"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."
Home » , , » Apakah "pernikahan sejenis" itu alkitabiah?

Apakah "pernikahan sejenis" itu alkitabiah?

Written By Ray Maleke on Sabtu, 06 April 2013 | 22:52

Nabi Lot dan keluarganya diselamatkan
(ilustrasi: free Bible image)
Bro D, trims utk pertanyaan yg baik ini. 

Mengawali jawaban saya, saya kira kita berdua setuju bahwa melarang anak bermain pisau, bukan berarti membenci anak itu. Hal ini saya katakan untuk menjaga supaya jangan terkesan jawaban saya ini cenderung legalistis dan tidak mencerminkan kasih. Justru menurut saya kalau kita sungguh-sungguh ingin mengasihi orang lain, kita harus sungguh-sungguh mengasihi mereka.

Yang pertama, Alkitab tidak berbicara tentang "pernikahan sejenis." Perilaku seksual yang dilakukan oleh dua orang berjenis kelamin sama dilarang dalam Imamat 18:22 (dengan implikasi kepada perempuan). 
Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian.

Bagi umat Tuhan, pernikahan itu adalah hal yang sakral antara dua manusia berlawanan jenis yang diamanatkan Allah kepada umat manusia (Kej 1, 2) dan yang ditekankan kembali oleh Kristus dalam Matius 19:5. 
Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Dalam Roma 1:20-28, Rasul Paulus menulis bahwa penolakan untuk mengakui Tuhan sebagai Tuhan dan menyembah Dia turut menghasilkan perilaku seksual yang menunjukkan pemberontakan terhadap rancangan Allah. 

Teks ini menunjukkan bahwa perilaku seksual dengan sesama jenis sekalipun dilakukan secara suka sama suka, [dalam konteks penyembahan berhala atau tidak,] adalah berawal dari dosa dan mengakibatkan dosa. 

Namun keseluruhan dari teks Roma 1 [sampai 3] itu hendak menunjukkan bahwa kita SEMUA adalah orang berdosa dan membutuhkan Kristus untuk berdamai dgn Allah. 

Karena itu implikasi dari 1 Kor 6:9-11 adalah bahwa ada di antara mereka yang mempraktekkan hubungan sejenis, yang meninggalkan cara hidup itu, dan mengambil bagian dalam penyucian, pengudusan, dan pembenaran dalam Yesus Kristus.

Rasul Paulus menempatkan semua orang, tak peduli siapa dan apa praktek hidupnya, sebagai orang berdosa. Karena itu, janganlah kita melihat bahwa dalam keberdosaan diri kita lebih baik dari siapapun. Kita perlu melihat bahwa dalam Kristus kita semua sama dikasihi dan menerima anugerah keselamatan secara sama.

Kita bisa dapati banyak kesaksian dari mereka yg mempraktekkan hubungan sejenis, yang kemudian meninggalkan gaya hidup itu oleh karena kuasa Tuhan. 

Namun, hal ini perlu dipahami bahwa [ada di antara] mereka yang bergumul dengan ketertarikan sesama jenis [yang] mempunyai salib berat yang harus dipikul untuk mengikut Tuhan. Mereka perlu pendampingan, dorongan, dan doa-doa, dan memang setiap orang percaya membutuhkan semua itu dalam setiap pergumulan hidup.

Komunitas orang percaya (gereja) ada untuk saling mendorong, mendoakan, dan mendampingi dalam bertumbuh setiap hari menjadi sama seperti Kristus. Di situ akan ada banyak tantangan dan godaan, dan tak jarang orang percaya harus jatuh bangun. Namun, dengan anugerah dari Tuhan tetap maju pantang menyerah dalam damai sejahtera Allah.

Mohon maaf karena jawaban saya menjadi terlalu panjang. Namun, harapan saya kiranya ini dapat menjadi bahan refleksi dan diskusi bersama. Gb.

Syalom,


Pertanyaan dan jawaban ini merupakan percakapan di Facebook yang penulisan kata-kata dan kalimatnya telah diperbaiki serta dilengkapi dengan ayat referensi.
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger