"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Mengkritisi praktek ilmu Psikologi: Meletakkan dasar iman untuk pelayanan kejiwaan

Written By Menara Penjaga on Selasa, 06 Agustus 2013 | 10:16



Oleh Ir. Herlianto, M.Th.* 

Di tahun 1970-an sebagai chaplain* UK Petra menghadiri lokakarya Bimbingan dan Penyuluhan (BP/Guidance & Counseling) di UKSW, pendekatan “non directive yang menjadikan konseli sebagai pusat konseling melanda lokakarya yang dihadiri wakil-wakil sekolah Kristen itu. (Dasawarsa itu humanistic psychology dari Carl Rogers sedang digandrungi kalangan psikolog/konselor.) Namun, masih banyak peserta BP yang ... menjadikan Alkitab sebagai dasar konseling (Biblical Counseling).


Ketika menghadiri University Chaplain Workshop di Hongkong dalam acara morning worship (ibadah pagi) diadakan pembacaan Alkitab. Dari 20 chaplain yang hadir hanya tiga yang membawa Alkitab, seorang dari Taiwan dan dua dari Indonesia termasuk Dorothy Marx yang diminta membawakan renungan pagi itu. Bacaan Alkitab terpaksa di fotocopy agar acara berjalan! Kemudian dalam Guidance & Counseling Workshop di Manila beberapa waktu kemudian lebih lagi Alkitab, nama Tuhan Yesus Kristus dan peran Roh Kudus dalam konseling tidak disinggung.

Yang mengherankan pertemuan yang diadakan para konselor universitas beberapa negara itu sudah mengabaikan Alkitab, padahal itu universitas Kristen! Memprihatinkan memang bahwa di kalangan guidance & counseling (bimbingan & konseling) universitas Kristen yang dihadiri para chaplainnya, Alkitab sudah kurang diperhatikan dan ada yang menganggapnya usang dan menggantikannya dengan teori-teori psikologi sekuler/modern.




Biblical Counseling & Secular Counseling 


Apa penyebabnya? Benarkah bahwa Biblical Psychology/Counseling sudah ketinggalan zaman dan perlu digantikan dengan Secular Psychology/Counseling? Psikologi adalah ilmu tentang jiwa manusia, dan berbeda dengan ilmu pengetahuan hayat (misalnya Biologi) maupun ilmu pengetahuan alam (misalnya Geologi) di mana obyek pengamatannya bisa diukur, diulang penyelidikannya dan diuji kebenarannya, Psikologi dan agama menyelidiki jiwa manusia yang abstrak, itulah sebabnya banyak yang berpendapat bahwa Psikologi itu disebut agama juga.

Disebut agama karena keduanya memiliki asumsi dasar yang bersifat imani, yaitu bahwa hakekat jiwa itu dalam pemikiran Psikologi sekuler dianggap baik bahkan berpotensi dan melalui kehendak bebas, kreativitas dan aktualisasi diri dapat dicapai (Carl Rogers, Abraham Maslow). Di sini hal-hal supranatural ditolak. Dalam Psikologi/konseling alkitabiah hakekat jiwa itu diketahui melalui penyataan Allah (revelational) bahwa jiwa itu telah jatuh dalam dosa dan hanya bisa dipulihkan kembali melalui iman, pertobatan, penebusan dosa, dan kelahiran baru oleh Roh Kudus. Di sini kita melihat ada jurang imani yang memisahkan keduanya.

Sebenarnya sejak abad-18 sudah ada buku-buku berjudul Biblical Psychology, dan selanjutnya Alkitab digunakan sebagai dasar iman di kalangan psikologi/konseling Kristen. Namun, sejak Freud dan Jung, terutama sejak tahun 1960/70-an, konsep kejiwaan Rogerian dijadikan primadona dan lama-kelamaan azas Alkitab ditinggalkan.

Ada usaha untuk mengintegrasikan keduanya. Keduanya memang bertumpang tindih karena itu dipelajari di jurusan Psikologi maupun Teologi, tetapi kalau menyangkut dasar iman dan nilai-nilai pendekatan yang akan dipakai tentu mau-tidak-mau seseorang harus memilih antara pendekatan yang “God centered (Biblical) atau yang “man centered (sekuler/modern), kalau tidak kita biasanya jatuh ke dalam sikap kompromistis, yaitu menerima keduanya tapi lebih banyak menghasilkan produk sinkretis atau pemaksaan faham Psikologi sekuler ke dalam ajaran Kristen, dan lambat laun Alkitab diabaikan. Kenyataan inilah yang sekarang terjadi dalam pelatihan pengembangan diri yang diadakan di gereja-gereja tertentu.

Di Amerika pengaruh Psikologi sekuler/modern yang didasarkan dasar iman Rogerian yang “self centered memang sudah banyak melanda gereja dan seminari Kristen, bahkan baru-baru ini akibatnya ada berita bahwa beberapa ratus pendeta gereja arus utama menyeritakan bahwa “There is no God.” Yang menarik diamati adalah di kala keadaan gereja dan seminari arus utama merosot, di kalangan gereja-gereja yang masih mengajarkan “born again dan “Holy Spirit terjadi peningkatan keanggotaan yang mengherankan.

Mengapa demikian? Para ahli Psikologi pun banyak yang mengakui bahwa Psikologi tepat disebut sebagai agama pula. Paul Vitz, profesor Psikologi di New York University menulis buku Psychology as Religion: The Cult of Self Worship. Jeffry Satinover menyebutkan bahwa psikologi tidak ada maknanya di luar kerangka nilai-nilai yang dibawanya, dan nilai itu bisa Alkitab atau teori manusia karena sejak dasawarsa 60 dan 70-an nilai Alkitab berangsur-angsur diabaikan dan diganti nilai “aktualisasi diri” menjadikan Psikologi yang “God centered’ digeser menjadi “man centered (selfism). Namun apa akibatnya? Apakah kondisi manusia bertambah baik? Paul Vitz dalam bukunya tersebut menyebut Psikologi sekuler/modern sudah menjadi bagian dari masalah yang dihadapi masyarakat dan bukan solusinya.

Jay Adams sebagai mahasiswa hari pertama jurusan Psikologi diajar profesor yang menyodorkan berita di koran mengenai kejahatan-kejahatan yang meluas di masyarakat Amerika. Profesor itu berkata: “Psikologi adalah satu-satunya harapan bagi manusia untuk melepaskan diri dari kekacauan itu.” Namun hari berjalan dan kondisi masyarakat di Amerika bertambah parah dan kejahatan menjadi-jadi. Patologi sosial meningkat, keluarga cenderung berantakan dan porak poranda. Ini menunjukkan bahwa optimisme teori “Self Actualization yang beranggapan bahwa manusia itu pada dasarnya baik ternyata keliru dan manusia ternyata pada dasarnya sudah terjatuh dalam dosa.

H.J. Eysenick, Direktur Departemen Psikologi Universitas London mengatakan: “Sukses Revolusi Freudian kelihatannya sudah lengkap. Hanya satu hal berjalan keliru, para pasien tidak menjadi makin baik.” Jay Adams juga menambahkan bahwa “etika yang disodorkan Freud telah menyebabkan merosotnya tanggung jawab dalam masyarakat Amerika dan dikenalkannya dasar moral baru (new morality).”




Kesaksian kembali kepada Alkitab


Menarik mendengarkan kesaksian para psikolog/psikiater yang sudah bertahun-tahun berkecimpung dalam praktek Psikologi/Psikiatri sekuler/modern kemudian menyadari keterbatasannya seperti Vitz dan Eysenick, bahkan banyak yang kemudian menemukan kembali mutiara dalam Psikologi/Psikiatri yang berlandaskan Alkitab.

Psikiater asal Bandung yang sudah 17 tahun belajar dan bekerja di rumah sakit jiwa di Australia sebagai hasil pendidikan sekulernya tidak lagi percaya akan hakekat jiwa manusia yang diberitakan Alkitab khususnya mengenai keberadaan dan kerasukan setan. Di rumah sakit yang dilayaninya, 5 spesialis termasuk dirinya menangani pasien yang sering marah-marah, menjerit-jerit, mengeluarkan caci-maki dan cenderung bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke tembok atau melompat bila ada jendela terbuka. Segala ilmu dan peralatan modern telah diupayakan untuk menyembuhkan pasien itu tapi gagal. Kemudian keluarga si pasien mengajak seorang pendeta dan setelah si pasien dinyanyikan dan didoakan dalam “nama Yesus” si pasien menggelepar dan terjatuh. Pelayanan dalam nama Yesus dan peran Roh Kudus telah melepaskan si pasien dari kuasa gelap yang mengikatnya yang diakui tidak dipercaya olehnya sebelumnya.

Ketika meninjau Presbyterian Hospital yang besar di Philadelphia, chaplain yang memandu menceritakan bahwa dulu waktu untuk penyembuhan pasien terjadi cukup lama dan banyak kematian terjadi, namun setelah diambil kebijakan baru di mana siaran radio di kamar-kamar rumah sakit diisi pembacaan firman dan pemutaran lagu-lagu rohani, rata-rata kesembuhan pasien terjadi lebih cepat dan angka kematian merosot.

Eta Linnemann, asisten Rudolf Bultmann yang biasa mengajarkan teologi modern (historis kritis), kemudian menyadari bahwa ada nilai-nilai dalam Alkitab yang tetap diperlukan manusia modern yang telah meninggalkannya. Ia kemudian bertobat menjadi injili dan menjadi utusan misi ke Indonesia dan berkata: “Teologia modern tidak berdaya menghadapi okultisme.” Kurt Koch adalah psikiater selama puluhan tahun dan ia kemudian menyadari bahwa psikiatri memiliki banyak keterbatasan. Ia kemudian mendalami Biblical Theology dan melayani dengan nama Yesus dan kuasa Roh Kudus khususnya menghadapi kasus-kasus okultisme. Ia kemudian menulis banyak buku mengenai okultisme a.l. Christian Counseling & Occultism dan berceramah ke seluruh dunia.

Pendidikan Psikologi masa kini memang cenderung berazas sekular/modern dan pengajaran Alkitab tidak dibahas sekalipun jurusan itu milik universitas Kristen, apalagi kalau dosen-dosennya non-kristen dan yang Kristen bukan termasuk “devoted Christian,” dan buku-buku yang dicerna umumnya dari kalangan sekuler. Buku-buku kalangan Kristen konservatif yang dikategorikan “Biblical Psychology,” tidak menjadi koleksi/referensi perpustakaan jurusan.

Jay Adams adalah psikolog yang gemar melakukan penelitian kemasyarakatan, setelah belajar dan berpraktek sebagai psikolog sekular ia mulai menyadari keterbatasan psikologi sekuler yang selama ini dipelajarinya. Kemudian ia mempelajari teologi dan kemudian dalam praktek konselingnya ia mengutamakan Biblical Psychology dan bukunya Competent to Counsel sarat dengan ayat-ayat Alkitab sebagai jawab atas kemelut kejiwaan manusia sebagai hasil pengalaman praktek barunya. Ia kemudian diangkat menjadi profesor psikologi dan teologi di Westminster Seminary dan menulis lebih dari 50 buku dan berkeliling ke seluruh dunia. Salah satu hasilnya adalah pertobatan Richard Ganz.

Richard Ganz adalah seorang psikolog sekuler yang setelah bertahun-tahun dalam prakteknya mulai menyadari bahwa psikoanalitis sekuler yang dipelajari dan dipraktekkannya menolak konsep yang mutlak dan nilai-nilai yang transendental. Dalam pencariannya akan kebenaran yang lebih utuh ia mengunjungi L’Abri Fellowship di negeri Belanda dan setelah membaca buku Jay Adams ia kemudian bertobat menjadi Kristen dan masuk ke sekolah teologi dan tertarik salah satu konsep pemikiran Adams bahwa tujuan konseling psikologi seharusnya menghasilkan manusia yang mengalami:

buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22-23).

Ia kemudian menjadikan Psikologi sebagai kendaraan untuk memperkenalkan Biblical Psychology yang sekarang menjadi keyakinannya. Setelah kembali dari L’Abri dan mendalami Alkitab, ia menemui seorang pasien sakit jiwa di rumah sakit di mana ia bekerja yang menghujat Tuhan dan bahkan mengaku dirinya sebagai ‘tuhan'. Ia mulai memperkenalkan Injil dengan membacakan ayat-ayat Alkitab sambil mendoakan si pasien sebagai penghiburan kepadanya karena ia sekarang percaya bahwa firman Tuhan itu berkuasa! Usahanya tidak sia-sia karena ayat-ayat Alkitab yang didengar melalui telinga si pasien telah mengubah hidup si pasien yang kemudian sembuh, dan si pasien menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat hidupnya.

Pemimpin rumah sakit jiwa di tempat ia bekerja itu bukannya mengapresiasi dan membuka diri terhadap penyembuhan pasien itu malah melarang Ganz mempraktekkan pembacaan Alkitab di rumah sakit jiwa itu. Ini menunjukkan kembali bahwa ilmu jiwa sekuler/modern telah menjadi agama yang cenderung menolak agama Kristen. Ganz kemudian menulis buku The Failure of Modern Psychology di mana ia mendikotomikan “Psikologi/Konseling Sekuler” dengan “Psikologi/Konseling Alkitabiah” dan mengingatkan pembaca akan bahaya mengkorporasikan keduanya. Ia sekarang menjabat direktur Biblical Psychology and Counseling Center di Ottawa.

Manusia adalah mahluk rohani yang bagaimanapun membutuhkan Tuhan sebagai pembimbing hidupnya di dunia ini, bergantung pada Psikologi sekuler/modern yang mengandalkan kemampuan diri sendiri (self) dan menjadikan manusia sebagai penentu masalah kebenaran dan moralitas (humanisme sekuler) akan berakhir pada jalan tanpa ujung, dan melihat pengalaman di Eropa dan Amerika bahwa eforia rasionalisme, liberalisme dan sekularisme telah mengabaikan Alkitab, kita harus merenung ke mana mereka akan mencari solusi kalau teori-teori Psikologi sekuler/modern yang diandalkannya gagal? Sebagai umat yang takut akan Tuhan tentunya kita harus kembali dan berpegang teguh pada ajaran Alkitab!

A m i n ! ***


-------
Bpk Herlianto merupakan ketua Yayasan Bina Awam (Yabina) yang bergerak dalam bidang penerbitan buku rohani, Makalah Sahabat Awam, Seri Buku Saku Yabina, CD eBook, dan pelayanan melalui internet (situs www.yabina.org, dan milis mimbar-maya@yabina.org). Beliau meraih gelar S1 (Ir - arsitek) dari Institut Teknologi Bandung (ITB, 1968). Bachelor of Theology (B. Th.) dari Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang (1976) dan Master of Theology (M.Th.) dari Princeton Theological Seminary, USA, 1982. Profil selengkapnya dapat dilihat di situs tokohindonesia.com. Artikel di atas dikutip dari Facebook dengan judul "Alkitab yang Semakin Diabaikan" dan telah melalui revisi teknis penulisan dari redaksi tanpa merubah arti.



Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger