"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Sikap Toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sikap Toleransi. Tampilkan semua postingan

Kasus intoleransi beragama paling banyak terjadi di Jawa Barat

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 17 November 2012 | 01:59

Gubernur Jawa Barat
H. Ahmad Heryawan Lc
(foto: wikipedia)
INDONESIA, Bandung (16 November 2012). 

Setara Institute menyatakan Provinsi Jawa Barat menempati peringkat pertama sebagai wilayah yang paling banyak terjadi tindakan intoleransi berupa pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan.

"Kasus sebanyak 224 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama itu merupakan peristiwa yang terjadi dari Januari hingga awal November ini, dan 80-90 persennya terjadi di Jawa Barat," kata Peneliti Setara Institute Ismail Husni, saat menghadiri acara Hari Toleransi Internasional, di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung, Jumat.

Dari 224 peristiwa pelanggaran kebebasaan beragama atau berkeyakinan tersebut, kata Ismail, terdapat 315 bentuk tindakan yang mayoritasnya merupakan tindakan pengrusakan tempat ibadah dan sisanya intimidasi.

"Jadi kasus intoleransi yang terjadi di kita itu bisa berupa intimidasi hingga perusakan. Yang cukup sering terjadi adalah perusakan rumah ibadah, perusakan masjid. Dan dua kelompok yang paling sering mendapat tindakan intoleransi itu adalah umat Kristiani dan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)," katanya.

Menurut dia, kasus pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Jawa Barat sejak dua tahun terakhir ini terus mengalami peningkatan.

"Dua tahun ini, tren peristiwa pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan di Jabar meningkat, tahun lalu itu hanya sekitar 66 peristiwa saja," kata dia.

Sementara itu, Kepala Divisi Hubungan Ekonomi, Sosial dan Budaya LBH Bandung Samuel Situmorang menambahkan, angka intoleransi berupa pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia tersebut bisa diibaratkan sebagai fenomena gunung es.

"Kami melihatnya seperti fenomena gunung es, yang tercatat di kami dan lembaga lainnya seperti Setara Institute itu kami peroleh dari media atau yang muncul di permukaan. Kami yakin, masih banyak kasus atau peristiwa yang belum muncul ke permukaan," kata dia.

"Harapannya melalui peringatan Hari Toleransi Internasional ini, kita akan terus mengkampanyekan gerakan toleransi di setiap lini kehidupan kita. Dan mudah-mudahan peristiwa intoleransi tidak terjadi lagi," kata Samuel. [*]

Selengkapnya di Antara News.

Sedikit latar belakang sejarah tentang mengapa umat Islam menyebut umat Kristen “kafir”

Written By Ray Maleke on Selasa, 21 Agustus 2012 | 05:12

(foto: mindaaktif.net)
Perbincangan di media sosial online antara penganut Kristen dan Islam yang taat, seringkali telah melebihi ungkapan-ungkapan mereka yang menyusup di kedua belah pihak untuk menancapkan kata-kata hinaan dan intoleransi beragama terhadap pihak lain.

Menyadari bahaya retorika kebencian seperti ini, kami telah mengutip sebagian dari tulisan Jan S. Aritonang “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam di Indonesia” dalam Agama dalam dialog: pencerahan, pendamaian, dan masa depan; punjung tulis 60 tahun Prof. Dr. Olaf Herbert Schumann (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, h. 180-182). Hal ini untuk memberikan gambaran perkembangan sejarah yang membuat umat beragama di Indonesia, lebih khusus antara Islam dan Kristen, tak jarang terbawa pada sikap anti Pancasila yang pada hakikatnya menjunjung nilai-nilai toleransi beragama, harga-menghargai, bahkan gotong-royong.

Perjumpaan antara Gereja/kekristenan dan umat/agama Islam di Timur Tengah sudah berlangsung sejak abad ke-7, yakni sejak munculnya agama Islam. Perjumpaan itu – dalam arti positif maupun negatif – pada abad-abad selanjutnya berlanjut di berbagai penjuru dunia ini, termasuk di Eropa, Afrika dan Asia Selatan sampai Timur. Salah satu … peristiwa sangat membekas yang menandai perjumpaan itu adalah rangkaian Perang Salib (sekurang-kurangnya tujuh kali, antara tahun 1050-1270, berlangsung di Eropa dan Timur Tengah). Kendati masyarakat Islam dan Kristen Indonesia tidak ikut di dalamnya, tetapi dampak Perang Salib itu, termasuk mentalitas yang ditimbulkannya, cukup terasa di Indonesia, bahkan hingga dewasa ini....

Di Indonesia tidak dapat ditetapkan secara [pasti] sejak kapan berlangsung perjumpaan antara Gereja dengan Islam – dalam arti umum, yakni bertemunya orang-orang beragama Kristen dengan pemeluk agama Islam. Sebab masing-masing pihak mengklaim sebagai yang lebih dulu hadir di Indonesia sejak abad ke-7, kendati tidak ada bukti otentik tentang klaim itu. Yang dapat dibuktikan dengan data historis yang ada adalah sejak abad ke-16, yakni sejak armada dagang Portugis – yang dimandati menyebar agama Kristen/Katolik oleh Paus Katolik Roma – datang ke Kepulauan Nusantara ini.
[p]

Itu dilanjutkan oleh VOC (abad ke-17 dan 18) yang juga mengemban tugas menyiarkan agama Kristen [Protestan] menurut pengakuan iman Belanda. Perjumpaan itu bermula di Kepulauan Maluku, lalu kemudian di kawasan-kawasan lain. Perjumpaan itu pada umumnya bercorak negatif, dalam arti: pihak Islam (yang sudah mendapat tempat dan kekuatan politik dalam berbagai kerajaan ataupun kesultanan) melihat pihak Kristen sebagai orang “kafir”, lalu menolak kehadiran pihak Kristen bila bertujuan mengabarkan Injil atau mengkristenkan masyarakat Islam.
[p]

Sementara itu pihak Kristen juga memelihara gambaran negatif tentang agama Islam (yakni Islam sebagai musuh), sebagai warisan Perang Salib tadi. Karena itu, perjumpaan (encounter) dalam arti yang sejati, yakni masing-masing pihak berusaha untuk mengenal dan memahami pihak lain, belum terjadi sampai akhir abad ke-19.

Ketika para utusan Injil (zendeling: Missionar) berangsur-angsur datang ke Indonesia dari Eropa sejak awal abad ke-19, sikap negatif terhadap Islam itu masih melekat pada mereka. Di satu sisi mereka mengakui umat Islam sebagai penyembah Tuhan (karena itu mereka umumnya tidak menyebut umat Islam sebagai “kafir”), tetapi di sisi lain mereka tetap memandang umat Islam sebagai musuh yang harus ditaklukkan; dan penaklukan yang paling efektif adalah dengan mengkristenkan mereka. Dengan kata lain, sikap trimfalistik [penaklukan], sebagai bagian dari mentalitas Perang Salib itu, cukup kuat melekat pada para penginjil itu.
[p]

Pada gilirannya sikap dan pemahaman itu mereka wariskan kepada masyarakat pribumi yang berhasil mereka kristenkan (terutama yang berasal dari lingkungan agama [etnik], yang sering disebut [oleh] para penginjil sebagai agama kafir, sipelebegu).

Sementara itu pihak Islam, kendati sedikit-banyak menyadari bahwa orang Kristen adalah Ahlul Kitab, namun karena warisan Perang Salib itu mereka mencap agama Kristen sebagai kafir, dan juga sebagai agama penjajah, tanpa merasa perlu mencari tahu apakah pemerintah kolonial itu (terutama Belanda) bisa disebut Kristen. Karena itu, upaya dalam sejarah pekabaran Injil di Indonesia pada sisi tertentu bisa juga dilihat sebagai sejarah pergumulan (persaingan) antara Gereja/kekristenan dan Islam.

Berhubung artikel kecil ini merupakan pemikiran berdasarkan sejarah, kami tidak memasukkan diskusi teologis yang juga menjadi bagian dari anggapan-anggapan keliru di antara dua Agama Abrahamik ini. Contoh yang paling populer adalah pemahaman Trinitas dalam Agama Kristen, sebuah divine mystery (rahasia ilahi) yang sering menjadi batu sandungan bagi agama lain, karena menganggap kekristenan menyembah tiga Allah. Untuk percakapan ini tentunya lebih baik dibahas secara tersendiri.

Namun pada akhirnya, kami merekomendasikan buku penghargaan ulang tahun Prof. Olaf ini sebagai bahan sumber untuk mendalami dialog antarumat beragama di Indonesia. Salah satu penulis di dalamnya adalah Dr. Komaruddin Hidayat dari Yayasan Paramadina Jakarta.***

Wujud penghargaan hari raya Idul Fitri, Gereja Katedral mundurkan jam ibadah

Written By Menara Penjaga on Senin, 20 Agustus 2012 | 02:53

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta
(foto: muslim-academy.com)
INDONESIA, Jakarta.
Perayaan hari raya Idul Fitri 1433 Hijriyah yang jatuh tepat di hari Minggu (19/8) bersamaan dengan kegiatan peribadahan rutin umat Kristen di Indonesia. Sebagai ungkapan penghargaan atas hari besar umat Muslim ini, jemaat Katolik di Gereja Katedral Jakarta mengundur waktu ibadahnya agar umat Muslim bisa menjalankan shalat Ied di Masjid Istiqlal yang lokasinya saling berdekatan.

Gereja Katedral juga membuka halaman gerejanya sehingga umat Muslim dapat memarkir kendaraannya selama mereka menjalankan ibadah. Menurut keterangan Romo Brata Kartana seperti dirilis Metrotvnews.com, Gereja Katedral setiap tahunnya selalu membuka pintu halamannya untuk menampung kendaraan pribadi umat Muslim yang shalat di Masjid Istiqlal.

Tidak hanya di Jakarta, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan di Surakarta (Solo) juga meniadakan jadwal ibadah pagi pukul 06.30 karena jalan di depan gereja digunakan untuk shalat Ied, berhubung Masjid Al Hikmah lokasinya tepat berdampingan dengan gereja. Yang unik, gereja dan masjid yang berdampingan itu menggunakan alamat yang sama, yaitu Jalan Gatot Soebroto nomor 222, Solo.

"Untuk menghormati saudara kami umat Muslim yang melakukan shalat Ied di jalan depan gereja dan masjid, kami meniadakan kebaktian pagi," demikian pernyataan Pendeta GKJ Joyodiningratan, Widi Atmo Herdjanto kepada VivaNews.

Kebaktian pagi digabung dengan jadwal kebaktian pukul 08.30 WIB. "Dalam sehari itu ada empat kali jadwal ibadah. Sebenarnya keempat jadwal itu hanya satu ibadah saja dan inti isinya sama," ujarnya

Pdt. Herdjanto menceritakan dulunya pernah jadwal kebaktian pagi tidak dihilangkan saat Idul Fitri jatuh hari Minggu. Akan tetapi dengan semakin banyaknya jumlah jamaah shalat Ied, pihaknya memutuskan untuk meniadakan jadwal kebaktian pagi.

"Kalau saudara Muslim shalat, para jemaat gereja sulit masuk ke gereja. Selain itu, para jemaat putri yang biasanya menggunakan pakaian seperti itu seringkali mengganggu jamaah shalat Ied. Jadi kami putuskan daripada mengganggu lebih baik dihilangkan," tambahnya. 

Hal itu dikatakan Pendeta Herdjanto merupakan sikap saling toleransi diantara saudara umat beragama. Bahkan, meskipun keduanya sama-sama melaksanakan ibadah, akan tetapi pihaknya lebih menghormati kepada saudara Muslim yang sedang melaksanakan perayaan puncak hari raya.

"Kami beribadah, saudara Muslim juga beribadah. Mana yang memang dianggap lebih baik, kan kami lebih baik menghormati orang lain daripada hak kita sendiri," ucap Pdt. Herdjanto.

Sungguh indah memang jika antar umat beragama dapat rukun bersama dan saling menghormati dalam menjalankan ibadahnya. Inilah budaya Indonesia yang harus dipertahankan, karena dalam kerukunan maka Indonesia dapat bangkit menjadi bangsa yang besar yang adil dan makmur. (jawaban/vivanews)

Gereja Katolik Santo Pius X Blora gelar buka puasa Ramadan bersama umat Islam

Written By Menara Penjaga on Senin, 13 Agustus 2012 | 04:29

Buka puasa Ramadan (foto: kabargereja)
INDONESIA, Blora (Jateng).
Gereja Katolik Santo Pius X Blora menggelar buka puasa Ramadan bagi umat Islam di Blora, Kamis (9/8). Kegiatan itu dalam rangka merajut persaudaraan untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu juga memperingati HUT ke-43 Gereja Katolik Santo Pius X Blora.

''Suatu kehormatan bagi kami, saudara-saudaraku umat Islam hadir dalam acara buka puasa ini,'' ujar Romo Agustinus Sugiyanto CM dalam sambutannya.

Tak hanya tahun ini, kegiatan buka puasa tersebut di tahun-tahun sebelumnya juga kerap digelar oleh umat Katolik Blora. Kali ini buka puasa diselenggarakan di GOR yang berada satu komplek dengan geraja Santo Pius. Hadir dalam kegiatan itu sejumlah tokoh masyarakat agama Islam di Blora.

Diantaranya KH Ishad Sofawi, KH Ali Muhdor serta pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Blora, Haji Soedadyo, mantan sekretaris daerah (Setda) Blora, Bambang Sulistya serta Haji Tiksun. Selain itu juga perwakilan pengurus organisasi Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Aisiah, Muslimat dan Gerakan Pemuda Ansor serta umat Islam yang bermukim di sekitar gereja Santo Pius. Selain itu juga hadir pula sejumlah tokoh agama Katolik Blora. Diantaranya Indarjo yang juga mantan anggota DPRD Blora.

Sebelum buka puasa diadakan silaturahmi sejenak dengan menampilkan pembicara yakni Romo Agustinus Sugiyanto dan pengurus FKUB, Haji Soedadyo. Keduanya mengupas indahnya kebersamaan di tengah perbedaan yang ada.

Saat bedug tanda tiba waktu berbuka, para hadirin dipersilahkan menikmati menu berbuka puasa yang telah disiapkan panitia. Keakraban nampak diantara mereka meski berbeda agama. Satu sama lain saling terlibat pembicaraan ringan.

''Inilah wujud kebersamaan dalam bingkai ke-Indonesiaan,'' tandas Yudi, salah seorang hadirin. (SuaraMerdeka via KabarGereja)

Pemerintah Saudi hentikan khotbah kebencian terhadap non-Muslim?

Written By Menara Penjaga on Jumat, 10 Agustus 2012 | 09:15

Arab Saudi (wikipedia)
ARAB SAUDI, Riyadh (9/8/12).
Menurut sejumlah website Arab Saudi (termasuk UPI Arabic), Kementrian Urusan Islam Saudi telah mengirimkan peringatan kepada para imam di masjid-masjid untuk tidak berdoa bagi kehancuran bagi umat Kristen dan umat Yahudi dalam khotbah dan doa Jumat mereka, dengan catatan bahwa doa yang “benar” adalah hanya untuk para “penyerang.” (ElderofZiyon)

Berita ini telah diklarifikasi oleh Dr. Taufik Al-Sudairy, pejabat setempat, bahwa Kementrian tidak pernah mengeluarkan peringatan demikian. Bahwa media hanya mengacu pada sebuah surat edaran dari Kementrian yang mengatakan bahwa doa yang benar adalah melawan “penyerang” karena kemungkinan adalah keliru memukul rata semua [Kristen dan Yahudi] yang dalam kebajikannya mengetahui bahwa Allah ada.

Surat itu juga berisi himbauan supaya pembacaan Kitab Suci dan doa tidak dilakukan keras-keras supaya tidak menyakitkan telinga dan membuat persaingan dengan suara di masjid-masjid lainnya.

Jurnalis Sabria Jawhar menulis: Akibat perang di Afghanistan dan Irak, khotbah Jumat yang berisi kemarahan terhadap non-Muslim semakin meningkat dilakukan oleh beberapa imam di Arab Saudi. Mereka menganggap orang Yahudi dan Kristen bertanggung jawab atas kerusakan akibat perang-perang ini. Hal ini belum merupakan suatu upaya sengaja untuk membusukkan umat beragama lainnya, melainkan sebagai reaksi terhadap perasaan terancam masyarakat. 

Khotbah-khotbah semacam ini adalah salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah Saudi yang ingin mengubah imej Kerajaan Arab Saudi. Ungkapan-ungkapan bernuansa kebencian terhadap berbagai kelompok masyarakat lainnya itu tidak lagi hanya didengar oleh jemaat di masjid lokal, karena disiarkan di seluruh dunia dengan adanya Internet sekarang ini. 

Secara historis, penghasutan melawan non-Muslim dilarang dan bertentangan dengan Islam. Sesuai keyakinan iman Islam, Nabi Muhammad berkata ia tidak dikirim kepada orang-orang sebagai seorang yang mengkhotbahkan kutukan tetapi sebagai seorang yang membawa belas kasihan.

Pada kenyataannya, umat Muslim diajarkan untuk menunjukkan kebaikan kepada non-Muslim yang tidak menindas atau meneror komunitas Muslim. Dalam kitab suci agama Islam, Al-Qur'an, ditulis, "Allah melarangmu bukan mereka yang tidak berperang melawanmu karena agama dan memaksamu keluar dari rumahmu, bahwa kamu harus menunjukkan kepada mereka kebaikan dan secara adil berurusan dengan mereka. Sesungguhnya! Allah mengasihi orang yang adil"(60:8).

Ungkapan-ungkapan dari imam lokal membawa pengaruh cukup besar di antara umat, yang banyak di antaranya memiliki sedikit pendidikan formal dalam studi Islam dan menganggap para pengkhotbah sebagai yang paling tahu jalan Islam yang benar.

Raja Abdullah tidak hanya ingin para imam menghentikan khotbahnya kebenciannya, namun juga telah mengambil langkah-langkah untuk menjangkau agama lain. Tahun 2007 lalu ia bertemu dengan Paus Benediktus XVI dan pada tahun 2008 mengadakan konferensi di Mekkah untuk mendesak para pemimpin Muslim supaya bergabung dengan para pemimpin Yahudi dan Kristen untuk berbicara dalam satu suara, toleransi dan berkomitmen untuk dialog antar agama. Inilah Arab Saudi dan esensi Islam yang sebenarnya.

Dalam semangat yang sama, Raja Abdullah memelopori pendirian King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), yang memungkinkan pria dan wanita dari berbagai agama untuk bekerja dan belajar bersama-sama dalam satu kelas. Dengan KAUST, Raja Abdulah telah meninggalkan pendekatan lama dalam pendidikan di Saudi dengan menarik pelajar dan pengajar Muslim dan non-Muslim, dan menerapkan kurikulum dan model seperti Universitas di Barat. Meskipun hal ini masih merupakan sumber perdebatan di Arab Saudi, KAUST merupakan sebuah percobaan dalam hal toleransi ketika siswa dan instruktur meninggalkan hambatan-hambatan bersifat keagamaan untuk bekerja bersama-sama.

Lebih jauh Sabria Jawhar menulis bahwa ia tidak lagi mau menganggap bahwa pemerintah Amerika Serikat "anti-Muslim" dan Arab Saudi "anti-Kristen." Menurutnya, di kalangan Islam maupun Kristen ada para pengkhotbah yang intoleran terhadap pemeluk agama lainnya. Dan bahwa apa yang dikatakan di mimbar agama seringkali berbeda dengan kebijakan pemerintah [atau sebaliknya] dan kerinduan hati orang-orang banyak, seperti adanya toleransi, jarang diberitakan oleh media. (MP)


Tulisan terkait: Pluralitas dan Pluralisme (agama-agama)

Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabin: Cermin toleransi beragama di Indonesia

Written By Menara Penjaga on Jumat, 03 Agustus 2012 | 05:03

Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabin
(foto: Kompas.com)
INDONESIA, Jakarta  
Dua buah bangunan beribadah saling berdampingan menghiasi salah satu sudut Tanjung Priok. Namanya adalah Gereja Protestan Mahanaim dan Masjid Al-Muqarrabin. Sayangnya, pemandangan ini mungkin tak lama lagi akan hilang. Pemerintah DKI Jakarta merencanakan untuk merelokasi kedua bangunan itu dengan alasan pelebaran jalan, demikian dilaporkan Kompas.com (25/7).

“Gereja ini (usianya) sudah masuk ke-55 tahun, dibangun dari tahun 1957. Sedangkan masjidnya baru ada sekitar dua tahun setelah gereja berdiri. Satu tembok, satu dinding,” kata Pendeta Tatalede Barakati.

Pdt. Tatalede mengatakan hubungan yang sudah terjalin antara pengurus gereja dan masjid tidak pernah menemui masalah. Apabila ada acara keagamaan, seperti bulan suci Ramadhan, Lebaran, atau Natal, mereka saling mendukung. Meskipun demikian, pihak gereja mengaku belum pernah membuat acara bersama.

Pdt. Barakatih menyesalkan rencana ini karena kedua rumah ibadah tersebut hidup berdampingan secara damai dan menjadi simbol kerukunan beragama. "Gereja dan masjid ini punya nilai historis sebagai simbol kerukunan beragama. Pemerintah kota seharusnya menjadikannya sebagai cagar budaya, bukan justru menggusurnya," katanya di Jakarta Utara, Senin baru-baru, seperti dilaporkan jawaban.com.

Malahan menurut Pdt. Barakatih, terhadap relokasi ini, masjid telah menghubungi masyarakat Gereja Mahanaim dan menyatakan menolak rencana relokasi itu. Bahkan mengajak pihak gereja untuk memohon kepada pemerintah agar mempertimbangkan kembali keputusan pemindahan gereja bersejarah tersebut. "Mereka sempat mengajak kita untuk meminta gubernur DKI agar tidak memindahkan kita, tapi kita turut saja karena pemerintah," paparnya.

Menurut laporan Kompas.com di bulan Ramadhan ini, pihak gereja menjadwalkan akan menggelar buka puasa dengan menyediakan takjil. Sebab, kegiatan serupa juga pernah digelar pada Ramadhan tahun lalu. Namun, hingga kini Tatalede mengaku masih menunggu kabar dari pihak masjid untuk acara buka bersama itu.

Biasanya, kata Tatalede, buka puasa bersama dilakukan pada pertengahan Ramadhan yang diorganisasi pihak masjid dan melibatkan warga sekitar. Tahun lalu buka puasa bersama diadakan di sekitar Jalan Melur I, Koja, Jakarta Utara, tak jauh dari lokasi gereja-masjid.

"Pada bulan puasa lalu kami membagikan santapan berbuka, seperti kolak. Biasanya dilakukan pertengahan Ramadhan. Kita menunggu kabar dari mereka (pihak masjid)," kata Tatalede.

Saat Lebaran pun, kata Tatalade, pihak gereja turut membantu mempersiapkan untuk shalat Idul Fitri. Misalnya, jika shalat Id bertepatan pada Minggu, pengurus gereja bersedia mengalah dengan cara meniadakan acara mereka. Sementara apabila pihak gereja menggelar ibadah, maka pihak pengurus masjid mempersilakan lahan parkirnya digunakan jemaat gereja.

"Selama 55 tahun itu ya hubungan kita akrab. Kami saling mengunjungi. Kami saling perhatian. Kami anggap saudara," ujar Pdt. Tatalede. (Kompas/Jawaban)

Presiden: Ciptakan kehidupan berbangsa tanpa kekerasan

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 19 Mei 2012 | 01:03

Presiden Yudhoyono (foto: yimg)
UCAN-Indonesia -- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua pihak untuk mengisi kehidupan berbangsa tanpa kekerasan dan kebencian, sehingga Indonesia bisa mencapai cita-cita kesejahteraan bersama.

“Kita isi kehidupan berbangsa tanpa kekerasan dan kebencian. Kehidupan berbangsa yang berlandaskan pada pengembangan sikap welas asih yang menyuburkan keharmonisan, keselarasan,dan toleransi, antar warga bangsa,” kata Yudhoyono dalam sambutan Perayaan Dharmasanti Waisak Nasional Umat Budha Indonesia 2556 BE/2012 di Jakarta, Rabu malam seperti dilansir ANTARA.

Tema perayaan Dharmasanti Waisak Nasional itu adalah Meningkatkan Cinta dan Belas Kasih. Menurut Yudhoyono, tema itu sangat cocok dengan cita-cita kehidupan berbangsa yang penuh kedamaian.

Yudhoyono menegaskan, semua warga negara Indonesia harus mengedepankan semangat kebangsaan. Semangat itu harus menjadi inspirasi yang mendorong semua orang untuk selalu mengedepankan kerjasama dan saling melengkapi antar seluruh komponen bangsa, sehingga bisa mengatasi beragam tantangan zaman dan peradaban yang tidak ringan.

“Mari kita senantiasa suburkan sikap toleransi, guna menjamin terpeliharanya kondisi kehidupan berbangsa yang damai dan harmonis,” katanya.

Yudhoyono meminta semua pemuka agama untuk terus mengedepankan kearifan, pandangan positif, dan kemuliaan, dalam mengajak umatnya ketika menyikapi beragam tantangan pembangunan.

“Berikan pencerahan yang bijak dan mencerdaskan, seraya terus menunjukkan keteladanan di lingkungan umat saudara masing-masing,” kata Yudhoyono.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger