"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Arab Saudi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arab Saudi. Tampilkan semua postingan

Setelah upaya “reformasi” yang membawa bencana gereja-gereja Suriah membantu umat Muslim

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 16 November 2013 | 10:01

SURIAH, Damaskus (MP) --- Berawal dari aksi protes pada Maret 2011, Suriah masuk ke dalam perang saudara yang telah merenggut lebih dari 100.000 jiwa. Sedikitnya 6000 di antaranya adalah anak-anak.

Situs berita CBN mengutip laporan PBB bahwa lebih dari sembilan juta orang Suriah membutuhkan bantuan kemanusiaan. Masyarakat Suriah yang tadinya makmur sekarang hidup dalam keputus-asaan, demikian judul laporan itu.

Ketua Badan Bantuan Kemanusiaan PBB Valerie Amos menjelaskan bahwa sebelum konflik terjadi masyarakat Suriah “memiliki pekerjaan, tinggal di apartemen, rumah-rumah, mereka mengirim anak-anak mereka ke sekolah ke toko kebutuhan sehari-hari, punya kendaraan, dst.”

“Sekarang ekonomi runtuh banyak orang yang harus melarikan diri seringkali pada tengah malam tanpa membawa apa-apa. Jadi benar-benar ada rasa keputus-asaan,” jelasnya.


Gas dan minyak bumi

Aksi protes terhadap pemerintahan Presiden Bashar-al-Assad tiba-tiba menjadi sebuah revolusi bersenjata yang didukung oleh sejumlah negara asing. Sejumlah “organisasi teroris” yang turut berjuang untuk mengganti pemerintahan, termasuk menyerang komunitas-komunitas Kristen, dipersenjatai secara terang-terangan.

Tapi buruk keadaan di Suriah saat ini masih akan lebih menyedihkan kalau upaya intervensi militer Amerika Serikat (AS) waktu lalu terealisasi.

Mundurnya AS dari rencana yang mendapat kecaman dari seluruh penjuru dunia itu membuat kesal Arab Saudi yang sangat ingin melihat pergantian rezim di Damaskus.

WND mensinyalir konflik Suriah menyangkut gas dan minyak bumi.


Lilin yang menyala

Sampai sekarang rakyat Suriah masih harus bertahan di antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak.

Dan gereja-gereja di Suriah telah membulatkan tekad untuk menjadi lilin yang menyala di tengah-tengah kegelapan; membawa harapan di tengah keputus-asaan lewat aksi kemanusiaan.

Situs berita AsiaNews melaporkan di Aleppo Gereja Katolik dan jemaat-jemaat menawarkan bantuan kepada ribuan orang yang tidak punya pekerjaan dan tempat tinggal. Anak-anak diberikan beasiswa untuk ke sekolah. Di Damaskus para pekerja gereja dan umat membawa makanan dan kebutuhan pokok lainnya dari rumah ke rumah.

“Lewat pekerjaan amal, Gereja Katolik berupaya untuk mendapatkan kembali rasa kasih dan persaudaraan antara Kristen dan Muslim yang telah dihancurkan oleh perang,” ungkap Uskup Agung Jeanbart dari gereja Melkit di Aleppo.

Menurut penjelasannya keluarga-keluarga Kristen saat ini adalah yang paling membutuhkan bantuan, karena mereka mendapat bantuan yang sangat sedikit dari pemerintah dibandingkan keluarga-keluarga Muslim. Namun demikian, “gereja berupaya membantu semua orang,” ungkapnya. “Sebanyak 35 keluarga Muslim menemukan tempat mengungsi di keuskupan.”

Ia prihatin dengan banyaknya orang yang meninggalkan Suriah dan kemungkinan takkan kembali lagi. Beasiswa bagi anak-anak dan remaja, termasuk makanan dan pemeriksaan kesehatan yang disediakan oleh gereja-gereja dan organisasi lainnya diharapkan dapat membuat orang-orang tinggal.

“Kami para imam memberi semangat kepada orang-orang untuk bertahan, bersabar dan berpengharapan untuk masa depan. Kami mendorong orang-orang untuk pertama-tama memiliki iman dalam Allah dan memikirkan bahwa besok bisa merupakan hari yang baru,” ungkapnya. [+]


------
Once Prosperous Syrians Now Living in Desperation (6 Nov. '13)
http://www.cbn.com/cbnnews/world/2013/November/Once-Prosperous-Syrians-Now-Living-in-Desperation/



"Little flowers" of solidarity blossoming in the desert of Syria's War (14 Nov. '13)
http://www.asianews.it/news-en/Little-flowers-of-solidarity-blossoming-in-the-desert-of-Syria's-War-29547.html

Is this what Syria war really about? 
(7 Sep. '13)
http://www.wnd.com/2013/09/is-this-what-syria-war-really-about/


Foto: Asianews

Revisi 17 Nov. '13. Damaskus adalah ibukota Suriah, bukan kota tempat pengikut Kristus disebut Kristen pertama kali, yang adalah Antiokia, kota terbesar ketiga di kekaisaran Romawi, yang sekarang ini merupakan kota kecil di Turki dengan nama Antakya. 

Pemerintah Saudi hentikan khotbah kebencian terhadap non-Muslim?

Written By Menara Penjaga on Jumat, 10 Agustus 2012 | 09:15

Arab Saudi (wikipedia)
ARAB SAUDI, Riyadh (9/8/12).
Menurut sejumlah website Arab Saudi (termasuk UPI Arabic), Kementrian Urusan Islam Saudi telah mengirimkan peringatan kepada para imam di masjid-masjid untuk tidak berdoa bagi kehancuran bagi umat Kristen dan umat Yahudi dalam khotbah dan doa Jumat mereka, dengan catatan bahwa doa yang “benar” adalah hanya untuk para “penyerang.” (ElderofZiyon)

Berita ini telah diklarifikasi oleh Dr. Taufik Al-Sudairy, pejabat setempat, bahwa Kementrian tidak pernah mengeluarkan peringatan demikian. Bahwa media hanya mengacu pada sebuah surat edaran dari Kementrian yang mengatakan bahwa doa yang benar adalah melawan “penyerang” karena kemungkinan adalah keliru memukul rata semua [Kristen dan Yahudi] yang dalam kebajikannya mengetahui bahwa Allah ada.

Surat itu juga berisi himbauan supaya pembacaan Kitab Suci dan doa tidak dilakukan keras-keras supaya tidak menyakitkan telinga dan membuat persaingan dengan suara di masjid-masjid lainnya.

Jurnalis Sabria Jawhar menulis: Akibat perang di Afghanistan dan Irak, khotbah Jumat yang berisi kemarahan terhadap non-Muslim semakin meningkat dilakukan oleh beberapa imam di Arab Saudi. Mereka menganggap orang Yahudi dan Kristen bertanggung jawab atas kerusakan akibat perang-perang ini. Hal ini belum merupakan suatu upaya sengaja untuk membusukkan umat beragama lainnya, melainkan sebagai reaksi terhadap perasaan terancam masyarakat. 

Khotbah-khotbah semacam ini adalah salah satu tantangan terbesar bagi pemerintah Saudi yang ingin mengubah imej Kerajaan Arab Saudi. Ungkapan-ungkapan bernuansa kebencian terhadap berbagai kelompok masyarakat lainnya itu tidak lagi hanya didengar oleh jemaat di masjid lokal, karena disiarkan di seluruh dunia dengan adanya Internet sekarang ini. 

Secara historis, penghasutan melawan non-Muslim dilarang dan bertentangan dengan Islam. Sesuai keyakinan iman Islam, Nabi Muhammad berkata ia tidak dikirim kepada orang-orang sebagai seorang yang mengkhotbahkan kutukan tetapi sebagai seorang yang membawa belas kasihan.

Pada kenyataannya, umat Muslim diajarkan untuk menunjukkan kebaikan kepada non-Muslim yang tidak menindas atau meneror komunitas Muslim. Dalam kitab suci agama Islam, Al-Qur'an, ditulis, "Allah melarangmu bukan mereka yang tidak berperang melawanmu karena agama dan memaksamu keluar dari rumahmu, bahwa kamu harus menunjukkan kepada mereka kebaikan dan secara adil berurusan dengan mereka. Sesungguhnya! Allah mengasihi orang yang adil"(60:8).

Ungkapan-ungkapan dari imam lokal membawa pengaruh cukup besar di antara umat, yang banyak di antaranya memiliki sedikit pendidikan formal dalam studi Islam dan menganggap para pengkhotbah sebagai yang paling tahu jalan Islam yang benar.

Raja Abdullah tidak hanya ingin para imam menghentikan khotbahnya kebenciannya, namun juga telah mengambil langkah-langkah untuk menjangkau agama lain. Tahun 2007 lalu ia bertemu dengan Paus Benediktus XVI dan pada tahun 2008 mengadakan konferensi di Mekkah untuk mendesak para pemimpin Muslim supaya bergabung dengan para pemimpin Yahudi dan Kristen untuk berbicara dalam satu suara, toleransi dan berkomitmen untuk dialog antar agama. Inilah Arab Saudi dan esensi Islam yang sebenarnya.

Dalam semangat yang sama, Raja Abdullah memelopori pendirian King Abdullah University of Science and Technology (KAUST), yang memungkinkan pria dan wanita dari berbagai agama untuk bekerja dan belajar bersama-sama dalam satu kelas. Dengan KAUST, Raja Abdulah telah meninggalkan pendekatan lama dalam pendidikan di Saudi dengan menarik pelajar dan pengajar Muslim dan non-Muslim, dan menerapkan kurikulum dan model seperti Universitas di Barat. Meskipun hal ini masih merupakan sumber perdebatan di Arab Saudi, KAUST merupakan sebuah percobaan dalam hal toleransi ketika siswa dan instruktur meninggalkan hambatan-hambatan bersifat keagamaan untuk bekerja bersama-sama.

Lebih jauh Sabria Jawhar menulis bahwa ia tidak lagi mau menganggap bahwa pemerintah Amerika Serikat "anti-Muslim" dan Arab Saudi "anti-Kristen." Menurutnya, di kalangan Islam maupun Kristen ada para pengkhotbah yang intoleran terhadap pemeluk agama lainnya. Dan bahwa apa yang dikatakan di mimbar agama seringkali berbeda dengan kebijakan pemerintah [atau sebaliknya] dan kerinduan hati orang-orang banyak, seperti adanya toleransi, jarang diberitakan oleh media. (MP)


Tulisan terkait: Pluralitas dan Pluralisme (agama-agama)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger