"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Kekristenan di Amerika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekristenan di Amerika. Tampilkan semua postingan

Gagal: Tuntutan Kelompok Anti-agama Intoleran Ditolak Hakim

Written By Ray Maleke on Kamis, 04 April 2013 | 21:45

Puing baja yang membentuk salib di reruntuhan
Menara Kembar (foto: AP).
AMERIKA SERIKAT, New York (MP) -- Sebuah pengadilan di New York memutuskan bahwa salib yang terbentuk dari puing baja di reruntuhan Menara Kembar (World Trade Center) pada 11 September 2001 dapat tetap menghuni 9/11 Memorial and Museum.

American Atheists (AA), sebuah kelompok anti-agama intoleran, sejak Juli 2011 lalu menuntut supaya puing baja itu dikeluarkan dari museum itu karena dianggap melanggar hak-hak mereka.

Presiden AA, David Silverman, berencana untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut.

"Kami yakin bahwa kami akan memenangkan kasus ini dan salib itu akan pindahkan, atau para ateis juga akan diizinkan untuk menaruh simbol kami sendiri di sana," ungkapnya seperti dilansir CNN.

Hakim Federal Deborah Batts dari Distrik Selatan New York memutuskan Kamis lalu (28/3) bahwa puing baja itu diperbolehkan untuk menghuni museum karena memiliki sejarah penting.***



Ketika Tuhan dimarginalisasi: Kesedihan atas peristiwa penembakan anak-anak di AS

Written By Menara Penjaga on Minggu, 23 Desember 2012 | 00:57

Dr James Dobson.
(foto: Christian Today.au)
AMERIKA SERIKAT, Connecticut (MP).

"Dan banyak hal-hal seperti ini yang terjadi di sekeliling kita, dan ada orang yang akan marah karena saya mengatakan ini, tapi saya mau memberikan pendapat jujur saya: Menurut saya kita telah membelakangi Alkitab dan Tuhan Yang Mahakuasa, dan saya pikir Dia telah mengijinkan penghakiman terjadi atas kita. Saya pikir itulah yang terjadi," ungkap Dr James Dobson dalam program "Dr. James Dobson's Family Talk," seperti dikutip oleh Christian Today Australia.

Judul acara yang mengudara Senin lalu itu adalah "Sebuah Bangsa yang Terguncang oleh Tragedi Sandy Hook."

Dr Dobson adalah seorang Kristen yang telah mengabdikan hidupnya untuk memperkokoh kehidupan keluarga melalui programnya
Focus on the Family (fokus pada keluarga). Ia adalah seorang psikolog dan banyak menulis buku tentang anak-anak. Ia juga secara vokal membela pernikahan sebagai antara seorang pria dan seorang wanita, termasuk kesucian nilai hidup.

Dalam program tersebut di atas Dr Dobson juga menunjuk pada pembunuhan bayi dalam kandungan dan 'pernikahan' sesama jenis sebagai tanda bahwa Amerika (Serikat) telah mengambil jalan yang melawan Allah.

Menurutnya, AS kelihatan sedang berada dalam keadaan yang penuh kekacauan. “Saya tidak berbicara politik. Saya tidak berbicara tentang hasil pemilu 6 November lalu. Saya mengatakan bahwa ada yang tidak beres di Amerika dan bahwa kita telah berbalik dari Tuhan,” ungkapnya.

"Jutaan orang telah memutuskan bahwa Allah tidak ada, atau [mengatakan] Allah tidak relevan bagi saya, dan kita telah membunuh 54 juta bayi, dan lembaga pernikahan saat ini sedang berada di ambang perubahan definisi secara menyeluruh. Percayalah, itu juga akan membawa konsekuensi." 


Budaya tanpa Tuhan 

Seorang mantan Gubernur negara bagian AS Mike Huckabee turut mengkritisi bagaimana Allah dimarginalisasi dari masyarakat AS dalam menyikapi tragedi di sekolah dasar Sandy Hook, yang menelan korban jiwa 20 anak-anak.

"Kita bertanya mengapa ada kekerasan di sekolah kita, tapi kita secara sistematis mengeluarkan Allah dari sekolah kita. Haruskah kita menjadi begitu terkejut bahwa sekolah telah menjadi seperti tempat pembantaian? Karena kita telah membuat sekolah sebagai sebuah tempat di mana kita tidak ingin membicarakan tentang kekekalan, kehidupan, arti tanggung jawab, dan kepercayaan," ungkap Mr Huckabee dalam sebuah wawancara dengan Fox News, seperti dilaporkan oleh Christian Today Australia.

Dalam Amendemen I Konsitusi AS tahun 1791 dikatakan bahwa Kongres tidak boleh membuat hukum mengenai penetapan satu agama, atau melarang kebebasan beragama. Namun, hal ini telah ditafsirkan sebagai pemisahan antara negara dan agama, yang ditafsirkan lebih jauh bahwa di sekolah-sekolah umum milik negara tidak boleh ada doa atau hal-hal menyangkut iman Kristen.

Sekolah dasar West Marion, negara bagian North Carolina baru-baru ini memerintahkan seorang anak enam tahun untuk mengeluarkan kata “God” (Allah) dari puisi yang akan dibacakannya untuk memperingati Hari Veteran (lihat di sini).

Mr Huckabee kemudian mengklarifikasi bahwa dia tidak menganggap bahwa insiden penembakan itu tidak akan terjadi jika doa diizinkan di sekolah, tetapi hal itu memberi titik tentang pentingnya peran kehadiran Allah dalam sebuah budaya.

"Kita telah mengiringNya keluar dari kebudayaan kita dan kita telah mengeluarkan-Nya dari ranah publik kita, dan sekarang kita mengungkapkan kekagetan kita bahwa budaya tanpa Dia (Allah) benar-benar mencerminkan apa yang telah menjadi," kata Mr Huckabee.

Bendera setengah tiang dikibarkan di seluruh AS dan lonceng gereja dibunyikan sebagai tanda belasungkawa. Semoga duka nasional ini memimpin pada pertobatan nasional.***


------
"Berbaliklah kamu dari pada jalan-jalanmu yang jahat itu dan tetaplah ikuti segala perintah dan ketetapan-Ku, sesuai dengan segala undang-undang yang telah Kuperintahkan kepada nenek moyangmu dan yang telah Kusampaikan kepada mereka dengan perantaraan hamba-hamba-Ku, para nabi." (2 Raja-Raja 17:13)

Kapten Budi Soehardi akan membawakan kesaksian di GKI Sacramento, California

Written By Ray Maleke on Sabtu, 08 Desember 2012 | 12:22

Pak Budi dan Ibu Peggy membawa anak ke-48 untuk dibesar-
kan dengan penuh kasih sayang (foto: You Tube)
AMERIKA SERIKAT, California (Menara Penjaga, 8 Desember 2012). 

Nama Budi Soehardi menjadi perhatian dunia internasional ketika beliau menerima penghargaan dari sebuah stasiun TV di AS. Bpk Budi menerima penghargaan CNN Hero of the Year pada tahun 2009 yang lalu atas perjuangannya untuk memberikan sebuah keluarga bagi anak-anak yatim piatu dan yang kurang mampu di Kupang, Nusa Tengara Timur.

Bpk Budi sebelumnya berprofesi sebagai kapten pilot pesawat komersil Singapore Airlines selama 11 tahun, sebelum ia bersama isteri, Ibu Peggy, serta didukung oleh tiga orang anak remaja mereka, mendirikan Panti Asuhan Roslin yang beralamat di Desa Penfui Timur dusun 01, RT 01, RW 01 Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. http://www.roslinorphanage.org/

Per April 2011 PA Roslin menjadi tempat berlindung dan bertumbuh dari 70 orang anak. Oleh Bpk Budi dan Ibu Peggy anak-anak ini diperhatikan dan diberi kasih sayang seperti anak mereka sendiri.

Mengikuti penganugerahan award tahun 2009 itu, Chappy Hakim menulis:

Demi dan atas nama kemanusiaan, saya terima “award” ini, demikian Budi berkata dalam akhir sambutan singkat yang diucapkannya dengan terbata-bata penuh haru, namun dengan nada yang sangat tegas.   Budi menegaskan, dan ini terlihat jelas pada bahasa tubuhnya, bahwa dia tidaklah dan jauh dari satu upaya  mencari “award”  dalam bekerja mengelola panti asuhan bagi anak terlantar pengungsi Timtim.   Dia membuktikan kepada dunia, bahwa dirinya beserta Peggy sang isteri dan ketiga anaknya adalah orang-orang yang benar-benar tulus dan berhati mulia. (kompasiana)

Di tengah-tengah anak-anak PA (foto: roslinorphanage.org)
Sosok seperti Bpk Budi dan Ibu Peggy selalu menggugah rasa ingin tahu. Mereka mengesampingkan kemewahan dan keglamoran yang bisa dengan mudah diperoleh untuk mencari sesuatu yang lebih bermakna dalam hidup.

Orang-orang yang tidak banyak omong, akan tetapi langsung berbuat untuk mengangkat harkat sesama, menyelamatkan “masa depan suram” dari anak-anak yang terpaksa hidup tanpa belas kasih ayah dan ibunya.   Budi “the man of action”, mewakili Indonesia, tanpa banyak yang mengetahuinya, tanpa upaya gembar-gembor.   Budi…Sang Pahlawan! demikian lanjut Chappy. (kompasiana)

Minggu 9 Desember ini GKI Sacramento mengundang komunitas Indonesia di wilayah Sacramento, CA, dan sekitarnya untuk “mendengarkan kesaksian dari bapak Budi Soehardi.”

“Bapak Budi adalah seorang pelayan Kristen yang patut kita teladani, yang kesaksian hidupnya dapat menjadi inspirasi untuk pertumbuhan iman Kristen kita masing-masing,” terungkap dalam undangan itu.

Menetapkan apa yang dikatakan Pak Budi sendiri, dunia sungguh-sungguh menjadi tempat yang lebih baik karena orang-orang seperti keluarga Pak Budi.

Yang dekat di Sacramento, CA, jangan ketinggalan.***
Untuk melihat video Hero award Pak Budi, klik di sini.

Pdt Rick Warren: Toleransi bukan berarti menyetujui hubungan sejenis

Written By Menara Penjaga on Jumat, 30 November 2012 | 10:17

Pdt Rick Warren (foto: foxnewsinsider)
AMERIKA SERIKAT, California (29 November 2012).

Pendeta Rick Warren, pemimpin gereja Saddleback Church di California, AS, mengatakan bahwa bersikap toleran terhadap mereka yang menyukai sesama jenis tidak berarti menyetujui pilihan mereka. Hal ini diungkapkannya dalam acara “CBS This Morning” hari Selasa lalu dalam rangka peluncuran kembali bukunya The Purpose Driven Life yang diterbitkan 10 tahun lalu.1

Buku ini telah terjual lebih dari 60 juta kopi di seluruh dunia, sebuah rekor untuk sebuah buku renungan non-fiksi.

Tahun 2005 lalu Kristiani Pos menulis:Rick Warren telah mendirikan tiga yayasan untuk mendistribusikan 90 persen dari hasil keuntungan [penjualan buku itu] ke [pelayanan] global, termasuk menolong individu-individu di negara-negara berkembang yang terkena dan terpengaruh oleh AIDS.”2


Toleransi bukan berarti menyetujui

Pembawa acara Charlie Rose dan Norah O'Donnell menanyakan sejumlah pertanyaan berkaitan dengan moralitas, politik, termasuk 'pernikahan' sejenis. Pdt Rick mengatakan bahwa menurut Alkitab, orang harus bersikap toleran terhadap berbagai pandangan, sama seperti Yesus - tapi itu tidak berarti menyetujui semua pilihan.

Menanggapi permintaan Rose untuk lebih menjelaskan bagaimana seseorang bisa toleran namun menentang 'pernikahan' sesama jenis, Pdt Rick menjelaskan:

"Masalahnya adalah bahwa toleran telah berubah [diubah?] maknanya. [Kata] ini sebelumnya digunakan dalam arti 'Saya mungkin tidak setuju dengan Anda sepenuhnya, tapi saya akan memperlakukan Anda dengan hormat'. Hari ini, toleran diartikan 'Anda harus menyetujui semua yang saya lakukan'. Ada perbedaan antara toleransi dan persetujuan.
Yesus menerima semua orang tidak peduli siapa mereka. Ia tidak setuju dengan semua yang saya lakukan, atau Anda lakukan, atau yang orang lain lakukan. Anda bisa menerima tanpa menyetujui."3


Tidak semua perasaan alami adalah baik

Dalam sebuah wawancara di sebuah acara televisi lainnya, "Morgan Piers Tonight" di CNN yang ditayangkan pada hari yang sama, Pdt Rick juga disuguhi pertanyaan dengan topik yang sama.4

"Apakah Anda secara pribadi percaya bahwa orang yang menyukai sesama jenis dilahirkan demikian? Atau, apakah mereka nanti kemudian menyukai sesama jenis? Apakah mereka diciptakan sebagai penyuka sesama jenis?" Morgan, sang pembawa acara, meminta penjelasan Pdt Rick.

Anda tahu – keputusan juri belum ada untuk itu. Kalau nanti ditemukan adanya gen yang menyebabkan ketertarikan sesama jenis, hal itu tidak menggangu saya,” ungkapnya sambil menambahkan bahwa ia terbuka dengan diskusi semacam ini karena menurutnya setiap orang berhak diperlakukan secara terhormat dan dengan kasih.

"Ini yang kita tahu tentang kehidupan: Saya memiliki semua jenis perasaan alami dalam hidup saya dan itu tidak berarti bahwa saya harus melakukan semuanya. Kadang-kadang saya marah dan saya merasa seperti ingin menonjok seorang pria di hidung. It tidak berarti saya menindakinya. Kadang-kadang saya merasa tertarik pada wanita yang bukan istri saya, tapi saya tidak menindakinya," lanjutnya pemimpin dari sekitar 20.000 jemaat ini.

Hanya karena saya merasakan sesuatu, itu tidak membenarkannya. Tidak semua yang alami adalah baik bagi saya.” Ia menyimpulkan pendapatnya dengan mengatakan bahwa ia telah memilih Alkitab sebagai otoritas tertinggi dalam hidupnya, dan bahwa “Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa saya mempunyai kendali atas tindakan-tindakan saya.”

Di dunia Barat, mitos bahwa ketertarikan sesama jenis merupakan akibat gen sering dipakai sebagai legitimasi, karena dianggap dengan demikian Allah merancangkannya. Hal ini menjadi pertentangan teologi, karena pada kenyataannya ada juga hal-hal menyangkut genetika yang sulit dikatakan sebagai rancangan Allah, misalnya warisan gen BRCA1 dan BRCA2 yang tak normal akan menyebabkan kanker payudara.5 Dalam teologi Kristen hal ini dilihat sebagai akibat masuknya dosa dalam kehidupan manusia. 

Sementara itu, sampai sekarang ini para ilmuwan masih berdebat apakah ada yang disebut dengan "gay gene" itu. Sebuah artikel yang ditulis oleh Dr. Richard L. Deem yang menganalisa penelitian yang melibatkan saudara kembar, studi DNA, pengaruh hormonal, Xq28, dll, menyimpulkan bahwa penelitian sejauh ini belum pernah mengidentifikasi gen atau produk gen yang menyebabkan ketertarikan seksual terhadap sesama jenis.6


Tanggapan para homoseksualis terhadap Pdt Rick

Pernyataan-pernyataan Pdt Rick mendapat tanggapan keras dari para pendukung revolusi seksual yang pada prakteknya memarginalisasi hak-hak anak. Thinkprogress menggaris bawahi pernyataan Pdt Rick bahwa “menyukai sesama jenis adalah seperti 'menonjok seseorang di hidung'.”7

Thinkprogress juga menilai Pdt Rick sebagai seorang yang mempunyai sejarah panjang “menentang persamaan hak pernikahan.”

Sebuah video You Tube menuduh Pdt Rick melakukan “imperial evangelism” di Afrika.8 Namun, dipihak lain para pemimpin Afrika menuduh para pemimpin negara-negara Barat saat ini sedang melakukan bisnis neo-kolonialisme/imperialisme dengan mengimpose nilai-nilai mereka yang “un-Africa” (tidak Afrika) kepada masyarakat Afrika.9 

Ungkapan Pdt Rick bahwa “toleransi bukan berarti menyetujui” perlu senantiasa diingat dengan kasih dan dalam doa. (MP)





1 Rick Warren on Gay Marriage: 'Tolerance Does Not Mean Approval', The Christian Post (link). 
 
2 Rick Warren Umumkan Global Peace Plan untuk Berperang Melawan Raksasa Dunia, Kristiani Pos (link).

3 Rick Warren on Gay Marriage: 'Tolerance Does Not Mean Approval', The Christian Post (link). 
 
4 Rick Warren on Homosexuality: 'Not Everything Natural Is Good for Me', The Christian Post (link).

5 Genetics, BreastCancer.org (link). 

6 Genetics and Homosexuality: Are People Born Gay? The Biological Basis for Sexual Orientation, God and Science (link).

7 Rick Warren: Being Gay Is Like ‘Punching A Guy In The Nose’ Or Consuming Arsenic, ThinkProgress (link).

8 Imperial Evangelism: Reverend Rick Warren in Africa, You Tube (link). 

9 Presiden Gambia: Kami tidak akan pernah menerima “pernikahan gay yang tidak patut”, Menara Penjaga (link); Kristen dan Muslim bergabung menentang agenda homoseksualisme di Liberia, Menara Penjaga (link).

Apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama?

Written By Ray Maleke on Sabtu, 10 November 2012 | 01:04

Presiden AS Barack Obama (foto: csmonitor)
AMERIKA SERIKAT, West Virginia (10 November 2012).

Setelah penandatanganan Deklarasi Kemerdekaan (Declaration of Independence) dari Kerajaan Inggris (4 Juli 1776) oleh para pendatang di Dunia Baru di tiga belas koloni Amerika, Samuel Adams menyatakan: "Hari ini, saya percaya, pemerintahan politik Protestan akan dimulai."1 Hampir semua dari 56 penanda-tangan Deklarasi itu berafiliasi dengan gerakan Protestan.

Dalam artikelnya “The Middle Colonies as the Birthplace of American Religious Pluralism” (Wilayah Koloni Tengah sebagai Tempat Lahir Pluralitas Agama Amerika), Patricia Bonomi, profesor emeritus di New York University menulis: "Koloni [Amerika] terdiri sekitar 98 persen Protestan."2

Menyikapi kesan di atmosfir negara berpenduduk ketiga terbesar di dunia ini yang semakin menjauh dari etika moral kekristenan, [dengan tidak mengenyampingkan pertanyaan keadilan bagi para penduduk asli Amerika Utara], Julio Severo menulis “Pemerintahan politik Protestan di Amerika mulai menurun ketika liberalisme menyerang gereja-gereja...dan ketika pendidikan yang berpusat pada negara menggantikan pendidikan yang berpusat pada keluarga.” Menurutnya dalam kedua hal ini gereja dan keluarga melakukan penolakan, namun “kecil.”3

Hari ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, AS tidak memiliki mayoritas Protestan, seperti laporan AP baru-baru ini. Sementara liberalisme meningkat di gereja-gereja Protestan, AS melihat penurunan jumlah anggota [gereja-gereja Protestan], dan banyak dari pemimpin mereka tidak lagi sejalan dengan Injil itu sendiri,” lanjutnya. 
Severo menilai bahwa gerakan Protestan di AS telah menjauh dari para penggagasnya yang menentang “kejahatan demi Injil itu sendiri.” 

Gerakan Protestan dihubungkan dengan Martin Luther ketika ia menempelkan 95 dalil di pintu Gereja Wittenberg, Jerman, pada tanggal 31 Oktober 1517.

Sekitar 500 tahun yang lalu Luther juga menulis: "Saya sangat takut kalau sekolah-sekolah akan terbukti menjadi gerbang besar menuju neraka, kecuali sekolah-sekolah itu [para pekerjanya] rajin bekerja dalam menjelaskan Kitab Suci, dan mengukirkannya dalam hati kaum muda."4


Sekolah tanpa agama

Di puncak gerakan Aufklarung (Pencerahan) yang mengadvokasi pemisahan negara dan agama, namun pada tataran ideologinya adalah sekularisasi masyarakat, sekolah-sekolah hendak dibersihkan dari pengaruh agama (sic. kekristenan).

Para penganut gerakan ini menggunakan berbagai posisinya untuk maksud ini, baik di Eropa maupun di berbagai koloninya. Ambil contoh di Minahasa. Pada tahun 1845, Residen A. J. Van Olphen menginstruksikan bahwa Agama Kristen sudah tidak bisa diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah dan sekolah misi. Atas perjuangan Nederlandsch Zendeling-gnootschap (Badan Misi Belanda) peraturan ini tidak diberlakukan di sekolah misi.5 Agenda Aufklarung di Indonesia tercegal dengan lahirnya Pancasila, yang sekarang menjadi sebuah target ideology.

Di AS, dengan preteks pemisahan antara negara dan agama, maka sekolah-sekolah negara atau yang ditunjang oleh negara tidak boleh mengajarkan agama pada murid-muridnya.6 Kelompok-kelompok ateis sangat militan dalam menjaga kebijakan ini. Menyanyikan sebuah lagu yang menyebut “Allah” atau “Tuhan” saja tidak luput dari gugatan hukum mereka.7 Hal ini praktis merupakan supresi agama di dalam pikiran anak-anak dan masyarakat.

Tidak banyak yang menyadari apa yang ditunjukkan oleh Francis Fukuyama bahwa gerakan Protestan telah ditunggangi oleh gerakan Aufklarung sebagai agen sekularisasi,8 atau lebih tepat sekularisasi kebablasan. Karena jika awalnya adalah untuk tujuan demokratisasi dan toleransi beragama, pada akhirnya secara ekstrim telah meminggirkan agama-agama dari realitas publik masyarakat Eropa dan Amerika Utara, dan pada saat yang sama, mendorong Darwinisme/Naturalisme sebagai spritualitas yang 'valid'.


Pendidikan Katolik

Pada tahun 1840, di New York, ketika identitas Protestan masih sangat kuat di antara para settlers, dengan ekses yang menyebabkan diskriminasi terhadap murid-murid berlatar-belakang Katolik, Bishop John Hughes melayangkan protes.

Kami menolak membayar pajak yang [maksud penggunaannya] adalah menghancurkan agama kami dalam pikiran anak-anak kami.” Ia menuntut supaya New York Public School Society juga menopang sekolah-sekolah Katolik.9

Ketika pada tahun 1850 ia terpilih sebagai Uskup Agung New York, ia menggunakan wewenangnya untuk menciptakan sebuah sistem pendidikan Katolik swasta. Sekarang ini, ketika pendidikan Katolik masih merupakan pendidikan alternatif di AS, pendidikan Protestan telah hampir menyeluruh menghilang, dan yang masih berfungsi, sedikit yang dapat dikatakan beroperasi di luar ideologi sekuler.

Keberatan yang disampaikan oleh Severo adalah bahwa sekolah modern saat ini tidak berusaha untuk menjelaskan atau “mengukirkan” Alkitab di hati para generasi muda. “Sebaliknya, sekolah mengukirkan homoseksualitas dan penyimpangan lainnya” dalam hati mereka. Karena itu baginya, mengutip Luther, “Sekolah secara efektif telah menjadi gerbang besar neraka.”


Home Schooling

Situasi ini membuat banyak orangtua mulai memilih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di rumah. Ini pun bukan tanpa problema. Di AS sekarang ini home schooling masih merupakan alternatif pendidikan anak-anak, tapi pertanyaannya adalah sampai berapa lama kebijakan ini akan bertahan?

Di Kanada, homoseksualisme telah mulai diajarkan pada anak-anak di tingkat taman kanak-kanak.10 Di Provinsi Alberta, bahkan para orang tua yang memilih home schooling sebelumnya telah menerima tekanan untuk melakukan hal yang sama di sekolah rumah mereka, sekalipun Pemerintah kemudian mundur dengan mengalirnya komplain dari orang tua.11 Dalam situasi ini semuanya berargumen dengan mengutip “hak asasi manusia.”

Menyeberang ke Eropa, yang dilaporkan sangat senang dengan terpilih kembalinya Mr. Obama, Norbert Blum, seorang figur dalam Persatuan Kristen Partai Demokrat, mengatakan, “Saat ini saya mengamati perampasan total anak-anak oleh negara.” Mereka meninggalkan rumah pagi-pagi dan pulang sore.

"Saya menentang monopoli pendidikan negara dan melihat home schooling oleh orang tua yang bertanggung jawab sebagai tanggapan yang sehat terhadap sistem sekolah yang bersifat mutlak," demikian dikutip Home School Legal Defence Association.12

Pada zaman Nazi, home school dinyatakan ilegal di Jerman. Baru-baru ini pihak berwenang di Jerman telah menindak sebuah keluarga yang menerapkan home school, memberi sangsi denda yang mencekik leher, merampas anak-anak dari rumah mereka, dan memenjarakan orang tua yang terus mengajar anak-anak mereka di rumah.

Awal bulan ini, sebuah pengadilan distrik di Darmstadt memisahkan sebuah keluarga, dan menyerahkan anak-anak mereka ke lembaga anak, karena orang tua mereka menyekolahkan mereka di rumah.13

Kita kadang berpikir bahwa negara-negara yang mengagung-agungkan demokrasi ini adalah kebalikan dari retorik “fundamentalisme” yang sering diarahkan pada negara-negara Islam. Tapi kalau kita melihat lebih dekat lagi, apakah kita masih dapat berpikir demikian?

Kembali pada pertanyaan di atas, apakah pendidikan adalah salah satu faktor dalam kemenangan Presiden Obama? Saya berharap tulisan ini dapat menjadi pengantar dalam sebuah diskusi yang membukakan pikiran in our connected world today.***



-------
1  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
2  The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
3  Julio Severo, A New Reformation to Counter-Attack the Great Gates of Hell?: Martin Luther warns modern-day parents, Last Day Watchman (link); Tulisan ini dielaborasi dari artikel Severo. 
4  S. Michael Craven, Christian and Public Education, Christianity.com (link); The American Minute: October 31, Conservative Action Alerts (link).
5  F. S. Watuseke, Sejarah Minahasa (Manado: Pertjetakan Negara, 1968), 41.
6  Lihat tulisan S. Michael Craven, Christian and Public Education (link), yang memberi sinopsis tentang problematika sekolah negara di AS.
7  Atheistic FFRF Pledges Legal Battle as NY Public School Refuses to Remove ‘God’ & ‘Lord’ Songs, The Blaze (link).
8  Lih. Adian Husaini, Wajah peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal (Jakarta: Gema Insani, 2005), 82.
9  http://www.pbs.org/kcet/publicschool/photo_gallery/photo2.html
10  Toronto school board: Parents can’t opt kids out of pro-homosexual curriculum, LifeSiteNews (link).
11  Alberta backtracks: Parents can teach beliefs on homosexuality, but homeschoolers still concerned, LifeSiteNews (link).
12  German politician blasts 'state education monopoly,' speaks out for homeschooling, LifeSiteNews.com (link).
13  German parents lose custody of their children for homeschooling, LifeSiteNews (link).

Reaksi umat Kristen di Amerika Serikat setelah kemenangan Presiden Obama (2)

Written By Menara Penjaga on Jumat, 09 November 2012 | 08:17

Pdt Samuel Rodriguez (foto: urbanchristiannews.com)
AMERIKA SERIKAT, Washington, DC (9 November 2012).

Kemenangan Presiden Barack Obama pada pemilihan umum hari Selasa lalu salah satunya disebabkan oleh dukungan masyarakat berlatar belakang Hispanik/Latino di Amerika Serikat. Berikut ini pengamatan dari Pdt Samuel Rodriguez ketua Konferensi Kepemimpinan Kristen Nasional Hispanik dan penasihat senior untuk editorial The Christian Post, seperti dilaporkan Napp Nazworth, wartawan The Christian Post.
-------
Pemilu hari Selasa lalu harus menjadi "wake-up call" bagi Partai Republik untuk berbuat lebih banyak demi menjangkau pemilih non-Kaukasian, ungkap Pdt Samuel Rodriguez.

Menurutnya, menyikapi masyarakat Latino (Hispanik) dalam pemilihan umum, Partai Republik punya dua pilihan: tetap dengan strategi “Southern yang eksklusif” dan “yang tidak lagi berlaku dalam realitas abad ke-21,” atau mengalami 'saat datang kepada Yesus'... di mana mereka menyadari bahwa Amerika telah berubah," ungkapnya.

Presiden Barack Obama berhasil mempertahankan kursi kepresidenan dengan kekuatan pemilih non-Kaukasian yang menyalurkan suara mereka untuk Partai Demokrat dalam jumlah besar. Mr. Obama kehilangan 20 poin persentase dengan pemilih Kaukasian. Dalam setiap pemilu sebelum 2012, hal ini berarti kemenangan telak bagi Partai Republik.

Banyak di kalangan Partai Republik yang menyadari bahwa pergeseran demografis yang terjadi di AS tidak menguntungkan mereka, namun bagi mereka pergeseran itu adalah hal yang akan mereka hadapi di masa depan, dan bukan pada hari Selasa lalu.

"Partai Republik perlu mengakui fakta bahwa mereka menderita miopi budaya, dan gagasan untuk menghiasi 75 persen suara dari partisipasi warga kulit putih dan memenangkan pemilu berlandaskan pemilih kulit putih yang solid telah berakhir," jelas Pdt Rodriguez. 

Sebagai seorang pendeta, Rodriguez tidak mendukung atau menyokong salah satu dari mereka, dan telah memberikan saran kepada para politisi dari kedua belah pihak.

Strategi yang harus dikejar oleh Partai Republik, saran Pdt Rodriguez, adalah "mengubah citra dirinya menjadi partai Abraham Lincoln dan Ronald Reagan - sebagai [lambang] keadilan, optimisme, dan partai [yang mendukung] kebebasan."

Bagian dari perubahan itu berarti menambahkan pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan reformasi imigrasi ke platform Partai Republik. Pdt Rodriguez percaya bahwa Partai Republik bisa melakukan ini tanpa mengorbankan prinsip-prinsip inti. Dan jika mereka melakukannya, "mereka akan membuat terobosan signifikan ke dalam komunitas Hispanik dan dalam komunitas Afrika-Amerika."

Tapi "tanpa suara masyarakat Hispanik dan Afrika-Amerika, itu namanya game over. Partai Republik akan terpinggirkan ... pada generasi mendatang."

Pdt Rodriguez meyakini bahwa dua faktor yang menciptakan sebuah "badai yang sempurna" dan yang menyakiti peluang Mr. Romney bersama para pemilih Latino dalam ini pemilu ini adalah: retorika imigrasi Mr. Romney ketika pemilihan awal Partai Republik dan sebuah program yang dikeluarkan Mr. Obama yang disebut "Dream Decision.

Sebagian besar retorika selama pemilihan awal Partai Republik mengasingkan pemilih Latino, jelasnya, seperti ketika Mr. Romney menggunakan ungkapan "self-deportation" (mendeportasi diri sendiri) dalam menggambarkan kebijakan imigrasinya.

Sebelum musim panas lalu Mr. Obama mengalami kesulitan dengan para pemilih Latino. Mereka marah karena ia telah meningkatkan pendeportasian secara dramatis dan tidak menepati janjinya untuk melakukan reformasi keimigrasian di masa jabatannya yang pertama.

Namun demikian, Juni lalu, Mr. Obama mengumumkan bahwa Departemen Kehakiman tidak lagi mendeportasi imigran tidak sah yang dibawa ke AS sebagai anak-anak, yang sudah lulus dari sekolah tinggi, yang bertugas di militer atau memperoleh GED (semacam ujian persamaan sekolah menengah), dan yang tidak memiliki catatan kriminal. Keputusan ini mirip dengan RUU “the DREAM Act,” yang tidak disahkan oleh Kongres. Program “Dream Decision” yang diluncurkan Mr. Obama memberi energi bagi para pemilih Latino untuk kembali mendukungnya.

Pdt Rodriguez percaya bahwa meskipun Mr. Obama membuat "Dream Decision," Partai Republik bisa memenangkan pemilih Latino jika saja mereka memilih kandidat yang berbicara mengenai reformasi imigrasi dengan nada yang lebih moderat, seperti Mike Huckabee, Marco Rubio atau Newt Gingrich.

Jika saja Partai Republik memilih kandidat yang "lebih ramah" mengenai isu reformasi imigrasi, ungkap Pdt Rodriguez, maka para Latino akan melihat "Dream Decision" Mr. Obama sebagai "alat politik," untuk memperoleh suara mereka, "setelah ia medeportasi 500.000 orang, [karena] tidak meluluskan reformasi imigrasi."

Pdt Rodriguez sempat berbicara dengan Mr. Romney selama Konvensi Nasional Partai Republik, di mana ia diminta menjadi salah satu dari yang membawakan doa-doa berkat. Tim kampanye Mr. Romney memahami bahwa mereka telah "kelewatan" dalam retorika mereka mengenai imigrasi selama masa pemilihan awal, sehingga Mr. Romney sepertinya menyetujui saran Rodriguez dan karenanya mengubah bagaimana ia berbicara tentang imigrasi setelah itu. Tapi itu agak sedikit terlambat.

"Pada akhirnya, kerusakan telah terjadi - retorika “deportasi diri sendiri,” laga awal para kandidat Partai Republik, bahkan retorika Partai Republik tentang reformasi imigrasi membuat pemilih Latino terasing," jelas Pdt Rodriguez. (The Christian Post)

-------
Perenungan bagi orang Kristen adalah apakah yang akan terjadi jika mereka menunaikan kewajiban politik mereka lewat sebuah entitas politik yang dinafasi dengan Kabar Baik bagi orang miskin, orang asing, keberpihakan kepada yang tertindas dan terpinggirkan, dan yang mencari perdamaian dan damai sejahtera bagi dunia.  
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger