"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Gereja Ortodoks Koptik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gereja Ortodoks Koptik. Tampilkan semua postingan

Keprihatinan dan kegilaan yang sedang terjadi di dunia: Dari Mesir, Suriah sampai Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 05 Juli 2013 | 14:37

MP -- Masyarakat internasional sedang merasa prihatin. Berikut sorotan MP seputar situasi di Suriah, Mesir, Sub-Sahara Afrika, Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Indonesia.

Suriah
Krisis berkepanjangan di Suriah telah memakan korban lebih dari 100.000 orang (6000 adalah anak-anak), dan masih tak nampak ujung penyelesaiannya.

Dimulai dari sebuah demonstrasi menuntut perbaikan, aspirasi rakyat untuk hidup yang lebih baik berubah menjadi kematian dan tragedi yang menelan korban jiwa, materi, dan masa depan Suriah.


Sementara Rusia menyalurkan senjata atas klaim “perjanjian legal dengan pemerintah yang legal,” beberapa negara Barat dengan terang-terangan mendukung pemberontak, atau yang disebut “oposisi.”

Kardinal John O. Onaiyekan dari Nigeria dengan prihatin berkata, “Ini dunia gila.”

Suriah dijadikan lapangan sepak bola politik global. Di kota dan di desa, perempuan dan laki-laki, anak-anak dan dewasa, komunitas Muslim dan (terutama) komunitas Kristen, menjadi rumput-rumput malang yang terinjak-injak; yang hancur dan mati.

Tapi memang, sekalipun banyak pemain asing yang datang, para pemain utamanya adalah warga Suriah sendiri. Mereka yang berkomitmen untuk menjaga tanah airnya dalam wadah militer dan mereka yang ingin membangun Suriah (namun tidak setuju dengan kepemimpinan presiden Bashar al-Assad). Itu sebabnya konflik ini dinamakan “perang sipil” (perang antara mereka sendiri).

Mesir
Kegilaan juga telah muncul di Mesir.

Setelah demonstrasi yang mengiring mundurnya Hosni Mubarak, rakyat Mesir seperti melihat fajar baru di alam demokrasi. Terpilih secara konstitusional Muhammad Mursi sebagai presiden.

Presiden terpilih Mesir, Muhammad Morsi.
Dikudeta.
Namun didukung oleh Muslim Brotherhood membuatnya kurang populer (di dunia Barat), dan nampaknya juga melakukan langkah-langkah yang kurang populer. Ia dianggap sebagai seorang “Islamis,” dan itu sepertinya dianggap tidak baik.

Sebelum militer Mesir melakukan coup d'etat (kudeta) terhadap pemimpinnya (apakah ini tidak gila?), berbagai media, terutama yang berkiblat ke Barat, telah memperguncingkan Mesir di antaranya dari 'sudut' masyarakat Kristen Koptik, seakan-akan Muslim dan Kristen sama sekali tidak bisa akur di awal sebuah "revolusi." 

Yang paling menyedihkan di sini adalah kegagalan militer untuk menjaga konstitusi dan keamanan masyarakat Mesir, sekalipun dalam pidatonya Jendral Sisi mengatakan bahwa apa yang dilakukan militer adalah membawa aspirasi rakyat.

Apakah Jendral Sisi bingung membedakan aspirasi dan fungsi? Hal ini mengundang resiko kritik pelajar kritis ketika sejarah diajarkan di sekolah-sekolah nanti, sekalipun pemuka al-Azar dan Gereja Kristen Koptik berdiri mendukung. 

Sekjen PBB, Ban Ki-moon adalah orang yang kritis, karena itu ia prihatin.

“Rakyat Mesir telah menyuarakan rasa frustrasi yang dalam serta keprihatinan yang sah lewat aksi protes mereka. Namun pada saat yang sama, intervensi militer dalam urusan kenegaraan adalah sebuah keprihatinan,” ungkap Eduardo del Buey, juru bicara PBB.

Sejauh ini yang perlu ditangisi adalah sekitar 91 perempuan yang dilaporkan mengalami pelecehan seksual sampai pemerkosaan (mengingatkan Tragedi Mei 1998) di Tahrir Square. Belum dihitung jumlah korban tewas yang akan menambah jumlah 846 yang meninggal pada "revolusi" yang pertama.

"Revolusi" yang berikut-berikutnya mungkin masih akan datang jika kebijakan Mesir (dan Suriah, Libia, dst.) masih belum sepenuhnya memperhitungkan (atau mengakomodasi) kepentingan luar.

Tapi bagaimana pun, berbicara tentang Mesir, ini adalah kisah rakyat Mesir, dan biar mereka yang menilai kisah mereka sendiri. Termasuk tentang bagaimana militernya menahan para jurnalis dan menutup kantor berita seperti Al Jazeerah di tengah-tengah sebuah pergolakan. 

Sub-Sahara
Skip Libia, kita ke Afrika. Presiden Amerika Serikat membuat kejutan di tengah-tengah kunjungannya di benua yang mempunyai ikatan emosional dengan seorang Barack Obama. Ayah kandungnya berkewarga-negaraan Kenya.

Seperti biasa AS menunjukkan niatnya untuk membantu negara-negara Afrika yang masih berkembang setelah sejarah kolonialisme. Namun, kali ini sang presiden membawa juga agenda yang sementara menjadi polemik dan perpecahan di negaranya.

Di Senegal yang mayoritas memeluk agama Islam Mr. Obama menyudutkan Presiden Senegal, Macky Sall, dengan mengemukakan agenda homoseksualnya di depan sebuah konferensi pers. Presiden Sall menjawab bahwa masyarakatnya “toleran,” dan meminjam istilah non-akademik di Barat, “tidak homofobik.” “Kami memiliki tradisi yang berbeda,” ungkapnya.

Tanggapan datang dari Kenya, yang sekalipun punya sejarah dekat dengan sang presiden, lagi tak masuk dalam daftar kunjungannya. Menanggapi agenda Mr. Obama, Wakil Presiden Kenya, William Ruto, di sebuah ibadah Minggu di antaranya menyebut “Kenya adalah negara merdeka dan takut akan Tuhan.”(Lihat video di sini.)

Uni Eropa
Sementara itu, hubungan AS dengan negara-negara Eropa akhir-akhir ini agak merenggang. Ini juga merupakan bagian dari kegilaan yang sedang terjadi, bahwa pemerintah AS (dicurigai) memata-matai negara-negara Eropa (entah negara-negara lain juga), termasuk warganya. Kasus ini telah membuat Prof. Mark LeVine menilai bahwa demokrasi di AS telah dikhianati dan bertanya jika demokrasi ini akan bisa bertahan. 

Banyak orang yang telah mendengar nama Edward Snowden. Ia dapat dikatakan adalah salah satu orang yang paling berani di dunia, jika ia betul-betul sadar dengan apa yang dilakukannya.

Snowden adalah seorang kontraktor IT yang sempat bekerja untuk badan keamanan dan intelejen AS. Prihatin dengan tingkat 'pengawasan' pemerintah terhadap rakyatnya dan negara-negara lain ia memutuskan untuk membuka rahasia pengawasan itu.

Untuk keberanian itu, ia sekarang menjadi buruan negara “super-power.” Negara yang akan menerimanya sebagai seorang pelarian harus dinobatkan sebagai negara yang menghargai hak asasi manusia. (Mungkin Ekuador.)

Indonesia
Bagaimana dengan Indonesia...?
Maksudnya, menyangkut perkembangan terbaru menjelang Pemilu 2014, serta keamanan dan ketentraman hidup di negara ini.

Isu-isu sensitif terus didengung-dengungkan saat ini. Orang tak perlu bertanya, karena sudah biasa mendengar. Masalah agama, suku, BBM, dsb. Kita perlu menyikapi secara kritis isu-isu seperti ini, jangan sampai masyarakat ditunggangi untuk diadu domba satu dengan yang lain. Korban yang paling menderita selalu adalah anak-anak.

Adalah lumrah jika sama seperti Kardinal Onaiyekan kita semua berharap supaya apa yang terjadi di Suriah (dan negara-negara lainnya), terhindar dari tanah air Indonesia. Ini bukan supaya kita menghindar dari bersikap kritis, namun justru dengan bersikap kritis, membela kepentingan rakyat, menjaga keamanan dan memajukan kehidupan bermasyarakat.


Dan marilah jangan pernah kita lupa bahwa meski pun beda agama maupun suku, di Negara Kepulauan ini kita semua bersaudara.***

Uskup Tawadros terpilih menjadi Paus Gereja Koptik; 'Pendidikan Pancasila' diterapkan di Mesir

Written By Menara Penjaga on Senin, 05 November 2012 | 10:38

Uskup Tawadros, Paus Gereja Ortodoks Koptik ke-118
(foto: VOA).
MESIR, Kairo (4 November 2012).
Uskup Tawadros terpilih menjadi pemimpin baru Gereja Ortodoks Koptik Mesir yang ke-118. Dua kandidat lain dalam pemilihan akhir kali ini adalah Uskup Raphael dan Bapa Raphael Ava Mina. Ketiga kandidat ini dipilih lewat pemungutan suara oleh sebuah dewan yang terdiri dari sekitar 2.400 pemimpin gereja dan masyarakat Koptik pada bulan Oktober, demikian dilaporkan BBC News.
 
Dengan demikian Uskup Tawadros yang saat ini berusia 60 tahun menggantikan
Paus Shenouda III yang meninggal pada Maret lalu dalam usia 88 tahun.

Di tangan Tuhan

Masing-masing nama para kandidat paus ditulis pada selembar kertas yang sama ukuran dan diikat dengan cara yang sama dan dimasukkan ke dalam toples kaca yang disegel dengan lilin dan diletakkan di altar gereja Katedral St. Markus di Kairo.


Seorang anak yang ditutup matanya kemudian menarik nama Uskup Tawadros, yang sampai sekarang merupakan tenaga bantu bagi Uskup Pachomius, pejabat sementara Gereja Koptik.

Uskup Pachomius kemudian mengambil surat suara dari tangan anak itu, dan menunjukkan kepada semua orang berkumpul di katedral.

Umat Kristen Koptik mengatakan proses ini adalah untuk memastikan bahwa pemilihan pemimpin Gereja ada di tangan Tuhan.

Uskup Tawadros yang memiliki gelar sarjana ilmu farmasi ini akan ditahbiskan dalam sebuah upacara pada tanggal 18 November nanti.
Ia dikenal sebagai seorang yang berpengalaman dan memiliki ketrampilan manajerial.


Pancasila di Mesir  

BBC News turut menyoroti kekuatiran masyarakat Koptik mengenai diskriminasi, termasuk kekerasan dan pembakaran gereja seperti yang sempat terjadi pada Oktober 2011 dan memakan korban 25 orang meninggal dunia.

Namun, sebuah perkembangan yang membesarkan hati saat ini adalah tekad pemerintah untuk memajukan seluruh masyarakat Mesir, di antaranya lewat pendidikan, yang pendekatannya mencerminkan nilai-nilai Pancasila.

Al Arabiya News melaporkan bulan Oktober lalu, Kementerian Pendidikan Mesir mengumumkan bahwa sekolah tingkat menengah di negara itu akan mengimplementasikan pendidikan kemasyarakatan dengan menggunakan kitab suci Agama Abrahamik, yaitu Alkitab, di mana yang disebut Perjanjian Lama merupakan kitab suci agama Yahudi (Tanakh), dan Al-Qur'an.

Dalam kurikulum baru ini siswa kelas dua sekolah menengah akan belajar tentang prinsip-prinsip hak asasi manusia menurut pemahaman Kristen, demikian dituliskan oleh media Mesir al-Shorfa.

Ayat Alkitab seperti, “Janganlah merampasi orang lemah, karena ia lemah, dan janganlah menginjak-injak orang yang berkesusahan di pintu gerbang [yaitu, di pengadilan]” (Amsal 22:22), akan dikutip dan diajarkan dalam kelas. Selain itu, adalah hal kebebasan berkehendak dan menentukan nasib sendiri.

Pada tahun ketiga, kurikulum ini akan fokus pada ajaran-ajaran Islam tentang hak-hak non-Muslim, termasuk perlindungan kehormatan, dan kebebasan seseorang untuk memilih agama di antara ajaran Islam lainnya.

Dr. Kamal Mogheeth dari Pusat Nasional untuk Penelitian Pendidikan Mesir mengatakan kepada Al-sayid website bahwa ia percaya langkah untuk menggunakan teks-teks suci di sekolah menengah akan membawa hasil yang positif dalam mendorong terciptanya interaksi antara agama-agama yang berbeda.

"Ini adalah langkah untuk menghilangkan ketegangan dan intoleransi antara Muslim dan [Kristen] Koptik yang kejadiannya muncul dari waktu ke waktu di Mesir," kata Mogheeth seperti dikutip Al-sayid.

Namun, Mogheeth menambahkan bahwa ayat-ayat suci harus ditangani dengan "sangat hati-hati" sehingga tidak menimbulkan kebingungan yang dapat menyebabkan perselisihan yang kontroversial.

Dr. Ilham Abdel Hamid, seorang profesor di Universitas Kairo, mengatakan langkah itu "bisa meredakan ketegangan sektarian yang akhir-akhir ini mulai meningkat di Mesir, dan menanamkan perekat persatuan nasional ke dalam diri para siswa."

Seorang ibu yang diwawancarai oleh Al-sayid mengatakan bahwa tambahan baru pada kurikulum itu merupakan hal yang tidak perlu dan menegaskan bahwa pemerintah harus fokus dalam menambahkan undang-undang Mesir ke dalam buku teks.

Yang lain mengungkapkan bahwa adalah benar mendidik anak-anak tentang perbedaan agama sehingga mereka bisa tahu bagaimana menghormati agama lain, moral dan kebebasan. (BBC/Al-Arabiyah/MP)

Mesir: Remaja Kristen dijatuhi hukuman tiga tahun penjara atas tuduhan penghujatan agama

Written By Ray Maleke on Minggu, 08 April 2012 | 06:04

Kota Assiut, Mesir.

CAIRO, EGYPT Sebuah pengadilan di Mesir telah menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun terhadap Gamal Abdou Massoud (17) karena “menghina Islam” lewat gambar kartun yang dipostnya di Facebook, demikian dilansir BosNewsLife.

Gamal juga dilaporkan membagikan gambar kartun buatannya kepada teman-teman sekolahnya di sebuah desa sebelah selatan Assiut, kota kelahiran almarhum Pope Sheneuda, pemimpin gereja Koptik Ortodoks yang baru-baru ini meninggal dunia, dan merupakan tempat tinggal dari sejumlah besar pemeluk Kristen Koptik.

Gambar kartun yang dimuat Gamal bulan Desember lalu dilaporkan mengundang reaksi keras dari kelompok Muslim yang kemudian menyerang orang Kristen. Beberapa rumah milik orang Kristen dilaporkan dibakar dan beberapa orang terluka dalam aksi kekerasan tersebut.

“Pengadilan anak-anak Assiut memutuskan tiga tahun penjara bagi Gamal Abdou Massoud setelah ia menghina Islam dan mempublikasikan dan menyebarkan gambar-gambar yang menghina Islam dan Nabinya,” demikian pernyataan dari pihak pengadilan seperti dilaporkan Reuters.

Dilaporkan juga bahwa seorang pengacara HAM, Negad al-Borai mengeluhkan keputusan maksimal yang dijatuhkan tersebut. Belum ada kepastian kapan atau apakah Gamal akan melakukan banding atas keputusan tersebut. Beberapa kasus penghujatan agama di beberapa bulan terakhir ini, di antaranya Naguib Sawiris, salah satu orang terkaya di Mesir, yang dituntut karena “menghujat dan menghina Islam” dengan merepost gambar kartun Mickey Mouse berjanggut dan Minnie yang memakai kerudung termasuk tutup muka dan kasus Adel Imam yang dituduh menghina Islam dalam film dan pertunjukan, meningkatkan kekuatiran bahwa kelompok Islamists sedang menggunakan kekuasaan yang baru-baru ini diperoleh untuk menekan kebebasan berpendapat.

Kebebasan berpendapat juga disuarakan di comment section laman berita Reuters untuk kasus Gamal. Sementara untuk dua kasus lainnya, tak ketinggalan Barry Rubin, direktur Global Research in International Affairs (GLORIA) yang menulis:

"Dalam dua kasus tersebut [Sawiris dan Imam], mereka tidak melakukan apapun melawan 'Islam' melainkan hanya untuk menertawakan kelompok Islamists. Pertarungan di sini, tentu saja, dikobarkan oleh kaum Islamists yang ingin supaya penafsiran agama mereka diterima sebagai satu-satunya versi yang bisa diterima. Orang Barat tidak mengerti bahwa ketika hal ini terjadi semua yang lebih moderat atau biasanya fleksibel menjadi ilegal dan dapat dikenai sangsi hukuman. Counter-Bill of Rights milik kaum Islamists memproklamasikan bahwa penduduk negeri tidak memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat atau kebebasan beragama, tidak ada kebebasan untuk berkumpul atau kebebasan press.”

Komentar lainnya di comment section laman berita Reuters untuk kasus Gamal dengan nick MarkOsgatharp mengatakan bahwa kebebasan beragama [dan mengekspresikan pendapat] yang berarti kebebasan untuk menghina agama orang lain adalah “freedom of religion American style” (kebebasan beragama gaya Amerika).

Selanjutnya dalam laporannya BosNewsLife dikatakan bahwa orang-orang Kristen mengakui adanya peningkatan penyerangan terhadap gereja-gereja yang dimotori oleh kelompok garis keras, sekalipun pemerintah mengatakan bahwa sebab-musababnya juga bisa karena pertengkaran lokal. Penduduk Mesir berjumlah 80 juta orang, 10 persen di antaranya memeluk agama Kristen. Mesir kehilangan almarhum Pope Sheneuda yang dilaporkan merupakan seorang tokoh yang dicintai baik oleh kalangan Muslim maupun Kristen.***
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger