"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Mencari definisi “keanggunan yang berpusat pada Kristus”

Written By Ray Maleke on Rabu, 31 Oktober 2012 | 05:15

Bunda Teresa
(foto: goodreads.com)
Berbagai media saat ini terus-menerus membangun imej perempuan yang semakin diseksualisasi. Berbagai cara diterapkan, lewat gambar, film, tulisan, dsb. Iklan-iklan yang bermunculan menunjukkan kaitannya dengan ekonomi (kapital). Tak hanya perawatan kulit, rambut, dan perhiasan yang digarap, fashion juga. Perempuan dijadikan sasaran pasar dengan mengeksploitasi apa yang menjadi keinginan setiap perempuan: tampil menarik. Dan peran dari media-media lepas ini adalah meyakinkan perempuan bahwa jikalau mereka tampil 'sensual' maka mereka terlihat menarik.

Hal ini telah menimbulkan keprihatinan. Apa sebab? Susan Fiske, Eugene Higgins Professor of Psychology dari Princeton University, dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science, mengungkapkan keyakinannya atas penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa orang tidak melihat para wanita yang diseksualisasi sebagai "manusia." (Lihat di sini)

Sejalan dengan itu, berbagai reaksi dari perempuan yang kritis pun bermunculan. Dari kalangan Kristen, Rebeka Fry mengungkapkan bahwa seiring dengan tren fashion yang berkembang menjadi lebih dan lebih sensual, sangat mudah bagi seorang perempuan Kristen untuk menganggap satu-satunya pilihan berpakaian 'indah' adalah yang sesuai dengan konstruksi budaya seperti di atas. (Lihat di sini)

Lepas dari pandangan pribadi mengenai hal ini, tradisi kekristenan mengajarkan supaya perempuan (dengan implikasi laki-laki juga) bersikap bijaksana dalam berpakaian: menghiasi diri dengan sederhana, kepatutan, dan kebersahajaan (bnd. 1 Timotius 2:9). Hal ini tentu saja tak usah ditafsirkan secara ekstrim. Fry menunjukkan bahwa Alkitab memberikan beberapa contoh perempuan yang mengenakan pakaian bagus dan perhiasan. Perempuan dengan karakter mulia dalam Amsal 31 menghiasi dirinya dengan pakaian warna-warni dan berkualitas tinggi (ayat 22).

Tulisan Fry di blog Redefining Femininity ini dapat dipahami bahwa perempuan memiliki kecantikan dan keindahan yang tak harus memenuhi pre-kondisi yang diciptakan oleh media (yang dikontrol oleh laki-laki tertentu?), atau siapapun. Melainkan dengan hak penuh menentukan bentuk ekspresi keanggunannya sendiri yang mencerminkan karakter, intelektual, dan integritas seorang perempuan, yang sama seperti laki-laki, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.

Kita telah melihat bagaimana kualitas ilahi dalam diri perempuan dinodai dan/atau disalahgunakan. Dalam satu kasus, ketika perempuan diperlakukan ditindas dan ditolak dari hak-haknya sebagai perempuan maupun sebagai manusia, perempuan bangkit dan menunjukkan bahwa ketidak-adilan itu harus diakhiri dan pelanggarnya harus dihukum.

Ambil contoh kejadian di Manipur, India, di tengah-tengah pergumulan kaum Dalit.*

Pada tanggal 10 Juli 2005, Thangjam Manorama (32) ditemukan tak bernyawa.

Para saksi mata mengatakan bahwa Manorama dijemput di rumahnya oleh tentara paramiliter Assam Rifles atas tuduhan terlibat dengan para pemberontak separatis. Beberapa jam kemudian, tubuh kakunya ditemukan empat kilometer dari rumahnya di ibukota negara bagian Imphal, dengan sejumlah luka tembakan, di samping tanda-tanda penyiksaan. Beberapa kelompok perempuan menyerukan 48 jam mogok masal sehari setelah penemuan tubuh Manorama.

Sekurangnya 40 perempuan dengan telanjang melakukan protes di kantor pusat Assam Rifles di Imphal, sambil membawa poster: “Tentara India perkosa kami” dan “Tentara India ambil tubuh kami.”

Pihak berwenang menerapkan jam malam untuk mencegah munculnya lebih banyak protes. Tapi ratusan perempuan menantang jam malam itu. Mereka turun ke jalan, sehingga membuat para polisi dengan menggunakan kekerasan memblok para protestan. Namun demikian, para protestan juga membakar sejumlah gedung pemerintah.

Kami ingin menghukum para tentara yang terlibat dalam pembunuhan brutal terhadap Manorama dan kami menuntut supaya para tentara yang bersalah diserahkan pada kami,” ungkap Memchaoubi Devi, presiden sebuah kelompok hak asasi perempuan di Manipur. Ia menambahkan, “Adalah lebih baik melakukan protes dengan telanjang daripada membiarkan para tentara membunuh dan memperkosa wanita kami.”

Aksi pengrusakan fasilitas dan pengeksposan tubuh perempuan ini menunjukkan bahwa tingkat pelanggaran itu sangat berat dan tidak dapat ditolerir.

Protes ini tidak akan surut sampai para tentara yang bersalah dihukum. Bahkan orang yang terlibat dalam militansi sekalipun harus dibawa ke pengadilan, tidak hanya dibunuh atau diperkosa,” tegas Leirik Devi, pemimpin kelompok perempuan berpengaruh lainnya. Ia bersumpah, “Kami siap untuk menumpahkan darah, kami tidak bisa membiarkan para tentara melakukan hal biadab terhadap kesopanan anak-anak perempuan kami. Protes ini akan meningkat.” Menanggapi tekanan yang semakin kuat, Assam Riffles menghentikan sejumlah tentara dari tugas dan sebuah pengadilan di perintahkan untuk menyelidiki kasus ini.

Perempuan, yang jauh sebelumnya telah menjadi simbol pemberi kehidupan, merupakan kelompok yang paling mengerti kesulitan kaum perempuan dan anak-anak, dan telah menunjukkan perannya sebagai pembela kehidupan.

(Contoh di Asia dan Afrika di mana perempuan dan anak menjadi sangat rentan terhadap berbagai eksploitasi dan ketidak-adilan karena kemiskinan dapat dilihat di sini dan di sini.)

Mengawali suatu perenungan lebih jauh, saya menawarkan bahwa dalam konteks seperti inilah refleksi akan keanggunan perempuan yang berpusat pada Kristus itu dilakukan. Sebuah perenungan yang telah digumuli oleh Dietrich Bonhoeffer mengenai kehendak Allah, yaitu kita harus terus mencarinya dalam situasi dan kondisi di mana kita menemukan diri kita terpanggil untuk menjawab, tak hanya sebagai perempuan, namun juga laki-laki, Kristen.***




*Kutipan cerita ini diambil dari artikel I. John Mohan Razu, “Deciphering the Subaltern Terrain: Exploring Alternative Sources for an Emancipatory Mission,” CTC Bulletin Vol., XXVI, No. 1 (June 2010): 100-101.
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger