"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Suriah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suriah. Tampilkan semua postingan

Setelah upaya “reformasi” yang membawa bencana gereja-gereja Suriah membantu umat Muslim

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 16 November 2013 | 10:01

SURIAH, Damaskus (MP) --- Berawal dari aksi protes pada Maret 2011, Suriah masuk ke dalam perang saudara yang telah merenggut lebih dari 100.000 jiwa. Sedikitnya 6000 di antaranya adalah anak-anak.

Situs berita CBN mengutip laporan PBB bahwa lebih dari sembilan juta orang Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan. Masyarakat Suriah yang tadinya makmur sekarang hidup dalam keputus-asaan, demikian judul laporan itu.

Ketua Badan Bantuan Kemanusiaan PBB Valerie Amos menjelaskan bahwa sebelum konflik terjadi masyarakat Suriah “memiliki pekerjaan, tinggal di apartemen, rumah-rumah, mereka mengirim anak-anak mereka ke sekolah ke toko kebutuhan sehari-hari, punya kendaraan, dst.”

“Sekarang ekonomi runtuh banyak orang yang harus melarikan diri seringkali pada tengah malam tanpa membawa apa-apa. Jadi benar-benar ada rasa keputus-asaan,” jelasnya.


Gas dan minyak bumi

Aksi protes terhadap pemerintahan Presiden Bashar-al-Assad tiba-tiba menjadi sebuah revolusi bersenjata yang didukung oleh sejumlah negara asing. Sejumlah “organisasi teroris” yang turut berjuang untuk mengganti pemerintahan, termasuk menyerang komunitas-komunitas Kristen, dipersenjatai secara terang-terangan.

Tapi buruk keadaan di Suriah saat ini masih akan lebih menyedihkan kalau upaya intervensi militer Amerika Serikat (AS) waktu lalu terealisasi.

Mundurnya AS dari rencana yang mendapat kecaman dari seluruh penjuru dunia itu membuat kesal Arab Saudi yang sangat ingin melihat pergantian rezim di Damaskus.

WND mensinyalir konflik Suriah menyangkut gas dan minyak bumi.


Lilin yang menyala

Sampai sekarang rakyat Suriah masih harus bertahan di antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak.

Dan gereja-gereja di Suriah telah membulatkan tekad untuk menjadi lilin yang menyala di tengah-tengah kegelapan; membawa harapan di tengah keputus-asaan lewat aksi kemanusiaan.

Situs berita AsiaNews melaporkan di Aleppo Gereja Katolik dan jemaat-jemaat menawarkan bantuan kepada ribuan orang yang tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal. Anak-anak diberikan beasiswa untuk ke sekolah. Di Damaskus para pekerja gereja dan umat membawa makanan dan kebutuhan pokok lainnya dari rumah ke rumah.

“Lewat pekerjaan amal, Gereja Katolik berupaya untuk mendapatkan kembali rasa kasih dan persaudaraan antara Kristen dan Muslim yang telah dihancurkan oleh perang,” ungkap Uskup Agung Jeanbart dari gereja Melkit di Aleppo.

Menurut penjelasannya keluarga-keluarga Kristen saat ini adalah yang paling membutuhkan bantuan, karena mereka mendapat bantuan yang sangat sedikit dari pemerintah dibandingkan keluarga-keluarga Muslim. Namun demikian, “gereja berupaya membantu semua orang,” ungkapnya. “Sebanyak 35 keluarga Muslim menemukan tempat mengungsi di keuskupan.”

Ia prihatin dengan banyaknya orang yang meninggalkan Suriah dan kemungkinan takkan kembali lagi. Beasiswa bagi anak-anak dan remaja, termasuk makanan dan pemeriksaan kesehatan yang disediakan oleh gereja-gereja dan organisasi lainnya diharapkan dapat membuat orang-orang tinggal.

“Kami para imam memberi semangat kepada orang-orang untuk bertahan, bersabar dan berpengharapan untuk masa depan. Kami mendorong orang-orang untuk pertama-tama memiliki iman dalam Allah dan memikirkan bahwa besok bisa merupakan hari yang baru,” ungkapnya. [+]


------
Once Prosperous Syrians Now Living in Desperation (6 Nov. '13)
http://www.cbn.com/cbnnews/world/2013/November/Once-Prosperous-Syrians-Now-Living-in-Desperation/



"Little flowers" of solidarity blossoming in the desert of Syria's War (14 Nov. '13)
http://www.asianews.it/news-en/Little-flowers-of-solidarity-blossoming-in-the-desert-of-Syria's-War-29547.html

Is this what Syria war really about? 
(7 Sep. '13)
http://www.wnd.com/2013/09/is-this-what-syria-war-really-about/


Foto: Asianews

Revisi 17 Nov. '13. Damaskus adalah ibukota Suriah, bukan kota tempat pengikut Kristus disebut Kristen pertama kali, yang adalah Antiokia, kota terbesar ketiga di kekaisaran Romawi, yang sekarang ini merupakan kota kecil di Turki dengan nama Antakya. 

Perang dan gelombang pengungsi Suriah: Kasus perdagangan manusia dan obat terlarang meningkat

Written By Menara Penjaga on Rabu, 25 September 2013 | 22:38

Derita akibat perang: Seorang ibu dan anaknya tertidur di pinggir sebuah jalan di Sidon, Libanon, 18 Juli 2013.
(Foto: AFP/Mahmoud Zayyat)
LIBANON, Beirut (MP) – Akibat konflik berkepanjangan di Suriah, Libanon menghadapi krisis dengan kehadiran 1, 3 juta pengungsi dari negara tetangganya itu.

“Jika konflik berlanjut, mungkin ada sebanyak 1, 6 juta pengungsi di Libanon pada akhir 2014,” ungkap Inger Andersen, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti dilansir Kompas.com.

Dengan jumlah penduduk 4 juta orang, Libanon merasakan langsung dampak perang sipil Suriah yang berawal dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan.

Kekuatiran akan situasi yang lebih parah setelah wacana penyerangan oleh Amerika Serikat dan gerakan pemberontak yang memiliki afiliasi berbeda telah meningkatkan jumlah pengungsi secara drastis. Perang ini telah memakan korban jiwa lebih dari 100.000 orang, dengan 6000 di antaranya adalah anak-anak.


Berbagai masalah sosial 

Dr. Naji Abi-Hashem dalam edaran emailnya yang ditulis dari Beirut menerangkan bahwa situasi di Libanon sangat tidak kondusif.

Di Libanon para pengungsi memiliki keluasan, sehingga mereka menyebar di daerah-daerah penduduk, mencari pekerjaan dan tempat tinggal di mana mungkin.

“Mereka yang punya membawa kendaraan dan sejumlah harta milik, menyewa tempat dan mungkin akan tinggal di sini selamanya,” tulisnya.

Namun demikian, mayoritas di antara para pengungsi tidak memiliki kemampuan ekonomi demikian. “Libanon ingin membantu tapi tak mampu menghadapi masalah sebesar ini,” tulisnya.

“Seperti dalam setiap kasus migrasi paksa dan pengungsian akibat perang, gangguan dan masalah yang dihadapi sangat besar.

“Banyak masalah yang muncul saat ini (mulai dari pencurian kendaraan, perdagangan manusia, perdagangan gelap terhadap yang miskin dan yang lemah, mayoritas pengungsi bersaing untuk pekerjaan dan tenaga kerja murah...banyak yang tinggal di ruangan sempit yang penuh sesak di bawah garis kemiskinan, ada yang mengirim anak-anaknya ke jalan untuk mengemis, yang lain mulai terlibat dalam perdagangan obat-obat terlarang dan seks komersil.)”

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam pertemuan dengan pemimpin Libanon Michel Suleiman (24/9/13 setempat) membahas rencana untuk menanggulangi biaya akibat situasi di Libanon ini.


Tugas orang Kristen

Di samping sederet masalah lainnya, harga barang dan tingkat pengangguran lokal juga meningkat menambah penderitaan yang dibawa oleh perang, yang menurut Dr. Naji adalah sebuah konsekuensi langsung dari keadaan kita sebagai manusia dan kejatuhannya.

“Kita hidup dalam dunia yang 'tidak sempurna' tapi kita diberi keistimewaan dengan mempunyai mandat 'misi ilahi',” ungkap Dr. Naji dalam emailnya. “Sementara itu, kita terus bekerja untuk Tuhan dan melanjutkan pelayanan kesembuhan dan rekonsiliasi.” [+]





Email Dr. Naji Abi-Hashem dikirim untuk sejumlah koleganya dengan catatan dapat dibagikan dengan orang atau kelompok yang berminat. Doakan masyarakat Suriah yang harus menghadapi pergumulan dan kenyataan hidup ini. Mari perluas rasa kemanusiaan dan sejauh mungkin menghindari kekerasan fisik maupun verbal dalam mencari sebuah solusi. 

Surat terbuka Presiden Rusia kepada masyarakat dan pemimpin politik di Amerika Serikat: Kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sama derajatnya

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 14 September 2013 | 10:13

[Surat ini dimuat sebagai tulisan opini di New York Times dan diterjemahkan oleh MP]

Peristiwa-peristiwa baru seputar Suriah telah mendorong saya untuk berbicara langsung kepada rakyat Amerika dan para pemimpin politiknya. Hal ini penting dilakukan di tengah kurangnya komunikasi antara masyarakat kita.

Hubungan di antara kita [Rusia dan Amerika Serikat (AS)] telah melewati berbagai tahap. Kita bermusuhan selama perang dingin. Tapi kita juga pernah menjadi sekutu sekali, dan mengalahkan Nazi bersama-sama. Organisasi universal internasional – PBB – kemudian dibentuk untuk mencegah kehancuran demikian untuk terulang kembali.

Para pendiri PBB mengerti bahwa keputusan yang mempengaruhi perang dan perdamaian harus terjadi hanya dengan persetujuan bersama, dan dengan persetujuan Amerika [hak] veto oleh anggota tetap Dewan Keamanan dicantumkan dalam Piagam PBB. Kearifan ini telah mendukung stabilitas hubungan internasional selama beberapa dekade .

Tidak ada yang menginginkan PBB menderita nasib yang sama dengan Liga Bangsa-Bangsa, yang runtuh karena tidak memiliki pengaruh yang sebenarnya. Hal ini akan menjadi mungkin bila negara-negara berpengaruh mengabaikan PBB dan mengambil tindakan militer tanpa otorisasi Dewan Keamanan .

Potensi penyerangan oleh Amerika Serikat terhadap Suriah, kendati ditentang kuat oleh berbagai negara dan pemimpin politik dan agama terkemuka, termasuk Paus, akan menimbulkan lebih banyak korban tidak bersalah dan eskalasi, berpotensi menyebarkan konflik jauh melampaui perbatasan negara Suriah. Penyerangan akan meningkatkan kekerasan dan melepaskan gelombang baru terorisme. Itu bisa merusak upaya multilateral untuk menyelesaikan masalah nuklir Iran dan konflik Israel-Palestina, dan selanjutnya mengguncang Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini bisa mengacaukan seluruh sistem hukum dan ketertiban internasional.

Suriah tidak sedang menghadapi pertempuran untuk demokrasi, tetapi konflik bersenjata antara pemerintah dan oposisi di sebuah negara multiagama. Ada beberapa pembela demokrasi di Suriah. Tapi ada lebih dari cukup para pejuang Qaeda dan ekstremis dari berbagai kelompok yang memerangi pemerintah. Departemen Luar Negeri AS telah menetapkan kelompok Front Al Nusra dan kelompok Negara Islam Irak dan Levant, yang berperang bersama pihak oposisi, sebagai organisasi teroris. Konflik internal ini, diperparah oleh senjata asing yang dipasok ke pihak oposisi, adalah salah satu dari yang paling berdarah di dunia.

Tentara bayaran dari negara-negara Arab berperang di sana, dan ratusan militan dari negara-negara Barat dan bahkan Rusia, merupakan isu keprihatinan yang mendalam. Mungkin mereka tidak datang ke negara kita dengan pengalaman yang diperoleh di Suriah? Bagaimanapun, setelah pertempuran di Libya, para ekstremis pindah ke Mali. Ini mengancam kita semua.

Dari awal, Rusia telah menganjurkan dialog damai yang memungkinkan Suriah untuk mengembangkan rencana kompromis bagi masa depan mereka sendiri. Kami tidak melindungi pemerintah Suriah, tetapi hukum internasional. Kita perlu menggunakan Dewan Keamanan PBB dan percaya bahwa menjaga hukum dan ketertiban di dunia yang kompleks dan bergejolak saat ini adalah salah satu dari beberapa cara untuk menjaga hubungan internasional dari tergelincir ke dalam kekacauan. Hukum masih tetap hukum, dan kita harus mengikutinya apakah kita suka atau tidak. Menurut hukum internasional saat ini, kekuatan [militer] hanya diperbolehkan untuk membela diri atau dengan keputusan Dewan Keamanan. Yang lainnya tidak dapat diterima berdasarkan Piagam PBB dan akan merupakan tindakan agresi.

Tidak ada yang meragukan bahwa gas beracun telah digunakan di Suriah. Tapi ada berbagai alasan untuk percaya bahwa itu tidak digunakan oleh Angkatan Darat Suriah, tetapi pasukan oposisi, untuk memprovokasi intervensi dari penyokong asing mereka yang kuat, yang akan berpihak dengan kaum fundamentalis. Laporan-laporan bahwa militan sedang mempersiapkan serangan lain - kali ini terhadap Israel - tidak dapat diabaikan.

Adalah hal yang mengkhawatirkan bahwa intervensi militer dalam konflik internal negara-negara lain telah menjadi hal yang biasa bagi Amerika Serikat. Apakah ini dalam kepentingan jangka panjang Amerika? Saya meragukannya. Jutaan orang di seluruh dunia semakin melihat Amerika bukan sebagai model demokrasi tapi yang hanya mengandalkan kekerasan, dengan menarik koalisi bersama di bawah slogan “Kalau tidak bersama kami, kau melawan kami."

Tapi gaya ini telah terbukti tidak efektif dan sia-sia. Afghanistan guncang, dan tidak ada yang dapat mengatakan apa yang akan terjadi setelah pasukan internasional ditarik. Libya terbagi menjadi suku-suku dan klan-klan. Di Irak perang sipil terus berlanjut, dengan puluhan tewas setiap hari. Di Amerika Serikat, banyak yang menarik analogi antara Irak dan Suriah, dan bertanya mengapa pemerintah mereka ingin mengulangi kesalahan yang baru-baru terjadi.

Tidak peduli bagaiman ditargetkan suatu serangan atau seberapa canggih senjata [yang dipakai], korban sipil adalah tak terelakan, termasuk orang tua dan anak-anak, mereka yang hendak dilindungi oleh serangan ini.

Dunia bereaksi dengan bertanya: jika Anda tidak dapat mengandalkan hukum internasional, maka Anda harus mencari cara lain untuk memastikan keamanan Anda. Jadi semakin banyak negara berusaha untuk memperoleh senjata pemusnah massal. Ini adalah logis: jika Anda memiliki bom, tidak ada yang akan menyentuh Anda. Kita tinggal dengan pembicaraan mengenai perlunya untuk memperkuat nonproliferasi, padahal dalam kenyataan hal itu sedang terkikis.

Kita harus berhenti menggunakan bahasa kekuatan dan kembali ke jalur penyelesaian diplomatik dan politik beradab.

Sebuah kesempatan baru untuk menghindari aksi militer telah muncul dalam beberapa hari terakhir. Amerika Serikat, Rusia dan semua anggota masyarakat internasional harus mengambil keuntungan dari kesediaan pemerintah Suriah untuk menempatkan senjata kimia itu di bawah kontrol internasional untuk kemudian dihancurkan. Melihat dari pernyataan Presiden Obama, Amerika Serikat melihat ini sebagai sebuah alternatif dari aksi militer .

Saya menyambut minat presiden dalam melanjutkan dialog dengan Rusia menyangkut Suriah. Kita harus bekerja sama untuk menjaga harapan ini tetap hidup, seperti yang kami sepakati di pertemuan Kelompok 8 di Lough Erne, Irlandia Utara, pada bulan Juni, dan mengarahkan diskusi kembali ke perundingan.

Jika kita dapat menghindari kekuatan [militer] terhadap Suriah, hal ini akan meningkatkan atmosfer dalam urusan internasional dan memperkuat rasa saling percaya. Ini akan menjadi keberhasilan kita bersama dan membuka pintu untuk kerja sama dalam isu penting lainnya.

Hubungan kerja dan pribadi saya dengan Presiden Obama ditandai dengan meningkatnya kepercayaan [antara satu dengan yang lain]. Saya menghargai ini. Saya dengan seksama telah mempelajari pidatonya kepada bangsa [AS] pada hari Selasa. Dan saya lebih memilih tidak setuju dengan argumennya tentang exceptionalism Amerika, dengan mengatakan bahwa kebijakan Amerika Serikat adalah "apa yang membuat Amerika berbeda. Itu yang membuat kita luar biasa." Adalah sangat berbahaya mendorong orang untuk melihat diri mereka sebagai luar biasa, apa pun motivasinya. Ada negara-negara besar dan negara-negara kecil, kaya dan miskin, mereka yang memiliki tradisi demokrasi yang panjang dan mereka yang masih berupaya menemukan jalan ke demokrasi. Kebijakan mereka berbeda juga. Kita semua berbeda, tapi ketika kita meminta berkat-berkat Tuhan, kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan menciptakan kita sama derajatnya.

Vladimir V. Putin, Presiden Rusia.

11/09/2013

Seruan Paus dan DGD untuk perdamaian di Suriah, Timur Tengah, dan seluruh dunia

Written By Menara Penjaga on Kamis, 05 September 2013 | 10:46


VATIKAN (MP) – Paus Fransiskus mencanangkan bahwa Sabtu, 7 September 2013 adalah hari pantang, puasa dan doa bagi perdamaian Suriah, kawasan Timur Tengah, dan seluruh dunia, demikian tulis Hidupkatolik.com. Seruan ini diungkapkan secara terbuka dalam Angelus pada Minggu, 1/9 yang lalu.

“Penggunaan kekerasan tak akan pernah membawa perdamaian. Perang akan selalu memanggil perang, dan kekerasan akan memanggil kekerasan yang lain. Dengan segenap kekuatan, saya meminta pada semua pihak yang terlibat dalam konflik yang sedang berkecamuk, untuk mendengarkan suara hati masing-masing dan tidak menutup diri demi kepentingan sendiri, tetapi memandang orang lain sebagai saudara dan melaksanakan dengan keberanian serta keyakinan: menempuh jalan pertemuan dan negosiasi supaya pertentangan yang membutakan segera bisa diatasi.”

Hari ini (4/9) waktu Roma, Paus Fransiskus kembali mengingatkan pentingnya doa dan puasa ini sekaligus mengajak partisipasi dari seluruh umat Kristen dan non-Kristen. 

"Hari Sabtu ini kita akan bersama-sama mengadakan puasa dan doa untuk perdamaian di Suriah, Timur Tengah, dan di seluruh dunia. Saya kembali mengundang seluruh Gereja [Katolik] untuk dengan sungguh-sungguh mengikuti hari itu, dan sekarang pun saya menyampaikan terima kasih kepada saudara-saudara umat Kristen, kepada saudara-saudara dari agama-agama lainnya, dan juga kepada semua pria dan wanita yang memiliki niat baik untuk bergabung dalam upaya ini, di tempat dan dengan caranya masing-masing. Saya secara khusus mendorong umat Katolik di Roma dan para peziarah untuk mengikuti ibadah doa di alun-alun St. Petrus pada pukul 7 malam, untuk memohon kepada Tuhan anugerah besar perdamaian. Kiranya seruan yang berkuasa untuk perdamaian naik dari setiap negeri,"  demikian terjemahan pernyataan Paus yang dikutip News.va.


Tanggapan Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD)

Sekretaris Jendral DGD, Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit, melanjutkan undangan Paus Fransiskus untuk berdoa dan berpuasa pada hari Sabtu ini. (Oikumene.org)

"Kita harus melakukan apa yang mungkin untuk memadamkan api perang, bukan memperparahnya dengan lebih banyak persenjataan mematikan," katanya.

Pdt. Tveit dalam surat bertanggal 4/9 kepada Dewan Keamanan PBB menyampaikan keprihatinan yang dalam menyangkut situasi di Suriah.

Ia menekankan bahwa "negoisasi politis untuk mencari jalan keluar" adalah satu-satunya jalan untuk perdamaian dan keadilan di Suriah. +

Melawan “penghijauan” dan “kristenisasi,” termasuk pembantaian dan perusakan seperti di Mesir

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 02:38

Seorang pria bersedih saat ia melihat salah satu dari banyak jenazah korban penyerbuan kamp pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi di Alun-alun Rabaa al-Adawiya, oleh pasukan keamanan Mesir, di Kairo, 14 Agustus 2013 (AFP PHOTO / MOSAAB EL-SHAMY via Kompas.com)
MP – Di sejumlah group facebook berplatform Kristen tampak sejumlah "posting-keprihatinan," bahkan kecaman, mengenai upaya “penghijauan” – istilah yang menunjuk pada 'peng-Islaman' daerah tertentu.

Sementara di group yang berplatform Islam, kita dapat menemui ungkapan yang sama tentang “kristenisasi” atau upaya 'peng-Kristenan' umat Islam (non-Islam).

Kedua istilah ini: “penghijauan” dan “kristenisasi,” serta ide yang terkandung di dalamnya, bukan hal yang baru. Keduanya lahir dan merupakan kelanjutan dari sejarah panjang tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan agama. Di balik itu adalah kepentingan politik, ekonomi, yang mencakup keserakahan, rasa superioritas, dan ketidak-sanggupan untuk mengendalikan diri.

Entah apa yang terus memberi kelanjutan terhadap istilah-istilah seperti ini di tengah komunitas beragama saat ini.

Padahal, penggunaan kedua istilah ini menyinggung perasaan umat beragama secara umum, terlebih khusus bagi kedua belah pihak, ketika muncul tudingan bahwa pihak yang satu sedang MEMAKSAKAN agamanya kepada pihak yang lain.

Dapat dimengerti bahwa kedua istilah itu menyinggung perasaan, karena pengikut agama yang tulus tidak akan memaksa (mengancam) orang lain untuk percaya apa yang ia percaya. Idenya juga bertentangan dengan akal sehat: seseorang tidak bisa dipaksa untuk mempercayai sesuatu yang tidak ia percaya.

Di samping itu, kedua istilah ini menyarankan bahwa para pemeluk agama tidak memiliki otonomi untuk menentukan apa yang mereka percaya/imani.


Kekritisan, kehati-hatian (kepekaan), dan rasa kemanusiaan

Karena itu, munculnya istilah-istilah di atas harus disikapi dengan kekritisan dan kehati-hatian (kepekaan). Ada orang yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena memang prihatin, namun TIDAK disertai dengan kekritisan dan kehati-hatian.

Namun, ada pula yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena suatu niat yang tak tulus, tak jujur; dengan maksud untuk menciptakan antipati (permusuhan) antara para pemeluk agama, supaya ketika ketegangan telah meningkat, jika sewaktu-waktu diperlukan, telah siap sebuah “bom kemanusiaan” yang dapat dipicu dengan sebuah tindakan pemerkosaan atau pembakaran/pemboman sebuah rumah ibadah.

“Senjata” seperti sudah sering dipakai oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, yang menghalalkan segala cara untuk mengamankan posisinya, memaksakan pengaruhnya, dan terutama mengamankan akses ke berbagai sumber daya untuk bisa hidup di atas penderitaan orang lain.

Jikalau yang disebut agama paling tidak membukakan mata manusia, maka masyarakat beragama perlu mengembangkan rasa percaya antara satu dengan yang lain, bukan karena agama, melainkan karena kemanusiaan yang kita semua miliki.

Kemanusiaan manusia tidak bisa diukur dari agama, etnik, pilihan politik, atau cara tertawa seseorang.

Manusia itu menjadi manusia karena HATINYA diisi dengan rasa kemanusiaan.


Pelajaran dari Mesir dan Indonesia

Sekarang ini sulit membayangkan bahwa pemerintah Mesir yang dibentuk setelah kudeta militer beberapa waktu yang lalu memiliki hati yang diisi dengan rasa kemanusiaan.

Associated Press (AP) yang dikutip Kompas.com menyebutkan 638 korban tewas dan sekitar 4000 lainnya luka-luka pada Rabu Berdarah (14 Agustus) ketika “pemerintah” tersebut membubarkan para demonstran. Dari pihak lain, Ikhwanul Muslimin [Muslim Brotherhood] mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang dan korban luka mencapai 10.000-an orang.

Mereka ini dibahasakan oleh sejumlah media sebagai pro-Mursi, pro-Muslim Brotherhood, atau pro-Islamis. Hanya saja seorang demonstran yang diwawancarai BBC menolak bahwa aksi mereka adalah demi Presiden Mursi, atau apapun, melainkan demi demokrasi dan martabat negeri mereka, Mesir.

Mereka dan rakyat Mesir secara keseluruhan adalah korban dari sebuah upaya manuver politik, yang bukan rahasia memuat begitu banyak kepentingan luar.

Kepentingan itu, apakah baik atau tidak bagi rakyat Mesir, adalah masalah tersendiri. Akan tetapi, suatu tindakan keamanan (baca: militer), mengatas namakan suara rakyat sekalipun, yang membunuhi rakyat, baik perempuan maupun laki-laki, jelas melanggar kesakralan sebuah demokrasi dan nilai kemanusiaan.

Hati siapa yang takkan tergerak melihat foto para korban. Mereka adalah ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka adalah rakyat yang menuntut sebuah konsistensi demokrasi, bagaimanapun itu.

Kita tidak mau dituduh mempunyai standar ganda dalam berdemokrasi, bukan?

Retorika penyelamatan Mesir dari "Islam radikal" tak lagi menjual. Mengapa di Suriah kebijakan yang muncul justru mempersenjatai gerakan yang tampak jelas memang radikal? 

Siapa yang lebih radikal dalam situasi ini telah nampak jelas. Ini adalah radikalisme yang mengkudeta demokrasi dan membantai rakyat dengan menggunakan alat keamanan negara.

Mungkin nanti ada narasi pembenaran terhadap penolakan terhadap Muslim Brotherhood, sama seperti kita di Indonesia punya narasi yang melegitimasi pembubaran PKI. Sayang kita sering dibuat lupa bahwa penolakan ideologi tak sama dengan pembantaian rakyat. Ada yang menyebut jumlah 300.000 sampai satu juta orang yang dibunuh secara keji pada tahun 65, dan kenyataannya kita masih hidup dalam kemiskinan hampir setengah abad kemudian.

Sendi-sendi perekonomian masih dikuasai oleh pihak asing, dan kroni-kroni koruptornya. 

Kita juga dibiarkan tak mengerti tentang semua kepentingan politik dan ekonomi di balik pergolakan politik semacam ini, dan untuk kasus Mesir, jika rakyat dan pemerintah gagal memperoleh solusi, mungkin tak hanya setengah abad kemudian rakyatnya masih akan tetap miskin, tapi juga Mesir akan porak-poranda dalam sebuah perang saudara.

Sampai sekarang agama masih dieksploitasi untuk kepentingan politik busuk. Tak dapat disangkal politisasi agama pun telah dimasukan ke dalam sejarah revolusi dan restorasi Mesir.

Mungkin Paus Tawardos II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik, berniat baik dengan hadir pada pengumuman Jenderal Sisi bahwa Presiden Mursi telah diturunkan, tapi tindakan itu nampak kurang bijak.

Sekarang kita bertanya, berapa banyak di antara “pendukung demokrasi” yang menyadari bahwa politisasi kelompok etnis Koptik dan Gereja Ortodoks Koptik tidak ada hubungannya dengan jemaat-jemaat Kristen Mesir yang ingin memiliki kebebasan beribadah, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka.

Siapa yang tahu? Yang kita tahu adalah mereka yang membakar gereja atau membunuhi orang Kristen itu melakukannya bukan karena agamanya, melainkan karena terang hatinya telah tertutup kabut amarah atau yang hatinya belum diisi dengan nilai kemanusiaan.

Perdana Menteri Turki Tayyib Erdogan punya poin yang penting, “Mereka yang tinggal diam menghadapi pembantaian ini sama bersalahnya dengan mereka yang melakukan (pembantaian) ini.” (Kompas.com)

Kalau ingin melakukan sesuatu, kita bisa mengikuti Paus Fransiskus. “Saya ingin memastikan doa saya untuk semua korban dan keluarga mereka, yang terluka dan semua orang yang menderita. Mari kita berdoa bersama untuk perdamaian, dialog dan rekonsiliasi di tengah bangsa ini dan seluruh dunia,” demikian sebagian isi doanya mengikuti tragedi pembantaian di Mesir. (News.va)

Dalam doa dan tindakan kita bisa melawan kata-kata yang mengundang permusuhan antar agama, kebencian antar sesama manusia, termasuk pembantaian rakyat dan penghancuran rumah ibadah seperti yang terjadi di Mesir. (+)

Keprihatinan dan kegilaan yang sedang terjadi di dunia: Dari Mesir, Suriah sampai Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 05 Juli 2013 | 14:37

MP -- Masyarakat internasional sedang merasa prihatin. Berikut sorotan MP seputar situasi di Suriah, Mesir, Sub-Sahara Afrika, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Indonesia.

Suriah
Krisis berkepanjangan di Suriah telah memakan korban lebih dari 100.000 orang (6000 adalah anak-anak), dan masih tak nampak ujung penyelesaiannya.

Dimulai dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan, aspirasi rakyat untuk hidup yang lebih baik berubah menjadi kematian dan tragedi yang menelan korban jiwa, materi, dan masa depan Suriah.


Sementara Rusia menyalurkan senjata atas klaim “perjanjian legal dengan pemerintah yang legal,” beberapa negara Barat dengan terang-terangan mendukung pemberontak, atau yang disebut “oposisi.”

Kardinal John O. Onaiyekan dari Nigeria dengan prihatin berkata, “Ini dunia gila.”

Suriah dijadikan lapangan sepak bola politik global. Di kota dan di desa, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, komunitas Muslim dan (terutama) komunitas Kristen, menjadi rumput-rumput malang yang terinjak-injak; yang hancur dan mati.

Tapi memang, sekalipun banyak pemain asing yang datang, para pemain utamanya adalah warga Suriah sendiri. Mereka yang berkomitmen untuk menjaga tanah airnya dalam wadah militer dan mereka yang ingin membangun Suriah (namun tidak setuju dengan kepemimpinan presiden Bashar al-Assad). Itu sebabnya konflik ini dinamakan “perang sipil” (perang antara mereka sendiri).

Mesir
Kegilaan juga telah muncul di Mesir.

Setelah demonstrasi yang mengiring mundurnya Hosni Mubarak, rakyat Mesir seperti melihat fajar baru di alam demokrasi. Terpilih secara konstitusional Muhammad Mursi sebagai presiden.

Presiden terpilih Mesir, Muhammad Morsi.
Dikudeta.
Namun didukung oleh Muslim Brotherhood membuatnya kurang populer (di dunia Barat), dan nampaknya juga melakukan langkah-langkah yang kurang populer. Ia dianggap sebagai seorang “Islamis,” dan itu sepertinya dianggap tidak baik.

Sebelum militer Mesir melakukan coup d'etat (kudeta) terhadap pemimpinnya (apakah ini tidak gila?), berbagai media, terutama yang berkiblat ke Barat, telah memperguncingkan Mesir di antaranya dari 'sudut' masyarakat Kristen Koptik, seakan-akan Muslim dan Kristen sama sekali tidak bisa akur di awal sebuah "revolusi." 

Yang paling menyedihkan di sini adalah kegagalan militer untuk menjaga konstitusi dan keamanan masyarakat Mesir, sekalipun dalam pidatonya Jendral Sisi mengatakan bahwa apa yang dilakukan militer adalah membawa aspirasi rakyat.

Apakah Jendral Sisi bingung membedakan aspirasi dan fungsi? Hal ini mengundang resiko kritik pelajar kritis ketika sejarah diajarkan di sekolah-sekolah nanti, sekalipun pemuka al-Azar dan Gereja Kristen Koptik berdiri mendukung. 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon adalah orang yang kritis, karena itu ia prihatin.

“Rakyat Mesir telah menyuarakan rasa frustrasi yang dalam serta keprihatinan yang sah lewat aksi protes mereka. Namun pada saat yang sama, intervensi militer dalam urusan kenegaraan adalah sebuah keprihatinan,” ungkap Eduardo del Buey, juru bicara PBB.

Sejauh ini yang perlu ditangisi adalah sekitar 91 perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual sampai pemerkosaan (mengingatkan Tragedi Mei 1998) di Tahrir Square. Belum dihitung jumlah korban tewas yang akan menambah jumlah 846 yang meninggal pada "revolusi" yang pertama.

"Revolusi" yang berikut-berikutnya mungkin masih akan datang jika kebijakan Mesir (dan Suriah, Libia, dst.) masih belum sepenuhnya memperhitungkan (atau mengakomodasi) kepentingan luar.

Tapi bagaimana pun, berbicara tentang Mesir, ini adalah kisah rakyat Mesir, dan biar mereka yang menilai kisah mereka sendiri. Termasuk tentang bagaimana militernya menahan para jurnalis dan menutup kantor berita seperti Al Jazeerah di tengah-tengah sebuah pergolakan. 

Sub-Sahara
Skip Libia, kita ke Afrika. Presiden Amerika Serikat membuat kejutan di tengah-tengah kunjungannya di benua yang mempunyai ikatan emosional dengan seorang Barack Obama. Ayah kandungnya berkewarga-negaraan Kenya.

Seperti biasa AS menunjukkan niatnya untuk membantu negara-negara Afrika yang masih berkembang setelah sejarah kolonialisme. Namun, kali ini sang presiden membawa juga agenda yang sementara menjadi polemik dan perpecahan di negaranya.

Di Senegal yang mayoritas memeluk agama Islam Mr. Obama menyudutkan Presiden Senegal, Macky Sall, dengan mengemukakan agenda homoseksualnya di depan sebuah konferensi pers. Presiden Sall menjawab bahwa masyarakatnya “toleran,” dan meminjam istilah non-akademik di Barat, “tidak homofobik.” “Kami memiliki tradisi yang berbeda,” ungkapnya.

Tanggapan datang dari Kenya, yang sekalipun punya sejarah dekat dengan sang presiden, lagi tak masuk dalam daftar kunjungannya. Menanggapi agenda Mr. Obama, Wakil Presiden Kenya, William Ruto, di sebuah ibadah Minggu di antaranya menyebut “Kenya adalah negara merdeka dan takut akan Tuhan.”(Lihat video di sini.)

Uni Eropa
Sementara itu, hubungan AS dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini agak merenggang. Ini juga merupakan bagian dari kegilaan yang sedang terjadi, bahwa pemerintah AS (dicurigai) memata-matai negara-negara Eropa (entah negara-negara lain juga), termasuk warganya. Kasus ini telah membuat Prof. Mark LeVine menilai bahwa demokrasi di AS telah dikhianati dan bertanya jika demokrasi ini akan bisa bertahan. 

Banyak orang yang telah mendengar nama Edward Snowden. Ia dapat dikatakan adalah salah satu orang yang paling berani di dunia, jika ia betul-betul sadar dengan apa yang dilakukannya.

Snowden adalah seorang kontraktor IT yang sempat bekerja untuk badan keamanan dan intelejen AS. Prihatin dengan tingkat 'pengawasan' pemerintah terhadap rakyatnya dan negara-negara lain ia memutuskan untuk membuka rahasia pengawasan itu.

Untuk keberanian itu, ia sekarang menjadi buruan negara “super-power.” Negara yang akan menerimanya sebagai seorang pelarian harus dinobatkan sebagai negara yang menghargai hak asasi manusia. (Mungkin Ekuador.)

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia...?
Maksudnya, menyangkut perkembangan terbaru menjelang Pemilu 2014, serta keamanan dan ketentraman hidup di negara ini.

Isu-isu sensitif terus didengung-dengungkan saat ini. Orang tak perlu bertanya, karena sudah biasa mendengar. Masalah agama, suku, BBM, dsb. Kita perlu menyikapi secara kritis isu-isu seperti ini, jangan sampai masyarakat ditunggangi untuk diadu domba satu dengan yang lain. Korban yang paling menderita selalu adalah anak-anak.

Adalah lumrah jika sama seperti Kardinal Onaiyekan kita semua berharap supaya apa yang terjadi di Suriah (dan negara-negara lainnya), terhindar dari tanah air Indonesia. Ini bukan supaya kita menghindar dari bersikap kritis, namun justru dengan bersikap kritis, membela kepentingan rakyat, menjaga keamanan dan memajukan kehidupan bermasyarakat.


Dan marilah jangan pernah kita lupa bahwa meski pun beda agama maupun suku, di Negara Kepulauan ini kita semua bersaudara.***

Apa yang memperparah situasi di Nigeria dan Suriah? Kardinal Onaiyekan bicara

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Juni 2013 | 20:51

Uskup Agung Abuja, Nigeria, Kardinal John O. Onaiyekan
(foto: CNA/Lauren Cater)
ITALIA, Milan (MP) -- Menurut Kardinal John O. Onaiyekan konflik yang terjadi di Nigeria dan Suriah saat ini telah diperparah oleh pengaruh-pengaruh luar. Demikian diungkapkannya dalam pertemuan ke-10 Oasis International Foundation yang diadakan di Universitas Milan, 17-18 Juni 2013.

Pertemuan tersebut membahas bagaimana meningkatkan hubungan Kristen Katolik dan Muslim serta masalah pertumbuhan sekularisme global dan ekstremisme. Para pembicara berasal dari berbagai negara, termasuk Irak, Iran, Yordania, Maroko, Lebanon, Suriah, Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Indonesia, Pakistan, Amerika Serikat, Prancis dan Italia. (CNA)

Situasi Nigeria
Human Rights Watch melaporkan bahwa sejak 2009 sebanyak 2.800 nyawa telah menjadi korban tindakan terorisme di Nigeria.

Kebanyakan di antara mereka merupakan masyarakat berlatar belakang agama Kristen.

“Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad” atau yang sering disebut “Boko Haram” dianggap bertanggung jawab atas berbagai tindakan tidak berprikemanusiaan yang telah menciptakan kekacauan di beberapa negara bagian di Nigeria.

Menurut Kardinal Onaiyekan, Jama'atul Alhul Sunnah (JAS) awalnya bukan merupakan sebuah kelompok teroris. Awalnya kelompok ini menolak untuk bekerja dengan non-Muslim, tetapi tidak pernah melakukan kekerasan.

"Masalahnya adalah masukan apa yang mereka dapatkan dari link luar mereka,” ungkap Kardinal Onaiyekan menunjuk bahwa masalah yang terjadi di Nigeria adalah akibat pengaruh dari kelompok-kelompok dari luar. Ia juga menyentil tentang pasokan dana dari luar.

"Tidak bahkan lima persen dari Muslim di Nigeria setuju dengan Boko Haram, dan mereka [umat Muslim] khawatir karena mereka [JAS] membunuh Muslim juga, dan memberikan Islam nama yang buruk," katanya.


Di Nigeria umat Kristen dan Muslim secara umum telah hidup berdampingan secara damai. Namun sampai beberapa tahun yang lalu, berbagai tindak kekerasan dan pemboman dilakukan oleh sekelompok orang yang digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras yang ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, dan telah menargetkan gedung-gedung pemerintah, pasar, gereja dan masjid dalam serangan-serangannya.



Situasi Suriah
Kardinal Onaiyekan juga turut menyoroti perang sipil di Suriah dan berharap supaya kekerasan di sana tidak menyebar ke tanah airnya.

Perang di Suriah telah berlangsung selama 27 bulan, dan merenggut nyawa sedikitnya 93.000 orang, dan setidaknya 1,5 juta orang menjadi pengungsi di negara-negara terdekat.

Berawal dari aksi demonstrasi melawan pemerintah yang kemudian diikuti oleh tindakan represif dari pemerintah, perang ini dimulai pada April 2011.

Rusia dan Iran telah mendukung pemerintah resmi Suriah, sementara negara-negara Barat (a.l., Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris) lebih menyukai kelompok pemberontak yang terdiri dari sejumlah kelompok berbeda, termasuk nasionalis dan Islamis.

Pada tanggal 14 Juni, Presiden AS, Barrack Obama, mengatakan siap untuk memberikan bantuan militer langsung ke oposisi, setelah menetapkan bahwa rezim menggunakan senjata kimia pada rakyatnya sendiri. Tuduhan itu ditolak oleh pemerintah Suriah.

Berita terbaru menyebutkan bahwa kelompok pemberontak mengaku sekarang memiliki senjata yang akan mengubah jalannya pertempuran.

"Siapa yang mendukung apa yang disebut oposisi di Suriah," kata Kardinal Onaiyekan. "Bukankah Barat?"

Menurutnya oposisi Suriah didukung oleh "beberapa orang yang tidak mengerti apa yang terjadi."

"Amerika mengatakan kepada kita bahwa mereka akan mengirim lebih banyak senjata untuk sekelompok orang yang menentang pemerintah mereka," ungkap kardinal.

"Ini adalah dunia gila, mereka mungkin memiliki alasan untuk itu," kata Kardinal Onaiyekan. "Mereka tahu apa yang mereka inginkan, tapi pasti bukan yang baik bagi rakyat Suriah."


The Golden Rule
Meskipun ada ketegangan sektarian di Suriah antara kelompok-kelompok Muslim yang berbeda dan diarahkan terhadap umat Kristen, kardinal mengatakan bahwa "kebanyakan konflik yang digambarkan sebagai konflik agama pada sebenarnya tidak begitu."

Kardinal Onaiyekan mengatakan bahwa ia ingin melihat dunia "menikmati buah positif dari berbagai agama, mengakui bahwa Allah lebih besar daripada kita, dan supaya orang Kristen untuk bebas mempraktekkan iman mereka."

"Muslim juga harus bebas untuk mempraktekkan iman mereka, mengingat untuk tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan orang-orang Kristen lakukan kepada mereka."

"Kita harus mengubah cara orang melihat agama mereka," katanya. "Kita harus membuka diri terhadap orang lain, mengakui bahwa ada orang lain [yang berbeda]. Tidak hanya bersikap toleran terhadap mereka, tetapi juga menghormati mereka, karena saya tidak ingin orang (hanya) mentolerir saya." [+] (lih. CNA)


Mohon doa bagi pemimpin gereja Ortodoks Suriah dan Yunani yang diculik kelompok bersenjata (up-dated)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 24 April 2013 | 00:46

Topang dalam doa Uskup Yohanna Ibrahim dan Uskup Boulos Yaziji yang telah mengambil
resiko bertahan dalam pelayanan sekalipun di tengah-tengah situasi yang tidak kondusif
(foto: http://yallasouriya.wordpress.com)/
MTN, 24 Mei 2013.
Pernyataan lewat Radio Vatikan menyangkut penculikan Uskup Agung Mar Gregorios Yohanna Ibrahim dan Boulos Yazaji, masing-masing Metropolitan Gereja Ortodoks Suriah dan Gereja Ortodoks Yunani Keuskupan Aleppo:
Sebuah kelompok tak dikenal telah menculik keduanya tanpa mengklaim tanggung jawabnya sampai sekarang, atau pun mengumumkan alasan penculikan atau mengetahui tempat mereka.
Kami dari keuskupan Gereja Ortodoks Yunani dan Suriah, Aleppo, dalam koordinasi dengan dua Patriarkat di Damaskus, hari demi hari mengungkapkan kesedihan kami dan kepedihan yang semakin mendalam oleh sebab penculikan dan ketidakhadiran kedua wali gereja terkemuka ini, serta apa yang mereka wakili dalam hal kekudusan hidupnya, jabatannya di tingkat lokal dan internasional, serta peran aktif mereka di semua tingkatan termasuk spiritual, pemikiran, akademik, pendidikan dan sosial; namun di atas segalanya adalah pekerjaan kemanusiaan yang mereka bawa dalam krisis saat ini yang sedang melanda negara kami Suriah.
Pada hari ini, setelah satu bulan sejak mereka diculik, di tengah doa dan permohonan oleh gereja-gereja lokal dan di seluruh dunia; serta seruan, pernyataan dan upaya-upaya dari organisasi Kristen dan Muslim dunia dan masyarakat internasional, kami kembali menyampaikan permintaan kami kepada para penculik untuk memperbaiki tindakan mereka, takutlah akan Allah, dan lepaskan kedua Uskup Agung tanpa menyakiti kesehatan atau fisik mereka, dan melepaskan semua imam lain dan warga sipil tak berdosa yang juga diculik.

Satu bulan dalam penculikan telah lebih dari cukup untuk kedua Uskup Agung. Derita yang mereka rasakan dalam penculikan mereka, juga merupakan derita bagi semua orang beriman dari dua komunitas mereka, yaitu rakyat Suriah dan dunia.
Penculikan kedua Uskup Agung sampai saat ini merusak struktur negara Suriah dalam keberagamannya dan sejarah panjang kewarganegaraan dan hidup bersama di Suriah. Bencana demikian akan diingat dan dicatat dalam sejarah, demikian pula kehancuran dan kesedihan Suriah.
Tindakan seperti itu tidak akan menakutkan kami karena kami adalah anak-anak dari "Kebangkitan."
Kami percaya bahwa belas kasihan dari satu Allah yang kita semua percaya, akan menuntun para penculik dan mendorong mereka untuk melepaskan kedua Uskup Agung tanpa pra-kondisi, karena tidak ada harga yang sama dengan kebebasan dua Uskup Agung, dan tidak ada kondisi yang sama dengan pengembalian mereka ke komunitas dan gereja mereka masing-masing.
Kami kembali menyampaikan permohonan kami dan melanjutkan doa-doa kami dengan kesungguhan kepada Allah untuk pembebasan kedua Uskup Agung, para imam, dan semua orang yang berada dalam penculikan. 



-------
SURIAH, Aleppo (Kompas, Selasa, 23 April 2013) -- Kelompok militan di kawasan yang dikuasai kelompok perlawanan di Suriah utara menculik dua pendeta yang sedang dalam perjalanan ke Aleppo. Penculikan atas kedua pendeta yang melakukan perjalanan dari perbatasan Turki itu dilaporkan oleh media pemerintah dan dikukuhkan seorang pemimpin kelompok pemberontak.

Keduanya adalah Uskup Yohanna Ibrahim yang menjabat pimpinan Gereja Ortodoks Suriah di Aleppo dan Uskup Boulos Yaziji yang memimpin Gereja Ortodoks [Yunani].

Namun masih belum jelas kelompok yang menculik mereka. "Semua kemungkinan masih terbuka," tutur Abdulahad Steifo dari kelompok perlawanan Koalisi Nasional Suriah.

Dia mengatakan penculikan terjadi ketika keduanya sedang dalam perjalanan dari kawasan perbatasan Bab al-Hawa, yang dekat dengan kota Reyhanli di Turki, menuju Aleppo. Stasiun TV negara melaporkan 'kelompok teroris bersenjata' yang menculik kedua pendeta yang sedang melaksanakan 'tugas kemanusiaan' di kawasan pedesaan Aleppo.

Masa sulit Aleppo

Seorang penduduk Aleppo yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penculik menembak mati supir yang membawa kedua pendeta itu. Yohanna Ibrahim dan Boulos Yaziji merupakan pendeta paling senior yang sejauh ini terkena dampak langsung perang Suriah.

Bulan September Uskup Ibrahim mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ratusan keluarga Kristen mengungsi dari Aleppo akibat pertarungan antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak di kota itu. "Dalam sejarah modern, Aleppo tidak pernah mengalami masa-masa sulit dan seperti ini. Umat Kristen diserang dan diculik dengan cara yang dahsyat dan keluarga mereka harus membayar uang dalam jumlah besar untuk pembebasan," tambahnya.

Warga Kristen di Suriah mencapai sekitar 10 persen dari total jumlah penduduk yang mayoritas merupakan umat Islam Sunni. Perkiraan angka itu sebelum terjadi perlawanan atas Presiden Bashar al-Assad dua tahun lalu.

PBB memperkirakan lebih dari 60.000 orang tewas akibat konflik bersenjata di Suriah dan lebih dari satu juta orang mengungsi ke negara-negara tetangga.

Judul asli: Dua Pendeta Diculik di Aleppo

Derita anak-anak di Timur Tengah: 20 meninggal, 200.000 terancam

Written By Ray Maleke on Selasa, 20 November 2012 | 12:07

Seorang anak korban serangan misil Israel di Palestina
(foto: AFP PHOTO/MAHMUD HAMS)
ISRAEL-PALESTINA, Yerusalem (20 November 2012).

Dua orang Palestina tewas dalam serangan udara terbaru Israel di Gaza tengah, Senin (19/11), sehingga jumlah korban meninggal dalam kekerasan enam hari melampaui angka 100.1

Menurut laporan Reuters anak-anak yang meninggal akibat konflik yang telah berlangsung sepekan ini paling kurang berjumlah 20.2

Di samping itu, Hasan Zeyada, seorang psikiatris, mengungkapkan bahwa anak-anak menderita trauma akibat kekerasan yang sedang terjadi – sehingga mengalami ngompol, mimpi buruk, kilas-balik, dan takut keluar.

Sementara itu, menurut kutipan berita BBC Indonesia, lembaga amal internasional, Save the Children, memperingatkan 200.000 anak-anak Suriah yang mengungsi menghadapi risiko yang serius pada musim dingin yang mulai tiba di kawasan Timur Tengah.

Save The Children mengatakan banyak pengungsi yang berada di tempat penampungan yang kondisinya buruk sementara pakaian mereka tidak cukup untuk menghadapi musim dingin.3

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan akan berangkat ke Kairo, Mesir untuk turut mengambil peran dalam upaya mewujudkan gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

"(Kekerasan) ini harus berhenti," kata Sekjen Ban Ki-moon dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Minggu larut malam (Senin pagi WIB).

"Saya sangat mendorong agar para pihak bekerja sama dengan upaya yang dijalin Mesir untuk mencapai gencatan senjata sesegera mungkin."4

Semoga saja Sekjen PBB dapat pula menengahi keinginan Uni Eropa untuk mempersenjatai pihak oposisi di Suriah. (MP)




1 Korban Tewas di Gaza Lampaui 100, Kompas (link).
2 Gaza children struggle to cope with life under fire, Reuters (link).
3 Kondisi Pengungsi Anak Suriah Memprihatinkan, Kompas (link).
4 Sekjen PBB serukan gencatan senjata Israel-Palestina, BBC Indonesia (link).

Pastor Fadi Jamil Haddad, imam Gereja Ortodoks Yunani, martir di Suriah

Written By Ray Maleke on Minggu, 28 Oktober 2012 | 06:58

Pastor Fadi (alm.) di depan altar gereja
St. Elias (foto: OBOA)
SURIAH, Damaskus (27 Oktober 2012).

Para uskup Katolik di Damaskus mengungkapkan belasungkawa atas pembunuhan brutal imam Gereja Ortodoks Yunani Fadi Jamil Haddad. Mereka menyesalkan "konspirasi asing yang menyebarkan kejahatan dan kehancuran di negara ini" dan menyerukan rekonsiliasi: demikian diungkapkan dalam sebuah pernyataan Dewan Uskup Katolik Damaskus yang dikirim ke AgenziaFides.

Pastor Fadi Haddad, imam di gereja St. Elias di Qatana – sebuah kota kecil di pinggiran ibukota Suriah – diculik pada 18 Oktober lalu ketika ia bernegosiasi untuk membebaskan salah satu jemaatnya. 

Imam Gereja Ortodoks Yunani ini ditemukan tewas enam hari kemudian. Dalam acara pemakamannya yang dilaporkan turut dihadiri ribuan orang Kristen, sebuah serangan bom juga terjadi, menyebabkan dua orang warga dan beberapa tentara meninggal. 


Dilaporkan OBOA, pastor Fadi adalah orang yang penuh kasih dan penyayang, dan dicintai oleh kalangan Muslim dan Kristen. Dia telah melayani Gereja Antiokhia sebagai imam sejak ditahbiskan tahun 1995 oleh Patriark Ignatius IV dan Uskup Elias (Khoury).

Setelah berita kematiannya diumumkan, jaringan televisi negara Suriah mengatakan "Beliau adalah salah satu pekerja yang paling menonjol untuk rekonsiliasi nasional dan pemulihan luka [akibat perang]."
Pastor Fadi a
dalah imam kedua yang tewas di Suriah sejak konflik dimulai. Pada bulan Januari, imam Bassilios Nassar tewas di Hama ketika ia berusaha menyelamatkan seorang pria yang terluka.

Dewan Uskup Katolik di Damaskus mengungkapkan belasungkawa kepada Patriark Ignatius IV dan semua saudara-saudara dari Gereja Ortodoks Yunani, sambil berdoa kepada Tuhan "untuk menyambut ke dalam kerajaan-Nya imam-martir ini bersama-sama dengan semua martir Suriah."

Bagian terakhir dari seruan itu ditujukan kepada "saudara-saudara Muslim," yang pada hari-hari in merayakan Idul Adha: "Hari raya kalian," tulis para uskup Katolik "adalah hari raya kami, sukacita kalian adalah kegembiraan kami, demikian kesedihan kalian adalah kesedihan kami juga. Kita telah hidup sebagai saudara, dan kita akan terus hidup sebagai saudara." 

Patriarkat Gereja Ortodoks Yunani Antiokia dalam pernyataannya menyebut Pastor Fadi "martir rekonsiliasi dan kerukunan," dan mengutuk "tindakan brutal dan biadab terhadap warga sipil, masyarakat yang tidak bersalah, dan para hamba Allah yang berusaha untuk menjadi rasul perdamaian. Mereka adalah orang-orang yang menjaga kesatuan hati, membungkus luka penderitaan, menghibur yang sakit, menguatkan yang lemah dalam keadaan sulit saat ini." (Agenzia Fides)

Dalam pernyataan itu dihimbau orang Kristen yang setia "untuk berdiri teguh dalam iman dan pengharapan dalam kuasa Tuhan yang menginginkan kita untuk memiliki kehidupan, dan dalam kelimpahan (Yohanes 10:10)," sekaligus untuk "tinggal" di tanah mereka, dan bangsa mereka, "melihat ke depan" dengan kekuatan iman. "Kami memohon kepada Allah supaya kemartiran Pastor Fadi Haddad adalah sebuah pengorbanan yang ditawarkan untuk anak-anak bangsa ini dan untuk gencatan senjata dalam peristiwa yang menyakitkan yang kita alami pada masa ini." (AF/OBOA/MP)




 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger