"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Skisma besar membayangi Gereja Anglikan

Written By Ray Maleke on Selasa, 13 November 2012 | 05:01

Para uskup Gereja Anglikan mengunjungi Yerusalem dalam
rangka Global Anglican Future Conference (Gafcon) tahun
2008 (foto: Reuters/Ammar Awad).
KENYA, Nairobi (12 November 2012).

Para pemimpin Gereja Anglikan di Afrika menyambut penunjukan Justin Welby menjadi Uskup Agung Canterbury 9 November lalu dengan optimisme dan kehati-hatian. Mereka berharap pemimpin Gereja Anglikan ini dapat mencegah perpecahan yang sedang membayangi Gereja Inggris tersebut.

Profesor Jesse Mugambi, seorang Anglikan yang mengajar Agama dan Filsafat di Universitas Nairobi, mengatakan ia tidak melihat adanya sudut pandang yang berdasar pada doktrin, kitab suci, atau teologi dalam penunjukan itu.

"Gereja Inggris merupakan agama negara dari sebuah negara yang terang-terangan sekuler. Jadi saya tidak mengharapkan kriteria spiritual menentukan kandidat yang paling cocok untuk sebuah penunjukkan spiritual," ungkapnya seperti dilaporkan
The CS Monitor.1

Di Nairobi, pejabat Gereja Anglikan tetap menunjukkan sikap hati-hati. "Kami belum mau memberi komentar," kata
Canon Rosemary Mbogo, sekretaris provinsi Gereja Anglikan Kenya, ketika ditanya mengenai penunjukan itu.

Konferensi Lambeth

Gereja Anglikan sedang dilanda badai yang dapat memecahkan badan kapalnya menjadi dua bagian. Itu sebabnya, Uskup Agung Welby, pengganti Uskup Agung Rowan Williams yang akan pensiun akhir tahun ini, memiliki tugas yang sangat berat.

Pada Juli 2008, pertemuan Gereja Anglikan di London yang diselenggarakan per sepuluh tahun sekali, diboikot oleh para pejabat gereja dari Afrika sebagai protes atas pengangkatan uskup yang secara terbuka mengadopsi gaya hidup homoseks.2

Pengamat dari Gereja Ortodoks Rusia yang hadir pada waktu itu, Uskup Hilarion mengungkapkan,
"Komunitas Anglikan di ambang perpecahan.” Sejumlah 230 perwakilan dari Afrika memutuskan untuk memboikot Konferensi Lambeth sebagai ungkapan ketidaksetujuan terhadap kecenderungan liberal dalam Gereja Anglikan.3

"Skisma [di Gereja] Anglikan mencerminkan situasi di seluruh dunia Kristen. Polarisasi antara versi tradisional dan liberal Kristen menjadi lebih kentara dan saat ini Gereja Anglikan akan memutuskan antara dua pilihan," kata Uskup Hilarion.

Dua istilah yang kabur ini, tradisional dan liberal, telah menjadi konstruksi pemecah belah kekristenan hari ini.

Jika dilihat lebih seksama, seperti tercermin dari ungkapan Patriark Alexy II dari Gereja Rusia dalam forum itu bahwa para peserta "memikul tanggung jawab sejarah yang besar," karena mereka harus "memutuskan antara interpretasi moral Kristen yang sesuai dengan Alkitab dan tradisinya dan kecenderungan untuk menunjukkan kasih dan toleransi dengan cara menerima dosa dan sikap yang permisif."


Strategi pecah belah

Uskup Agung Welby, seorang mantan eksekutif perusahaan perminyakan, sebelumnya menjabat sebagai Uskup Durham, dan sekarang merupakan pemimpin sekitar 77-80 juta anggota di seluruh Anglikan Komuni. Setelah penunjukannya ia menjelaskan bahwa ia mendukung pernyataan gereja yang mengkritik rencana Pemerintah Inggris untuk melegalkan pernikahan sesama jenis.4

Pada saat yang sama, ia juga mengungkapkan perlunya mendengar dengan penuh perhatian terhadap para pelaku hubungan sejenis, yang memeliki ketertarikan seksual terhadap laki-laki dan perempuan, termasuk mereka yang mengganti jenis kelamin.

Menurut pemberitaan The New York Times, ia juga mengatakan dalam sebuah konferensi pers, "Kita tidak boleh memiliki muatan homofobia dalam bagian apapun dari gereja."5 “Homofobia” adalah terminus non-intellectus yang sering digunakan oleh aktivis homoseksualisme terhadap mereka yang tidak menyetujui agenda revolusi seksual masyarakat.

Selain isu pernikahan sejenis, Gereja Anglikan juga dilanda perpecahan atas isu pengangkatan uskup perempuan. Uskup Agung Welby yang baru-baru ini kehilangan seorang anak perempuannya, menyatakan akan mendukung ordinasi perempuan di Gereja Anglikan.

Isu apapun dalam gereja yang membawa perpecahan dan kepahitan harus diwaspadai, supaya dalam rangka pertumbuhan yang mensyaratkan perbedaan pendapat, jangan si Jahat mengambil kesempatan untuk menghancurkan gereja.

Sambutan dari Uganda

Dari Uganda, Pdt Canon George Bagamuhunda, sekretaris provinsi untuk Gereja Anglikan Uganda mengatakan bahwa mereka senang mendengar Welby adalah seorang yang "injili."

"Kami berjanji untuk memberikan doa dan bekerjasama dengannya sebagai pemimpin," kata Canon Bagamuhunda. Uganda merupakan provinsi terbesar kedua setelah Nigeria dalam hal jumlah keanggotaan dalam Gereja Anglikan.

Dalam pengamatan Canon Bagamuhunda saat sekarang ini adalah waktu yang menantang, tidak hanya dalam Gereja Inggris, tetapi juga di Komuni Anglikan dunia yang tetap terpecah karena interpretasi Kitab Suci. Dia menambahkan bahwa provinsinya akan mendoakan agar Welby "menetapkan supaya Firman Allah ditulis sebagai yang memiliki otoritas atas iman dan moralitas kita bersama."6***





1 Africa warms to new Archbishop of Canterbury Justin Welby, The CS Monitor (link). 
2 African bishops boycott world Anglican Church conference, APA-London (link).
3 Anglican Bishops world conference in UK is likely to result in the church schism, Inter-Fax (link).
4 Anglican Church’s New Leader Vows to Seek Reconciliation, The New York Times (link).
5 Anglican Church’s New Leader Vows to Seek Reconciliation, The New York Times (link); New archbishop of Canterbury shaped by Catholics, favors women bishops, Catholic News Service (link).
6 Africa warms to new Archbishop of Canterbury Justin Welby, The CS Monitor (link).
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger