"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

4 cara mengenali agama seseorang dalam diskusi di dunia maya

Written By Ray Maleke on Kamis, 05 September 2013 | 21:14


  1. Salam yang dipakai
    Syalom/shalom (Aleichem) biasanya Kristen. Assalam 'Alaikum biasanya Muslim. Tapi orang Kristen di Arab juga mengatakan assalam 'Alaikum, sedang Muslim dan Yahudi di Israel juga mengatakan syalom Aleichem. Semua berarti “salam damai sejahtera/keselamatan [bagimu].” 

    Buddha namo (terpujilah Buddha) sering dipakai sebagai salam antara pengikut Budha. Namaste (aku memberi hormat kepadamu) untuk yang beragama Hindu. Penganut agama Khonghucu mengatakan wie de dong Tian yang berarti “hanya kebajikan Tian/Tuhan berkenan.”
    Ada lagi agama-agama dengan salamnya masing-masing. Yang tak bersifat keagamaan, misalnya “tabik” (Melayu) atau halo (umum).

  1. Kapitalisasi
    Pemberian huruf besar tidak selalu menunjukkan agama seseorang, tapi biasanya umat beragama yang tahu menggunakan tombol Shift dan Caps Lock di komputer memberi huruf besar untuk Nabi Muhammad (bagi yang Muslim). Penganut agama Kristen melakukannya untuk Yesus Kristus. Sebutan Tuhan, Allah, Ruh Allah dan berbagai rujukan lainnya kepada Sang Pencipta atau Ke-Allah-an (God-head), termasuk kata ganti orang (Aku, Engkau/-Mu, Dia/-Nya) dikenakan huruf besar.

    Selain mengikuti kaidah penulisan umum, kapitalisasi juga menunjukkan rasa hormat. Itu sebabnya, pemberian huruf besar tidak hanya bisa menunjuk pada agama seseorang, tapi juga rasa hormatnya pada agama sendiri termasuk agama orang lain.

  1. Profile picture (gambar/foto profil)
    Gambar atau foto profil juga dapat memberi indikasi agama seseorang. Ada yang karena kecintaan dan penghargaan yang dalam terhadap agama (baca: iman)-nya menaruh profile picture yang sesuai. Ada yang memuat gambar salib Kristus, kaligrafi Quran, atau simbol-simbol agama lainnya.

    Jika foto pribadi yang dipakai, pakaian dan atribut dapat juga memberi indikasi, tapi jangan lupa bahwa semua itu adalah juga bagian budaya, sehingga seorang perempuan yang tampak berbusana Muslim dengan penutup kepala bisa jadi adalah seorang Kristen.


  1. Komentar dan postingan wall-group
    Barangkali komentar dan postingan wall-group seseorang adalah faktor utama penentu kita mengenali agama yang bersangkutan dalam diskusi di dunia maya.

    Seorang penganut agama yang sungguh-sungguh mempunyai kerinduan untuk membagikan kebenaran yang telah dia temukan. Seorang Kristen biasanya memuat ayat-ayat Alkitab atau renungan yang membangun iman. Seorang Muslim mengutip bagian Quran yang memberi nasihat atau kekuatan. Pengikut agama Buddha, Hindu, Konghucu, dll memuat ajaran-ajaran kebajikan. Banyak yang membagikan link ke artikel tentang pengenalan agamanya atau hal-hal penting lainnya.
    Akan tetapi, komentar atau wall-post yang menyerang, mendiskreditkan, menganggap rendah agama orang lain tidak semerta-merta menunjukkan agama yang nampak dianut orang itu. Yang pasti adalah itu menunjukkan karakter orang itu.

    Dapat dikatakan bahwa orang yang melecehkan agama orang lain, melecehkan agamanya sendiri. Dan orang yang melecehkan agamanya sendiri dan agama orang lain adalah orang yang tidak beragama. Atau paling tidak orang yang belum sungguh-sungguh beragama, jika bukan provokator.

    Perbedaan pikiran dan pemahaman agama perlu disampaikan dengan rasa hormat dan santun. Itu tidak berarti mengkompromikan kepercayaan masing-masing.

    Tak dapat disangkal, orang-orang (atau akun facebook, dll) dalam diskusi mengenai pokok-pokok kepercayaan yang menghadirkan perbedaan pendapat dan sudut pandang agama memberi imej terhadap agama itu sendiri. Karena itu kekritisan dalam menilai agama seseorang sangat diperlukan.

    Mari kembangkan diskusi yang santun dan bermartabat. [+]



Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger