"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Yerusalem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yerusalem. Tampilkan semua postingan

Perundingan damai Israel-Palestina di Washington DC: Pendukung dan penentangnya (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 31 Juli 2013 | 21:33


Kota Yerusalem (foto: Marianne Medlin/CNA).
Palestina membatalkan perundingan setelah sebuah serangan Israel ke kamp pengungsi

TEMPO.CO, Tepi Barat  (27 Agustus 2013) - Juru runding Palestina membatalkan rencana pembicaraan perdamaian dengan Israel menyusul serangannya terhadap kamp pengungsi di daerah pendudukan Tepi Barat, Sabtu 24 Agustus 2013. Serangan pasukan Israel tersebut menyebabkan tiga warga Palestina tewas termasuk seorang pekerja PBB.

Perdana Meteri Palestina, Rami Hamdallah, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa 27 Agustus 2013, "Kejahatan semacam itu membuktikan bahwa perlunya perlindungan internasional terhadap rakyat kami."
Pasukan Israel acap kali menahan warga Palestina yang dituduh terlibat dalam gerakan teroris. Israel dan Otoritas Palestina baru-baru ini -melalui mediasi Amerika Serikat - melakukan pembicaraan setelah selama tiga tahun berhenti.

Kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sejak awal 2013. Dalam kurun waktu delapan bulan, pasukan Israel telah membunuh 14 rakyat Palestina di daerah pendudukan. Hampir seluruh korban pembunuhan itu tewas setelah bentrok dengan serdadu Israel. Bandingkan dengan periode yang sama pada 2012, tiga warga Palestina tewas dalam kasus serupa.

Menurut PBB, pria yang dibunuh tentara Israel itu berusia 34 tahun, ayah empat orang anak. Dia tewas ditembak di bagaian dada oleh Israel saat sedang menuju ke tempat kerjanya. PBB mengutuk insiden pembunuhan ini.
Juru bicara kepolisian Israel mengatakan kepada kantor berita AFP, sejumlah petugas menggeruduk daerah pendudukan di Tepi Barat guna menangkap "seseorang yang diduga teroris" ketika lebih dari 1.500 warga Palestina turun ke jalan dan menyerang mereka dengan lemparan bom molotov dan batu cadas.

"Pasukan Israel menggunakan peluru karet," ujar juru bicara. Tak begitu jelas, apakah tentara Israel dalam aksi penyerbuan itu menahan warga Palestina atau tidak.


-------
AMERIKA SERIKAT, Washington DC (MP) -- Ketua tim perunding Israel, Menteri Kehakiman Tzipi Livni, Selasa (30/7/2013), memuji suasana positif dalam pembicaraan damai dengan Palestina di Washington DC. 

Ini adalah perundingan pertama setelah tiga tahun terhenti oleh sebab pendudukan Israel di Tepi Barat yang dilihat sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

"Atmosfir pembicaraan sangat positif," kata Menkeh Livni kepada Radio Israel, Selasa (30/7/2013), setelah jamuan makan malam dengan juru runding Palestina Saeb Erakat yang digelar Menteri luar negeri AS, John Kerry.

"Semua isu sudah di atas meja, namun kami memutuskan semua akan ditentukan di dalam ruang negosiasi dan tidak akan bocor keluar," ungkap Menkeh Livni.

Menkeh Livni menambahkan, pembicaraan damai ini dilanjutkan bukan sebagai respon atas desakan AS namun juga merupakan kepentingan kedua negara. (kompas.com)

Hari Rabu (31/7/2013) juru runding Erakat menyampaikan terima kasih kepada pemerintah AS atas “upaya mereka yang tidak kenal lelah” dan mengatakan tidak seorang pun yang memperoleh manfaat lebih besar dari suksesnya perundingan selain rakyat Palestina.

“Saya gembira bahwa semua isu-isu status akhir di bahas di meja perundingan dan akan diselesaikan tanpa kecuali. Sudah waktunya bagi rakyat Palestina memiliki negara mereka sendiri yang merdeka dan berdaulat,” ujarnya. (kompas.com)

Pertemuan akan kembali diadakan dalam dua minggu.


Pihak-pihak yang tidak mendukung
  
Seperti yang diberitakan Reuters, selama setidaknya dua dekade terakhir, negosiasi di konferensi tingkat tinggi gagal menyelesaikan konflik Israel-Palestina dan pertemuan-pertemuan lain hanya meninggalkan draf perdamaian yang akhirnya tak terpakai. (lih. kompas.com)

Dengan latar belakang yang kurang mendukung tersebut, tampak pula ada pihak yang tidak menyukai perundingan saat ini. 

Salah satu faksi terbesar Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yaitu Front Rakyat Untuk Kemerdekaan Palestina, Senin (29/7/2013), telah menyuarakan penolakan terhadap perundingan damai tersebut.

"Kami pergi ke PBB untuk melepaskan diri kami dari AS," ungkap Khaleda Jarar, salah satu pemimpinnya. Ia merujuk kesuksesan Palestina mendapatkan kenaikan status di PBB. (kompas.com)

Hamas, yang mengusai wilayah Palestina di Gaza, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka "menolak Otoritas Palestina kembali ke pembicaraan damai dengan pemerintah pendudukan Israel".

Dipihak lain, Menkeh Livni mengungkapkan, "Ada beberapa menteri Israel yang tak sepakat dengan negosiasi ini."

Para menteri garis keras secara terbuka menentang pembentukan negara Palestina dan bersumpah akan terus membangun permukiman Yahudi di tanah pendudukan. (kompas.com)

Menlu AS John Kerry (tengah) bersama perunding Israel
Tzipi Livni (kanan) dan perunding Palestina Saeb Erakat
di Washington (30/7) (foto: Reuters via Kompas).


Pujian untuk itikad baik

Namun, itikad dari pemimpin kedua belah pihak mendapat pujian dari Menlu Kerry. Ia menegaskan pujiannya untuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. 

Dalam pernyataannya hari Minggu kemarin ia mengatakan, "Kedua pemimpin itu telah menunjukkan kesediaan untuk membuat keputusan sulit yang telah berperan dalam mencapai titik ini. Kami berterima kasih atas kepemimpinan mereka." 

Pihak pemerintah Israel telah mengambil langkah untuk membebaskan 104 tahanan pejuang Palestina.

"Ini saat yang tidak mudah bagi saya. Ini hal yang tidak mudah bagi para menteri," kata PM Netanyahu. "Hal ini tidak mudah terutama bagi sejumlah keluarga, keluarga-keluarga yang berduka, yang suasana hatinya saya pahami. Namun, ada saat-saat di mana keputusan-keputusan sulit harus dibuat demi kebaikan negeri ini, dan ini adalah salah satu dari momen itu."

Langkah tersebut lolos dengan raihan suara 14 berbanding 6. Dua suara lain abstain. (kompas.com)

Salah satu menteri Israel garis keras adalah Naftali Bennett.

Menteri Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja Israel yang juga Pemimpin Partai Rumah Yahudi ini dilaporkan mengeluarkan pernyataan insensitif Minggu kemarin.

"Jika Anda menangkap teroris, anda cukup membunuh mereka," katanya, menurut sebuah laporan edisi cetak harian Yedioth Ahronoth berbahasa Ibrani.


Dukungan umat beragama

Sementara itu, CNA melaporkan bahwa sejumlah pemimpin lintas agama di AS telah mengirimkan sebuah pernyataan berisi dukungan terhadap perundingan damai ini kepada Menlu Kerry.

Pernyataan yang ditanda-tangani oleh sejumlah pemimpin Yahudi, Muslim dan Kristen ini, selain memberikan penghargaan juga mengungkapkan doa mereka bagi upaya menghadirkan perdamaian yang diakui merupakan hal yang tak mudah. 

“Kami tahu bahwa jalan menuju perdamaian adalah rumit dan penuh tantangan, tapi perdamaian adalah hal yang mungkin.” (+)

Palestina: Dukungan Vatikan dan Dewan Gereja-Gereja se-Dunia, dan kesembilan negara yang tidak mendukung

Written By Menara Penjaga on Senin, 03 Desember 2012 | 07:23

Presiden Mahmud Abbas (tengah depan) merayakan
keputusan PBB bersama anggota delegasinya
(foto: U.N. Photo/Rick Bajornas)

Menara Penjaga, 1 Desember 2012.

Vatikan memberi sambutan positif terhadap hasil keputusan PBB untuk menerima Palestina sebagai negara pengamat non-anggota (non-member Observer State), dan mendesak ke arah lahirnya two-state solution (solusi dua negara) secara permanen.1

"Pemungutan suara itu menunjukkan sentimen dari mayoritas masyarakat internasional dan secara signifikan mengakui kehadiran warga Palestina di PBB," demikian pernyataan dari Tahta Suci.

Pernyataan ini menyusul sehari setelah Majelis Umum PBB memutuskan berdasarkan dukungan suara yang meyakinkan terhadap perubahan itu pada 29 November lalu. 138 negara menyatakan mendukung, 41 abstain, dan 9 menolak.

"Tapi ini tidak merupakan solusi yang memadai untuk masalah yang ada di kawasan itu," demikian bunyi siaran pers 30 November dari Vatikan itu.


"Respon yang memadai hanya dapat ditemui melalui komitmen yang efektif dari mereka untuk membangun perdamaian dan stabilitas dalam keadilan dan penghormatan terhadap aspirasi yang sah, baik dari rakyat Israel maupun rakyat Palestina."


Tanggapan Dewan Gereja-Gereja se-Dunia

Mewakil Dewan Gereja-Gereja se-Dunia (WCC), Jumat lalu (30/11) Sekjen Rev Dr Olav Fykse Tveit mengungkapkan sambutan positif terhadap perubahan status itu, dan melihatnya sebagai langkah maju menuju perdamaian.2

"Sekarang terserah kepada kedua belah pihak, Israel dan Palestina, untuk memajukan proses ini ke depan," ungkap Dr Tveit. "Pemungutan suara di PBB menegaskan bahwa solusi dua negara adalah cara terbaik untuk perdamaian di wilayah tersebut. Tanpa itu, masa depan akan tetap diwarnai lebih banyak kekerasan dan ketidakamanan, dan tragedi yang berkelanjutan bagi kedua bangsa."

"WCC telah secara konsisten menyuarakan dukungan terhadap solusi dua-negara," kenang Dr Tveit. Sejak pertemuan Majelis Pertama pada tahun 1948, WCC telah memperjuangkan hak-hak Israel dan Palestina untuk masing-masing menjadi negara bebas dan merdeka.

Dengan lahirnya keputusan itu berarti Palestina akan dapat berpartisipasi dalam perdebatan di PBB dan mungkin bergabung dengan beberapa badan yang ada seperti Mahkamah Kejahatan Internasional.
 

Sembilan negara yang tidak mendukung 

Dengan jumlah suara mendukung negara Palestina yang melebihi persyaratan dua-pertiga, pertanyaan tentang negara mana yang tidak mendukung menjadi menarik.

Amerika Serikat adalah yang paling menentang kebijakan ini. Menurut Max Fisher, The Washington Post, AS melihat langkah ini sebagai langkah kontra-produktif terhadap upaya perdamaian yang dipimpinnya.3 Senada dengan ungkapan juru bicara PM Israel Benjamin Netenyahu, Mark Regev.4

Selain kedua negara ini, yang menolak adalah Kanada, pendukung kebijakan AS di Timur Tengah, Republik Ceko, yang dikatakan “lebih dekat dengan AS daripada Uni Eropa.” Kemudian, Panama, yang punya hubungan ekonomi yang dekat dengan AS, dan negara-negara kecil di Pasifik, yang sebelumnya berada di bawah administrasi AS, yaitu Nauru, Palau, Micronesia, dan Marshall Islands.


Tanggapan Patriarkat Latin Yerusalem terhadap Vatikan

Kantor pers Tahta Suci menyebut keputusan PBB ini sebagai sebuah "
keputusan penting" dan mengatakan telah "secara aktif mengikuti langkah-langkah yang mengarah ke situ, sambil berjuang untuk tetap netral dan bertindak sesuai dengan hakikat khusus keagamaan dan misi universalnya, dan dalam pertimbangan juga perhatian khususnya terhadap dimensi etis dari masalah-masalah internasional."5

Paus Benediktus XVI mengunjungi wilayah Timur Tengah pada tahun 2009 dan menyerukan solusi dua-negara dan penghentian kekerasan.

"Tidak ada lagi pertumpahan darah! Tidak ada lagi pertempuran! Tidak ada lagi terorisme! Tidak ada lagi perang! Sebaliknya mari kita hancurkan lingkaran setan kekerasan," ungkapnya pada akhir perjalanannya.

Patriarkat Latin Yerusalem berterima kasih kepada Tahta Suci untuk pernyataan pada 30 November itu, dan mengucapkan selamat kepada rakyat Palestina dan presiden mereka, Mahmoud Abbas, yang disebutnya sebagai moderat dan "orang yang cinta damai."
***





1 Holy See welcomes UN recognition of Palestine, CNA (link).

2 WCC sees positive step in Palestine upgrade at the UN, Oikumene (link).

3 Coalition of the opposing: Why these 9 countries voted against Palestine at the U.N., The Washington Post (link). 

4 Holy See welcomes UN recognition of Palestine, CNA (link). 

5 Holy See welcomes UN recognition of Palestine, CNA (link).

Derita anak-anak di Timur Tengah: 20 meninggal, 200.000 terancam

Written By Ray Maleke on Selasa, 20 November 2012 | 12:07

Seorang anak korban serangan misil Israel di Palestina
(foto: AFP PHOTO/MAHMUD HAMS)
ISRAEL-PALESTINA, Yerusalem (20 November 2012).

Dua orang Palestina tewas dalam serangan udara terbaru Israel di Gaza tengah, Senin (19/11), sehingga jumlah korban meninggal dalam kekerasan enam hari melampaui angka 100.1

Menurut laporan Reuters anak-anak yang meninggal akibat konflik yang telah berlangsung sepekan ini paling kurang berjumlah 20.2

Di samping itu, Hasan Zeyada, seorang psikiatris, mengungkapkan bahwa anak-anak menderita trauma akibat kekerasan yang sedang terjadi – sehingga mengalami ngompol, mimpi buruk, kilas-balik, dan takut keluar.

Sementara itu, menurut kutipan berita BBC Indonesia, lembaga amal internasional, Save the Children, memperingatkan 200.000 anak-anak Suriah yang mengungsi menghadapi risiko yang serius pada musim dingin yang mulai tiba di kawasan Timur Tengah.

Save The Children mengatakan banyak pengungsi yang berada di tempat penampungan yang kondisinya buruk sementara pakaian mereka tidak cukup untuk menghadapi musim dingin.3

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan akan berangkat ke Kairo, Mesir untuk turut mengambil peran dalam upaya mewujudkan gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

"(Kekerasan) ini harus berhenti," kata Sekjen Ban Ki-moon dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Minggu larut malam (Senin pagi WIB).

"Saya sangat mendorong agar para pihak bekerja sama dengan upaya yang dijalin Mesir untuk mencapai gencatan senjata sesegera mungkin."4

Semoga saja Sekjen PBB dapat pula menengahi keinginan Uni Eropa untuk mempersenjatai pihak oposisi di Suriah. (MP)




1 Korban Tewas di Gaza Lampaui 100, Kompas (link).
2 Gaza children struggle to cope with life under fire, Reuters (link).
3 Kondisi Pengungsi Anak Suriah Memprihatinkan, Kompas (link).
4 Sekjen PBB serukan gencatan senjata Israel-Palestina, BBC Indonesia (link).

Uskup Yerusalem meratapi konflik kekerasan antara Israel dan Palestina: "Jangan menyerah pada kebencian"

Written By Menara Penjaga on Jumat, 16 November 2012 | 22:39

Asap membumbung dari Gaza setelah serangan udara oleh Israel pada 14 November 2012 (foto: lpj.com)
ISRAEL-PALESTINA, Yerusalem (CNA, 16 November 2012).

Seorang uskup dari Patriarkat Latin Yerusalem meratapi kekerasan yang telah menjadi "lingkaran setan" dalam aksi militer baru antara Israel dan Jalur Gaza.

Uskup William Shomali, Vikaris Patriarkat Latin Yerusalem, mengatakan kepada Radio Vatikan (15/11) bahwa saat ini sulit untuk mengetahui siapa yang memulai kekerasan "masing-masing mengutuk yang lain."

"Yang benar adalah bahwa banyak korban yang sedang berjatuhah. Banyak orang tak berdosa menjadi korban," lanjutnya. Ia mengungkapkan bahwa banyak orang di kedua pihak menghadapi kelaparan dan para siswa tidak dapat pergi ke sekolah.

"Hidup menjadi tidak mungkin di daerah itu," katanya.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan roket ke Israel dari gerilyawan Palestina di Gaza menyebabkan serangan udara balasan dari militer Israel. Pada 14 November, Israel melancarkan serangan yang menewaskan kepala militer Hamas Ahmed Jabari dan menghancurkan sejumlah peluncur roket.

Militan Palestina membalas dengan menembak lebih dari 200 roket di wilayah Tel Aviv, menewaskan setidaknya tiga orang. Serangan mencapai jauh ke dalam wilayah kota dibandingkan dengan yang sebelumnya, demikian dikatakan Associated Press.

Sedikitnya 15 warga Palestina telah tewas dalam dua hari dan hampir 200 lainnya terluka.

Konflik ini adalah pertempuran terberat dalam empat tahun terakhir dan dapat mendorong Israel untuk melakukan invasi darat ke Gaza. Uskup Shomali mendesak umat Kristen untuk berdoa bagi mereka yang menderita dan untuk mengupayakan bantuan kemanusiaan bagi para korban.

"Orang-orang ini tidak hanya membutuhkan doa kita. Mereka membutuhkan bantuan kita," katanya.

Patriarkat Latin Yerusalem sendiri menyatakan "keprihatinan yang mendalam" atas meningkatnya ketegangan antara Palestina dan Israel.

"Kekerasan tidak akan menyelesaikan apapun dalam sebuah krisis," dan menganjurkan suatu "solusi internasional."

Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 15 November itu Patriarkat Yerusalem menyatakan solidaritasnya dengan semua korban, dan bahwa mereka "menjadi fokus pikiran dan doa-doa."

Demikian juga agar mereka yang bertanggung jawab dalam konflik ini supaya "jangan menyerah pada kebencian."
[*]

Masalah air di Gereja Makam Suci Yerusalem: "Merusak kesucian dan menyakiti perasaan"

Written By Menara Penjaga on Rabu, 07 November 2012 | 07:34

Gereja Makam Suci Yerusalem
(foto: metronews.com)
ISRAEL-PALESTINA, Yerusalem (6 November 2012). 

Gereja Makam Suci di Yerusalem (The Church of the Holy Sepulchre), tempat yang diyakini merupakan lokasi di mana Kristus disalibkan, termasuk bagian di mana Ia dikuburkan dan bangkit pada hari ketiga, terancam ditutup bagi para peziarah, menyusul tagihan dari perusahaan air Israel, Haginon. 

Menurut laporan BBC (3/11/12), ketika solusi telah tercapai, rekening gereja telah dibekukan, mengakibatkan kesulitan dalam pembayaran terhadap sekitar 500 pendeta dan biarawan, serta 2.000 orang guru dan membiayai sekitar 30 sekolah.

Patriark Theophilos III menulis surat kepada perdana menteri Israel dan presiden memperingatkan bahwa "langkah yang tidak tepat ini merusak kesucian dan menyakiti perasaan."

Sebelumnya Gereja Makam Suci tidak dikenakan tagihan air, tetapi Haginon mengatakan tempat ibadah itu berhutang selama 15 tahun.

Menurut koran Israel Maariv, ada perjanjian yang tidak tertulis antara Patriarkat Gereja Ortodoks Yerusalem, Patriarkat Ortodoks Armenia, Gereja Roma Katolik Ordo Franciscan, yang bertanggung jawab dalam administrasi Gereja Makam Suci, dan seorang mantan walikota yang menyebutkan gereja dibebaskan dari tagihan air.

Tetapi pada 2004 lalu, Hagihon mengirimkan tagihan kepada gereja sebesar USD 950.000. Perusahaan itu mengambil alih pasokan air pada akhir 1990an, dan kini meminta tagihan yang telah membengkak menjadi sekitar USD 2,3 juta termasuk bunga, dan harus dilunasi.

Pembebasan pembayaran

Juru bicara Haginon, mengatakan perusahaan belum mengambil langkah lanjutan, seperti menghentikan pasokan air, karena tidak ingin menganggu aktivitas di tempat ibadah tersebut, tambah dia.

Bapa Isidoros Fakitsas, pemimpin Patriarkat Ortodoks Yunani di Gereja Makam Suci, mengatakan kepada Associated Press bahwa kesepakatan telah dicapai dengan Haginon beberapa pekan yang lalu.
Dalam kesepakatan itu, umat gereja akan membayar tagihan bulanan dan sisa utang akan dilupakan, kata dia.

Tetapi, kejutan lain muncul di mana rekening bank gereja telah diblokir. Bapa Fakitsas mengatakan Patriarkate tetap akan berjalan meski adanya pembekuan rekening bank, dan akan mencoba mencari alernatif lain untuk membiayai gereja meski itu sangat sulit.

Patriark Theophilos III mengatakan kepada Maariv:" Jika tidak ada yang berubah ... maka untuk pertama kalinya sepanjang peradaban, bahwa Gereja Makam Suci ditutup."

Dalam sebuah artikel yang diterbitkan kemarin The Christian Post melaporkan bahwa jurubicara Kementerian Luar Negeri Israel, Yigal Palmor meyakinkan bahwa untuk saat ini, air akan terus berjalan ke gereja, dan mengungkapkan bahwa pihak berwenang telah menginstruksikan Hagihon untuk segera menarik perintah untuk memblokir rekening bank gereja. (BBC/CT/MP)

Pawai homoseks di Yerusalem diprotes pemuda Yahudi

Written By Menara Penjaga on Selasa, 07 Agustus 2012 | 10:41

Protes berbagai elemen masyarakat termasuk pemuda
Yahudi terhadap pawai homoseks tahunan di Yerusalem.
Arak-arakan yang didominasi anak-anak muda mengiring tiga ekor keledai sebagai protes terhadap pawai homoseks yang kesepuluh di Yerusalem, kota suci umat Yahudi, Kristen, dan Islam. 

Menurut AFP beratus-ratus polisi dikerahkan untuk menjaga pawai yang berlangsung pada hari Kamis lalu itu (2/8), dan diperkirakan 3000 orang mengambil bagian di dalamnya.

Alasan mengapa dipilih Yerusalem sampai sejauh ini masih samar-samar. Komunitas agama di Yerusalem melihat bahwa Tel Aviv yang dinobatkan oleh sebuah maskapai penerbangan milik AS sebagai “kota yang paling ramah terhadap kaum homoseks di seluruh dunia” adalah tempat yang lebih tepat untuk penyelenggaraan pawai itu. 

“Yerusalem tidak bisa menanggung kenajisan dan kekejian,” ungkap Baruch Marzel salah seorang penentang pawai itu. “Apa yang dilakukan oleh aliran kiri dan sesat ini di Yerusalem membahayakan seluruh penduduk Yerusalem, merusak kesucian Yerusalem, dan sebuah bahaya terhadap keberadaan bangsa dan tanah Israel,” ungkapnya seperti dilansir Israel National News. 

Sementara itu, Lynn Schusterman, seorang donatur dari AS, mengatakan dalam pidato pembukaan pawai itu, "Kita harus bekerja sama untuk mengokohkan Yerusalem sebagai ibukota modern, terbuka dan mendorong terbentuknya masyarakat yang ramah dan inklusif di seluruh dunia Yahudi," demikian dilaporkan Times of Israel. 

Tahun 2005 sebuah aksi kekerasan terjadi sebagai reaksi penolakan terhadap pawai itu, menyebabkan tiga orang terluka. Namun seperti yang ungkapkan Michael Oren, dutabesar Israel untuk Amerika: “Ketika pemimpin-pemimpin agama – Yahudi, Kristen dan Islam – bersama-sama menuntut penghentian pawai Gay Pride tahunan di Yerusalem, negara memastikan bahwa itu terlaksana.”

Sebuah artikel yang dimuat majalah TIME diberi judul “Hatred (of Gays) unites Jerusalem's feuding faiths” (Kebencian [terhadap kaum homoseks] mempersatukan agama-agama yang bertikai di Yerusalem). Penolakan masyarakat terhadap indoktrinasi homoseksualisme terus dikategorisasikan oleh moncong liberalisme sebagai tindakan kebencian, prasangka dan sebagainya. Namun masalah ini harus disikapi secara dewasa, seumpama anggapan seorang anak yang melihat orangtuanya membencinya karena melarangnya bermain pisau. 


Berita terkait: Pawai homoseks di Hanoi, Vietnam

Pencitraan negatif terhadap penentang indoktrinisasi praktek homoseks (yang bukan berarti membenci para homoseks) mulai lebih sering muncul di media-media Asia. 

“Untuk sebuah dunia tanpa diskriminasi seks” adalah tema pawai homoseks di Hanoi, Vietnam, hari Minggu kemarin (5/8). Kemasannya selain dibuat dengan tujuan memikat simpati kaum muda untuk melihatnya sebagai trend, juga mengundang negara-negara Asia untuk bersikap "terbuka" terhadap agenda homoseksualis militan.  

Masyarakat yang ingin menjauh dari sikap “mendiskriminasi” akan digiring untuk mengambil posisi “mendukung” perilaku homoseks sebagai hal yang 'normal'.

“Seks” dalam tema pawai di Vietnam itu bukan lagi berarti jenis kelamin, yaitu perempuan atau laki-laki, melainkan perilaku seksual. Jadi “dunia tanpa diskriminasi seks” maksudnya adalah dunia di mana ekspresi seksual itu dapat memperoleh kebebasan yang sebebas-bebasnya. Jika ini terwujud, pikirkan nasib anak-anak yang terus menjadi korban kegilaan nafsu orang-orang yang melihat anak-anak sebagai objek seks.

Sebuah artikel di situs LifeSiteNews diberi judul “Sex, sex, sex, sex, sex” sebuah gambaran tentang bagaimana dunia, tak hanya di Barat, yang sedang dimabukkan dengan anggur percabulan, lewat iklan, seni, pertunjukan, komik, majalah, buku, VCD/DVD, yang dapat ditemukan sampai ke pelosok desa. Semua ini tidak hanya mengeksploitasi tapi juga membelokkan konsep seksualitas yang adalah anugerah Allah dalam kehidupan manusia untuk nikmat sebuah keluarga – secara ideal diposisikan sebagai tempat di mana anak-anak dilahirkan dan dibesarkan.

Tantangan bagi generasi saat ini dengan perkembangan teknologi yang ada semakin besar. Para ahli telah menunjukkan bahwa pornografi dapat mengurangi intelegensia anak-anak, dan mempengaruhi secara negatif cara pandang seseorang terhadap pemerkosaan, perempuan, dan perilaku seksual menyimpang. Revolusi seksual memang sudah diluncurkan, dan masyarakat mau dipersiapkan untuk menerimanya.

Para pemuda Kristen sebagai tulang punggung Gereja hendaknya bijaksana dalam menyikapi berbagai tawaran dunia saat ini. Memang berharap untuk sebuah dunia tanpa masalah, tantangan, dan godaan adalah sebuah utopianisme, dan justru karena itu, orang Kristen dipanggil bukan untuk keluar dari dunia, melainkan menjadi garam dan terang dunia. (MP)

Kotroversi 60 Menit: Apakah Israel akan kehilangan dukungan Amerika?

Written By Ray Maleke on Senin, 07 Mei 2012 | 04:10

Program 60 Minutes (60 Menit) dari CBS News yang dituntun oleh pembawa acara Bob Simon April 22 lalu menjadi bahan pembicaraan karena pemberitaannya yang dinilai menyudutkan pemerintah Israel. Tak kurang dari Michael Oren, Dutabesar Israel untuk Amerika, yang mencoba mengintervensi acara ini sebelum penayangannya, hal mana mengundang komentar menyindir dari Bob Simon bahwa belum pernah sebelumnya ada yang bereaksi terhadap suatu acara yang belum ditayangkan, demikian laporan Mediaite yang turut memuat profil video tersebut.

“Orang Kristen Palestina sudah dalam beberapa waktu lamanya berpindah dalam jumlah besar,” ungkap Bob Simon memulai laporannya mengenai orang Kristen di Tanah Suci. “Sekarang jumlah mereka tinggal kurang dari 2 persen, dan kemungkinan situs-situs suci – seperti Yerusalem dan Betlehem – menjadi tempat tanpa lagi orang Kristen semakin mendekati kenyataan.”

Bob Simon mengungkapkan bahwa, sekalipun mereka menyadari bagian dunia yang disebut “Tanah Suci” sangat diperdebatkan, ketika hendak meliput cerita ini tahun lalu “kami tidak menyadari bahwa halnya akan menjadi begitu kontroversial.”

Bob Simon mewawancarai seorang pemimpin Gereja Makam Suci (the Church of the Holy Sepulcher) di Kota Yerusalem. Beliau mengatakan bahwa hanya tinggal sedikit orang Kristen yang menetap di Kota Lama. Simon mengungkapkan kekuatiran dari para pemimpin lokal bahwa Yerusalem tak lama lagi akan menjadi “taman bertemakan rohani” dan sebuah “museum” di mana hanya turis Kristen yang datang berkunjung tetapi tidak ada lagi yang menetap.

Bob Simon melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang Kristen Palestina sedang ditekan hilang dari keberadaan mereka, tak bisa bersaing dengan mayoritas Muslim yang terus bertumbuh dan pemukiman masyarakat Israel di Tepi Barat.

Program 60 Menit menyoroti tembok Tepi Barat yang pada satu sisi telah mengurangi tindakan terorisme sampai 90 persen, tetapi pada sisi lain membuat Betlehem, yang merupakan bagian dari Palestina, seperti sebuah “penjara terbuka.”

60 Menit kemudian menampilkan Michael Oren, Dutabesar Israel untuk Amerika.

“Kami harus melindungi negara kami, tapi kadang kala Anda harus melakukan apa yang harus Anda lakukan untuk bertahan hidup,” ungkapnya. “Menurut saya masalah utama di Tepi Barat, seperti halnya di tempat-tempat lain di Timur Tengah, adalah bahwa penduduk Kristen hidup di bawah tekanan.”

“Dan bahwa tekanan itu datang dari pihak Muslim dan bukan pendudukan Israel,” tanya Simon. Oren mengiyakan.

Beberapa orang Palestina yang diwawancarai dalam 60 Menit mengatakan bahwa alasan itu hanya sebagai cara untuk mendapatkan dukungan rakyat Amerika dan adalah hal yang tidak benar.

Bob Simon memperkenalkan sebuah gereja Kristen yang terlibat dalam penolakan tanpa kekerasan terhadap pendudukan Israel dan upaya gereja ini didukung oleh 13 denominasi Kristen.

“Denominasi-denominasi [gereja-gereja] ini sangat kritis terhadap negara Israel, kadang kala melampaui titik kekritisan yang sah,” ungkap Oren. Ketika dimintakan untuk menjelaskan tuduhan itu, Oren mengatakan bahwa mereka dituduh dengan kejahatan yang secara historis berkaitan dengan sikap anti-Semit dan karena telah di luar batas pemerintah Israel tidak pernah secara resmi menanggapi.

Bob Simon menanyakan kepada warga Palestina apakah mereka melihat bahwa tindakan Israel yang memberi dampak negatif terhadap orang Kristen akan mematikan dukungan dari pendukung utamanya, Amerika. Mereka menyetujuinya, termasuk warga Israel sendiri demikian, sekalipun secara tersembunyi.

Bob Simon mengungkapkan bahwa Dutabesar Oren menghubungi editor berita CBS dan eksekutif produser program 60 Menit, Jeff Fager, ketika mereka sedang melaporkan liputannya dan mencoba menekan mereka supaya jangan menyiarkan bagian itu, dengan alasan bahwa ia yakin liputan itu adalah suatu upaya penyerangan.

Dalam kesempatan lain, Michael Oren, mengungkapkan bulan lalu (4/17) di Columbia Law School bahwa Israel adalah “sekutu utama” Amerika, yang memiliki nilai dan komitmen terhadap demokrasi yang sama. Ia menunjukkan ikatan spritual, persekutuan strategis, dan hubungan dagang antara kedua negara. Tak berhenti di situ, Oren juga mengumbar bahwa Israel adalah negara liberal yang mendukung hak-hak gay dan Tel Aviv baru-baru ini dipilih sebagai kota yang paling ramah terhadap kaum gay di seluruh dunia. Ia menulis “Ketika pemimpin-pemimpin agama – Yahudi, Kristen dan Islam – bersama-sama menuntut penghentian parade Gay Pride tahunan di Yerusalem, negara memastikan bahwa itu terlaksana.”***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger