"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerman. Tampilkan semua postingan

Yahudi, Muslim dan Kristen bersatu menolak pelarangan sunat di Jerman

Written By Menara Penjaga on Selasa, 11 September 2012 | 09:50

Protes umat Yahudi, Muslim, dan Kristen di Berlin.
JERMAN, Berlin (9/9/12).
Sejumlah umat Yahudi, Muslim, dan Kristen menggelar aksi bersama di Berlin untuk memperjuangkan ritual agama sunat yang bulan Juni lalu dikriminalkan di pengadilan Cologne. Aksi ini didukung oleh sekitar 50 organisasi dan institusi di Jerman, demikian dilaporkan euronews.com.
 
Oleh karena keputusan itu para dokter yang memang tidak ingin terlibat dalam ritual itu dapat dengan nyaman menolak dengan alasan kuatir mendapat tuntutan.
 
Sementara itu, baru-baru ini seorang rabi di Bavaria ditahan karena melangsungkan upacara sunat. Hal ini merupakan salah satu alasan terjadinya aksi protes ini, sekalipun sejumlah anggota parlemen telah menyatakan tekad mereka untuk mengeluarkan peraturan yang menjamin pelaksanaan ritual keagamaan ini.
 
Terkait penahanan itu, Rabi Yona Metzger dari Israel menyatakan bahwa pelarang sunat berarti mengubah agama Yahudi. Ia mengumpamakannya seperti melarang seorang imam Katolik merayakan Natal.
 
Dalam satu pernyataan bersama – yang antara lain ditandatangani Asosiasi Yahudi Eropa dan Uni Islamis Jerman Turki – kedua komunitas mengatakan praktek khitan ini merupakan hak mendasar.
 
"Kami menganggap ini (sunat) sebagai hak agama dan hak asasi kami," menurut pernyataan itu. (BBC)
 
Pelarangan dan penindakan hukum, yang dirasionalisasi dengan pemikiran bahwa sunat merupakan bentuk penganiayaan terhadap anak, jelas-jelas merupakan serangan terhadap keyakinan beragama, dan bagi kaum Yahudi termasuk bagian dari identitas etnik.
 
Dapat dikatakan persoalan ini serupa dengan isu-isu lain yang sejatinya merupakan propaganda politik untuk memarginalkan agama dan nilai-nilai moral yang dianutnya, seperti yang nampak di Inggris.
 
Pelarangan sunat dikatakan “membawa bencana” terhadap imej German di mata internasional, demikian dilaporkan AFP. Kanselir Angela Merkel dilaporkan mengatakan pada partainya bahwa Jerman beresiko menjadi “bahan tertawaan” karena keputusan itu. Dan ia sepertinya benar. (MP)

Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia memohonkan grasi untuk anggota band Pussy Riots

Written By Menara Penjaga on Senin, 20 Agustus 2012 | 20:05

Anggota band Pussy Riots ditahan di Moskow.
(foto: theguardian)
RUSIA, Moskow (19/8)
Para pemimpin Gereja Ortodoks Rusia memohonkan grasi untuk tiga anggota band Pussy Riots yang dijatuhi hukuman dua tahun penjara Jumat lalu, karena tindakannya menodai tempat ibadah paling dianggap suci di Moskow, Rusia.

Tikhon Shevkunov, penasihat rohani Presiden Rusia Vladimir Putin dan merupakan kepala biara Sretensky Moskow, mengumumkan di televisi negara hari Sabtu bahwa gerejanya telah memaafkan anggota band Pussy Riots segera setelah ungkapan "doa punk" mereka di Katedral Kristus Juruselamat di Moskow pada Februari lalu.

"Kami memang telah memaafkan mereka sejak awal," ungkapnya seperti dikutip The Associated Press. "Tetapi masyarakat dan pihak berwenang harus mengurangi terjadinya tindakan seperti itu."

Imam Agung Maxim Kozlov juga muncul di saluran televisi negara, mengatakan bahwa gereja berharap para wanita ini serta pendukung mereka akan mengubah cara [hidup] mereka. "Kami hanya berdoa dan berharap bahwa wanita muda ini dan semua orang-orang berteriak di depan gedung pengadilan, yang melakukan tindakan-tindakan yang melanggar kesucian [simbol keagamaan], tidak hanya di Rusia tapi di negara lain, menyadari bahwa tindakan mereka adalah sangat memprihatinkan," ungkapnya. "Dan meskipun demikian, gereja memohonkan belas kasihan dalam batas-batas hukum."

Anggota band Pussy Riots, Nadezhda Tolokonnikova, Marina Alyokhina, dan Yekaterina Samutsevich, "melakukan tindakan hooliganisme [tindakan kekerasan, pengacauan, atau perusakan], pelanggaran berat terhadap ketertiban masyarakat, menunjukkan secara menyolok sikap tidak menghormati masyarakat," demikian ungkap hakim, Marina Syrova, dikutip di ruang sidang pada hari Jumat.

"Tindakan gadis-gadis ini merupakan penodaan, penghujatan dan melanggar aturan Gereja [Ortodoks]," ungkapnya, dan menyatakan bahwa ketiganya bersalah atas tuduhan hooliganisme yang dimotivasi kebencian terhadap agama. Mereka sengaja menyinggung pemeluk agama Ortodoks Rusia dengan menyerbu altar utama Katedral Moskow untuk menyanyikan lagu cacian terhadap Putin, tambahnya.

Pemerintah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman telah mengecam keputusan pengadilan itu sebagai tidak proporsional. Berbagai aksi solidaritas juga ditunjukkan untuk ketiga anggota band ini. Tunggu berita tentang tanggapan mereka terhadap Julian Assange, pendiri WikiLeaks, yang menyebut dirinya mengalami 'nasib' sama seperti Pussy Riots. (ChristianPost/MP)

Pengadilan Jerman larang sunat: Yahudi-Islam-Kristen berkonsolidasi

Written By Ray Maleke on Senin, 16 Juli 2012 | 12:59

Sunat dalam agama Yahudi dilakukan setelah 8 hari
(foto: AFP)
BERLIN – Sebuah keputusan di pengadilan Jerman yang melarang penyunatan bayi laki-laki menyatukan kelompok Yahudi, Muslim dan Kristen yang melihatnya sebagai ancaman terhadap kebebasan beragama, sementara itu para praktisi kesehatan merasa kuatir akan potensi meningkatnya masalah kesehatan apabila praktek ini dilakukan sembunyi-sembunyi, demikian dilaporkan Reuters.

Kamis lalu para rabi Yahudi melakukan pertemuan di Berlin untuk menentang keputusan yang dibuat bulan lalu itu, termasuk berkonsolidasi dengan umat Muslim dan Kristen di Stuttgart.
“Kami mendorong komunitas Yahudi di Jerman dan pelaksana untuk terus melaksanakan penyunatan dan tidak menunggu perubahan hukum,” ungkap Pinchas Goldschmidt, koordinator pertemuan tiga hari tersebut. Ia melihat keputusan itu “dapat jadi merupakan salah satu serangan yang paling serius terhadap Agama Yahudi di era post-holocaust,” seperti dikutip AFP.

Pengadilan Cologne memutuskan bahwa penyunatan anak laki-laki menurut hukum agama merupakan tindakan menyakiti secara fisik, dan karena itu merupakan tindakan kriminal yang dapat dipengadilankan.

Keputusan itu diketuk setelah seorang dokter atas permintaan orangtua berlatar belakang Muslim menyunat seorang anak berusia empat tahun. Setelah beberapa hari kemudian, anak tersebut mengalami pendarahan serius, dan jaksa penuntut menganggap dokter itu harus bertanggung jawab.

Tuntutannya terhadap sang dokter dibatalkan, namun pengadilan memandang bahwa adalah hak anak untuk mempertahankan bagian dari tubuhnya melebihi hak orangtua untuk melaksanakan kewajiban agamanya. Keputusan ini dilihat dapat menciptakan preseden hukum di Jerman.

Diperkirakan terdapat sekitar 120.000 umat Yahudi dan 4 juta umat Muslim di Jerman.
Para pemimpin agama Islam dan Yahudi melakukan pertemuan dengan pejabat Parlemen Eropa di Brussels untuk melayangkan pengeluhan atas apa yang mereka sebut “penghinaan atas hak mendasar untuk beragama dan hak asasi manusia kami.” Harapan mereka adalah supaya parlemen Jerman dan Eropa membuat peraturan untuk menghentikan tersebarnya hal ini di bagian lain di Jerman atau Eropa secara keseluruhan. Harapan ini mendapat angin segar dari juru bicara Kanselir Jerman, Steffen Seibert.  

Keputusan yang dikatakan telah final itu memang mendapat kritikan tajam dari berbagai belahan dunia, dan para diplomat Jerman turut mengakui bahwa keputusan itu “membawa petaka.”

Resiko Kesehatan
Menurut kebiasaan Yahudi seorang bayi laki-laki disunat delapan hari sesudah dilahirkan, sedangkan bagi umat Muslim tergantung pada keluarga, aliran dan negara asal.

“Sunat merupakan tanda seseorang adalah anggota komunitas Yahudi. Hal ini telah dipelihara selama 4000 tahun dan tidak bisa dirubah,” ungkap rabi Goldschmidt dalam konfrensi pers. Kekuatiran muncul jika praktek ini akan dilakukan oleh masyarakat sendiri.

Kepala dari Asosiasi Medis Jerman, Frank Ulrich Montgomery, mengatakan bahwa keputusan itu “meningkatkan resiko penanganannya dilakukan oleh masyarakat awam sendiri, yang oleh karena tingkat kebersihan yang rendah, dapat mengakibatkan komplikasi serius.”

Tapi Montgomery mengungkapkan bahwa ia harus menasihati koleganya untuk tidak melakukan operasi ini sebelum status hukum diperjelas, “kalau tidak mereka bisa dituntut.”

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa sunat pada kaum lelaki dapat mengurangi resiko terkena penyakit AIDS, dan 44 anggota parlemen di Zimbabwe menerima sunat pada bulan Juni untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS.

Rabi Goldschmidt memperingatkan bahwa banyak komunitas Yahudi di Jerman, yang telah berkembang dari mulanya hanya 3000 setelah Holocaust tahun 1945, akan pindah dari Jerman jika tidak ada jaminan akan kebebasan beragama.
Hal ini kemungkinan besar tidak diantisipasi Kanselir Jerman, Angela Merkel, yang baru-baru ini mengunjungi Indonesia. (Reuters/AFP/MP)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger