"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Innocence of Muslims. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Innocence of Muslims. Tampilkan semua postingan

Indonesia menjadi pelopor kebebasan berekspresi yang bermartabat

Written By Menara Penjaga on Kamis, 27 September 2012 | 11:06

Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono
membawakan pidato dalam sidang ke-67
Majelis Umum PBB di New York, AS
(foto: m.mediaindonesia). 
AMERIKA SERIKAT, New York (9/27/12).
 
Menyusul gelombang protes dari berbagai penjuru dunia terutama dari umat Muslim terkait pembuatan film "Innocence of Muslims," para pemimpin dunia menyuarakan suatu upaya untuk mendorong kebebasan berekspresi ke arah yang bermartabat. Dalam hal ini Indonesia bertekad untuk menjadi penggerak dalam terciptanya keanggunan dalam mengungkapkan pendapat, di dalamnya adalah mencegah penistaan agama, demikian terangkum dari laporan detikNews.  
 
Sekjen PBB Ban Ki-Moon dalam pidatonya menyampaikan bahwa pada dasarnya, kebebasan berpendapat jangan menjadi alasan melakukan kejahatan.
 
"Kebebasan berpendapat adalah hal penting. Tapi jangan menjadi lisensi untuk berbuat jahat," tegas Sekjen berkebangsaan Korea ini.
 
Tapi Ban Ki-moon hanya berhenti di situ.
 
Sementara, dibutuhkan suatu langkah nyata dalam mengatur apa yang disebut kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab, seperti tidak menistakan agama lain.
 
Pentingnya suatu pengaturan itu disuarakan Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato di Markas PBB, menyuarakan konsensus internasional untuk mencegah permusuhan berlatar agama. Dalam pidatonya, Presiden Yudhoyono menekankan mengenai budaya universal saling toleransi dan menghargai keyakinan beragama satu sama lain.
 
Ia prihatin bahwa pencemaran nama baik agama itu sampai sekarang masih ada. "Meskipun ada inisiatif dari negara-negara PBB dan juga forum lain, pencemaran nama baik agama terus berlanjut. Kami telah melihat lagi salah satu wajah yang buruk dalam film "Innocence of Muslims" yang sekarang menyebabkan kegemparan internasional," ungkap presiden Indonesia ke-6 ini Selasa lalu.
 
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia menegaskan bahwa dalam melaksanakan kebebasan berekspresi, setiap orang harus memperhatikan moralitas dan ketertiban umum.
 
"Kebebasan berekspresi itu tidak mutlak. Oleh karena itu, saya meminta sebuah instrumen internasional untuk secara efektif mencegah hasutan permusuhan atau kekerasan berdasarkan agama atau kepercayaan. Instrumen ini, produk dari konsensus internasional, yang masyarakat dunia harus mematuhinya," ujarnya.
 
Wacana protokol antipenistaan agama ini yang menjadi misi Indonesia ke depan. Sinyal positif sudah diberikan Presiden Mesir Mohamed Morsy. Seperti dituturkan Menlu Marty Natalegawa, Indonesia pun akan menggandeng negara-negara lain di PBB. Selengkapnya di sini.

Penistaan terhadap Kekristenan justru paling sering terjadi di Eropa dan Amerika yang memiliki sejarah panjang sebagai Christendom. Reaksi umat Muslim terhadap penistaan agama telah menarik perhatian dunia terhadap perlunya regulasi terhadap tindakan kejahatan berekspresi yang sering berlindung di belakang alasan kebebasan berpendapat. (detikNews/MP)
 
 

Stephane Charbonnier: Mencari popularitas dengan cara hina

Written By Menara Penjaga on Kamis, 20 September 2012 | 03:03

Stephane Charbonnier (foto: AFP).
PRANCIS, Paris (19/9/12).
 
Sementara luka hati umat Muslim yang diakibatkan oleh film kampungan “The Innocence of Muslims” masih miris sembilu, Stephane Charbonnier coba menjadi berita dengan menerbitkan kartun-kartun yang sengaja hendak menghina Islam dan nabi junjungannya.
 
Charlie Hebdo, majalah mingguan yang dipimpin oleh Carbonnier, memang sudah punya reputasi. Majalah ini pernah menerbitkan karikatur Nabi Muhammad bulan November lalu. Apa lagi tujuannya jika bukan untuk membuat marah umat Muslim. Serangan bom molotov di kantor majalah ini di Paris waktu itu dikaitkan dengan sikap melecehkan majalah ini.
 

Theatre de la Ville di Prancis yang dipakai untuk
pertunjukkan yang menghina umat Kristen
(foto: AFP).

Dalam tanggapannya terhadap penerbitan kemarin Charbonnier mengungkapkan, "Kalau kita mulai mengatakan bahwa kita tidak bisa menerbitkan kartun-kartun ini karena ada risiko seseorang akan kaget maka kita akan mengurungkan niat membuat kartun lain karena akan ada tekanan terhadap kartun lebih lunak dan seterusnya dan kita akan berhenti membuatnya," demikian dilansir BBC.
 
Menyikapi kemungkinan akan adanya protes umat Muslim terhadap Prancis, Menteri Luar Negerinya, Laurent Fabius, telah menginformasikan akan ditutupnya kedutaan, pusat kebudayaan, dan sekolahnya di negara-negara tertentu.
 
Sementara itu, Perdana Menteri Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan kebebasan berbicara memang dijamin di Prancis, tetapi harus digunakan dengan penuh tanggung jawab.
 
Hal ini memang kelihatannya masih kurang disadari di Prancis.
 
Oktober tahun lalu sekelompok orang Kristen Katolik (yang dilabel “fundamentalis” oleh AFP) melakukan protes terhadap sebuah pertunjukan di Theatre de la Ville dekat katedral Notre Dame. Sekitar 20 orang ditahan dalam aksi protes yang melibatkan pelemparan bom busuk dalam sebuah pertunjukkan di mana gambar wajah Kristus dilumuri kotoran buatan. (MP)

Sekjen WCC: "The Innocence of Muslims," penghinaan terhadap inti iman Islam dan terhadap semua orang beriman

Written By Menara Penjaga on Selasa, 18 September 2012 | 05:49


Sekjen WCC Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit
(foto: gc2012conversations.com)
Sekjen Dewan Gereja-Gereja Sedunia (WCC) Pdt. Dr. Olav Fykse Tveit menyatakan "penyesalan" yang sedalam-dalamnya atas pembuatan film "The Innocence of Muslims." Dia menyebut film itu sebagai "penghinaan terhadap inti iman Islam" dan "terhadap semua orang beriman."

Film yang nampaknya dibuat di Amerika Serikat dan merupakan penghinaan terhadap iman Islam ini telah mendorong demonstrasi dan berbagai aksi kekerasan.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada tanggal 14 September, Tveit mendesak aksi nir-kekerasan, penghormatan terhadap agama, dan bagi umat Kristen dan Muslim untuk "mengambil sikap bersama dalam mengutuk penghinaan seperti itu.

Tveit mengatakan bahwa "film itu diproduksi dan disebarluaskan oleh individu-individu tertentu yang tidak dapat menjadi cerminan sikap dari kelompok agama utama manapun, tidak pula dari negara atau pemerintah tertentu." (WCC)

Film “Innocence of Muslims” ditujukan untuk memecah belah masyarakat beragama

Written By Menara Penjaga on Jumat, 14 September 2012 | 12:46

Para pekerja media meliput di rumah Nakoula
di California Selatan, AS (foto: newsyahoo.com)
AMERIKA SERIKAT, Washington (13/9/12).
Otoritas kepolisian federal AS telah mengidentifikasi oknum di balik “Innocence of Muslims,” sebuah film yang melecehkan Islam dan nabi Muhammad, demikian dilaporkan The Blaze.
Seorang pejabat penegak hukum mengungkapkan kepada The Associated Press hari Kamis bahwa pihak berwenang telah menyimpulkan Nakoula Basseley Nakoula, 55, sebagai otak di belakang pembuatan film yang telah menyinggung umat Muslim sehingga mengakibatkan berbagai aksi kekerasan, bahkan di Libia, serangan terhadap kedutaan AS yang dikaitkan dengan film ini menyebabkan kematian duta besar AS untuk Libia dan tiga orang pegawainya.
Nakoula yang mengoleksi serentetan pelanggaran hukum diidentifikasi merupakan seorang Kristen Koptik yang tinggal di California Selatan, di mana terdapat Hollywood. Seorang pejabat kepolisian yang namanya dirahasiakan mengungkapkan bahwa Nakoula terkait nama Sam Bacile, orang tadinya mengatakan kepada AP bahwa ia merupakan sutradara dan penulis skenario film tersebut.
Serentetan kejahatan termasuk pembuatan shabu dan penipuan bank telah membuat Nakoula mengenal penjara. Dari catatan pajak dan kebangkrutan California Selatan diketahui bahwa sebelum kasus penipuan bank yang ia lakukan, Nakoula mengalami serentetan kesulitan ekonomi.
Akun YouTube yang dipakai untuk menyebarkan cuplikan dari film ini adalah “Sam Bacile.” Selasa lalu akun ini masih dipakai untuk menulis komentar dalam bahasa Arab “Ini 100 persen film Amerika, kalian sapi.” Kepada AP orang yang memakai nama Bacil ini mengaku bahwa ia adalah seorang Yahudi berumur 56 tahun kelahiran Israel.
Tanggapan Gereja Ortodoks Koptik
Uskup Serapion dari Gereja Ortodoks Koptik di Los Angeles mengatakan, “Mereka yang membuat film ini harus bertanggung jawab atas tindakan-tindakan mereka. Nama dari jemaat ini tidak boleh dikait-kaitkan dengan individu-individu yang mempunyai motif tersembunyi.”

Sementara itu dikabarkan bahwa Sinode Kudus Gereja Ortodoks Koptik di Mesir melakukan pertemuan pada hari Rabu lalu dan mengeluarkan pernyataan mengutuk pembuatan film yang juga telah memicu tindakan kekerasan di Mesir, demikian dilaporkan chanelnewsasia.com.

Penyebaran [film ini] pada saat khusus ini adalah merupakan bagian dari kampanye jahat yang bertujuan untuk melecehkan agama dan memecah-belah masyarakat, [dan] yang paling jelas adalah masyarakat Mesir,” demikian diungkapkan dalam pernyataan itu.

Belum diketahui apakah sasaran oknum Bacile ini adalah memancing kebencian umat Muslim kepada umat Yahudi atau memang sengaja pada Kristen (Koptik). Namun membaca salah satu moncong liberalisme, Huffington Post, sepertinya film ini hendak diarahkan untuk memicu konflik antara umat Islam dan Kristen, yang pada gilirannya akan mendiskreditkan agama-agama itu sendiri.


Indonesia

Sementara itu di Indonesia, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto telah menyatakan pihaknya meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk mengambil tindakan terkait beredarnya film tersebut, demikian dilaporkan Jawaban.com.

Ia pun turut menghimbau agar masyarakat tidak terpancing oleh film ini dan melakukan tindakan di luar jalur hukum. "Justru kita semua elemen masyarakat harus bisa menjaga kerukunan antarumat. Sehingga keamanan dan kenyamanan masyarakat dapat diwujudkan," pungkasnya. (MP)


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger