristenan, tidak dapat tidak pernyataan semacam itu mengundang reaksi pro maupun kontra.

Organisasi-organisasi pro-homoseksualisme yang didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Ford (mobil), Hewlett-Packard (komputer), Kodak (kamera), Coca-cola (minuman), Nike (sepatu), Starbucks (rumah kopi), Oreo (biskuit), dan sederet merk terkenal lainnya (lihat di sini), termasuk Levi's (jeans) dan Google.com (Internet), langsung menyerukan boikot terhadap Chick-fil-A.

Eat chikin' no more,” (berhenti makan ayam) ungkap mereka. Chikin' adalah pelesetan dari kata Bahasa Inggris chicken (ayam) yang digunakan dalam iklan milik Chick-fil-A.

Dua walikota, yaitu Chicago dan Boston, telah mengatakan akan menolak restoran yang tidak beroperasi pada hari Minggu itu untuk dibuka di kota mereka.

“Nilai-nilai Chick-fil-A tidak sesuai dengan nilai-nilai kota Chicago,” demikian ungkap Rahm Emanuel, walikota Chicago, seperti dilansir Sun Times.

Ketua Penasihat Umum gereja The Assemblies of God, George Wood, menanyakan serangkaian pertanyaan sebagai respon terhadap ungkapan walikota Chicago yang merupakan tim kampanye Obama ini:

“Apakah Anda mengatakan bahwa umat Katolik tidak di-welcome di Chicago karena mereka tidak mengikuti 'nilai-nilai Chicago'? Bahwa umat Kristen Injili tidak di-welcome? Demikian dengan umat Muslim? Dengan umat Yahudi Ortodoks?

“Bahwa mereka yang keyakinan agamanya menyatakan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak punya 'nilai-nilai Chicago' sehingga dengan demikian tidak termasuk komunitas Anda? Apakah Anda bermaksud mendiskriminasi masyarakat beragama? Apakah Anda bermaksud memarginalisasi mereka? Apakah Anda, menurut pandangan Anda sendiri, sedang bersikap intoleran terhadap masyarakat beragama?” demikian dikutip charismanews.

Dalam laporan Sun Times, Rahn Emanuel, mempertahankan pernyataannya tersebut dan menolak meminta maaf. Hanya Thomas Menino, walikota Boston, yang kemudian menarik kata-katanya: “Mundur dari rencana kalian untuk memiliki lokasi di Boston,” ungkapnya seperti dikutip yahoonews.

Mike Huckabee (foto: charismanews)
Pernyataan Mike Huckabee

Menanggapi serangan pedas dari homoseksualis militan ini, Mike Huckabee, mantan gubernur Arkansas dan juga seorang penulis best-selling untuk NY-Times, mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan:

Keluarga Cathy, yang dipimpin oleh pendiri Chick-fil-A, Truett Cathy, adalah keluarga Kristen luar biasa yang berkomitmen untuk mengoperasikan perusahaannya menurut prinsip-prinsip alkitabiah dan yang ceritanya adalah benar-benar sebuah kisah sukses di Amerika. Dimulai pada usia 46, Truett Cathy membangun Chick-fil-A menjadi perusahaan beromset $4 milyar pertahun dengan lebih dari 1.600 cabang. Pada usia 91, dia masih aktif di perusahaannya, tapi anaknya Dan adalah pelaksana harian direktur utama perusahaan. Ini adalah kisah Amerika yang hebat yang dikotori oleh ungkapan kebencian dan fanatisme intoleran dari pihak kiri.

"Perusahaan Chick-fil-A menolak untuk beroperasi pada hari Minggu supaya karyawan mereka dapat pergi ke gereja jika mereka menginginkannya. Meskipun mal, bandara dan dunia usaha menekan perusahaan untuk buka pada hari Minggu, keputusan ini dipertahankan. Mereka memperlakukan pelanggan dan karyawan dengan rasa hormat dan penghargaan.

"Pendukung homoseksual militan telah meluncurkan serangan terhadap Dan Cathy dan Chick-fil-A, mendorong pemboikotan karena keluarga Cathy telah memberikan kontribusi terhadap organisasi yang mendukung pernikahan menurut tradisi. Upaya untuk menyakiti atau menghancurkan Chick-fil-A tidak kurang dari sebuah pengancaman ekonomi.

"Mengatas-namakan 'toleransi', ada upaya dilakukan untuk menekan orang-orang supaya berhenti makan di Chick-fil-A. Lebih buruk lagi adalah upaya menjelek-jelekan perusahaan dan karyawannya. Pandangan Kristen yang dimiliki Dan Cathy telah disikapi dengan sikap intoleransi dan ungkapan kebencian yang kejam.”

Lebih jauh Huckabee, sambil menekankan bahwa pihak perusahaan maupun keluarga pemilik tidak berkaitan apa-apa dengan pernyataannya ini, mengajak masyarakat untuk makan di Chick-fil-A sebagai bentuk dukungan bagi “sebuah bisnis yang beroperasi atas dasar prinsip-prinsip Kristen dengan pemimpin yang berani mengambil sikap untuk mempertahankan nilai-nilai kesalehan.” Ia mengajak untuk makan di Chick-fil-A pada hari Rabu 1 Agustus.

“Terlalu sering, mereka yang berhaluan kiri membuat pernyataan bersama untuk mendukung 'pernikahan' sesama jenis, pembunuhan bayi (aborsi) atau ketidak-senonohan, tetapi jika orang-orang Kristen menegaskan nilai-nilai sesuai tradisi [Kekristenan], kita dikatakan 'homofobia', fundamentalis, pembenci, dan intoleran,” ungkapnya dalam pernyataan itu.

Sekretaris Negara AS, Hillary Rodham Clinton
(foto: AP photo/ J. Scott Applewhite via theblaze)
Penyebaran doktrin homoseksualisme

Sementara itu, upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat di Asia, Afrika, dan di belahan dunia lainnya terus dilakukan lewat media-media atau 'LSM-LSM' yang berhaluan sama atau yang telah dibeli oleh gerakan sistematik homoseksualisme yang tak hanya ditunjang dana yang besar tapi juga kekuatan politik. Tak kurang dari administrasi pemerintah Inggris dan Amerika saat ini yang telah menyatakan bahwa bantuan luar negeri mereka turut ditentukan oleh penerimaan atas hubungan sesama jenis.

Militansi gerakan homoseksualisme tak hanya menguatirkan masyarakat beragama, tetapi juga para homoseks sendiri. Senator Ted Lieu baru-baru ini mengusulkan sebuah RUU di senat negara bagian California, USA, yang didalamnya dicantumkan: “Tidak boleh dalam situasi apapun penyedia perawatan kesehatan mental melibatkan diri dalam upaya merubah orientasi seksual dari pasien umur 18 tahun ke bawah, sekalipun dengan persetujuan pasien, orangtua pasien, penjaganya, walinya, atau orang lain untuk menempuh upaya itu.” (Lihat selengkapnya di sini.)

Marisa Lobo, seorang psikolog, menentang kebijakan seperti ini di Brazil. Lobo melihat bahwa larangan untuk melakukan terapi reparatif bagi yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis “melanggar kebebasan pribadi seorang pasien” dan sebagai seorang ahli jiwa ia harus “mendengar penderitaan psikologi” ketika seorang homoseks ingin merubah orientasi seksualnya. Saat ini terapi ini dilarang oleh Federal Council of Pscyhology (CFP) Brazil. Pernyataannya telah menuai kritik dari organisasi ini, dan Lobo sendiri beresiko kehilangan ijin prakteknya. (Lihat selengkapnya di sini.)

Topik tentang homoseks telah mengganggu pikiran banyak orang Kristen pada akhir-akhir ini. Pada kenyataannya hal ini adalah kenyataan hidup yang harus disikapi dengan bijaksana dan terlebih lagi, dengan belas kasih. Gereja perlu menjadi “tempat utama di mana orang beriman mencari dukungan, penghiburan dan pemuridan seiring mereka membuat keputusan untuk hidup menurut prinsip-prinsip Kristen.”

Ungkapan organanisasi Exodus dapat menjadi titik refleksi bagi gereja yang berusaha untuk mengikuti Kepalanya, yaitu Yesus Kristus. “Kami percaya mengenai padangan yang berpusat pada Injil, maksudnya bahwa semua orang, tanpa peduli akan pergumulan pribadi masing-masing, dapat mengalami pembebasan dari kuasa dosa lewat hubungan dengan Yesus Kristus setiap hari, komitmen terhadap firman Tuhan, dan dengan menjadi bagian dari sebuah komunitas orang percaya yang bersemangat, terbuka, dan relasional yang terdapat di gereja setempat.”

Umat Kristen saat ini diperhadapkan dengan situasi dunia yang semakin tak bersahabat, sekaligus menempatkan kita pada pilihan-pilihan yang menuntut sikap etis kristiani. Pergunakanlah hikmat dari Allah dalam setiap tindakan iman kita, baik dalam ekonomi, politik, bahkan seluruh kehidupan kita dengan berlandaskan iman, pengharapan, dan kasih, serta dengan mengingat pesan firman: "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu... (Yohanes 15:18). Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yohanes 16:33).***

Seorang ibu dan pengusaha sukses: Yesus mengasihi perempuan dan menghormati mereka

Written By Menara Penjaga on Selasa, 31 Juli 2012 | 07:13

Kathy Irland (foto: christianpost)
Seorang supermodel yang kemudian menjadi pebisnis sukses, Kathy Ireland, adalah orang pertama yang akan memberitahu Anda bahwa awal karier modelingnya di Paris terdengar lebih glamor daripada yang sebenarnya. Tapi dari kesepian dan saat sulit yang ia alami saat itu, hidupnya berubah selamanya karena ia menemukan sahabat terbaru yang terbaik: Yesus Kristus.

Menempati sebuah ruangan yang disebut teman serumahnya sebagai "penjara bawah tanah," gadis Irlandia berusia18 tahun itu menemukan bahwa ibunya yang baru-baru menjadi Kristen secara diam-diam telah menaruh sebuah Alkitab dalam kopernya. Mencoba mengatasi jet lag (rasa lelah oleh karena perjalanan jauh dan penyesuaian dengan waktu yang berbeda, red), kesepian dan kebosanan selama hari pertama di Paris, Ireland membaca Alkitab yang ditaruh ibunya dalam tasnya.

"Aku mengambilnya dan secara acak membuka Injil Matius. Dan ketika saya membacanya, hidup saya selamanya berubah, " ungkap Irland dalam video baru "I Am Second." "Aku adalah seorang remaja pemberontak. Aku mempertanyakan otoritas – siapa yang benar-benar tahu kebenaran itu? Siapa yang benar-benar tahu apa yang benar dan apa yang salah, siapa yang berhak mengatakannya? Dan aku tahu bahwa apa yang kupegang di tanganku adalah kebenaran."

Kathy Irland, sekarang sebagai direktur utama perusahaan beromset USD 1,4 milyar, Kathy Ireland Worldwide, berbagi bahwa sebagai seorang anak ia pergi ke gereja di mana pendetanya sering berteriak dan dia tidak merasakan kasih Allah. Tetapi ketika ia membaca Alkitab untuk pertama kalinya pada umur 18, ia terkejut bahwa Yesus sama sekali tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya.

"Dia (Yesus) tidak mengutuk, Ia tidak meneriaki. Dia mencintai dan memimpin," katanya dalam video itu. "Dan khususnya sebagai seorang perempuan muda yang untuk pertama kalinya berada di dunia yang sering terasa seperti didominasi oleh laki-laki dengan karakter yang dipertanyakan, hal itu memberi saya rasa tenang mengetahui bahwa Yesus mengasihi perempuan dan menghormati mereka. Dan Yesus Kristus menjadi Tuhanku, Juruselamatku, teman terbaikku."
Meskipun Irland terus membaca Alkitab dan Yesus tetap menjadi bagian dari hidupnya setelah itu, dia mengakui dengan penyesalan bahwa dia tetap merupakan seorang "bayi Kristen" untuk waktu yang lama. Dia membaca ayat-ayat yang dia suka berulang kali, dan memilih untuk mengabaikan bagian-bagian yang dia tidak suka sebagai kesalahan ketik atau tidak berlaku padanya.
"Ya, jika kau bertanya padaku, aku adalah seorang Kristen. Dia (Yesus) berada dalam hidupku. Aku mencintainya. Aku punya Dia. Tetapi aku berusaha untuk membentuk Allah menjadi apa yang kumau, daripada mengijinkanNya untuk membentuk saya menjadi orang yang Ia maksudkan," katanya.

Bahkan setelah ia membiarkan Allah membentuk dirinya sesuai apa yang Ia pandang baik, dia masih bergumul dengan sifatnya yang terlalu mengandalkan diri sendiri dan "gila kontrol." Beberapa tahun yang lalu dalam sebuah retret wanita, Irland merasa Allah menunjukkan padanya ketika dia sementara berdoa: "Kau berkata bahwa Aku adalah prioritas utamamu, tapi tidak demikian." Dia mengakui bahwa dimulutnya iman adalah prioritas pertamanya, baru keluarganya. Namun dalam kenyataannya, anak-anaknya adalah prioritas utamanya.

"Dan apa pun yang menghalangi kita kepada Allah adalah sebuah berhala, bahkan jika itu adalah sesuatu yang baik," kata ibu dan istri yang baik ini.

Pada saat itu ia berdoa kepada Allah tentang kesulitannya, "Dengan tiga anak yang berbeda usia, kebutuhan yang berbeda, bisnis, aku hanya merasa ditarik ke semua arah. Dan aku berkata, 'Aku tidak tahu bagaimana.' Dan Dia berkata, 'Percaya tentang ini. Jadikan Aku yang pertama dan Aku akan memberikan padamu lebih banyak waktu dengan anak-anakmu. Aku akan memberimu waktu yang lebih berharga bersama dengan anak-anakmu'.
"Dan Dia begitu setia. Dia hanya begitu setia. Bagiku, aku baru mulai bangun lebih awal dan meluangkan waktu bersamaNya. Dan itu mulai secara bertahap dan sekarang saya merasa tak bisa cukup."

Supermodel yang menemukan iman Kristen pada umur 18 ini menyimpulkan, "Ketika orang bertanya kepada saya apakah tujuan Anda, (jawaban saya adalah) tujuan saya dalam hidup adalah untuk tumbuh lebih dekat kepada Yesus setiap hari. Untuk mengikuti tuntunan-Nya bagi saya. Untuk tinggal di jalan-Nya. Untuk taat. Sehari demi sehari."

Irland adalah selebriti terbaru yang berbagi cerita imannya di “I Am Second,” sebuah website yang memuat kesaksian selebriti dan orang-orang biasa dalam bentuk film. Selebriti lainnya yang telah berbagi kesaksian mereka di antaranya adalah Texas Rangers
outfielder
Josh Hamilton, mantan anggota band Korn, Brian "Head" Welch, surfer terkenal Bethany Hamilton dan peraih medali emas Olimpiade, Scott Hamilton.
Website telah dikunjungi hampir 8 juta pengunjung dari 219 negara/kawasan sejak diluncurkan pada Desember 2008. (
ChristianPost)

Video kesaksian Kathy Ireland dapat dilihat di sini.

Surat Billy Graham: Jika Allah tidak menghukum Amerika...

Written By Menara Penjaga on Senin, 30 Juli 2012 | 21:03

Pdt. Billy Graham (foto:urbanchristiannews)
USA (Christian Post, 26/7/12)
Pdt. Billy Graham menulis sebuah surat-doa baru-baru ini di alamat web-nya untuk masyarakat Amerika yang mengatakan bahwa ia sangat kuatir tentang bagaimana Tuhan memandang kerusakan yang diakibatkan oleh gaya hidup orang-orang di Amerika.

Penginjil terkenal dari North Carolina,USA, ini memulai suratnya itu dengan sebuah kejadian beberapa tahun yang lalu ketika istrinya, Ruth, masih hidup. Waktu itu Ruth mengatakan “Jika Allah tidak menghukum Amerika, Ia harus meminta maaf pada Sodom dan Gomora,” yaitu dua kota dalam Perjanjian Lama yang dihancurkan Allah oleh karena dosa yang dilakukan penduduknya.

"Aku bertanya-tanya apa yang Ruth pikirkan tentang Amerika jika dia masih hidup hari ini. Sejak waktu ia membuat pernyataan itu, jutaan bayi telah dibunuh (aborsi) dan sebagian besar orang tampaknya tidak peduli. Kesenangan yang berpusat pada diri sendiri, kesombongan, dan kurangnya rasa malu atas dosa sekarang menjadi lambang gaya hidup Amerika," ungkapnya.

Pendeta yang telah berumur 93 tahun ini pun menunjukkan berbagai kejadian baru-baru ini yang menunjukkan bagaimana masyarakat dan pemerintah Amerika secara keseluruhan mengecilkan orang-orang Kristen – termasuk kejadian di mana para pendeta yang melayani di kepolisian disuruh untuk tidak lagi mengatakan namaYesus dalam doa mereka.

"Masyarakat kita berusaha untuk menghindari kemungkinan menyinggung siapapun –kecuali Allah," katanya. "Namun semakin kita menjauh dari Allah, semakin dunia menjadi tak terkendali."

"Hatiku sakit untuk Amerika dan orang-orangnya yang tersesat," lanjut Pdt. Graham. "Berita yang luar biasa adalah bahwa Tuhan kita adalah Allah rahmani, dan ia mendengar pertobatan. Pada waktu Yunus, Niniwe adalah satu-satunya negara adidaya, tidak peduli, dan egois. Ketika Nabi Yunus pada akhirnya pergi ke Niniwe dan menyatakan peringatan Allah, orang mendengar dan bertobat."

Walapun dengan kondisi kritis Amerika yang ia lihat saat ini, Pdt. Billy Graham masih memandang harapan di masa depan. Ia percaya bahwa orang-orang masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan mengubah cara hidup mereka. Berbagi tentang rencana kedepan untuk pelayanan, ia mengungkapkan tentang sebuah kegiatan penginjilan yang akan dikerjakan oleh anaknya, Franklin Graham, yang disebut “Harapanku bersama Billy Graham.” Even ini ditujukan untuk menyampaikan berita Injil di seluruh Amerika pada tahun depan.

“Kami bekerja bersama-sama dengan gereja-gereja setempat,dan gereja-gereja tersebut telah melaporkan jutaan orang membuat keputusan untuk Kristus yang mengubah hidup mereka. Melakukan penjangkauan lewat pekabaran Injil ini di seluruh Amerika merupakan pekerjaan yang sangat besar, tapi dalam roh saya tahu bahwa Allah telah memanggil kita untuk melakukannya, dan saya berdoa Ia akanmenggerakkan hatimu untuk bergabung dengan kami dalam doa dan dukungan,” ungkapnya. Pelayanan mereka telahmencapai lebih dari 50 negara di seluruh dunia. (MP)

Kunjungan Kanselir Jerman: Mahfud MD salah paham?

Written By Ray Maleke on Jumat, 13 Juli 2012 | 05:19

Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD dan
Kanselir Jerman, Angela Merkel (foto: ucanews&dealbreaker)
“Semenjak ada MK, kebebasan individu ateis dan komunis bebas menjalankan apa yang dianutnya di Indonesia. Tapi, mereka tidak boleh mengganggu kebebasan orang lain, terutama orang yang menganut agama tertentu. Kebebasan harus dianggap sama,” demikian ungkap Mahfud MD, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), di sela-sela konferensi pers kunjungan Angela Merkel (Kanselir Jerman) di MK, Jakarta, Selasa (10/7) seperti dilansir kompas.com.

Ada kesan bahwa pernyataan Mahfud MD ini, yang katanya didorong oleh pertanyaan eksplisit Kanselir Jerman “yang menyinggung kebebasan beragama dan proses demokratisasi di Indonesia,” telah disalah pahami. Atau, jika tidak, bisa-bisa Mahfud MD yang salah paham.

Sebab dilaporkan juga bahwa “pelarangan atas keberadaan individu ateis ataupun komunis adalah sama saja dengan melanggar upaya penegakan HAM dan demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia” (ucanews.com).

Memang masalah HAM dan demokratisasi ini banyak juga disalah pahami, namun tidaklah benar ada yang melarang keberadaan individu di Indonesia apakah komunis atau ateis. Yang ada justru sebaliknya, yang masih dilarang itu adalah orang beribadah.   

Apa memangnya yang dimaksud dengan HAM?

Sebagai contoh, poligamy. Apakah poligamy merupakan hak asasi manusia? Di hampir semua negara Arab poligamy diperbolehkan dengan syarat-syarat tertentu. Seorang yang dapat memenuhinya berhak untuk mempraktekkannya. Bukankah ini juga bagian dari yang disebut HAM? (Istri-istri kemungkinan besar akan keberatan.)

Jika Anda datang dari negara yang secara hukum melarang poligamy, maka jawaban Anda kemungkinan besar adalah bahwa itu bukanlah HAM. Di Kanada poligamy dilarang atas dasar bahwa definisi hukum dari pernikahan menurut tradisi Kekristenannya adalah penyatuan sukarela antara seorang perempuan dan seorang laki-laki.

Namun ketika negara ini mengubah definisi pernikahan menjadi juga untuk pernikahan sesama jenis, pertanyaan tentang legalisasi poligamy juga turut mengemuka. Jika pernikahan sesama jenis bisa, mengapa poligami, poliandri, multi-poligami-poliandry, dsb tidak bisa?

Jadi muncullah pertanyaan tentang HAM itu. Memang HAM dapat dikatakan mengandung nilai-nilai yang universal (seperti hak hidup, hak mendapat pendidikan, hak untuk merdeka, dsb), namun dalam prakteknya di masing-masing tempat dan waktu, ada worldview (weltanchauung) yang selalu melatar-belakangi pemikiran-pemikiran dan tindak-tanduk manusia yang hidup dalam kesatuan hukum dan politik.

Itu sebabnya, tuntutan penyeragaman konsep praktikal HAM dapat bertentangan dengan hakikat HAM itu sendiri.

Demikian dengan demokrasi. Apakah demokrasi itu harus selalu didefinisikan menurut bentuk dan pemahamannya di negara-negara Barat, atau mungkin lebih khusus di Jerman?

Apakah demokrasi berarti menerima ateisme, komunisme, redefinisi pernikahan, atau juga barangkali pelarangan penyunatan anak laki-laki yang baru-baru ini diputuskan oleh pengadilan di Jerman?

Yang perlu dibedakan adalah praktek dan legitimasi. Ini yang mungkin ingin disampaikan Mahmud MD, tapi mungkin karena sedikit kuatir menyinggung Kanselir, itu sebabnya dibahasakan sedemikian rupa.

Indonesia berdasarkan Pancasila, itu berarti secara hukum berdasar atas paham ketuhanan. Setiap warga negara dituntut oleh fondasi kenegaraan ini untuk memiliki agama sesuai yang diatur oleh perundang -undangan.

Dalam prakteknya seseorang bisa saja tidak mengakui satu agama pun. Itu adalah kebebasan pribadinya. Namun untuk menyatakan bahwa ia tidak mengakui satu agamapun secara publik, atau mendirikan organisasi yang menolak paham ketuhanan, maka orang tersebut telah masuk pada ranah legitimasi, dan secara jelas bertentangan dengan konsep dasar dari negara Indonesia. 

Menerima secara legal komunisme (yang dalam pengertian anti-agama) atau juga ateisme yang tidak mengakui ketuhanan, paham-paham yang telah dengan sendirinya menyatakan bertentangan dengan dasar negara Indonesia, akan memberi efek perubahan fundamental terhadap dasar negara, dan itu dapat berarti Indonesia bukan lagi Indonesia yang dibentuk oleh founding-parents pada masa perjuangan kemerdekaan. Saya pikir Mahfud MD tentunya tidak bermaksud demikian. Kalau dianggap demikian, saya berpendapat itu adalah kesalah-pahaman.***

Pemuda Muslim Kenya siap mengawal gereja-gereja pada Hari Minggu

Written By Ray Maleke on Selasa, 10 Juli 2012 | 03:23

(gambar: BBC)
Para pemimpin Muslim di Kenya setuju untuk membentuk kelompok perlindungan untuk melindungi gereja-gereja menyusul serangan mematikan pada Minggu, demikian di laporkan BBC News.

15 Orang dilaporkan tewas dalam serangan terhadap dua gereja di Garissa, sebuah kota yang terletak dekat perbatasan dengan Somalia.

Para pimpinan agama Islam di Garissa mengutuk serangan itu dan menyerukan supaya hubungan antara Islam dan Kristen diperkuat.

Wilayah perbatasan Kenya menghadapi ketegangan sejak pemerintah mengirimkan pasukan untuk mengejar kelompok militan as-Shabab ke Somalia.

“Ada orang-orang di luar sana yang ingin menjadikan Kenya seperti Nigeria,” ungkap Wachu Adan, ketua dari Dewan Tertinggi Umat Muslim Kenya, “Tidak boleh dibiarkan perpecahan sektarian terjadi di negeri ini – siapa yang ingin melakukannya pasti akan gagal.”

Adan Wachu mengatakan bahwa dalam pertemuan Dewan Antar-Umat Beragama diputuskan secara bulat bahwa serangan terhadap gereja adalah tindakan “teroris dan terorisme.”

“Karena itu kami semua sepakat untuk bersama-sama bersatu,” ungkapnya.

“Kami memutuskan sebagai rasa kesetia-kawanan pemuda Muslim akan melakukan penjagaan terhadap gereja-gereja tidak hanya di Garissa tetapi juga di tempat-tempat lain di mana dipandang baik oleh umat Kristen.”

Umat Muslim merasa karena umat Kristen adalah minoritas di wilayah ini maka mereka harus dilindungi dengan segala cara.”

Kebanyakan masyarakat yang tinggal di seputar Garissa adalah berkebangsaan Somalia dan memeluk agama Islam.

“Pemimpin umat Muslim di negeri ini, terlebih khusus di timur-laut Kenya, mengatakan bahwa mereka menawarkan umat Muslim untuk menjaga gereja-gereja, terlebih khusus pada hari-hari Minggu, saat umat Kristen pergi ke gereja dan berdoa,” ungkap Mustafa Ali, yang juga bagian dari Dewan Antar Umat Beragama, Kenya. “Kami tidak boleh sampai di mana umat Kristen menjadikan umat Islam sebagai target dan sebaliknya.”

“Kami mendukung langkah yang diambil oleh pemimin Muslim di Kenya...Apa yang diinginkan al-Shabab adalah menciptakan sikap bermusuhan antara umat Muslim dan Kristen,” ungkap Ali.

Oktober lalu, pasukan dari Kenya masuk ke Somalia untuk mengejar militan al-Shabab yang dituduh sebagai pelaku berbagai penculikan di Kenya dan mengacaukan situasi di wilayah perbatasan. Sejak saat itu, al-Shabab yang telah bergabung dengan al-Qaeda, dianggap sebagai pelaku serangkaian serangan dengan granat dan bom di Kenya. Belum ada tanggapan dari al-Shabab apakah mereka bertanggung jawab atas serangan mematikan Minggu itu. (BBC/themuslimintimes/MP)

Pendeta di Minahasa dianiaya oknum-oknum polisi

Written By Ray Maleke on Sabtu, 07 Juli 2012 | 00:59

Pdt. Hedison Kesek didoakan oleh FSPS serta
Ketua DPRD Sulut dan anggota (foto: Yoppy Worek)
INDONESIA - Ketua Jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Sion Bunag, Tombatu, Sulawesi Utara, Pdt. Hedison Kesek, S.Th. masih ditahan di rutan Polda Sulut, menghitung lebih dari 100 hari sejak penahanannya dari Maret lalu atas tuduhan penambangan liar (menurut laporan di tanah pasini miliknya) dan memprovokasi penolakan terhadap perusahaan penambang PT. Sumber Energi Jaya (SEJ).

Penangkapan terhadap Pdt. Kesek yang merupakan lulusan Fakultas Teologi UKI Tomohon dilakukan di luar prosedur hukum dan disertai penganiayaan, pemukulan, ancaman dengan pistol maupun samurai dan hinaan dari oknum-oknum polisi, demikian dilaporkan srmnews.com.

LSM HAM Kontras dalam press-release-nya telah memrotes tindak kekerasan berupa penembakan, penganiayaan, pengrusakan, dan intimidasi yang dilakukan oleh anggota Polres Minahasa Selatan terhadap warga desa Picuan Lama, Minahasa, yang wilayah perkebunannya menjadi pokok perseteruan dengan perusahaan tambang dari Cina tersebut.

Selama ini warga melakukan penambangan secara tradisional di wilayah tersebut sesuai izin Keputusan Dirjen Pertambangan Umum tahun No 673K/20.01/DJP/1998 tentang Penetapan Wilayah Pertambangan Rakyat untuk bahan galian emas di daerah Alason dan Ranoyapo, Kabupaten Minahasa Selatan, demikian dilansir KBR68H.

Kehadiran PT Sumber Energi Jaya mengancam eksistensi para petambang tradisional. Perlawanan oleh masyarakat atas beroperasinya perusahaan pertambangan tersebut sudah terjadi berulang kali. Warga pernah mengajukan perizinan operasi pengelolaaan tambang rakyat kepada Bupati Minahasa Selatan, namun tidak mendapat respon.

Namun demikian, ada juga anggota masyarakat yang mendukung beroperasinya perusahaan tambang ini.

Polisi melakukan penangkapan terhadap Pdt. Kesek pada 22 Maret. Tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap warga terjadi pada April dan akhir Mei, dan puncaknya terjadi pada malam Senin 4 Juni di mana anggota kepolisian dari Polres Minahasa Selatan melakukan intimidasi kepada warga Picuan dan menembak serta menggeledah rumah warga dengan alasan mencari anak-anak muda, demikian pernyataan Kontras.

srmnews.com melaporkan bahwa Forum Solidaritas Pendeta Sulut (FSPS) telah melaporkan peristiwa ini kepada DPRD Sulut. Ketua DPRD Sulut, Pdt. Meiva Lintang, S.Th. mengatakan pihaknya akan memroses laporan ini dan akan mendesak Polda Sulut untuk menindak semua oknum polisi yang melakukan penganiayaan dan penghinaan terhadap Pdt. Kesek.

"Ini perlakuan sewenang-wenang dan tindakan yang tidak benar di negara hukum. Kami minta Polda Sulut untuk menindak tegas aparat yang terlibat, memroses mereka secara hukum dan segera melakukan tindakan-tindakan yang perlu untuk membebaskan Pdt. Hedison Kesek," ujarnya dengan linangan airmata.

Dalam pernyataannya Kontras “[m]endesak jajaran Polda Sulawesi Utara untuk tidak menggunakan cara-cara kekerasan apalagi mengkriminalkan warga yang melakukan penolakan kepada perusahaan yang berpotensi merusak lingkungan.” (srmnews.com/KBR68H/CSN/MP)

50 Tewas: 'Senjata' Instabilisasi di Burma

Written By Ray Maleke on Jumat, 22 Juni 2012 | 09:56

Isu-isu sektarian, terutama yang mencatut nama agama,
belakangan ini terus menjadi pemberitaan media.
Orang-orang tidak lagi dilihat sebagai manusia,
melainkan telah dikecilkan menjadi sebuah label etnik
atau agama yang seakan memberi alasan untuk perlakuan
yang tidak manusiawi. Berapa banyak jiwa tak bersalah
terimbas kerusuhan yang dapat dihindari seperti ini?
50 tewas dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal akibat kerusuhan yang terjadi antara pemeluk agama Buddha dan Islam di negara bagian Rakhine, Burma, demikian dilaporkan BBC News.

50 orang dari dua belah pihak tewas sejak kerusuhan pecah Mei lalu. Sekitar 2500 rumah dibakar dan 30.000 orang – baik pemeluk agama Buddha maupun Islam – saat ini ditampung di 37 lokasi pengungsian di berbagai tempat di Rakhine.





Kronologi kerusuhan:
  1. Seorang wanita pemeluk agama Buddha dilaporkan diperkosa oleh pemeluk Islam.
  2. Tanggal 4 Juni, sebuah bus dicegat sekumpulan orang dan 10 orang pemeluk agama Islam dibunuh.
  3. Tiga orang dari masyarakat Muslim kemudian ditangkap atas tuduhan pemerkosaan, dua di antaranya dijatuhi hukuman mati, dan satu meninggal dalam tahanan.
  4. Setelah serangan terhadap bus itu, sekumpulan orang setelah shalat Jumat bertemu di Maung Daw dan mulai melempari gedung-gedung di sekitarnya. Setelah kedatangan polisi, mereka bubar tapi dilaporkan pembakaran rumah mulai terjadi di desa-desa pemeluk agama Buddha.
  5. Jam malam diterapkan di Maung Daw, tetapi kerusuhan mulai tersebar di banyak kota lainnya.
  6. Masyarakat pemeluk agama Buddha juga melakukan balasan terhadap desa-desa yang dianggap penduduknya adalah pemeluk Islam.
“Setiap orang bertanggung jawab untuk mencegah hal ini terjadi kembali...tapi sangat sulit mengadakan pembicaraan damai saat ini karena kedua pihak saling curiga satu dengan yang lain,” ungkap Htei Lin dalam jumpa pers di Sittwe waktu lalu.

Situasi yang memprihatinkan di Rakhine membuat para pengungsi Rohingya mencoba memasuki negara tetangga Banglades dengan menggunakan perahu. Sayangnya penjaga perbatasan tidak mengijinkan mereka masuk. Setidaknya 1500 orang dilaporkan disuruh pulang.

Nama Rakhine diambil dari kelompok etnik Rakhine pemeluk agama Buddha dan merupakan mayoritas di negara bagian ini. Sementara itu, di daerah ini terdapat juga masyarkat Muslim yang jumlahnya cukup besar. Di dalamnya termasuk etnik Rohingya, yang dianggap bukan warga negara oleh pemerintah Burma.

Sekarang ini Rakhine berada dibawah kendali militer yang diberitakan memiliki sejarah melakukan kekerasan terhadap rakyat, baik beragama Buddha maupun Islam. Utusan PBB, Vijay Nambiar, yang melawat lokasi konflik mengatakan bahwa keamanan sudah dalam keadaan terkendali dengan keberadaan tentara, tetapi situasi masih tegang.

(foto: AFP)
Setelah bangsa, agama bisa menjadi 'senjata' instabilisasi di Burma. Dilaporkan terdapat 135 kelompok etnik di Burma. Yang terbesar adalah Bamar yang mencakup sekitar 68% dari total populasi yang diperkirakan berjumlah 60 juta jiwa lebih pada tahun 2010. Sekitar 89% memeluk agama Buddha, dan pemeluk agama Kristen dan Islam masing-masing diperkirakan sebesar 4%. Doakan supaya masyarakat Burma dapat menemukan titik rekonsiliasi, kembali membangun kampung halamannya dan dijauhkan dari peristiwa memilukan seperti ini di kemudian hari. (BBCNews (1)/ BBC News (2)/ MP)

Bpk. Bounchan: Dipenjara karena Kristus

Written By Menara Penjaga on Minggu, 03 Juni 2012 | 05:18

Kisah yang menguatkan iman orang Kristen berikut ini diterjemahkan dari “Bounchan: Imprisoned for Christ” (Bounchan: Dipenjara karena Kristus) yand dipublikasikan oleh Voice of the Martyrs ([VOM] www.persecution.com) pada tanggal 2 Mei 2012 lalu.
Bpk. Khum Christian Bounchan Kanthavong mendapat hukuman penjara 13 tahun 8 bulan di Laos karena imannya. Pada awal tahun ini ia dibebaskan. Sebelum ia menjadi orang percaya, Bpk. Bounchan bekerja sebagai asisten gubernur distrik untuk pemerintah komunis.
Bpk. Khum Christian Bounchan Kanthavong
(foto: vom)
Pada tahun 1965, Bpk. Bouchan masuk tentara di Laos. Ia kemudian menjadi asisten untuk seorang pejabat penting. Ia pertama kali bertemu dengan orang Kristen pada saat ia dikirim untuk belajar politik di Tha Gnong pada tahun 1975. Pada waktu itu, ia tidak memberi banyak perhatian mengenai Kekristenan, tetapi kemudian sebagai asisten gubernur distrik, ia mengunjungi desa-desa yang terdapat orang Kristen. Ia merasa tertarik dengan ibadah mereka, tapi orang-orang Kristen di sana merasa takut padanya karena jabatannya dalam pemerintahan.
Pada satu waktu, ketika ia menginap bersama sebuah keluarga di sebuah desa, ia mendengar sebuah program radio Kristen yang ditopang oleh VOM. Ia mengajukan beberapa pertanyaan mengenai Kekristenan, tetapi tidak ada seorang pun yang memberikannya jawaban terperinci. Sebagai seorang yang bekerja untuk pemerintah, Bouchan mempunyai keluasan masuk keluar Thailand untuk urusan bisnis. Di sana, pada tahun 1997, ia mencari orang yang ia dengar berbicara di radio.
Orang-orang Kristen di sana merasa takut dengannya, sama seperti ia sendiri merasa takut jangan-jangan mereka akan melaporkannya kepada pemerintah Laos. Tetapi orang yang ingin ia cari bersedia menemuinya. Ia kemudian membawa Bpk. Bouchan ke sebuah ruangan dan menjelaskan siapa Kristus padanya. Anggota tentara ini dibaptis pada malam itu dan mulai membagikan kabar baik itu ke manapun ia pergi.
Pihak berwenang berulang-ulang memberikan peringatan padanya untuk berhenti berkhotbah. Ia diberhentikan dari pekerjaannya. Pada tanggal 8 Juni 1999 ia ditangkap, dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Pada tanggal 2 Februari 2012, ia dibebaskan, 2 tahun lebih cepat. VOM menopangnya dan keluarganya ketika ia berada dalam penjara, termasuk menyediakan perawatan medis baginya setelah ia bebas.
Berikut ini adalah wawancara staf VOM dengannya segera sesudah kebebasannya. Ia mulai dengan membagikan apa yang terjadi padanya setelah ia dibaptis.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Bpk. Bouchan: Saya kembali ke gereja saya dan bicara tentang Yesus. Banyak orang yang hadir; mereka mau menjadi Kristen. Tak berapa lama, seluruh desa mau hadir. Saya tidak tahu bagaimana menuntun mereka kepada Kristus, karena itu saya pergi menemui seorang pemimpin Kristen. Saya katakan, “Saya sudah memberitakan Injil, banyak orang yang ingin menjadi Kristen. Tolong datang dan bimbing mereka kepada Kristus. Saya tidak tahu bagaimana melakukannya.” Tapi ia merasa takut dan ia katakan, “Saya tidak bisa pergi ke sana. Kau juga seharusnya tidak boleh melakukan ini. Kamu bisa dipenjara.” Saya menjawabnya, “Oh, saya bekerja untuk pemerintah. Saya bekerja sesuai dengan hukum yang berlaku. Saya tahu hukum, dan mereka tidak bisa memenjarakan saya lebih dari dua setengah tahun karena saya belum pernah melakukan apa-apa yang salah.”
Pada tanggal 8 Juni 1999, pada jam 10 pagi, empat dari para penatua gereja di desa saya ditahan oleh polisi. Hanya 30 menit kemudian mereka menahan saya juga, dan mereka menaruh kami di lima ruang kecil yang berbeda.
Saya menulis pesan di selembar kertas kecil meminta mereka untuk mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa-apa. Saya katakan, “Biarkan saya yang memikul kesalahannya. Saya yang akan menanggungnya, supaya kalian bisa kembali berkhotbah dan memimpin gereja.” Keesokan harinya, mereka dibelenggu dan diinterogasi dua kali. Para penatua mengikuti saran saya dan menyangkal tuduhan yang diberikan. Dua di antara mereka dihukum penjara selama enam bulan sebelum dilepaskan. Dua lainnya dihukum delapan tahun penjara, tetapi keduanya meninggal dunia tiga tahun sebelum masa tahanan mereka berakhir. Saya yang tersisa di penjara.
Dalam penjara, saya selalu bertindak hati-hati. Saya tidak makan makanan yang diberikan di penjara atau diberi oleh polisi. Saya tidak minum air yang mereka beri, kuatir jangan-jangan sudah diracuni. Saya tidak makan makanan mereka sama sekali. Saya harus hati-hati karena saya tahu hidup saya berharga bagi Allah dan pelayananNya.
Banyak kali, polisi yang datang untuk menginterogasi saya, mengatakan dengan halus, “Minumlah segelas air. Kau sedang sakit tenggorokan, dan kau haus. Kau bahkan terdengar haus. Ini, minumlah segelas air ini.” Saya menjawab, “Tidak, terima kasih banyak. Saya tidak haus.” Banyak kali mereka menawarkan makanan dan minuman, tetapi saya tidak menerimanya. Saya juga beri tahu teman-teman saya untuk tidak menerima makanan dan minuman dari mereka, tetapi teman-teman saya tidak mendengar saya.
Dua puluh hari sesudah saya ditahan, mereka melakukan investigasi terhadap saya selama lima hari, kemudian mengatakan, “Kau tidak mengatakan yang sebenarnya. Kami tahu kau sedang mencoba melakukan hal yang buruk terhadap negara.”
Lalu mereka membelenggu saya. Belenggunya terbuat dari kayu, kayunya besar – lumayan besar. Belenggu itu memisahkan kedua kaki saya, dan mereka juga memborgol tangan saya. Mereka kuatir saya akan melarikan diri. Mereka memborgol saya, bahkan mengikat kedua ibu jari saya. Lalu mereka menaruh saya dalam sebuah ruangan gelap selama tujuh hari tanpa makanan.
Salah seorang penjaga datang diam-diam ke ruangan saya pada jam 9 malam dan memberi saya sedikit makanan. Saya bertahan karena makanan itu – sedikit makanan dari penjaga itu.

VOM: Apakah mereka memberimu air minum selama tujuh hari itu?
Bpk. Bounchan: Tidak sama sekali. Ruangan itu sangat kotor, dan saya mendapat kusta. Ya, sama seperti yang di dalam Alkitab. Saya tidak bisa menggaruk tubuh saya karena diborgol, tapi istri saya mengirimkan cabai untuk saya karena mereka tidak mau memberikan saya obat. Saya tidak punya apa-apa selain sedikit nasi dan cabe yang diberi istri saya. Saya berdoa pada Tuhan, mengolek cabe itu dan menggunakannya untuk mengurangi rasa gatal. Saya melakukannya sampai cabe itu habis, dan kulit saya kelihat lebih baik.
Ketika cabe sudah habis, kustanya kelihatan sudah sembuh. Tapi setelah seminggu kemudian, saya merasakan rasa sakit di mata saya seperti sesuatu telah menggit saya. Istri saya datang dan minta izin untuk membawa saya ke rumah sakit untuk mendapat perawatan karena mata saya, tapi polisi mengatakan, “Ia musuh negara kita. Jangan merawatnya. Biar ia menjadi buta, dan biar ia mati di sini. Kami tidak akan mengizinkan kalian pergi ke rumah sakit.”
Mereka menginterogasi saya 16 kali, dan menanyakan, “Mengapa kau pergi ke desa-desa dan memberi tahu mereka tentang nama Yesus?” Saya jawab, “Tidak, saya tidak berkhotbah tentang nama Yesus. Kalian tahu hukum. Kalian memberi kami saluran untuk melakukan ini karena kami berhak untuk percaya tentang apapun. Saya berkhotbah tentang Allah.” Mereka marah karena saya katakan bahwa menurut hukum saya berhak untuk menceritakan tentang Yesus.

VOM: Sebelum Anda ditahan, ketika Anda berkunjung ke desa-desa, Anda katakan bahwa Anda mengatakan kepada mereka tentang bagaimana menjadi seorang Kristen, tetapi Anda tidak tahu bagaimana menuntun mereka. Pesan apa yang Anda sampaikan kepada mereka pada waktu itu?
Bpk. Bouchan: Saya memberitakan kepada mereka bahwa menjadi seorang Kristen akan membebaskan kalian, dan Allah akan membersihkan hidup mereka. Saya katakan, “Jadilah seorang Kristen, maka kalian akan tahu bahwa kalian harus bertobat. Kalian akan bebas dari tujuh kebiasaan. Kalian bisa dilepaskan dari hati ular, macan, merak atau babi kalian.”
[Pak Bounchan menggunakan sebuah penyajian berita injil dengan menggunakan gambar binatang yang menunjukkan kejahatan hati dan tindakan kita.]

VOM: Jadi ketika Anda katakan pada penjaga bahwa Anda tidak mengkhotbahkan Yesus, Anda tidak berkhotbah tentang namaNya.
Bpk. Bouchan: Ketika saya memberitakan Injil, saya katakan pada mereka untuk datang pada Tuhan dan bertobat. Saya hanya tahu langkah pertama. Saya tidak mengetahui secara mendalam tentang nama Yesus.

VOM: Menurut Anda apa yang membuat begitu banyak orang meresponinya?
Bpk. Bouchan: Kebanyakan mereka adalah masyarakat yang tinggal di pedesaan – mereka merokok, minum minuman keras dan menyembah roh palsu. Jadi saya katakan pada mereka jika mereka menjadi anak-anak Allah, mereka akan dilepaskan. Hal itu merupakan perubahan yang besar bagi mereka, karena setiap tahun mreka harus mempersembahkan seekor babi, sapi, atau kerbau untuk roh. Ketika saya memberi tahu mereka bahwa Allah bisa melepaskan mereka, hal itu sangat membantu bagi mereka – tidak hanya secara rohani dan jasmani, tetapi secara finansial juga.
Dalam tahanan, saya ditaruh sendirian dalam sebuah ruangan selama satu tahun, dan selama masa itu, saya tidak pernah diberikan sebuah Alkitab. Keluarga saya menganggap bahwa adalah hal yang aneh saya meminta untuk dikirimi Alkitab. Saya bahkan meminta penjaga yang memberikan saya makanan untuk memberi tahu istri saya sebuah pesan. Saya katakan, “Beri tahu istri saya, 'Boleh tolong saya? Bawa sebuah Alkitab untuk saya. Saya tidak bisa hidup tanpa Alkitab. Saya harus membaca Alkitab.”
Setelah satu setengah tahun, mereka mengeluarkan saya. Bukan keluar dari penjara, tetapi dari ruang gelap itu. Segera saya disuruh bekerja keras membawa kayu bakar dua kali sehari. Mereka memaksa saya untuk membawa kayu bakar sebesar paha. Banyak kali saya merasa sangat lelah, tapi polisi akan menaruh senjata di punggung saya dan katakan, “Panggillah Tuhan untuk menolongmu. Berserulah pada Tuhan untuk memberimu kekuatan.”


Saya memberitakan Yesus, dan mereka berkata pada saya, “Kau percaya pada hal yang baik.” Mereka mulai memperlakukan saya dengan sopan, tetapi setelah satu minggu kemudian, mereka semua dipindahkan. Sebuah kelompok polisi yang baru ditugaskan di situ.

VOM: Apa yang Anda lakukan ketika mereka mengejek Anda?
Bpk. Bouchan: Saya tidak mengatakan apa-apa. Satu kali, para penjaga bertanya pada saya jika saya lelah, dan saya katakan pada mereka kalau saya lelah. Seorang penjaga bertanya, “Apa yang kau makan dengan nasi?” Saya katakan, “Tidak ada. Istri saya hanya mengirimkan nasi dan sayur-sayuran.”* Penjaga itu mengatakan, “Uang Yesus bertebaran di seluruh dunia dan di sini juga. Kau seharusnya minta padaNya untuk mengirimkan sejumlah uang untukmu supaya kau bisa membeli makanan yang baik.”
Selama sepuluh tahun, mereka memaksa saya untuk membuka hutan untuk di jadikan ladang padi. Saya melakukannya untuk polisi yang menjaga penjara. Kebanyakan saya akan membuka tanah mereka sendiri, tapi kadang kala saya membuka untuk milik orang lain. Polisi yang mendapat uangnya. Dua kali sehari, mereka memaksa saya untuk pergi ke hutan untuk mengambil kayu bakar.
Pada tahun 2007, mereka percaya pada saya dan tidak mengawasi saya. Mereka membiarkan saya pergi sendiri untuk mengambil kayu bakar. Pada bulan Juli atau Agustus, mereka memberikan saya dua atau tiga jam untuk mengambil kayu bakar karena saat itu air sungai menguap. Saya tahu rutinitas setiap hari, sehingga pada hari pertama saya mengumpulkan kayu cukup untuk dua hari. Pada hari kedua, saya berenang menyebrang sungai yang meluap, lari ke rumah saya, mengambil lima buah Alkitab dan lari kembali. Saya menyembunyikan Alkitab-Alkitab itu dan kemudian membawa kayu bakar kembali ke kamp.
Pada satu hari saya sedang membawa kayu bakar, di dalam tas saya ada Alkitab. Polisi mengatakan pada saya, “Hey, saya mau memeriksa tasmu.” Mereka menemukan Alkitab saya dan membawa saya ke kantor. Mereka memanggil saya ke lantai dua di mana ada banyak polisi. Mereka meminta saya untuk mengatakan kepada mereka tentang buku itu dan memaksa saya untuk membacanya dengan suara nyaring. Setelah saya membaca beberapa waktu lamanya, saya berhenti dan berkata, “Oh, saya tidak bisa menyelesaikannya dalam satu hari, tapi kalau kalian ingin mengetahui lebih banyak, saya akan mengatakannya pada kalian.” Saya sedang membagikan Injil kepada mereka ketika seorang kolonel masuk ke ruangan. “Apa yang kalian sedang lakukan?” tanyanya. Salah satu polisi menjawab, “Kami sedang belajar tentang Yesus. Ini buku Yesus.” Kolonel itu berkata, “Buku jelek itu? Siapa yang bawa itu kemari? Buang sana!”
Lalu saya katakan, “Pak, ini buku yang baik. Mari datang dan lihat jika Anda tak percaya.” Beberapa hari berikutnya, mereka membawa saya ke kantor kolonel itu. Ia berkata, “Sekarang, katakan pada saya tentang bukumu itu.” Ketika seorang polisi yang lain datang ke kantor dan melihatnya tertarik dengan apa yang saya sedang katakan, mereka berdua pun mendengarkan saya. Tak berapa lama, beberapa polisi lainnya masuk untuk mendengarkan saya. Saya memberitakan Yesus, dan mereka berkata pada saya, “Kau percaya pada hal yang baik.” Mereka mulai memperlakukan saya dengan sopan, tetapi setelah satu minggu kemudian, mereka semua dipindahkan. Sebuah kelompok polisi yang baru ditugaskan di situ.
Ketika mereka mengambil Alkitab saya, saya tidak pernah mendapatkannya lagi. Tapi saya punya sebuah Alkitab yang saya kubur di ruang di mana saya tidur. Sebagian lantai rusak, sehingga saya menggali tanahnya dan mengubur Alkitab saya di situ. Saya juga mendengar sebuah program Kristen dari sebuah radio kecil. Saya bahkan mendengar nama saya disebut, dan hal itu memberi saya dorongan. Tapi satu hari polisi datang dan memeriksa sekitar ruangan saya dan di bawah tikar. Mereka menemukan lubang di bawah tempat tidur saya, mengambil Alkitab dan radio dan memberi saya denda. Saya tidak mempunyai uang, karena itu saya menebang bambu dari hutan, membuat kandang ayam dan menjualnya untuk membayar denda itu.

VOM: Bagaimana Anda membawa Alkitab dan radio ke dalam penjara?
Bpk. Bouchan: Istri dan anak-anak saya meninggalkan radio itu di rumah seseorang dekat penjara. Para penjaga percaya pada saya, sehingga ketika saya membawa keranjang untuk mengambil sayur-mayur, mereka membiarkan saya. Saya mengambil tumbuhan dengan daun besar – saya tidak tahu namanya dalam Bahasa Inggris. Saya kemudian menggunakan tumbuhan itu untuk membungkus sebuah Alkitab atau radio ke dalam, saya menaruh sayuran yang lain di atasnya.

VOM: Berapa lama Anda memiliki radio itu sebelum mereka menemukannya?
Bpk Bounchan: Bounchan: Mereka mengambil lima radio dari saya. Beberapa bertahan sampai lima atau enam bulan, tetapi yang lain cepat rusak.

VOM: Bagaimana dengan Alkitab? Berapa banyak Alkitab?
Bpk Bounchan: Mereka mengambil lima Alkitab, tapi saya memiliki enam Alkitab dalam penjara. Akhirnya mereka tak peduli lagi dengan yang keenam. Saya bisa membacanya dengan terang-terangan; mereka tidak keberatan.

VOM: Kapan Anda mendengarkan radio, apakah Anda harus melakukannya diam-diam?
Bpk Bounchan: Saya mendengarnya di bawah jaring nyamuk dengan menggunakan headphone, dan saya masuk di bawah selimut. Ketika saya mendengar bermacam program Kristen, hati saya disegarkan.
Tetapi ketika kelompok penjaga baru datang, mereka menemukan Alkitab saya dan membakarnya. Tidak semuanya terbakar, ada bagian-bagian yang tertinggal. Saya marah, dan mengambilnya dan membacanya terang-terangan, sekalipun hanya tinggal sebagian kecil yang tertinggal. Saya tidak peduli dengan perasaan mereka. Saya menjadi marah dan berdoa, “Oh Tuhan, hukumlah mereka supaya mereka tahu bahwa Engkaulah yang mahatinggi.”
[Beberapa tahun setelah doa Bounchan itu, kepala polisi meninggal karena virus yang menyerang liver, dan empat penjaga lainnya dipenjara karena mencuri dan perdagangan obat terlarang]
Bpk Bounchan: Pada tahun terakhir di penjara, para penjaga minum banyak setelah menyembelih seekor sapi. Seorang kapten lupa pistolnya di atas tempat tidur saya, dan saya melihatnya dan merasa takut. Apa yang harus aku lakukan? Jika saya membawa pistol ini ke kantor, mereka mungkin akan menuduh saya dengan sesuatu yang tidak saya lakukan. Saya memutuskan untuk menunjukkan pistol itu pada seorang penjaga, dengan berkata, “Pak, saya menemukan pistol ini. Seseorang datang ke pondok saya dan lupa.” Penjaga itu mengatakan, “Lihat nomornya. Oh, ini pistol Kapten Pornchai.” Sebuah pesan disampaikan kepada kapten itu untuk datang menemui saya, tapi ia berkata, “Bounchan mau bertemu saya?” Ia marah. “Mengapa tahanan ini berani memanggil saya? Mengapa ia perlu bertemu dengan saya?” Tapi penjaga itu mendesaknya. Ia sangat marah ketika ia datang pada saya. “Apa yang kau mau?” tanyanya. Saya katakan, “Apakah ini pistol Anda?” dan tingkah lakunya berubah. “Oh terima kasih. Terima kasih. Baik. Terima kasih. Terima kasih banyak,” katanya sambil berlutut di lantai. Kau menyelamatkan pekerjaan saya. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.” Ia menyalami tangan saya. Ia tanyakan apa yang ingin saya makan. Ia menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk saya.

VOM: Kapten itu, ia sungguh berlutut?
Bpk Bounchan: Ya, ia bisa kehilangan pekerjaannya karena kehilangan pistolnya.
Bulan Januari tahun ini, seorang kepada penjara mengatakan pada saya, “Keluarga Anda sangat kuat dalam iman mereka sehingga Kekristen menyebar kemana-mana. Itu sebabnya kau tinggal di sini. Kami tidak bisa membiarkan kau keluar karena keluargamu masih terus menyebarkan Injil. Kalau kau mau dilepaskan, pulang ke rumah, minum dan bermain dan bergabung dengan partai seperti kami – itu hal yang terbaik bagi seseorang di dunia ini – jangan hidup seperti kau ini. Berhenti percaya pada imanmu atau kau akan tetap miskin. Banyak orang percaya yang menjadi miksin dan semakin miskin sampai pada akhirnya tidak percaya sama sekali.”
Tapi saya tahu tinggal sebentar lagi saya akan bebas. Saya katakan padanya, “Kalau Anda berhenti menyembah berhala dari semen, kalau Anda berhenti menyembah berhala dari emas atau perunggu, maka saya akan berhenti menyembah Allahku. Anda tidak mau berhenti. Mengapa Anda mau memaksa saya untuk berhenti?”
Pada tahun 2010, saya dipaksa untuk membersihkan toilet polisi di kamp. Saya harus membawa air dari tempat yang sangat jauh. Saya gunakan dua ember untuk membawa air untuk ditaruh di toilet. Saya lakukan ini setiap hari selama delapan bulan.
Suatu kali saya jatuh karena saya sudah tua dan membawa ember berat berisi air. Ada rasa sakit di bagian punggung, dan saya mencoba untuk berdiri tapi jatuh ke dalam sungai. Polisi mengejek saya sambil berkata, “Hey, mengapa kau tidak memanggil Allahmu untuk memberimu kekuatan?”

VOM: Jadi ketika tentara dan polisi mengejekmu karena imanmu, mengapa kau diam saja?
Bpk Bounchan: Saya takut kalau-kalau mereka akan melakukan suatu kekerasan. Aku sudah melihat penjaga menembak tahanan lainnya yang mencoba menanggapi mereka. Mereka tidak menembakmu, tapi menakutimu. Mereka menembakimu dan kau yang membayar lima dolar untuk setiap peluru.
Pada tanggal 3 September 2010 polisi memberi tahu saya bahwa mereka menerima sebuah surat dari Amerika dan Kanada, tapi saya tidak pernah diijinkan untuk melihatnya. Mereka juga menaruh saya dalam sebuah ruangan kecil tanpa makanan selama 10 hari karena surat itu. Selama 10 hari saya tidak ada makanan atau air, tapi saya ditahan dalam ruangan itu selama sebulan dan lima belas hari.

VOM: Jadi pada satu waktu, ketika nama Anda disebut di program radio Voice of America, hal itu memberi dorongan besar pada Anda. Tapi sekarang [surat] itu mengakibatkan masalah serius bagi Anda.
Bpk Bounchan: Saya mengirim pesan pada istri saya untuk mencari tahu di mana surat itu. Ia coba, tetapi ia tidak bisa menemukan apa-apa. Tapi mereka katakan bahwa surat itu ada pada mereka, dan mereka menaruh saya dalam sebuah ruangan kecil selama sebulan dan lima belas hari. Saya juga harus membayar denda 200,000 kip [kurang lebih Rp 225.000] ketika saya dikeluarkan.
Sebelum saya dikeluarkan dari penjara, pejabat tinggi yang berwenang di penjara itu mengatakan pada saya, “Kalau kau dilepaskan, hentikan kepercayaanmu. Jangan percaya sama sekali. Jangan ambil apapun, dan jangan pergi ke manapun. Jangan berkomunikasi dengan orang Kristen lainnya, atau kau tidak akan mendapatkan apa-apa.” Saya dilepaskan tiga bulan setelah itu.

VOM: Anda tidak kelihatan marah atau merasa kepahitan karena dipenjara. Apakah Anda merasa marah sewaktu Anda masih berada di penjara?
Bpk Bounchan: Saya tidak merasa menyesal, tapi di sisi lain, saya bersyukur kepada Tuhan. Bahkan di penjara, saya tahu Allah menyertai saya, dan saya tahu apa yang Ia telah lakukan untuk saya di kayu salib. Hal itu lebih besar dari apa yang saya alami di penjara.

VOM: Pada waktu kapan Anda merasa sangat lemah atau waktu kapan Anda merasa kesulitan yang sangat? Kapan menurut Anda merupakan waktu terburuk bagi Anda?
Bpk Bounchan: Waktu terburuk bagi saya adalah dari tahun 1999-2001 – sekitar tiga atau empat tahun – karena pada waktu itu saya tidak mempunyai sebuah Alkitab. Saya juga baru menjadi seorang percaya, tapi tetap mempunyai damai sejahtera dalam hati saya. Ketika saya memperoleh Alkitab atau radio, saya akan membaca dan mendengar untuk bertumbuh dalam iman saya setiap hari.

VOM: Jadi pada waktu Anda tidak mempunyai apapun sama sekali. Mengapa Anda tetap setia kepada Allah?
Bpk Bounchan: Saya mengingat sesuatu yang saya dengar di radio. Pembawa acara mengatakan bahwa Tuhan kita adalah Allah yang menciptakan dunia, alam semesta. Ketika saya mendengar kata-katanya, saya memikirkan bumi, bintang-bintang dan bulan, dan saya melihat kemuliaan Allah. Betapa menakjubkan! Kalau tidak ada seorang pun yang dapat menciptakan itu semua, bagaimana itu semua dapat ada? Ketika saya memandang semua itu, saya melihat bahwa semua itu nyata adanya. Hal itu menghibur dan mendukung saya dan menyebabkan saya bergantung pada iman saya ketika itu.

VOM: Dapatkah Anda mengatakan sedikit tentang bagaimana kelihatannya penjara itu? Gambarkan ruang gelap itu.
Bpk Bounchan: Ruang itu dibuat dengan batu-batu besar dan semen, tapi pintunya terbuat dari besi dengan sebuah lubang seperti jendela. Pada pukul 11.30 pagi, seorang penjaga akan membuka jendela itu dan menjatuhkan makanan. Kemudian pada pukul 3 sore makanan dibawa lagi. Selain itu, saya tidak tahu waktu hari itu. Syukur pada Allah karena pintunya terbuat dari besi. Ada sebuah lubang kecil akibat karatan. Di situ saya akan berdiri dan menaruh hidung saya dilubang itu dan menghirup udara segar.

VOM: Kalau seseorang memberitahu kisah Anda kepada orang Kristen di seluruh dunia, apakah ada sesuatu yang ingin Anda katakan kepada orang-orang yang berdoa untuk Anda?
Bpk Bounchan: Saya berada dalam penjara. Saya tahu bagaimana sulitnya hidup ini, tapi saya ingin mendorong orang percaya di Amerika untuk tetap kuat dalam iman mereka. Saya tahu banyak orang Amerika belum menerima Yesus, tapi kalian mempunyai kebebasan untuk memberitakan Yesus dan membagikan Injil. Pergilah memberitakan Injil dalam nama Yesus karena kalian bisa. Kalian punya hak untuk membaca Alkitab, untuk berdoa dan pergi ke gereja. Saya mohon, lakukan itu.
Saya mohon doakan negara saya Laos, supaya Allah akan mengubah negera ini menjadi negeri milik Tuhan. Doakan supaya setiap orang menerima Yesus Kristus karena saya tahu tidak ada yang berharga dalam hidup ini selain menjadi Kristen dan mengikuti Yesus Kristus.
Terima kasih kepada saudara dan saudari di Amerika, Kanada dan negara lainnya untuk doa Anda yang setia. Saya tahu bahwa saya masih hidup hari ini karena kesetiaan Anda berdoa. Saya sekarang membagikan kesaksian saya karena doa Anda yang berkuasa.
Saya mohon doa untuk hidup saya sekarang ini. Ketika saya hidup, saya ingin hidup saya memuliakan kerajaan Tuhan kita. Saya ingin membagikan Injil dan melakukan hal-hal yang baik untuk memuliakan Dia. Doakan saya. Doakan keluarga saya untuk melayani, dan doakan supaya Allah akan menyediakan apa yang kami perlu.
Anak perempuan Bpk Bounchan, Sangdara, mengingat penyalahgunaan obat oleh ayahnya dan perilaku kasarnya terhadap ibunya. Tetapi ketika ayahnya bertemu Yesus, semua itu berubah. Bahkan dengan ayahnya berada di penjara, pelayanan Kristen keluarga ini terus bertumbuh.
Sangdara: Sejak hari di mana ayah saya pulang dan mengatakan kepada ibu saya tentang Tuhan, kami melihat perubahan yang besar di dalam hidupnya. Ketika ibu saya menjadi marah, ia tidak akan menanggapinya. Ketika ibu saya sudah tenang, ia akan mengulangi, “Apa yang kau pikir tentang Tuhan yang kukatakan beberapa hari lalu?” Ibu saya akan memakinya lagi, tapi ayah saya selalu diam saja. Saya melihat suatu perubahan besar, tapi saya tidak mengerti mengapa ayah saya begitu berbeda atau mengapa ia membiarkan ibu saya berbicara seperti itu padanya. Mengapa ia tidak memukul ibuku seperti sebelum-sebelumnya? Mengapa ia tidak menanggapinya? Setelah itu, ibu saya mulai bertanya-tanya tentang hal yang sama. Sejak ia menjadi seorang Kristen, ia tidak pernah meninggalkan rumah dengan perempuan-perempuan lain. Ia berhenti minum. Ia berhenti meminjam uang dari orang lain.
Kami mempunyai altar untuk roh di rumah kami, tapi satu hari, ia mematahkan altar itu. Ia membongkarnya dan melemparkannya keluar. Kami semua terkejut. Tidak seorang pun yang bisa mengatakan sepatah kata. Beberapa minggu berikutnya, ia bertanya lagi pada ibu saya, “Apa yang kau pikir tentang Tuhan yang kuceritakan padamu? Apakah kita perlu percaya pada Allah ini?”
Ibu saya menjadi marah padanya. Ia mengambil sebuah kendi logam dan memukul kepala ayah saya. Ia masih tidak membalasnya. Kemudian, dua orang laki-laki datang ke rumah saya, membuka Alkitab dan membagikan Injil kepadanya. Ia belajar tentang Allah, dan seminggu kemudian, ia menyerahkan hidupnya kepada Kristus.
Ketika ayah saya dipenjara, saya melihat ibu saya menjadi sangat haus dan lapar akan Firman Tuhan. Jujur, ia tidak pernah meletakkan Alkitab. Pada malam hari, siang hari, di rumah – ia tidak pernah meninggalkan Alkitab. Saya tidak tahu apa-apa pada waktu itu, tapi saya melihat bahwa ayah saya juga suka membaca buku itu.


Namun ketika itulah saya mengalami bagaimana Allah mengubah kami. Sebelumnya, jika seseorang mengatakan hal-hal yang buruk atau mengutuk saya, saya akan panik dan merasa tak senang. Bahkan ketika gurunya mempermalukan saya di hadapan murid-murid lain dan ketika saya tidak mempunyai teman, saya merasakan kehangatan dalam hati saya. Saya mempunyai damai sejahtera seperti seseorang berdiri di samping saya dan menghibur saya.

VOM: Kapan setelah itu kau melihat ayahmu?
Sangdara: Setelah hampir dua bulan, polisi mengizinkan saya bertemu dengan ayah saya. Ayah saya mengatakan pada saya, “Tetap kuat dalam Tuhan, kasihi Dia, layani Dia dan jangan kuatir dengan aku. Jika mereka akan membiarkanku mati di sini, aku rela mati demi nama Allah.”
Saya bertanya-tanya Allah mana yang dimaksud ayahku. Siapakah Allah? Tetapi dorongan ayah saya mengiang-ngiang di kepala saya: tetap kuat, kasihi dan layani Allah. Hal itu mengganggu pikiranku setiap hari. Saya pergi pada ibu saya, dan ia memberikanku sebuah Alkitab, sambil berkata, “Allah ada di dalamnya. Bacalah.” Setelah saya menjadi orang percaya, saya ingin belajar Alkitab. Saya ingin melayani Allah. Hanya ada tiga orang percaya di daerah kami: ibu saya, salah satu kakak laki-laki saya, dan saya sendiri. Kami duduk di sebuah meja kecil setiap hari Minggu, membaca Alkitab dan berdoa. Kemudian sebuah keluarga bergabung dengan kami, lalu sebuah keluarga. Bulan demi bulan, tahun demi tahun, banyak orang menghadiri gereja rumah kami. Tak lama, 36 gereja rumah beroperasi di daerah di mana kami tinggal.
Pada waktu ayah saya baru dipenjara, keadaan sangat sulit. Orang-orang memandang remeh dan membenci kami. Di sekolah saya, gurunya mengatakan kepada murid-murid lain, “Inilah putri dari musuh negara kita.” Saya tidak mempunyai teman. Tidak ada yang bicara pada saya di sekolah, dan semuanya memandang remeh terhadap saya.
Namun ketika itulah saya mengalami bagaimana Allah mengubah kami. Sebelumnya, jika seseorang mengatakan hal-hal yang buruk atau mengutuk saya, saya akan panik dan merasa tak senang. Bahkan ketika gurunya mempermalukan saya di hadapan murid-murid lain dan ketika saya tidak mempunyai teman, saya merasakan kehangatan dalam hati saya. Saya mempunyai damai sejahtera seperti seseorang berdiri di samping saya dan menghibur saya.

VOM: Bagaimana perasaanmu sekarang ini dengan kebebasan ayahmu setelah 14 tahun? Bagaimana pemikiranmu sekarang?
Sangdara: Saya sangat bersyukur karena ayahku telah dibebaskan. Lewat masa-masa sulit yang ia lalui di penjara, ia menjadi teladan pelayanan bagi kami yang hidup di luar. Karena kesabarannya, kami dapat melalui banyak masalah. Ia tidak pernah mengeluh, bahkan ketika ia jatuh sakit. Ia tetap mengirimkan pesan pada kami mendorong kami supaya tetap kuat. Ketika ia dilepaskan, hal itu adalah sukacita yang besar bagi keluarga kami.

VOM: Adalah hal yang luar biasa yang dikerjakan Allah di dalam keluarga kalian. Ini adalah cerita yang luar biasa tentang kasih dan kesetiaan Allah.
Sangdara: Karena ayah saya dipenjara, kami mengalami kebaikan, kasih dan kemurahan dari Tuhan. Banyak orang menangis bersama kami, berdoa untuk kami dan mendukung kami. Jika kami tidak mempunyai Allah, doa dan dukungan, pasti kami sudah mendapat masalah. Karena kasih karunia Allah dan karena kasih dan doa yang tak henti-hentinya, kami tak pernah tidur dengan perut kosong sekalipun kami miskin. Tuhan menyediakan bagi kami dengan makanan sehari-hari, dan kami selalu punya cukup makanan.
Terima kasih banyak untuk bantuan dan dukungan Anda yang setia. Karena kalian, kami bisa tegak berdiri dalam iman dan melayani Allah seperti yang sedang kami lakukan hari ini. Apa yang kalian telah lakukan untuk kami, kami lakukan untuk orang lain. Kami akan mengembalikan perbuatan kasih kalian kepada orang lain dan membuatnya hidup bersama mereka.

Posted: 2 Mei 2012
Tulisan Bahasa Inggrisnya dapat di lihat di sini.


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger