"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sekularisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekularisme. Tampilkan semua postingan

Why Intelligent People Are Less Likely to Be Religious: And how our expectations for Christians in education are changing.

Written By Menara Penjaga on Rabu, 28 Agustus 2013 | 11:59


My story is almost always met with surprise: How could an atheist convert to Christianity at Harvard, the bastion of secular intellectual elitism?
Now this reaction has some empirical justification. A recent meta-analysis of studies on religion and intelligence found that yes, overall, people with high IQs and test scores are less likely to be religious. Researchers analyzed 63 studies on religion and intelligence from the past 80 years with differing results to discover the slightly negative correlation between the two.
Unlike previous studies that tried to explain the data by suggesting that smart people simply see past religion's claims, these researchers, led by University of Rochester psychologist Miron Zuckerman, tried to identify other social factors in play. Nevertheless, the hype about their conclusions is overblown, and all of us—the religious and the non-religious—should be wary of placing too much weight on their findings.
There are the standard caveats. Correlation does not equal causation. Just because intelligent people are less likely to be religious doesn't mean that their brilliance causes them to reject religion. One look at Christians' intellectual contributions throughout history —made by thinkers such as Donne, Newton, Aquinas, and many others—does away with this misconception.
Plus, in spite of presenting a sweeping meta-analysis, the study's authors relied on a limited range of research, as they admit in the paper. They primarily address Protestants, in the U.S. (This highlights a common problem in psychological research, which is heavily weighted toward a particular population that is rather WEIRD—Western, Educated, Industrialized, Rich, Democratic—when compared to the rest of the world.)
The most significant issue comes with the very question these researchers chose to explore. The way they framed their study suggests an implicit bias in the way scholars think about religion. "Secular researchers are likely to discover what they already suspect which is a co-relation between their values and high levels of intelligence," noted atheist sociologist Frank Furerdi. He questioned the value of such a project, where "social science research turns into advocacy research."
Furerdi's point echoes something I've previously argued about religion among academics: Intelligent people don't simply reject religion because it's wrong; they reject it because their social environments lead them to think it's wrong.
We choose which questions to grapple with on the basis of how important they are to us. When society keeps repeating that "smart folks reject religion," then religion becomes an object no longer worthy of investigation. Everyone finds questions really worth their time and leaves religion to the fools who just don't know any better.
Rather than the result of a causal correlation, the researchers' findings on religion and intelligence seem to fit inside a particular cultural narrative. In the U.S., we assume that intelligent people grow up, then reject faith. Faithful teenagers go off to secular colleges, stop attending church, and become skeptics. As individuals situate themselves in this narrative, the story becomes a self-fulfilling prophecy.
This has been the story in academia for some time now. Jean Bethke Elshtain, a political philosopher from the University of Chicago who recently passed at age 72, came back to the Christian faith after abandoning it during college. She described her youthful transition away from religion using a narrative you could easily hear today:
I had slowly but surely inched over to join the company of those who chided those who believed. I decided I was not gullible, like those folks, and if they wanted to cling to wishful thinking, they could certainly do that, but I was at university, after all, where I had learned skepticism, and indeed I had decided that I had become a skeptic myself, joining most of my professors in that designation.
Fortunately, much work is being done to improve the situation in the academy. InterVarsity, Cru, Navs, Chi Alpha, Christian Union, and countless other campus ministries continue to help Christian students navigate their university context and lead non-believers to faith. Their discipleship helps raise a new generation of brilliant Christian thinkers.
I'm proud to work for The Veritas Forum, where we partner with campus ministries and Christian professors bring together students and faculty for open conversations about their religious beliefs. As we help to expose students to the most credible and articulate Christian intellectuals, often in dialogue with secular peers, so we have the opportunity to change the narrative surrounding faith.
And things are changing. The Social Science Research Council stated in 2007, "the academy is no longer the bastion of secularism it was once assumed to be." Those who attend college are actually more likely to stay religious now than those who forgo higher education. Note that Zuckerman and his research team found that intelligent people who don't attend college reject religion at the same rates as those who do, so education itself can no longer make the difference.
If these trends continue, I can imagine a world in which the prevailing narrative is not "go to college and lose your faith" but "come to college to save your faith." For just as the university taught me to think rationally, to question well, to delight in knowledge, it was the best place I could come to learn how to worship God with all my heart, soul, strength, and mind.
Jordan Monge is the northeast regional director of The Veritas Forum and a regular contributor to Fare Forward.

Memahami agenda Mr. Obama dan kepincangan sekularisme

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 06 Juli 2013 | 01:07




KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.

Bagi yang kurang teliti, ia bisa nampak sebagai seorang yang hendak membela martabat kaum yang lemah, yang perlu perlindungan, dan yang terpinggirkan. Dan memang demikian ia ingin dilihat.

Namun, jika dipikirkan dengan kritis, ia sebenarnya sedang memaksakan sebuah ideologi yang bertentangan dengan akar budaya dan agama Afrika, yaitu sekularisme (hurufiahnya “paham penduniawian”).

Dengan memaksakan sudut pandang yang dianutnya (dan sebagian masyarakat AS) kepada warga masyarakat di negara-negara yang menyambutnya sebagai seorang tamu kehormatan, ia telah melakukan pelecehan secara terang-terangan.

Mr. Obama dengan wibawanya hendak menunjukkan kepada negara-negara yang menerimanya sebagai tamu (dan tentu saja dunia) bahwa ia seorang yang peduli dengan para pelaku dan praktek hubungan sejenis dan bahwa sikap negara-negara Afrika terhadap pelaku dan praktek hubungan sejenis adalah salah.

Walaupun orang sering dibingungkan antara kedua hal ini: praktek hubungan sejenis dan orang yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, namun keduanya berlainan dan harus dibedakan.

Orang yang tidak bisa membedakan kedua hal ini akan dengan mudah menerima doktrin agama Presiden AS. (Disebut “agama” karena ideologi sekularisme bertujuan menjadi dasar pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dari sebuah masyarakat.)

Baik masyarakat Senegal yang mayoritas Muslim maupun Kenya yang mayoritas Kristen, praktek hubungan sejenis adalah ilegal. (Mr. Obama tidak mengunjungi Kenya, tetapi tanggapan mengenai aktivitasnya di Senegal, Afrika Selatan, dan Tanzania turut datang dari negara kelahiran ayahnya ini.)

Apa artinya bahwa praktek hubungan sejenis di negara-negara ini (kecuali Afrika Selatan) adalah ilegal?

Itu berarti bahwa hukum di kedua negara Afrika ini mengambil posisi sesuai sudut pandang norma masyarakat yang melekat dalam tradisi kebudayaan, agama, dan kompleksitas ilmu pengetahuannya, dan menolak praktek ini sebagai hal yang tidak sah, yang tidak normal atau moral, dan tidak bisa dipromosikan sebagai sesuatu hal yang baik bagi masyarakat.

Dengan demikian negara sebagai wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk mengatur dan memerintah mengambil sikap yang sama dan menjalankan peraturan yang tidak hanya menjamin hak dan kewajiban semua anggota masyarakat, tanpa membeda-bedakan kemanusiaannya, tapi juga menjaga kelanggengan aspirasi budaya dan agama yang berkeadilan dan etis.

Ketika Presiden AS mengatakan bahwa ia menghormati sudut pandang pribadi (ciri-ciri gerakan sekularisme adalah menciptakan dikotomi antara individu dan masyarakat), dan iman pribadi masing-masing (menciptakan dikotomi antara agama dan non-agama/sekuler), ia sedang menggoda masyarakat untuk berpikir bahwa sudut pandang agama dan pribadi masyarakat Afrika tersebut tidak pantas diterapkan dalam kebijakan sebuah negara.

Baginya yang tepat adalah pandangan pribadinya dan sebagian masyarakat AS bahwa praktek ini harus mendapat keluasan dalam masyarakat sehingga dapat dilakukan oleh mereka yang mau melakukannya sebebas-bebasnya, bahkan mendapat tunjangan dari pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah dan dipromosikan lewat kegiatan-kegiatan seperti pawai homoseks di New York atau San Francisco.

Gagal mengikuti resepnya ini, mengikuti logika kata-katanya, berarti sebuah pemerintahan melakukan diskriminasi.

Kata “diskriminasi” telah menjadi senjata ampuh terhadap mereka yang gagal memahami kompleksitas masalah ini, dan juga tampak menjadikan Mr. Obama sebagai seorang pembela hak asasi manusia (HAM).

Namun jika dilihat keadaan di negerinya sendiri, mereka yang menolak mengafirmasi gaya hidup homoseksual harus mengalami diskriminasi oleh karena peraturan yang dibuat dari sudut pandang yang tidak mengakomodasi HAM untuk kebebasan beragama.

Inilah kebohongan dalam agenda presiden Obama, bahwa dalam berbicara tentang melawan diskriminasi, sekularisme yang hendak dipaksakannya jelas-jelas melakukan diskriminasi. Mereka yang tidak mau menerima praktek yang ditolak agama dan budaya dunia pada umumnya ini akan mengalami diskriminasi.
Jadi nampaklah di depan mata kita dua sistem yang berbeda: Yang satu berdasarkan pemahaman manusia akan kodrat dan agama, yang lain menolak dan menempatkan kebebasan manusia di atas segala-galanya.
Yang pertama akan mengiring pada keteraturan dan kebebasan yang sebenarnya, sedang yang lain akan menuntun pada kekacauan (chaos) dan perhambaan.

Mr. Obama harus lebih berani mengakui agenda sekularismenya. Paling tidak jujurlah bahwa pencitraannya sebagai pembela HAM hanyalah topeng belaka.

Kalau tidak ia hanya menambah bukti bahwa sekularisme adalah agenda yang tidak jujur. Melihat contoh di AS, pelajaran agama tidak diperkenankan diajarkan di sekolah negara. Itu karena dikatakan sekolah negara adalah tempat non-agama/sekuler; harus bebas dari pelajaran agama. Berdoa pun dilarang.

Namun di sekolah-sekolah ini para pelajar dicecok dengan materialis Darwinisme yang berpangkal pada ajaran anti-theis (anti-agama) bahkan dalam perkembangannya sekarang praktek hubungan sejenis diajarkan sedini TK (taman kanak-kanak).

Jadi jelaslah, agenda Mr. Obama bukan untuk membela kaum yang lemah, bukan pula sekedar untuk membantu masyarakat Afrika yang terus menderita akibat efek jangka panjang kolonialisme. Ia menawarkan sekularisme, dan para pemimpin Afrika yang pintar telah dengan terang-terangan mengungkapkannya: Kami menghargai bantuan Anda, tapi [kami] takut akan Allah.

1373045939186927054

Ketika Tuhan dimarginalisasi: Kesedihan atas peristiwa penembakan anak-anak di AS

Written By Menara Penjaga on Minggu, 23 Desember 2012 | 00:57

Dr James Dobson.
(foto: Christian Today.au)
AMERIKA SERIKAT, Connecticut (MP).

"Dan banyak hal-hal seperti ini yang terjadi di sekeliling kita, dan ada orang yang akan marah karena saya mengatakan ini, tapi saya mau memberikan pendapat jujur saya: Menurut saya kita telah membelakangi Alkitab dan Tuhan Yang Mahakuasa, dan saya pikir Dia telah mengijinkan penghakiman terjadi atas kita. Saya pikir itulah yang terjadi," ungkap Dr James Dobson dalam program "Dr. James Dobson's Family Talk," seperti dikutip oleh Christian Today Australia.

Judul acara yang mengudara Senin lalu itu adalah "Sebuah Bangsa yang Terguncang oleh Tragedi Sandy Hook."

Dr Dobson adalah seorang Kristen yang telah mengabdikan hidupnya untuk memperkokoh kehidupan keluarga melalui programnya
Focus on the Family (fokus pada keluarga). Ia adalah seorang psikolog dan banyak menulis buku tentang anak-anak. Ia juga secara vokal membela pernikahan sebagai antara seorang pria dan seorang wanita, termasuk kesucian nilai hidup.

Dalam program tersebut di atas Dr Dobson juga menunjuk pada pembunuhan bayi dalam kandungan dan 'pernikahan' sesama jenis sebagai tanda bahwa Amerika (Serikat) telah mengambil jalan yang melawan Allah.

Menurutnya, AS kelihatan sedang berada dalam keadaan yang penuh kekacauan. “Saya tidak berbicara politik. Saya tidak berbicara tentang hasil pemilu 6 November lalu. Saya mengatakan bahwa ada yang tidak beres di Amerika dan bahwa kita telah berbalik dari Tuhan,” ungkapnya.

"Jutaan orang telah memutuskan bahwa Allah tidak ada, atau [mengatakan] Allah tidak relevan bagi saya, dan kita telah membunuh 54 juta bayi, dan lembaga pernikahan saat ini sedang berada di ambang perubahan definisi secara menyeluruh. Percayalah, itu juga akan membawa konsekuensi." 


Budaya tanpa Tuhan 

Seorang mantan Gubernur negara bagian AS Mike Huckabee turut mengkritisi bagaimana Allah dimarginalisasi dari masyarakat AS dalam menyikapi tragedi di sekolah dasar Sandy Hook, yang menelan korban jiwa 20 anak-anak.

"Kita bertanya mengapa ada kekerasan di sekolah kita, tapi kita secara sistematis mengeluarkan Allah dari sekolah kita. Haruskah kita menjadi begitu terkejut bahwa sekolah telah menjadi seperti tempat pembantaian? Karena kita telah membuat sekolah sebagai sebuah tempat di mana kita tidak ingin membicarakan tentang kekekalan, kehidupan, arti tanggung jawab, dan kepercayaan," ungkap Mr Huckabee dalam sebuah wawancara dengan Fox News, seperti dilaporkan oleh Christian Today Australia.

Dalam Amendemen I Konsitusi AS tahun 1791 dikatakan bahwa Kongres tidak boleh membuat hukum mengenai penetapan satu agama, atau melarang kebebasan beragama. Namun, hal ini telah ditafsirkan sebagai pemisahan antara negara dan agama, yang ditafsirkan lebih jauh bahwa di sekolah-sekolah umum milik negara tidak boleh ada doa atau hal-hal menyangkut iman Kristen.

Sekolah dasar West Marion, negara bagian North Carolina baru-baru ini memerintahkan seorang anak enam tahun untuk mengeluarkan kata “God” (Allah) dari puisi yang akan dibacakannya untuk memperingati Hari Veteran (lihat di sini).

Mr Huckabee kemudian mengklarifikasi bahwa dia tidak menganggap bahwa insiden penembakan itu tidak akan terjadi jika doa diizinkan di sekolah, tetapi hal itu memberi titik tentang pentingnya peran kehadiran Allah dalam sebuah budaya.

"Kita telah mengiringNya keluar dari kebudayaan kita dan kita telah mengeluarkan-Nya dari ranah publik kita, dan sekarang kita mengungkapkan kekagetan kita bahwa budaya tanpa Dia (Allah) benar-benar mencerminkan apa yang telah menjadi," kata Mr Huckabee.

Bendera setengah tiang dikibarkan di seluruh AS dan lonceng gereja dibunyikan sebagai tanda belasungkawa. Semoga duka nasional ini memimpin pada pertobatan nasional.***


------
"Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi." (2 Raja-Raja 17:13)

Ratusan ribu umat Katolik, Protestan, Muslim, dan Yahudi turun ke jalan menolak 'pernikahan' sejenis di Perancis

Written By Menara Penjaga on Rabu, 21 November 2012 | 09:55


Masyarakat Perancis memperjuangkan fondasi
masyarakat dan hak-hak anak (foto: NOM).  
PERANCIS, Paris (20 November 2012).

Jalanan di Paris dipadati oleh sekitar 200.000 orang yang berdemonstrasi menentang perubahan peraturan tentang pernikahan. Unjuk rasa pada hari Sabtu (17/11) ini terjadi juga di berbagai tempat lainnya di Perancis.

Menurut laporan
Reuters, di kota Lyon hampir 30.000 pendukung pernikahan menurut tradisi melakukan protes. Di pihak lain, kepolisian setempat melaporkan bahwa ada 40 kontra-demonstran yang ditangkap karena berusaha untuk mengganggu unjuk rasa itu.

Polisi di Toulouse melaporkan bahwa gas air mata digunakan untuk memecah sekelompok homoseksualis yang mencoba untuk mengganggu pertemuan dari sekitar lima ribu pendukung pernikahan sebagai antara satu orang laki-laki dan satu orang perempuan. 

Le Parisien melaporkan bahwa antara 6.000 dan 8.000 orang berdemonstrasi di Marseille, yang juga disambut oleh para homoseksualis yang membentangkan spanduk yang bertuliskan "Model masyarakat kamu sudah mati, selamat datang di Sodom dan Gomora" dan menghina pada demonstran. 

Demonstrasi pada hari Sabtu itu didukung oleh para pemimpin dari masyarakat Katolik, Muslim, Protestan dan Yahudi. Mereka menuntut administrasi pemerintahan Presiden Franรงois Hollande untuk mempertimbangkan dampak dari merubah "fondasi sebuah masyarakat."

 
Demonstrasi kedua

Sebuah demonstrasi kedua dilakukan oleh organisasi Katolik Civitas di Paris pada hari Minggu (18/11).

Gloria TV melaporkan bahwa sekitar 9.000 pendukung pernikahan menurut tradisi, termasuk banyak pendeta, berbaris dengan spanduk bertuliskan "Perancis membutuhkan anak-anak, bukan homoseksual," dan "Pernikahan = satu orang + satu perempuan."

Salah satu pemimpin Civitas,
Alain Escada, mengatakan "Tujuan kami adalah mengobarkan perlawanan yang sungguh-sungguh untuk melindungi keluarga dan anak," kata Escada, yang kelompoknya mengklaim 1.200 anggota dan jaringan sekitar 100.000 pendukung.

Menurut laporan AFP demonstrasi damai hari Minggu itu dinodai oleh kedatangan anggota kelompok feminis radikal, Femen, dari Ukraina, yang mengenakan kerudung biarawati sambil bernyanyi lagu olokan. Mereka kemudian (maaf) bertelanjang dada, dan kemudian dibawa oleh polisi
.


Janji kampanye Presiden Hollande

'Pernikahan' sesama jenis adalah salah satu janji kampanye Presiden Hollande. Ia mengatakan administrasi pemerintahannya berencana untuk melegalkannya pada pertengahan 2013. Dia juga berjanji akan memberikan hak adopsi untuk pasangan sejenis laki-laki, dan bahwa pasangan sejenis perempuan akan diberi akses untuk inseminasi buatan dan fertilisasi in vitro.

Para Uskup Katolik Perancis menjadi memimpin perlawanan terhadap RUU yang akan mengubah definisi pernikahan menurut tradisi yang mendunia. Baru-baru ini Uskup Agung Paris mengatakan bahwa 'pernikahan' sesama jenis akan membahayakan keseimbangan masyarakat Perancis dan anak-anak. "Itu tidak akan menjadi 'pernikahan untuk semua'," ungkap Kardinal Andre Vingt-Trois, mengutip slogan pemerintah, melainkan pernikahan untuk beberapa orang yang memberi dampak pada semua.

Lindungi anak-anak dan keluarga

"Ketika kita membela hak anak-anak untuk membangun kepribadian mereka dengan mengacu pada pria dan wanita yang memberi mereka kehidupan, kita tidak membela posisi tertentu," kata Uskup Agung Paris, "Kita memahami apa yang terlihat lewat praktek dan kebijaksanaan semua orang sejak awal mula dan yang dikonfirmasi oleh para spesialis modern saat ini."

Paus Benediktus XVI sebelumnya telah meminta uskup Perancis pada kunjungannya di Vatikan untuk menentang undang-undang yang diusulkan itu, dengan mengatakan, "Suara Gereja harus diperdengarkan, tanpa henti dan dengan tekad." (LSN)

Apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama?

Written By Ray Maleke on Sabtu, 10 November 2012 | 01:04

Presiden AS Barack Obama (foto: csmonitor)
AMERIKA SERIKAT, West Virginia (10 November 2012).

Setelah penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) dari Kerajaan Inggris (4 Juli 1776) oleh para pendatang di Dunia Baru di tiga belas koloni Amerika, Samuel Adams menyatakan: "Hari ini, saya percaya, pemerintahan politik Protestan akan dimulai."1 Hampir semua dari 56 penanda-tangan Deklarasi itu berafiliasi dengan gerakan Protestan.

Dalam artikelnya “The Middle Colonies as the Birthplace of American Religious Pluralism” (Wilayah Koloni Tengah sebagai Tempat Lahir Pluralitas Agama Amerika), Patricia Bonomi, profesor emeritus di New York University menulis: "Koloni [Amerika] terdiri sekitar 98 persen Protestan."2

Menyikapi kesan di atmosfir negara berpenduduk ketiga terbesar di dunia ini yang semakin menjauh dari etika moral kekristenan, [dengan tidak mengenyampingkan pertanyaan keadilan bagi para penduduk asli Amerika Utara], Julio Severo menulis “Pemerintahan politik Protestan di Amerika mulai menurun ketika liberalisme menyerang gereja-gereja...dan ketika pendidikan yang berpusat pada negara menggantikan pendidikan yang berpusat pada keluarga.” Menurutnya dalam kedua hal ini gereja dan keluarga melakukan penolakan, namun “kecil.”3

“Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, AS tidak memiliki mayoritas Protestan, seperti laporan AP baru-baru ini. Sementara liberalisme meningkat di gereja-gereja Protestan, AS melihat penurunan jumlah anggota [gereja-gereja Protestan], dan banyak dari pemimpin mereka tidak lagi sejalan dengan Injil itu sendiri,” lanjutnya. 
Severo menilai bahwa gerakan Protestan di AS telah menjauh dari para penggagasnya yang menentang “kejahatan demi Injil itu sendiri.” 

Gerakan Protestan dihubungkan dengan Martin Luther ketika ia menempelkan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg, Jerman, pada tanggal 31 Oktober 1517.

Sekitar 500 tahun yang lalu Luther juga menulis: "Saya sangat takut kalau sekolah-sekolah akan terbukti menjadi gerbang besar menuju neraka, kecuali sekolah-sekolah itu [para pekerjanya] rajin bekerja dalam menjelaskan Kitab Suci, dan mengukirkannya dalam hati kaum muda."4


Sekolah tanpa agama

Di puncak gerakan Aufklarung (Pencerahan) yang mengadvokasi pemisahan negara dan agama, namun pada tataran ideologinya adalah sekularisasi masyarakat, sekolah-sekolah hendak dibersihkan dari pengaruh agama (sic. kekristenan).

Para penganut gerakan ini menggunakan berbagai posisinya untuk maksud ini, baik di Eropa maupun di berbagai koloninya. Ambil contoh di Minahasa. Pada tahun 1845, Residen A. J. Van Olphen menginstruksikan bahwa Agama Kristen sudah tidak bisa diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah dan sekolah misi. Atas perjuangan Nederlandsch Zendeling-gnootschap (Badan Misi Belanda) peraturan ini tidak diberlakukan di sekolah misi.5 Agenda Aufklarung di Indonesia tercegal dengan lahirnya Pancasila, yang sekarang menjadi sebuah target ideology.

Di AS, dengan preteks pemisahan antara negara dan agama, maka sekolah-sekolah negara atau yang ditunjang oleh negara tidak boleh mengajarkan agama pada murid-muridnya.6 Kelompok-kelompok ateis sangat militan dalam menjaga kebijakan ini. Menyanyikan sebuah lagu yang menyebut “Allah” atau “Tuhan” saja tidak luput dari gugatan hukum mereka.7 Hal ini praktis merupakan supresi agama di dalam pikiran anak-anak dan masyarakat.

Tidak banyak yang menyadari apa yang ditunjukkan oleh Francis Fukuyama bahwa gerakan Protestan telah ditunggangi oleh gerakan Aufklarung sebagai agen sekularisasi,8 atau lebih tepat sekularisasi kebablasan. Karena jika awalnya adalah untuk tujuan demokratisasi dan toleransi beragama, pada akhirnya secara ekstrim telah meminggirkan agama-agama dari realitas publik masyarakat Eropa dan Amerika Utara, dan pada saat yang sama, mendorong Darwinisme/Naturalisme sebagai spritualitas yang 'valid'.


Pendidikan Katolik

Pada tahun 1840, di New York, ketika identitas Protestan masih sangat kuat di antara para settlers, dengan ekses yang menyebabkan diskriminasi terhadap murid-murid berlatar-belakang Katolik, Bishop John Hughes melayangkan protes.

“Kami menolak membayar pajak yang [maksud penggunaannya] adalah menghancurkan agama kami dalam pikiran anak-anak kami.” Ia menuntut supaya New York Public School Society juga menopang sekolah-sekolah Katolik.9

Ketika pada tahun 1850 ia terpilih sebagai Uskup Agung New York, ia menggunakan wewenangnya untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan Katolik swasta. Sekarang ini, ketika pendidikan Katolik masih merupakan pendidikan alternatif di AS, pendidikan Protestan telah hampir menyeluruh menghilang, dan yang masih berfungsi, sedikit yang dapat dikatakan beroperasi di luar ideologi sekuler.

Keberatan yang disampaikan oleh Severo adalah bahwa sekolah modern saat ini tidak berusaha untuk menjelaskan atau “mengukirkan” Alkitab di hati para generasi muda. “Sebaliknya, sekolah mengukirkan homoseksualitas dan penyimpangan lainnya” dalam hati mereka. Karena itu baginya, mengutip Luther, “Sekolah secara efektif telah menjadi gerbang besar neraka.”


Home Schooling

Situasi ini membuat banyak orangtua mulai memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di rumah. Ini pun bukan tanpa problema. Di AS sekarang ini home schooling masih merupakan alternatif pendidikan anak-anak, tapi pertanyaannya adalah sampai berapa lama kebijakan ini akan bertahan?

Di Kanada, homoseksualisme telah mulai diajarkan pada anak-anak di tingkat taman kanak-kanak.10 Di Provinsi Alberta, bahkan para orang tua yang memilih home schooling sebelumnya telah menerima tekanan untuk melakukan hal yang sama di sekolah rumah mereka, sekalipun Pemerintah kemudian mundur dengan mengalirnya komplain dari orang tua.11 Dalam situasi ini semuanya berargumen dengan mengutip “hak asasi manusia.”

Menyeberang ke Eropa, yang dilaporkan sangat senang dengan terpilih kembalinya Mr. Obama, Norbert Blum, seorang figur dalam Persatuan Kristen Partai Demokrat, mengatakan, “Saat ini saya mengamati perampasan total anak-anak oleh negara.” Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi dan pulang sore.

"Saya menentang monopoli pendidikan negara dan melihat home schooling oleh orang tua yang bertanggung jawab sebagai tanggapan yang sehat terhadap sistem sekolah yang bersifat mutlak," demikian dikutip Home School Legal Defence Association.12

Pada zaman Nazi, home school dinyatakan ilegal di Jerman. Baru-baru ini pihak berwenang di Jerman telah menindak sebuah keluarga yang menerapkan home school, memberi sangsi denda yang mencekik leher, merampas anak-anak dari rumah mereka, dan memenjarakan orang tua yang terus mengajar anak-anak mereka di rumah.

Awal bulan ini, sebuah pengadilan distrik di Darmstadt memisahkan sebuah keluarga, dan menyerahkan anak-anak mereka ke lembaga anak, karena orang tua mereka menyekolahkan mereka di rumah.13

Kita kadang berpikir bahwa negara-negara yang mengagung-agungkan demokrasi ini adalah kebalikan dari retorik “fundamentalisme” yang sering diarahkan pada negara-negara Islam. Tapi kalau kita melihat lebih dekat lagi, apakah kita masih dapat berpikir demikian?

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama? Saya berharap tulisan ini dapat menjadi pengantar dalam sebuah diskusi yang membukakan pikiran in our connected world today.***



-------
1  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
2  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
3  Julio Severo, A New Reformation to Counter-Attack the Great Gates of Hell?: Martin Luther warns modern-day parents, Last Day Watchman (link); Tulisan ini dielaborasi dari artikel Severo. 
4  S. Michael Craven, Christian and Public Education, Christianity.com (link); The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
5  F. S. Watuseke, Sejarah Minahasa (Manado: Pertjetakan Negara, 1968), 41.
6  Lihat tulisan S. Michael Craven, Christian and Public Education (link), yang memberi sinopsis tentang problematika sekolah negara di AS.
7  Atheistic FFRF Pledges Legal Battle as NY Public School Refuses to Remove ‘God’ & ‘Lord’ Songs, The Blaze (link).
8  Lih. Adian Husaini, Wajah peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal (Jakarta: Gema Insani, 2005), 82.
9  http://www.pbs.org/kcet/publicschool/photo_gallery/photo2.html
10  Toronto school board: Parents can’t opt kids out of pro-homosexual curriculum, LifeSiteNews (link).
11  Alberta backtracks: Parents can teach beliefs on homosexuality, but homeschoolers still concerned, LifeSiteNews (link).
12  German politician blasts 'state education monopoly,' speaks out for homeschooling, LifeSiteNews.com (link).
13  German parents lose custody of their children for homeschooling, LifeSiteNews (link).

Gereja Katolik mengungkapkan rasa solidaritas dengan Gereja Ortodoks Rusia dalam menghadapi meningkatnya sentimen anti-Kristen dan anti-gereja

Written By Menara Penjaga on Jumat, 02 November 2012 | 08:45

Metropolitan Hilarion
(foto: DECR)
RUSIA, Moskow (30 Oktober 2012).

Presidensi Dewan Konferensi Waligereja Eropa (Consilium Conferentiarum Episcoporum Europae [CCEE]) telah mengirimkan sebuah surat kepada ketua Departemen Hubungan Eksternal Gereja Ortodoks Rusia, Metropolitan Hilarion dari Volokolamsk, yang mengungkapkan solidaritas mereka dengan Gereja Rusia yang tengah menghadapi meningkatnya sentimen anti-Kristen dan anti-gereja di Rusia dalam beberapa bulan terakhir ini.

"... Berkaitan dengan jumlah dan peningkatan manifestasi pendiskriminasian terhadap umat Kristen di berbagai negara, serta sentimen anti-Kristen dan anti-gereja yang telah meningkat terutama di Federasi Rusia dalam beberapa bulan terakhir ini, kami pertama-tama ingin meyakinkan kalian akan solidaritas kami yang mendalam," demikian diungkapkan Dewan Gereja Katolik dalam surat itu.

Dalam surat itu terungkap bahwa pada akhir pelaksanaan Pleno Majelis Dewan Konferensi Waligereja Eropa akhir September lalu, disimpulkan bahwa adalah hal yang disayangnya bahwa di banyak negara Eropa, “Allah semakin terlihat sebagai urusan pribadi dalam budaya, hukum dan ranah publik.”

“Presidensi CCEE sangat yakin bahwa pandangan ini sama sekali tidak menghormati martabat manusia dan selanjutnya tidak menghormati konsep kebebasan beragama seperti yang didefinisikan dalam dokumen-dokumen internasional. Mengenai situasi ini kami turut berbagi keprihatinan kalian menyangkut serangan-serangan terhadap tempat-tempat ibadah dan simbol Kristen di Rusia dalam beberapa bulan terakhir."

Selain menunjukkan solidaritas dan keprihatinan mereka, Presidensi CCEE juga menolak kecenderungan untuk menyalah-artikan kebebasan seni dan berekspresi, ketika pada kenyataannya ada dorongan atau instrumentalisasi agama untuk tujuan provokatif untuk merusak perdamaian agama atau menghasut kebencian terhadap agama atau keberadaan agama dalam kehidupan publik."

Surat itu ditandatangani oleh Presiden CCEE, Pรฉter Kardinal Erdล‘, Uskup Agung Esztergom-Budapest, dan CCEE Wakil presiden: Angelo Kardinal Bagnasko, Uskup Agung Genoa, dan Mgr. JรณzefMichalik, Uskup Agung Przemyล›l.
(DECR)

Uskup baru minta doa supaya "ortodoks" dan "berani"

Written By Menara Penjaga on Jumat, 28 September 2012 | 23:19

Uskup Portsmouth Philip Egan
(foto: portsmouthdiocese.org.uk)
INGGRIS, Portsmouth (9/27/12). 
 
Seorang uskup Katolik yang baru diangkat, Uskup Philip Egan, meminta umatnya untuk berdoa baginya supaya ia bisa menjadi uskup Portsmouth yang "rendah hati dan kudus, ortodoks, kreatif dan berani" serta "seorang yang merupakan milik Tuhan," demikian dilaporkan LSN.com.
 
Dalam homilinya untuk Misa pengangkatan di Gereja Katedral St. Yohanes Penginjil, Senin lalu, Uskup Egan menggambarkan situasi sosial di Inggris, dan peran dirinya di dalamnya yang bakal mengejutkan bagi seorang uskup Katolik di Inggris.
 
Ia mendesak umat yang hadir untuk "meninggalkan misa ini dengan semangat penuh sukacita," dan "membantu membawa tentang pertobatan yang diperlukan - secara intelektual, moral dan spiritual - bagi semua orang yang kita temui untuk menerima Yesus Kristus, sang Injil Kehidupan."
 
Sementara tren di antara para uskup Inggris adalah menjauhkan diri dari kepausan. Uskup Egan menggambarkan dirinya sebagai seorang uskup yang mempunyai "kesatuan pikiran, kehendak, dan hati" dengan Paus Benediktus XVI. 
 
Ia menggunakan beberapa istilah kunci yang dipopulerkan oleh tulisan-tulisan dari mendiang Paus Yohanes Paulus II, termasuk menggambarkan budaya Kristen sebagai "peradaban cinta-kasih" yang hanya bisa tercipta dengan pernyataan terus terang akan kebenaran agama.
 
Uskup Egan menggambarkan budaya Inggris pasca-Protestan yang sangat sekuler sebagai "budaya kematian," istilah Paus Yohanes Paulus II yang digunakan untuk menggambarkan tren sosial yang memuncak dengan praktek aborsi yang hampir universal dan yang diikuti dengan meningkatnya praktek euthanasia yang dilegalkan.
 
Menurutnya, pesan Kristen harus ditawarkan "kepada orang yang sangat membutuhkan arah dan harapan baru, yang dijauhkan oleh gurun politik modern Inggris, yang letih oleh siklus rutinitas kerja, belanja, hiburan, dan yang dikhianati oleh pendidikan, hukum, pembuat kebijakan sosial dan medis yang dalam dunia relativistik yang mereka ciptakan, sekalipun dengan maksud baik, telah menabur benih-benih budaya kematian tandingan yang mencekik leher."
 
Hal senada pernah diungkapkan oleh Edmund Adamus ketika menjabat sebagai Direktur Urusan Pengembalaan di bawah Uskup Agung Vincent Nichols. Ia mengatakan bahwa kepemimpinan di Inggris semakin "permisif anti-hidup dan progresif anti-keluarga dan pernikahan," dan masyarakat Inggris sudah terobsesi dengan seks dan pengejaran hal-hal material, mengeksploitasi kaum perempuan dan mengabaikan kebutuhan anak.
 
Atasan Adamus, Uskup Agung Nichols mengatakan bahwa hal itu adalah pandangan pribadi dari Adamus dan bukan mewakili keuskupan. (Baca seterusnya di sini)
 
Kelihatannya memang Uskup Egan butuh banyak topangan doa. (LSN.com/MP)

Stephane Charbonnier: Mencari popularitas dengan cara hina

Written By Menara Penjaga on Kamis, 20 September 2012 | 03:03

Stephane Charbonnier (foto: AFP).
PRANCIS, Paris (19/9/12).
 
Sementara luka hati umat Muslim yang diakibatkan oleh film kampungan “The Innocence of Muslims” masih miris sembilu, Stephane Charbonnier coba menjadi berita dengan menerbitkan kartun-kartun yang sengaja hendak menghina Islam dan nabi junjungannya.
 
Charlie Hebdo, majalah mingguan yang dipimpin oleh Carbonnier, memang sudah punya reputasi. Majalah ini pernah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad bulan November lalu. Apa lagi tujuannya jika bukan untuk membuat marah umat Muslim. Serangan bom molotov di kantor majalah ini di Paris waktu itu dikaitkan dengan sikap melecehkan majalah ini.
 

Theatre de la Ville di Prancis yang dipakai untuk
pertunjukkan yang menghina umat Kristen
(foto: AFP).

Dalam tanggapannya terhadap penerbitan kemarin Charbonnier mengungkapkan, "Kalau kita mulai mengatakan bahwa kita tidak bisa menerbitkan kartun-kartun ini karena ada risiko seseorang akan kaget maka kita akan mengurungkan niat membuat kartun lain karena akan ada tekanan terhadap kartun lebih lunak dan seterusnya dan kita akan berhenti membuatnya," demikian dilansir BBC.
 
Menyikapi kemungkinan akan adanya protes umat Muslim terhadap Prancis, Menteri Luar Negerinya, Laurent Fabius, telah menginformasikan akan ditutupnya kedutaan, pusat kebudayaan, dan sekolahnya di negara-negara tertentu.
 
Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan kebebasan berbicara memang dijamin di Prancis, tetapi harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.
 
Hal ini memang kelihatannya masih kurang disadari di Prancis.
 
Oktober tahun lalu sekelompok orang Kristen Katolik (yang dilabel “fundamentalis” oleh AFP) melakukan protes terhadap sebuah pertunjukan di Theatre de la Ville dekat katedral Notre Dame. Sekitar 20 orang ditahan dalam aksi protes yang melibatkan pelemparan bom busuk dalam sebuah pertunjukkan di mana gambar wajah Kristus dilumuri kotoran buatan. (MP)

Kebangkitan Gereja Rusia dan serangan kelompok pro-sekularisme

Written By Menara Penjaga on Selasa, 18 September 2012 | 04:33

Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia, Patriark Kirill
(foto: ourladyoflebanon.com)
RUSIA, Moskow (Kabar Gereja).

Pemimpin Gereja Orthodoks Rusia, Patriakh Kirill, dalam khotbahnya pada ibadah Minggu (09/09/2012) di Katedral Kristus Penebus di Moskow, mengungkapkan Gereja Ortodoks sedang diserang oleh musuh yang takut dengan adanya pengaruh gereja dalam negara Rusia.

Kekuatiran akan melemahnya sekularisme di Rusia pasca keruntuhan komunis Soviet pada 1991 berlangsung dalam beberapa tahun terakhir ini telah melahirkan sejumlah serangan terhadap Gereja Ortodoks Rusia. Serangan dari kelompok sekular belum lama ini dilakukan oleh sekelompok band bernama Pussy Riot yang melakukan melecehkan gereja dengan menyanyikan lagu berisi sebuah 'doa punk' di altar Katedral Moskow. Mereka mengaku melakukannya untuk mengkritis Presiden Valdimir Putin.

Sejak penahanan mereka pada 17 Agustus 2012 lalu berbagai aksi lanjutan yang diarahkan pada gereja terus berlangsung. Belasan tugu salib besar di beberapa kota di Rusia Barat dan Ukraina yang terbuat dari kayu dipotong oleh para pendukung sekularisme, sekalipun anggota band yang mendengar kabar itu mengecam aksi tersebut dan mengklaim tidak memiliki kaitan dengan para pelaku.

Patriakh Kirill menyatakan bahwa para penentang yang digambarkannya sebagai "penyerang terhadap intisari budaya dan peradaban" mencoba untuk melemahkan pengaruh Gereja Orthodoks Rusia, agama mayoritas sejak zaman kekaisaran Rusia, dan bahwa mereka tidak akan berhenti menyerang.

"Saya tidak habis pikir bahwa ini adalah serangan berkelanjutan ... untuk mencoba kedalaman iman dan komitmen Orthodoksi di Rusia," ujar Patriakh Kirill saat memimpin ibadah peringatan Perang Borodino yang terjadi pada tahun 1812, seperti diberitakan Reuters.

Di hadapan ribuan jemaat dan undangan yang hadir ia menyatakan bahwa serangan terhadap gereja merupakan penistaan. "Mereka yang ingin mengajak kita semua menghina biara, menolak keimanan dan, jika dapat, mengajak menghancurkan gereja-gereja kita, adalah mereka yang ingin mencobai kesanggupan umat dalam melindungi tempat suci."

Anggota Pussy Riot, Nadezhda Tolokonnikova, Maria Alyokhina dan Yekaterina Samutsevich dihukum dua tahun penjara akibat tindakan mereka tersebut di atas. 

Mereka menyangkali tuduhan 'melakukan keributan dengan kebencian agama' berdasarkan tujuan mereka yang ingin menentang posisi gereja yang masuk dalam ruang politik di Rusia, yang dalam konstitusinya tertulis sebagai negara sekuler.

Presiden Putin, adalah seorang mantan perwira mata-mata Rusia, KGB, pada 2000, beberapa tahun terakhir ini ia mencoba menyeimbangkan promosi kesetaraan antara gereja dan negara, sebab 70 persen warga Russia merupakan jemaat Gereja Orthodoks Rusia, ini belum termasuk denominasi Kristen lainnya. Ia menyatakan hal ini sebagai perayaan sebuah negara sekuler yang mempunyai agama.

Sedangkan Patriakh Kirill menolak tuduhan eratnya hubungan gereja dan negara adalah merupakan akibat tujuan gereja untuk menjadikan Rusia sebagai negara Kristen.

"Ini bukanlah upaya penggabungan [gereja dan negara] tapi tentang mulai mengkristennya masyarakat [Rusia]. Hal inilah yang menjadi ketakutan lawan kami [sekularis]... ketakutan atas kenyataan bahwa Orthodoksi (Gereja Rusia) yang secara nyata dimusnahkan pada masa Soviet mampu untuk kembali menghidupkan orang-orang - walau tidak sebanyak yang diinginkan, namun tentu saja, hal inilah yang membuat kemarahan ini memuncak dan mencoba menghentikan kami," jelasnya sembari melanjutkan, "saya ingin mengatakan: Kami tidak akan berhenti." (*)

Orang Kristen di Inggris harus siap menerima resiko kehilangan pekerjaan

Written By Menara Penjaga on Kamis, 06 September 2012 | 08:13

Uskup Michael Nazir-Ali (foto: thetelegraph)
INGGRIS, London (5/9/12).
Orang-orang Kristen di Inggris harus meninggalkan iman mereka di rumah atau menerima kenyataan bahwa mereka kemungkinan harus menerima resiko kehilangan pekerjaan mereka, demikian disampaikan seorang pengacara Pemerintah Inggris pada sebuah sidang di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa, seperti dilansir The Christian Institute.
 
Komentar ini muncul di tengah-tengah persidangan kasus empat orang Kristen yang telah diberhentikan dari pekerjaan mereka karena keyakinan agama mereka, termasuk Lilian Ladele, seorang pegawai pencatat perkawinan sipil, kerena menolak mencatat nikah sipil pasangan sesama jenis atas dasar hati nurani sebagai seorang pemeluk Kristen.
 
Tiga orang lainnya adalah Nadia Eweida, seorang pramugari yang menolak menanggalkan pin salib kecil di seragamnya, Shirley Chaplin yang dilarang memakai kalung salib ketika bertugas di rumah sakit, dan Gary McFarlane, konselor Kristen yang diberhentikan karena menolak memberikan konseling seks pada pasangan sejenis. Mereka menganggap bahwa Pemerintah Inggris gagal melindungi kebebasan beragama mereka.
 
James Eadie QC, pengacara Pemerintah Inggris tersebut, mengatakan bahwa orang Kristen “yang mengalami masalah” tidak mendapat perlakuan diskriminatif jika mereka mempunyai pilihan untuk “mengundurkan diri dan mencari pekerjaan lain.”
 
Materi yang disampaikan pada para hakim termasuk pernyataan tertulis Uskup Michael Nazir-Ali yang pernah menjabat sebagai uskup Rochester. Ia memperingatkan tentang “agenda hak asasi manusia (HAM)” yang diselewengkan. Hal ini menurutnya mirip dengan rezim komunis ateis di Eropa Timur yang juga menekan Agama Kristen dengan melarang pengungkapan iman di ranah kehidupan masyarakat umum, demikian dilaporkan The Telegraph.
 
“Pelecehan HAM oleh pemerintah sekuler di Eropa Tengah dan Timur semuanya masih begitu segar dalam ingatan.
 
“Agenda HAM yang baru harus menghormati nilai-nilai Yudeo-Kristen jika itu hendak menghindar dari menjadi sebuah ideologi tak-manusiawi lainnya yang memasung kebebasan pribadi.
 
“Ada ketakutan yang dalam di Inggris bahwa agenda HAM sedang diarahkan untuk melawan HAM; dan bermaksud untuk menghapuskan nilai-nilai Yudeo-Kristen dari kehidupan masyarakat umum,” ungkapnya dalam pernyataan tersebut. Ia juga menekankan bahwa iman Kristen dan nilai-nilai Yudeo-Kristen adalah batu penjuru untuk "kebebasan, kemakmuran, dan kemerdekaan di Eropa."
 
Uskup Nazir-Ali memperingatkan bahaya penyelewengan agenda HAM yang bisa menjadi sebuah bentuk totalitarian yang baru di Eropa yang sedang dilanda oleh "sekularisme yang secara agresif semakin meningkat." Hal ini menurutnya memerlukan suatu "jalan keluar yang bijaksana." (MP)

Kontroversi Chick-fil-A: Antara iman dan ekonomi

Written By Ray Maleke on Rabu, 01 Agustus 2012 | 11:38

Di kalangan orang Kristen, pilihan ekonomi tak jarang dibuat tanpa pertimbangan keimanan. Namun dengan kontroversi Chick-fil-A, sebuah jaringan-restoran mirip KFC, banyak orang semakin sadar bahwa tindakan ekonomi dan iman adalah dua hal yang berkaitan.
USA -- Dua minggu yang lalu, pelaksana harian direktur utama Chick-fil-A, Dan Cathy, menyatakan bahwa restoran yang menyajikan burger ayam ini akan tetap menjunjung nilai-nilai kristiani termasuk pemahamannya tentang keluarga. Di Amerika Serikat, negara adidaya yang saat ini sedang berada di persimpangan jalan antara meniru Eropa Barat yang telah dikuasai oleh sekularisme atau kembali ke fondasi Kekristenan, tidak dapat tidak pernyataan semacam itu mengundang reaksi pro maupun kontra.

Organisasi-organisasi pro-homoseksualisme yang didukung oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Ford (mobil), Hewlett-Packard (komputer), Kodak (kamera), Coca-cola (minuman), Nike (sepatu), Starbucks (rumah kopi), Oreo (biskuit), dan sederet merk terkenal lainnya (lihat di sini), termasuk Levi's (jeans) dan Google.com (Internet), langsung menyerukan boikot terhadap Chick-fil-A.

“Eat chikin' no more,” (berhenti makan ayam) ungkap mereka. Chikin' adalah pelesetan dari kata Bahasa Inggris chicken (ayam) yang digunakan dalam iklan milik Chick-fil-A.

Dua walikota, yaitu Chicago dan Boston, telah mengatakan akan menolak restoran yang tidak beroperasi pada hari Minggu itu untuk dibuka di kota mereka.

“Nilai-nilai Chick-fil-A tidak sesuai dengan nilai-nilai kota Chicago,” demikian ungkap Rahm Emanuel, walikota Chicago, seperti dilansir Sun Times.

Ketua Penasihat Umum gereja The Assemblies of God, George Wood, menanyakan serangkaian pertanyaan sebagai respon terhadap ungkapan walikota Chicago yang merupakan tim kampanye Obama ini:

“Apakah Anda mengatakan bahwa umat Katolik tidak di-welcome di Chicago karena mereka tidak mengikuti 'nilai-nilai Chicago'? Bahwa umat Kristen Injili tidak di-welcome? Demikian dengan umat Muslim? Dengan umat Yahudi Ortodoks?

“Bahwa mereka yang keyakinan agamanya menyatakan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak punya 'nilai-nilai Chicago' sehingga dengan demikian tidak termasuk komunitas Anda? Apakah Anda bermaksud mendiskriminasi masyarakat beragama? Apakah Anda bermaksud memarginalisasi mereka? Apakah Anda, menurut pandangan Anda sendiri, sedang bersikap intoleran terhadap masyarakat beragama?” demikian dikutip charismanews.

Dalam laporan Sun Times, Rahn Emanuel, mempertahankan pernyataannya tersebut dan menolak meminta maaf. Hanya Thomas Menino, walikota Boston, yang kemudian menarik kata-katanya: “Mundur dari rencana kalian untuk memiliki lokasi di Boston,” ungkapnya seperti dikutip yahoonews.

Mike Huckabee (foto: charismanews)
Pernyataan Mike Huckabee

Menanggapi serangan pedas dari homoseksualis militan ini, Mike Huckabee, mantan gubernur Arkansas dan juga seorang penulis best-selling untuk NY-Times, mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan:

“Keluarga Cathy, yang dipimpin oleh pendiri Chick-fil-A, Truett Cathy, adalah keluarga Kristen luar biasa yang berkomitmen untuk mengoperasikan perusahaannya menurut prinsip-prinsip alkitabiah dan yang ceritanya adalah benar-benar sebuah kisah sukses di Amerika. Dimulai pada usia 46, Truett Cathy membangun Chick-fil-A menjadi perusahaan beromset $4 milyar pertahun dengan lebih dari 1.600 cabang. Pada usia 91, dia masih aktif di perusahaannya, tapi anaknya Dan adalah pelaksana harian direktur utama perusahaan. Ini adalah kisah Amerika yang hebat yang dikotori oleh ungkapan kebencian dan fanatisme intoleran dari pihak kiri.

"Perusahaan Chick-fil-A menolak untuk beroperasi pada hari Minggu supaya karyawan mereka dapat pergi ke gereja jika mereka menginginkannya. Meskipun mal, bandara dan dunia usaha menekan perusahaan untuk buka pada hari Minggu, keputusan ini dipertahankan. Mereka memperlakukan pelanggan dan karyawan dengan rasa hormat dan penghargaan.

"Pendukung homoseksual militan telah meluncurkan serangan terhadap Dan Cathy dan Chick-fil-A, mendorong pemboikotan karena keluarga Cathy telah memberikan kontribusi terhadap organisasi yang mendukung pernikahan menurut tradisi. Upaya untuk menyakiti atau menghancurkan Chick-fil-A tidak kurang dari sebuah pengancaman ekonomi.

"Mengatas-namakan 'toleransi', ada upaya dilakukan untuk menekan orang-orang supaya berhenti makan di Chick-fil-A. Lebih buruk lagi adalah upaya menjelek-jelekan perusahaan dan karyawannya. Pandangan Kristen yang dimiliki Dan Cathy telah disikapi dengan sikap intoleransi dan ungkapan kebencian yang kejam.”

Lebih jauh Huckabee, sambil menekankan bahwa pihak perusahaan maupun keluarga pemilik tidak berkaitan apa-apa dengan pernyataannya ini, mengajak masyarakat untuk makan di Chick-fil-A sebagai bentuk dukungan bagi “sebuah bisnis yang beroperasi atas dasar prinsip-prinsip Kristen dengan pemimpin yang berani mengambil sikap untuk mempertahankan nilai-nilai kesalehan.” Ia mengajak untuk makan di Chick-fil-A pada hari Rabu 1 Agustus.

“Terlalu sering, mereka yang berhaluan kiri membuat pernyataan bersama untuk mendukung 'pernikahan' sesama jenis, pembunuhan bayi (aborsi) atau ketidak-senonohan, tetapi jika orang-orang Kristen menegaskan nilai-nilai sesuai tradisi [Kekristenan], kita dikatakan 'homofobia', fundamentalis, pembenci, dan intoleran,” ungkapnya dalam pernyataan itu.

Sekretaris Negara AS, Hillary Rodham Clinton
(foto: AP photo/ J. Scott Applewhite via theblaze)
Penyebaran doktrin homoseksualisme

Sementara itu, upaya untuk mempengaruhi opini masyarakat di Asia, Afrika, dan di belahan dunia lainnya terus dilakukan lewat media-media atau 'LSM-LSM' yang berhaluan sama atau yang telah dibeli oleh gerakan sistematik homoseksualisme yang tak hanya ditunjang dana yang besar tapi juga kekuatan politik. Tak kurang dari administrasi pemerintah Inggris dan Amerika saat ini yang telah menyatakan bahwa bantuan luar negeri mereka turut ditentukan oleh penerimaan atas hubungan sesama jenis.

Militansi gerakan homoseksualisme tak hanya menguatirkan masyarakat beragama, tetapi juga para homoseks sendiri. Senator Ted Lieu baru-baru ini mengusulkan sebuah RUU di senat negara bagian California, USA, yang didalamnya dicantumkan: “Tidak boleh dalam situasi apapun penyedia perawatan kesehatan mental melibatkan diri dalam upaya merubah orientasi seksual dari pasien umur 18 tahun ke bawah, sekalipun dengan persetujuan pasien, orangtua pasien, penjaganya, walinya, atau orang lain untuk menempuh upaya itu.” (Lihat selengkapnya di sini.)

Marisa Lobo, seorang psikolog, menentang kebijakan seperti ini di Brazil. Lobo melihat bahwa larangan untuk melakukan terapi reparatif bagi yang memiliki ketertarikan pada sesama jenis “melanggar kebebasan pribadi seorang pasien” dan sebagai seorang ahli jiwa ia harus “mendengar penderitaan psikologi” ketika seorang homoseks ingin merubah orientasi seksualnya. Saat ini terapi ini dilarang oleh Federal Council of Pscyhology (CFP) Brazil. Pernyataannya telah menuai kritik dari organisasi ini, dan Lobo sendiri beresiko kehilangan ijin prakteknya. (Lihat selengkapnya di sini.)

Topik tentang homoseks telah mengganggu pikiran banyak orang Kristen pada akhir-akhir ini. Pada kenyataannya hal ini adalah kenyataan hidup yang harus disikapi dengan bijaksana dan terlebih lagi, dengan belas kasih. Gereja perlu menjadi “tempat utama di mana orang beriman mencari dukungan, penghiburan dan pemuridan seiring mereka membuat keputusan untuk hidup menurut prinsip-prinsip Kristen.”

Ungkapan organanisasi Exodus dapat menjadi titik refleksi bagi gereja yang berusaha untuk mengikuti Kepalanya, yaitu Yesus Kristus. “Kami percaya mengenai padangan yang berpusat pada Injil, maksudnya bahwa semua orang, tanpa peduli akan pergumulan pribadi masing-masing, dapat mengalami pembebasan dari kuasa dosa lewat hubungan dengan Yesus Kristus setiap hari, komitmen terhadap firman Tuhan, dan dengan menjadi bagian dari sebuah komunitas orang percaya yang bersemangat, terbuka, dan relasional yang terdapat di gereja setempat.”

Umat Kristen saat ini diperhadapkan dengan situasi dunia yang semakin tak bersahabat, sekaligus menempatkan kita pada pilihan-pilihan yang menuntut sikap etis kristiani. Pergunakanlah hikmat dari Allah dalam setiap tindakan iman kita, baik dalam ekonomi, politik, bahkan seluruh kehidupan kita dengan berlandaskan iman, pengharapan, dan kasih, serta dengan mengingat pesan firman: "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu... (Yohanes 15:18). Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia" (Yohanes 16:33).***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger