"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Uganda: Upaya legislasi untuk melindungi anak dan keluarga dari campur tangan asing

Written By Menara Penjaga on Kamis, 13 Desember 2012 | 02:50

Umat Kristen mendedikasikan Uganda kepada Allah pada
iven Doa Tahun Yobel Nasional (foto: New Vision).
UGANDA, Kampala (MP) -- “Allah Bapa di surga, hari ini kami berdiri di sini sebagai masyarakat Uganda, terima kasih untuk Uganda. Kami berterima kasih atas semua kebaikan-Mu kepada kami. Saya berdiri di sini hari ini untuk menutup masa lalu yang jahat dan terutama menyangkut kepemimpinan nasional kami. Saya berdiri di sini atas nama saya sendiri dan atas nama para pendahulu saya untuk bertobat. Kami meminta pengampunan-Mu.”1

Ungkapan doa di atas merupakan petikan doa Presiden Uganda Yoweri Museveni pada perayaan 50 tahun kemerdekaan Uganda dari Inggris pada 9 Oktober lalu.2

Sementara dalam upaya untuk membangun Uganda yang sejahtera dan takut akan Tuhan, negara yang bermoto “untuk Tuhan dan untuk negaraku” ini sedang berada di bawah lampu sorot administrasi pemerintahan beberapa negara Barat, karena upaya hukumnya untuk meningkatkan sangsi terhadap promosi dan praktek hubungan sejenis di Uganda.


RUU untuk melindungi anak-anak Uganda

Sebuah RUU, yang telah mengalami revisi sejak dimajukan tahun 2009, melarang promosi hubungan sejenis dalam bentuk apapun, mengkriminalisasi siapapun yang "mensponsori atau memberi dukungan dana terhadap homoseksualitas" atau "bersekongkol untuk homoseksualitas."3

Di dalamnya termasuk klausul yang menyinggung sentimen para homoseksualis yaitu, bahwa “homoseksualitas yang berat” – yaitu jika dilakukan terhadap anak-anak dan menderita penyandang cacat, pelaku memiliki HIV-positif, dan “serial offender” (pelaku pelanggaran berulang) diancam dengan hukuman mati.

Tanggal 30 November baru lalu The Associated Pres, seperti dimuat ABCNews, melaporkan ungkapan anggota Parlemen David Bahati bahwa RUU yang diharapkan untuk divoting bulan depan (Desember ini, red), telah "menjauh dari hukuman mati setelah mempertimbangkan semua isu yang telah diajukan."4

"Tidak ada hukuman mati," katanya kepada
AP.

Mr Bahati mengatakan RUU itu sekarang berfokus pada melindungi anak dari promosi praktek homoseks lewat pornografi, melarang pernikahan sesama jenis, [memberikan atau melarang?] konseling pada pelaku, serta menghukum mereka yang mempromosikan budaya hubungan sejenis. Hukuman penjara akan diberikan untuk berbagai pelanggaran, katanya tidak merinci.5

Versi terbaru dari RUU tersebut belum dirilis ke publik, namun bentuk awalnya dapat di lihat di sini.


Kemungkinan bahaya yang mengancam anak-anak

Dr Scott Lively, seorang aktivis pro-keluarga dan pengacara yang berbasis di California berada di Uganda pada bulan Maret lalu sebagai konsultan dalam mempertimbangkan undang-undang ini di tingkat legislator, mengungkapkan bahwa RUU ini sendiri merupakan tanggapan terhadap tekanan para homoseksualis internasional supaya Uganda menerima praktek dan promosi hubungan sejenis di tengah masyarakat Uganda.6

Dalam sebuah wawancara dengan LifeSiteNews, Dr Lively menjelaskan bahwa yang mendorong lahirnya RUU ini adalah "banyaknya campur tangan pihak luar yakni dari aktivis sesama jenis Eropa dan Amerika yang mencoba untuk melakukan di Uganda apa yang mereka lakukan di seluruh dunia – menghomoseksualisasi masyarakat itu.” Salah satu kekhawatiran utama mereka jelasnya adalah pria pelaku hubungan sejenis, "yang datang ke negara itu dan melecehkan anak-anak yang berada di jalanan."


Dukungan masyarakat

RUU ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Uganda.  

November lalu sebuah petisi dimasukkan ke parlemen untuk mendukung RUU ini. “Ketua, kita tidak bisa hanya duduk sementara seperti sebuah fenomena yang menghancurkan sedang terjadi di negara kita," demikian petisi yang disampaikan oleh masyarakat itu kepada Ketua Parlemen Uganda Rebecca Kadaga

"Oleh karena itu kami, sebagai warga negara yang bertanggung jawab, merasa berkewajiban untuk membawa masalah ini untuk mendapat perhatian Anda sebagai pemimpin Parlemen ... sehingga anggota parlemen dapat melakukan sesuatu secepatnya untuk mengatasi situasi yang memburuk di negara kita."7

Semoga para pemimpin dan masyarakat Uganda diberikan hikmat dan kebajikan dalam menjaga keutuhan dan kebaikan bangsa dan negaranya. (MP)


Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada. (Amsal 11:14)

-------
1 For the sins of Uganda, I repent — Museveni, New Vision (link); Doa Seorang Presiden, DCI Indonesia (link).

2 Uganda Parliament Set to Criminalize Homosexuality Month After President Leads Prayer of Repentance, Christian News (link).

3 Uganda Anti-Homosexuality Bill: MPs drop death penalty, BBC News (link).

4 Uganda's Anti-Gay Bill Won't Contain Death Penalty, ABCNews (link).

5 Uganda's Anti-Gay Bill Won't Contain Death Penalty, ABCNews (link); Jika yang dimaksud oleh laporan ini adalah Mr Bahati melarang konseling terhadap pelaku hubungan sesama jenis, maka hal itu perlu mendapat revisi, karena dalam kasus pelaku kejahatan apapun seorang tak boleh dicegah dari pelayanan konseling. 

6 Int’l Pressure on Uganda to Accept Homosexuality Caused Over-the-Top Sanctions: Christian Activist, LifeSiteNews (link).

7 Uganda Parliament Set to Criminalize Homosexuality Month After President Leads Prayer of Repentance, Christian News (link).
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger