Terbaru
Tampilkan postingan dengan label Homoseksualisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Homoseksualisme. Tampilkan semua postingan
12:02
Video trailer: Cultural Imperialism (English)
Written By Menara Penjaga on Sabtu, 09 November 2013 | 12:02
Label:
Afrika
,
Amerika
,
Fokus Keluarga
,
Homoseksualisme
,
Lawan HIV/AIDS
,
Multimedia
11:48
VATIKAN (MP) -- Popularitas sebuah media berita bukan jaminan bahwa sajian berita media itu selalu dapat dipercaya. Hal ini bukan hanya menyangkut politik, tapi juga masalah keagamaan.
Kutipan warna hijau ditambahkan (21/9/13).
Media-gate dan wawancara Paus Fransiskus: Mengapa perlu kritis ketika membaca pemberitaan media
Written By Menara Penjaga on Sabtu, 21 September 2013 | 11:48
VATIKAN (MP) -- Popularitas sebuah media berita bukan jaminan bahwa sajian berita media itu selalu dapat dipercaya. Hal ini bukan hanya menyangkut politik, tapi juga masalah keagamaan.
“We cannot insist only on issues related to abortion, gay marriage and the use of contraceptive methods. This is not possible. I have not spoken much about these things, and I was reprimanded for that. But when we speak about these issues, we have to talk about them in a context. The teaching of the church, for that matter, is clear and I am a son of the church, but it is not necessary to talk about these issues all the time...”
Kita tidak boleh hanya terus-menerus berbicara tentang aborsi, pernikahan sesama jenis dan penggunaan metode kontrasepsi. Hal ini tidak mungkin. Saya tidak banyak bicara tentang hal-hal ini, dan saya diomeli karenanya. Tetapi ketika kita berbicara tentang persoalan-persoalan ini, kita harus membicarakannya dalam sebuah konteks. Ajaran gereja, untuk hal ini, adalah jelas dan saya adalah seorang putera gereja, tetapi adalah hal yang tak perlu membicarakan hal ini setiap waktu..."
“The church’s pastoral ministry cannot be obsessed with the transmission of a disjointed multitude of doctrines to be imposed insistently...”
Pelayanan pastoral gereja tidak bisa terobsesi dengan transmisi begitu banyak ajaran yang saling terpisah untuk dikenakan terus-menerus...
Proclamation in a missionary style focuses on the essentials, on the necessary things: this is also what fascinates and attracts more, what makes the heart burn, as it did for the disciples at Emmaus. We have to find a new balance;
Proklamasi dengan gaya [pendekatan] misionaris berpusat pada hal-hal mendasar, pada hal-hal yang diperlukan: ini juga adalah yang mempesona dan menarik lebih banyak [orang], hal yang membakar hati, seperti yang dialami para murid di Emaus. Kita harus menemukan keseimbangan baru;...
[continue]
otherwise even the moral edifice of the church is likely to fall like a house of cards, losing the freshness and fragrance of the Gospel. The proposal of the Gospel must be more simple, profound, radiant. It is from this proposition that the moral consequences then flow.
[sambungan]
jika tidak bahkan bangunan moral gereja kemungkinan akan runtuh seperti rumah kartu, kehilangan kesegaran dan keharuman Injil. Tawaran Injil harus lebih sederhana, mendalam, berseri-seri. Dari dalil inilah konsekuensi moral kemudian mengalir.
"...But the proclamation of the saving love of God comes before moral and religious imperatives..."
...Akan tetapi proklamasi kasih Allah yang menyelamatkan itu hadir mendahului keharusan moral dan agama...
"...The message of the Gospel, therefore, is not to be reduced to some aspects that, although relevant, on their own do not show the heart of the message of Jesus Christ.”
Pesan Injil, karena itu, tidaklah untuk dikurangi menjadi aspek-aspek tertentu, yang sekalipun relevan, namun dalam dirinya tidak menunjukkan inti dari pesan Yesus Kristus.
Demikian
kutipan sebagian dari transkrip wawancara Paus Fransiskus dengan
pemimpin redaksi La
Civiltà Cattolica yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh
TheNational Catholic Review America.
Namun
berbeda dari apa yang diungkapkan pemimpin Gereja Katolik ini, judul
berita yang muncul di New York Times (NYT) adalah “Pope
Says Church Is ‘Obsessed’ With Gays, Abortion and Birth Control”
(Paus mengatakan Gereja 'Terobsesi'
dengan [isu] Gay, Aborsi dan [metode] Pencegah Kehamilan).
Di
dalam artikel itu Paus Fransiskus digambarkan sebagai sosok yang berbeda dari
dua pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI mengenai isu-isu moral tersebut.
Pemberitaan NYT mengulang kembali
tindakan corrupted-jurnalism (jurnalisme korup) terhadap pernyataan Paus Fransiskus Juli lalu; yang sama dengan kasus ini, mengarahkan berita pada dukungan
terhadap praktek-praktek yang ditentang Gereja Katolik tersebut.
Dan hasilnya adalah organisasi seperti
NARAL Pro-Choice Amerika (pendukung tindak pembunuhan bayi dalam kandungan) yang mempos gambar
ucapan terima kasih kepada Paus Fransiskus di laman Facebook dan Twitternya.
Hal yang tentunya mereka sesali karena
sehari setelah berita menyesatkan itu, Paus menyatakan pada Federasi
Internasional Asosiasi Medis Katolik bahwa:
“Setiap anak yang belum
dilahirkan, sekalipun secara tidak adil dihukum lewat aborsi,
memiliki wajah Tuhan, yang bahkan sebelum kelahiran-Nya, dan kemudian
sesudah kelahiran-Nya, mengalami penolakan dunia.” (LSN)
Praktek media sekaliber NYT adalah hal
yang sangat disesali, karena tidak hanya menunjukkan kepentingan
dalam pemberitaan, namun juga telah memanipulasi berita untuk
mendukung agendanya.
Pernyataan
Paus yang dikutip media di atas memang cukup provokatif untuk dimanipulasi menjadi
sebuah berita sensasi yang mengundang keingin-tahuan pembaca.
Namun
pokok-pokok penting dari wawancara dengan Paus tersebut menurut
Christianity Today adalah:
Perlunya
kerendahan hati (bahwa kita semua manusia berdosa dan perlu anugerah
Allah);
Perlunya
berada dalam komunitas orang percaya;
Kepekaan
dalam mencari kehendak Tuhan;
dan
pentingnya peran perempuan dalam Gereja. [+]Kutipan warna hijau ditambahkan (21/9/13).
Label:
Berita Internasional
,
Eropa
,
Gereja dan Media
,
Gereja Katolik
,
Homoseksualisme
,
Media Barat
,
Paus Fransiskus
,
USA
,
Vatikan
,
Wawancara Paus
03:35
Homoseksualisme dan masalah seputar pernikahan, bisnis, dan Olimpiade 2014
Written By Menara Penjaga on Rabu, 18 September 2013 | 03:35
| Logo Gereja Skotlandia. |
SKOTLANDIA: Berhenti memberkati
pernikahan?
Gereja Skotlandia sedang
mempertimbangkan kemungkinan berhenti memberkati pernikahan untuk
menghindari tuntutan hukum.
Hal ini mengemuka setelah Parlemen
Skotlandia meluluskan sebuah rancangan undang-undang (RUU) yang turut
memuat peraturan tentang legalitas 'pernikahan' sejenis.
“Bayangan tentang tahun-tahun melalui
tuntutan hukum yang melelahkan, yang juga sangat mahal, adalah
sungguh-sungguh memprihatinkan,” ungkap Pdt. Alan Hamilton dari
komite masalah hukum Gereja Skotlandia.
Ia juga mengungkapkan bahwa RUU ini,
jika disetujui, akan secara fundamental mengubah institusi tersebut
dalam budaya Skots.
Ungkapan serupa datang dari Gereja
Katolik Skotlandia.
“RUU ini merupakan tantangan yang
paling serius terhadap kebebasan beragama di Skotlandia sepanjang
yang dapat diingat.
“Gereja-gereja dan badan-badan
keagamaan akan rentan terhadap tantangan dan serangan hukum. Memaksa
masyarakat menerima pernikahan sesama jenis di tengah penolakan
mayoritas adalah tidak perlu, tak diinginkan, dan tidak demokratis,”
ungkap jurubicaranya kepada The Scotsman.
Humanist Society Scotland (Masyarakat
Humanis Skotlandia) adalah salah satu pendukung RUU ini.
Organisasi ini menyatakan siap
mengakomodasi sikap “diskriminatif,” demikian tanggapannya
menanggapi kemungkinan adanya “pasal hati nurani” yang
memungkinkan seseorang yang berkeberatan menolak memberkati
'pernikahan' sejenis. (WND)
![]() |
| Toko kue yang terpaksa ditutup. |
AMERIKA SERIKAT: Toko kue terpaksa
ditutup
Di Amerika Serikat, sebuah toko usaha
kue terpaksa ditutup karena pemiliknya menolak membuat kue 'pernikahan' dua perempuan pelaku hubungan sejenis.
Aaron dan Melissa Klein
dianggap tidak mematuhi peraturan “non-diskriminasi” yang
ditetapkan pemerintah negara bagian Oregon, yang di antaranya
mengatakan tidak boleh ada pembedaan pelayanan berdasarkan “orientasi
seksual.” Kategori ini memang baru, tapi sudah menyebar luas, arti bebasnya adalah "citarasa seksual seseorang."
Menurut status Facebook pemiliknya,
Sweet Cakes by Melissa terpaksa ditutup setelah beberapa bulan
diteror oleh para aktivis dan simpatisan yang tidak menerima
keyakinan keluarga ini bahwa mereka percaya pernikahan itu adalah
antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan karena itu
menolak membantu “merayakan sebuah komitmen dosa seumur hidup.”
Jika pelaku hubungan sejenis itu
meminta dibuatkan kue ulang tahun, mereka [pemilik] tidak akan
keberatan, demikian diungkapkan oleh Matt Barber dari Liberty Councel
Action dalam tulisannya.
Ia membandingkan kasus ini dengan meminta usaha katering Muslim untuk
membuatkan babi panggang.
“Lebih
baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang
berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya,” demikian status di
halaman facebook usaha kue itu.
![]() |
| Maskot Olimpiade Musim Dingin ke-22 di Rusia. |
RUSIA:
Melindungi anak-anak
Sementara
itu, mendekati pelaksanaan
Olimpiade Musim Dingin 2014, tuan rumah Rusia tidak hanya sedang mempersiapkan
diri untuk menyambut para tamu dan delegasi internasional, tetapi
juga kemungkinan aksi melanggar ketertiban umum dari para aktivis
homoseksualisme.
Rusia telah menjadi target aktivis
homoseksualisme setelah menetapkan hukum yang melarang promosi
homoseksualitas, dan tingkah laku seksual menyimpang lainnya,
terhadap anak-anak. Menurut
LSN: Reuters, AP, New York Times, BBC telah mengeluhkan bahwa
peraturan ini adalah sebuah bentuk diskriminasi terhadap pelaku
hubungan sejenis.
Para pelaku hubungan sejenis memiliki
hak yang sama dengan warga negara lainnya di Rusia, karena itu LSN
menilai niat pemerintah adalah benar-benar melindungi anak-anak dan
bukan mengkriminalkan para pelakunya. Alasannya, tulis LSN, resiko
tinggi HIV/AIDS dan kesehatan lainnya.
(Terkait:
Pusat Pengendalian Penyakit AS: 92 % kasus HIV usia 13-19 tahun
terkait hubungan sejenis.)
Namun, sebuah
berita yang tidak dicover di media-media arus utama, dua tim
Olimpiade dari dua negara, bekerja sama dengan jaringan aktivis
global dan internasional diplomat yang tidak disebutkan namanya berencana akan
mengolok-ngolok peraturan itu di tengah pelaksanaan Olimpiade 2014.
Terkait dengan isu ini, Yelena
Isinbayeva, atlet lompat galah asal Rusia pemenang medali emas
Kejuaraan Dunia IAAF 2013, mengungkapkan bahwa para tamu seharusnya
menghormati peraturan yang melarang propaganda praktek homoseks
kepada anak-anak, demikian dilaporkan Interfax.
Menanggapi kritik media yang diarahkan
kepada Isinbayeva, ketua Departemen Informasi Patriakat Moskow,
Vladimir Legoyda, di antaranya mengungkapkan, “Gereja melihat
homoseksualitas sebagai dosa, yang bukan berarti kebencian terhadap
pelaku yang melakukan dosa ini tetapi menolak propaganda atau
dukungan terhadap hubungan seksual demikian. Siapa pun, apakah
seorang atlet, politikus, atau seorang ibu rumah tangga, orang
percaya atau bukan, mempunyai hak untuk menerima atau menolak posisi
ini.”
“Umat [Gereja] Ortodoks, anggota
agama-agama tradisional di Rusia dan banyak orang non-religius
menentang propaganda hubungan sejenis. Mereka didukung oleh banyak
orang Kristen, Yahudi, Muslim di Barat, dan ada media dunia yang
secara keras kepala mencoba untuk menciptakan gambaran yang
membelokkan kenyataan ini,” lanjutnya.
Barangkali, mereka yang menentang ini yang tidak takut disebut
diskriminatif untuk alasan yang tepat. [+]
Label:
Amerika
,
Berita Internasional
,
Eropa
,
Gereja Katolik
,
Gereja Ortodoks
,
Gereja Protestan
,
Gereja Reformasi
,
Gereja Skotlandia (Kirk)
,
Hak Anak
,
Homoseksualisme
,
Olah Raga dan Rohani
,
Rusia
,
Skotlandia
,
USA
21:08
Karena
seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris FPLG, mereka adalah
pribadi-pribadi yang perlu dirangkul. Kristus datang untuk semua orang.
(+)
Manado CityFest 2013: Terjepit antara menolak, menjangkau atau melegitimasi gerakan homoseksualisme
Written By Menara Penjaga on Selasa, 03 September 2013 | 21:08
![]() |
| Monumen Yesus Memberkati di Manado, Sulawesi Utara (foto: kompitasulut.wordpress). |
INDONESIA, Manado (MP) – Manado
CityFest 2013 yang diselenggarakan 26-31
Agustus diharapkan memberi warna positif terhadap kota yang dikenal
religius ini.
Kegiatan
pelayanan ini melibatkan Palau Association dan gereja-gereja lokal,
pengusaha dan pimpinan masyarakat setempat.
Rangkaian kegiatan termasuk aksi
sosial, pertunjukan musik, demo ketangkasan skateboard dan sepeda
BMX, termasuk ibadah KKR yang dipimpin oleh penginjil dari Amerika
Serikat, Ps. Andrew Palau.
Keresahan
Yang
menjadi kontroversi adalah berdirinya tenda pameran sebuah LSM
pendukung gerakan homoseksualisme di kegiatan yang dilangsungkan di
kawasan perbelanjaan Megamas Manado ini.
“Iya
kami ambil bagian dan mendirikan stand
di Manado CityFest, nanti kami akan menampilkan program, kegiatan,
dan juga hasil karya komunitas kami,” terang seorang aktivis kepada
Beritamanado.com.
Kelompok
ini tidak hanya mencatut komunitas waria (transgender) yang sudah
lama hidup di tengah masyarakat Manado, tapi juga hendak mewakili
para pelaku praktek hubungan seks sejenis.
Kehadiran
stand ini menimbulkan keresahan di tengah jemaat-jemaat dan
masyarakat pada umumnya.
Ada
kekuatiran bahwa ajang sosial rohani ini justru adalah ajang untuk
melegalkan praktek menyimpang yang ditentang budaya dan agama ini.
Kasih Yesus mencari
Menanggapi
keresahan itu, pihak panitia pelaksana dan Palau Association
mengadakan sebuah konferensi
press pada tanggal 28 Agustus.
Ps.
Palau tak mengomentari masalah stand
itu. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya adalah untuk membawa kabar
baik Yesus Kristus “bagi semua orang.” Ia mengutip Injil Yohanes
3:16 yang terkenal:
“Karena
begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Mengenai hal lainnya ia memberi kesempatan pada panitia lokal untuk menjelaskannya.
Charles
Lepar, SE,
sekretaris Forum Pemuda Lintas Gereja (FPLG), mengutip Ps. Palau, mengatakan “Kasih Yesus itu mencari.”
Ia
menunjuk pada perkembangan kota Manado yang begitu pesat, serta
penyakit-penyakit sosial yang menyertainya.
Alasan
panitia lokal melibatkan kelompok yang menyebut diri GWL (gay, waria,
lesbian), dan kelompok-kelompok lainnya, seperti anak-anak pang,
komunitas tato, dll, itu adalah untuk menjangkau mereka.
Menurut Sek. FPLG, ada harapan bahwa dari kegiatan ini mereka dapat mendengar kabar baik Injil,
karena “Tuhan Yesus datang bukan cuma buat kami orang-orang
gereja,” tetapi untuk mereka juga.
Tantangan pelayanan gereja-gereja
Niat
yang baik dan tampak tulus ini masih meninggalkan pertanyaan tentang
bagaimana masyarakat, pemerintah, teristimewa gereja-gereja,
menyikapi isu gerakan homoseksualisme dan aspirasi sosial politiknya.
Pertanyaan
mengenai pelegitimasian (penerimaan secara sah) gerakan
homoseksualisme pantas mengemuka karena diakomodir di tengah kegiatan
yang ditujukan untuk maksud mengadakan perubahan ke arah positif
untuk kemajuan kota Manado.
Niat
baik panitia lokal akhirnya nampak tidak menghargai nilai-nilai yang
dianut oleh masyarakat, sekaligus telah mempromosikan praktek
menyimpang yang ditentang agama dan budaya ini kepada anak-anak yang
hadir dalam kegiatan tersebut.
Namun hadirnya
stand GWL akhirnya memberi signal kepada gereja-gereja untuk
mengambil peran aktif dalam pelayanan termasuk menjawab penyakit masyarakat yang muncul
seiring dengan kemajuan kota.
Pada
kegiatan-kegiatan lokal, regional, maupun internasional, perlu stand gereja-gereja untuk menciptakan kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial; menyediakan jawaban rohani terhadap berbagai pergumulan manusia, termasuk dengan ketertarikan
sesama jenis.
Label:
Berita Nasional
,
Charles Lepar
,
Homoseksualisme
,
Indonesia
,
Manado
,
Manado CityFest
,
Pemberitaan Kabar Baik
,
Ps. Andrew Palau
,
Sulawesi Utara
13:26
Siapa yang keliru, Paus Fransiskus atau mantan Uskup Agung Desmond Tutu?
Written By Menara Penjaga on Senin, 12 Agustus 2013 | 13:26
MP – Sejumlah
media Kristen mengkritik pemberitaan luas tentang pernyataan Paus
Fransiskus mengenai homoseksualitas yang menempatkan seolah-olah ia
mengambil posisi yang lebih lunak dibanding pendahulunya Paus
Emiritus Benediktus XVI.
“Siapa
saya untuk menghakimi mereka?” ungkap Paus Fransiskus menanggapi pertanyaan wartawan di pesawat (29 Juli 2013), setelah iven World Youth Day (festival
pemuda sedunia Gereja Katolik) di Copacabana, Rio de Janeiro, Brazil.
Ungkapan
kerendahan hati ini pun dikutip di berbagai media massa, mengarahkan
bahwa posisi pemimpin dari 1, 2 miliar anggota Gereja Roma Katolik
ini “sangat
berbeda
dengan sikap yang dilontarkan pendahulunya terkait isu yang sama”
(BBC, huruf tebal redaksi).
Pengiringan
opini itu dianggap keliru oleh sejumlah media massa berplatform
Kristen.
Ekspresi kasih yang benar
![]() |
| Paus Fransiskus (foto: Filippo Monteforte/AFP) |
LifeSitesNews.com
(LSN), media berita nirlaba Gereja Katolik, menilai berbagai
pemberitaan media mengenai pernyataan Paus adalah misleading
“menyesatkan.” ChristianPost.com menyebutnya sebagai misrepresentation (penggambaran yang keliru).
LSN
menyediakan konteks pernyataan Paus Fransiskus tersebut, termasuk
ajaran (katekisasi) Gereja Katolik menyangkut praktek hubungan
sejenis yang dinilai sebagai “acts
of grave depravity”
(tindak kebejatan yang berat).
Kecenderungan
pada ketertarikan sesama jenis juga dikategorikan sebagai “disorder“
(kelainan) dan “trial”
(godaan)
bagi mereka yang mengalaminya.
Pernyataan
dan sikap Paus Fransiskus yang menunjukkan kasih kepada mereka yang
mengalami ketertarikan sesama jenis ditempatkan dalam ajaran
katekisasi bahwa mereka “harus diterima dengan rasa hormat, belas
kasih, dan kepekaan. Setiap pertanda diskriminasi yang tak adil
terhadap mereka harus dihindari.”
Ekspresi
kasih tersebut tidak
dimaksudkan bahwa Gereja Katolik “okay” dengan imam yang
mempraktekan homoseksualitas, hal pertama karena imam dalam Gereja
Katolik mengambil sumpah selibat. Tidak pula dengan hasrat dan
praktek hubungan sejenis secara keseluruhan.
Gereja Katolik berusaha menanggapi kenyataan hidup akibat dosa ini dengan pendekatan yang injili.
Dalam
wawancara di pesawat tersebut Paus Fransiskus membedakan antara seorang yang
mempunyai ketertarikan sesama jenis dengan yang berusaha mempengaruhi
kebijakan untuk meluaskan praktek hubungan sejenis (yang disebut "lobi gay").
“Jika
mereka (orang yang mempunyai ketertarikan sesama jenis) menerima
Tuhan dan memiliki itikad baik, siapa saya untuk menghakimi mereka?
Mereka tidak boleh dipinggirkan. Masalahnya bukan pada kecenderungan
ke arah ketertarikan pada sesama jenis...mereka adalah
saudara-saudara kita,” ungkap Paus.
Yang
menjadi masalah menurut pemimpin umat Katolik ini adalah berbagai
upaya menyangkut “lobi gay.”
“Yang
merupakan masalah adalah upaya lobi dari orientasi ini, atau lobi
dari orang-orang yang serakah, lobi politik, lobi Masonik, dan banyak
lagi lobi lainnya. Ini yang merupakan masalah yang parah,” tuturnya.
Allah adalah kasih
![]() |
| Mantan Uskup Agung Gereja Anglikan Cape Town, Afrika Selatan (foto: CP). |
Menyangkut
isu yang sama. Mantan uskup agung Gereja Anglikan dari Afrika
Selatan, Desmond Tutu, membuat sebuah pernyataan kontroversial.
“Saya
tidak mau menyembah Allah yang homofobik,” ungkap pemenang Nobel
perdamaian ini berbicara di sebuah acara peluncuran kampanye global
PBB bidang hak asasi manusia di Cape Town, Afrika Selatan (26 Juli 2013). Kegiatan ini untuk mempromosikan persamaan hak dan
toleransi terhadap mereka yang mempunyai ketertarikan terhadap sesama
jenis, bi-seksual, termasuk transgender.
Istilah
“homofobik” yang digunakan pemenang Nobel perdamaian ini cukup
bermasalah.
Associated
Press telah melarang wartawannya menggunakan istilah ini dalam
konteks sosial dan politik.
“-fobia”
didefinisikan sebagai “rasa takut yang irasional, tak
terkendalikan, seringkali dalam bentuk penyakit mental,” demikian ditulis dalam Style Book AP.
Istilah
“homofobia” sudah melenceng, karena mengandung maksud bahwa
seseorang itu “menyandang cacat mental, dan menyarankan suatu
pengetahuan yang kita tak punya,” demikian penjelasan Dave
Minthorn, wakil editor standard AP, kepada Politico setahun yang lalu.
Dari
definisi itu, logika tentang “Allah yang homofobik” menjadi sulit
dibayangkan.
Allah
tidak memiliki kelainan mental. Allah adalah kasih, dan di dalam kasih tidak ada ketakutan.
Kekeliruan pernyataan penerima Nobel Tutu itu mendapat kecaman dari
komunitasnya.
Uskup Agung Dr. Daniel Yinkah Sarfo dari Gereja Anglikan Ghana, di
antaranya menyebut bahwa para uskup Anglikan di Asia, Afrika, dan
Amerika Latin mengutuk pernyataan itu. (ChristianNewsWire.com)
"Deklarasi Tutu menuntut supaya Allah bekerja menurut kemauannya," ungkap Uskup Agung Sarfo.
![]() |
| Uskup Agung Gereja Anglikan Ghana Dr. Daniel Yinka Sarfo (foto: idio.net). |
Kita jangan keliru
Jadi
siapa yang keliru, Paus Fransiskus atau mantan uskup agung Tutu?
Penting
untuk membedakan yang tampak benar namun keliru dan yang diberitakan
secara keliru, namun memiliki kebenaran.
Memahami
Allah lewat pemahaman yang setia mengenai Alkitab akan menghindarkan umat Kristen dari kekeliruan yang berbahaya. Dalam
kasih tidak ada ketakutan.(+)
Label:
Afrika
,
Afrika Selatan
,
Amerika
,
Berita Internasional
,
Brazil
,
Desmond Tutu
,
Featured
,
Gereja Anglikan
,
Gereja Katolik
,
Ghana
,
Homofobia
,
Homoseksualisme
,
Paus Benediktus XVI
,
Paus Fransiskus
,
World Youth Day
01:07
KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.
Memahami agenda Mr. Obama dan kepincangan sekularisme
Written By Menara Penjaga on Sabtu, 06 Juli 2013 | 01:07
KOMPASIANA (6 Juli 2013) -- Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, presiden Amerika Serikat, Barack Obama, turut membawa sebuah agenda yang menunjukkan ketidak-pekaannya terhadap budaya suatu masyarakat, sekaligus menunjukkan sikap arogan yang tidak patut.
Bagi yang kurang
teliti, ia bisa nampak sebagai seorang yang hendak membela martabat kaum
yang lemah, yang perlu perlindungan, dan yang terpinggirkan. Dan memang
demikian ia ingin dilihat.
Namun, jika
dipikirkan dengan kritis, ia sebenarnya sedang memaksakan sebuah
ideologi yang bertentangan dengan akar budaya dan agama Afrika, yaitu
sekularisme (hurufiahnya “paham penduniawian”).
Dengan memaksakan
sudut pandang yang dianutnya (dan sebagian masyarakat AS) kepada warga
masyarakat di negara-negara yang menyambutnya sebagai seorang tamu
kehormatan, ia telah melakukan pelecehan secara terang-terangan.
Mr. Obama dengan
wibawanya hendak menunjukkan kepada negara-negara yang menerimanya
sebagai tamu (dan tentu saja dunia) bahwa ia seorang yang peduli dengan
para pelaku dan praktek hubungan sejenis dan bahwa sikap negara-negara
Afrika terhadap pelaku dan praktek hubungan sejenis adalah salah.
Walaupun orang sering
dibingungkan antara kedua hal ini: praktek hubungan sejenis dan orang
yang memiliki ketertarikan terhadap sesama jenis, namun keduanya
berlainan dan harus dibedakan.
Orang yang tidak bisa
membedakan kedua hal ini akan dengan mudah menerima doktrin agama
Presiden AS. (Disebut “agama” karena ideologi sekularisme bertujuan
menjadi dasar pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan dari sebuah
masyarakat.)
Baik masyarakat
Senegal yang mayoritas Muslim maupun Kenya yang mayoritas Kristen,
praktek hubungan sejenis adalah ilegal. (Mr. Obama tidak mengunjungi
Kenya, tetapi tanggapan mengenai aktivitasnya di Senegal, Afrika
Selatan, dan Tanzania turut datang dari negara kelahiran ayahnya ini.)
Apa artinya bahwa praktek hubungan sejenis di negara-negara ini (kecuali Afrika Selatan) adalah ilegal?
Itu berarti bahwa
hukum di kedua negara Afrika ini mengambil posisi sesuai sudut pandang
norma masyarakat yang melekat dalam tradisi kebudayaan, agama, dan
kompleksitas ilmu pengetahuannya, dan menolak praktek ini sebagai hal
yang tidak sah, yang tidak normal atau moral, dan tidak bisa
dipromosikan sebagai sesuatu hal yang baik bagi masyarakat.
Dengan demikian
negara sebagai wadah yang dibentuk oleh masyarakat untuk mengatur dan
memerintah mengambil sikap yang sama dan menjalankan peraturan yang
tidak hanya menjamin hak dan kewajiban semua anggota masyarakat, tanpa
membeda-bedakan kemanusiaannya, tapi juga menjaga kelanggengan aspirasi
budaya dan agama yang berkeadilan dan etis.
Ketika Presiden AS
mengatakan bahwa ia menghormati sudut pandang pribadi (ciri-ciri gerakan
sekularisme adalah menciptakan dikotomi antara individu dan
masyarakat), dan iman pribadi masing-masing (menciptakan dikotomi antara
agama dan non-agama/sekuler), ia sedang menggoda masyarakat untuk
berpikir bahwa sudut pandang agama dan pribadi masyarakat Afrika
tersebut tidak pantas diterapkan dalam kebijakan sebuah negara.
Baginya yang tepat
adalah pandangan pribadinya dan sebagian masyarakat AS bahwa praktek ini
harus mendapat keluasan dalam masyarakat sehingga dapat dilakukan oleh
mereka yang mau melakukannya sebebas-bebasnya, bahkan mendapat tunjangan
dari pemerintah, diajarkan di sekolah-sekolah dan dipromosikan lewat
kegiatan-kegiatan seperti pawai homoseks di New York atau San Francisco.


Gagal mengikuti resepnya ini, mengikuti logika kata-katanya, berarti sebuah pemerintahan melakukan diskriminasi.
Kata “diskriminasi”
telah menjadi senjata ampuh terhadap mereka yang gagal memahami
kompleksitas masalah ini, dan juga tampak menjadikan Mr. Obama sebagai
seorang pembela hak asasi manusia (HAM).
Namun jika dilihat
keadaan di negerinya sendiri, mereka yang menolak mengafirmasi gaya
hidup homoseksual harus mengalami diskriminasi oleh karena peraturan
yang dibuat dari sudut pandang yang tidak mengakomodasi HAM untuk
kebebasan beragama.
Inilah kebohongan
dalam agenda presiden Obama, bahwa dalam berbicara tentang melawan
diskriminasi, sekularisme yang hendak dipaksakannya jelas-jelas
melakukan diskriminasi. Mereka yang tidak mau menerima praktek yang
ditolak agama dan budaya dunia pada umumnya ini akan mengalami
diskriminasi.
Jadi nampaklah di
depan mata kita dua sistem yang berbeda: Yang satu berdasarkan pemahaman
manusia akan kodrat dan agama, yang lain menolak dan menempatkan
kebebasan manusia di atas segala-galanya.
Yang pertama akan mengiring pada keteraturan dan kebebasan yang sebenarnya, sedang yang lain akan menuntun pada kekacauan (chaos) dan perhambaan.
Mr. Obama harus lebih
berani mengakui agenda sekularismenya. Paling tidak jujurlah bahwa
pencitraannya sebagai pembela HAM hanyalah topeng belaka.
Kalau tidak ia hanya
menambah bukti bahwa sekularisme adalah agenda yang tidak jujur. Melihat
contoh di AS, pelajaran agama tidak diperkenankan diajarkan di sekolah
negara. Itu karena dikatakan sekolah negara adalah tempat
non-agama/sekuler; harus bebas dari pelajaran agama. Berdoa pun
dilarang.
Namun di
sekolah-sekolah ini para pelajar dicecok dengan materialis Darwinisme
yang berpangkal pada ajaran anti-theis (anti-agama) bahkan dalam
perkembangannya sekarang praktek hubungan sejenis diajarkan sedini TK
(taman kanak-kanak).
Jadi jelaslah, agenda
Mr. Obama bukan untuk membela kaum yang lemah, bukan pula sekedar untuk
membantu masyarakat Afrika yang terus menderita akibat efek jangka
panjang kolonialisme. Ia menawarkan sekularisme, dan para pemimpin
Afrika yang pintar telah dengan terang-terangan mengungkapkannya: Kami
menghargai bantuan Anda, tapi [kami] takut akan Allah.
Label:
Afrika
,
Artikel
,
Barack Obama
,
Featured
,
HAM
,
Homoseksualisme
,
Kenya
,
Pendidikan
,
Sekularisme
,
Senegal
,
USA
10:50
Nigeria
Perancis
Amerika Serikat
Ekuador
Rusia
Georgia
Amerika Serikat dan Inggris
Vatikan
Apakah dana besar, pengaruh kuat, ditambah penguasaan teknologi informasi pembentuk budaya, akan mengubah institusi pernikahan dan menaruh anak-anak pada posisi yang rentan? Biarkan hati yang bicara.***
Perkembangan dunia sekitar praktek hubungan sejenis: Dari Nigeria sampai Vatikan (UP-DATED)
Written By Menara Penjaga on Kamis, 13 Juni 2013 | 10:50
MP -- Praktek hubungan sejenis menjadi salah
satu isu panas dewasa ini dan diperbincangkan dari berbagai sudut
pandang. Penolakan atau penerimaan disuarakan oleh berbagai
pemerintahan atau masyarakat di berbagai belahan dunia.
Berikut sorotan MP tentang perkembangan
terbaru isu ini dimulai dari Nigeria sampai ke Vatikan.
Nigeria
Dewan Perwakilan Rakyat Nigeria,
Afrika, telah menerima rancangan undang-undang (RUU) yang melarang
praktek hubungan sejenis dan mengatur hukuman bagi para pelanggar,
demikian dirangkum dari laporan Christian
Today,
31 Mei 2013.
Dalam komentarnya menyangkut
'pernikahan' sejenis, Senator Domingo Obende mengungkapkan
bahwa 'pernikahan' antara dua orang berjenis kelamin sama “tidak
bisa diterima secara moral dan agama. Agama Islam melarangnya. Agama
Kristen melarangnya, dan agama tradisional Afrika melarangnya,”
demikian dikutip dalam laporan tersebut. (Laporan terkait)
Inggris dan Wales
Sementara itu, sebuah RUU yang mengatur
tentang 'pernikahan' sejenis di Inggris dan Wales saat ini sedang
di bahas di Parlemen. Dalam pengambilan suara awal RUU tersebut
diterima dengan perbandingan 390-148 (The
Christian Institute).
Mengikuti
perkembangan ini, 61 tokoh agama dari kelompok Kristen, Islam,
Yahudi, dan Buddha telah menyampaikan surat kepada pemerintah,
memperingatkan bahwa melegalkan 'pernikahan' sesama
jenis akan "berdampak serius dan berbahaya bagi kebaikan
masyarakat, kehidupan keluarga, dan hak asasi manusia seperti
kebebasan beragama dan berbicara," demikian dikutip Christian
Today, 4 Juni 2013.
(up-dated 20 Juli)
RUU ‘pernikahan’ sejenis yang disponsori oleh PM Inggris David Cameron akhirnya diterima di Parlemen. Hari Rabu 17 Juli 2013 Ratu Inggris Elizabeth II menandatangani peraturan tersebut menjadi UU di Inggris dan Wales.
Dave Landrum dari organisasi Aliansi Injili (Evangelical Alliance) merupakan salah satu dari pendukung pernikahan Kristen yang harus menelan kekecewaan. Namun, ia mengingatkan “sebagai orang Kristen kita harus memiliki rasa percaya diri untuk mengatakan dan mengajarkan kebenaran dalam anugerah dan kasih. Dan kita perlu saling mendukung satu dengan yang lain dalam menjaga pernikahan sebagai sebuah janji di hadapan Tuhan.” (The Christian Institute)
Gereja Anglikan termasuk di antara institusi gereja yang menolak peraturan ini, dan telah mendapat pengecualian untuk tidak menyelenggarakan pemberkatan hubungan partner sejenis.
Di pihak lain, menteri kesetaraan Inggris, Maria Miller, dalam sebuah pernyataan mengungkapkan, “Saya bangga bahwa kita telah membuat ini terjadi dan menantikan pernikahan sejenis pertama musim panas tahun depan,” demikian dikutip The Blaze.Perancis
![]() |
| Aksi protes di Perancis menentang legalisasi 'pernikahan' sejenis (foto: LSN). |
Di Perancis, keputusan pemerintah untuk
melegalkan 'penikahan' sesama jenis disambut dengan aksi demonstrasi
rakyat menentang kebijakan tersebut.
Reaksi Perancis yang terkenal dengan
pemikiran liberal ini menimbulkan tanda tanya terhadap agenda
homoseksual oleh sejumlah pemimpin negara-negara Barat.
Amerika Serikat
Sementara itu, di Amerika Serikat (AS),
oleh berbagai tekanan dari para aktivis dan lobi revolusi seksual,
Mahkamah Agung sedang mempertimbangkan apakah akan menetapkan atau
menggugurkan Proposition 8 (usulan nomor 8), yang berhasil ditetapkan
oleh masyarakat negara bagian California menolak 'pernikahan' sesama jenis, dan
DOMA atau Defense of Marriage Act (pertahanan undang-undang
pernikahan) yaitu peraturan federal AS yang menyatakan bahwa
pernikahan adalah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan.
Para aktivis gerakan homoseksual
berargumentasi bahwa pernikahan tidak bisa hanya untuk pasangan
berlainan jenis, karena hal itu berarti diskriminasi.
Dilegalkannya 'pernikahan' sejenis
memang berarti diluaskannya insentif kemasyarakatan untuk pernikahan
bagi pasangan sesama jenis juga, misalnya keringanan dalam hal
perpajakan. Ini termasuk diajarkannya praktek ini kepada anak-anak di
sekolah, yang kesemuanya berarti mendorong gaya hidup yang ditentang
oleh Alkitab ini.
Di samping itu, legalisasi turut
diartikan bahwa partner sesama jenis dapat mengadopsi anak. Alasannya
anak-anak yang dibesarkan pasangan sejenis dapat bertumbuh normal
seperti anak-anak lainnya.
Robert Oscar Lopez, Ph.D., warga AS
yang merupakan seorang penulis yang dibesarkan oleh pasangan lesbi,
menanggapi asumsi ini. Secara gamblang ia menuliskan dampak psikologi
seorang anak yang dibesarkan oleh pasangan sejenis. Menurut Lopez,
“trauma apapun yang dialami oleh mereka [anak-anak] yang
menyebabkan mereka menjadi yatim-piatu, seharusnyalah tidak ditambah
dengan stres akibat diadopsi dalam kehidupan bersama pasangan
sejenis,” demikian tulisnya seperti dimuat di LSN,
3 Juni 2013.
“...[M]emiliki seorang ayah dan
seorang ibu dengan sendirinya adalah sebuah nilai berharga” dan
bahwa “pasangan sejenis yang paling sukses pun tidak dapat
menyediakan apa yang bisa diberikan oleh sebuah keluarga miskin
kepada seorang anak, yaitu: seorang ayah dan seorang ibu,”
tulisnya.
(up-dated 20 Juli)
Dalam sebuah keputusan kontroversial Mahkamah Agung AS menggugurkan bagian penting dari peraturan DOMA dengan perbandingan suara 5:4 dan menolak mengambil keputusan dalam kasusProposition 8.
Justice Antonin Scalia yang berada dipihak tak setuju menilai keputusan MA itu “mengangakan mulut,” dan mengecam pengalimatan dalam keputusan mayoritas yang ditulis oleh Justice Kennedy yang mengatakan bahwa mereka yang membela pernikahan tradisional adalah “musuh ras manusia.”
Liputan MP tentang perkembangan ini ada di “DOMA dan keputusan MA: Ratapan dan kegembiraan di AS.”
Ekuador
Presiden Ekuador, Rafael Correa, turut
menyuarakan penentangan terhadap 'pernikahan' sejenis dan
pengadopsian anak oleh partner sesama jenis. Dalam sebuah wawancara
dengan saluran TV RTS ia mengungkapkan bahwa pengadopsian anak oleh
pasangan sejenis bertentangan dengan kodrat dan kebaikan anak-anak,
demikian dilaporkan LSN,
3 Juni 2013.
Rusia
Rusia adalah negara yang terus
menegaskan penolakannya terhadap praktek sesama jenis dan propagandanya, sekalipun mendapat tekanan dari negara-negara Barat
tertentu.
Washington
Times (4 Juni 2013) melaporkan pernyataan presiden Rusia,
Vladimir Putin, bahwa ia mendukung dibuatnya peraturan yang
melarang partner sejenis dari luar negeri mengadopsi anak Rusia,
sambil menolak bahwa hal itu dikatakan diskriminasi.
Anggota parlemen Rusia sementara
merumuskan peraturan tersebut, ungkap Wakil Perdana Menteri Rusia,
Olga Golodets, yang turut mengatakan bahwa 'pernikahan'
sejenis tidak sesuai dengan adat kebiasaan Rusia.
Laporan
terbaru menyatakan bahwa Rusia telah mensahkan peraturan yang
melarang aktivis asing atau domestik untuk mempropagandakan hubungan
sesama jenis.
Georgia
Negara tetangga Rusia, Georgia, sedang
mempertimbangkan niatnya untuk bergabung dengan Uni-Eropa jika salah
satu persyaratannya adalah menerima praktek hubungan sesama jenis di
negaranya, demikian dilaporkan The
Messenger Online, sebuah media Georgia berbahasa Inggris, 28
Mei 2013 lalu.
Baru-baru ini masyarakat Georgia,
termasuk di dalamnya para imam dan jemaat Gereja Ortodoks, secara
berbondong-bondong membubarkan pawai yang dilakukan oleh para pelaku
dan pendukung hubungan sesama jenis.
Amerika Serikat dan Inggris
Kembali ke AS, LSN
(6 Juni 2013),
mengutip laporan Family Research Council, menunjukkan bahwa U.
S. Agency for International Development (USAID), badan bantuan
pemerintah AS, bekerja sama dengan Levi Strauss Foundation,
dari merk jeans terkenal, dan seorang milioner Tim Gill,
mengalokasikan 11 juta dollar (kurang lebih 104 miliar rupiah) untuk
melatih aktivis homoseksualis di negara-negara lain.
Terungkap
dalam laporan itu bahwa tahap pertama dari program ini difokuskan
pada Ekuador, Honduras, Guatemala, dan negara berkembang lainnya yang
menentang homoseksualisme.
Administrasi pemerintahan Inggris dan
AS saat ini telah terang-terangan menggunakan pengaruhnya untuk
menyebarluaskan doktrin revolusi seksual ini.
Sejumlah anggota masyarakat di Inggris
dan AS, terutama
dikalangan bisnis dan profesi, harus menghadapi tuntutan
pengadilan dan membayar denda, termasuk kehilangan pekerjaan, karena
menolak mengafirmasi gaya hidup gay dan lesbian.
Hal ini tak bisa diartikan bahwa mereka
yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis atau yang menerimanya
sebagai bagian dari identitas mereka berada di belakang semua ini. Di
antara mereka justru mengalami penekanan karena ketidak-setujuan
mereka dengan revolusi seksual yang diusung oleh para aktivis
homoseksualisme.
(up-dated 20 Juli 2013)
Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah negara Afrika, Presiden AS turut membawa agenda khusus yang mengundang reaksi penolakan dari masyarakat dan pemimpin Afrika. Lihat liputan MP di "Sebagian misi Presiden Obama ditolak para pemimpin Afrika."
Vatikan
Sementara itu, perkembangan terbaru
menunjukkan bahwa Vatikan sendiri yang masih terus berpegang kuat
pada ajaran mengenai kekudusan pernikahan, kesucian hidup, dan hak anak, tidak luput dari upaya gerakan ini.
Menurut laporan CBSNews, 12 Juni 2013, Paus Fransiskus
menyesalkan bahwa “lobby gay” (upaya untuk mempengaruhi kebijakan) telah juga bekerja di Vatikan
sebagai pusat Gereja Katolik.
Label:
Berita Internasional
,
Domingo Obende
,
Ekuador
,
Featured
,
Georgia
,
Hak Anak
,
Homoseksualisme
,
Inggris
,
Nigeria
,
Paus Fransiskus
,
Perancis
,
Rafael Correa
,
Rusia
,
USA
,
USAID
,
Vatikan
,
Vladimir Putin
Langganan:
Postingan
(
Atom
)













