"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Homoseksualisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homoseksualisme. Tampilkan semua postingan

Media-gate dan wawancara Paus Fransiskus: Mengapa perlu kritis ketika membaca pemberitaan media

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 21 September 2013 | 11:48


VATIKAN (MP) -- Popularitas sebuah media berita bukan jaminan bahwa sajian berita media itu selalu dapat dipercaya. Hal ini bukan hanya menyangkut politik, tapi juga masalah keagamaan.

“We cannot insist only on issues related to abortion, gay marriage and the use of contraceptive methods. This is not possible. I have not spoken much about these things, and I was reprimanded for that. But when we speak about these issues, we have to talk about them in a context. The teaching of the church, for that matter, is clear and I am a son of the church, but it is not necessary to talk about these issues all the time...”
Kita tidak boleh hanya terus-menerus berbicara tentang aborsi, pernikahan sesama jenis dan penggunaan metode kontrasepsi. Hal ini tidak mungkin. Saya tidak banyak bicara tentang hal-hal ini, dan saya diomeli karenanya. Tetapi ketika kita berbicara tentang persoalan-persoalan ini, kita harus membicarakannya dalam sebuah konteks. Ajaran gereja, untuk hal ini, adalah jelas dan saya adalah seorang putera gereja, tetapi adalah hal yang tak perlu membicarakan hal ini setiap waktu..."
“The church’s pastoral ministry cannot be obsessed with the transmission of a disjointed multitude of doctrines to be imposed insistently...”
Pelayanan pastoral gereja tidak bisa terobsesi dengan transmisi begitu banyak ajaran yang saling terpisah untuk dikenakan terus-menerus...
Proclamation in a missionary style focuses on the essentials, on the necessary things: this is also what fascinates and attracts more, what makes the heart burn, as it did for the disciples at Emmaus. We have to find a new balance;
Proklamasi dengan gaya [pendekatan] misionaris berpusat pada hal-hal mendasar, pada hal-hal yang diperlukan: ini juga adalah yang mempesona dan menarik lebih banyak [orang], hal yang membakar hati, seperti yang dialami para murid di Emaus. Kita harus menemukan keseimbangan baru;...
[continue]
otherwise even the moral edifice of the church is likely to fall like a house of cards, losing the freshness and fragrance of the Gospel. The proposal of the Gospel must be more simple, profound, radiant. It is from this proposition that the moral consequences then flow.
[sambungan]
jika tidak bahkan bangunan moral gereja kemungkinan akan runtuh seperti rumah kartu, kehilangan kesegaran dan keharuman Injil. Tawaran Injil harus lebih sederhana, mendalam, berseri-seri. Dari dalil inilah konsekuensi moral kemudian mengalir.

"...But the proclamation of the saving love of God comes before moral and religious imperatives..."
...Akan tetapi proklamasi kasih Allah yang menyelamatkan itu hadir mendahului keharusan moral dan agama...
"...The message of the Gospel, therefore, is not to be reduced to some aspects that, although relevant, on their own do not show the heart of the message of Jesus Christ.”
Pesan Injil, karena itu, tidaklah untuk dikurangi menjadi aspek-aspek tertentu, yang sekalipun relevan, namun dalam dirinya tidak menunjukkan inti dari pesan Yesus Kristus.

Demikian kutipan sebagian dari transkrip wawancara Paus Fransiskus dengan pemimpin redaksi La Civiltà Cattolica yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh TheNational Catholic Review America.

Namun berbeda dari apa yang diungkapkan pemimpin Gereja Katolik ini, judul berita yang muncul di New York Times (NYT) adalah “Pope Says Church Is ‘Obsessed’ With Gays, Abortion and Birth Control” (Paus mengatakan Gereja 'Terobsesi' dengan [isu] Gay, Aborsi dan [metode] Pencegah Kehamilan).

Di dalam artikel itu Paus Fransiskus digambarkan sebagai sosok yang berbeda dari dua pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI mengenai isu-isu moral tersebut.

Pemberitaan NYT mengulang kembali tindakan corrupted-jurnalism (jurnalisme korup) terhadap pernyataan Paus Fransiskus Juli lalu; yang sama dengan kasus ini, mengarahkan berita pada dukungan terhadap praktek-praktek yang ditentang Gereja Katolik tersebut.

Dan hasilnya adalah organisasi seperti NARAL Pro-Choice Amerika (pendukung tindak pembunuhan bayi dalam kandungan) yang mempos gambar ucapan terima kasih kepada Paus Fransiskus di laman Facebook dan Twitternya. 

Hal yang tentunya mereka sesali karena sehari setelah berita menyesatkan itu, Paus menyatakan pada Federasi Internasional Asosiasi Medis Katolik bahwa:

“Setiap anak yang belum dilahirkan, sekalipun secara tidak adil dihukum lewat aborsi, memiliki wajah Tuhan, yang bahkan sebelum kelahiran-Nya, dan kemudian sesudah kelahiran-Nya, mengalami penolakan dunia.” (LSN)

Praktek media sekaliber NYT adalah hal yang sangat disesali, karena tidak hanya menunjukkan kepentingan dalam pemberitaan, namun juga telah memanipulasi berita untuk mendukung agendanya.

Pernyataan Paus yang dikutip media di atas memang cukup provokatif untuk dimanipulasi menjadi sebuah berita sensasi yang mengundang keingin-tahuan pembaca.

Namun pokok-pokok penting dari wawancara dengan Paus tersebut menurut Christianity Today adalah:
Perlunya kerendahan hati (bahwa kita semua manusia berdosa dan perlu anugerah Allah);
Perlunya berada dalam komunitas orang percaya;
Kepekaan dalam mencari kehendak Tuhan;
dan pentingnya peran perempuan dalam Gereja.  [+]


Kutipan warna hijau ditambahkan (21/9/13). 

Homoseksualisme dan masalah seputar pernikahan, bisnis, dan Olimpiade 2014

Written By Menara Penjaga on Rabu, 18 September 2013 | 03:35

Logo Gereja Skotlandia.
SKOTLANDIA: Berhenti memberkati pernikahan?

Gereja Skotlandia sedang mempertimbangkan kemungkinan berhenti memberkati pernikahan untuk menghindari tuntutan hukum.

Hal ini mengemuka setelah Parlemen Skotlandia meluluskan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang turut memuat peraturan tentang legalitas 'pernikahan' sejenis.

“Bayangan tentang tahun-tahun melalui tuntutan hukum yang melelahkan, yang juga sangat mahal, adalah sungguh-sungguh memprihatinkan,” ungkap Pdt. Alan Hamilton dari komite masalah hukum Gereja Skotlandia.

Ia juga mengungkapkan bahwa RUU ini, jika disetujui, akan secara fundamental mengubah institusi tersebut dalam budaya Skots.

Ungkapan serupa datang dari Gereja Katolik Skotlandia.

“RUU ini merupakan tantangan yang paling serius terhadap kebebasan beragama di Skotlandia sepanjang yang dapat diingat.

“Gereja-gereja dan badan-badan keagamaan akan rentan terhadap tantangan dan serangan hukum. Memaksa masyarakat menerima pernikahan sesama jenis di tengah penolakan mayoritas adalah tidak perlu, tak diinginkan, dan tidak demokratis,” ungkap jurubicaranya kepada The Scotsman.

Humanist Society Scotland (Masyarakat Humanis Skotlandia) adalah salah satu pendukung RUU ini.

Organisasi ini menyatakan siap mengakomodasi sikap “diskriminatif,” demikian tanggapannya menanggapi kemungkinan adanya “pasal hati nurani” yang memungkinkan seseorang yang berkeberatan menolak memberkati 'pernikahan' sejenis. (WND)






Toko kue yang terpaksa ditutup.
AMERIKA SERIKAT: Toko kue terpaksa ditutup

Di Amerika Serikat, sebuah toko usaha kue terpaksa ditutup karena pemiliknya menolak membuat kue 'pernikahan' dua perempuan pelaku hubungan sejenis.

Aaron dan Melissa Klein dianggap tidak mematuhi peraturan “non-diskriminasi” yang ditetapkan pemerintah negara bagian Oregon, yang di antaranya mengatakan tidak boleh ada pembedaan pelayanan berdasarkan “orientasi seksual.” Kategori ini memang baru, tapi sudah menyebar luas, arti bebasnya adalah "citarasa seksual seseorang."

Menurut status Facebook pemiliknya, Sweet Cakes by Melissa terpaksa ditutup setelah beberapa bulan diteror oleh para aktivis dan simpatisan yang tidak menerima keyakinan keluarga ini bahwa mereka percaya pernikahan itu adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan karena itu menolak membantu “merayakan sebuah komitmen dosa seumur hidup.” 

Jika pelaku hubungan sejenis itu meminta dibuatkan kue ulang tahun, mereka [pemilik] tidak akan keberatan, demikian diungkapkan oleh Matt Barber dari Liberty Councel Action dalam tulisannya. Ia membandingkan kasus ini dengan meminta usaha katering Muslim untuk membuatkan babi panggang.

“Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya,” demikian status di halaman facebook usaha kue itu.





Maskot Olimpiade Musim Dingin ke-22 di
Rusia.
RUSIA: Melindungi anak-anak

Sementara itu, mendekati pelaksanaan Olimpiade Musim Dingin 2014, tuan rumah Rusia tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menyambut para tamu dan delegasi internasional, tetapi juga kemungkinan aksi melanggar ketertiban umum dari para aktivis homoseksualisme.

Rusia telah menjadi target aktivis homoseksualisme setelah menetapkan hukum yang melarang promosi homoseksualitas, dan tingkah laku seksual menyimpang lainnya, terhadap anak-anak. Menurut LSN: Reuters, AP, New York Times, BBC telah mengeluhkan bahwa peraturan ini adalah sebuah bentuk diskriminasi terhadap pelaku hubungan sejenis.

Para pelaku hubungan sejenis memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya di Rusia, karena itu LSN menilai niat pemerintah adalah benar-benar melindungi anak-anak dan bukan mengkriminalkan para pelakunya. Alasannya, tulis LSN, resiko tinggi HIV/AIDS dan kesehatan lainnya. 


Namun, sebuah berita yang tidak dicover di media-media arus utama, dua tim Olimpiade dari dua negara, bekerja sama dengan jaringan aktivis global dan internasional diplomat yang tidak disebutkan namanya berencana akan mengolok-ngolok peraturan itu di tengah pelaksanaan Olimpiade 2014.

Terkait dengan isu ini, Yelena Isinbayeva, atlet lompat galah asal Rusia pemenang medali emas Kejuaraan Dunia IAAF 2013, mengungkapkan bahwa para tamu seharusnya menghormati peraturan yang melarang propaganda praktek homoseks kepada anak-anak, demikian dilaporkan Interfax.

Menanggapi kritik media yang diarahkan kepada Isinbayeva, ketua Departemen Informasi Patriakat Moskow, Vladimir Legoyda, di antaranya mengungkapkan, “Gereja melihat homoseksualitas sebagai dosa, yang bukan berarti kebencian terhadap pelaku yang melakukan dosa ini tetapi menolak propaganda atau dukungan terhadap hubungan seksual demikian. Siapa pun, apakah seorang atlet, politikus, atau seorang ibu rumah tangga, orang percaya atau bukan, mempunyai hak untuk menerima atau menolak posisi ini.”

“Umat [Gereja] Ortodoks, anggota agama-agama tradisional di Rusia dan banyak orang non-religius menentang propaganda hubungan sejenis. Mereka didukung oleh banyak orang Kristen, Yahudi, Muslim di Barat, dan ada media dunia yang secara keras kepala mencoba untuk menciptakan gambaran yang membelokkan kenyataan ini,” lanjutnya.

Barangkali, mereka yang menentang ini yang tidak takut disebut diskriminatif untuk alasan yang tepat. [+]

Manado CityFest 2013: Terjepit antara menolak, menjangkau atau melegitimasi gerakan homoseksualisme

Written By Menara Penjaga on Selasa, 03 September 2013 | 21:08

Monumen Yesus Memberkati di Manado, Sulawesi Utara
(foto: kompitasulut.wordpress).
INDONESIA, Manado (MP) – Manado CityFest 2013 yang diselenggarakan 26-31 Agustus diharapkan memberi warna positif terhadap kota yang dikenal religius ini.

Kegiatan pelayanan ini melibatkan Palau Association dan gereja-gereja lokal, pengusaha dan pimpinan masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan termasuk aksi sosial, pertunjukan musik, demo ketangkasan skateboard dan sepeda BMX, termasuk ibadah KKR yang dipimpin oleh penginjil dari Amerika Serikat, Ps. Andrew Palau.


Keresahan

Yang menjadi kontroversi adalah berdirinya tenda pameran sebuah LSM pendukung gerakan homoseksualisme di kegiatan yang dilangsungkan di kawasan perbelanjaan Megamas Manado ini.

“Iya kami ambil bagian dan mendirikan stand di Manado CityFest, nanti kami akan menampilkan program, kegiatan, dan juga hasil karya komunitas kami,” terang seorang aktivis kepada Beritamanado.com.

Kelompok ini tidak hanya mencatut komunitas waria (transgender) yang sudah lama hidup di tengah masyarakat Manado, tapi juga hendak mewakili para pelaku praktek hubungan seks sejenis.

Kehadiran stand ini menimbulkan keresahan di tengah jemaat-jemaat dan masyarakat pada umumnya.

Ada kekuatiran bahwa ajang sosial rohani ini justru adalah ajang untuk melegalkan praktek menyimpang yang ditentang budaya dan agama ini.



Kasih Yesus mencari

Menanggapi keresahan itu, pihak panitia pelaksana dan Palau Association mengadakan sebuah konferensi press pada tanggal 28 Agustus.

Ps. Palau tak mengomentari masalah stand itu. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya adalah untuk membawa kabar baik Yesus Kristus “bagi semua orang.” Ia mengutip Injil Yohanes 3:16 yang terkenal:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Mengenai hal lainnya ia memberi kesempatan pada panitia lokal untuk menjelaskannya. 

Charles Lepar, SE, sekretaris Forum Pemuda Lintas Gereja (FPLG), mengutip Ps. Palau, mengatakan “Kasih Yesus itu mencari.”

Ia menunjuk pada perkembangan kota Manado yang begitu pesat, serta penyakit-penyakit sosial yang menyertainya.

Alasan panitia lokal melibatkan kelompok yang menyebut diri GWL (gay, waria, lesbian), dan kelompok-kelompok lainnya, seperti anak-anak pang, komunitas tato, dll, itu adalah untuk menjangkau mereka.

Menurut Sek. FPLG, ada harapan bahwa dari kegiatan ini mereka dapat mendengar kabar baik Injil, karena “Tuhan Yesus datang bukan cuma buat kami orang-orang gereja,” tetapi untuk mereka juga.


Tantangan pelayanan gereja-gereja

Niat yang baik dan tampak tulus ini masih meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, teristimewa gereja-gereja, menyikapi isu gerakan homoseksualisme dan aspirasi sosial politiknya.

Pertanyaan mengenai pelegitimasian (penerimaan secara sah) gerakan homoseksualisme pantas mengemuka karena diakomodir di tengah kegiatan yang ditujukan untuk maksud mengadakan perubahan ke arah positif untuk kemajuan kota Manado.

Niat baik panitia lokal akhirnya nampak tidak menghargai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, sekaligus telah mempromosikan praktek menyimpang yang ditentang agama dan budaya ini kepada anak-anak yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Namun hadirnya stand GWL akhirnya memberi signal kepada gereja-gereja untuk mengambil peran aktif dalam pelayanan termasuk menjawab penyakit masyarakat yang muncul seiring dengan kemajuan kota.

Pada kegiatan-kegiatan lokal, regional, maupun internasional, perlu stand gereja-gereja untuk menciptakan kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial; menyediakan jawaban rohani terhadap berbagai pergumulan manusia, termasuk dengan ketertarikan sesama jenis.

Karena seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris FPLG, mereka adalah pribadi-pribadi yang perlu dirangkul. Kristus datang untuk semua orang. (+)

Siapa yang keliru, Paus Fransiskus atau mantan Uskup Agung Desmond Tutu?

Written By Menara Penjaga on Senin, 12 Agustus 2013 | 13:26

MP – Sejumlah media Kristen mengkritik pemberitaan luas tentang pernyataan Paus Fransiskus mengenai homoseksualitas yang menempatkan seolah-olah ia mengambil posisi yang lebih lunak dibanding pendahulunya Paus Emiritus Benediktus XVI.

“Siapa saya untuk menghakimi mereka?” ungkap Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan wartawan di pesawat (29 Juli 2013), setelah iven World Youth Day (festival pemuda sedunia Gereja Katolik) di Copacabana, Rio de Janeiro, Brazil.

Ungkapan kerendahan hati ini pun dikutip di berbagai media massa, mengarahkan bahwa posisi pemimpin dari 1, 2 miliar anggota Gereja Roma Katolik ini “sangat berbeda dengan sikap yang dilontarkan pendahulunya terkait isu yang sama” (BBC, huruf tebal redaksi).

Pengiringan opini itu dianggap keliru oleh sejumlah media massa berplatform Kristen.


Ekspresi kasih yang benar

Paus Fransiskus (foto: Filippo Monteforte/AFP)
LifeSitesNews.com (LSN), media berita nirlaba Gereja Katolik, menilai berbagai pemberitaan media mengenai pernyataan Paus adalah misleading “menyesatkan.” ChristianPost.com menyebutnya sebagai misrepresentation (penggambaran yang keliru). 

LSN menyediakan konteks pernyataan Paus Fransiskus tersebut, termasuk ajaran (katekisasi) Gereja Katolik menyangkut praktek hubungan sejenis yang dinilai sebagai “acts of grave depravity” (tindak kebejatan yang berat).

Kecenderungan pada ketertarikan sesama jenis juga dikategorikan sebagai “disorder“ (kelainan) dan “trial” (godaan) bagi mereka yang mengalaminya.

Pernyataan dan sikap Paus Fransiskus yang menunjukkan kasih kepada mereka yang mengalami ketertarikan sesama jenis ditempatkan dalam ajaran katekisasi bahwa mereka “harus diterima dengan rasa hormat, belas kasih, dan kepekaan. Setiap pertanda diskriminasi yang tak adil terhadap mereka harus dihindari.”

Ekspresi kasih tersebut tidak dimaksudkan bahwa Gereja Katolik “okay” dengan imam yang mempraktekan homoseksualitas, hal pertama karena imam dalam Gereja Katolik mengambil sumpah selibat. Tidak pula dengan hasrat dan praktek hubungan sejenis secara keseluruhan. 

Gereja Katolik berusaha menanggapi kenyataan hidup akibat dosa ini dengan pendekatan yang injili. 

Dalam wawancara di pesawat tersebut Paus Fransiskus membedakan antara seorang yang mempunyai ketertarikan sesama jenis dengan yang berusaha mempengaruhi kebijakan untuk meluaskan praktek hubungan sejenis (yang disebut "lobi gay").

“Jika mereka (orang yang mempunyai ketertarikan sesama jenis) menerima Tuhan dan memiliki itikad baik, siapa saya untuk menghakimi mereka? Mereka tidak boleh dipinggirkan. Masalahnya bukan pada kecenderungan ke arah ketertarikan pada sesama jenis...mereka adalah saudara-saudara kita,” ungkap Paus.

Yang menjadi masalah menurut pemimpin umat Katolik ini adalah berbagai upaya menyangkut “lobi gay.”

“Yang merupakan masalah adalah upaya lobi dari orientasi ini, atau lobi dari orang-orang yang serakah, lobi politik, lobi Masonik, dan banyak lagi lobi lainnya. Ini yang merupakan masalah yang parah,” tuturnya. 


Allah adalah kasih

Mantan Uskup Agung Gereja Anglikan
Cape Town, Afrika Selatan (foto: CP).

Menyangkut isu yang sama. Mantan uskup agung Gereja Anglikan dari Afrika Selatan, Desmond Tutu, membuat sebuah pernyataan kontroversial.

“Saya tidak mau menyembah Allah yang homofobik,” ungkap pemenang Nobel perdamaian ini berbicara di sebuah acara peluncuran kampanye global PBB bidang hak asasi manusia di Cape Town, Afrika Selatan  (26 Juli 2013). Kegiatan ini untuk mempromosikan persamaan hak dan toleransi terhadap mereka yang mempunyai ketertarikan terhadap sesama jenis, bi-seksual, termasuk transgender.

Istilah “homofobik” yang digunakan pemenang Nobel perdamaian ini cukup bermasalah.

Associated Press telah melarang wartawannya menggunakan istilah ini dalam konteks sosial dan politik.

“-fobia” didefinisikan sebagai “rasa takut yang irasional, tak terkendalikan, seringkali dalam bentuk penyakit mental,” demikian ditulis dalam Style Book AP. 

Istilah “homofobia” sudah melenceng, karena mengandung maksud bahwa seseorang itu “menyandang cacat mental, dan menyarankan suatu pengetahuan yang kita tak punya,” demikian penjelasan Dave Minthorn, wakil editor standard AP, kepada Politico setahun yang lalu.

Dari definisi itu, logika tentang “Allah yang homofobik” menjadi sulit dibayangkan.

Allah tidak memiliki kelainan mental. Allah adalah kasih, dan di dalam kasih tidak ada ketakutan. 

Kekeliruan pernyataan penerima Nobel Tutu itu mendapat kecaman dari komunitasnya. 

Uskup Agung Dr. Daniel Yinkah Sarfo dari Gereja Anglikan Ghana, di antaranya menyebut bahwa para uskup Anglikan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin mengutuk pernyataan itu. (ChristianNewsWire.com)

"Deklarasi Tutu menuntut supaya Allah bekerja menurut kemauannya," ungkap Uskup Agung Sarfo. 

Uskup Agung Gereja Anglikan Ghana
Dr. Daniel Yinka Sarfo (foto: idio.net).


Kita jangan keliru

Jadi siapa yang keliru, Paus Fransiskus atau mantan uskup agung Tutu?

Penting untuk membedakan yang tampak benar namun keliru dan yang diberitakan secara keliru, namun memiliki kebenaran.

Memahami Allah lewat pemahaman yang setia mengenai Alkitab akan menghindarkan umat Kristen dari kekeliruan yang berbahaya. Dalam kasih tidak ada ketakutan.(+)

Memahami agenda Mr. Obama dan kepincangan sekularisme

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 06 Juli 2013 | 01:07




KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.

Bagi yang kurang teliti, ia bisa nampak sebagai seorang yang hendak membela martabat kaum yang lemah, yang perlu perlindungan, dan yang terpinggirkan. Dan memang demikian ia ingin dilihat.

Namun, jika dipikirkan dengan kritis, ia sebenarnya sedang memaksakan sebuah ideologi yang bertentangan dengan akar budaya dan agama Afrika, yaitu sekularisme (hurufiahnya “paham penduniawian”).

Dengan memaksakan sudut pandang yang dianutnya (dan sebagian masyarakat AS) kepada warga masyarakat di negara-negara yang menyambutnya sebagai seorang tamu kehormatan, ia telah melakukan pelecehan secara terang-terangan.

Mr. Obama dengan wibawanya hendak menunjukkan kepada negara-negara yang menerimanya sebagai tamu (dan tentu saja dunia) bahwa ia seorang yang peduli dengan para pelaku dan praktek hubungan sejenis dan bahwa sikap negara-negara Afrika terhadap pelaku dan praktek hubungan sejenis adalah salah.

Walaupun orang sering dibingungkan antara kedua hal ini: praktek hubungan sejenis dan orang yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, namun keduanya berlainan dan harus dibedakan.

Orang yang tidak bisa membedakan kedua hal ini akan dengan mudah menerima doktrin agama Presiden AS. (Disebut “agama” karena ideologi sekularisme bertujuan menjadi dasar pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dari sebuah masyarakat.)

Baik masyarakat Senegal yang mayoritas Muslim maupun Kenya yang mayoritas Kristen, praktek hubungan sejenis adalah ilegal. (Mr. Obama tidak mengunjungi Kenya, tetapi tanggapan mengenai aktivitasnya di Senegal, Afrika Selatan, dan Tanzania turut datang dari negara kelahiran ayahnya ini.)

Apa artinya bahwa praktek hubungan sejenis di negara-negara ini (kecuali Afrika Selatan) adalah ilegal?

Itu berarti bahwa hukum di kedua negara Afrika ini mengambil posisi sesuai sudut pandang norma masyarakat yang melekat dalam tradisi kebudayaan, agama, dan kompleksitas ilmu pengetahuannya, dan menolak praktek ini sebagai hal yang tidak sah, yang tidak normal atau moral, dan tidak bisa dipromosikan sebagai sesuatu hal yang baik bagi masyarakat.

Dengan demikian negara sebagai wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk mengatur dan memerintah mengambil sikap yang sama dan menjalankan peraturan yang tidak hanya menjamin hak dan kewajiban semua anggota masyarakat, tanpa membeda-bedakan kemanusiaannya, tapi juga menjaga kelanggengan aspirasi budaya dan agama yang berkeadilan dan etis.

Ketika Presiden AS mengatakan bahwa ia menghormati sudut pandang pribadi (ciri-ciri gerakan sekularisme adalah menciptakan dikotomi antara individu dan masyarakat), dan iman pribadi masing-masing (menciptakan dikotomi antara agama dan non-agama/sekuler), ia sedang menggoda masyarakat untuk berpikir bahwa sudut pandang agama dan pribadi masyarakat Afrika tersebut tidak pantas diterapkan dalam kebijakan sebuah negara.

Baginya yang tepat adalah pandangan pribadinya dan sebagian masyarakat AS bahwa praktek ini harus mendapat keluasan dalam masyarakat sehingga dapat dilakukan oleh mereka yang mau melakukannya sebebas-bebasnya, bahkan mendapat tunjangan dari pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah dan dipromosikan lewat kegiatan-kegiatan seperti pawai homoseks di New York atau San Francisco.

Gagal mengikuti resepnya ini, mengikuti logika kata-katanya, berarti sebuah pemerintahan melakukan diskriminasi.

Kata “diskriminasi” telah menjadi senjata ampuh terhadap mereka yang gagal memahami kompleksitas masalah ini, dan juga tampak menjadikan Mr. Obama sebagai seorang pembela hak asasi manusia (HAM).

Namun jika dilihat keadaan di negerinya sendiri, mereka yang menolak mengafirmasi gaya hidup homoseksual harus mengalami diskriminasi oleh karena peraturan yang dibuat dari sudut pandang yang tidak mengakomodasi HAM untuk kebebasan beragama.

Inilah kebohongan dalam agenda presiden Obama, bahwa dalam berbicara tentang melawan diskriminasi, sekularisme yang hendak dipaksakannya jelas-jelas melakukan diskriminasi. Mereka yang tidak mau menerima praktek yang ditolak agama dan budaya dunia pada umumnya ini akan mengalami diskriminasi.
Jadi nampaklah di depan mata kita dua sistem yang berbeda: Yang satu berdasarkan pemahaman manusia akan kodrat dan agama, yang lain menolak dan menempatkan kebebasan manusia di atas segala-galanya.
Yang pertama akan mengiring pada keteraturan dan kebebasan yang sebenarnya, sedang yang lain akan menuntun pada kekacauan (chaos) dan perhambaan.

Mr. Obama harus lebih berani mengakui agenda sekularismenya. Paling tidak jujurlah bahwa pencitraannya sebagai pembela HAM hanyalah topeng belaka.

Kalau tidak ia hanya menambah bukti bahwa sekularisme adalah agenda yang tidak jujur. Melihat contoh di AS, pelajaran agama tidak diperkenankan diajarkan di sekolah negara. Itu karena dikatakan sekolah negara adalah tempat non-agama/sekuler; harus bebas dari pelajaran agama. Berdoa pun dilarang.

Namun di sekolah-sekolah ini para pelajar dicecok dengan materialis Darwinisme yang berpangkal pada ajaran anti-theis (anti-agama) bahkan dalam perkembangannya sekarang praktek hubungan sejenis diajarkan sedini TK (taman kanak-kanak).

Jadi jelaslah, agenda Mr. Obama bukan untuk membela kaum yang lemah, bukan pula sekedar untuk membantu masyarakat Afrika yang terus menderita akibat efek jangka panjang kolonialisme. Ia menawarkan sekularisme, dan para pemimpin Afrika yang pintar telah dengan terang-terangan mengungkapkannya: Kami menghargai bantuan Anda, tapi [kami] takut akan Allah.

1373045939186927054

Perkembangan dunia sekitar praktek hubungan sejenis: Dari Nigeria sampai Vatikan (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Kamis, 13 Juni 2013 | 10:50

MP -- Praktek hubungan sejenis menjadi salah satu isu panas dewasa ini dan diperbincangkan dari berbagai sudut pandang. Penolakan atau penerimaan disuarakan oleh berbagai pemerintahan atau masyarakat di berbagai belahan dunia.

Berikut sorotan MP tentang perkembangan terbaru isu ini dimulai dari Nigeria sampai ke Vatikan.


Nigeria
Dewan Perwakilan Rakyat Nigeria, Afrika, telah menerima rancangan undang-undang (RUU) yang melarang praktek hubungan sejenis dan mengatur hukuman bagi para pelanggar, demikian dirangkum dari laporan Christian Today, 31 Mei 2013.

Dalam komentarnya menyangkut 'pernikahan' sejenis, Senator Domingo Obende mengungkapkan bahwa 'pernikahan' antara dua orang berjenis kelamin sama “tidak bisa diterima secara moral dan agama. Agama Islam melarangnya. Agama Kristen melarangnya, dan agama tradisional Afrika melarangnya,” demikian dikutip dalam laporan tersebut. (Laporan terkait)


Inggris dan Wales
Sementara itu, sebuah RUU yang mengatur tentang 'pernikahan' sejenis di Inggris dan Wales saat ini sedang di bahas di Parlemen. Dalam pengambilan suara awal RUU tersebut diterima dengan perbandingan 390-148 (The Christian Institute).

Mengikuti perkembangan ini, 61 tokoh agama dari kelompok Kristen, Islam, Yahudi, dan Buddha telah menyampaikan surat kepada pemerintah, memperingatkan bahwa melegalkan 'pernikahan' sesama jenis akan "berdampak serius dan berbahaya bagi kebaikan masyarakat, kehidupan keluarga, dan hak asasi manusia seperti kebebasan beragama dan berbicara," demikian dikutip Christian Today, 4 Juni 2013.


(up-dated 20 Juli)  
RUU ‘pernikahan’ sejenis yang disponsori oleh PM Inggris David Cameron akhirnya diterima di Parlemen. Hari Rabu 17 Juli 2013 Ratu Inggris Elizabeth II menandatangani peraturan tersebut menjadi UU di Inggris dan Wales.
Dave Landrum dari organisasi Aliansi Injili (Evangelical Alliance) merupakan salah satu dari pendukung pernikahan Kristen yang harus menelan kekecewaan. Namun, ia mengingatkan “sebagai orang Kristen kita harus memiliki rasa percaya diri untuk mengatakan dan mengajarkan kebenaran dalam anugerah dan kasih. Dan kita perlu saling mendukung satu dengan yang lain dalam menjaga pernikahan sebagai sebuah janji di hadapan Tuhan.”  (The Christian Institute)
Gereja Anglikan termasuk di antara institusi gereja yang menolak peraturan ini, dan telah mendapat pengecualian untuk tidak menyelenggarakan pemberkatan hubungan partner sejenis.
Di pihak lain, menteri kesetaraan Inggris, Maria Miller, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, “Saya bangga bahwa kita telah membuat ini terjadi dan menantikan pernikahan sejenis pertama musim panas tahun depan,” demikian dikutip The Blaze.


Perancis
Aksi protes di Perancis menentang legalisasi 'pernikahan' sejenis  (foto: LSN).
Di Perancis, keputusan pemerintah untuk melegalkan 'penikahan' sesama jenis disambut dengan aksi demonstrasi rakyat menentang kebijakan tersebut.

Reaksi Perancis yang terkenal dengan pemikiran liberal ini menimbulkan tanda tanya terhadap agenda homoseksual oleh sejumlah pemimpin negara-negara Barat.


Amerika Serikat
Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), oleh berbagai tekanan dari para aktivis dan lobi revolusi seksual, Mahkamah Agung sedang mempertimbangkan apakah akan menetapkan atau menggugurkan Proposition 8 (usulan nomor 8), yang berhasil ditetapkan oleh masyarakat negara bagian California menolak 'pernikahan' sesama jenis, dan DOMA atau Defense of Marriage Act (pertahanan undang-undang pernikahan) yaitu peraturan federal AS yang menyatakan bahwa pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.

Para aktivis gerakan homoseksual berargumentasi bahwa pernikahan tidak bisa hanya untuk pasangan berlainan jenis, karena hal itu berarti diskriminasi.

Dilegalkannya 'pernikahan' sejenis memang berarti diluaskannya insentif kemasyarakatan untuk pernikahan bagi pasangan sesama jenis juga, misalnya keringanan dalam hal perpajakan. Ini termasuk diajarkannya praktek ini kepada anak-anak di sekolah, yang kesemuanya berarti mendorong gaya hidup yang ditentang oleh Alkitab ini.

Di samping itu, legalisasi turut diartikan bahwa partner sesama jenis dapat mengadopsi anak. Alasannya anak-anak yang dibesarkan pasangan sejenis dapat bertumbuh normal seperti anak-anak lainnya.

Robert Oscar Lopez, Ph.D., warga AS yang merupakan seorang penulis yang dibesarkan oleh pasangan lesbi, menanggapi asumsi ini. Secara gamblang ia menuliskan dampak psikologi seorang anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis. Menurut Lopez, “trauma apapun yang dialami oleh mereka [anak-anak] yang menyebabkan mereka menjadi yatim-piatu, seharusnyalah tidak ditambah dengan stres akibat diadopsi dalam kehidupan bersama pasangan sejenis,” demikian tulisnya seperti dimuat di LSN, 3 Juni 2013.

“...[M]emiliki seorang ayah dan seorang ibu dengan sendirinya adalah sebuah nilai berharga” dan bahwa “pasangan sejenis yang paling sukses pun tidak dapat menyediakan apa yang bisa diberikan oleh sebuah keluarga miskin kepada seorang anak, yaitu: seorang ayah dan seorang ibu,” tulisnya.

(up-dated 20 Juli)  
Dalam sebuah keputusan kontroversial Mahkamah Agung AS menggugurkan bagian penting dari peraturan DOMA dengan perbandingan suara 5:4 dan menolak mengambil keputusan dalam kasusProposition 8.
Justice Antonin Scalia yang berada dipihak tak setuju menilai keputusan MA itu “mengangakan mulut,”  dan mengecam pengalimatan dalam keputusan mayoritas yang ditulis oleh Justice Kennedy yang mengatakan bahwa mereka yang membela pernikahan tradisional adalah “musuh ras manusia.”
Liputan MP tentang perkembangan ini ada di “DOMA dan keputusan MA: Ratapan dan kegembiraan di AS.”

Ekuador
Presiden Ekuador, Rafael Correa, turut menyuarakan penentangan terhadap 'pernikahan' sejenis dan pengadopsian anak oleh partner sesama jenis. Dalam sebuah wawancara dengan saluran TV RTS ia mengungkapkan bahwa pengadopsian anak oleh pasangan sejenis bertentangan dengan kodrat dan kebaikan anak-anak, demikian dilaporkan LSN, 3 Juni 2013.


Rusia
Rusia adalah negara yang terus menegaskan penolakannya terhadap praktek sesama jenis dan propagandanya, sekalipun mendapat tekanan dari negara-negara Barat tertentu.

Washington Times (4 Juni 2013) melaporkan pernyataan presiden Rusia, Vladimir Putin, bahwa ia mendukung dibuatnya peraturan yang melarang partner sejenis dari luar negeri mengadopsi anak Rusia, sambil menolak bahwa hal itu dikatakan diskriminasi.

Anggota parlemen Rusia sementara merumuskan peraturan tersebut, ungkap Wakil Perdana Menteri Rusia, Olga Golodets, yang turut mengatakan bahwa 'pernikahan' sejenis tidak sesuai dengan adat kebiasaan Rusia.

Laporan terbaru menyatakan bahwa Rusia telah mensahkan peraturan yang melarang aktivis asing atau domestik untuk mempropagandakan hubungan sesama jenis.


Georgia
Negara tetangga Rusia, Georgia, sedang mempertimbangkan niatnya untuk bergabung dengan Uni-Eropa jika salah satu persyaratannya adalah menerima praktek hubungan sesama jenis di negaranya, demikian dilaporkan The Messenger Online, sebuah media Georgia berbahasa Inggris, 28 Mei 2013 lalu.

Baru-baru ini masyarakat Georgia, termasuk di dalamnya para imam dan jemaat Gereja Ortodoks, secara berbondong-bondong membubarkan pawai yang dilakukan oleh para pelaku dan pendukung hubungan sesama jenis.


Amerika Serikat dan Inggris
Kembali ke AS, LSN (6 Juni 2013), mengutip laporan Family Research Council, menunjukkan bahwa U. S. Agency for International Development (USAID), badan bantuan pemerintah AS, bekerja sama dengan Levi Strauss Foundation, dari merk jeans terkenal, dan seorang milioner Tim Gill, mengalokasikan 11 juta dollar (kurang lebih 104 miliar rupiah) untuk melatih aktivis homoseksualis di negara-negara lain.

Terungkap dalam laporan itu bahwa tahap pertama dari program ini difokuskan pada Ekuador, Honduras, Guatemala, dan negara berkembang lainnya yang menentang homoseksualisme.

Administrasi pemerintahan Inggris dan AS saat ini telah terang-terangan menggunakan pengaruhnya untuk menyebarluaskan doktrin revolusi seksual ini.

Sejumlah anggota masyarakat di Inggris dan AS, terutama dikalangan bisnis dan profesi, harus menghadapi tuntutan pengadilan dan membayar denda, termasuk kehilangan pekerjaan, karena menolak mengafirmasi gaya hidup gay dan lesbian.

Hal ini tak bisa diartikan bahwa mereka yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis atau yang menerimanya sebagai bagian dari identitas mereka berada di belakang semua ini. Di antara mereka justru mengalami penekanan karena ketidak-setujuan mereka dengan revolusi seksual yang diusung oleh para aktivis homoseksualisme.

(up-dated 20 Juli 2013)

Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, Presiden AS turut membawa agenda khusus yang mengundang reaksi penolakan dari masyarakat dan pemimpin Afrika. Lihat liputan MP di "Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika."


Vatikan
Sementara itu, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Vatikan sendiri yang masih terus berpegang kuat pada ajaran mengenai kekudusan pernikahan, kesucian hidup, dan hak anak, tidak luput dari upaya gerakan ini.

Menurut laporan CBSNews, 12 Juni 2013, Paus Fransiskus menyesalkan bahwa “lobby gay” (upaya untuk mempengaruhi kebijakan) telah juga bekerja di Vatikan sebagai pusat Gereja Katolik.

Apakah dana besar, pengaruh kuat, ditambah penguasaan teknologi informasi pembentuk budaya, akan mengubah institusi pernikahan dan menaruh anak-anak pada posisi yang rentan? Biarkan hati yang bicara.***

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger