"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , , , » 50 Tewas: 'Senjata' Instabilisasi di Burma

50 Tewas: 'Senjata' Instabilisasi di Burma

Written By Ray Maleke on Jumat, 22 Juni 2012 | 09:56

Isu-isu sektarian, terutama yang mencatut nama agama,
belakangan ini terus menjadi pemberitaan media.
Orang-orang tidak lagi dilihat sebagai manusia,
melainkan telah dikecilkan menjadi sebuah label etnik
atau agama yang seakan memberi alasan untuk perlakuan
yang tidak manusiawi. Berapa banyak jiwa tak bersalah
terimbas kerusuhan yang dapat dihindari seperti ini?
50 tewas dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal akibat kerusuhan yang terjadi antara pemeluk agama Buddha dan Islam di negara bagian Rakhine, Burma, demikian dilaporkan BBC News.

50 orang dari dua belah pihak tewas sejak kerusuhan pecah Mei lalu. Sekitar 2500 rumah dibakar dan 30.000 orang – baik pemeluk agama Buddha maupun Islam – saat ini ditampung di 37 lokasi pengungsian di berbagai tempat di Rakhine.





Kronologi kerusuhan:
  1. Seorang wanita pemeluk agama Buddha dilaporkan diperkosa oleh pemeluk Islam.
  2. Tanggal 4 Juni, sebuah bus dicegat sekumpulan orang dan 10 orang pemeluk agama Islam dibunuh.
  3. Tiga orang dari masyarakat Muslim kemudian ditangkap atas tuduhan pemerkosaan, dua di antaranya dijatuhi hukuman mati, dan satu meninggal dalam tahanan.
  4. Setelah serangan terhadap bus itu, sekumpulan orang setelah shalat Jumat bertemu di Maung Daw dan mulai melempari gedung-gedung di sekitarnya. Setelah kedatangan polisi, mereka bubar tapi dilaporkan pembakaran rumah mulai terjadi di desa-desa pemeluk agama Buddha.
  5. Jam malam diterapkan di Maung Daw, tetapi kerusuhan mulai tersebar di banyak kota lainnya.
  6. Masyarakat pemeluk agama Buddha juga melakukan balasan terhadap desa-desa yang dianggap penduduknya adalah pemeluk Islam.
“Setiap orang bertanggung jawab untuk mencegah hal ini terjadi kembali...tapi sangat sulit mengadakan pembicaraan damai saat ini karena kedua pihak saling curiga satu dengan yang lain,” ungkap Htei Lin dalam jumpa pers di Sittwe waktu lalu.

Situasi yang memprihatinkan di Rakhine membuat para pengungsi Rohingya mencoba memasuki negara tetangga Banglades dengan menggunakan perahu. Sayangnya penjaga perbatasan tidak mengijinkan mereka masuk. Setidaknya 1500 orang dilaporkan disuruh pulang.

Nama Rakhine diambil dari kelompok etnik Rakhine pemeluk agama Buddha dan merupakan mayoritas di negara bagian ini. Sementara itu, di daerah ini terdapat juga masyarkat Muslim yang jumlahnya cukup besar. Di dalamnya termasuk etnik Rohingya, yang dianggap bukan warga negara oleh pemerintah Burma.

Sekarang ini Rakhine berada dibawah kendali militer yang diberitakan memiliki sejarah melakukan kekerasan terhadap rakyat, baik beragama Buddha maupun Islam. Utusan PBB, Vijay Nambiar, yang melawat lokasi konflik mengatakan bahwa keamanan sudah dalam keadaan terkendali dengan keberadaan tentara, tetapi situasi masih tegang.

(foto: AFP)
Setelah bangsa, agama bisa menjadi 'senjata' instabilisasi di Burma. Dilaporkan terdapat 135 kelompok etnik di Burma. Yang terbesar adalah Bamar yang mencakup sekitar 68% dari total populasi yang diperkirakan berjumlah 60 juta jiwa lebih pada tahun 2010. Sekitar 89% memeluk agama Buddha, dan pemeluk agama Kristen dan Islam masing-masing diperkirakan sebesar 4%. Doakan supaya masyarakat Burma dapat menemukan titik rekonsiliasi, kembali membangun kampung halamannya dan dijauhkan dari peristiwa memilukan seperti ini di kemudian hari. (BBCNews (1)/ BBC News (2)/ MP)
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger