"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Israel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Israel. Tampilkan semua postingan

Perundingan damai Israel-Palestina di Washington DC: Pendukung dan penentangnya (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 31 Juli 2013 | 21:33


Kota Yerusalem (foto: Marianne Medlin/CNA).
Palestina membatalkan perundingan setelah sebuah serangan Israel ke kamp pengungsi

TEMPO.CO, Tepi Barat  (27 Agustus 2013) - Juru runding Palestina membatalkan rencana pembicaraan perdamaian dengan Israel menyusul serangannya terhadap kamp pengungsi di daerah pendudukan Tepi Barat, Sabtu 24 Agustus 2013. Serangan pasukan Israel tersebut menyebabkan tiga warga Palestina tewas termasuk seorang pekerja PBB.

Perdana Meteri Palestina, Rami Hamdallah, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa 27 Agustus 2013, "Kejahatan semacam itu membuktikan bahwa perlunya perlindungan internasional terhadap rakyat kami."
Pasukan Israel acap kali menahan warga Palestina yang dituduh terlibat dalam gerakan teroris. Israel dan Otoritas Palestina baru-baru ini -melalui mediasi Amerika Serikat - melakukan pembicaraan setelah selama tiga tahun berhenti.

Kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sejak awal 2013. Dalam kurun waktu delapan bulan, pasukan Israel telah membunuh 14 rakyat Palestina di daerah pendudukan. Hampir seluruh korban pembunuhan itu tewas setelah bentrok dengan serdadu Israel. Bandingkan dengan periode yang sama pada 2012, tiga warga Palestina tewas dalam kasus serupa.

Menurut PBB, pria yang dibunuh tentara Israel itu berusia 34 tahun, ayah empat orang anak. Dia tewas ditembak di bagaian dada oleh Israel saat sedang menuju ke tempat kerjanya. PBB mengutuk insiden pembunuhan ini.
Juru bicara kepolisian Israel mengatakan kepada kantor berita AFP, sejumlah petugas menggeruduk daerah pendudukan di Tepi Barat guna menangkap "seseorang yang diduga teroris" ketika lebih dari 1.500 warga Palestina turun ke jalan dan menyerang mereka dengan lemparan bom molotov dan batu cadas.

"Pasukan Israel menggunakan peluru karet," ujar juru bicara. Tak begitu jelas, apakah tentara Israel dalam aksi penyerbuan itu menahan warga Palestina atau tidak.


-------
AMERIKA SERIKAT, Washington DC (MP) -- Ketua tim perunding Israel, Menteri Kehakiman Tzipi Livni, Selasa (30/7/2013), memuji suasana positif dalam pembicaraan damai dengan Palestina di Washington DC. 

Ini adalah perundingan pertama setelah tiga tahun terhenti oleh sebab pendudukan Israel di Tepi Barat yang dilihat sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

"Atmosfir pembicaraan sangat positif," kata Menkeh Livni kepada Radio Israel, Selasa (30/7/2013), setelah jamuan makan malam dengan juru runding Palestina Saeb Erakat yang digelar Menteri luar negeri AS, John Kerry.

"Semua isu sudah di atas meja, namun kami memutuskan semua akan ditentukan di dalam ruang negosiasi dan tidak akan bocor keluar," ungkap Menkeh Livni.

Menkeh Livni menambahkan, pembicaraan damai ini dilanjutkan bukan sebagai respon atas desakan AS namun juga merupakan kepentingan kedua negara. (kompas.com)

Hari Rabu (31/7/2013) juru runding Erakat menyampaikan terima kasih kepada pemerintah AS atas “upaya mereka yang tidak kenal lelah” dan mengatakan tidak seorang pun yang memperoleh manfaat lebih besar dari suksesnya perundingan selain rakyat Palestina.

“Saya gembira bahwa semua isu-isu status akhir di bahas di meja perundingan dan akan diselesaikan tanpa kecuali. Sudah waktunya bagi rakyat Palestina memiliki negara mereka sendiri yang merdeka dan berdaulat,” ujarnya. (kompas.com)

Pertemuan akan kembali diadakan dalam dua minggu.


Pihak-pihak yang tidak mendukung
  
Seperti yang diberitakan Reuters, selama setidaknya dua dekade terakhir, negosiasi di konferensi tingkat tinggi gagal menyelesaikan konflik Israel-Palestina dan pertemuan-pertemuan lain hanya meninggalkan draf perdamaian yang akhirnya tak terpakai. (lih. kompas.com)

Dengan latar belakang yang kurang mendukung tersebut, tampak pula ada pihak yang tidak menyukai perundingan saat ini. 

Salah satu faksi terbesar Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yaitu Front Rakyat Untuk Kemerdekaan Palestina, Senin (29/7/2013), telah menyuarakan penolakan terhadap perundingan damai tersebut.

"Kami pergi ke PBB untuk melepaskan diri kami dari AS," ungkap Khaleda Jarar, salah satu pemimpinnya. Ia merujuk kesuksesan Palestina mendapatkan kenaikan status di PBB. (kompas.com)

Hamas, yang mengusai wilayah Palestina di Gaza, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka "menolak Otoritas Palestina kembali ke pembicaraan damai dengan pemerintah pendudukan Israel".

Dipihak lain, Menkeh Livni mengungkapkan, "Ada beberapa menteri Israel yang tak sepakat dengan negosiasi ini."

Para menteri garis keras secara terbuka menentang pembentukan negara Palestina dan bersumpah akan terus membangun permukiman Yahudi di tanah pendudukan. (kompas.com)

Menlu AS John Kerry (tengah) bersama perunding Israel
Tzipi Livni (kanan) dan perunding Palestina Saeb Erakat
di Washington (30/7) (foto: Reuters via Kompas).


Pujian untuk itikad baik

Namun, itikad dari pemimpin kedua belah pihak mendapat pujian dari Menlu Kerry. Ia menegaskan pujiannya untuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. 

Dalam pernyataannya hari Minggu kemarin ia mengatakan, "Kedua pemimpin itu telah menunjukkan kesediaan untuk membuat keputusan sulit yang telah berperan dalam mencapai titik ini. Kami berterima kasih atas kepemimpinan mereka." 

Pihak pemerintah Israel telah mengambil langkah untuk membebaskan 104 tahanan pejuang Palestina.

"Ini saat yang tidak mudah bagi saya. Ini hal yang tidak mudah bagi para menteri," kata PM Netanyahu. "Hal ini tidak mudah terutama bagi sejumlah keluarga, keluarga-keluarga yang berduka, yang suasana hatinya saya pahami. Namun, ada saat-saat di mana keputusan-keputusan sulit harus dibuat demi kebaikan negeri ini, dan ini adalah salah satu dari momen itu."

Langkah tersebut lolos dengan raihan suara 14 berbanding 6. Dua suara lain abstain. (kompas.com)

Salah satu menteri Israel garis keras adalah Naftali Bennett.

Menteri Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja Israel yang juga Pemimpin Partai Rumah Yahudi ini dilaporkan mengeluarkan pernyataan insensitif Minggu kemarin.

"Jika Anda menangkap teroris, anda cukup membunuh mereka," katanya, menurut sebuah laporan edisi cetak harian Yedioth Ahronoth berbahasa Ibrani.


Dukungan umat beragama

Sementara itu, CNA melaporkan bahwa sejumlah pemimpin lintas agama di AS telah mengirimkan sebuah pernyataan berisi dukungan terhadap perundingan damai ini kepada Menlu Kerry.

Pernyataan yang ditanda-tangani oleh sejumlah pemimpin Yahudi, Muslim dan Kristen ini, selain memberikan penghargaan juga mengungkapkan doa mereka bagi upaya menghadirkan perdamaian yang diakui merupakan hal yang tak mudah. 

“Kami tahu bahwa jalan menuju perdamaian adalah rumit dan penuh tantangan, tapi perdamaian adalah hal yang mungkin.” (+)

Derita anak-anak di Timur Tengah: 20 meninggal, 200.000 terancam

Written By Ray Maleke on Selasa, 20 November 2012 | 12:07

Seorang anak korban serangan misil Israel di Palestina
(foto: AFP PHOTO/MAHMUD HAMS)
ISRAEL-PALESTINA, Yerusalem (20 November 2012).

Dua orang Palestina tewas dalam serangan udara terbaru Israel di Gaza tengah, Senin (19/11), sehingga jumlah korban meninggal dalam kekerasan enam hari melampaui angka 100.1

Menurut laporan Reuters anak-anak yang meninggal akibat konflik yang telah berlangsung sepekan ini paling kurang berjumlah 20.2

Di samping itu, Hasan Zeyada, seorang psikiatris, mengungkapkan bahwa anak-anak menderita trauma akibat kekerasan yang sedang terjadi – sehingga mengalami ngompol, mimpi buruk, kilas-balik, dan takut keluar.

Sementara itu, menurut kutipan berita BBC Indonesia, lembaga amal internasional, Save the Children, memperingatkan 200.000 anak-anak Suriah yang mengungsi menghadapi risiko yang serius pada musim dingin yang mulai tiba di kawasan Timur Tengah.

Save The Children mengatakan banyak pengungsi yang berada di tempat penampungan yang kondisinya buruk sementara pakaian mereka tidak cukup untuk menghadapi musim dingin.3

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengatakan akan berangkat ke Kairo, Mesir untuk turut mengambil peran dalam upaya mewujudkan gencatan senjata antara Israel dan Palestina.

"(Kekerasan) ini harus berhenti," kata Sekjen Ban Ki-moon dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Minggu larut malam (Senin pagi WIB).

"Saya sangat mendorong agar para pihak bekerja sama dengan upaya yang dijalin Mesir untuk mencapai gencatan senjata sesegera mungkin."4

Semoga saja Sekjen PBB dapat pula menengahi keinginan Uni Eropa untuk mempersenjatai pihak oposisi di Suriah. (MP)




1 Korban Tewas di Gaza Lampaui 100, Kompas (link).
2 Gaza children struggle to cope with life under fire, Reuters (link).
3 Kondisi Pengungsi Anak Suriah Memprihatinkan, Kompas (link).
4 Sekjen PBB serukan gencatan senjata Israel-Palestina, BBC Indonesia (link).

Para rabi Yahudi menolak pendirian negara zionis Israel

Written By Menara Penjaga on Jumat, 28 September 2012 | 04:26

"Negara 'Israel' tidak mewakili umat Yahudi di dunia"
ungkap salah satu poster yang ditunjukkan oleh sekelompok
rabi di kantor pusat PBB New York, AS (foto: detikNews)
AMERIKA SERIKAT, New York (detikNews).
 
Rabi Yisroel Dovid Weiss bersama puluhan rekannya beraksi di depan kantor pusat PBB di New York, AS. Dalam unjuk rasa itu mereka menolak pendirian negara zionis Israel.
 
"Tidak ada perintah dalam kitab untuk mendirikan negara," kata Rabi Yisroel yang pernah berkunjung ke Jakarta ini kepada detikcom, Kamis (27/9/2012).

Yisroel dan rekan-rekannya merupakan komunitas Yahudi di New York. Aksinya ini dilakukan guna menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Yahudi bukan hanya Israel saja.

"Ini agar dunia mengerti. Apa yang disampaikan Netanyahu (PM Israel) adalah pembajakan atas nama orang Yahudi," terang dia.

Bersama rekan-rekannya dengan pakaian khas, mereka meneriakan kata-kata penolakan atas zionisme. Mereka pun meminta agar bangsa Palestina diberi kemerdekaan.

"Kami ingin membangun persaudaraan dengan kaum Muslim. Dan harus diingat, gerakan zionis Israel bukan sebuah ajaran religius," kata Rabi yang mempunyai ribuan pendukung di New York ini.

Aksi para Rabi Yahudi ini kebetulan bertepatan dengan pidato Netanyahu di sidang umum PBB. Netanyahu sejak awal menolak negara Palestina. Dia juga mendorong permusuhan dengan Iran.
 
Baca seterusnya di sini.
 
Mengenai gerakan Yahudi anti Zionisme dapat di lihat di sini.

Presiden Iran: “Israel boneka negara-negara Barat”

Written By Menara Penjaga on Minggu, 19 Agustus 2012 | 00:43

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad
(foto: wikipedia)

IRAN, Teheran.
Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, dalam pidatonya hari Jumat (17/08), menyebut Israel sebagai “boneka negara-negara Barat untuk menguasai Timur Tengah,” demikian dilaporkan kantor berita AFP.

Ia juga menyebut keberadaan rezim Zionist sebegai “penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.”

Sekjen PBB Ban Ki-moon mengecam isi pidato Presiden Iran yang dianggapnya menghasut dan menyerang pihak lain.

Iran selama beberapa puluh tahun terakhir ini terlibat ketegangan dengan Israel, termasuk pendukung utamanya, Amerika.

Israel dan pendukungnya melihat bahwa program misil dan nuklir Iran mengancam kepentingannya di Timur Tengah. Iran telah menyangkal tuduhan bahwa program pengayaan nuklirnya adalah untuk senjata, melainkan untuk tenaga listrik dan radioisotop untuk mengobati penyakit kanker, demikian dilaporkan AP.

Israel dan Amerika sedang mempertimbangkan opsi untuk menyerang fasilitas-fasilitas nuklir Iran. Sebuah langkah yang ditentang Rusia dan negara-negara lainnya.

Iran berjanji untuk membalas apabila Israel melakukan serangan, termasuk menjadikan kepentingan-kepentingan Amerika di wilayah itu sebagai target. 

Warga Israel menolak perang

Sementara itu diberitakan sekitar 400 warga Israel menandatangani petisi online berisi permintaan kepada pilot-pilot Angkatan Udara Israel untuk membangkang jika diperintah mengebom Iran, demikian laporan BBC.

Petisi tersebut meminta para pilot menggunakan akal sehat dalam menghadapi apa yang mereka sebut rencana untung-untungan yang keliru.

Dokumen ini menyebutkan, "Saat ini nasib kami ada di tangan Anda."

Petisi ini dikeluarkan ketika spekulasi serangan Israel terhadap fasilitas-fasilitas nuklir Iran makin kencang. (BBC/AP)

Pawai homoseks di Yerusalem diprotes pemuda Yahudi

Written By Menara Penjaga on Selasa, 07 Agustus 2012 | 10:41

Protes berbagai elemen masyarakat termasuk pemuda
Yahudi terhadap pawai homoseks tahunan di Yerusalem.
Arak-arakan yang didominasi anak-anak muda mengiring tiga ekor keledai sebagai protes terhadap pawai homoseks yang kesepuluh di Yerusalem, kota suci umat Yahudi, Kristen, dan Islam. 

Menurut AFP beratus-ratus polisi dikerahkan untuk menjaga pawai yang berlangsung pada hari Kamis lalu itu (2/8), dan diperkirakan 3000 orang mengambil bagian di dalamnya.

Alasan mengapa dipilih Yerusalem sampai sejauh ini masih samar-samar. Komunitas agama di Yerusalem melihat bahwa Tel Aviv yang dinobatkan oleh sebuah maskapai penerbangan milik AS sebagai “kota yang paling ramah terhadap kaum homoseks di seluruh dunia” adalah tempat yang lebih tepat untuk penyelenggaraan pawai itu. 

“Yerusalem tidak bisa menanggung kenajisan dan kekejian,” ungkap Baruch Marzel salah seorang penentang pawai itu. “Apa yang dilakukan oleh aliran kiri dan sesat ini di Yerusalem membahayakan seluruh penduduk Yerusalem, merusak kesucian Yerusalem, dan sebuah bahaya terhadap keberadaan bangsa dan tanah Israel,” ungkapnya seperti dilansir Israel National News. 

Sementara itu, Lynn Schusterman, seorang donatur dari AS, mengatakan dalam pidato pembukaan pawai itu, "Kita harus bekerja sama untuk mengokohkan Yerusalem sebagai ibukota modern, terbuka dan mendorong terbentuknya masyarakat yang ramah dan inklusif di seluruh dunia Yahudi," demikian dilaporkan Times of Israel. 

Tahun 2005 sebuah aksi kekerasan terjadi sebagai reaksi penolakan terhadap pawai itu, menyebabkan tiga orang terluka. Namun seperti yang ungkapkan Michael Oren, dutabesar Israel untuk Amerika: “Ketika pemimpin-pemimpin agama – Yahudi, Kristen dan Islam – bersama-sama menuntut penghentian pawai Gay Pride tahunan di Yerusalem, negara memastikan bahwa itu terlaksana.”

Sebuah artikel yang dimuat majalah TIME diberi judul “Hatred (of Gays) unites Jerusalem's feuding faiths” (Kebencian [terhadap kaum homoseks] mempersatukan agama-agama yang bertikai di Yerusalem). Penolakan masyarakat terhadap indoktrinasi homoseksualisme terus dikategorisasikan oleh moncong liberalisme sebagai tindakan kebencian, prasangka dan sebagainya. Namun masalah ini harus disikapi secara dewasa, seumpama anggapan seorang anak yang melihat orangtuanya membencinya karena melarangnya bermain pisau. 


Berita terkait: Pawai homoseks di Hanoi, Vietnam

Pencitraan negatif terhadap penentang indoktrinisasi praktek homoseks (yang bukan berarti membenci para homoseks) mulai lebih sering muncul di media-media Asia. 

“Untuk sebuah dunia tanpa diskriminasi seks” adalah tema pawai homoseks di Hanoi, Vietnam, hari Minggu kemarin (5/8). Kemasannya selain dibuat dengan tujuan memikat simpati kaum muda untuk melihatnya sebagai trend, juga mengundang negara-negara Asia untuk bersikap "terbuka" terhadap agenda homoseksualis militan.  

Masyarakat yang ingin menjauh dari sikap “mendiskriminasi” akan digiring untuk mengambil posisi “mendukung” perilaku homoseks sebagai hal yang 'normal'.

“Seks” dalam tema pawai di Vietnam itu bukan lagi berarti jenis kelamin, yaitu perempuan atau laki-laki, melainkan perilaku seksual. Jadi “dunia tanpa diskriminasi seks” maksudnya adalah dunia di mana ekspresi seksual itu dapat memperoleh kebebasan yang sebebas-bebasnya. Jika ini terwujud, pikirkan nasib anak-anak yang terus menjadi korban kegilaan nafsu orang-orang yang melihat anak-anak sebagai objek seks.

Sebuah artikel di situs LifeSiteNews diberi judul “Sex, sex, sex, sex, sex” sebuah gambaran tentang bagaimana dunia, tak hanya di Barat, yang sedang dimabukkan dengan anggur percabulan, lewat iklan, seni, pertunjukan, komik, majalah, buku, VCD/DVD, yang dapat ditemukan sampai ke pelosok desa. Semua ini tidak hanya mengeksploitasi tapi juga membelokkan konsep seksualitas yang adalah anugerah Allah dalam kehidupan manusia untuk nikmat sebuah keluarga – secara ideal diposisikan sebagai tempat di mana anak-anak dilahirkan dan dibesarkan.

Tantangan bagi generasi saat ini dengan perkembangan teknologi yang ada semakin besar. Para ahli telah menunjukkan bahwa pornografi dapat mengurangi intelegensia anak-anak, dan mempengaruhi secara negatif cara pandang seseorang terhadap pemerkosaan, perempuan, dan perilaku seksual menyimpang. Revolusi seksual memang sudah diluncurkan, dan masyarakat mau dipersiapkan untuk menerimanya.

Para pemuda Kristen sebagai tulang punggung Gereja hendaknya bijaksana dalam menyikapi berbagai tawaran dunia saat ini. Memang berharap untuk sebuah dunia tanpa masalah, tantangan, dan godaan adalah sebuah utopianisme, dan justru karena itu, orang Kristen dipanggil bukan untuk keluar dari dunia, melainkan menjadi garam dan terang dunia. (MP)

Dunia dalam berita: Bulgaria, Suriah, Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 20 Juli 2012 | 01:25

Evakuasi korban luka-luka (foto:AP)
BULGARIA -- Sebuah bom bunuh diri terjadi di Bulgaria, menyebabkan lima (5) warga Israel, supir berkewarganegaraan Bulgaria, dan pelaku bom tewas. Belum ada yang menyatakan bertanggung-jawab atas serangan itu, tetapi pemerintah Israel menuduh Iran sebagai otak dibelakang serangan terhadap warga negaranya. Pemerintah Iran menolak tuduhan keterlibatan mereka dalam serangan Rabu itu, sambil mengklaim bahwa Mossad, intelijen Israel, bertanggung jawab atas pembunuhan para ilmuwan Iran yang membidangi nuklir sejak tahun 2010 lalu, termasuk serangan virus komputer. Ketegangan ini semakin meningkatkan bayang-bayang perang antara dua negara yang dapat memicu kondisi yang tak terbayangkan sebelumnya, tidak hanya bagi kedua negara tapi juga bagi dunia.

SURIAH -- Mengikuti situasi di Suriah yang semakin memprihatinkan, Rusia dan Cina mem-veto resolusi PBB yang didukung oleh negara-negara Barat untuk mengakhiri pemerintahan Presiden Bashar as-Assad. Jumlah suara 11-2, dengan dua abstain, Afrika Selatan dan Pakistan. Dutabesar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, mengatakan, “Kami tidak bisa menerima dokumen pada bab 7 yang akan membuka jalan untuk sanksi menekan dan lebih jauh lagi keterlibatan militer dari luar dalam urusan domestik Suriah,” seperti dikutip AP. Sikap kedua negara adidaya ini kemungkinan mendasari keputusannya dengan melihat pengalaman Libya.

INDONESIA -- Sementara itu, dari Indonesia, dua orang siswi SMA Teuku Nyak Arief Fatih Bilingual School Banda Aceh, Rizka Nadia dan Syarifah Fazrina, berhasil menyisihkan peserta dari 52 negara, saat mengikuti Genius Olympiad di New York, Amerika Serikat, 24-30 Juni 2012. Penemuan mereka dapat membuat polusi berkurang secara signifikan. Racikan gulma yang disebut kiambang, ragi, dan air bersih buatan mereka ternyata bisa menggantikan fungsi premium (bensin). Namun berkurangnya polusi takkan berarti apa-apa jika sesama manusia masih saling melihat satu dengan yang lain sebagai musuh dan ancaman. (AP/SerambiIndonesia/MP)





Kotroversi 60 Menit: Apakah Israel akan kehilangan dukungan Amerika?

Written By Ray Maleke on Senin, 07 Mei 2012 | 04:10

Program 60 Minutes (60 Menit) dari CBS News yang dituntun oleh pembawa acara Bob Simon April 22 lalu menjadi bahan pembicaraan karena pemberitaannya yang dinilai menyudutkan pemerintah Israel. Tak kurang dari Michael Oren, Dutabesar Israel untuk Amerika, yang mencoba mengintervensi acara ini sebelum penayangannya, hal mana mengundang komentar menyindir dari Bob Simon bahwa belum pernah sebelumnya ada yang bereaksi terhadap suatu acara yang belum ditayangkan, demikian laporan Mediaite yang turut memuat profil video tersebut.

“Orang Kristen Palestina sudah dalam beberapa waktu lamanya berpindah dalam jumlah besar,” ungkap Bob Simon memulai laporannya mengenai orang Kristen di Tanah Suci. “Sekarang jumlah mereka tinggal kurang dari 2 persen, dan kemungkinan situs-situs suci – seperti Yerusalem dan Betlehem – menjadi tempat tanpa lagi orang Kristen semakin mendekati kenyataan.”

Bob Simon mengungkapkan bahwa, sekalipun mereka menyadari bagian dunia yang disebut “Tanah Suci” sangat diperdebatkan, ketika hendak meliput cerita ini tahun lalu “kami tidak menyadari bahwa halnya akan menjadi begitu kontroversial.”

Bob Simon mewawancarai seorang pemimpin Gereja Makam Suci (the Church of the Holy Sepulcher) di Kota Yerusalem. Beliau mengatakan bahwa hanya tinggal sedikit orang Kristen yang menetap di Kota Lama. Simon mengungkapkan kekuatiran dari para pemimpin lokal bahwa Yerusalem tak lama lagi akan menjadi “taman bertemakan rohani” dan sebuah “museum” di mana hanya turis Kristen yang datang berkunjung tetapi tidak ada lagi yang menetap.

Bob Simon melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang Kristen Palestina sedang ditekan hilang dari keberadaan mereka, tak bisa bersaing dengan mayoritas Muslim yang terus bertumbuh dan pemukiman masyarakat Israel di Tepi Barat.

Program 60 Menit menyoroti tembok Tepi Barat yang pada satu sisi telah mengurangi tindakan terorisme sampai 90 persen, tetapi pada sisi lain membuat Betlehem, yang merupakan bagian dari Palestina, seperti sebuah “penjara terbuka.”

60 Menit kemudian menampilkan Michael Oren, Dutabesar Israel untuk Amerika.

“Kami harus melindungi negara kami, tapi kadang kala Anda harus melakukan apa yang harus Anda lakukan untuk bertahan hidup,” ungkapnya. “Menurut saya masalah utama di Tepi Barat, seperti halnya di tempat-tempat lain di Timur Tengah, adalah bahwa penduduk Kristen hidup di bawah tekanan.”

“Dan bahwa tekanan itu datang dari pihak Muslim dan bukan pendudukan Israel,” tanya Simon. Oren mengiyakan.

Beberapa orang Palestina yang diwawancarai dalam 60 Menit mengatakan bahwa alasan itu hanya sebagai cara untuk mendapatkan dukungan rakyat Amerika dan adalah hal yang tidak benar.

Bob Simon memperkenalkan sebuah gereja Kristen yang terlibat dalam penolakan tanpa kekerasan terhadap pendudukan Israel dan upaya gereja ini didukung oleh 13 denominasi Kristen.

“Denominasi-denominasi [gereja-gereja] ini sangat kritis terhadap negara Israel, kadang kala melampaui titik kekritisan yang sah,” ungkap Oren. Ketika dimintakan untuk menjelaskan tuduhan itu, Oren mengatakan bahwa mereka dituduh dengan kejahatan yang secara historis berkaitan dengan sikap anti-Semit dan karena telah di luar batas pemerintah Israel tidak pernah secara resmi menanggapi.

Bob Simon menanyakan kepada warga Palestina apakah mereka melihat bahwa tindakan Israel yang memberi dampak negatif terhadap orang Kristen akan mematikan dukungan dari pendukung utamanya, Amerika. Mereka menyetujuinya, termasuk warga Israel sendiri demikian, sekalipun secara tersembunyi.

Bob Simon mengungkapkan bahwa Dutabesar Oren menghubungi editor berita CBS dan eksekutif produser program 60 Menit, Jeff Fager, ketika mereka sedang melaporkan liputannya dan mencoba menekan mereka supaya jangan menyiarkan bagian itu, dengan alasan bahwa ia yakin liputan itu adalah suatu upaya penyerangan.

Dalam kesempatan lain, Michael Oren, mengungkapkan bulan lalu (4/17) di Columbia Law School bahwa Israel adalah “sekutu utama” Amerika, yang memiliki nilai dan komitmen terhadap demokrasi yang sama. Ia menunjukkan ikatan spritual, persekutuan strategis, dan hubungan dagang antara kedua negara. Tak berhenti di situ, Oren juga mengumbar bahwa Israel adalah negara liberal yang mendukung hak-hak gay dan Tel Aviv baru-baru ini dipilih sebagai kota yang paling ramah terhadap kaum gay di seluruh dunia. Ia menulis “Ketika pemimpin-pemimpin agama – Yahudi, Kristen dan Islam – bersama-sama menuntut penghentian parade Gay Pride tahunan di Yerusalem, negara memastikan bahwa itu terlaksana.”***

Pendeta dari Yerusalem: Orang Kristen perlu belajar Alkitab untuk terlibat dalam proses perdamaian di Timur Tengah

Written By Ray Maleke on Kamis, 03 Mei 2012 | 23:27

Pdt. Steven Khoury, pria berlatar-belakang Israel-Arab yang melayani di wilayah Palestina mengungkapkan bahwa supaya orang Kristen dapat terlibat dalam proses perdamaian di Timur Tengah mereka perlu “belajar Alkitab” dan apa yang dikatakan di dalamnya mengenai pelayanan Yesus, demikian dilaporkan oleh The Christian Post.

Pdt. Steven Khoury (foto: ahavisrael)
Pdt. Khoury yang lahir di Yerusalem saat ini merupakan wakil presiden dari organisasi Holy Land Missions (Misi di Tanah Suci) dan juga merupakan penulis Diplomatic Christianity. Ia menjadi pembicara dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh Family Research Council (FRC) untuk menyoroti kesukaran yang dialami oleh masyarakat Kristen Palestina.

“Mereka perlu mempelajari Alkitab. Kembali mempelajari akar iman, yaitu dengan mempelajari Alkitab," ungkap Pdt. Khoury kepada The Christian Post.

“Saya pikir penting untuk menyebarkan pesan yang dibagikan Kristus dan pesan itu adalah kasih, pengampunan, dan penerimaan.”

Pdt. Khoury juga mengatakan bahwa ia merasa orang Kristen seharusnya lebih fokus pada pesan-pesan positif dalam melakukan penginjilan termasuk dalam menyikapi hal-hal yang bersifat kontroversial.

“Saya merasa risih ketika orang Kristen mengambil sikap anti ini atau itu. Saya bisa tidak sependapat dengan Anda, tapi itu tidak harus berarti saya ini anti-Anda,” ungkapnya.

Pernyataannya disampaikan pada sebuah iven bertemakan “Sudut Pandang seorang Pendeta berlatar-belakang Israel-Arab terhadap Penganiayaan dan Pelayanan di Tanah Suci.”

“Membagikan berita Injil di bagian dunia ini menuntut harga yang sangat besar,” ungkap Tony Perkins, president dari FRC, menanggapi keberadaan gereja yang dilayani oleh Pdt. Khoury dan ayahnya di Yerusalem dan Betlehem.

“[Pdt. Khoury] telah menyaksikan anggota jemaat diserang, mengalami diskriminasi, kehilangan sumber penghidupan, semuanya demi Injil Yesus Kristus. Beberapa orang percaya yang bernaung di bawah pelayanannya telah menjadi martir, termasuk pamannya sendiri.”

Pdt. Khoury memberikan gambaran dari pengalamannya sendiri tentang penganiayaan yang terjadi. Tumbuh besar di wilayah yang dihuni oleh warga Muslim yang di dalamnya terdapat penganut garis keras, ia mengungkapkan adalah hal yang biasa melihat ibadah gereja terhenti oleh seseorang yang membawa batu atau bom molotov. Ia mengingat ruang ibadah dijejeri dengan air sebagai persiapan kalau terjadi serangan.

Masalah lain kadang datang ketika berurusan dengan pejabat pemerintahan dari PLO (Organisasi Pembebasan Palestina), yang seringkali menganggap dokumen gereja yang dimiliki olehnya dan ayahnya tidak berlaku, sehingga membuat pelayanannya sulit. Baik ia dan ayahnya telah mengalami dipukuli oleh sekelompok orang yang menentang usaha penginjilan mereka.

Acara di mana Pdt. Khoury diundang sebagai pembicara dilaksanakan tidak lama sesudah program televesi CBS berjudul “60 menit” disiarkan, dalam mana Bob Simon berpendapat bahwa pendudukan Israel dan kebijakannya telah memaksa orang Kristen keluar dari Tanah Suci. Hal ini mendapat reaksi keras dari Jewish Federation of North America dan Christian United for Israel.

Pada sesi tanya-jawab dalam even ini, seorang Muslim Sunni dari Jalur Gaza hadir dan bertanya tentang apa tanggapannya mengenai Zahi Khouri, yang ketika diwawancarai dalam program “60 menit” itu mengatakan bahwa tidak ada penganiayaan orang Kristen dilakukan oleh kelompok Palestina.

“Saya tidak bisa bicara atas nama [Zahi Khouri]. Yang bisa saya katakan adalah berdasarkan pengalaman saya sendiri,” katanya menanggapi. “Saya telah mengalami penganiayaan, tapi saya juga telah mengalami kasih baik dari kalangan Muslim maupun orang Yahudi.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger