"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Timur Tengah. Tampilkan semua postingan

Setelah upaya “reformasi” yang membawa bencana gereja-gereja Suriah membantu umat Muslim

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 16 November 2013 | 10:01

SURIAH, Damaskus (MP) --- Berawal dari aksi protes pada Maret 2011, Suriah masuk ke dalam perang saudara yang telah merenggut lebih dari 100.000 jiwa. Sedikitnya 6000 di antaranya adalah anak-anak.

Situs berita CBN mengutip laporan PBB bahwa lebih dari sembilan juta orang Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan. Masyarakat Suriah yang tadinya makmur sekarang hidup dalam keputus-asaan, demikian judul laporan itu.

Ketua Badan Bantuan Kemanusiaan PBB Valerie Amos menjelaskan bahwa sebelum konflik terjadi masyarakat Suriah “memiliki pekerjaan, tinggal di apartemen, rumah-rumah, mereka mengirim anak-anak mereka ke sekolah ke toko kebutuhan sehari-hari, punya kendaraan, dst.”

“Sekarang ekonomi runtuh banyak orang yang harus melarikan diri seringkali pada tengah malam tanpa membawa apa-apa. Jadi benar-benar ada rasa keputus-asaan,” jelasnya.


Gas dan minyak bumi

Aksi protes terhadap pemerintahan Presiden Bashar-al-Assad tiba-tiba menjadi sebuah revolusi bersenjata yang didukung oleh sejumlah negara asing. Sejumlah “organisasi teroris” yang turut berjuang untuk mengganti pemerintahan, termasuk menyerang komunitas-komunitas Kristen, dipersenjatai secara terang-terangan.

Tapi buruk keadaan di Suriah saat ini masih akan lebih menyedihkan kalau upaya intervensi militer Amerika Serikat (AS) waktu lalu terealisasi.

Mundurnya AS dari rencana yang mendapat kecaman dari seluruh penjuru dunia itu membuat kesal Arab Saudi yang sangat ingin melihat pergantian rezim di Damaskus.

WND mensinyalir konflik Suriah menyangkut gas dan minyak bumi.


Lilin yang menyala

Sampai sekarang rakyat Suriah masih harus bertahan di antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak.

Dan gereja-gereja di Suriah telah membulatkan tekad untuk menjadi lilin yang menyala di tengah-tengah kegelapan; membawa harapan di tengah keputus-asaan lewat aksi kemanusiaan.

Situs berita AsiaNews melaporkan di Aleppo Gereja Katolik dan jemaat-jemaat menawarkan bantuan kepada ribuan orang yang tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal. Anak-anak diberikan beasiswa untuk ke sekolah. Di Damaskus para pekerja gereja dan umat membawa makanan dan kebutuhan pokok lainnya dari rumah ke rumah.

“Lewat pekerjaan amal, Gereja Katolik berupaya untuk mendapatkan kembali rasa kasih dan persaudaraan antara Kristen dan Muslim yang telah dihancurkan oleh perang,” ungkap Uskup Agung Jeanbart dari gereja Melkit di Aleppo.

Menurut penjelasannya keluarga-keluarga Kristen saat ini adalah yang paling membutuhkan bantuan, karena mereka mendapat bantuan yang sangat sedikit dari pemerintah dibandingkan keluarga-keluarga Muslim. Namun demikian, “gereja berupaya membantu semua orang,” ungkapnya. “Sebanyak 35 keluarga Muslim menemukan tempat mengungsi di keuskupan.”

Ia prihatin dengan banyaknya orang yang meninggalkan Suriah dan kemungkinan takkan kembali lagi. Beasiswa bagi anak-anak dan remaja, termasuk makanan dan pemeriksaan kesehatan yang disediakan oleh gereja-gereja dan organisasi lainnya diharapkan dapat membuat orang-orang tinggal.

“Kami para imam memberi semangat kepada orang-orang untuk bertahan, bersabar dan berpengharapan untuk masa depan. Kami mendorong orang-orang untuk pertama-tama memiliki iman dalam Allah dan memikirkan bahwa besok bisa merupakan hari yang baru,” ungkapnya. [+]


------
Once Prosperous Syrians Now Living in Desperation (6 Nov. '13)
http://www.cbn.com/cbnnews/world/2013/November/Once-Prosperous-Syrians-Now-Living-in-Desperation/



"Little flowers" of solidarity blossoming in the desert of Syria's War (14 Nov. '13)
http://www.asianews.it/news-en/Little-flowers-of-solidarity-blossoming-in-the-desert-of-Syria's-War-29547.html

Is this what Syria war really about? 
(7 Sep. '13)
http://www.wnd.com/2013/09/is-this-what-syria-war-really-about/


Foto: Asianews

Revisi 17 Nov. '13. Damaskus adalah ibukota Suriah, bukan kota tempat pengikut Kristus disebut Kristen pertama kali, yang adalah Antiokia, kota terbesar ketiga di kekaisaran Romawi, yang sekarang ini merupakan kota kecil di Turki dengan nama Antakya. 

Perang dan gelombang pengungsi Suriah: Kasus perdagangan manusia dan obat terlarang meningkat

Written By Menara Penjaga on Rabu, 25 September 2013 | 22:38

Derita akibat perang: Seorang ibu dan anaknya tertidur di pinggir sebuah jalan di Sidon, Libanon, 18 Juli 2013.
(Foto: AFP/Mahmoud Zayyat)
LIBANON, Beirut (MP) – Akibat konflik berkepanjangan di Suriah, Libanon menghadapi krisis dengan kehadiran 1, 3 juta pengungsi dari negara tetangganya itu.

“Jika konflik berlanjut, mungkin ada sebanyak 1, 6 juta pengungsi di Libanon pada akhir 2014,” ungkap Inger Andersen, Wakil Presiden Bank Dunia untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, seperti dilansir Kompas.com.

Dengan jumlah penduduk 4 juta orang, Libanon merasakan langsung dampak perang sipil Suriah yang berawal dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan.

Kekuatiran akan situasi yang lebih parah setelah wacana penyerangan oleh Amerika Serikat dan gerakan pemberontak yang memiliki afiliasi berbeda telah meningkatkan jumlah pengungsi secara drastis. Perang ini telah memakan korban jiwa lebih dari 100.000 orang, dengan 6000 di antaranya adalah anak-anak.


Berbagai masalah sosial 

Dr. Naji Abi-Hashem dalam edaran emailnya yang ditulis dari Beirut menerangkan bahwa situasi di Libanon sangat tidak kondusif.

Di Libanon para pengungsi memiliki keluasan, sehingga mereka menyebar di daerah-daerah penduduk, mencari pekerjaan dan tempat tinggal di mana mungkin.

“Mereka yang punya membawa kendaraan dan sejumlah harta milik, menyewa tempat dan mungkin akan tinggal di sini selamanya,” tulisnya.

Namun demikian, mayoritas di antara para pengungsi tidak memiliki kemampuan ekonomi demikian. “Libanon ingin membantu tapi tak mampu menghadapi masalah sebesar ini,” tulisnya.

“Seperti dalam setiap kasus migrasi paksa dan pengungsian akibat perang, gangguan dan masalah yang dihadapi sangat besar.

“Banyak masalah yang muncul saat ini (mulai dari pencurian kendaraan, perdagangan manusia, perdagangan gelap terhadap yang miskin dan yang lemah, mayoritas pengungsi bersaing untuk pekerjaan dan tenaga kerja murah...banyak yang tinggal di ruangan sempit yang penuh sesak di bawah garis kemiskinan, ada yang mengirim anak-anaknya ke jalan untuk mengemis, yang lain mulai terlibat dalam perdagangan obat-obat terlarang dan seks komersil.)”

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam pertemuan dengan pemimpin Libanon Michel Suleiman (24/9/13 setempat) membahas rencana untuk menanggulangi biaya akibat situasi di Libanon ini.


Tugas orang Kristen

Di samping sederet masalah lainnya, harga barang dan tingkat pengangguran lokal juga meningkat menambah penderitaan yang dibawa oleh perang, yang menurut Dr. Naji adalah sebuah konsekuensi langsung dari keadaan kita sebagai manusia dan kejatuhannya.

“Kita hidup dalam dunia yang 'tidak sempurna' tapi kita diberi keistimewaan dengan mempunyai mandat 'misi ilahi',” ungkap Dr. Naji dalam emailnya. “Sementara itu, kita terus bekerja untuk Tuhan dan melanjutkan pelayanan kesembuhan dan rekonsiliasi.” [+]





Email Dr. Naji Abi-Hashem dikirim untuk sejumlah koleganya dengan catatan dapat dibagikan dengan orang atau kelompok yang berminat. Doakan masyarakat Suriah yang harus menghadapi pergumulan dan kenyataan hidup ini. Mari perluas rasa kemanusiaan dan sejauh mungkin menghindari kekerasan fisik maupun verbal dalam mencari sebuah solusi. 

Seruan Paus dan DGD untuk perdamaian di Suriah, Timur Tengah, dan seluruh dunia

Written By Menara Penjaga on Kamis, 05 September 2013 | 10:46


VATIKAN (MP) – Paus Fransiskus mencanangkan bahwa Sabtu, 7 September 2013 adalah hari pantang, puasa dan doa bagi perdamaian Suriah, kawasan Timur Tengah, dan seluruh dunia, demikian tulis Hidupkatolik.com. Seruan ini diungkapkan secara terbuka dalam Angelus pada Minggu, 1/9 yang lalu.

“Penggunaan kekerasan tak akan pernah membawa perdamaian. Perang akan selalu memanggil perang, dan kekerasan akan memanggil kekerasan yang lain. Dengan segenap kekuatan, saya meminta pada semua pihak yang terlibat dalam konflik yang sedang berkecamuk, untuk mendengarkan suara hati masing-masing dan tidak menutup diri demi kepentingan sendiri, tetapi memandang orang lain sebagai saudara dan melaksanakan dengan keberanian serta keyakinan: menempuh jalan pertemuan dan negosiasi supaya pertentangan yang membutakan segera bisa diatasi.”

Hari ini (4/9) waktu Roma, Paus Fransiskus kembali mengingatkan pentingnya doa dan puasa ini sekaligus mengajak partisipasi dari seluruh umat Kristen dan non-Kristen. 

"Hari Sabtu ini kita akan bersama-sama mengadakan puasa dan doa untuk perdamaian di Suriah, Timur Tengah, dan di seluruh dunia. Saya kembali mengundang seluruh Gereja [Katolik] untuk dengan sungguh-sungguh mengikuti hari itu, dan sekarang pun saya menyampaikan terima kasih kepada saudara-saudara umat Kristen, kepada saudara-saudara dari agama-agama lainnya, dan juga kepada semua pria dan wanita yang memiliki niat baik untuk bergabung dalam upaya ini, di tempat dan dengan caranya masing-masing. Saya secara khusus mendorong umat Katolik di Roma dan para peziarah untuk mengikuti ibadah doa di alun-alun St. Petrus pada pukul 7 malam, untuk memohon kepada Tuhan anugerah besar perdamaian. Kiranya seruan yang berkuasa untuk perdamaian naik dari setiap negeri,"  demikian terjemahan pernyataan Paus yang dikutip News.va.


Tanggapan Dewan Gereja-gereja se Dunia (DGD)

Sekretaris Jendral DGD, Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit, melanjutkan undangan Paus Fransiskus untuk berdoa dan berpuasa pada hari Sabtu ini. (Oikumene.org)

"Kita harus melakukan apa yang mungkin untuk memadamkan api perang, bukan memperparahnya dengan lebih banyak persenjataan mematikan," katanya.

Pdt. Tveit dalam surat bertanggal 4/9 kepada Dewan Keamanan PBB menyampaikan keprihatinan yang dalam menyangkut situasi di Suriah.

Ia menekankan bahwa "negoisasi politis untuk mencari jalan keluar" adalah satu-satunya jalan untuk perdamaian dan keadilan di Suriah. +

Surat Nabi Muhammad untuk biara Kristen di kaki gunung Sinai

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 Agustus 2013 | 10:36

Biara St. Katarina di bawah kaki gunung Sinai, Mesir (foto: orthodoxwiki).

Di kaki Gunung Sinai, di lokasi yang merupakan tempat suci agama Yahudi, Kristen dan Islam, berdiri salah satu biara tertua yang masih berfungsi saat ini, yaitu Biara Santa Katarina.

Pendirian biara ini dimulai pada tahun 337 Masehi, ketika Ratu Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus, memprakarsai pembangunan sebuah gereja di lokasi yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa melihat api dari semak duri yang tak terbakar. 

Pengembangannya dilakukan oleh Kaisar Justinus antara tahun 527-565 Masehi dengan membangun Basilika Transfigurasi, sehingga namanya menjadi Biara Transfigurasi. Namun, sejak abad ke-9 Masehi menjadi terkenal sebagai Biara St. Katarina dari Alexandria oleh sebab kehadiran relik sang martir di situs itu. 

Biara ini tidak hanya menyimpan ribuan manuskrip abad silam dan karya seni Kristen yang mengagumkan, tetapi juga sebuah surat dari nabi junjungan dan pemimpin umat Islam. 

Surat yang ditulis tahun 623* Masehi ini berisi tentang perintah Nabi Muhammad untuk menghormati dan melindungi hak asasi dan kebebasan beragama umat Kristen.

Kutipan Bahasa Inggris dan terjemahan dari surat itu:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai sebuah perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, baik yang dekat maupun yang jauh, kami bersama dengan mereka.

Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
Bahwasanya aku, para pelayan, penolong, dan pengikutku membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah rakyatku; dan demi Allah! Aku menentang apapun yang tidak menyenangkan mereka.

No compulsion is to be on them.
Tidak boleh ada pemaksaan terhadap mereka.

Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
Para hakim mereka tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan mereka, dan para biarawan tidak boleh dikeluarkan dari biara mereka.

No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan tempat ibadah mereka, atau merusaknya, atau memindahkan apapun dari situ ke rumah kaum Muslim.

Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet.
Jika ada yang melakukan hal-hal ini, ia melanggar perjanjian Allah dan tidak mematuhi Rasul-Nya.

Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
Bahwasanya, mereka adalah sekutuku dan dengan mereka aku menetapkan perjanjian yang kuat melawan semua yang mereka benci.

No one is to force them to travel or to oblige them to fight.


Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka untuk berperang.

The Muslims are to fight for them.
Muslimlah yang akan berperang bagi mereka.

If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Jika seorang perempuan Kristen dinikahkan kepada seorang Muslim, hal itu tidak boleh terjadi tanpa persetujuannya. Ia tidak boleh dilarang pergi ke gerejanya untuk berdoa.

Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dicegah dari memperbaiki gereja-gereja itu, ataupun dari kesucian perjanjian-perjanjian mereka.

No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).”
Tidak boleh ada umat Muslim yang tidak mematuhi perjanjian ini sampai Hari Terakhir (kiamat).”



Menurut tradisi, sebuah delegasi dari Sinai memohon perlindungan dari Nabi Muhammad. Hal ini dikabulkan dan sebuah surat ditulis serta disahkan dengan menaruh tangannya di atas dokumen itu. 

Pada tahun 1517, Sultan Selim I, dengan mengakui isi dokumen itu, membawanya untuk disimpan dalam perbendaharaan istana di Konstantinopel. Ia pun memberikan salinan untuk disimpan di biara St. Katarina, yang turut disertai gambaran telapak tangan sebagai lambang bahwa dokumen itu disahkan oleh Nabi Muhammad. 

Dokumen ini sekarang disimpan di Museum Topkapi di Istambul, Turki. 

Biara St. Katarina, yang merupakan salah satu dari situs warisan dunia, merupakan rumah dari manuskrip Alkitab, Kodeks Sinaitikus (ditulis 330-350 Masehi), yang saat ini disimpan di British Library. 

Di dalam St. Katarina juga terdapat Mesjid Fatima yang baru-baru ini direnovasi. Bangunan ini merupakan sebuah kapel yang berubah fungsi menjadi mesjid pada tahun 1106 dan tepat berdiri di samping gereja Ortodoks, sehingga minaretnya berdekatan dengan menara lonceng gereja.

Mesjid ini menjadi lambang perlindungan dari para kalifa Mesir, termasuk toleransi dari para biarawan terhadap Islam. Penduduk lokal Beduin, Jabaliya, secara turun-temurun memegang kunci mesjid ini. 


Sumber: st-katherine.net | ijtihad.org | yusril.com

*John Grainger dan Francis Gilbert, "Around the sacred mountain: The St Katherine Protectorate in South Sinai, Egypt" in Protected Landscapes and Cultural Amb [I.E. and] Spiritual Values, ed. Josep Maria Mallarach (Heidelberg: Kasparek, 2008), 24; beberapa tulisan di Internet mengatakan tahun 626 atau 628 Masehi. 
Sejarah toleransi beragama dapat ditelusuri jauh dalam sejarah, termasuk pelanggaran-pelanggaran dari semua pihak.  

Melawan “penghijauan” dan “kristenisasi,” termasuk pembantaian dan perusakan seperti di Mesir

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 02:38

Seorang pria bersedih saat ia melihat salah satu dari banyak jenazah korban penyerbuan kamp pendukung Presiden Mesir terguling Muhammad Mursi di Alun-alun Rabaa al-Adawiya, oleh pasukan keamanan Mesir, di Kairo, 14 Agustus 2013 (AFP PHOTO / MOSAAB EL-SHAMY via Kompas.com)
MP – Di sejumlah group facebook berplatform Kristen tampak sejumlah "posting-keprihatinan," bahkan kecaman, mengenai upaya “penghijauan” – istilah yang menunjuk pada 'peng-Islaman' daerah tertentu.

Sementara di group yang berplatform Islam, kita dapat menemui ungkapan yang sama tentang “kristenisasi” atau upaya 'peng-Kristenan' umat Islam (non-Islam).

Kedua istilah ini: “penghijauan” dan “kristenisasi,” serta ide yang terkandung di dalamnya, bukan hal yang baru. Keduanya lahir dan merupakan kelanjutan dari sejarah panjang tragedi kemanusiaan yang mengatas-namakan agama. Di balik itu adalah kepentingan politik, ekonomi, yang mencakup keserakahan, rasa superioritas, dan ketidak-sanggupan untuk mengendalikan diri.

Entah apa yang terus memberi kelanjutan terhadap istilah-istilah seperti ini di tengah komunitas beragama saat ini.

Padahal, penggunaan kedua istilah ini menyinggung perasaan umat beragama secara umum, terlebih khusus bagi kedua belah pihak, ketika muncul tudingan bahwa pihak yang satu sedang MEMAKSAKAN agamanya kepada pihak yang lain.

Dapat dimengerti bahwa kedua istilah itu menyinggung perasaan, karena pengikut agama yang tulus tidak akan memaksa (mengancam) orang lain untuk percaya apa yang ia percaya. Idenya juga bertentangan dengan akal sehat: seseorang tidak bisa dipaksa untuk mempercayai sesuatu yang tidak ia percaya.

Di samping itu, kedua istilah ini menyarankan bahwa para pemeluk agama tidak memiliki otonomi untuk menentukan apa yang mereka percaya/imani.


Kekritisan, kehati-hatian (kepekaan), dan rasa kemanusiaan

Karena itu, munculnya istilah-istilah di atas harus disikapi dengan kekritisan dan kehati-hatian (kepekaan). Ada orang yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena memang prihatin, namun TIDAK disertai dengan kekritisan dan kehati-hatian.

Namun, ada pula yang menyebarkan “posting-keprihatinan” karena suatu niat yang tak tulus, tak jujur; dengan maksud untuk menciptakan antipati (permusuhan) antara para pemeluk agama, supaya ketika ketegangan telah meningkat, jika sewaktu-waktu diperlukan, telah siap sebuah “bom kemanusiaan” yang dapat dipicu dengan sebuah tindakan pemerkosaan atau pembakaran/pemboman sebuah rumah ibadah.

“Senjata” seperti sudah sering dipakai oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, yang menghalalkan segala cara untuk mengamankan posisinya, memaksakan pengaruhnya, dan terutama mengamankan akses ke berbagai sumber daya untuk bisa hidup di atas penderitaan orang lain.

Jikalau yang disebut agama paling tidak membukakan mata manusia, maka masyarakat beragama perlu mengembangkan rasa percaya antara satu dengan yang lain, bukan karena agama, melainkan karena kemanusiaan yang kita semua miliki.

Kemanusiaan manusia tidak bisa diukur dari agama, etnik, pilihan politik, atau cara tertawa seseorang.

Manusia itu menjadi manusia karena HATINYA diisi dengan rasa kemanusiaan.


Pelajaran dari Mesir dan Indonesia

Sekarang ini sulit membayangkan bahwa pemerintah Mesir yang dibentuk setelah kudeta militer beberapa waktu yang lalu memiliki hati yang diisi dengan rasa kemanusiaan.

Associated Press (AP) yang dikutip Kompas.com menyebutkan 638 korban tewas dan sekitar 4000 lainnya luka-luka pada Rabu Berdarah (14 Agustus) ketika “pemerintah” tersebut membubarkan para demonstran. Dari pihak lain, Ikhwanul Muslimin [Muslim Brotherhood] mengatakan, korban tewas sesungguhnya diperkirakan mencapai 2.600 orang dan korban luka mencapai 10.000-an orang.

Mereka ini dibahasakan oleh sejumlah media sebagai pro-Mursi, pro-Muslim Brotherhood, atau pro-Islamis. Hanya saja seorang demonstran yang diwawancarai BBC menolak bahwa aksi mereka adalah demi Presiden Mursi, atau apapun, melainkan demi demokrasi dan martabat negeri mereka, Mesir.

Mereka dan rakyat Mesir secara keseluruhan adalah korban dari sebuah upaya manuver politik, yang bukan rahasia memuat begitu banyak kepentingan luar.

Kepentingan itu, apakah baik atau tidak bagi rakyat Mesir, adalah masalah tersendiri. Akan tetapi, suatu tindakan keamanan (baca: militer), mengatas namakan suara rakyat sekalipun, yang membunuhi rakyat, baik perempuan maupun laki-laki, jelas melanggar kesakralan sebuah demokrasi dan nilai kemanusiaan.

Hati siapa yang takkan tergerak melihat foto para korban. Mereka adalah ayah, ibu, saudara laki-laki dan saudara perempuan. Mereka adalah rakyat yang menuntut sebuah konsistensi demokrasi, bagaimanapun itu.

Kita tidak mau dituduh mempunyai standar ganda dalam berdemokrasi, bukan?

Retorika penyelamatan Mesir dari "Islam radikal" tak lagi menjual. Mengapa di Suriah kebijakan yang muncul justru mempersenjatai gerakan yang tampak jelas memang radikal? 

Siapa yang lebih radikal dalam situasi ini telah nampak jelas. Ini adalah radikalisme yang mengkudeta demokrasi dan membantai rakyat dengan menggunakan alat keamanan negara.

Mungkin nanti ada narasi pembenaran terhadap penolakan terhadap Muslim Brotherhood, sama seperti kita di Indonesia punya narasi yang melegitimasi pembubaran PKI. Sayang kita sering dibuat lupa bahwa penolakan ideologi tak sama dengan pembantaian rakyat. Ada yang menyebut jumlah 300.000 sampai satu juta orang yang dibunuh secara keji pada tahun 65, dan kenyataannya kita masih hidup dalam kemiskinan hampir setengah abad kemudian.

Sendi-sendi perekonomian masih dikuasai oleh pihak asing, dan kroni-kroni koruptornya. 

Kita juga dibiarkan tak mengerti tentang semua kepentingan politik dan ekonomi di balik pergolakan politik semacam ini, dan untuk kasus Mesir, jika rakyat dan pemerintah gagal memperoleh solusi, mungkin tak hanya setengah abad kemudian rakyatnya masih akan tetap miskin, tapi juga Mesir akan porak-poranda dalam sebuah perang saudara.

Sampai sekarang agama masih dieksploitasi untuk kepentingan politik busuk. Tak dapat disangkal politisasi agama pun telah dimasukan ke dalam sejarah revolusi dan restorasi Mesir.

Mungkin Paus Tawardos II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik, berniat baik dengan hadir pada pengumuman Jenderal Sisi bahwa Presiden Mursi telah diturunkan, tapi tindakan itu nampak kurang bijak.

Sekarang kita bertanya, berapa banyak di antara “pendukung demokrasi” yang menyadari bahwa politisasi kelompok etnis Koptik dan Gereja Ortodoks Koptik tidak ada hubungannya dengan jemaat-jemaat Kristen Mesir yang ingin memiliki kebebasan beribadah, berdampingan dengan saudara-saudara Muslim mereka.

Siapa yang tahu? Yang kita tahu adalah mereka yang membakar gereja atau membunuhi orang Kristen itu melakukannya bukan karena agamanya, melainkan karena terang hatinya telah tertutup kabut amarah atau yang hatinya belum diisi dengan nilai kemanusiaan.

Perdana Menteri Turki Tayyib Erdogan punya poin yang penting, “Mereka yang tinggal diam menghadapi pembantaian ini sama bersalahnya dengan mereka yang melakukan (pembantaian) ini.” (Kompas.com)

Kalau ingin melakukan sesuatu, kita bisa mengikuti Paus Fransiskus. “Saya ingin memastikan doa saya untuk semua korban dan keluarga mereka, yang terluka dan semua orang yang menderita. Mari kita berdoa bersama untuk perdamaian, dialog dan rekonsiliasi di tengah bangsa ini dan seluruh dunia,” demikian sebagian isi doanya mengikuti tragedi pembantaian di Mesir. (News.va)

Dalam doa dan tindakan kita bisa melawan kata-kata yang mengundang permusuhan antar agama, kebencian antar sesama manusia, termasuk pembantaian rakyat dan penghancuran rumah ibadah seperti yang terjadi di Mesir. (+)

Perundingan damai Israel-Palestina di Washington DC: Pendukung dan penentangnya (UP-DATED)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 31 Juli 2013 | 21:33


Kota Yerusalem (foto: Marianne Medlin/CNA).
Palestina membatalkan perundingan setelah sebuah serangan Israel ke kamp pengungsi

TEMPO.CO, Tepi Barat  (27 Agustus 2013) - Juru runding Palestina membatalkan rencana pembicaraan perdamaian dengan Israel menyusul serangannya terhadap kamp pengungsi di daerah pendudukan Tepi Barat, Sabtu 24 Agustus 2013. Serangan pasukan Israel tersebut menyebabkan tiga warga Palestina tewas termasuk seorang pekerja PBB.

Perdana Meteri Palestina, Rami Hamdallah, mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Selasa 27 Agustus 2013, "Kejahatan semacam itu membuktikan bahwa perlunya perlindungan internasional terhadap rakyat kami."
Pasukan Israel acap kali menahan warga Palestina yang dituduh terlibat dalam gerakan teroris. Israel dan Otoritas Palestina baru-baru ini -melalui mediasi Amerika Serikat - melakukan pembicaraan setelah selama tiga tahun berhenti.

Kekerasan di Tepi Barat terus meningkat sejak awal 2013. Dalam kurun waktu delapan bulan, pasukan Israel telah membunuh 14 rakyat Palestina di daerah pendudukan. Hampir seluruh korban pembunuhan itu tewas setelah bentrok dengan serdadu Israel. Bandingkan dengan periode yang sama pada 2012, tiga warga Palestina tewas dalam kasus serupa.

Menurut PBB, pria yang dibunuh tentara Israel itu berusia 34 tahun, ayah empat orang anak. Dia tewas ditembak di bagaian dada oleh Israel saat sedang menuju ke tempat kerjanya. PBB mengutuk insiden pembunuhan ini.
Juru bicara kepolisian Israel mengatakan kepada kantor berita AFP, sejumlah petugas menggeruduk daerah pendudukan di Tepi Barat guna menangkap "seseorang yang diduga teroris" ketika lebih dari 1.500 warga Palestina turun ke jalan dan menyerang mereka dengan lemparan bom molotov dan batu cadas.

"Pasukan Israel menggunakan peluru karet," ujar juru bicara. Tak begitu jelas, apakah tentara Israel dalam aksi penyerbuan itu menahan warga Palestina atau tidak.


-------
AMERIKA SERIKAT, Washington DC (MP) -- Ketua tim perunding Israel, Menteri Kehakiman Tzipi Livni, Selasa (30/7/2013), memuji suasana positif dalam pembicaraan damai dengan Palestina di Washington DC. 

Ini adalah perundingan pertama setelah tiga tahun terhenti oleh sebab pendudukan Israel di Tepi Barat yang dilihat sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.

"Atmosfir pembicaraan sangat positif," kata Menkeh Livni kepada Radio Israel, Selasa (30/7/2013), setelah jamuan makan malam dengan juru runding Palestina Saeb Erakat yang digelar Menteri luar negeri AS, John Kerry.

"Semua isu sudah di atas meja, namun kami memutuskan semua akan ditentukan di dalam ruang negosiasi dan tidak akan bocor keluar," ungkap Menkeh Livni.

Menkeh Livni menambahkan, pembicaraan damai ini dilanjutkan bukan sebagai respon atas desakan AS namun juga merupakan kepentingan kedua negara. (kompas.com)

Hari Rabu (31/7/2013) juru runding Erakat menyampaikan terima kasih kepada pemerintah AS atas “upaya mereka yang tidak kenal lelah” dan mengatakan tidak seorang pun yang memperoleh manfaat lebih besar dari suksesnya perundingan selain rakyat Palestina.

“Saya gembira bahwa semua isu-isu status akhir di bahas di meja perundingan dan akan diselesaikan tanpa kecuali. Sudah waktunya bagi rakyat Palestina memiliki negara mereka sendiri yang merdeka dan berdaulat,” ujarnya. (kompas.com)

Pertemuan akan kembali diadakan dalam dua minggu.


Pihak-pihak yang tidak mendukung
  
Seperti yang diberitakan Reuters, selama setidaknya dua dekade terakhir, negosiasi di konferensi tingkat tinggi gagal menyelesaikan konflik Israel-Palestina dan pertemuan-pertemuan lain hanya meninggalkan draf perdamaian yang akhirnya tak terpakai. (lih. kompas.com)

Dengan latar belakang yang kurang mendukung tersebut, tampak pula ada pihak yang tidak menyukai perundingan saat ini. 

Salah satu faksi terbesar Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yaitu Front Rakyat Untuk Kemerdekaan Palestina, Senin (29/7/2013), telah menyuarakan penolakan terhadap perundingan damai tersebut.

"Kami pergi ke PBB untuk melepaskan diri kami dari AS," ungkap Khaleda Jarar, salah satu pemimpinnya. Ia merujuk kesuksesan Palestina mendapatkan kenaikan status di PBB. (kompas.com)

Hamas, yang mengusai wilayah Palestina di Gaza, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka "menolak Otoritas Palestina kembali ke pembicaraan damai dengan pemerintah pendudukan Israel".

Dipihak lain, Menkeh Livni mengungkapkan, "Ada beberapa menteri Israel yang tak sepakat dengan negosiasi ini."

Para menteri garis keras secara terbuka menentang pembentukan negara Palestina dan bersumpah akan terus membangun permukiman Yahudi di tanah pendudukan. (kompas.com)

Menlu AS John Kerry (tengah) bersama perunding Israel
Tzipi Livni (kanan) dan perunding Palestina Saeb Erakat
di Washington (30/7) (foto: Reuters via Kompas).


Pujian untuk itikad baik

Namun, itikad dari pemimpin kedua belah pihak mendapat pujian dari Menlu Kerry. Ia menegaskan pujiannya untuk PM Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas. 

Dalam pernyataannya hari Minggu kemarin ia mengatakan, "Kedua pemimpin itu telah menunjukkan kesediaan untuk membuat keputusan sulit yang telah berperan dalam mencapai titik ini. Kami berterima kasih atas kepemimpinan mereka." 

Pihak pemerintah Israel telah mengambil langkah untuk membebaskan 104 tahanan pejuang Palestina.

"Ini saat yang tidak mudah bagi saya. Ini hal yang tidak mudah bagi para menteri," kata PM Netanyahu. "Hal ini tidak mudah terutama bagi sejumlah keluarga, keluarga-keluarga yang berduka, yang suasana hatinya saya pahami. Namun, ada saat-saat di mana keputusan-keputusan sulit harus dibuat demi kebaikan negeri ini, dan ini adalah salah satu dari momen itu."

Langkah tersebut lolos dengan raihan suara 14 berbanding 6. Dua suara lain abstain. (kompas.com)

Salah satu menteri Israel garis keras adalah Naftali Bennett.

Menteri Perindustrian, Perdagangan, dan Tenaga Kerja Israel yang juga Pemimpin Partai Rumah Yahudi ini dilaporkan mengeluarkan pernyataan insensitif Minggu kemarin.

"Jika Anda menangkap teroris, anda cukup membunuh mereka," katanya, menurut sebuah laporan edisi cetak harian Yedioth Ahronoth berbahasa Ibrani.


Dukungan umat beragama

Sementara itu, CNA melaporkan bahwa sejumlah pemimpin lintas agama di AS telah mengirimkan sebuah pernyataan berisi dukungan terhadap perundingan damai ini kepada Menlu Kerry.

Pernyataan yang ditanda-tangani oleh sejumlah pemimpin Yahudi, Muslim dan Kristen ini, selain memberikan penghargaan juga mengungkapkan doa mereka bagi upaya menghadirkan perdamaian yang diakui merupakan hal yang tak mudah. 

“Kami tahu bahwa jalan menuju perdamaian adalah rumit dan penuh tantangan, tapi perdamaian adalah hal yang mungkin.” (+)

Apa yang memperparah situasi di Nigeria dan Suriah? Kardinal Onaiyekan bicara

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 22 Juni 2013 | 20:51

Uskup Agung Abuja, Nigeria, Kardinal John O. Onaiyekan
(foto: CNA/Lauren Cater)
ITALIA, Milan (MP) -- Menurut Kardinal John O. Onaiyekan konflik yang terjadi di Nigeria dan Suriah saat ini telah diperparah oleh pengaruh-pengaruh luar. Demikian diungkapkannya dalam pertemuan ke-10 Oasis International Foundation yang diadakan di Universitas Milan, 17-18 Juni 2013.

Pertemuan tersebut membahas bagaimana meningkatkan hubungan Kristen Katolik dan Muslim serta masalah pertumbuhan sekularisme global dan ekstremisme. Para pembicara berasal dari berbagai negara, termasuk Irak, Iran, Yordania, Maroko, Lebanon, Suriah, Mesir, Tunisia, Arab Saudi, Indonesia, Pakistan, Amerika Serikat, Prancis dan Italia. (CNA)

Situasi Nigeria
Human Rights Watch melaporkan bahwa sejak 2009 sebanyak 2.800 nyawa telah menjadi korban tindakan terorisme di Nigeria.

Kebanyakan di antara mereka merupakan masyarakat berlatar belakang agama Kristen.

“Jama'atul Alhul Sunnah Lidda'wati wal jihad” atau yang sering disebut “Boko Haram” dianggap bertanggung jawab atas berbagai tindakan tidak berprikemanusiaan yang telah menciptakan kekacauan di beberapa negara bagian di Nigeria.

Menurut Kardinal Onaiyekan, Jama'atul Alhul Sunnah (JAS) awalnya bukan merupakan sebuah kelompok teroris. Awalnya kelompok ini menolak untuk bekerja dengan non-Muslim, tetapi tidak pernah melakukan kekerasan.

"Masalahnya adalah masukan apa yang mereka dapatkan dari link luar mereka,” ungkap Kardinal Onaiyekan menunjuk bahwa masalah yang terjadi di Nigeria adalah akibat pengaruh dari kelompok-kelompok dari luar. Ia juga menyentil tentang pasokan dana dari luar.

"Tidak bahkan lima persen dari Muslim di Nigeria setuju dengan Boko Haram, dan mereka [umat Muslim] khawatir karena mereka [JAS] membunuh Muslim juga, dan memberikan Islam nama yang buruk," katanya.


Di Nigeria umat Kristen dan Muslim secara umum telah hidup berdampingan secara damai. Namun sampai beberapa tahun yang lalu, berbagai tindak kekerasan dan pemboman dilakukan oleh sekelompok orang yang digambarkan sebagai kelompok Islam garis keras yang ingin menerapkan hukum Islam di Nigeria, dan telah menargetkan gedung-gedung pemerintah, pasar, gereja dan masjid dalam serangan-serangannya.



Situasi Suriah
Kardinal Onaiyekan juga turut menyoroti perang sipil di Suriah dan berharap supaya kekerasan di sana tidak menyebar ke tanah airnya.

Perang di Suriah telah berlangsung selama 27 bulan, dan merenggut nyawa sedikitnya 93.000 orang, dan setidaknya 1,5 juta orang menjadi pengungsi di negara-negara terdekat.

Berawal dari aksi demonstrasi melawan pemerintah yang kemudian diikuti oleh tindakan represif dari pemerintah, perang ini dimulai pada April 2011.

Rusia dan Iran telah mendukung pemerintah resmi Suriah, sementara negara-negara Barat (a.l., Amerika Serikat, Perancis, dan Inggris) lebih menyukai kelompok pemberontak yang terdiri dari sejumlah kelompok berbeda, termasuk nasionalis dan Islamis.

Pada tanggal 14 Juni, Presiden AS, Barrack Obama, mengatakan siap untuk memberikan bantuan militer langsung ke oposisi, setelah menetapkan bahwa rezim menggunakan senjata kimia pada rakyatnya sendiri. Tuduhan itu ditolak oleh pemerintah Suriah.

Berita terbaru menyebutkan bahwa kelompok pemberontak mengaku sekarang memiliki senjata yang akan mengubah jalannya pertempuran.

"Siapa yang mendukung apa yang disebut oposisi di Suriah," kata Kardinal Onaiyekan. "Bukankah Barat?"

Menurutnya oposisi Suriah didukung oleh "beberapa orang yang tidak mengerti apa yang terjadi."

"Amerika mengatakan kepada kita bahwa mereka akan mengirim lebih banyak senjata untuk sekelompok orang yang menentang pemerintah mereka," ungkap kardinal.

"Ini adalah dunia gila, mereka mungkin memiliki alasan untuk itu," kata Kardinal Onaiyekan. "Mereka tahu apa yang mereka inginkan, tapi pasti bukan yang baik bagi rakyat Suriah."


The Golden Rule
Meskipun ada ketegangan sektarian di Suriah antara kelompok-kelompok Muslim yang berbeda dan diarahkan terhadap umat Kristen, kardinal mengatakan bahwa "kebanyakan konflik yang digambarkan sebagai konflik agama pada sebenarnya tidak begitu."

Kardinal Onaiyekan mengatakan bahwa ia ingin melihat dunia "menikmati buah positif dari berbagai agama, mengakui bahwa Allah lebih besar daripada kita, dan supaya orang Kristen untuk bebas mempraktekkan iman mereka."

"Muslim juga harus bebas untuk mempraktekkan iman mereka, mengingat untuk tidak melakukan apa yang tidak mereka inginkan orang-orang Kristen lakukan kepada mereka."

"Kita harus mengubah cara orang melihat agama mereka," katanya. "Kita harus membuka diri terhadap orang lain, mengakui bahwa ada orang lain [yang berbeda]. Tidak hanya bersikap toleran terhadap mereka, tetapi juga menghormati mereka, karena saya tidak ingin orang (hanya) mentolerir saya." [+] (lih. CNA)


Mohon doa bagi pemimpin gereja Ortodoks Suriah dan Yunani yang diculik kelompok bersenjata (up-dated)

Written By Menara Penjaga on Rabu, 24 April 2013 | 00:46

Topang dalam doa Uskup Yohanna Ibrahim dan Uskup Boulos Yaziji yang telah mengambil
resiko bertahan dalam pelayanan sekalipun di tengah-tengah situasi yang tidak kondusif
(foto: http://yallasouriya.wordpress.com)/
MTN, 24 Mei 2013.
Pernyataan lewat Radio Vatikan menyangkut penculikan Uskup Agung Mar Gregorios Yohanna Ibrahim dan Boulos Yazaji, masing-masing Metropolitan Gereja Ortodoks Suriah dan Gereja Ortodoks Yunani Keuskupan Aleppo:
Sebuah kelompok tak dikenal telah menculik keduanya tanpa mengklaim tanggung jawabnya sampai sekarang, atau pun mengumumkan alasan penculikan atau mengetahui tempat mereka.
Kami dari keuskupan Gereja Ortodoks Yunani dan Suriah, Aleppo, dalam koordinasi dengan dua Patriarkat di Damaskus, hari demi hari mengungkapkan kesedihan kami dan kepedihan yang semakin mendalam oleh sebab penculikan dan ketidakhadiran kedua wali gereja terkemuka ini, serta apa yang mereka wakili dalam hal kekudusan hidupnya, jabatannya di tingkat lokal dan internasional, serta peran aktif mereka di semua tingkatan termasuk spiritual, pemikiran, akademik, pendidikan dan sosial; namun di atas segalanya adalah pekerjaan kemanusiaan yang mereka bawa dalam krisis saat ini yang sedang melanda negara kami Suriah.
Pada hari ini, setelah satu bulan sejak mereka diculik, di tengah doa dan permohonan oleh gereja-gereja lokal dan di seluruh dunia; serta seruan, pernyataan dan upaya-upaya dari organisasi Kristen dan Muslim dunia dan masyarakat internasional, kami kembali menyampaikan permintaan kami kepada para penculik untuk memperbaiki tindakan mereka, takutlah akan Allah, dan lepaskan kedua Uskup Agung tanpa menyakiti kesehatan atau fisik mereka, dan melepaskan semua imam lain dan warga sipil tak berdosa yang juga diculik.

Satu bulan dalam penculikan telah lebih dari cukup untuk kedua Uskup Agung. Derita yang mereka rasakan dalam penculikan mereka, juga merupakan derita bagi semua orang beriman dari dua komunitas mereka, yaitu rakyat Suriah dan dunia.
Penculikan kedua Uskup Agung sampai saat ini merusak struktur negara Suriah dalam keberagamannya dan sejarah panjang kewarganegaraan dan hidup bersama di Suriah. Bencana demikian akan diingat dan dicatat dalam sejarah, demikian pula kehancuran dan kesedihan Suriah.
Tindakan seperti itu tidak akan menakutkan kami karena kami adalah anak-anak dari "Kebangkitan."
Kami percaya bahwa belas kasihan dari satu Allah yang kita semua percaya, akan menuntun para penculik dan mendorong mereka untuk melepaskan kedua Uskup Agung tanpa pra-kondisi, karena tidak ada harga yang sama dengan kebebasan dua Uskup Agung, dan tidak ada kondisi yang sama dengan pengembalian mereka ke komunitas dan gereja mereka masing-masing.
Kami kembali menyampaikan permohonan kami dan melanjutkan doa-doa kami dengan kesungguhan kepada Allah untuk pembebasan kedua Uskup Agung, para imam, dan semua orang yang berada dalam penculikan. 



-------
SURIAH, Aleppo (Kompas, Selasa, 23 April 2013) -- Kelompok militan di kawasan yang dikuasai kelompok perlawanan di Suriah utara menculik dua pendeta yang sedang dalam perjalanan ke Aleppo. Penculikan atas kedua pendeta yang melakukan perjalanan dari perbatasan Turki itu dilaporkan oleh media pemerintah dan dikukuhkan seorang pemimpin kelompok pemberontak.

Keduanya adalah Uskup Yohanna Ibrahim yang menjabat pimpinan Gereja Ortodoks Suriah di Aleppo dan Uskup Boulos Yaziji yang memimpin Gereja Ortodoks [Yunani].

Namun masih belum jelas kelompok yang menculik mereka. "Semua kemungkinan masih terbuka," tutur Abdulahad Steifo dari kelompok perlawanan Koalisi Nasional Suriah.

Dia mengatakan penculikan terjadi ketika keduanya sedang dalam perjalanan dari kawasan perbatasan Bab al-Hawa, yang dekat dengan kota Reyhanli di Turki, menuju Aleppo. Stasiun TV negara melaporkan 'kelompok teroris bersenjata' yang menculik kedua pendeta yang sedang melaksanakan 'tugas kemanusiaan' di kawasan pedesaan Aleppo.

Masa sulit Aleppo

Seorang penduduk Aleppo yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa penculik menembak mati supir yang membawa kedua pendeta itu. Yohanna Ibrahim dan Boulos Yaziji merupakan pendeta paling senior yang sejauh ini terkena dampak langsung perang Suriah.

Bulan September Uskup Ibrahim mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa ratusan keluarga Kristen mengungsi dari Aleppo akibat pertarungan antara pasukan pemerintah dan kelompok pemberontak di kota itu. "Dalam sejarah modern, Aleppo tidak pernah mengalami masa-masa sulit dan seperti ini. Umat Kristen diserang dan diculik dengan cara yang dahsyat dan keluarga mereka harus membayar uang dalam jumlah besar untuk pembebasan," tambahnya.

Warga Kristen di Suriah mencapai sekitar 10 persen dari total jumlah penduduk yang mayoritas merupakan umat Islam Sunni. Perkiraan angka itu sebelum terjadi perlawanan atas Presiden Bashar al-Assad dua tahun lalu.

PBB memperkirakan lebih dari 60.000 orang tewas akibat konflik bersenjata di Suriah dan lebih dari satu juta orang mengungsi ke negara-negara tetangga.

Judul asli: Dua Pendeta Diculik di Aleppo
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger