"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Penelitian: Perempuan semakin “dipornofikasi” di media; Majalah perempuan baru terbit

Written By Menara Penjaga on Jumat, 26 Oktober 2012 | 07:39

Catherine dan Abby Pelicano, pendiri Dignitas Magazine
(foto: LSN)
AMERIKA SERIKAT, New York (25 Oktober 2012).
 
Sebuah majalah perempuan baru dengan platform keanggunan yang berpusat pada Kristus, Dignitas Magazine, diterbitkan oleh kakak-beradik Abby Pelicano dan Catherine Pelicano, demikian dilaporkan LSN (19/10/12).
 
Menurut keduanya, majalah ini mengembangkan apa yang mereka sebut "pendekatan holistik" terhadap martabat perempuan, menampilkan keindahan kewanitaan yang otentik, dari luar dan dari dalam.
 
"Kami membaca tentang nilai manusia di mata Tuhan," kata Abby yang berprofesi sebagai graphic designer dan fotografer. "Tapi melihat budaya di sekeliling, kami tidak melihat bahwa nilai ini ditunjukkan.”
 
"Jika kita memiliki martabat yang datang dari Tuhan, maka itu seharusnyalah berdampak pada bagaimana kita berpakaian, cara kita berbicara, bagaimana kita menampilkan diri kepada dunia."
 
Dalam edisi perdana yang diterbitkan April lalu, majalah ini mengungkapkan:
"Kebenaran tentang martabat kita yang berasal dari Tuhan memberi kita dasar yang kuat untuk mengatakan "tidak" terhadap tren fashion yang mengekspos tubuh kita. Pada saat yang sama keindahan panggilan Kristus kepada kekudusan memotivasi kita untuk meninggalkan provokasi buruk tentang 'kewanitaan yang ideal' dalam budaya kita. Di situ kita menemukan tantangan yang memberi sukacita tentang bagaimana berpakaian menarik namun sederhana sehingga menegaskan nilai tubuh kita, serta memberikan pemenuhan atas kerinduan untuk memperoleh kebajikan hidup yang otentik, terutama dalam hal kekudusan.”
  

Pornofikasi” perempuan

Di pihak lain, sebuah penelitian yang dilakukan dua orang sosiolog dari Universitas Buffalo, Erin Hatton dan Mary Nell Trautner berjudul “Equal Opportunity Objectification? The Sexualization of Men and Women on the Cover of Rolling Stone” menunjukkan peningkatan dalam penggunaan gambar perempuan yang “dipornofikasi” dalam media populer. Para peneliti ini memperingatkan bahwa temuan ini mengawatirkan karena penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penggunaan gambar perempuan demikian memiliki konsekuensi negatif bagi pria dan perempuan.

Hasil penelitian mereka yang mempelajari majalah
Rolling Stone tahun 1967-2009 dimuat dalam jurnal “Sekualitas dan Budaya.”(lihat di sini)

Hatton dan Trautner memeriksa lebih dari 1.000 gambar pria dan perempuan di majalah tersebut antara 1967-2009. Menurut Hatton, majalah ini dipilih karena "merupakan outlet media budaya pop yang sudah mapan.” Tujuannya adalah melihat “bagaimana perempuan dan laki-laki pada umumnya digambarkan dalam budaya populer."

Keduanya mengukur intensitas representasi seksual dengan membuat "skala seksualisasi." Hatton dan Trautner menemukan bahwa pada tahun 1960, 11% pria dan 44% perempuan di sampul "Rolling Stone" yang diseksualisasi. Pada tahun 2000-an, persentase pria yang seksualisasi meningkat 55% menjadi 17% dan persentase perempuan 89% menjadi 83%.

"Telah ditunjukkan bahwa penggambaran perempuan secara seksual mendorong legitimasi atau memperburuk kekerasan terhadap perempuan dan anak gadis, termasuk pelecehan seksual dan sikap anti-perempuan pada pria dan anak laki-laki," ungkap Hatton. "Penggambaran demikian juga telah terbukti meningkatkan tingkat ketidakpuasan terhadap tubuh dan/atau
eating disorder di kalangan laki-laki, perempuan dan anak gadis; dan telah terbukti bahwa [penggambaran demikian] menurunkan kepuasan seksual antara laki-laki dan perempuan."

Kami ingin menyerukan: Teman-teman, kita punya martabat yang berasal dari Allah!”  Ungkapan Pelicano Bersaudara ini memang mempunyai implikasi yang luas. (LSN/MP)
 
 
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger