"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manado. Tampilkan semua postingan

Festival Seni Pemuda Gereja GMIM 2013

Written By Menara Penjaga on Kamis, 19 September 2013 | 09:54

INDONESIA, Manado (MP) – Komisi pelayanan pemuda (Kompelka) Pemuda Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) kembali akan menggelar kegiatan Festival Seni Pemuda Gereja (FSPG) se sinode pada 27-29 September 2013 di Wilayah Langowan Dua.

Menurut hasil temu teknis yang dilaksanakan 7 September yang dimuat di situs Pemuda Sola Fide Tinoor pendaftaran untuk mengikuti kegiatan ini dibuka sampai 22 September 2013. 

Jenis kegiatan dan tempat pelaksanaan adalah sebagai berikut:


BIG CHOIR (paduan suara besar):

1. Sion Tempang (penyisihan)

2. Sion Taraitak (final)


SMALL CHOIR (paduan suara kecil)

1. Musafir Tempang (penyisihan)

2. Nafiri Tempang (final)


VOCAL GROUP

Seri A1: Sion Taraitak

Seri A: Daniel Karumenga

Seri B: Zaitun Taraitak


BINTANG VOCALIA: Imanuel Toraget 

TEATER ROHANI: Nafiri Tempang 

BAND ROHANI: Daniel Karumenga 

CCA: Zaitun Taraitak 

Menurut catatan, masing-masing jemaat/peserta disiapkan akomodasi oleh panitia. [+]

Manado CityFest 2013: Terjepit antara menolak, menjangkau atau melegitimasi gerakan homoseksualisme

Written By Menara Penjaga on Selasa, 03 September 2013 | 21:08

Monumen Yesus Memberkati di Manado, Sulawesi Utara
(foto: kompitasulut.wordpress).
INDONESIA, Manado (MP) – Manado CityFest 2013 yang diselenggarakan 26-31 Agustus diharapkan memberi warna positif terhadap kota yang dikenal religius ini.

Kegiatan pelayanan ini melibatkan Palau Association dan gereja-gereja lokal, pengusaha dan pimpinan masyarakat setempat.

Rangkaian kegiatan termasuk aksi sosial, pertunjukan musik, demo ketangkasan skateboard dan sepeda BMX, termasuk ibadah KKR yang dipimpin oleh penginjil dari Amerika Serikat, Ps. Andrew Palau.


Keresahan

Yang menjadi kontroversi adalah berdirinya tenda pameran sebuah LSM pendukung gerakan homoseksualisme di kegiatan yang dilangsungkan di kawasan perbelanjaan Megamas Manado ini.

“Iya kami ambil bagian dan mendirikan stand di Manado CityFest, nanti kami akan menampilkan program, kegiatan, dan juga hasil karya komunitas kami,” terang seorang aktivis kepada Beritamanado.com.

Kelompok ini tidak hanya mencatut komunitas waria (transgender) yang sudah lama hidup di tengah masyarakat Manado, tapi juga hendak mewakili para pelaku praktek hubungan seks sejenis.

Kehadiran stand ini menimbulkan keresahan di tengah jemaat-jemaat dan masyarakat pada umumnya.

Ada kekuatiran bahwa ajang sosial rohani ini justru adalah ajang untuk melegalkan praktek menyimpang yang ditentang budaya dan agama ini.



Kasih Yesus mencari

Menanggapi keresahan itu, pihak panitia pelaksana dan Palau Association mengadakan sebuah konferensi press pada tanggal 28 Agustus.

Ps. Palau tak mengomentari masalah stand itu. Ia menjelaskan bahwa kehadirannya adalah untuk membawa kabar baik Yesus Kristus “bagi semua orang.” Ia mengutip Injil Yohanes 3:16 yang terkenal:

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Mengenai hal lainnya ia memberi kesempatan pada panitia lokal untuk menjelaskannya. 

Charles Lepar, SE, sekretaris Forum Pemuda Lintas Gereja (FPLG), mengutip Ps. Palau, mengatakan “Kasih Yesus itu mencari.”

Ia menunjuk pada perkembangan kota Manado yang begitu pesat, serta penyakit-penyakit sosial yang menyertainya.

Alasan panitia lokal melibatkan kelompok yang menyebut diri GWL (gay, waria, lesbian), dan kelompok-kelompok lainnya, seperti anak-anak pang, komunitas tato, dll, itu adalah untuk menjangkau mereka.

Menurut Sek. FPLG, ada harapan bahwa dari kegiatan ini mereka dapat mendengar kabar baik Injil, karena “Tuhan Yesus datang bukan cuma buat kami orang-orang gereja,” tetapi untuk mereka juga.


Tantangan pelayanan gereja-gereja

Niat yang baik dan tampak tulus ini masih meninggalkan pertanyaan tentang bagaimana masyarakat, pemerintah, teristimewa gereja-gereja, menyikapi isu gerakan homoseksualisme dan aspirasi sosial politiknya.

Pertanyaan mengenai pelegitimasian (penerimaan secara sah) gerakan homoseksualisme pantas mengemuka karena diakomodir di tengah kegiatan yang ditujukan untuk maksud mengadakan perubahan ke arah positif untuk kemajuan kota Manado.

Niat baik panitia lokal akhirnya nampak tidak menghargai nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat, sekaligus telah mempromosikan praktek menyimpang yang ditentang agama dan budaya ini kepada anak-anak yang hadir dalam kegiatan tersebut.

Namun hadirnya stand GWL akhirnya memberi signal kepada gereja-gereja untuk mengambil peran aktif dalam pelayanan termasuk menjawab penyakit masyarakat yang muncul seiring dengan kemajuan kota.

Pada kegiatan-kegiatan lokal, regional, maupun internasional, perlu stand gereja-gereja untuk menciptakan kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial; menyediakan jawaban rohani terhadap berbagai pergumulan manusia, termasuk dengan ketertarikan sesama jenis.

Karena seperti yang diungkapkan oleh Sekretaris FPLG, mereka adalah pribadi-pribadi yang perlu dirangkul. Kristus datang untuk semua orang. (+)

Gerakan Doa Anak Sulawesi Utara: Mempersiapkan generasi yang kuat, kokoh, dan sukses

Written By Menara Penjaga on Selasa, 30 Juli 2013 | 10:27

Sebagian peserta dan pembina yang mengambil bagian dalam GDASU
2013 (foto: humasmanado.blogspot.com).
INDONESIA, Manado – Anak-anak dari berbagai latar belakang gereja berpartisipasi dalam iven Gerakan Doa Anak Sulawesi Utara (GDASU) yang dilaksanakan di Stadion Klabat, Manado, Minggu 28 Juli 2013.

Hujan gerimis yang melanda Manado tidak menghalangi mereka berdoa dan bersyafaat, banyak di antaranya menyampaikan pokok-pokok doa baik bagi keluarga, bangsa maupun negara. 

"Gerakan doa ini menjadi satu tanda bahwa tangan Tuhan tengah bekerja bersama anak-anak," ungkap Prof. Dr. Julyeta. P. A. Lumentut-Runtuwene yang merupakan Ketua Komisi Pelayanan Anak (KPA) Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). 

Enci Paula, sapaan akrab ketua KPA ini, mengungkapkan bahwa kehadiran anak-anak tersebut adalah hal yang luar biasa. Banyak di antara mereka yang mendapat jamahan Tuhan. 

"Secara khusus telah mendapat jamahan Tuhan, sehingga memasuki masa remaja dan pemuda menjadi generasi yang kuat dan kokoh, dan generasi yang sukses kedepannya. Sehingga kita boleh heran dan terkagum-kagum atas berkat Tuhan," ungkap istri tercinta dari Walikota Manado ini.
Walikota Manado Vicky Lumentut yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mengaku bangga dan bersyukur karena banyak anak yang berdoa untuk Sulut dan Manado. 
"Terima kasih, saya merasa bangga, karena banyak anak di Manado hadir di sini. Ini penting sekali untuk [mereka] menjadi bibit unggul yang baik untuk banyak dipakai Tuhan," ujar Walikota.
GDASU adalah juga merupakan persiapan untuk kegiatan yang berskala lebih besar di Manado. "Dua rencana yang sama ke depan yang akan digelar di Manado, yaitu Festival Doa Anak Nasional dan Doa Anak Internasional. Mohon itu didoakan juga," ajak Walikota. (suaramanado.com/MP)

Memberkati Sulawesi Utara Pastor Benny Hinn diundang ke Manado

Written By Menara Penjaga on Rabu, 03 Juli 2013 | 03:46


INDONESIA, Manado (MP) -- Pastor Benny Hinn, seorang tokoh Kristen terkenal dari Amerika Serikat tiba di Manado, Senin (1 Juli) sekitar pukul 15.50 waktu setempat dengan pesawat khusus. Ia di dampingi oleh tim pelayanan dari negeri asalnya.

Pacific TV, sebuah media lokal, mensponsori kedatangan pendeta yang telah menulis banyak buku ini untuk “memberkati Sulawesi Utara dan menyegarkan [i]man [r]ohani [u]mat Kristen di Sulawesi Utara,” demikian dilaporkan Manadonews.com.

Kedatangan Pastor Hinn dilihat sebagai berkat tersendiri bagi masyarakat Manado. Joel Kereh, ketua panitia persiapan kunjungan Pastor Hinn, mengungkapkan bahwa kesempatan ini adalah “suatu mujizat bagi warga Sulut (Sulawesi Utara)” (Manadonews.com)

Serangkaian kegiatan yang dijadwalkan dalam dua hari kunjungan di kota yang diusung sebagai model ekowisata ini adalah: Gala Dinner (1 Juli, jam 7 mlm), Miracle Service Event (2 Juli, jam 9 pagi) dan Kebaktikan Kebangunan Rohani (KKR) pada malam harinya.

Tribunnews.com melaporkan bahwa Gubernur Sulut, Dr. S. Sarundajang, bersama istri, dan ketua DPRD Sulut, Pdt. Meiva Salindeho-Lintang, Gubernur Papua serta rombongan, staf khusus kepresidenan, Letjen T.B. Silalahi, serta ratusan undangan lainnya turut menghadiri Gala Dinner yang diselenggarakan di sebuah hotel di Manado itu.

"Banyak yang bertanya kenapa musti di Manado, masih banyak kota negera daerah yang menanti lawatan Allah melaluinya, jawabannya mata Allah ada di Kota ini pasti pikirannya ada di Kota ini dan pasti hatinya ada di Kota ini Allah mencintai kota Manado dan Indonesia timur," tutur Jusak Kereh, pimpinan Pacific Media Group.

Dalam sambutannya, Gubernur Sarundajang menyebut bahwa “Tuhan yang mengirimkan Ps. Benny Hinn, untuk itulah Tuhan memberkati Sulut dan Manado.”

Senada dengan itu Pdt. Elisabeth Wowor, ketua jemaat GMIM Schwarz Sentrum Langowan, kepada Beritamanado.com (2 Juli) mengungkapkan bahwa Kegiatan KKR di Sulut ini harus dimaknai dengan iman.

“Jika kegiatan tersebut dimaknai dengan iman, tentu saja akan membawa berkat. Dengan demikian, itu juga berarti bahwa Sulawesi Utara termasuk Kabupaten Minahasa pasti diberkati.” Hal ini diungkapkannya sehubungan dengan kunjungan Pdt. Stephen Tong dan Ps. Benny Hinn ke Manado.

Menjadi penerjemah Ps. Hinn adalah Pdt. Agus Gunawan dari Surabaya. Mengawali sambutannya ia memotivasi hadirin untuk membaca keseluruhan Alkitab berulang-ulang. “Alkitab itu berbicara tentang Yesus,” ungkap Ps. Hinn seperti dilansir Tribunnews.

Kedatangan Ps. Hinn ke Manado turut diwarnai sejumlah rumor tak sedap yang disebarkan di media sosial. Sebuah komentar menanggapi "...mari kita lakukan apa yang baik dan berguna untuk kita ambil dan kita tolak yg jelek yg dia buat sehingga akan ada kekayaan kerohanian dan pelayanan yg kita miliki."

Menurut Jusak Kereh, sejumlah 1.718 orang terlibat dalam kegiatan tersebut, dengan perincian 600 konselor, 600 usher, 300 tim doa dari 22 denominasi gereja yang ada di Sulut, serta 100 orang panitia dari Singapura, Batam, Jakarta, dan kota besar lainnya di Indonesia.

Mengantisipasi minat masyarakat Manado yang terkenal religius, telah dari awal ia menyampaikan permohonan maaf jika pada hari pelaksanaan kegiatan aktivitas warga pengguna jalan terganggu. (+)

GMIM laksanakan Sidang Majelis Sinode Tahunan ke-25

Written By Menara Penjaga on Rabu, 07 November 2012 | 01:48

Gereja Masehi Injili di Minahasa atau disingkat GMIM akan melaksanakan Sidang Majelis Sinode Tahunan (SMST) ke 25 di Wilayah Ratatotok tanggal 6-9 November 2012. 

Menurut Pdt. Daniel Bonaparte Bastian lewat group Forum Pendeta GMIM, dalam SMST ini akan diadakan evaluasi dan penyusunan program GMIM dalam rangka kemajuan dalam persekutuan, dogma, dan institusi.
Wakil Ketua Sinode bidang Bidang Ajaran, Pembinaan, dan Pengembalaan, Pdt. Dr. H. W. B. Sumakul mengharapkan supaya "oleh perkenanan dan anugerah Tuhan Yesus semua rencana acara berlangsung dengan baik demi kemuliaan Nama-Nya dan pertumbuhan pelayanan Gereja-Nya, Gereja Masehi Injili di Minahasa.

Maengket dan Kabasaran meriahkan Festival Danau Tondano

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 03 November 2012 | 09:49

Para penari Maengket di lapangan Sam Ratulangi, Tondano
(foto: Kompas.com)
INDONESIA, Tondano (KOMPAS.com, 1 November 2012)
 
Walau sempat diguyur hujan, Karnaval Budaya dalam rangka Festival Budaya Danau Tondano (Fesbudaton) akhirnya digelar juga, Kamis (1/11/2012). Kegiatan itu dipusatkan di kompleks Lapangan Sam Ratulangi, Tondano, Minahasa.
 
Karnaval yang molor beberapa jam dari jadwal yang sudah ditentukan tersebut diisi dengan pagelaran berbagai atraksi seni budaya Minahasa yang melibatkan ratusan orang. Warga dan tamu undangan dibuat terkesima dengan penampilan kelompok tari Maengket yang terdiri dari 500 penari. Para penari Maengket yang tampil merupakan perpaduan kelompok tari berusia muda maupun yang sudah berusia lanjut.
 
"Tari tradisi ini harus tetap kita lestarikan, makanya saya ikut turun menari," ujar Oma Ge (67), yang masih gemulai menarikan Maengket.
 
Tampil pula kelompok Kabasaran, yang merupakan tari perang tradisional orang Minahasa. Para penari yang berpakaian khas dan dipenuhi dengan atribut budaya tanah Minahasa tersebut tampil perkasa.
 
Yang menarik, Kabasaran kali ini bukan hanya diisi oleh para penari pria, tetapi juga oleh penari wanita. Salah satu penari Kabasaran wanita, Oma Ringkitan (77) tahun terlihat masih mampu memeragakan adegan berduel dengan lawan.
 
[Tari Kabasaran wanita Minahasa disebut Tombarian].
 
"Bulan depan saya berusia 78 tahun, tapi semangat orang Minahasa masih ada di dada ini," ujar Oma Ringkitan dengan yakin.
 
Selain itu, turut memeriahkan karnaval, penampilan kelompok pemusik bambu dan Clarinet yang juga melibatkan ratusan pemusik. Demikian pula kelompok pemusik Kolintang yang tak kalah memukau penonton dengan lagu-lagu tradisional yang dibawakannya.
 
Bupati Minahasa Stevanus Vreke Runtu dalam sambutannya mengatakan, tujuan Fesbudaton ini adalah untuk mempromosikan potensi keberagaman seni budaya Minahasa. "Iven ini juga bertujuan menarik kunjungan wisawatan yang pada gilirannya akan meningkatkan sektor perekonomian masyarakat," ujar Vreke.
 
Sayangnya, dari pantuan Kompas.com sebelumnya, gema Fesbudaton tidak terlalu terasa. Hal ini terlihat dari kurangnya wisatawan yang datang menonton Karnaval Budaya. Bahkan tidak terlihat sama sekali wisawatan asing yang menonton.
 
Sementara itu, Putu Ngurah dari Direktorat Promosi Dalam negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, mengharapkan Fesbudaton bisa menjadi momen menumbuhkan rasa cinta tanah air.
"Hal ini sejalan dengan program Kementerian Pariwisata yang sementara mengampanyekan brand kenali dirimu, cintai negerimu," ujar Putu.
 
Putu juga berharap dengan dukungan Pemerintah Pusat, khususnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Minahasa bisa menjadi salah satu destinasi wisata utama.
 
"Danau Tondano memiliki potensi yang luar biasa, dan eksistensinya perlu dilestarikan," tambah Putu.
 
Karnaval juga diisi dengan parade kendaraan hias dari semua kecamatan di Minahasa. Juga turut mengisi karnaval para finalis Wulan Waraney Minahasa 2012.
 
Setelah Karnaval Budaya, malam harinya akan digelar Pentas Seni Budaya Minahasa di panggung utama yang sudah disediakan. Begitu pula pada Jumat (2/11/2012) akan dilaksanakan Gelar Kuliner Danau Tondano yang bertempat di Pulau Likri yang berada di tengah-tengah danau terluas di Sulawesi Utara tersebut. [*]

Sidang Lengkap Majelis Sinode Germita berlangsung sukses

Written By Menara Penjaga on Kamis, 01 November 2012 | 09:30

Gubernur Sulut S.H. Sarundajang dalam pembukaan
Sidang Lengkap Majelis Sinode-IV Germita
(foto: cybersulut.com)
INDONESIA, Manado (27 Oktober 2012).

Gubernur Sulawesi Utara Dr Sinyo Harry Sarundajang, Rabu (23/10) membuka Sidang Lengkap Majelis Sinode ke-4 Gereja Masehi Injili di Talaud (Germita) di Jemaat Imanuel Beo (Cybersulutnews.com).

Sidang yang akan berlangsung hingga tanggal 29 Oktober 2012 akan mengevaluasi program pelayanan Germita dan akan menyusun Program Pelayanan Periode selanjutnya serta akan memilih Kepengurusan Majelis Sinode yang baru.

Ibadah pembukaan dilakukan dalam bentuk refleksi tentang sejarah masuknya injil di Talaud yang dimulai kurang lebih 153 tahun yang lalu dengan khotbah yang disampaikan oleh Ketua Sinode Germita, Pdt. S. Taariwuan, STh. Acara ini juga dirangkaikan dengan peringatan 15 tahun Germita Bersinode dan HUT Jemaat Imanuel ke-78.

 Turut memberikan sambutan dalam acara ini Pdt. L. Tamuntuan Makisanti, M.Th. dan Direktur Urusan Agama Kristen Ditjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI Pdt. Edison Pasaribu, M.Th. yang pada intinya mengingatkan tentang peran gereja dalam menyikapi persoalan bangsa yang menjadi tantangan bagi implementasi tritugas gereja bersekutu, bersaksi dan melayani.

Pdt Arnold Abbas MTh mengungkapkan bahwa inti dari berbagai sambutan yang dibawakan antara lain, “lewat momentum SSL dapat memperkokoh persatuan umat gereja di wilayah perbatasan dan persekutuan gereja yang ada mampu berperan serta memberikan sumbangsi pemikiran ketika adanya berbagai persolan yang muncul. Karena hal itu tak lepas dari bentuk komitmen dan kecintaan masyarakat Talaud terhadap NKRI terus dipertahankan sampai sekarang ini.” (Komentar)


Pada kesempatan ini Gubernur didampingi oleh unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah antara lain Danrem 131 Santiago, Kejati Sulut, Kepala pengadilan Tinggi Sulut, Kepala BIN, Wakapolda Sulut dan Wadanlantamal VIII Manado. Jajaran pejabat Pemprov yang menyertai kunjungan Gubernur antara lain Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Perhubungan dan Infokom, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan, Kepala Dinas Koperasi dan UKM, dan Staf Ahli Gubernur.


Menurut Pdt. Liony Fransischa Bee, S.Th., hasil pemilihan Badan Pekerja Majelis Sinode Germita menetapkan:

Ketua Umum : Pdt. F. Majusip, MTh
Wakil ketua : Pdt. A.J. Larinse, S.PAK
Sekretaris : Pdt. R. Sasauw, MThWkl Sekretaris : Pnt. J. Lalompoh
Bendahara : Dkn. M. Pasoi
Bidang I : Pdt. A.T. Manangkabo, S.Th
Bdang II : Pnt. E. Gumansalangi
Bidang III : Dkn. R. Rahasia-Riung, S.Sos

Selamat menunaikan tugas pelayanan bagi kemuliaan Sang Kepala Gereja. (MP)

Pekan kelabu di Manado: Perlu revitalisasi peran sosial dan pastoral Gereja

Written By Menara Penjaga on Rabu, 17 Oktober 2012 | 07:02

INDONESIA, Manado (17 Oktober 2012).
 
Dalam sepekan terakhir, telah terjadi empat kasus gantung diri di Manado, Sulawesi Utara. Tiga orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan seorang bisa diselamatkan, demikian dilaporkan detikNews.
 
Korban gantung diri yang meninggal teridentifikasi dengan nama JK (48), meninggal di Kebun Desa Wori, Minahasa Utara, KA (41), warga Kel. Tumumpa Dua, RL (18) siswa SMK Sola Gratia Tongkaina, dan RT (17), warga Mahawu, Tuminting, yang sempat diselamatkan warga.
 
Kejadian yang sangat disayangkan ini tentunya tak lepas dari pergumulan pribadi, status kesehatan fisik dan mental para korban. Namun tak lepas dari itu semua adalah keadaan keluarga dan masyarakat di mana mereka hidup.
 
Refleksi bagi gereja
 
Peristiwa seperti ini menjadi refleksi bagi gereja dalam menjawab panggilannya sebagai terang dunia, yaitu memainkan peranannya yang penting dalam mewujudkan suatu iklim bermasyarakat yang kondusif.
 
Panggilan diakonia dan marturia gereja perlu diejawantahkan ke bidang pendampingan pastoral, dengan fungsi pengingat, penguat, pendorong, pemberi pelayanan karitatif, serta referensi kepada masyarakat ketika diperlukan, yaitu pihak profesional (psikolog, psikiatri).
 
Tak menutup kemungkinan gereja dapat membentuk bidang khusus yang melayani orang-orang yang mempunyai pikiran untuk melakukan bunuh diri, sekaligus memberikan konseling bagi keluarga, rekan siswa yang mengalami trauma.  
 
Kiranya Tuhan menghiburkan keluarga para korban (MP).

Gubernur Sarundajang: GMIM berhasil menerjemahkan kekristenan di Minahasa

Written By Menara Penjaga on Rabu, 03 Oktober 2012 | 06:16

Gubernur Sarundajang ketika membawakan pidato
(foto: rhemamanado)
INDONESIA, Manado (Tribun Manado, 2 Oktober 2012).

Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang dalam sambutannya pada Acara Puncak Perayaan HUT GMIM ke-78 Senin (1/10/2012) di lapangan dekat Manado Trade Center (MTC) mengatakan keyakinannya bahwa perayaan saat ini merupakan saat bagi GMIM untuk melihat sejarah. Ia meyakini bahwa perayaan ini bukan seremonial belaka. Tapi secara kuantias maupun kualitas merupakan ekpresi syukur.

"GMIM saat ini dan yang akan datang merupakan usaha kerja keras para pendiri GMIM. Para pendiri itu telah memberikan arah dan orientasi pelayanan yang jelas, baik dari sisi teologis maupun sosial," ungkap gubernur berprestasi ini.

Baginya, para pendiri GMIM telah berhasil menerjemahkan kekristenan pada simbol komunitas masyarakat Minahasa. Mereka masuk melalui kekhasan daerah. Dalam bentuk kearifan lokal seperti Burung Manguni yang dijadikan lambang GMIM. "Di bidang sosial GMIM telah memberikan kesejahteraan. Kesejahteraan itu tampak dalam penekanan pada bidang pendidikan dan kesehatan," ungkapnya.

Memiliki GMIM bagi Gub. Sarundajang berarti mengapresiasi buah-buah pelayanan para pendirinya. Mereka telah membangun kerja sama lintas gereja. Ia percaya peran dan orientasi GMIM akan ditentukan oleh perjalanan itu. Semuanya akan memotivasi GMIM dalam perjalanan selanjutnya.

"GMIM bersama gereja lain telah menunjukkan kepada masyarakat luar bagaimana seharusnya hidup bersama. Saya mengapresiasi GMIM karena telah merawat kemajemukan dan pluralisme [kepelbagaian]."
Dalam pemandangannya, setelah 78 tahun bersinode, GMIM menjadi lebih mandiri dan inklusif. Gubernur berprestasi ini kemudian meminta GMIM untuk bukan hanya bekerjasama antar-gereja tapi juga bekerjasama dengan pemerintah dan lembaga sosial. "Berikan kesaksian injili dengan juga mendukung program pemerintah secara aktif," katanya.

Bagi para tokoh dan pendeta GMIM, Gub. Sarundajang mengapresiasi komitmen dan konsistensi mereka untuk tidak terlibat dalam politik praktis, tapi lebih pada kerja sama untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara untuk mempertahankan NKRI dengan empat pilarnya. "Saya sebagai pribadi, keluarga dan pemerintah mengucapkan selamat HUT ke-78 Sinode GMIM," ungkapnya. (*)

Kasus pembakaran anak belum tuntas: Tak disangka terjadi di Manado

Written By Menara Penjaga on Rabu, 12 September 2012 | 00:30

Kapolda Sulut Carlo Tewu
(foto: manadotoday)
INDONESIA, Jakarta.

Aktivis hak anak Seto Mulyadi atau biasa dikenal Kak Seto akan mendampingi pengaduan kasus pembakaran anak di Manado ke kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta pada Selasa (11/9) sekitar pukul 11.00 WIB.

Kasus tersebut adalah pembakaran terhadap Duvan Wayongkere (11 tahun), terjadi 2 Januari 2010 silam, demikian dilaporkan Republika online.

Duvan tewas setelah diduga dibakar oleh dua tetangga korban. Bocah malang itu, menurut keterangan, dibakar setelah sebelumnya disergap di sebuah tempat gelap, sekitar 5- sampai 100 meter dari rumahnya di Kelurahan Ranomuut Lingkungan 7, Kecamatan Tikala, Kota Manado.

Selama dua tahun bergulir, kasus ini dinilai penuh ketidakjelasan. Pasalnya, dua orang yang diduga sebagai pelaku pembakaran, yaitu Marvil dan Opa Ma Keke, hingga kini tidak pernah diproses secara hukum bahkan dijadikan saksi.

Polisi justru menetapkan seorang perempuan bernama Rin sebaga tersangka. Ibu Rin, adalah seorang penjaga warung di dekat lokasi kejadian. Ia saat itu menolak menolong korban yang datang kepadanya, bahkan mendorongnya sambil menutup pintu dan mematikan lampu. Berkas Rin dilaporkan sudah masuk ke Kejaksaan dan siap dibawa ke pengadilan. 


Orang tua korban

Okezone melaporkan orang tua korban, Jackson Wayongkere, jauh-jauh dari Manado, Sulawesi Utara ke Jakarta untuk mengadukan kasus kematian anaknya yang sudah dua tahun ini berhenti.

Sekretaris KPAI M Ikhsan mengatakan, sejak 2 Januari 2010 Jackson mengadukan kasus ini ke Polsek Tikala, Manado. Namun, berkas ini tidak sampai ke pengadilan dan hanya berstatus P-19 lantaran tidak adanya pelaku dalam pembakaran.

"Kedatangan Pak Jackson ke KPAI untuk meminta keadilan, terhadap kasus pembakaran anaknya. Kasus ini ditangani polisi dan kemudian berhenti karena tak ada tersangka untuk di pengadilan," kata Ikhsan di kantor KPAI, Jakarta, Selasa (11/9/2012).

Dijelaskan Iksan, selama dua tahun ini, Jekson sendiri sudah mencari pembelaan untuk pengungkapan kasus ini. Komnas HAM dan Mabes Polri pun yang disambangi Jekson, tidak bisa membantu dalam penyelesaian kasus ini.

"Sejak tahun 2010 Jackson sudah lapor kemana-mana dan hari ini ke KPAI. Dia minta dukungan KPAI untuk ungkap siapa pelaku pembakaran," kata Ikhsan.

Karena itu, KPAI akan melakukan kordinasi ke polisi dan komnas HAM untuk pengungkapan kasus ini. "Kita akan kordinasi dengan Polisi dan Komnas HAM, karena mereka yang investigasi ke lapangan, kita mendesak untuk pembuktian siapa pelakunya," jelasnya. [*]

Mendapat mimpi warga Muslim buat patung Yesus

Written By Menara Penjaga on Sabtu, 08 September 2012 | 21:46

Patung Yesus yang dibuat Jemri Resso (foto: cybersulut)
INDONESIA, Manado (Cybersulut.com).
Sebuah fenomena iman terjadi di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Tepatnya di Kompleks Perumahan Mutiara, Kecamatan Matuari. Adalah Jemri Resso (29) yang bekerja serabutan mampu membuat sebuah patung Yesus yang membuat heboh warga. Pasalnya, Jemri penganut agama Islam, dan sebelumnya tidak pernah sama sekali mampu membuat patung.
Menurut pengakuan pria asal Sulawesi Tengah ini saat ditemui Cybersulut di rumahnya, Selasa (04/09/2012) bahwa pembuatan patung tersebut didasarkan atas mimpi yang datang menghampirinya. "Pada malam keduapuluh Ramadhan (pertengahan Agustus), saya bermimpi berada di suatu tempat yang tidak pernah saya lihat sama sekali. Dalam mimpi itu saya bertemu dengan seseorang yang sedang duduk di atas sebuah batu," cerita Jemri.
Lewat mimpi itu dia diberi petunjuk untuk membuat sebuah patung yang menyerupai rupa Yesus. Jemri menceritakan awalnya dia menolak membuat patung tersebut, karena dia sama sekali tidak tahu membuat patung, dan tidak tahu bagaimana rupa Yesus. Tetapi mimpi itu terus mendesaknya. "Saya kan seorang Muslim, bagaimana bisa saya tahu rupa Yesus. Tetapi sosok dalam mimpi itu lalu memberi saya petunjuk untuk mulai membuat patung tersebut dari bagian kepala, badan lalu kaki," katanya.
Selama 17 hari, akhirnya Jemri mampu menyelesaikan patung tersebut. Dan betapa terkejutnya dia serta penghuni rumahnya karena patung tersebut benar-benar mirip patung Yesus yang selama ini dikenal oleh umat Kristiani. "Saya dituntun membuat patung itu, terutama ketika membuat wajahnya. Awalnya saya sekedar membuat saja, tetapi tangan saya seperti dituntun untuk membentuk wajah Yesus," ungkap Jemri.
Jemri juga memberi kesaksian, kepalanya ikut sakit ketika dia menancapkan paku di kepala patung tersebut. "Kepala saya turut sakit luar biasa, seperti ditancap paku saja," ujarnya di tengah kerumunan ratusan warga yang memadati rumah sederhana tempat keluarganya tinggal.
Jemri Resso merupakan anak ketiga dari enam bersaudara pasangan Kasenangan Resso dan Hamidah Resso. Ayahnya menganut agama Kristen, sedangkan ibunya seorang penganut agama Islam. Jemri sendiri baru berada di Bitung sekitar 5 bulan lamanya. Sebelumnya dia tinggal di Luwuk, Sulawesi Tengah.
Karena warga yang berdatangan semakin banyak, akhirnya keluarga Jemri memutuskan untuk menyerahkan patung tersebut kepada pihak Gereja. "Ini juga atas perintah dalam mimpi tersebut. Saya menyerahkannya secara ikhlas, sebagaimana yang diberi petunjuk," katanya.
Selasa (04/09) sore patung tersebut dipindahkan oleh warga setempat ke Gereja GMIM Musafir Saregat yang tidak jauh dari rumah Jemri. Ketua Jemaat GMIM Musafir Pdt. Nova Tumengkor Rompas menyambut sukacita penyerahan patung tersebut. "Kami menggangap ini merupakan pekerjaan iman, sebagai sebuah karya Ilahi. Jemri merupakan orang yang dipilih untuk menunjukkan kuasa Ilahi tersebut, walau dia beragama Muslim," ujar Pendeta Nova. Jemaat Musafir sendiri berjanji untuk membuatkan sebuah lokasi untuk meletakkan patung tersebut.
Baca seterusnya di sini.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger