"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , , , » Kasus Rohingya "bukan konflik etnis dan agama"

Kasus Rohingya "bukan konflik etnis dan agama"

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 11 Agustus 2012 | 11:46

Presiden Myanmar (Burma) Thein Sein
(foto: bloomberg)
MYANMAR*, Naypyidaw.
Presiden Myanmar Thein Sein menegaskan, insiden yang melibatkan warga etnis minoritas Rohingya di Negara Bagian Rakhine tak ada kaitan dengan konflik etnis dan agama, tetapi tindak kriminal biasa. Dia menyadari, amat berbahaya jika isu agama telah muncul.

Ketua Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla menjelaskan hal itu seusai bertemu Thein di kantor Presiden Myanmar di Naypyidaw, ibu kota baru negara itu, Jumat (10/8). Kalla didampingi, antara lain, Asisten Deputi Sekretaris Jenderal OKI Atta El-Manan Bakhit dan Duta Besar RI untuk Myanmar, Sebastianus Sumarsono.

”Presiden Thein Sein menjelaskan tentang kejadian di Rohingya, khususnya yang dimulai pada Juni tahun ini. Dimulai dengan kasus kriminal di antara beberapa anak muda. Lalu, ada aksi saling balas, yang dengan cepat menjadi besar,” kata Kalla, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Pascal S Bin Saju, dari Naypyidaw.

Thein Sein mengatakan, pertikaian di antara kedua kelompok itu menyebabkan lebih dari 70 orang tewas. Menurut dia, dibandingkan kasus sektarian di negara lain, konflik di Rakhine ini tidak terlalu besar.

Thein Sein juga menjelaskan, saat ini ada 60.000 pengungsi di Sittwe, ibu kota Negara Bagian Rakhine. Mereka ditangani dengan baik berkat bantuan PBB, lembaga asing lain, termasuk Indonesia, Turki, dan negara Islam lainnya.

Menurut Thein Sein, Myanmar sangat senang dan terbuka menerima bantuan terkait kasus Rohingya. Myanmar juga siap menyalurkan bantuan itu kepada kelompok masyarakat yang menjadi korban.

Peristiwa kriminal dapat dengan mudah diprovokasi dengan sentimen agama atau etnik menjadi peristiwa berdarah yang menimbulkan korban jiwa dan materi masyarakat tak bersalah. Dialog antar-agama dan lembaga adat perlu diadakan untuk menciptakan strategi pencegahan konflik yang membawa penderitaan bagi banyak orang, dan teristimewa menghindarkan isu agama dan etnik dijadikan alat pemecah belah untuk penguasaan politik dan ekonomi dari pihak luar. Masyarakat harus pintar. (Kompas.com/MP)


Berita terkait: 50 Tewas: 'Senjata' instabilisasi di Burma

Foto-foto palsu mengenai pembunuhan umat Muslim di Burma dapat dilihat di sini.

*Myanmar disebut juga Burma
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger